
Nisa yang telah menyelesaikan urusannya di dapur kini bergegas kembali ke kamar. Namun saat tiba di sana, dia tidak melihat keberadaan Keyran.
"Darling! Kau di mana?!" teriak Nisa.
"Aku di sini!" sahut Keyran yang suaranya terdengar berasal dari kamar mandi.
Nisa segera menuju ke kamar mandi, dia sedikit terkejut dengan apa yang sedang dilakukan suaminya. "E-eh ... kau mau bercukur?"
"Iya," jawab Keyran dengan senyuman. Terlihat ada sedikit krim cukur yang belum teroles rata di wajahnya.
Sejenak Nisa tertegun, setelahnya dia tertawa kecil dan mendekati Keyran. "Haha, biar aku bantu!"
Setelah Nisa berdiri di depan Keyran, terlihat bahwa Keyran menatap istrinya dengan tatapan ragu. Dan itu membuat Nisa sedikit tersinggung dan berekspresi kesal. "Kenapa? Kau tidak percaya padaku?"
"Bukan begitu, aku sepenuhnya percaya. Tapi ... sepertinya kau kesulitan untuk menjangkauku."
"Lantas? Kau mau menyalahkanku karena aku pendek?" tanya Nisa dengan wajah cemberut.
Keyran menghela napas, tiba-tiba saja dia menggeser semua botol sabun yang berada di meja wastafel. Lalu tanpa aba-aba juga mengangkat tubuh Nisa dan membuatnya duduk di tempat itu. "Nah, sekarang jauh lebih baik."
Ekspresi Nisa seketika berubah, dia yang awalnya kesal kini terlihat bahagia karena suaminya begitu perhatian terhadapnya. "Mendekatlah, agar aku lebih mudah membantumu ...."
Keyran langsung mendekat, dan tiba-tiba saja dia membisikkan sesuatu di telinga Nisa. "Hati-hati, ini pertama kalinya bagimu. Perlakukan aku dengan lembut, mohon bantuannya ya istriku~" Begitu selesai membisikkan hal itu, Keyran sengaja menyerempetkan wajahnya agar krim itu juga menempel di wajah istrinya.
"K-kau ..." Sontak saja wajah Nisa memerah, perlakuan tak terduga itu semakin membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
"Hm? Apa kau gugup?" tanya Keyran sambil menyeringai.
"S-siapa yang gugup?! Aku peringatkan, kau jangan bicara dan menggerakkan wajahmu sembarangan! Aku cukur bulu hidungmu nanti baru tahu rasa!"
Tidak dapat dipungkiri bahwa Nisa memang gugup, wajah tampan suaminya begitu dekat dengannya. Tetapi dia mencoba untuk menutupi rasa gugup itu dengan fokus melakukan apa yang saat ini dia lakukan.
Dengan penuh kelembutan dia mengoleskan sisa krim ke wajah Keyran. Dia juga hati-hati saat memegang alat cukur elektrik. Sedangkan di satu sisi Keyran juga berusaha keras, dia berusaha keras untuk mengendalikan diri agar tidak tertawa ataupun mengganggu istrinya yang terlihat begitu serius.
Beberapa saat kemudian Nisa telah selesai melakukan tugasnya. Memang lebih memakan waktu daripada dilakukan sendiri, tetapi Keyran puas karena bisa bermesraan dengan Nisa.
"Nah, sekarang kau terlihat lebih tampan!" ucap Nisa penuh kepuasan karena kumis yang terlihat mengganggu baginya telah hilang.
"Sungguh?"
"Iya suamiku ... kau bisa berkaca jika tidak percaya." Nisa hendak turun dari meja wastafel, tetapi Keyran langsung menghimpit dirinya.
"Tidak perlu berkaca, aku sepenuhnya percaya padamu. Dan sekarang ... apa aku sudah memenuhi syarat untuk mendapat ciumanmu?"
Nisa hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Lalu memejamkan mata seakan-akan telah siap menerima apa saja yang akan Keyran lakukan terhadapnya.
Keyran sudah tak tahan lagi untuk mendekat, menempelkan bibirnya dengan lembut ke bibir manis yang selalu menggoda untuk dicium itu. Kedua tangannya juga mulai melingkar di pinggang ramping istrinya, membuat tubuh keduanya semakin merapat.
Nisa juga menyambut ciuman itu dengan baik, kedua tangannya merangkul leher Keyran yang membuat ciuman itu semakin dalam. Dalamnya ciuman itu semakin liar, mereka saling bermain lidah, memalun dengan rakus hingga suara decapan erotis keluar dari bibir mereka.
Manis, pergulatan itu sungguh manis. Seakan-akan menjadi pelampiasan atas rasa kerinduan, yang sempat memisahkan mereka dan hampir membuat mereka gila. Semuanya telah usai, penantian panjang dan kesalahpahaman mereka telah runtuh. Dan kini cinta mereka kembali utuh.
Begitu ciuman itu lepas, keduanya sama-sama tersenyum dengan wajah merona mereka. Dan tiba-tiba saja Nisa berkata, "Key, maukah kau membawaku ke suatu tempat?"
__ADS_1
"Di luar mungkin sedang hujan, meskipun begitu asalkan kau senang aku bisa membawamu ke mana saja. Katakan, kau ingin aku membawamu ke mana?"
Nisa tersenyum dan mendekatkan wajahnya, dengan nada manja dia pun berbisik. "Bawa aku ke bintang ...."
Keyran yang memahami maksud istrinya langsung tersenyum. Sekali lagi tanpa peringatan apa pun dia memberikan ciuman yang dalam. Diam-diam tangannya yang melingkar di pinggang perlahan merayap ke atas. Meraih ritsleting dress yang dipakai oleh Nisa hingga turun ke bawah.
Begitu pakaian Nisa telah longgar, Keyran berhenti mencium bibir dan beralih turun ke leher yang jenjang itu. Aroma wangi parfum vanilla yang sudah lama tak terasa kini kembali menguar di indra penciumannya. Satu-satunya aroma yang paling dia suka, aroma yang mampu membuat hasratnya semakin membara.
"Enhh ..." Nisa melenguh, merasakan napas hangat yang menderu di kulitnya. Dirinya juga mulai merasakan sensasi aneh yang membuat candu saat Keyran menciumi lehernya. Ciuman yang dalam dan gigitan lembut itu telah meninggalkan tanda kepemilikan di sana.
Tangan Keyran kembali beraksi, pelan-pelan dia juga mengusap seluruh punggung Nisa dengan lembut. Kemudian tak ketinggalan juga melepaskan pengait bra yang masih terpasang, kini seluruh tubuh Nisa bagian atas telah sepenuhnya terlihat. Pandangan Keyran langsung tertuju pada kedua benda yang lembut namun kencang itu.
"Nakal," ucap Nisa dengan seringai menggoda. Saat ini tinggal sehelai kain yang menutupi tubuh bagian bawahnya.
"Aku memang nakal, apa kau mau menghukumku?" tanya Keyran seolah-olah mengajukan tantangan pada istrinya.
"Tentu saja." Nisa melepaskan rangkulan tangannya. Lalu perlahan melepaskan satu per satu kancing baju Keyran. Tampak otot perut yang keras di tubuh atletis itu. Nisa tak tahan lagi untuk segera menggapainya, serta meninggalkan jejak hangat pada setiap sentuhan lembut yang dia lakukan.
Dirinya juga membalas apa yang telah Keyran perbuat kepadanya, bahkan dia meninggalkan tanda cinta yang lebih banyak di lehernya. Tubuhnya semakin merapat dan memeluk erat, tangannya menelusuri punggung yang kokoh itu dengan sentuhan lembut.
"Ehmm ... Nisa ..." ucap Keyran saat merasakan istrinya sengaja menggesek-gesekkan asetnya ke miliknya.
"Hm?" tanya Nisa yang kemudian sekali lagi mengecup leher Keyran.
"Kau ingin kubawa ke bintang yang mana?"
"Aku tak tahu, tapi yang pasti kita belum ada setengah perjalanan ...."
"Terserah padamu, kau yang membawaku."
"Baiklah, kalau begitu pegangan yang erat!"
Keyran tersenyum sambil mengangkat tubuh istrinya, sedangkan Nisa mengaitkan kakinya di pinggang dengan erat. Nisa juga mengalungkan tangan sambil menatap lembut wajah Keyran yang terus tersenyum kepadanya.
Nisa lalu ikut tersenyum, mendekatkan wajahnya dan kembali mencium bibir Keyran. Mereka berdua pun saling memagut dan bertukar saliva. Dengan tanpa melepas tautan ciuman itu, Keyran berjalan perlahan menuju ke ranjang dan merebahkan tubuh istrinya.
Keyran yang semula berada di atas dan mengurung Nisa dengan kedua tangannya, tiba-tiba saja posisinya berubah menjadi di bawah karena pergerakan yang dilakukan oleh Nisa. Tetapi, dirinya hanya tersenyum saat menyadari kelakuan istrinya.
"Apa kau tidak lelah terus menerus tersenyum?" tanya Nisa sambil membelai wajah Keyran.
"Tidak, aku tidak bisa berhenti tersenyum karena aku sangat bahagia."
"Kalau begitu akan kubuat kau lebih bahagia lagi!"
Nisa mulai melakukan aksinya, dia kembali menciumi leher Keyran dan terus turun ke bawah. Begitu sampai di perut, Nisa membelai dengan lembut serta menempelkan wajahnya di perut yang six pack tersebut. Dia juga menggosokkan ujung hidungnya dan menciumi perut Keyran dengan manja.
Nisa terus bermain di perut suaminya, bahkan tangannya mulai aktif menjalar ke mana-mana. Sontak saja hal itu membuat Keyran terpancing, Nisa yang juga menyadarinya kemudian mendongak, tersenyum selayaknya iblis kepada suaminya.
"Lakukan apa yang kau mau," jawab Keyran dengan wajah yang memerah.
Nisa kembali duduk tegap dan bergeser mundur. Kemudian membuka kancing celana Keyran dan menurunkan ritsleting dengan perlahan. Nisa melakukannya sambil terus memandang wajah Keyran yang semakin merah, yang seakan-akan sedang menahan sesuatu.
Setelah ritsleting telah sepenuhnya diturunkan, Nisa melihat milik suaminya yang sudah berdiri tegak di balik sehelai kain yang masih menutupi. Dia mengambil napas dalam-dalam dan menggigit bibirnya sendiri, lalu menurunkan semua celana hingga membuat suaminya benar-benar telanjang bulat.
__ADS_1
Begitu melihat sesuatu yang menggoda itu di depan wajahnya, pikiran Nisa seketika menjadi liar. Dia melakukan apa saja yang ingin dia mainkan bersama si junior itu.
"Errmmm ..." Keyran mengerang nikmat, merasakan miliknya sedang dimanjakan oleh istrinya.
"Lebih cepat ..." pintanya dengan suara parau, dan Nisa juga menanggapi hal itu. Dia langsung mempercepat ritme gerakannya hingga Keyran dibuat terengah-engah.
Kian lama Keyran makin kesulitan untuk mengendalikan dirinya, bahkan dia sampai mencengkeram erat sprei kasur demi menahan sensasi liar akibat yang Nisa lakukan.
"C-cukup Nisa ..."
"Hahh ... haahh ..." Nisa mengatur napasnya begitu menyelesaikan permainan yang cukup menguras tenaga. Kemudian dia turun dari ranjang, mengambil tisu yang ada di atas nakas untuk mengelap mulutnya.
Keyran yang semula berbaring tiba-tiba bangkit, memeluk Nisa dari belakang dan kemudian berbisik, "Kerja bagus darling, sekarang giliranku."
"Baik ..." jawab Nisa sedikit gugup saat merasakan sesuatu yang keras sedang menabrak tubuhnya.
Dengan cepat Keyran kembali merebahkan tubuh Nisa di atas ranjang, lalu mengunci kedua tangan Nisa ke atas dengan sebelah tangan. Keyran menunduk, mulai merasai benda kenyal yang menjadi salah satu bagian terfavoritnya.
"Akhh ..." pekik Nisa saat Keyran mulai bertambah liar. Sesapan yang dia lakukan semakin dalam, bahkan tangannya juga beraksi pada yang satunya lagi. Seakan-akan seperti bayi yang menegaskan bahwa kedua benda itu adalah miliknya.
Keyran lalu melepaskan kuncian tangannya. Perlahan ciuman yang dia lakukan kian menjalar ke bawah, kini bekas kecupan yang ditinggalkan oleh Keyran seolah-olah telah merata di tubuh Nisa.
"Hmm ..." Keyran menyeringai saat menyadari bahwa sehelai kain yang masih menutupi tubuh Nisa kini telah basah. Sedangkan Nisa, dia langsung memalingkan wajahnya yang sudah semerah tomat.
Keyran semakin tertantang untuk menggoda istrinya. Dia mengusap paha mulus itu dengan sentuhan yang lembut, dan perlahan merayap ke atas. Dia tak langsung melepas kain itu, tetapi justru menyelipkan jarinya lewat samping.
Tubuh Nisa gemetar, rangsangan yang diberikan oleh suaminya sungguh menguji kesabarannya. Dia menggeliat saat merasakan sesuatu yang berdenyut di bawah sana.
Dengan cepat Keyran melepas helai kain terakhir yang membalut tubuh Nisa. Untuk sejenak dia terdiam, memandangi setiap bagian dari tubuh yang sangat menggoda baginya. Kemudian dia memosisikan dirinya di bawah kaki Nisa, langsung menikmati ruang indah itu dengan rakusnya.
"A-ahhh ... ahh... Key!" Suara kenikmatan tak henti-hentinya keluar dari mulut Nisa. Meskipun tangannya gemetaran, dia juga menjambak rambut suaminya saking liarnya perbuatan yang Keyran lakukan.
Namun Keyran justru semakin tertantang, dia terus-terusan bermain di sana hingga tubuh Nisa menjadi lemas. Dan tiba-tiba saja Keyran berhenti, lalu mendongak dan memperhatikan bagaimana raut wajah istrinya.
Keyran kembali berganti posisi, dia membelai wajah Nisa dan menatapnya lekat-lekat. Pandangan keduanya bertemu, mereka sama-sama sudah tak bisa menahan hasrat yang mendesak minta dipuaskan.
Tetapi, Keyran masih dalam keadaan yang sama. Nisa yang sedikit kebingungan lalu membelai wajah Keyran seraya berkata, "Ada apa? Kau ingin aku yang di atas?"
Keyran tersenyum tipis. "Maafkan aku ...."
"Untuk apa?"
"Aku terlalu mencintaimu, aku terlalu merindukanmu. Tolong maafkan aku jika nanti aku tidak bisa mengendalikan diriku ...."
Tiba-tiba saja Nisa mencium bibir Keyran, lalu tersenyum padanya sambil berkata, "Lakukan saja, kau bisa melampiaskan semuanya ...."
Keyran tersenyum, kedua tangannya menggenggam erat tangan Nisa yang sudah mempersiapkan posisinya.
"Ahh ... aahh ... ahhh!" pekiknya saat merasakan sesuatu yang keras berhasil memasuki dirinya. Kedua tangannya seketika menggenggam erat tangan Keyran.
Keyran awalnya bergerak secara perlahan, supaya Nisa maupun dia sendiri pelan-pelan akan kembali terbiasa dengan sensasi seperti ini. Tetapi, tak lama kemudian Keyran kesulitan untuk mengendalikan diri lagi. Semakin lama tubuhnya semakin bergerak cepat dan semakin dalam, hingga membuat Nisa berteriak dan tubuhnya gemetar untuk yang ke sekian kalinya.
Sungguh perjalanan ke bintang yang tidak mudah, demi mencapai bintang ini mereka telah saling menahan rindu yang cukup lama. Hingga hari ini, mereka telah sepenuhnya bersama dan perasaan mereka tak terbendung lagi.
__ADS_1