
Krik-krik.... 🦗🦗🦗
Suasana hening melanda seluruh isi kamar. Nisa dan Keyran hanya diam, pandangan mata mereka tertuju pada satu pack køndøm yang sedang dipegang oleh Nisa.
Keyran terus mematung dan merasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat, dia sangat terkejut karena begitu pulang langsung disuguhkan oleh pemandangan yang menurutnya tidaklah wajar. Setelah Keyran menyadari bahwa Nisa hanya mengenakan sehelai lingerie seksi, lama-kelamaan rona wajahnya menjadi merah.
Sementara itu, Nisa masih terus berada di lantai dan tidak bergeming sedikit pun. Ketika menyadari bahwa suaminya tiba-tiba masuk ke kamar saat keadaan dirinya masih seperti itu, Nisa mulai berkeringat dingin. Bukan hanya itu, di pikirannya juga mulai terlintas banyak sekali hal gila.
"Glup..." Nisa menelan ludah.
Mampuus! Keyran melihatku yang masih dalam keadaan seperti ini, bahkan dari tadi dia juga terus melihat ke arah køndøm ini. Sekarang aku harus apa!? Aku harus memikirkan cara untuk keluar dari situasi awkward ini, tapi cara macam apa yang bisa aku pakai? Ayolah Nisa... pikirkan sebuah cara, gunakan otakmu!
Aku tahu! Pura-pura jadi orang lain, pura-pura mati, pura-pura nggak tahu kalau ini køndøm, atau... pura-pura amnesia. Nggak, nggak! Semua cara itu sangat aneh, Keyran mustahil percaya. Nggak tahu ah, semoga saja datang sebuah keajaiban.
Kakek!! Aku membencimu! Semua ini gara-gara kamu yang mengirimkan hadiah køndøm ini! Awas saja nanti, saat berkunjung aku pasti akan membuang semua alat pancing milikmu! Lalu... ini juga masih sore, kenapa tumben sekali Keyran sudah pulang? Bahkan dari tadi dia masih diam, sebenarnya apa yang dia pikirkan? Jangan-jangan dia berpikir kalau aku mengajaknya untuk...
"Nisa... i-itu..." ucap Keyran dengan jari yang menunjuk ke arah benda yang dipegang Nisa.
"Ini hadiah køndøm untukmu, upss..." seketika Nisa langsung menutup mulut menggunakan tangan yang satunya.
Aku kelepasan! Mulutku ini buruk sekali, jadinya malah aku sendiri yang memberitahunya bahwa ini køndøm. Hiks... rasanya ingin sekali menghilang dari muka bumi. Harga diriku sudah terlanjur hilang.
"K-kau..." untuk sejenak Keyran terdiam, "Sial!" Tiba-tiba saja Keyran menutup pintu dan keluar dari kamar.
Klaap! suara pintu ditutup.
Saat berada di luar, Keyran hanya diam dan menatap pintu kamarnya dengan tatapan mata yang dipenuhi dengan rasa ketidakpercayaan. Dia perlahan juga mulai mengatur nafasnya dan berusaha untuk tetap berpikir jernih.
"Huft..." Keyran lalu mengelus dada. "Tenang... tenang..." Keyran tiba-tiba menundukkan kepalanya. "Tenanglah adik kecil... anggap saja yang pink tadi itu terkena sensor ilahi..."
Nisa, dasar wanita gila! Kau sudah berulang kali membuatku terangsang oleh tikah bodohmu itu! Tapi yang satu ini sungguh kelewatan, bisa-bisanya kau hanya memakai lingerie dan memegang køndøm. Bahkan kau juga bilang kalau itu adalah hadiah untukku.
"Tunggu sebentar, pasti ada sesuatu yang tidak beres..." Keyran lalu memperhatikan pintu kamarnya dengan saksama.
Ini benar pintu kamarku, bukan pintu menuju akhirat. Tapi kenapa bisa di lantai kamarku berserakan lingerie dimana-mana? Bahkan aku juga melihat sosok mematikan yang mampu melemahkan iman.
Nisa, apa kau tahu betapa menggodanya dirimu? Jika saja kau adalah istri yang penurut dan bukan barang bekas, kau pasti sudah aku sikat sampai habis. Kupikir aku sudah tidak tertarik lagi padamu, tapi kenyataannya begitu melihat ada bagian tubuhmu yang terlihat sedikit saja, langsung muncul hasrat di dalam diriku.
Sebelumnya aku belum pernah merasa seperti ini kepada orang lain, meskipun mereka sengaja memamerkan tubuhnya aku juga tidak tertarik. Sebenarnya aku yang lemah ataukah kau yang hebat? Bahkan... aku merasa sepertinya kau sedang mempermainkan aku, apakah ini juga bagian dari rencana kotor milikmu?
"Sudahlah, aku kemari juga bukan tanpa alasan. Lebih baik aku segera masuk."
Saat Keyran masuk kamar lagi, pemandangan yang dia lihat sudah berbeda. Keadaan kamar masih sama, di lantai masih berserakan kotak kado dan lingerie, namun yang membuatnya berbeda adalah keadaan Nisa. Keyran melihat Nisa yang sudah terbungkus oleh selimut seperti kepompong di atas ranjang. Bahkan wajahnya Nisa pun tidak terlihat.
Menyadari hal itu, Keyran langsung bergegas untuk mendekati Nisa dan kemudian duduk di atas ranjang tepat di sebelahnya.
"Bodoh, kau sedang apa?" tanya Keyran sambil menyentuh permukaan selimut yang terlihat bulat. Dia mengira kalau itu adalah kepala Nisa, tapi sebenarnya itu adalah...
"Kyaaa!!" Nisa langsung mengeluarkan kepalanya, namun tubuhnya yang lain masih tertutupi oleh selimut. "Singkirkan tanganmu! Yang kau sentuh itu pantatku..." wajah Nisa langsung menjadi memerah.
"Eh!?" Seketika Keyran menarik tangannya kembali. "Kenapa kau bersembunyi di balik selimut? Dan.. wajahmu merah sekaligus tubuhmu sepertinya gemetar."
"Wajahku ungu! T-tubuhku bukan gemetar, tapi menggigil... i-ini karena a-aku sedang... demam!"
"Heh, jangan membodohiku! Aku belum melupakan penampilanmu yang tadi itu. Aku beritahu ya, aku tidak akan berbuat apa-apa kepadamu, jadi kau bisa keluar dari selimut."
"Aku nggak mau, suhu kamar ini terlalu rendah, makanya aku kedinginan..." tubuh Nisa semakin gemetaran.
"Jika menurutmu terlalu rendah, kau bisa matikan AC nya." ucap Keyran dengan nada malas.
"Remote AC nya hilang, sudah aku cari tapi nggak ketemu..."
"Apa kau buta?" Keyran lalu mengambil remote AC yang berada tepat di atas meja samping ranjang. Setelah itu dia langsung mematikan AC kamarnya. "Nah, sekarang cepatlah keluar!" Keyran mencoba untuk menarik selimut, namun Nisa malah menahannya.
"Jangan tarik-tarik! Memangnya apa masalahmu jika aku tetap memakai selimut hah!?" tanya Nisa dengan ekspresi panik.
Gawat jika aku tanpa selimut, tadinya aku masih pakai lingerie, tapi sekarang aku sudah telanjang. Niatnya sih mau ganti baju, tapi tiba-tiba aku melihat gagang pintunya gerak. Makanya aku langsung sembunyi.
"Hng! Terserah kalau begitu. Aku ingin bicara hal penting denganmu. Tapi sebelumnya... aku ingin tahu apa maksudmu memakai lingerie dan memegang køndøm. Katakan dengan jujur!"
"M-maksud yaa..." Nisa lalu mengalihkan pandangannya. "Emmm... i-itu cuma... eee... endorse!"
"Kau menerima endorse køndøm!? Apa uang yang aku berikan padamu masih kurang!? Jangan-jangan kau ini sebenarnya pemain film porno!! Istri macam apa kau ini!?" tanya Keyran seakan tidak percaya.
"Sembarangan! Aku mana mungkin pemain film porno!" untuk sejenak Nisa terdiam. "Baiklah, aku akan jujur. Køndøm itu bukan endorse, itu cuma hadiah pernikahan yang diberikan oleh orang gila. Kebetulan saja saat kau masuk aku sedang membukanya. Semua lingerie itu juga hadiah, a-aku memakainya cuma karena penasaran. Jadi aku nggak punya maksud apa-apa."
"Oh..." Keyran lalu melihat keadaan sekitar kamar. Dan dia terkejut saat melihat lingerie yang tadinya dipakai oleh Nisa ternyata sudah tergeletak di lantai. Setelah menyadari hal itu Keyran langsung melihat ke arah Nisa. "Sekarang aku mengerti alasanmu bersembunyi di balik selimut," ucap Keyran sambil tersenyum.
__ADS_1
"T-terus kenapa!?" ucap Nisa dengan nada gemetar.
"Hahaha.. Nisa.. Nisa.. betapa bodohnya dirimu, kau ini seharian habis dari mana sampai jadi bodoh begini?"
"Seharian ini aku jalan-jalan, ibumu yang mengajakku."
"Tsk! Aku sudah bilang kalau dia bukan ibuku!" bentak Keyran.
"Ibu mer..."
"Dia juga bukan ibu mertuamu! Kau itu istriku, ibu mertuamu adalah ibuku!"
"Lalu aku harus memanggilnya apa?"
"J*lang!"
"Baiklah, j*lang itu..."
"Wah.. kau langsung menurut saat aku menyuruhmu bicara kasar. Kau pasti golongan orang toxic."
"Bagaimana dengan Nyi Pelet?"
"Nah, itu baru cocok. Jika kau bersedia, sekarang juga aku akan mengambilkan megaphone untukmu. Kau bisa berteriak memanggilnya nyi pelet sekeras mungkin."
"Nggak mau, aku capek... Seharian nyi pelet itu mengajakku jalan-jalan dan belanja barang-barang gak guna."
"Belanja yaa..." Keyran tiba-tiba mengambil tas belanja yang berada di atas ranjang tepat di sebelahnya. "Aku penasaran apa saja yang kau beli."
"Asdfgh!! Aku mohon jangan dilihat!" Nisa berteriak histeris dan mencoba untuk merebut tas belanja itu dari tangan Keyran, namun Keyran dengan sigap menghindar dan segera melihat isi dari tas belanja itu.
"Eh!? I-ini... pakaian dalam??" Keyran lalu melihat ke arah Nisa, namun ternyata Nisa sudah menyembunyikan wajahnya kembali di dalam selimut. "Apa maksudmu membeli barang ini? Apa kau membelinya untukku?"
"Diamlah!! Aku membelinya karena terpaksa! Tolong jangan tanya lagi!!" teriak Nisa yang masih berada dalam selimut.
"Kau ini..." Keyran lalu meletakkan tas belanja itu di meja yang berada tepat di samping ranjang.
Ini mencurigakan, kenapa Nisa bisa tahu ukuran celana dalamku? Tapi dia bilang kalau dia terpaksa membelinya... aaahh sudahlah, jangan dipikirkan! Ngomong-ngomong... Nisa juga belanja banyak sekali, aku masih penasaran apa lagi yang dia beli.
Melihat Nisa yang masih terus bersembunyi, Keyran memanfaatkan kesempatan itu untuk melihat barang-barang lain yang dibeli oleh Nisa. Keyran sangat terkejut ketika mengetahui isi dari tas-tas belanja itu, ternyata barang-barang yang dibeli oleh Nisa semuanya adalah khusus untuk pria.
"Yang tadi mana yang kau maksud?"
"Semuanya, semua tentang lingerie, køndøm, ataupun pakaian dalam. Jangan bahas soal itu lagi..."
"Baiklah, aku tidak akan membahas soal itu lagi." ucap Keyran acuh tak acuh.
"Emmm.. btw, ini masih sore, tumben sekali kau sudah pulang. Bahkan kau juga mencariku, memangnya ada keperluan apa?"
"Aku sudah mengatakannya tadi, aku ingin membicarakan hal penting denganmu. Aku membutuhkanmu."
"Kau butuh aku untuk apa?"
"Aku ingin kau menemaniku untuk menghadiri acara pesta. Semacam pesta hari jadi perusahaan, akan ada banyak orang-orang penting, pebisnis dan politikus. Jadi kau harus menjaga perilakumu!"
"Iyaa.. aku tahu, tapi perusahaan mana yang berulang tahun?"
"Perusahaan milik keluarga Cakrakumala, pesta itu juga diadakan di kediaman utama miliknya. Kau juga harus berdandan selayaknya istriku, saranku kau bisa mulai bersiap dari sekarang!"
"Nanti saja, aku cuma butuh waktu 10 menit untuk bersiap. Sekarang aku masih capek, aku mau tidur dulu..."
"Ohh, sekarang aku akan memberimu pilihan. Kau mulai bersiap dari sekarang, atau..." Keyran lalu mencengkeram selimut yang dipakai Nisa. "Aku tarik selimut ini!"
"Jangan ditarik!! Baiklah... aku akan mulai bersiap." Nisa lalu turun dari ranjang dengan tubuh yang masih dibungkus selimut seperti kepompong. Bahkan dia berjalan melompat-lompat seperti pocong yang menuju ke kamar mandi.
Sementara Keyran, dia hanya bisa menahan tawa saat melihat tingkah istrinya yang mirip dengan pocong. "Pffttt..."
Dasar bodoh! Semoga nanti kau tidak membuat masalah di acara pesta, jika kau sampai membuat masalah maka nama baikku sudah pasti akan tercemar. Tapi ngomong-ngomong... dimana Nisa menyembunyikan køndøm itu? Dari tadi aku tidak melihatnya.
...3 jam kemudian, Kediaman Utama Cakrakumala...
...•••••• ...
Suasana meriah menyelimuti seluruh kediaman. Banyak orang-orang dari kalangan atas berdatangan, mulai dari artis, pebisnis, politikus serta orang-orang berpengaruh dan berbakat yang menjadi sorotan juga datang. Bahkan ada banyak wartawan yang datang untuk meliput acara pesta ulang tahun perusahaan itu.
Selain keluarga Kartawijaya, masih ada keluarga besar lainnya yang mempunyai pengaruh kuat di kota. Totalnya ada 5 keluarga besar yang paling disegani. Jika diurutkan dari yang paling disegani adalah keluarga Kartawijaya, Cakrakumala, Adinata, Wardhana dan yang terakhir adalah Bachtiar. Kelima keluarga besar itu memiliki jangkauan yang luas, mereka bisa dianggap memonopoli seluruh bisnis di kota.
Dan tentu saja ketika menghadiri pesta, Keyran dan Nisa langsung menjadi sorotan utama. Berita tentang pernikahan mereka cukup menggemparkan bagi kalangan keluarga atas. Terutama bagi golongan nona-nona besar, sebagian besar dari mereka sangat mendambakan agar bisa menikah dengan Keyran.
__ADS_1
Namun seperti yang diketahui oleh pembaca sekalian, hidup memang tidaklah adil. Pria yang paling diidamkan oleh banyak wanita, kenyataannya malah didapatkan oleh seorang gadis barbar tidak tahu malu seperti Nisa. Dan tak dapat dipungkiri, banyak sekali orang yang mencoba berkenalan dengan Nisa, namun mereka juga diam-diam menaruh kebencian kepada Nisa.
Nisa adalah orang yang pintar dan mudah beradaptasi dengan berbagai lingkup sosial. Sebenarnya dia sendiri juga tahu kalau banyak orang yang tidak suka kepadanya, namun dia tetap memperlihatkan senyum kepada mereka, senyum terpaksa dan pura-pura.
Selama pesta berlangsung, Nisa terus bergandengan tangan dengan Keyran. Saat Keyran mengenalkan Nisa kepada rekan bisnisnya, yang menggantikan dia bersulang adalah Nisa. Nisa memang sengaja meminta hal itu karena sebenarnya dia ingin sekali minum wine dalam jumlah banyak.
Setelah berpisah dengan rekan bisnisnya, Keyran mulai merasa sedikit khawatir seandainya Nisa mabuk, dan akhirnya dia berkata. "Kau sudah 7 kali bersulang menggantikan aku, apa kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja, menggantikanmu bersulang 70 kali aku sanggup. Toh sebenarnya aku juga belum puas, wine di sini sangat enak." ucap Nisa sambil tersenyum.
"Terserah, asalkan kau tidak membuat masalah aku sudah sangat bersyukur."
Aku sedikit khawatir seandainya kau mabuk, jika mabuk kau bertambah liar dan itu sangat mengerikan.
Tak berselang lama kemudian, tiba-tiba ada 2 orang yang menghampiri Keyran dan Nisa. Orang itu tidak lain adalah Amanda bersama dengan partnernya, namun partner yang bersama Amanda bukanlah orang sembarangan. Dia adalah seorang artis terkenal yang dipuja-puja oleh kaum wanita.
"Hai, Keyran!" sapa Amanda dengan senyuman, kemudian dia melirik ke arah Nisa. "Halo, nyonya..." sapa Amanda dengan nada malas.
Nisa tidak menjawab sapaan dari Amanda, bahkan dia menganggap keberadaannya seolah-olah tidak ada. Perhatian Nisa hanya tertuju pada partner yang datang bersama Amanda. Di sisi lain Keyran juga merasa malas, lalu dia berkata, "Untuk apa kau menghampiri kami?"
"Aku hanya ingin menyapa saja, sekaligus mengenalkan partner yang datang bersamaku. Key, apa kamu masih ingat dengan acara penghargaan yang waktu itu pernah aku bahas?" tanya Amanda pada Keyran.
"Ya, terus.." jawab Keyran seakan tidak tertarik.
"Dia adalah pemenang nominasi aktor terfavorit, namanya adalah..." jelas Amanda.
"David!" sahut Nisa, dia lalu mengulurkan tangannya untuk berkenalan. "Namaku Nisa, istrinya Keyran Kartawijaya. Salam kenal~" ucap Nisa sambil tersenyum.
"I-iya..." David langsung berjabat tangan dengan Nisa. "Saya tersanjung karena b.. n-nyonya mengenal saya, salam kenal juga~"
Astaga, aku tidak menyangka kalau bisa bertemu dengan boss! Ternyata undangan ke club yang diberikan Ivan itu benar, bos sudah kembali. Aku menyesal, seharusnya waktu itu aku datang. Ngomong-ngomong... ini pertama kalinya aku melihat bos mengenakan dress, menurutku bos kelihatan semakin cantik.
"Haha.. tentu saja aku mengenalmu, kau adalah idola ibuku. Ibuku suka sekali menonton film yang kau bintangi, menurutku kau sangat berbakat~"
Dasar penipu fans! Waktu itu berani-beraninya menolak untuk datang ke club, padahal kau pasti sangat senggang. Bahkan kau juga mau-mau saja jadi partner nona artis kampret ini.
"Terima kasih atas pujian dari nyonya, saya tidak terlalu berbakat, kemampuan saya masih perlu diasah lagi..."
"Wah... kau tidak perlu merendah, kemampuanmu memang sangat bagus~"
"Nyonya Nisa bisa saja, rasanya seperti ingin terbang jika saya terus dipuji..."
"Ehem!!!" Keyran sengaja batuk untuk membuat Nisa dan David berhenti bicara. Dia juga merasa kesal karena sejak tadi Nisa dan David belum melepas jabat tangan mereka. Keyran juga melotot ke arah David sebagai isyarat agar segera melepaskan jabat tangannya. Menyadari hal itu, David seketika menarik tangannya kembali.
"Oh iya, aku ingat sesuatu!" untuk sejenak Amanda terdiam lalu menatap ke arah Nisa. "Ini pertama kalinya kita bertemu setelah pertunanganmu waktu itu, aku hanya ingin bilang bahwa gaun milikmu sudah beres. Sekarang aku akan menghubungi asistenku untuk mengambilnya."
"Tidak perlu, gaun itu untukmu." Jawab Nisa secara spontan.
Wihh... padahal aku sendiri sudah lupa, toh itu cuma gaun yang bagian dadanya terbuka. Aku nggak butuh benda seperti itu.
"A-apa!?" Amanda sangat terkejut dengan jawaban Nisa, tapi di sisi lain masih ada Keyran dan David yang menahan tawa.
Uuhh... sialan, dasar gadis busuk! Yang kau katakan barusan itu adalah penghinaan, bisa-bisanya memberiku gaun bekasmu! Kau berulang kali mempermalukanku di depan Keyran, awas saja nanti, akan aku balas perbuatanmu!
"Terima kasih!" Amanda lalu melirik ke arah David, "David, ayo kita pergi!"
"Oh, oke..."
Hahaha, ya ampun boss... Kau masih saja suka mempermalukan orang.
Amanda dan David langsung bergegas pergi meninggalkan Keyran dan Nisa. Setelah mereka sudah agak jauh, Keyran lalu tersenyum kepada Nisa sambil berkata, "Kau ini..."
"Memangnya aku kenapa?" tanya Nisa terheran-heran.
"Bukan apa-apa. Sekarang kau bisa menikmati pesta sendiri, aku akan menemui tuan besar keluarga Cakrakumala. Selama aku tidak ada, kau jangan membuat masalah!"
"Baik," jawab Nisa sambil mengangguk.
Hehehe, sekarang aku bisa minum wine sampai puas! Bahkan sepertinya makanan yang disediakan juga enak-enak. Semoga saja Keyran lama perginya.
Setelah Keyran pergi, Nisa langsung bergegas menuju ke meja yang telah menyediakan berbagai jenis cake. Semua cake itu terlihat sangat menggiurkan, Nisa sampai dibuat bingung memilihnya.
"Hmmm..." gumam Nisa sambil tersenyum.
Semua cake ini terlihat sangat enak, aku mulai dari yang mana ya..? Eh!? Choco lava cake, kesukaanku!
Saat Nisa ingin mengambil seporsi choco lava cake, tiba-tiba saja tangannya secara tidak sengaja bersentuhan dengan tangan orang lain. "Maafkan saya, sekali lagi..." Nisa lalu menoleh ke arah orang tersebut. "Ma... R-Ricky!!?"
__ADS_1