
Tia sangat memperhatikan penampilan, dia menghabiskan waktu yang cukup lama untuk berdandan, bahkan Nisa sampai ketiduran karena menunggunya. Waktu yang dijanjikan semakin dekat, Tia yang menyadari hal itu langsung berusaha membangunkan Nisa.
"Adik, bangun! Ayo kita berangkat!" Ucap Tia sambil menggoyang-goyangkan tubuh Nisa.
"Zzzz...."
Huh! Baiklah, akan aku keluarkan jurus andalanku! Maaf ya... hihi
"Nisa Sania! Siapa Tuhanmu!" Teriak Tia di telinga Nisa.
Nisa langsung bangun dan berteriak "Tuhanku adalah pencipta surga neraka langit bumi dan alam semesta!"
"Hahaha! Nama Tuhanmu panjang sekali, seharusnya tadi aku merekammu! Ya Tuhan, perutku..." Tia tertawa terbahak-bahak sambil mengelus perutnya.
Nisa lalu melempari Tia dengan bantal "Ihh...! Nggak lucu, aku pikir aku sudah mati! Kak Tia jahat!"
"Haha, iya deh... maaf ya? Adikku yang manis, ayo kita cepat berangkat!"
"Hah!? Kemana?" Nisa kebingungan karena nyawanya masih belum terkumpul.
"Tentu saja makan malam dengan tuan muda Keyran! Kamu ini kok lupa sih, mimpi sampai ke tempat apa kamu?" Kesal Tia.
"Iya juga, tapi ini jam berapa?"
"Jam setengah delapan! Ayo, kita berangkat!" Ucap Tia sambil menarik tangan Nisa.
"Buset dah! Kakak dandan sampai tiga jam lebih?"
"Tentu saja, aku harus tampil sebaik mungkin! Tapi, kita akan ke restoran mana?"
"Kemana aja lah, yang penting masakannya enak!" Ucap Nisa sambil turun dari ranjang.
"Kok gitu sih? Seharusnya kita pergi ke restoran yang bagus dong! Ini kan acara penting!"
"Hah... kak Tia aja yang pilih tempatnya!" Ucap Nisa dengan pasrah.
"Oke, aku tahu restoran yang bagus dan terkenal, kita kesana ya?"
"Ya udah, kita berangkat!" Nisa lalu berjalan keluar.
"Tunggu dulu! Apa kamu tidak merias diri dulu? Kita akan bertemu dengan orang yang penting loh!" Tanya Tia terheran-heran.
"Hadehh... itu nggak perlu! Kalau mau makan itu yang penting mulut dan perut yang masih kosong!" Kesal Nisa.
"Haha, aku lupa... kau itu orang yang berbeda. Kalau begitu, ayo kita berangkat!" Ucap Tia dengan semangat.
"Oke!"
Semoga saja nanti berjalan lancar, habis... tadi aku mimpi pak Erwin jadi Titan! Itu pertanda baik atau buruk? Bodo amat lah, yang penting usaha!
Tia dan Nisa akhirnya pergi ke sebuah restoran mewah. Saat mereka sampai, perasaan gugup mulai menghantui Tia. Tia sangat gugup karena Keyran belum juga datang, lama-kelamaan di benaknya mulai muncul pikiran yang tidak-tidak.
"A-adik, apa dia tidak jadi datang?" Tanya Tia dengan khawatir.
"Entahlah, aku bukan Tuhan yang tahu segalanya!" Jawab Nisa acuh tak acuh.
"Isssh... aku serius! Kamu sudah mengirimkan lokasi padanya kan?"
"Sudah kok!"
"Dia balas apa?" Tanya Tia penasaran.
"Cuma di read doang, ya biasa lah orang sombong! Kalau kakak mulai khawatir, ayo kita pesan minum dulu! "
"Hmm, boleh juga. Pelayan!" Teriak Tia.
Lalu seorang pelayan laki-laki datang mendekat ke meja mereka "Nona, anda ingin memesan apa?" Tanyanya dengan sopan.
"Mixed Berries Smoothies!" Ucap Nisa dan Tia bersamaan.
"Wah... sangat kompak! Tapi, sepertinya aku pernah melihat nona, apakah nona adalah Aristia model yang terkenal itu?" Tanya pelayan dengan penasaran.
"Haha, iya~ ternyata kamu mengenalku!" Tia tersenyum dengan lembut.
"Wah... tentu saja saya mengenal nona! Saya adalah penggemar berat nona! Lalu... apakah boleh saya berfoto dengan nona?" Tanya pelayan itu dengan penuh harapan.
"Boleh..." Tia tersenyum pada pelayan itu.
"Tidak boleh!" Sahut Nisa.
Tia dan pelayan itu kaget, mereka berdua langsung diam dan hanya menatap Nisa.
Nisa lalu menatap pelayan itu dengan tatapan mata yang sinis "Hei, kakakku itu seorang model, satu fotonya sangat berharga! Kau sebagai pelayan tidak segera mengantarkan pesanan kami, tapi malah sibuk dengan kepentinganmu sendiri!" Ucap Nisa dengan ketus.
Pelayan itu mulai menunduk dan ketakutan "M-maafkan saya, saya hanya..."
"Kurang ajar! Masih cari alasan! Katanya ini restoran mewah, ternyata seperti ini cara mereka memperlakukan tamu! Ayo kak, kita pergi saja!" Nisa lalu berdiri dan menarik tangan Tia.
__ADS_1
"M-maaf nona... tolong maafkan saya, saya bisa dipecat nanti..." ucap pelayan itu dengan memelas.
Melihat hal itu Tia merasa tidak tega, akhirnya dia memohon pada Nisa "Adik, maafkan saja dia, dia sangat kasihan...."
"Hng! Baiklah, aku maafkan! Cepat pergi dan segera antarkan pesanan kami!" Nisa lalu duduk kembali.
"T-terima kasih... Akan segera saya antarkan..." Pelayan itu lalu berjalan pergi.
"Adik, kamu kenapa? Tidak biasanya kamu seperti ini..."
"Bukan apa-apa, aku hanya sedang melindungi kakak! Kakak terlalu sembarangan sih..."
"Sembarangan bagaimana? Meskipun dia seorang pelayan, tapi dia adalah pengemarku. Aku tidak masalah kok berfoto dengannya..." Ucap Tia dengan wajah polos.
"Hah... sudahlah. Kak Tia terlalu baik, kakak nggak akan paham...." Nisa lalu mengalihkan pandangannya dari Tia.
"Huh! Padahal kamu sendiri yang bicaranya sulit dipahami!" Kesal Tia.
"Ya, salahkan saja aku..."
Kak Tia adalah orang terkenal, jika dia berfoto dengan sembarang orang, takutnya orang itu akan menggunakan foto itu untuk tujuan yang buruk. Dia bisa saja mengaku dekat dengan kakak, atau yang terburuk dia akan menggunakan foto kakak sebagai profil dalam melakukan hal yang salah. Itu semua mungkin terjadi!
"Hei, adik!" Tia mencolek pundak Nisa.
Nisa menoleh dan mengangkatkan alisnya "Hm?"
"Apa aku cantik? Apakah nanti tuan muda suka padaku? Bagaimana kalau nanti dia bilang aku terlalu jelek untuknya..."
"Astagaaa... kakak masih gugup ya? Santai aja lah, kakak cantik kok, kalau dia bilang kakak jelek, berarti matanya rusak. Kakak jangan terlalu berlebihan memikirkannya!"
"Iya, tapi..."
"Eh!? Dia di belakang kakak!" Nisa terlihat panik dan menunjuk ke arah Tia.
"Dimana!?" Tia kaget dan langsung menengok ke belakang.
"Hahaha! Cuma angin kok, tapi dia ganteng kan?" Ejek Nisa.
"Angin? Kamu bilang..." Tia kemudian berbalik secara perlahan "Wahai adikku yang manis, kamu sudah... Eh!? Dia ada dibelakangmu!" Tia lalu menunjuk ke arah Nisa.
"Haha, nggak mungkin~ aku nggak akan tertipu! Mana mungkin si mata rusak ada dibelakangku!" Ucap Nisa tanpa menoleh.
"Oh, jadi mataku rusak?"
"Eh!?" Nggak mungkin kan? Nisa perlahan menengok ke belakang "Haha, ternyata kau disini. Silakan duduk...." Nisa lalu tersenyum dengan canggung. Bertambah satu orang lagi yang membenciku!
Keyran dengan penuh kekesalan akhirnya duduk, dia duduk secara berhadapan dengan Nisa dan Tia. Saat mereka berhadapan, Tia terus menatap Keyran karena terpesona. Dan Keyran, dia hanya terus menatap Nisa dengan tatapan yang penuh amarah. Sedangkan Nisa, dia malah menutupi wajahnya dengan daftar menu, dia merasa sangat canggung karena sudah mengatai Keyran.
"Haha, tentu saja untuk makan. Masa main golf?" Jawab Nisa spontan.
"Kau...!!" Gertak Keyran.
"A-adik, jangan seperti itu... Sopanlah sedikit!" Ucap Tia.
"Ya, akan kucoba!" Ucap Nisa seakan tidak peduli.
"Tuan muda, maafkan adikku ya?"
"Hng! Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan denganku? Apa itu hal yang penting? Jika tidak, maka aku akan pergi sekarang!" Ucap Keyran dengan tidak sabar.
"Hah.... kita bicarakan itu nanti, sekarang lebih baik kita makan dulu. Pelayan!" Teriak Nisa.
Lalu datanglah pelayan laki-laki yang tadi, dia mendatangi meja mereka dengan sedikit gemetar karena masih takut pada Nisa "T-tuan dan nona ingin memesan apa?" Ucapnya sambil menghindari pandangan dari Nisa.
"Aku Spicy Baked Salmon!" Ucap Tia sedikit canggung.
"Truffled Mushroom Risotto!" Sahut Keyran.
"Greek Meatloaf!" Ucap Nisa sambil menatap pelayan itu dengan sinis.
"B-baik, segera saya antarkan, mohon ditunggu..." Pelayan itu dengan cepat berjalan pergi.
Astagaaa... tatapan nona itu menakutkan sekali!
"Oh iya, adik, kenapa kamu selalu memesan hidangan itu?" Tanya Tia penasaran.
"Karena aku sering donor darah, hidangan dari daging sapi sangat dianjurkan untukku. Tapi, mungkin untuk bulan ini aku nggak bisa..."
Karena akhir-akhir ini rasanya darah rendahku kambuh, lagipula biasanya yang mengurus itu juga Ricky. Tapi, untuk sekarang bertemu dengannya saja rasanya aku ingin sekali menghindar.
"Wah... ternyata kamu masih rajin mendonorkan darahmu ya, kamu baik sekali!" Ucap Tia seolah kagum.
"Nggak juga, aku hanya melakukan yang seharusnya aku lakukan...." Ucap Nisa dengan wajah murung.
Tak lama kemudian hidangan yang mereka pesan datang, lalu saat mereka selesai tiba-tiba suasana berubah menjadi tegang. Semua itu karena Nisa dan Keyran saling menatap satu sama lain dengan tatapan yang serius. Tia yang menyadari hal itu kepercayaan dirinya langsung turun, karena dia merasa sangat gugup saat melihat ke arah Keyran..
"Aku akan langsung ke intinya, aku mengundangmu karena ingin membahas tentang pernikahan!" Ucap Nisa dengan tenang.
__ADS_1
"Hm? Aku pikir kau sama sekali tidak tertarik dengan pernikahan kita, aku sedikit terkejut kau ingin membahasnya denganku. Apa yang ingin kau tanyakan?" Tanya Keyran terheran-heran.
"Aku koreksi sedikit! Kau salah saat menyebutnya, itu bukan pernikahan kita. Aku ingin mundur dari pernikahan ini, dan aku sudah menemukan orang yang tepat untuk menggantikan aku!"
"Oh, apa yang kau maksud adalah orang ini?" Keyran melirik Tia dengan tatapan yang sinis.
"Emmm...." Tia lalu menundukkan kepalanya karena terlalu gugup.
Dia menatapku seperti itu... Apa dia tidak suka padaku?
"Iya, dia adalah calon istrimu yang sebenarnya, dia kakakku. Kak, perkenalkan dirimu...."
"Ah!? H-hallo, nama saya Aristia Putri Siwidharma. Saya adalah putri pertama dari keluarga saya, salam kenal tuan...." Ucap Tia sambil tersenyum lembut.
"Ya, salam kenal...." Ucap Keyran acuh tak acuh.
"Nah, kau sudah paham kan? Sekarang aku akan tinggalkan kalian berdua, kalian bisa saling mengenal lebih jauh...." Nisa lalu berdiri dan bersiap untuk pergi.
"Tunggu! Aku ingin bertanya sesuatu padamu!" Sahut Keyran.
Nisa lalu duduk kembali "Soal apa?" Tanya Nisa dengan malas.
"Apakah ini rencana gila milikmu? Aku tidak menyangka kalau kau akan menyerahkan tunanganmu sendiri pada orang lain!" Ucap Keyran seakan tidak terima.
"Yah, secara harfiah memang seperti itu...." Nisa lalu mengalihkan pandangannya.
"Hng! Secara harfiah, memangnya itu bisa punya arti lain? Sebenarnya apa yang membuatmu berpikir kalau aku akan menerima semua ini?" Tanya Keyran dengan nada kasar.
"Hah.... dengar ya! Pernikahan itu ada karena perjanjian, lalu ayahmu meminta seorang gadis dari keluargaku untuk menikah denganmu. Dan kakakku adalah putri pertama, seharusnya bukan aku yang menikah denganmu, tapi kakakku! Kau seharusnya paham tentang hal ini!"
"Naif!" Teriak Keyran.
"A-apa!? Kau bilang aku naif... apa maksudmu?" Tanya Nisa dengan nada kasar.
"Hei, sebaiknya kau pergi! Aku ingin bicara berdua dengan tunanganku!" Keyran menatap Tia dengan tatapan yang menyeramkan.
"Ah!? B-baik...." Ucap Tia dengan ketakutan.
Apakah tuan muda menolak aku? Tapi kenapa?
"Tunggu! Kak Tia jangan pergi!" Nisa lalu menahan tangan Tia.
"T-tapi...." Tia lalu melirik ke arah Keyran.
"Kakak jangan turuti permintaan orang ini! Tetaplah disini bersamaku!" Nisa lalu menatap Keyran dengan penuh kekesalan.
"Hng! Terserah...." Ucap Keyran seakan tidak peduli.
"B-baiklah, aku akan tetap disini...."
Uuhhh...! Kenapa aku bisa terjebak di keadaan seperti ini? Aku tidak ingin terjadi keributan....
"Hei, aku peringatkan kau! Pembicaraan kita akan tidak pantas jika terdengar orang lain!" Ucap Keyran seolah terdengar menyindir.
"Apa yang kau maksud!? Kakakku bukan orang lain, dia keluargaku!" Ucap Nisa seolah tidak terima.
"Baiklah, tapi aku tidak akan tanggung jawab jika nanti ada yang sakit hati!"
"Huh! Kami nggak butuh tanggung jawabmu!"
"Baiklah, aku akan jelaskan kenapa aku menyebutmu naif. Aku setuju untuk menikah karena dipaksa oleh ayahku, apa kau pikir ayahku tidak tahu kalau bukan cuma kau yang gadis di keluargamu? Dia sudah tahu semuanya, dan dia memilihmu!" Ucap Keyran pada Nisa dengan ketus.
"Jadi ayahmu memang...." Ucap Nisa seakan tidak percaya.
"Lalu kau! Aku sudah bilang sebelumnya kalau ayahku tahu tentangmu, seharusnya kau paham! Ayahku lebih memilih adikmu daripada dirimu, artinya kau itu tidak pantas menjadi istriku! Kau cuma seorang model rendahan, jadi jangan bermimpi untuk menjadi istriku! Kau sangat tidak pantas dibandingkan denganku!" Ucap Keyran dengan nada kasar.
"......" Tia langsung terdiam dan tanpa sadar tubuhnya mulai gemetar serta meneteskan air mata.
A-aku... rendahan? Aku tidak pantas.... tapi kenapa... adikku lebih pantas....? Apa aku yang terlalu buruk....?
Hati Tia sontak hancur berkeping-keping, dan dia juga mendapatkan pukulan yang keras pada mentalnya. Dia bukan hanya sudah ditolak, tapi juga dihina, dicaci bahkan direndahkan oleh orang yang dia sukai. Lalu seketika pikirannya berantakan dan dia juga mulai menyalahkan diri sendiri karena tidak cukup pantas. Impiannya menikah dengan orang yang dia sukai kini telah pupus.
Prang....! Suara barang pecah.
Sialan! Aku sudah nggak tahan lagi!
Nisa merasa sangat marah karena melihat kakaknya yang menjadi seperti itu. Dia akhirnya menendang meja makan sampai kacanya pecah dan piring di atasnya berjatuhan.
"Persetan denganmu! Kau ini manusia macam apa!? Begitukah caramu bicara pada seorang gadis lugu seperti kakakku! Ayo kak, kita pergi! Jangan pedulikan si brengsek ini!" Dengan perasaan marah Nisa kemudian menuntun Tia pergi.
"Hng! Padahal aku sudah bilang kalau dia lebih baik pergi. Ini salahmu sendiri!" Keyran lalu beranjak ingin pergi.
"Tunggu tuan!" Teriak seorang pelayan yang tiba-tiba mendekat ke arah Keyran.
"Ada apa?" Tanya Keyran dengan ketus.
"A-anu, tagihannya...." Ucap pelayan itu dengan ragu.
__ADS_1
"Aku beli restoran ini!" Teriak Keyran dengan angkuh.
Hng! Dasar gadis busuk! Semakin lama dia semakin berani kepadaku! Awas saja, aku pasti akan menyiksamu!