
"Apakah nyonya alergi pada ikan?"
"Bukan alergi, hanya saja menurutku bau amis ikan air laut sangat menyengat, jadi bibi masak saja yang lain. Untuk kedepannya gunakan saja ikan air tawar."
"Tapi... ikan air laut sangat bergizi dan bagus untuk kesehatan, saya punya cara untuk membuat baunya tidak amis lagi. Jika seperti itu apakah nyonya tetap tidak mau?"
"Terserah bibi saja deh, yang penting jauhkan ikan itu dariku!"
"Baik nyonya ..." bibi Rinn lalu bergegas sedikit menjauh dari Nisa.
"Huft ..." Nisa langsung menurunkan tangannya yang menutupi hidung dan mulut, lalu dia kembali melanjutkan memasak.
Sebenarnya semua masakan yang dibuat oleh bibi Rinn sangat enak. Dan selama aku di rumah ini, hidangan yang dibuat juga selalu memperhatikan gizi. Bahkan bibi selalu membuatnya tanpa bumbu micin.
Lalu ... soal ikan tadi itu, baunya lebih amis dibandingkan darah, dan saat mencium bau yang sangat amis membuatku merasa pusing serta ingin muntah. Makanya dari dulu aku lebih suka makan ayam daripada ikan. Aku nggak suka kalau ikan dimasak pakai kuah. Tapi, kalau ikan bakar atau goreng ... aku nggak masalah.
"Hari ini aku ada kelas pagi, lalu pak Erwin ..." Nisa langsung mengerutkan dahi.
Ya ampun, nanti masih ada kuis. Dan tugasku sebagian juga belum aku kerjakan.
"Uuhh ... rasanya pusing."
Nggak tau ah, nanti aku nyontek tugasnya Jenny kalau nggak Isma. Pokoknya hari ini aku harus berangkat kuliah lebih pagi, masih ada tugas yang harus dikerjakan. Ayo semangat! Semangat menyontek!
***
Tak butuh waktu lama akhirnya Nisa selesai membuat omelet. Dia lalu membawanya ke ruang makan dan menyuguhkan omelet itu kepada Keyran dengan senyuman. "Ini sarapanmu ..." Nisa langsung duduk di sebelahnya Keyran.
"Terima kasih istriku ..." Keyran tersenyum dan kemudian mulai menyantap omelet itu.
"Key ... hari ini aku berangkat bareng ya?"
"Hmm ..." Keyran tersenyum lalu melirik ke arah Nisa. "Tumben sekali kau ingin berangkat bersamaku sepagi ini, apa kau bermodus ingin menghabiskan waktu denganku?"
"Modus apanya!? Kau jangan terlalu percaya diri! Aku cuma ada kelas pagi kok, jadi sekalian mau bareng. Tapi kalau kau keberatan aku juga gapapa."
"Haha ..." Keyran lalu menepuk kepala Nisa. "Aku cuma menggodamu, tentu saja kau boleh berangkat bersamaku. Sebentar lagi Valen akan datang, jadi kau ambil tas saja dulu."
"Baik ... aku ambil dulu." Nisa lalu berdiri dan menyerobot sepotong sandwich kemudian memakannya sambil berjalan.
"Dasar ..." Keyran lalu kembali meneruskan makan.
Tadi itu aku mendengar bahwa Nisa mengeluh pusing. Tanda-tanda kehamilannya semakin jelas, sekarang aku semakin yakin bahwa Nisa benar-benar hamil. Sebenarnya untuk memastikan hal ini aku masih harus bertanya kepada Nisa kapan terakhir kali dia datang bulan. Tapi... bagaimana caraku menanyakannya?
Untuk kepastian, lebih baik setelah pulang nanti aku uji saja dengan test pack. Dan semoga saja Nisa sungguh hamil. Tapi, jika aku menyuruh Nisa untuk menggunakan test pack, kira-kira reaksi sepertinya apa yang akan dia perlihatkan?
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan."
Keputusanku sudah bulat, entah apa pun reaksi yang diberikan Nisa, pokoknya nanti aku akan tetap mengetesnya dengan test pack! Ini demi sebuah kepastian.
***
Beberapa saat kemudian datanglah Valen yang siap mengantar Keyran dan Nisa. Tapi Valen sedikit dibuat heran karena Nisa juga ikut menumpang, Valen seperti itu karena inilah pertama kalinya Nisa berangkat kuliah di pagi hari semenjak menjadi istrinya Keyran.
Selama di perjalanan mereka bertiga tidak berkata sepatah kata pun. Begitu sampai di tujuan pertama yaitu kampus, Nisa langsung membuka pintu mobil, namun sesaat sebelum turun dari mobil tiba-tiba saja Nisa mencium pipi Keyran.
"Eh ...?" Keyran sangat terkejut oleh ciuman itu. Dia hanya ternganga melihat ke arah Nisa dengan wajahnya yang merah.
"Terima kasih atas tumpangannya~" ucap Nisa sambil meringis.
"K-kau ..."
"Tapi nyonya, yang menyetir kan saya. Kenapa berterima kasih kepada tuan?" tanya Valen dengan senyum canggung.
"Laluuu ... apa harus kau yang aku cium?"
"Hei!!" Keyran lalu melotot ke arah Valen. "Jika istriku menciummu, maka setiap bulan gajimu aku potong 75%! Berlaku hingga selamanya!!"
"S-saya mana ada minta cium, tuan jangan memotong gaji saya ..."
Ya ampun, potong 75% setiap bulan apa bedanya dengan dipecat. Padahal yang aku inginkan hanya ucapan terima kasih.
"Pffttt ... hahaha! Kalian berdua ini ... padahal aku hanya bercanda saja." Nisa lalu melirik ke arah Keyran. "Toh mustahil bagiku untuk menciummu di depan suamiku ini~"
"Ohh.. di depanku mustahil, tapi di belakangku tidak masalah, begitu!?"
"Ckck ..." Nisa mendekat ke arah Keyran lalu sekali lagi mencium pipinya. "Apa darling takut diselingkuhi oleh asistennya sendiri?"
"Nisaaa ... awas kau!" Keyran lalu menahan kepala Nisa dan tiba-tiba mencium bibirnya dengan paksa. "M-mmm ..."
Heh, ini balasannya jika kau menggodaku.
"...." Valen hanya diam dan mencengkeram setir mobil sekuat mungkin. Dia juga menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Ya Tuhan, kenapa majikanku seperti ini? Mereka berdua terlihat sangat nikmat berciuman, mereka sama sekali tidak menganggap keberadaanku. Bahkan pintu mobil juga masih terbuka, tapi jika aku ingatkan ... tuan pasti akan marah padaku, dan aku tidak mau gajiku terancam dipotong.
Mobil yang ditumpangi oleh mereka bertiga berhenti di dekat depan gerbang kampus, otomatis banyak orang yang lewat telah menyaksikan adegan Nisa dan Keyran berciuman. Dan di antara orang-orang itu salah satu temannya Nisa juga melihat, orang itu tidak lain adalah Isma.
__ADS_1
Isma pun mendekat ke pintu mobil yang terbuka sambil berkata, "Hello~ Saniaaa ... lo mau begitu sampai kapan?"
"Ehmmm ...!?" Seketika Nisa membuka matanya lebar-lebar dan mendorong Keyran untuk melepas ciumannya. "Key!! Cukup! Temanku melihatnya!" Nisa lalu menoleh ke arah Isma dan tersenyum canggung.
"Cih, temanmu itu pengganggu. Kau tutup saja pintu mobilnya dan kita bisa lanjutkan lagi!"
"What!?" Nisa kembali menoleh ke arah Keyran. "Lanjut katamu? Lanjutkan saja di rumah!" Nisa lalu bergegas turun dari mobil, namun untuk sesaat tiba-tiba dia berkata, "Valen!"
"Iya nyonya?"
"Jangan mentang-mentang punya parfum baru kau memakainya terlalu banyak, saranku kau pakai sedikit saja!" Nisa langsung turun dan juga membanting pintu mobil.
BRAK!
"Snif snif ..." Valen lalu menciumi aroma tubuhnya. "Padahal aku hanya pakai sedikit, tapi nyonya bisa tahu kalau parfumku baru. Sensitif sekali, seperti orang hamil ..."
"Valen!"
"Ya tuan, ada apa?"
"Barusan kau bilang Nisa seperti orang hamil, apa menurutmu Nisa benar-benar hamil?"
"Emmm ... Tuan, seperti bukan berarti benar. Beberapa orang kan memang punya indra penciuman yang sensitif, mungkin saja nyonya termasuk golongan orang yang sensitif."
"Tapi ... Tadi saat di rumah dia muntah-muntah dan juga mengeluh pusing, bahkan semalam dia juga ngidam."
"N-ngidam!? Memangnya semalam nyonya ngidam apa?"
"Semalam sekitar jam 2 pagi Nisa ingin makan bakso beranak, bahkan diharuskan aku sendiri yang membuatnya."
"Lalu ... apakah tuan memenuhi permintaan nyonya?"
"Tidak, Nisa bilang tidak dipenuhi juga tidak masalah."
"Ya ampun, tuan sudah membuat kesalahan besar. Tuan seharusnya memenuhi permintaan nyonya, jika tidak maka nanti anaknya tuan akan ngeces atau ileran! Memangnya tuan mau?"
"Tentu saja tidak! Apa sekarang masih sempat memenuhi permintaan itu?"
"Itu tergantung, mungkin saja sekarang nyonya sudah menginginkan hal lain. Tapi tetap saja ngidamnya nyonya semalam masih tidak bisa diabaikan."
"Putar balik! Kembali ke rumah!"
"Tapi, bagaimana dengan rapat hari ini?"
"Rapat ditunda! Sekarang aku ingin fokus belajar membuat bakso beranak untuk Nisa! Dan aku akan meminta bibi Rinn untuk mengajariku!"
Astaga, ternyata orang kalau sudah bucin itu juga sudah kehilangan logika. Padahal aku hanya bilang kalau anaknya akan ngeces, tapi itu kan cuma mitos, toh lagi pula anak kecil kan memang suka ngeces.
"Oh iya, mampir ke apotek sekalian. Nanti kau turun dan belikan test pack!"
CKIIT!!
"Kenapa kau mendadak berhenti?"
"A-apa tuan serius? Saya disuruh membeli t-test pack? Bukankah test pack itu nantinya untuk nyonya, kenapa tidak tuan sendiri saja yang membelinya?"
"Hng! Lakukan saja, bonusmu bulan ini akan aku tambah!"
"Baiklah ..." dengan ekspresi tertekan Valen lalu kembali menancap gas.
Tuan saja yang merupakan suaminya nyonya merasa malu, apalagi aku? Pasti apoteker yang melayaniku nanti akan senyum-senyum sendiri. Hiks ... seumur hidup ini adalah tugas yang paling berat. Ini lebih berat daripada disuruh membeli pakaian dalam wanita waktu itu.
...Siang hari, Universitas Grand SC...
...••••••...
Saat ini adalah waktunya untuk makan siang. Di kantin ramai sekali orang yang sedang menikmati makanan, tak terkecuali Nisa dan dua temannya, yaitu Jenny dan Isma. Mereka bertiga memesan makanan yang sudah menjadi makanan wajib terfavorit mereka, yaitu mi instan goreng dengan telur di atasnya. Lalu minumannya adalah es boba rasa favorit mereka masing-masing.
Sesaat sebelum Nisa menyendok mi goreng tersebut, tiba-tiba suasana kantin menjadi semakin ramai. Bahkan juga terdengar begitu banyak suara jeritan para gadis. Para gadis-gadis itu histeris saat melihat sesosok pria tampan yang berpakaian rapi sedang berjalan menuju kantin. Pria itu juga merupakan pria yang begitu diidamkan, namun ekspresi yang dia perlihatkan hanya raut wajah datar dan auranya terkesan dingin. Pria yang dimaksud tidak lain adalah Keyran.
Nisa dibuat terkejut sekaligus merasa heran oleh kedatangan Keyran yang menurutnya tidaklah wajar. Keyran juga terlihat membawa kotak bekal sambil terus berjalan mendekat ke arah Nisa. Begitu Keyran sampai, dia langsung duduk tepat di sebelah Nisa dan menaruh kotak bekal yang dia bawa di atas meja.
Keyran tiba-tiba mencium kening Nisa dan setelah itu tersenyum lembut sambil berkata, "Waktunya makan siang, aku secara khusus datang kemari hanya untukmu."
Dan suasana kantin langsung berubah menjadi hening. Nisa tidak berkata apa pun. Bahkan dia juga menjatuhkan sendok yang sudah diisi oleh mi goreng yang hendak dia makan. Di sisi lain masih ada Jenny dan Isma, mereka berdua juga tidak berkata apa pun dan hanya ternganga melihat Keyran. Bagi Jenny dan Isma pemandangan seperti itu seakan-akan membuat mata mereka terasa gatal dan perih. Apalagi untuk para gadis-gadis yang sebelumnya berteriak, sekarang mereka semua tidak berkata apa pun lagi.
"Wah wah ... ternyata makanan yang kau makan adalah mi instan, untung saja aku membawakanmu makanan yang bergizi dan menyehatkan." ucap Keyran sambil memandang ke arah mi goreng dengan tatapan remeh.
"K-kau ... untuk apa kau kemari?" tanya Nisa seakan tidak percaya.
"Aku sudah bilang kalau aku kemari untukmu, aku membawakan beberapa makanan untukmu makan siang." Keyran lalu membuka kotak bekal satu per satu, makanan-makanan itu terdiri dari sup brokoli, tumis daging tanpa lemak, salmon asam pedas, dan pastinya bakso beranak.
"Ini semua untukku?"
"Iya, semua makanan ini harus kau habiskan. Nah, sekarang kau ingin makan yang mana dulu? Aku akan dengan senang hati menyuapimu ..."
"Aku cuma mau makan mi goreng, semua makanan yang kau bawa kau habiskan saja sendiri!" Saat Nisa hendak menyendok, tiba-tiba Keyran menjauhkan sepiring mi goreng itu dari Nisa. "Apa yang kau lakukan? Aku hanya ingin makan dengan tenang!"
__ADS_1
"Kau tidak diperbolehkan makan mi goreng ini, kau harus makan makanan yang aku bawakan!"
"Hei, dengar ya! Aku mau makan mi goreng, toh indramie rasanya sangat enak!"
"Enak apanya? Ini makanan sampah!"
"S-sampah?"
Ya ampun, perkataanmu ini sangat menyakitkan bila didengar oleh anak kos.
"Nisa, kau harus makan makanan yang telah aku bawakan, ini demi kebaikanmu! Kali ini jangan membantahku!" Keyran lalu menyendok bakso beranak kemudian mengarahkannya ke mulut Nisa. "Nah, ayo aaaa..."
"...." Nisa lalu menutup mulut menggunakan kedua telapak tangannya.
"Tsk! Nisaaa ... aku mohon berhentilah bersikap seperti ini, jangan rewel seperti anak kecil!"
"Kau yang berhenti! Apa kau sadar di mana sekarang kita berada!? Kau bertingkah seperti ini sangat memalukan! Lebih baik kau kembali kerja sana!"
"Memalukan? Apa mempunyai aku sebagai suamimu adalah hal yang memalukan!?" Keyran lalu merubah ekspresinya menjadi kecewa. "Padahal aku sendiri yang telah membuat bakso beranak ini untukmu, tapi kau malah menolaknya mentah-mentah. Tidak bisakah kau menghargaiku sekali saja?"
"What ...!?" Nisa lalu menoleh ke arah semua orang yang sedang melihatnya.
Sepertinya Keyran meninggalkan otaknya di rumah, dengan dia yang bertingkah seperti ini di depan orang-orang, itu membuatku terkesan seperti selalu menyiksanya. Padahal semalam sudah kubilang kalau dia bisa melupakan permintaanku.
"Sania." panggil Isma.
"Iya Is?"
"Gue sama Jenny mau pergi, kita berdua ogah banget jadi nyamuk. Bye!" Isma dan Jenny pun langsung berpindah ke tempat duduk lainnya, namun masih berdekatan dengan tempat duduknya Nisa dan Keyran.
"Cih, ternyata mereka berdua akhirnya sadar juga." Keyran lalu kembali mengarahkan sesendok bakso ke mulut Nisa. "Cepat turunkan tanganmu dan buka mulutmu! Ayo makan, ini demi kebaikanmu!"
"Huft ..." terpaksa Nisa harus menuruti perintah Keyran. Dan ketika bakso itu masuk ke mulutnya, sebentar saja Nisa langsung berhenti mengunyah.
Ya ampun, bakso ini sangat ... asin! Berapa banyak garam yang dia masukkan?
Nisa langsung mengambil selembar tisu di atas meja dan kemudian memuntahkan bakso yang telah dikunyah. Melihat hal itu tentu saja membuat Keyran sangat kecewa. "Seburuk itukah bakso buatanku?"
"Kau cobalah dulu ..."
"Hng! Memangnya apa yang salah dengan bakso buatanku?" Setelah mencicipi Keyran juga merasa bahwa bakso buatannya keasinan, namun Keyran tetap menelan bakso itu demi menjaga harga dirinya. "Haha ... lupakan bakso, sekarang makan sup brokoli saja!" ucap Keyran dengan senyum canggung.
Sialan! Ternyata aku membawa bakso yang salah, yang aku bawa sekarang adalah yang percobaan ke-5. Harusnya aku membawa percobaan yang ke-18! Ini semua karena aku yang terburu-buru. Semoga saja anakku nanti tidak ngeces.
Keyran lalu menyuapi Nisa dengan sup brokoli yang dibuat oleh bibi Rinn. Sedangkan Nisa, sekarang dia merasa sangat malu karena pandangan orang-orang yang terus mengamatinya. Dan di sisi lain orang-orang semakin bertambah banyak, mereka semua penasaran dengan sosok CEO idaman yang rela membawakan makan siang untuk istrinya yang terkenal berandal di kampus.
Karena banyaknya orang-orang yang penasaran, otomatis terciptalah kerumunan yang terbilang cukup mengganggu. Dan tentu saja kehadiran petugas kedisiplinan sangat diperlukan. Terry yang merupakan ketua umum dari petugas kedisiplinan sangat bersemangat ketika mengetahui bahwa sumber masalahnya adalah Nisa.
Terry berkacak pinggang lalu dengan suara lantang dia berkata, "Wah wah ... Trouble Lady, berhentilah membuat masal ... eh!?" Terry sangat terkejut ketika melihat bahwa ada Keyran yang juga terlibat.
Ya ampun, CEO dari Group HW! Bahkan dia juga sedang menyuapi Sania! Bisa-bisanya Sania begitu nggak tahu malu, awalnya dia menjadi sekretaris dan juga penghangat ranjang. Tapi sekarang ... bahkan mereka berani memamerkan perbuatan laknat mereka di depan umum. Apa CEO ini belum tahu kalau Sania sudah menikah?
Hehehe, ini bisa jadi kesempatanku, sekarang aku bisa membuat si trouble lady mengakui kesalahannya di depan umum.
"Ehem! Sania, hentikanlah perbuatan laknat yang sedang kau lakukan! Apa kau nggak kasihan pada suamimu!?" bentak Terry sambil berkacak pinggang.
"Laknat ...?"
Apa yang petugas babi ini bicarakan? Padahal Keyran sendiri yang memaksa untuk menyuapiku, kenapa aku harus kasihan?
"Haha ... untuk apa kasihan? Aku melakukan ini dengan senang hati, iya kan darling~" ucap Keyran sambil mengusap sedikit noda makanan di bibir Nisa.
"D-darling? Ternyata kalian berdua sudah kehilangan rasa malu! Cepat hentikan perselingkuhan di depan umum ini!"
"Hei, diamlah!" Keyran lalu menatap Terry dengan sorot mata yang tajam. "Jangan ganggu kesenanganku! Memangnya perselingkuhan apa yang kau bicarakan?"
"Sebelumnya maaf atas kelancangan saya, saya tahu Anda adalah CEO dari HW Group dan juga dari kalangan orang berpengaruh. Tapi perbuatan yang sedang Anda lakukan adalah salah, orang yang sedang Anda suapi sudah bersuami. Jadi sekarang juga mohon hentikan perbuatan tidak senonoh ini!"
"Apa kau sedang melantur? Aku ini adalah suaminya! Aku adalah suaminya Nisa!"
"What!? S-suami ...?" Terry lalu menatap Nisa dengan tatapan tidak percaya.
"Yaa .. dia memang suamiku." ucap Nisa dengan nada malas.
"Kalau CEO dari HW Group adalah suamimu, lalu ... pria yang mengaku adalah suamimu yang waktu itu menjemputmu siapa?" tanya Terry penasaran.
"Menjemputku?" seketika ekspresi Nisa berubah panik.
Gawaattt! Waktu itu kan Jonathan mengaku ke orang-orang kalau dia adalah suamiku. Dan kenapa Terry si petugas babi ini mengungkitnya di depan Keyran!? Sekarang bagaimana caraku menjelaskan ini?
"Nisaaa ... Apa kau punya suami selain aku!? Apa kau berselingkuh di belakangku!? Aku sangat butuh penjelasan darimu!!"
"A-aku mana ada selingkuh?"
Tunggu sebentar ... kenapa aku harus panik? Dan kenapa rasanya aku seperti benar-benar punya selingkuhan? Padahal kan aku dengan Jonathan cuma teman.
"Lalu kenapa kau gugup!? Cepat jawab!!"
__ADS_1
"I-itu ..."