Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Bab 8. Terasa Hambar


__ADS_3

Nisa tersenyum ceria saat memasuki kamarnya, baginya hari ini semua berjalan lancar sesuai keinginannya. Tahap awal dari rencananya telah berhasil, dia bahagia karena hal itu membuat peluangnya untuk tetap bersama dengan Ricky berhasil.


Akhirnya sampai rumah ... aku mandi dulu deh, nanti baru istirahat. Ternyata jarak perusahaan sampai rumah cukup jauh, tapi nggak disangka biaya naik taksi sekarang agak mahal. Hiks ... uangku, andai saja SIM-ku nggak disita oleh ayah.


Setelah selesai mandi, Nisa langsung berbaring di kasurnya tanpa mengeringkan rambut terlebih dahulu. Dia hanya berpikir sambil menatap keluar jendela kamar cukup lama.


"Hah ... hari ini sungguh mengejutkan, nggak disangka cari kerja cukup mudah." Nisa menghela napas, dia lalu termenung dan mulai memikirkan sesuatu.


Nah, tahap pertama sukses. Tapi ... bukankah ini terlalu mudah? Bahkan peserta lain yang kelihatannya lebih baik dariku yang gagal cukup banyak. Yang membuatku berbeda hanyalah umurku yang paling muda.


"Jangan-jangan ..." gumam Nisa dengan ekspresi suram.


Apa jangan-jangan CEO itu orang tua yang mesum?! Dan dia melihatku seorang gadis berumur 19 tahun sebagai mangsa yang mudah? Amit-amit! Jangan sampai bosku itu seseorang yang mesum! Hiyy ... jijik banget!


Tapi Valen bilang besok harus dandan yang cantik. Nggak mau ah, takutnya yang aku pikirkan jadi kenyataan! Untuk antisipasi sebaiknya nggak usah dandan, polosan aja sekalian! Dan aku tidak akan mengikat rambutku!


"Nisa! Cepat turun!" teriak ibunya Nisa dari luar yang terdengar cukup keras.


"Iya, ibu!" Nisa balas berteriak


"Cepat! Keburu dingin makanannya!"


"Iya-iya ... sebentar!"


"Turun woi!!"


"Iya, Momsky!"


Ya ampun, ibu menjadi ganas hanya kepadaku, meskipun aku anak perempuan satu-satunya.


Nisa bergegas untuk turun. Saat dia tiba di ruang makan, dia mendadak jadi bersemangat saat melihat hidangan apa yang tersaji di meja makan.


"Wah ... tumben ibu masak rendang! Masih ada opor sama sop iga sapi! Suasana hati ibu pasti sekarang sedang bahagia. Memangnya ibu habis dapat arisan, ya?" tanya Nisa sambil terburu-buru mengambil piring.


"Ibu bukan habis dapat arisan. Kalau ibu dapat arisan, mending beli perhiasan baru. Semua makanan ini asalnya dari Ricky. Dia membawa makanan kesukaanmu."


"Hah? Dari kakak ipar? Memangnya kapan kakak ipar main ke sini?" tanya Reihan.


"Reihan, berhenti memanggilnya kakak ipar!" bentak Gilang dengan nada kesal.


"Baik ayah," jawab Reihan dengan nada pasrah.


"...." Di sisi lain Nisa hanya diam. Dia tidak habis pikir bahwa ayahnya membentak Reihan hanya karena menyebut Ricky sebagai kakak ipar.


Ayah menyuruh Reihan berhenti memanggil Ricky dengan sebutan kakak ipar, itu tandanya ayah mengharapkan kalau hubunganku dengan Ricky berakhir. Aku tau kalau ayah bermaksud baik, dan ayah juga mengharapkan aku memikirkan nasib keluarga, karena ini menyangkut konsekuensi atas perjodohan itu. Tapi apakah perlu memberi peringatan sejelas ini?


"Kenapa Ricky datang kemari?" tanya Nisa.


"Tadi siang dia kemari karena mencarimu. Dia bilang kamu tidak ada di kampus, makanya dia datang kemari sambil bawa makanan. Dia pikir kau sedang sakit," jawab ibu.


"Lalu kenapa kau tidak datang ke kampus?" tanya ayah dengan tatapan mata seperti akan menghabisi orang.


"Soal itu ... aku sudah dapat izin dari dosen kok. Dosen menyuruhku untuk mengerjakan tugas proyek di luar. Makanya aku nggak ada di kampus." Nisa menjawab sambil mengalihkan pandangan.


"Oh, dosen ya?" tanya ayah dengan pandangan tidak percaya.


"B-bukan, aku salah ingat, maksudku dekan. Dekan kampus yang menyuruhku! Kalau tidak percaya silakan tanya sendiri ke orangnya."


"Oh," jawab ayah dengan singkat dan kemudian melanjutkan makan.


Nisa kemudian duduk, dia bergabung untuk makan bersama dengan keluarganya. Belum berselang lama ketika Nisa bergabung, tiba-tiba saja ibunya kembali bicara.


"Nisa, apa kau belum bicara apa pun pada Ricky?" tanyanya dengan nada khawatir.

__ADS_1


PRANGG!


Nisa membanting sendoknya di piring, semua orang langsung berhenti makan dan beralih menatapnya.


"Memangnya apa yang perlu dibicarakan?" tanya Nisa seakan tidak terima dengan perkataan ibunya barusan.


"Aku muak jika terus membahas masalah ini, dan masalah ini adalah masalah keluarga kita sendiri. Aku nggak mau Ricky jadi terlibat. Jika kalian ingin aku memikirkan nasib keluarga kita ke depannya, oke, aku hargai keinginan itu. Tapi, aku juga butuh waktu ...."


"Kalian tahu Ricky itu dokter, dan orang tuanya juga punya perusahaan farmasi. Bagaimana jika nanti saat aku menjelaskan hal ini pada Ricky, dia justru malah ingin terlibat dan membantu? Mau ditaruh di mana harga diriku? Statusku dengan Ricky hanya sebatas pacar, apakah etis jika seseorang yang statusnya cuma itu meminta 2 miliar untuk menebusku? Semua itu hanya akan membuatnya terbebani! Hutang itu adalah aib, aku tidak mau jika orang lain sampai mengetahui hal ini ...."


"Tolong buka mata kalian, makanan yang kalian makan saat ini juga atas pemberian dari Ricky. Aku tak peduli alasan kalian memakannya, entah itu mubazir jika dibuang, atau bahkan karena makanan itu memang enak. Jadi aku mohon ... aku ini sudah bisa berpikir tentang jalan hidupku sendiri, meskipun hubunganku dengan Ricky harus berakhir, aku ingin mengakhirinya dengan baik-baik."


Setelah mendengar jawaban dari Nisa, mereka semua langsung terdiam. Bahkan makan malam yang biasanya harmonis berubah suasana menjadi tegang.


Nisa masih tak menyangka dirinya telah mengatakan semua itu di hadapan semua keluarganya. Membahas tentang masalah itu kini membuatnya kehilangan selera. Bahkan makanan yang dia sukai berubah jadi terasa hambar.


"Aku sudah selesai!" ucap Nisa dengan nada kasar sambil berjalan pergi dari ruang makan.


Setelah Nisa pergi, ibunya kini juga ikut terdiam dan merenungkan sesuatu.


Apa aku membuat putriku tertekan? Dia bahkan tidak menghabiskan makanannya dan langsung pergi begitu saja. Maafkan ibumu ini, Nisa. Ibu hanya khawatir padamu.


"Reihan, Dimas!"


"Ada apa ibu?" jawab mereka berdua secara bersamaan.


"Kalian percaya pada kakak kalian, kan?"


"...." Reihan dan Dimas terdiam sejenak.


"Kenapa ibu menanyakan hal seperti itu? Kita ini keluarga, jadi harus saling percaya. Ya kan, kak? Kak Rei?" tanya Dimas.


"Yah ... meskipun kak Nisa selalu menyiksa kita, tapi dia bisa diandalkan," jawab Reihan.


"Ya, ayah kalian benar. Toh ini bukan pilihan antara hidup dan mati," sahut ibu.


Jika saja wanita itu tahu apa yang akan terjadi di masa depan, maka dia tidak akan pernah mengucapkan kalimat yang mungkin akan dia sesali seumur hidup.


***


"Bangs*t!!" teriak Nisa yang merasa frustrasi.


Lagi-lagi saat ini gangguan kecemasan umum yang dia derita kambuh. Dengan tangannya yang gemetar, dia mencari obat antidepresan miliknya dan langsung menelan beberapa butir.


Dia duduk di pinggir ranjang, dan selang beberapa waktu kemudian pernapasannya kembali normal dan tangannya tak lagi gemetaran.


"Huh?" Nisa menoleh, dia melihat ponselnya yang berada di atas nakas dalam keadaan layar yang menyala. Dia langsung mengambil ponsel tersebut dan mengecek apakah ad sesuatu yang penting.


"Astaga, 37 panggilan tidak terjawab! Ricky mencoba meneleponku sejak tadi siang. Sayangnya tadi aku masih interview, jadinya aku nggak tahu."


"Sebaiknya aku minta maaf dan telepon dia sekarang." Nisa lalu mencoba untuk menelepon Ricky, selang 3 detik kemudian langsung diangkat.


"Halo Ricky," ucap Nisa dengan suara pelan.


"Halo palamu! Tadi aku cari di kampus nggak ada, di rumah juga nggak ada. Kamu ini kemana saja?!" Suara Ricky terdengar cukup keras meskipun tanpa mengaktifkan speaker, terlihat jelas bahwa dia sangat marah.


"Tadi aku ada keperluan di luar. Ada apa mencariku?"


"Memangnya salah kalau aku ingin ketemu pacar sendiri? Lain kali kalau mau pergi kemana-mana, bilang ke orang yang ada di rumah dulu. Jadi nggak seperti ini, nggak ada yang tahu kamu pergi kemana! Jangan diulang lagi!"


"Maaf, lain kali aku pasti bilang. Aku juga minta maaf karena baru sempat telepon balik, soalnya tadi aku silence."


"Ya sudah, lain kali jangan diulangi lagi! Kamu itu sekali-kali jangan buat orang khawatir bisa, kan?" tanya Ricky yang suaranya terdengar melembut.

__ADS_1


"Iya, nggak akan ada lain kali kok."


"Oh iya, ngomong-ngomong ... kamu sudah makan atau belum?"


"Sudah, aku makan makanan yang kamu kasih. Aku habis setengah bagian sendiri, soalnya terlalu enak. Terima kasih, honey."


"I-itu bukan apa-apa! Sudah ya Nisa, selamat malam, mimpi indah honey!"


"Iya, honey ...."


TUT TUT ...


Panggilan telepon berakhir, sontak saja tubuh Nisa terasa lemas. Dia menunduk, tanpa sadar ada tetesan air mata yang jatuh membasahi layar ponsel itu.


"Kenapa ... kenapa kamu harus sebaik ini Ricky? Bagaimana jika nanti kamu tahu dan aku menyakiti hatimu?"


Nisa mengusap air matanya, dia lalu mendongak dan menepuk kedua pipinya sendiri.


"Sial, jangan pesimis begini! Ingat kalau rencana awal telah berhasil, setidaknya masih ada harapan! Manfaatkan sisa waktu 5 hari ini untuk mengakhiri perjanjian itu!"


***


KRING KRING ...


Alarm yang dipasang oleh Nisa berbunyi. Secara reflek tangannya mematikan alarm itu.


"Hoam ... sudah pagi. Oh iya, hari ini kan hari pertama kerja! Ayo siap-siap, pokoknya nggak boleh telat!"


Nisa berusaha tampil selayaknya seorang wanita karir sebaik mungkin, dan tanpa sadar dia menghabiskan waktu yang cukup lama. Saat dia sadar kalau waktunya sudah mepet, dia langsung terburu-buru berangkat ke kantor.


Dia akhirnya sampai di depan ruangan miliknya sendiri. Kemudian dia melihat arloji di tangan kirinya.


"Hahh ... untunglah masih ada waktu seperempat jam. Semoga bos belum datang," gumamnya dengan napas terengah-engah.


Tiba-tiba datanglah seseorang yang tidak lain adalah Valen. "Nisa! Kamu sudah datang, ayo cepat! Aku kenalkan atasan kamu!"


"I-iya!"


Valen lalu mengajak Nisa untuk segera menuju ke ruangan CEO.


TOK TOK TOK!


"Permisi Pak, saya Valen!"


"Masuk!"


"Ayo Nisa, jangan gugup!"


"Iya!"


Semangat Nisa! Ayo berikan kesan pertama yang baik!


Mereka berdua segera masuk ke ruangan. Valen langsung mendekat dan berdiri di samping CEO tersebut.


"Pak, saya akan memperkenalkan sekretaris yang baru!"


"Lanjutkan," ucap CEO itu dengan ekspresi datar.


Valen langsung beralih menatap Nisa. "Sekretaris, perhatikan! Beliau adalah atasanmu, CEO HW Group, Tuan Keyran Kartawijaya!"


"...." Nisa melongo.


Wow, orang ini sangat menawan.

__ADS_1


__ADS_2