Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Belum Puas


__ADS_3

Benar saja, tak butuh waktu lama dan hanya dalam sekitar 15 menit Reihan sudah kembali dengan membawa seorang pacar. Nisa tersenyum karena rencananya berhasil, tapi di sisi lain Keyran yang menyaksikan hal itu tercengang karena tidak habis pikir dengan kemampuan Reihan dalam mencari pacar.


Sesuai dengan keinginan Nisa, gadis yang dibawa Reihan, katakan saja pacar dadakan, dia melakukan apa pun yang Reihan minta, yaitu membeli dessert milik Nisa serta menuliskan ulasan yang bagus tentang dessert itu.


Namun Reihan yang merupakan playboy akut stadium akhir yang sudah tak tertolong lagi merasa kurang puas, dia kurang puas hanya dengan mendapatkan seorang pacar baru. Dia berpura-pura mengantar pacar barunya pulang sampai depan dan membuat janji manis lainnya, namun setelahnya dia kembali lagi ke acara event tersebut untuk berburu pacar baru lagi. Sungguh perbuatan yang tidak terpuji.


Cara curang pertama berhasil, namun yang berlaku curang masih ada 1 orang lagi yang tidak lain adalah Keyran. Tak berselang lama kemudian, para karyawan bagian humas dari HW Group datang dengan penyamaran mereka masing-masing.


Mereka semua berusaha melakukan yang terbaik karena diawasi langsung oleh CEO mereka. Para karyawan yang menyamar itu melakukan akting dengan sangat baik ketika berpura-pura menyukai dessert milik Nisa. Mereka saling datang secara bergiliran agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Nisa merasa sangat senang karena tempatnya yang tadinya sepi sekarang telah menjadi ramai. Ada rasa puas tersendiri karena beranggapan ada banyak orang yang menyukai dessert buatannya, meskipun dia tidak tahu soal rencana Keyran yang menyuruh para karyawan nya.


Tak butuh waktu lama akhirnya dessert milik Nisa telah habis. Senyum ceria jelas terukir di wajahnya. "Akhirnya habis juga, sekarang aku ada harapan untuk menang!"


"Baguslah, aku ikut senang." ucap Keyran dengan senyuman. Dia yang sedari tadi hanya diam dan melihat lalu mendekat ke arah istrinya itu.


"Apa kau tidak bosan dari tadi hanya diam saja dan melihatku?"


"Aku tak pernah bosan jika melihat wanita cantik dan manis seperti istriku ini~" ucap Keyran sambil membersihkan setitik butter cream yang menempel di pipi Nisa.


"Dasar gombal!" teriak Nisa dengan kedua pipi yang merona. "Ah, hampir saja lupa! Aku masih harus merapikan tempat ini!"


"Mau aku bantu?"


"Seorang CEO terpandang bersih-bersih di tempat umum. Haha, apa itu tidak akan melukai harga dirimu?" tanya Nisa dengan senyum meremehkan.


"Membantu istri bersih-bersih tidak akan melukai harga diriku."


Sekali lagi pipi Nisa merona, dia lalu membuang muka sambil berteriak, "Ya sudah, kalau mau bantu maka cepat bantu!"


"Hehe, kau tersipu ya?"


"Matamu sebelah mana yang melihatku tersipu?!"


"Aku melihatnya dengan kedua mataku."


"Ck, berhenti menggodaku! Kau jadi membantu atau tidak?!"


"Tentu saja jadi."


Keyran lalu membantu Nisa beres-beres meskipun kadang kala dia masih usil untuk menggoda istrinya itu. Karena pekerjaan dilakukan oleh dua orang maka tak butuh waktu lama tempat itu sudah bersih.


"Akhirnya beres, terima kasih sudah membantu!" ucap Nisa dengan senyuman.


"Iya, bukan hal besar. Oh iya Nisa, di mana Reihan?"


"Untuk apa kau mencarinya?" tanya Nisa dengan ekspresi seakan tidak peduli.


"Tidak ada alasan khusus, hanya heran saja dia tiba-tiba menghilang."


"Oh, paling dia bersenang-senang dengan pacarnya di tempat lain. Harus aku akui kalau gadis yang dia pilih terakhir kali memang cukup cantik. Kau tidak usah heran, dia memang begitu."


"Tapi apa kau tidak pernah mencoba menasihati adikmu itu? Jadi playboy sampai setingkat gonta-ganti pacar dalam hitungan menit itu tidak bagus."


"Ck, aku sudah muak bilang padanya. Lagi pula dia sepertinya belum menemukan orang yang cocok, aku yakin kalau dia menemukan orang yang cocok maka dengan sendirinya dia akan berubah. Asal dia tidak melewati batas, seperti menghamili anak orang di luar nikah maka akan tetap aku biarkan."


Keyran lalu menghela napas. "Huft ... Setelah ini kau mau apa? Mau pulang?"


"Sembarangan! Aku masih harus menunggu pengumuman pemenang saat event resmi berakhir."


"Bukannya kau sudah dipastikan menang? Dessert mu yang paling pertama habis dibanding yang lain."


"Bukan cuma aspek itu yang dinilai, tapi ada tiga. Pertama memang itu, kedua ulasan dari para pelanggan, dan yang terakhir penilaian juri itu sendiri. Juri yang menilai juga bukan orang sembarangan, tapi chef pastry terkenal yang kemampuannya sudah tidak diragukan lagi. Dessert yang dinilaikan kepada juri sudah aku serahkan di awal event dimulai saat Lucas masih ada di sini."


"Oh, begitu."


Ternyata masih harus melewati penilaian juri. Nisa sangat ingin menang dan aku tak mau dia sedih ataupun kecewa, apa aku suap saja jurinya?


"Key, apa kau mau ikut denganku?"


"Eh, apa?! Ikut ke mana?" Keyran terkesiap.


"Berkeliling, aku tak mau hanya diam dan menunggu saja sampai event ini berakhir, itu sangat membosankan. Jadi aku mau berkeliling, aku akan mencoba dessert milik peserta lain. Siapa tahu punya mereka lebih enak dibanding punyaku, dan mungkin saja mereka mau berbagi resep, jadi aku bisa sekalian belajar. Kau mau menemaniku, kan?"


"Emm ... bagaimana jika kau lakukan sendiri?" Keyran tersenyum canggung.


"Cih, tadi katanya kau ini pria romantis. Tapi nyatanya sekarang aku minta menemaniku saja kau tidak mau." ucap Nisa dengan ekspresi cemberut.


"Aku hanya bercanda ..." Keyran lalu menjewer kedua pipi Nisa. "Ututu ... berhenti memasang wajah seperti ini, kalau seperti ini cantikmu bisa berkurang loh."


Nisa menyingkirkan tangan Keyran dari pipinya, dia Lalu mengusap-usap kedua pipinya yang sedikit terasa sakit itu. "Humph! Kalau begitu ayo, tapi awas saja nanti kalau kau mengacau!"


"Haha, tidak akan. Aku kan suami yang penurut."


Sudahlah, aku lebih memilih menemaniku istriku dan membuatnya bahagia dengan cara nyata, ketimbang menyuap juri dan memberikannya kemenangan palsu.


Keyran lalu menurut untuk mengikuti ke mana pun Nisa mengajaknya. Nisa menargetkan yang pertama kali dia datangi mulai dari yang paling ujung. Dia ingin mencoba beberapa kue yang menurutnya menarik. Dan ketika Nisa menemukan dessert yang sangat enak, dia tak ragu untuk menanyakan apa resepnya dengan alasan ingin belajar.


Tentu saja cuma orang bodoh yang mau membocorkan resep. Namun lebih bodoh lagi jika dia melawan Keyran secara terang-terangan. Setiap kali Nisa menanyakan resep, pasti koki yang ditanyai merasa gugup lantaran bingung harus menjawab apa. Namun pada akhirnya mereka tetap memberitahu resep tersebut kepada Nisa karena merasa tertekan dengan keberadaan Keyran.


Nisa mendapatkan apa yang dia mau, dia juga telah menyiapkan buku catatan kecil untuk menulis resep tersebut. Ya, semuanya berjalan seperti yang Nisa inginkan, asal kau punya suami yang memiliki kekuasaan dan dia mencintaimu maka semua akan berjalan mudah untukmu.


Sekitar 1 jam kemudian panitia acara Event Dessert Week telah memberikan pengumuman bahwa acara telah usai, penilaian dari juri dan pemenang event ini telah ditentukan. Para pengunjung masih tetap diperbolehkan menonton, namun hanya sedikit pengunjung yang memilih untuk masih menetap di sana.

__ADS_1


Nisa yang menyadari hal itu langsung mengajak Keyran untuk kembali ke tempatnya yang semula. Mereka sama-sama menanti pengumuman.


"Apa kau gugup?" tanya Keyran.


"Haha, sedikit." jawab Nisa sambil memegang dadanya yang berdegup kencang.


Keyran lalu mengulurkan tangan. "Pegang tanganku!"


"Hm?" Nisa lalu menggenggam tangan suaminya itu. "Darling, apa menurutmu aku akan menang?"


"Pasti, aku yakin itu!" jawab Keyran tanpa ragu.


"Berapa persen kau yakin?"


"100 persen yakin!"


"Benarkah? Padahal tadi saat kita berkeliling ada banyak dessert milik orang lain yang lebih enak dibanding punyaku. Bahkan saking enaknya aku sampai memborong choco lava cake buatan peserta nomor 42. Harus aku akui kalau cake itu enak sekali, aku ingin memakannya lagi saat tiba di rumah nanti."


"Hei, kau yakinlah pada dirimu sendiri! Dessert mu yang paling pertama habis, peluangmu untuk menang sangat tinggi!"


"Haha, mungkin kau benar. Aku akan berhenti pesimis."


"Nah, begitu baru benar."


Tiba-tiba saja suara panitia acara terdengar keras di seluruh penjuru ruangan. "Tes! Tes! Mohon perhatian! Kita sudah berada di penghujung acara, dan tibalah saatnya pengumuman pemenang Event Dessert Week ini! Pengumuman pemenang akan disampaikan oleh juri secara langsung!"


"Juri misterius yang memberikan penilaian adalah seorang chef yang telah mendirikan toko roti Mr. J Bakery, pria memesona asal Paris, Prancis! Pemilik julukan The King of Pastry, mari kita sambut ... Chef Juned!"


PROK PROK PROK!!


Suara tepuk tangan yang meriah langsung menggema menyambut kehadiran chef terkenal tersebut. Juned sebutannya, pria berpostur tinggi itu lalu menerima mic dari panitia dan memulai mengucapkan kata sambutannya.


"Selamat sore yo! Pertama-tama yo! Saya mengucap banyak terima kasih yo! Karena sudah diberikan kesempatan untuk menjadi juri di acara event ini yo!"


"Hah?! Dia kenapa bicaranya begitu?" tanya Keyran terheran-heran. Hanya dia seorang yang merasa heran, sedangkan orang lain tampak biasa saja.


"Dia memang begitu, sudah jadi ciri khas setiap kali dia bicara dia selalu mengakhirinya dengan kata YO! Juned cuma nama panggungnya, nama aslinya Johny. Memang kelihatan lucu, tapi entahlah, mungkin dia les bahasa di tempat yang salah." Nisa terkekeh.


"Benarkah? Apa dalam acara formal sekali pun dia tetap menggunakan logat bicara seperti itu?"


"Iya, dia bahkan punya acara memasaknya sendiri. Masukkan gula halus yo! Campur tepung dan susu cair yo! Haha, setiap kali aku menonton acaranya aku selalu terhibur. Dia juga memiliki bayak penggemar."


"Kenapa bisa banyak orang yang suka?"


"Karena resepnya selalu berhasil, dan mungkin saja orang-orang juga terkesima dengan penampilannya. Secara dia itu pria matang, bule bermata biru, gagah, tampan, tegas, terlebih lagi dia duda, sungguh tipe hot daddy. Penggemarnya kebanyakan perempuan, bahkan ibuku sendiri adalah fans beratnya. Tapi sekarang setelah aku melihatnya secara langsung, ternyata dia memang punya pesona tersendiri. Mungkin nanti aku coba berfoto dengannya, lalu aku tunjukkan ke ibuku agar dia iri."


"Jadi kau juga terpesona olehnya?" tanya Keyran dengan tatapan sinis.


"Eh," Nisa tersenyum canggung lalu merangkul tubuh Keyran. "Haha, bukan begitu darling ... tidak akan ada yang bisa mengalahkan pesonamu~"


Ciri khas dari novel ini kan isinya memang orang-orang aneh semua, mwhehe. Baiklah, mari kita tinggalkan Keyran yang lagi-lagi cemburu tidak jelas kepada seorang juri yang tadinya mau dia suap.


Kata sambutan dari Chef Juned telah berakhir, dia kemudian bersiap untuk membacakan hasil penilaian dan mengumumkan siapa pemenang event ini.


"Maaf membuat menunggu yo! Tanpa basa-basi lagi yo! Bersiaplah yo! Karena saya akan membacakan daftar pemenang yo!" ucap Juned dengan semangat menggebu-gebu.


"Sesuai bilangan angka matematika yang baku yo! Maka saya akan bacakan dari urutan pertama yo! Juara pertama, peserta atas nama Darren yang mewakili Constant Bakery yo! Dessert creme brulee yang disajikan bisa dibilang sempurna yo! Rasanya seperti mencicipi dessert langsung dari tangan koki Prancis yang asli yo!"


Peserta yang dinyatakan menang tentu saja kegirangan, tepuk tangan dari peserta lain pun juga menggema. Bahkan Nisa sendiri juga memberikan tepuk tangan meskipun kecewa.


"Ternyata bukan aku," gumamnya dengan surat pelan namun Keyran masih dapat mendengarnya.


"Hei, masih ada juara kedua dan ketiga! Kau jangan terlalu pesimis!"


"Haha, iya ..." ucap Nisa sambil mengangguk.


"..." sejenak Keyran tertegun, namun tiba-tiba saja dia menatap sinis ke arah panitia yang sedang berbaris di sebelah Chef Juned. Meskipun dia menatap sinis, tapi tetap tidak ada yang menyadarinya.


Awas kalian semua, aku akan buat perhitungan dengan kalian jika istriku tidak menang.


"Kita lanjutkan juara kedua yo! Peserta atas nama Camelia, mewakili toko Pie Perfection yo! Coconut Cream Pie yang disajikan sangat inovatif yo!"


Tepuk tangan yang meriah kembali terdengar, namun ekspresi wajah Nisa semakin suram.


"Sekarang waktunya mengumumkan juara ketiga yo! Juara ketiga ..." Juned mengernyit sesaat ketika menatap teks yang dia bawa. "Sangat mengejutkan yo! Juara ketiga adalah peserta mandiri yo! Tidak mewakili toko roti yo! Peserta atas nama Nisa dan Lucas yo! Dessert paling cepat habis dan dengan ulasan baik paling banyak yo! Dessert souffle cokelat nya cukup menarik yo! Tampilannya oke dan rasanya juga lumayan yo!"


"Setelah ini jangan terburu-buru pergi dulu yo! Akan ada sesi berfoto bersama yo! Untuk penyerahan sertifikat keikutsertaan dan sertifikat khusus pemenang juga akan segera dilaksanakan yo! Sekian dari saya, terima kasih banyak yo!"


Juned undur diri dan tepuk tangan kembali menggema di seluruh ruangan. Nisa yang awalnya berekspresi suram sekarang bisa tersenyum ceria, dia sangat bahagia dan secara spontan langsung memeluk Keyran yang berada


"Apa kau dengar itu, Key?! Aku menang!"


"Iya, aku dengar itu. Aku juga ikut senang, selamat untukmu karena sudah bekerja keras."


"Haha, tentu saja karena kerja kerasku!" ucap Nisa penuh semangat, dia sudah lupa kalau dia berbuat curang.


"Apa kau sudah puas dengan juara tiga?"


"Belum puas! Tahun depan akan aku coba lagi!"


"Bagus, itu baru istriku."


Nisa melepaskan pelukannya dari Keyran. Dia lalu merapikan rambutnya dan juga topi koki yang masih terpasang di kepalanya. "Bagaimana? Apa aku sudah cukup rapi untuk sesi berfoto?"

__ADS_1


"Sudah! Tapi ngomong-ngomong ... dessert yang kau nilaikan itu souffle cokelat?"


"Iya, memang apa salahnya?"


Seketika ekspresi Keyran berubah dingin. "Tadi kau bilang kalau kau membuat souffle cokelat dengan sepenuh hati hanya khusus untukku. Aku tidak habis pikir kalau kau berbohong."


"Ahaha ... aku tidak bohong. Kue itu memang khusus untukmu, yang aku nilaikan adalah kue buatan Lucas, karena kue buatanku tidak seenak buatannya." Nisa lalu memalingkan pandangannya. "Ehmm ... aku tinggal sebentar! Aku harus segera berfoto dan mengambil sertifikatku!"


Tanpa basa-basi lagi Nisa langsung berlari meninggalkan Keyran. Namun ternyata sesi berfoto dan penyerahan sertifikat berlangsung cukup lama. Saat Nisa kembali ke tempat semula, dia terkejut karena Keyran sudah tidak ada.


Nisa yang kini sendirian sekarang celingak-celinguk seperti orang hilang. Dia lalu bergumam, "Apa Keyran marah lalu meninggalkanku? Padahal tadi aku benar-benar bicara yang sebenarnya."


Nisa menghela napas lalu duduk di sebuah kursi yang ada di sekitar sana. Karena acara telah usai, banyak dari peserta yang sudah pulang. Bahkan panitia acara juga sudah terlihat membereskan tempat. Sudah setengah jam


Salah satu pegawai perempuan yang mengurus gedung tersebut menyadari kehadiran Nisa. Dia kemudian mendekatinya dan dengan sopan berkata, "Nyonya masih di sini?"


"Siapa kau? Kenapa memanggilku Nyonya?" tanya Nisa kebingungan.


"Ah, maaf saya lupa memperkenalkan diri. Saya adalah salah satu staff yang bertugas untuk mengurus gedung aula ini. Acara sudah selesai dari tadi, sedangkan Nyonya masih berada di sini dan terlihat seperti kebingungan. Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Apa kau melihat suamiku?"


"Saya terakhir kali melihat beliau sekitar ... sepertinya saat masih sesi berfoto tadi. Saya melihat Tuan berjalan keluar dari gedung."


"Oh, begitu ya. Kau boleh pergi!"


"Baik, Nyonya." staff itu pun pergi meninggalkan Nisa dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Nisa yang merasa kesal kemudian beranjak dari kursi lalu buru-buru berjalan keluar dari gedung sambil bergumam, "Sialan! Bisa-bisanya meninggalkan istrimu sendirian di sini tanpa bilang apa pun!"


Setelah berada di luar area gedung, Nisa langsung berjalan di trotoar dan berniat untuk pulang. Lalu lintas di jalan raya terlihat sangat padat karena bersamaan dengan jam pulang kerja. Hari semakin sore, namun beberapa kali Nisa mencoba memberhentikan taksi ternyata taksinya sudah berpenumpang.


"Arghhh! Sial! Jarak rumah dari sini masih jauh! Mau pesan taksi online tapi baterai ponselku habis."


Harusnya tadi aku minta staff yang di aula itu untuk mengantarku pulang, harusnya aku tidak menuruti gengsiku yang tak mau dianggap diabaikan oleh suami sendiri. Tapi Keyran juga benar-benar keterlaluan, awas saja saat aku sampai rumah nanti. Aku akan berteriak dan memotong jatahnya untuk seminggu!


Nisa sangat kelelahan dan mulai berjalan dengan lebih pelan. Dia sama sekali belum istirahat sejak pagi, pagi-pagi sekali dia sudah harus menyiapkan dessert, lalu mengikuti event sampai sore. Memang tidak sia-sia karena dia menang, tapi dia sangat kelelahan.


Hari pun semakin gelap, tetapi Nisa masih berada di trotoar sambil memegangi sertifikatnya di dadanya. Ekspresinya sangat mirip seperti seseorang yang gagal melamar pekerjaan. Namun tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang membunyikan klakson dengan keras tepat di sebelahnya.


TIIIINNNN!


"Ck, memangnya jalan ini punya nenekmu?!" teriak Nisa penuh kekesalan. Namun sesaat setelahnya ekspresinya mendadak berubah karena menyadari mobil milik siapa yang barusan membunyikan klakson.


Mobil yang melaju pelan itu mendadak berhenti, lalu sang pemilik mobil menurunkan kaca jendela dan tampaklah Keyran yang berada di dalam sana. "Apa yang kau lakukan di sini?! Kau kurang kerjaan hah?! Cepat naik!"


Tanpa berkata sepatah kata pun Nisa langsung naik ke mobil, dia lalu meletakkan sertifikat yang sedari tadi dia bawa di dashboard mobil. Dia juga melepas topi koki nya lalu mencengkeram erat topi itu di pangkuannya.


"Kau ini kenapa?" tanya Keyran.


"Huh, untuk apa kau bertanya? Kau sendiri yang meninggalkan aku sendirian di sana! Berjalan jauh itu sangat melelahkan tahu!"


"Hei, aku sejak tadi mencari-carimu! Dan siapa juga yang meninggalkanmu? Sejak tadi aku menunggumu di mobil! Aku menunggumu sampai 1 jam lebih! Tapi saat aku memeriksa ke dalam kau tidak ada, staff di sana bilang kau sudah pulang! Apa kau tidak membaca pesan yang aku kirim di ponselmu?!"


"Baterai nya habis!"


"Astaga, pantas saja aku tidak bisa meneleponmu!"


"Huh, pokoknya ini salahmu! Untuk apa kau menungguku di mobil? Aku menunggumu selama setengah jam di sana, tapi kau tidak ada! Staff di sana bilang kalau kau sudah pergi meninggalkan gedung! Aku kira kau marah padaku, untuk menjaga harga diriku aku memilih jalan kaki! Aku juga tidak dapat taksi, semuanya penuh! Kakiku sakit, aku lelah Key! Aku lelah!"


"Padahal kau bisa menungguku di sana sampai sesi berfoto selesai, tapi untuk apa kau menungguku di mobil?! Aku bahkan tak tahu kau memarkirkan mobilmu di sebelah mana! Pokoknya ini salahmu!"


Keyran menghela napas panjang, dia mengambil bebera lembar tisu lalu mengelap keringat yang ada di dahi dan pelipis Nisa. "Iya, salahkan saja aku. Maaf ... apa kakimu masih sakit?"


"Sudah mendingan!" jawab Nisa sambil memalingkan muka.


"Jangan marah, untuk menebus kesalahanku bagaimana jika kita makan malam di luar?"


"Apa?" Nisa menggertakkan giginya lalu tiba-tiba menyabet Keyran dengan topi koki miliknya. "Kau bodoh! Pakaianku saja masih seperti ini, bisa-bisanya kau mengajakku makan malam di restoran! Aku bisa dikira koki yang tersesat! Kau sengaja mau mempermalukan aku ya!"


"Aku bisa menyewa seluruh restoran, jadi tidak akan ada yang mengira kau koki tersesat!"


"Pokoknya tidak!" Nisa berhenti menyabet Keyran lalu malah kembali membuang muka. "Aku lelah, ayo pulang!'"


"Hahh ... jangan begini Nisa, katakan apa yang kau mau." ucap Keyran yang mulai pusing dengan kelakuan istrinya.


"Pulang!"


"Baik, kita pulang." Keyran lalu menancap gas, baru beberapa saat mobil berjalan tiba-tiba dia kembali berkata. "Tadi kau bilang kakimu sakit? Mau aku rawat?"


"Memangnya kau bisa?"


"Tentu saja bisa, nanti akan aku pijat kakimu."


"Huh, bukan cuma kakiku yang sakit! Seluruh badanku rasanya mau remuk!"


"Iya-iya, nanti akan aku pijat semuanya."


"Baiklah, kalau begitu kau dimaafkan."


"Tapi pijat plus-plus!"


"K-kau!!" Nisa ternganga.

__ADS_1


"Hehe ..."


__ADS_2