Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Orang Suruhan


__ADS_3

TING!


Pintu lift terbuka, seseorang yang masih berpakaian seragam sekolah melangkah keluar dari lift. Orang itu tidak lain adalah Reihan, saat ini dia melangkah dengan langkah riang di lorong rumah sakit menuju ke kamar rawat kakaknya sambil membawa sebuah kotak.


"Katanya magnesium itu bagus untuk orang habis keguguran, jadi aku bawakan cokelat buat kakak!" gumamnya.


Hehe, enak juga bisa bolos dengan alasan ada keluarga yang sakit.


Begitu Reihan tiba di depan pintu kamar rawat Nisa, dia memegang gagang pintu lalu menyadari bahwa pintu tersebut tidak terkunci. Reihan dengan santai langsung masuk begitu saja.


"Ratu iblis~ eh, maksudku Kak Nisa~ Adikmu yang paling tampan ini bawa cokelat untukmu~"


PRAANGG!!


Sebuah vas bunga keramik melayang ke arah Reihan, vas bunga tersebut menghantam dinding yang hanya berjarak kurang dari 30 cm dari kepala Reihan.


"K-kak ...??" Reihan terkesiap, detak jantungnya berdegup kencang, dia masih tak percaya dengan apa yang barusan kakaknya lakukan. Manik matanya melirik ke samping, melihat vas bunga yang telah pecah itu.


"Keluar kau sekarang!!" Nisa berteriak histeris.


"Kak Nisa tenanglah ... Kakak kenapa marah?" ucap Reihan yang berusaha menenangkan amarah Nisa.


"Tenang katamu?! Kau pikir dengan aku tenang maka bayiku akan kembali?! Kau bajing*n kecil! Kau juga menyembunyikan soal keguguranku dariku! Kau sekongkol dengan yang lain! Kalian semua bajing*n! Aku benci kalian!!"


Nisa lalu mengambil sebuah bantal yang ada di ranjang lalu melemparkannya ke arah Reihan dengan keras. "Pergi!! Sedetik saja kau masih di sini aku takkan ragu untuk membunuhmu!"


Reihan langsung keluar dan menutup pintu rapat-rapat, dia tak punya pilihan lain selain melakukan itu. Reihan yang saat ini berada di luar sangat gugup, apalagi saat dirinya mendengar teriakan Nisa yang terdengar begitu marah.


"Gawat, bagaimana Kak Nisa bisa tahu? Ck, lupakan! Sekarang aku harus panggil kakak ipar!"


Reihan langsung berlari secepat mungkin di lorong, ketika dia berpapasan dengan seorang perawat, perawat tersebut memperingati Reihan agar jangan berlari. "Hei! Tidak boleh sembarangan berlari!"


"Ah maaf, aku buru-buru!" Reihan melewati perawat itu, namun sekitar tiga langkah kemudian dia pun berbalik menghampiri perawat itu.


Perawat tersebut kebingungan, karena Reihan tiba-tiba menyerahkan sebuah kotak kepadanya. "Apa ini?"


"Suster, ini cokelat untukmu! Jangan baper, oke? Sekarang aku nggak ada niatan buat nambah pacar!" Seketika Reihan kembali berlari.


"H-heii! Cokelat dalam rangka apa?" tanya perawat itu.


"Makanan manis untuk orang yang manis!" jawab Reihan dari kejauhan yang membuat wajah perawat tersebut merona.


Reihan menuju ke sebuah tempat, yang tidak lain adalah taman rumah sakit. Dia tahu bahwa Keyran berada di sana karena sebelum berangkat ke rumah sakit, dirinya sudah mengabari Keyran lewat telepon.


Keyran yang sudah diberitahu oleh Reihan bahwa Nisa menggila langsung buru-buru menuju ke kamar rawat istrinya. Sesampainya Keyran di sana, dari luar dia sudah bisa mendengar suara rintihan kesedihan yang keluar dari mulut Nisa. Keyran tak tahan lagi untuk segera masuk, namun tepat sesaat sebelum dia memegang gagang pintu, tangannya tiba-tiba ditahan oleh Reihan.


"Lepas!" pinta Keyran dengan tatapan dingin.


"Jangan, Kak Nisa akan jauh lebih menggila lagi jika kakak ipar masuk. Melihatku saja dia sudah ingin membunuhku. Dia sangat marah karena semua orang merahasiakan soal kegugurannya." Reihan kemudian melepaskan tangannya dari Keyran. "Saat ini Kak Nisa hanya ingin sendiri."


"Hahh ..." Keyran menghela napas, raut mukanya tampak sangat kesal.


Mendadak seseorang datang dengan terburu-buru, orang itu tidak lain adalah Ricky. Begitu sampai di sana, dia langsung mendapatkan sambutan tidak ramah dari Keyran. Keyran mencengkeram kerah baju Ricky serta mengguncangkan tubuhnya.


"Bagaimana cara kerjamu hah?! Sekarang semuanya berantakan! Nisa sudah mengetahuinya!" teriak Keyran penuh kemarahan.


"Dengarkan penjelasanku dulu," pinta Ricky yang malah mendapatkan respons buruk dari Keyran, Keyran semakin mencengkeram erat.


"Apa yang harus aku dengarkan?! Penjelasanmu tak akan merubah fakta bahwa Nisa sudah mengetahuinya! Kerjamu saja tidak becus, aku heran kau bisa jadi ketua Asosiasi Kedokteran." Keyran lalu melepaskan cengkeraman tangannya dan mendorong tubuh Ricky hingga dia melangkah mundur ke belakangan.


"Aku sudah melakukannya semampuku! Aku juga sudah memberitahu ke semua staf rumah sakit! Aku baru saja selesai menangani operasi pembedahan, lalu aku dapat kabar kalau Nisa menggila. Aku juga sudah menyuruh staf keamanan untuk mengecek semua CCTV. Siapa yang memberitahu Nisa, akan diketahui sebentar lagi. Tapi bagaimana bisa pelaku itu melakukannya dengan mudah? Apa kau meninggalkan Nisa sendirian di kamarnya?!" tanya Ricky dengan nada tinggi.


"..." Keyran membisu dan kemudian berdecak kesal. "Harusnya aku tak keluar. Kali ini kita sama-sama lengah. Mulut orang sialan mana yang membocorkan hal ini?"


Sejenak Keyran dan Ricky terdiam, kemudian mereka dengan kompak menatap ke arah Reihan.


"Wah wah ... kalian berdua keterlaluan, bisa-bisanya mencurigaiku. Aku hampir mati gara-gara dilempari vas bunga oleh Kak Nisa." ucap Reihan sambil tersenyum sinis.

__ADS_1


"Bukan begitu, tapi apa kau melihat seseorang yang baru saja keluar dari kamar Nisa saat kau datang?" tanya Ricky.


"Nggak ada tuh, pokoknya saat aku masuk semuanya sudah berantakan. Kalau aku yang bilang berarti aku cari mati. Terus sekarang bagaimana? Kalau kita masuk bisa-bisa nanti Kak Nisa marah lagi."


"Ikut aku!" pinta Ricky yang kemudian berjalan diikuti oleh Keyran dan Reihan.


"Ke mana?" tanya Reihan.


"Ke ruang kontrol, selain mencari tahu pelaku kita juga harus terus mengawasi Nisa agar dia jangan sampai berbuat nekat."


Setibanya mereka bertiga di ruang kontrol, seorang operator CCTV memberi tahu Ricky bahwa siapa pelaku yang dicari-cari sudah teridentifikasi. Ricky tanpa ragu langsung meminta staf lain untuk menangkap seorang perawat tersebut, dan bila sudah tertangkap dia meminta untuk membawanya ke ruangan kerjanya untuk melakukan interogasi.


Sebelum meninggalkan ruang kontrol, Ricky juga menyuruh staf operator CCTV untuk terus memantau Nisa, dan Ricky meminta mereka agar segera mengabarinya apabila Nisa melakukan tindakan aneh apa pun.


Ricky lalu mengajak Keyran untuk pergi ke ruangan kerjanya, sedangkan Reihan tetap ikut meskipun tidak diajak. Mereka tak menunggu lama, staf rumah sakit dengan cepat dapat mengamankan perawat tersebut.


Mereka membawa perawat tersebut dalam keadaan tangannya yang diborgol kabel ties, lalu staf keamanan juga memaksa perawat itu untuk duduk di sebuah kursi yang sudah disiapkan. Perawat itu gugup sekaligus bingung karena diperlakukan seperti seorang penjahat.


"Kalian bisa keluar!" pinta Ricky yang membuat 2 orang staf keamanan keluar dari ruangannya.


"S-saya salah apa, Pak?" tanya perawat itu ketakutan.


"Kau masih tak tahu apa kesalahanmu hah?!" Keyran mengangkat tangannya seperti ingin menampar perawat itu, perawat itu memejamkan matanya karena ketakutan yang membuat Keyran menarik tangannya kembali.


"Sabar kakak ipar," ucap Reihan sambil menepuk bahu Keyran.


Perawat itu membuka mata, dia melihat ketiga pria yang menatapnya dengan tatapan sinis. Ditatap oleh 3 pria tampan tak selamanya adalah hal indah. Apalagi dia tahu betul bahwa dirinya sedang berhadapan dengan orang yang berstatus tidak sembarangan. Tekanan dari ketua Asosiasi Kedokteran dan CEO ternama seakan-akan membuatnya susah bernapas.


"Jadi kau perawat yang mengantarkan makanan dan memberitahu pasien kamar VVIP bahwa dia keguguran?" tanya Ricky.


Perawat tersebut mengangguk pelan.


Ricky menepuk jidat. "Heh, betapa bodohnya kau. Kamar VVIP itu yang menempati pasti bukan orang yang bisa kau singgung dengan mudah! Aku sudah memperingatkan ke semua staf, tapi cuma kau yang melanggar! Sebenarnya kenapa kau sengaja melakukannya hah?!"


"S-saya disuruh ..." jawab perawat itu sambil menunduk.


"Siapa yang menyuruhmu?!" tanya Keyran seakan tidak sabar.


"Mana ponselmu!" bentak Keyran.


"D-di saku ... S-saya tidak bisa mengambilnya sendiri ..."


Sejenak Keyran dan Ricky saling menatap, kemudian mereka dengan kompak menatap Reihan.


"Aku ...??" tanya Reihan seakan tidak percaya.


"Ehem! Tanganku steril." ucap Ricky.


"Aku tidak menyentuh wanita lain selain istriku." ucap Keyran.


"Haiss ..." Reihan lalu mendekati perawat tersebut dan perlahan merogoh saku bawah kemejanya untuk mengambil ponsel. "Awas ya, jangan baper! Eh, kok nggak ada?"


"B-bukan di sana, di satunya lagi." ucap perawat dengan suara lirih.


"Ohh," Reihan dengan cepat merogoh saku yang lain, setelah mendapatkan ponsel tersebut dia langsung memberikannya kepada Keyran.


"Berapa nomor sandinya?" tanya Keyran.


"2803," jawabnya lagi.


"Pola yang aneh," gumam Keyran yang bisa didengar semua orang.


"Tidak aneh kok! Itu tanggal ulang tahunnya dokter Ricky! Eh, m-maaf! Lupakan yang barusan saya katakan!" Perawat itu salah tingkah saat Ricky menatapnya dengan tatapan aneh. "Saya bukan penguntit atau semacamnya! S-saya cuma pengagum, banyak kok perawat lain yang juga mengagumi dokter!"


Ricky berdecak kesal lalu menoleh ke samping, dia melihat Reihan yang sedang meringis dan Keyran yang menatapnya dengan tatapan meremehkan.


"Hoho~ sepertinya tadi yang merogoh saku harusnya bukan aku~" ejek Reihan.

__ADS_1


"Nah, bukalah matamu! Banyak gadis yang mengagumimu, jadi berhentilah mengejar istriku." ucap Keyran penuh penekanan.


Ricky membisu, dia semakin menatap perawat itu dengan tatapan tidak suka. Di sisi lain Keyran mengecek ponsel dan menemukan pesan dari nomor tak dikenal yang belum dihapus. Keyran mengernyit, lalu mencoba untuk menelepon sang pemilik nomor tersebut.


Keyran mencoba menelepon tetapi hasilnya nomor tersebut sudah tidak aktif. Kemudian dia berkata, "Berapa dia membayarmu?"


"50 juta," jawabnya dengan gugup.


"Wah ... itu bukan jumlah yang sedikit," ucap Reihan.


"Ck, ponselmu aku sita!" bentak Keyran.


Sepertinya orang di balik ini punya dendam terhadapku, lalu membalasnya dengan sengaja menyakiti Nisa. Nomor ini nomor dalam negeri, terlebih lagi yang baru tahu soal keguguran Nisa cuma pihak keluarga. Sial, aku curiga pada seseorang. Nanti aku akan melabraknya!


"Hei kak perawat, idolamu dokter perfect tampan nan elegan sudah melarangmu. Apa dengan uang 50 juta itu cukup untuk menggoyahkan keyakinan cintamu?" tanya Reihan.


"Jangan sembarangan bicara!!" bentak Ricky seakan tidak terima.


"Emm ... keluarga saya sedang dalam kesulitan, saya mempunyai 3 adik, ibu saya meninggal 2 minggu yang lalu. Di keluarga saya cuma saya yang mencari nafkah, saya harus membiayai adik-adik saya kuliah dan sekolah, ditambah saya juga harus memperkerjakan pengasuh untuk adik kecil saya yang baru berusia 8 bulan. Saya melakukannya karena terpaksa oleh keadaan ..."


Ricky lalu mencengkeram rahang perawat itu dengan kasar. "Lantas jika keadaanmu tidak baik apakah kau harus melukai orang lain?! Apa kau tahu yang kau lakukan hah?! Kau membuat seseorang jatuh dalam depresi, yang bahkan dia bisa saja mengakhiri hidupnya sendiri!"


Ricky melepaskan cengkeraman tangannya lalu menatap sinis. "Jangan harap aku akan mentolerir kesalahanmu!"


"Sabar mantan kakak ipar ..." Reihan lalu kembali menatap perawat itu. "Apa uang 50 juta sudah masuk ke rekeningmu? Dia cuma menyuruhmu melakukan itu saja atau ada yang lain?"


"Sebelum saya melakukannya, saya sudah diberi uang muka senilai 5 juta. Lalu orang tersebut meminta saya melakukan 1 hal lagi dan akan menambahkan 20 juta. Saya diminta mengekspos berita di jejaring sosial mengenai menantu keluarga Kartawijaya bilamana telah keguguran ..."


"Sialan! Apa kau tahu masalah besar yang kau perbuat?!" bentak Keyran yang membuat perawat itu menunduk dan tubuhnya gemetar ketakutan.


"M-maafkan saya ..."


"Sial, semua di luar kendali sekarang! Pihak pers sekarang juga terlibat, takutnya sekarang di tempat parkir sudah ada reporter yang siap meliput dan meminta klarifikasi. Apa lagi yang kau lakukan selain itu?!"


Perawat itu menggeleng secepat mungkin menjawab pertanyaan Keyran.


Ricky mendekat ke meja kerjanya lalu mengambil sebuah gunting, dia menggunting kabel ties yang menahan tangan perawat tersebut.


"Setelah ini pergi ke bagian HRD! Kau diberhentikan!" ucap Ricky penuh penekanan.


"T-tolong beri saya kesempatan sekali lagi!" pinta Perawat itu yang binar matanya terlihat seperti akan menangis.


"Kau sudah melanggar perintah atasan dan kode etik keperawatan! Sudah bagus kau tidak dilaporkan ke pihak berwajib! Sudah jadi keberuntunganmu kau tidak dituntut ke pengadilan oleh orang di sebelahku ini! Jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi di hadapanku!"


Perawat tersebut keluar dari ruangan dengan rasa keputusasaan dan penyesalan yang besar. Ketiga pria yang berada di satu ruangan itu tampak lesu.


"Reihan, apa kau mau kembali ke sekolah?" tanya Ricky.


"Nggak, kalau aku balik ke sekolah harus ikut pelajaran. Aku ini kan pelajar yang benci belajar, lagi pula kemungkinan besar berita di internet soal keguguran kakak sudah tersebar. Aku malas kalau ditanya sama teman atau guru yang kepo."


"Baguslah, kalau begitu tetaplah di sini dan lakukan sesuatu yang berguna. Pantau terus kakakmu dari monitor!"


"Memangnya Kak Ricky mau ke mana?"


Ricky lalu melihat arloji di tangannya. "Setengah jam lagi aku harus menghadiri seminar dan jadi pembicara. Sekarang aku mau berangkat. Kabari aku kalau terjadi sesuatu."


"Jangan lupa kabari aku juga!" sahut Keyran.


"Eh, kakak ipar serius mau pergi juga?" tanya Reihan seakan tidak percaya.


"Iya, aku harus mengurus sesuatu yang penting dan meredam media massa soal berita keguguran kakakmu. Soalnya jejak digital yang sudah tersebar susah untuk dihapus, ini nantinya akan berefek buruk untuk Nisa jika di mana depan dia melihatnya." jelas Keyran.


"Oh baguslah, kalian berdua percayakan saja yang di sini padaku!"


Jadi seperti ini toh gambaran jika kakak punya 2 suami, bisa kompak juga ternyata mereka. (adik laknat)


Keyran dan Ricky meninggalkan rumah sakit, Ricky tidak menemui hambatan apa pun ketika di area parkir, tetapi berbeda halnya dengan Keyran. Sejak saat dia keluar dari area khusus rumah sakit, dirinya sudah dikerubungi oleh para reporter dan jurnalis yang meminta klarifikasi darinya soal berita yang heboh di internet.

__ADS_1


Keyran tak bicara sepatah kata pun, dia berjalan menuju ke mobilnya tanpa memberikan keterangan apa-apa. Dia dengan emosi juga membunyikan klakson agar orang-orang itu tidak menghalangi jalannya. Setelah mobilnya keluar dari area parkir, dia langsung menambah laju kecepatan mobilnya.


"Ini pasti berhubungan denganmu! Awas kau, Daniel!"


__ADS_2