
Nisa telah terbebas dari tuduhan dan kini dia bukan lagi seorang tersangka. Keyran dan Nisa lalu pulang ke kediaman utama, namun suasana di sana sangat menyesakkan, semua orang sedang berduka.
Malam ini menjadi malam yang sangat panjang. Untuk saat ini polisi masih belum dapat menarik kesimpulan penyebab kebakaran tersebut. Rencananya proses investigasi akan dilanjutkan esok hari saat siang agar menjadi lebih mudah.
Keesokan harinya pihak berwajib melakukan proses investigasi. Seluruh area gedung Galaxy Square Hall telah dipasangi garis polisi. Tim yang bertugas langsung menyisir ke bagian-bagian gedung yang terbakar, termasuk bagian yang menjadi titik awal api kebakaran.
Proses investigasi berlangsung lama, setidaknya memakan waktu hingga 4 jam. Selama kurang lebih empat jam tersebut, tim berhasil mengumpulkan material-material yang bisa menjadi bukti ilmiah maupun informasi lainnya.
Setelah proses investigasi selesai, beberapa orang polisi mengunjungi kediaman utama Kartawijaya untuk melaporkan perkembangan terkini. Di kediaman itu semua orang berkumpul, bahkan untuk saat ini aktivitas kedua perusahaan besar yaitu HW Group dan One INC Entertainment sama-sama diliburkan.
"Selamat siang, Tuan dan Nyonya sekalian. Kami dari pihak kepolisian ingin menyampaikan laporan hasil terkini dari investigasi."
"Baik, silakan." Tuan Muchtar lalu mempersilakan polisi itu untuk duduk di kursi sofa ruang tamu. Semua orang baik itu yang berasal dari keluarga Kartawijaya maupun Adinata langsung memperhatikan polisi tersebut dengan saksama.
"Hasil investigasi yang kami lakukan, untuk sementara kami menduga bahwa kebakaran ini sama sekali tidak ada unsur sabotase. Kebakaran terjadi karena korsleting listrik."
"Apa?!" Natasha tersentak dan langsung melotot ke arah Nisa.
"Hahh ... sudah aku duga," gumam Nisa yang kemudian menyandarkan tubuhnya dengan santai. Dia juga tersenyum sinis kepada Natasha.
"Tapi Pak, bagaimana itu bukan sabotase? Gedung itu milik keluarga kami, dan kami bisa pastikan bahwa semua komponen listrik yang berada di gedung itu sesuai standar keamanan. Pasti ini ulah seseorang yang berniat buruk, dan dia melakukan sabotase dengan sangat rapi!" ucap Daniel yang bersikeras sambil melotot ke arah Nisa.
Keyran yang menyadari hal itu merasa tersinggung, dia menatap balik Daniel dengan tatapan sinis. "Apa maksudmu hah?! Semalam aku sudah jelaskan kalau istriku sama sekali tak terlibat!"
Polisi itu menghela napas. "Begini Tuan, tolong biarkan kami menjelaskan secara keseluruhan. Korsleting listrik adalah hubungan arus pendek listrik. Hal ini dapat menyebabkan lonjakan arus listrik yang dapat menyebabkan percikan api, bahkan ledakan sekali pun."
"Pertama, kami membaca rambatan api. Dari situ kami menemukan sumber api yang pertama kali terbakar. Sedangkan korsleting listrik tak hanya bisa disebabkan oleh komponen yang tidak sesuai standar, tapi juga bisa disebabkan oleh faktor lain. Contohnya colokan yang menumpuk dan kendur, atau terkena cairan dan berdekatan dengan sumber panas. Mengingat bahwa saat itu adalah saat pesta berlangsung, artinya lebih banyak kabel dan material-material lain yang mudah terbakar. Korsleting listrik bisa saja terjadi mengingat semua kemungkinan itu."
"Ini bukan kasus kebakaran yang pertama kali saya tangani karena masalah korsleting listrik. Tetapi kasus ini masih butuh penyelidikan lebih lanjut. Kami akan menggunakan alat bukti yang kami temukan untuk diteliti di laboratorium pemeriksaan. Proses penelitian di laboratorium forensik membutuhkan waktu cukup lama, tetapi akan saya usahakan secepatnya."
"Lalu bagaimana dengan putriku, Chelsea? Apakah salah satu dari korban itu telah diidentifikasi dan hasilnya adalah dia?" tanya Tommy Adinata, Tuan Besar keluarga Adinata.
"Maaf, tapi hasil identifikasi para korban juga butuh waktu. Paling cepat dalam waktu 24 jam, itu pun jika tidak tidur. Jadi mohon bersabar menunggu hasilnya."
__ADS_1
Tubuh Natasha gemetar, lagi-lagi air mata keluar tanpa persetujuannya. "B-bagaimana dengan bayiku? Apakah sama sekali tak ada kemungkinan bahwa dia selamat? Padahal pesta ini dibuat untuknya, t-tetapi siapa sangka hal ini malah menimpanya ...."
"Kami mohon maaf Nyonya, mohon kuatkan diri dalam menghadapi ujian ini. Pada dasarnya kebakaran merupakan peristiwa penyebab kerusakan yang dapat terjadi kapan pun dan tidak dapat diprediksi, kerugian materi dan korban jiwa juga bisa saja terjadi dalam bencana seperti ini."
"Sekiranya itu saja yang kami sampaikan, jika ada perkembangan informasi lagi maka akan segera kami beritahu. Kami undur diri."
Beberapa polisi itu meninggalkan kediaman. Namun suasana di ruang tamu itu masih dipenuhi dengan ketegangan.
Tiba-tiba saja Daniel berucap, "Bukan sekali ini di gedung itu diadakan pesta. Gedung itu sudah sering menjadi tempat untuk keperluan acara lain. Tapi saat pemilik gedung itu sendiri mengadakan acara pesta di sana, malah terjadi kebakaran dan polisi bilang kalau ini karena korsleting listrik. Aku rasa ini terlalu janggal jika disebut sebagai kebetulan, pasti ini ulah sabotase dari seseorang. Seseorang yang merasa iri."
Pandangan Daniel lagi-lagi tertuju kepada Nisa, namun kali ini semua orang juga menatap Nisa kecuali Keyran tentunya. Nisa yang menyadari hal itu tentu saja merasa aneh, dia sangat paham bahwa saat ini dia sedang dicurigai oleh semua orang.
"Ada apa? Kalian semua mencurigaiku?" tanya Nisa dengan nada tersinggung.
"Memangnya siapa lagi yang patut dicurigai selain kau?!" tanya Daniel dengan alis terangkat sebelah.
"Jaga bicaramu! Sekali lagi aku ingatkan kalau istriku tidak bersalah! Semalam polisi juga sudah memeriksanya dan hasilnya terbukti kalau dia sama sekali tak terlibat!" teriak Keyran yang tak terima istrinya dalam keadaan dipojokkan oleh semua orang.
"Siapa yang akan percaya?! Semalam yang berada di sana cuma Kakak! Dan Kakak juga membawa seorang pengacara! Dengan kekuasaan yang Kakak punya, Kakak bisa saja membuat polisi itu memberikan keterangan seperti yang Kakak minta! Kakak bisa memanipulasi semuanya demi melindungi istrimu yang biadab itu!" teriak Daniel tak mau kalah.
"Cukup Key!" pinta Nisa sambil menahan tangan Keyran.
"Tapi Nisa ... mereka semua menuduhmu melakukan sesuatu yang sama sekali tidak kau lakukan. Aku tak terima!"
"Aku tahu, dan aku sendiri juga tak terima." Nisa lalu menatap tajam ke arah Daniel. "Kenapa kau seperti ingin sekali bahwa hasil akhirnya adalah aku pelakunya? Apa kau tak bisa menerima kenyataan yang menimpamu, hah?"
"Tentu saja kami tidak terima!" celetuk Natasha. Dia kemudian mengusap air matanya dan menatap Nisa dengan tatapan kebencian.
"Aku kehilangan putraku! Putraku yang sangat berharga! Kau pasti menganggap putraku sebagai ancaman yang nantinya akan menyulitkanmu!"
"Aku tahu kalau kau selalu tak suka padaku, sejak dulu pun juga begitu! Dan aku juga tak menyukaimu dalam alasan tertentu di masa lalu! Kita adalah musuh, kau yang memulainya sekaligus yang membuatnya bertahan sampai sekarang! Kau pasti sangat ingin membuatku menderita bagai di neraka!"
"Kau itu perempuan kejam! Dasar iblis! Kau menggunakan rencana jahat dan keji untuk membunuh seorang bayi yang tak berdosa! Selain itu kakakku juga jadi korban! Bahkan sekarang, mayat mereka berdua pun sampai tak tersisa! Kau benar-benar iblis! Kau perempuan terkutuk! Kau pasti telah mengutuk bayiku!"
__ADS_1
"Sudah? Apa kau sudah selesai memakiku?" tanya Nisa dengan ekspresi datar.
"K-kau ...!"
"Berhentilah, hentikan pemikiranmu yang terlalu sempit itu! Yang kau salahkan aku, lalu hubunganmu denganku di masa lalu. Intinya kau selalu menyalahkan orang lain. Bodoh!"
"Hei, bisa-bisanya kau bicara begitu?! Putriku saat ini sedang berduka!" bentak ibunya Natasha yang tak terima dengan ucapan Nisa.
"Maaf jika perkataanku membuatmu tersinggung, Nyonya Besar Adinata. Tetapi Natasha memang harus diberi pelajaran, dia harus belajar untuk mengintrospeksi dirinya sendiri." Nisa lalu beralih menatap Natasha.
"Kau ingatlah apa saja yang telah kau lakukan. Kau kehilangan bayimu dan kau menyalahkan aku atas hal itu. Tapi tidakkah pernah kau berpikir tentang kesalahan apa yang kau perbuat? Kau selamat tanpa luka sedikit pun, andai saja sebelum keluar dari gedung kau mencari bayimu, apakah semua ini akan terjadi? Andai saja kau selalu bersama dengan bayi tersayangmu itu, apakah mungkin kau akan kehilangan dia seperti ini? Andai saja kau lebih mementingkan dia daripada nyawamu sendiri, apakah mungkin dia akan terbakar jadi abu?"
"...." Natasha membisu.
"Pada dasarnya ini adalah kelalaianmu sendiri sebagai orang tua. Dan aku peringatan, buanglah jauh-jauh pikirkanmu tentang aku yang berusaha membunuh bayimu! Aku sendiri juga pernah kehilangan bayiku! Aku tahu bagaimana sakitnya itu! Bahkan aku berharap agar jangan ada lagi yang seperti aku! Sekali pun aku tak pernah mengutuk bayimu!"
"Tadi kau bilang kalau aku iblis? Ya, benar aku adalah iblis! Terserah jika kau mau menganggapku seperti itu! Tapi apa kau pikir kalau kau itu seorang malaikat, hah?! Kau pikir Tuhan akan selalu sayang padamu dan selalu memberimu nasib baik?! Renungkan dan terima saja nasib buruk yang menimpamu saat ini! Aku tahu ini berat bagimu, tapi aku mohon berhentilah menuduhku!"
Tiba-tiba Keyran mendekat dan meraih tangan Nisa. "Sudahlah, kau tak perlu meladeni lagi orang seperti mereka. Ayo pergi!"
Tanpa berkata apa pun lagi Keyran dan Nisa langsung pergi meninggalkan ruang tamu itu.
***
Dua hari kemudian polisi datang lagi ke kediaman, kali ini polisi memberikan hasil identifikasi para korban kebakaran. Yang membuat mereka terkejut adalah DNA Chelsea tak ada yang cocok dengan DNA milik para korban tersebut.
Kedua belah pihak keluarga akhirnya menerima keadaan bahwa Chelsea dan Samuel telah tiada. Mereka juga melakukan upacara pemakaman sebagai bentuk penghormatan dan penyempurnaan arwah yang telah meninggal.
Namun, saat upacara pemakan tersebut lagi-lagi Natasha membuat keributan di depan semua orang. Dia berteriak histeris dan melarang Nisa untuk hadir di sana. Di satu sisi Nisa hanya diam dan pergi karena sudah malas meladeni emosi Natasha kepadanya.
Keluarga Kartawijaya juga memberikan sejumlah besar uang santunan terhadap keluarga para korban. Bagi Tuan Muchtar hal ini sungguh sebuah kejadian yang sangat disayangkan. Kerugian materi yang dia alami tak sebanding dengan harapan terbesarnya yang kini telah lenyap. Yaitu cucu pertama yang sangat dia idamkan kini telah tiada.
Di sisi lain Natasha masih terhanyut di dalam kesedihannya, sepanjang hari dia mengurung diri di dalam kamar bayi yang dirancang khusus untuk Samuel. Dia sesekali juga menangis, meratapi kepergian bayinya sambil memandangi sebuah keranjang bayi yang telah kosong di sana. Ruangan bayi yang dipenuhi oleh mainan yang serba lucu itu, kini seakan-akan berubah menjadi ruang penyesalan.
__ADS_1
Seminggu setelah kejadian kebakaran polisi kembali mengunjungi kediaman. Mereka memberikan keterangan atas hasil penelitian dari bukti-bukti material yang sebelumnya telah dikumpulkan. Hasilnya terbukti bahwa kebakaran memang disebabkan karena korsleting listrik. Polisi juga menetapkan bahwa kasus kebakaran secara hukum telah resmi ditutup.