
"Perusahaan kita sudah pulih! Bahkan jika ayah mertuamu ingin kembali menekan perusahaan kita, dia akan kesusahan. Ini semua karena rencana yang kau buat telah berhasil. Pamanmu juga sangat berterima kasih kepadamu."
"Syukurlah, aku ikut senang." ucap Nisa sambil tersenyum.
"Malam ini pamanmu juga bermaksud mengadakan pesta kecil-kecilan di rumahnya, apa kau akan datang?"
Nisa langsung terdiam, bahkan dalam waktu yang cukup lama.
"Halo! Nisa!"
"Ya ayah?! I-itu maaf ... aku berhalangan untuk datang. Belakangan ini Keyran cukup sibuk, dia selalu lembur sampai larut malam. Jika aku datang sendirian, nanti orang-orang akan berpikiran yang macam-macam, jadi tolong jelaskan ini ke paman Chandra."
"Oh .. baiklah, itu saja yang ingin ayah sampaikan. Jaga dirimu ..."
"Iya, aku sayang ayah ..."
TUT .. TUT ...
Panggilan telepon berakhir, Nisa langsung menaruh ponsel di samping kepalanya yang berada di atas bantal. Dia mengatur napas perlahan sembari menatap langit-langit kamar yang berwarna putih dan dipadukan dengan warna biru.
Yahh ... setidaknya aku telah meringankan beban ayah. Meskipun aku harus menggunakan cara kotor dengan mencuri data perencanaan perusahaan suamiku sendiri. Padahal sebenarnya perusahaan terpuruk itu bukan gara-gara aku, orang lain penyebabnya. Tapi apa boleh buat? Dia juga keluargaku, dan aku sudah terbiasa memperbaiki kesalahannya ...
Terlebih lagi, hanya kurang satu langkah terakhir untuk mencapai tujuanku. Sudah saatnya aku mengakhiri semua ini. Sekarang aku harus menghubungi si pemeras cerdas.
Nisa bangkit, dia mengambil ponselnya kembali dan bersiap untuk menelepon seseorang.
"Halo, Faris." ucap Nisa dengan nada datar.
"Iya, bos. Ada apa?"
"Sudah saatnya untuk bertemu. Tiga hari lagi, jam 4 sore di tempatnya Dika!"
"Baik bos, akan aku siapkan semuanya."
TUT ... TUT ...
Begitu panggilan telepon itu berakhir, Nisa kembali menaruh ponselnya. Kemudian dia perlahan melihat seluruh isi kamar. Raut wajahnya sedikit terlihat bingung, namun tiba-tiba saja dia kembali berbaring dan memejamkan matanya.
Sekian lama aku menunggu, akhirnya saat ini tiba juga. Semuanya berjalan sempurna sesuai keinginanku, mungkin saja Tuhan juga menginginkan hal yang sama.
...3 hari kemudian...
...••••••...
Nisa datang sesuai janji, jam 4 sore di kedai milik Dika sudah tampak begitu sepi, tanda buka juga sudah dibalik menjadi tutup. Ketika Nisa memasuki kedai, dirinya telah ditunggu oleh dua orang pria yang sedang duduk menghadap ke meja yang sama. Pria itu tidak lain adalah si pemilik kedai sendiri yaitu Dika, dan yang satunya lagi bernama Faris.
Dika berekspresi malas, dagunya dia sandarkan di telapak tangan. Sedangkan Faris, dia berpakaian rapi dan sibuk menatap ponselnya sambil menghisap rokok. Tapi saat menyadari Nisa telah datang, Faris mematikan rokoknya yang terbilang masih cukup panjang.
Nisa berjalan mendekat ke arah mereka lalu duduk menghadap meja yang sama. Nisa melirik memberi isyarat ke Faris, dan saat itu juga Faris mengeluarkan lembaran kertas putih dari tas yang dia bawa, lalu meletakkan kertas itu di atas meja.
"Ini, surat gugatan cerai yang bos minta." ucap Faris.
__ADS_1
"Makasih, hanya tinggal tanda tangan lalu semuanya beres. Sisanya jika ada apa-apa kau yang atasi, kali ini kau jadi pengacara-ku!" ucap Nisa sambil melirik ke arah kertas itu.
"Baik bos, tapi ... aku ada satu pertanyaan."
"Apa?"
"Setelah cerai ... apa bos mau kembali lagi sama Ricky?"
"Itu mustahil, perasaanku untuknya sudah aku hilangkan."
"Oh, itu bagus! Kalau bos mau kembali lagi sama dia, maka jangan minta bantuanku. Toh ini juga pertemuan pertama kita setelah dua tahun lebih, ini terjadi juga gara-gara dia!"
"Yaa ... aku akui, aku pernah menempatkan dia di atas segalanya. Tapi sekarang sudah jauh berbeda, sebentar lagi aku akan jadi janda di usia 19 tahun."
"Bos!" sahut Dika.
"Ada apa?" tanya Nisa sedikit bingung.
"Kok tiba-tiba mau cerai sih? Bukannya hubunganmu dengan suamimu baik-baik saja? Padahal menurutku suamimu itu juga punya rasa cinta untukmu."
"Cih, sedari awal aku memang berniat ingin bercerai dengannya. Memang hubunganku baik-baik saja, aku juga sadar kalau dia mencintaiku. Dan inilah tujuanku yang sebenarnya."
"Tujuan?" tanya Dika dan Faris bersamaan.
"Iya, tujuanku sebelumnya ingin dia membenciku kemudian menceraikan aku. Tapi aku gagal, inilah mengapa aku merubah rencanaku untuk membuatnya mencintaiku sedalam-dalamnya. Kau masih ingat saat aku diculik waktu itu?"
"Masih, jadi waktu itu ..." jawab Dika dengan nada ragu.
"Emm ... bukankah ini kurang adil baginya?" tanya Faris.
"Memangnya siapa yang peduli?! Toh aku juga bukan penegak keadilan. Aku di sini menuntut dendam! Aku ingin dia hancur sehancur-hancurnya seperti kehancuran yang pernah aku alami! Dia sendiri yang menjadi sebab kehancurannya!"
"Apa bos melakukan semua ini demi Ricky?" tanya Dika.
"Bukan, ini bukan soal Ricky, tapi soal diriku sendiri. Asal kalian berdua tahu, semenjak di hari pernikahanku, aku telah kehilangan semuanya, semuanya termasuk diriku sendiri. Mungkin sebagian besar orang menganggap hari pernikahan adalah awal hidup baru, tapi bagiku itu adalah akhir bagi segalanya. Hidupku hancur, harapanku pupus, kebebasanku dirampas, dan hatiku rasanya hampa, yang tersisa hanyalah dendam yang selama ini aku jaga. Jadi keputusanku sudah bulat, pernikahan ini memang harus segera diakhiri."
Nisa mengambil kertas dari meja, melipatnya lalu dimasukkan ke dalam tas yang dia bawa.
"Sudah, sekarang aku harus segera pergi." Nisa lalu berdiri dan bersiap pergi.
"Tunggu dulu!" teriak Dika.
"Ada apa?" Nisa langsung kembali duduk dan menatap Dika dengan tatapan dingin.
"Bos nggak takut menyesal?"
"Menyesal? Aku sudah bilang ke banyak orang kalau aku akan menjalani hidup tanpa penyesalan, semua yang aku lakukan sudah aku perhitungkan. Apa kau hanya ingin menanyakan soal ini?"
"Bos ... aku bertanya karena bisa saja terjadi hal-hal yang di luar perhitunganmu, misalnya ... kehamilan ..."
"Ck, itu juga sudah aku perhitungkan. Aku rutin konsumsi pil kontrasepsi, jadi mana mungkin aku hamil. Kau tenang saja, semuanya sudah aku perhitungkan, rencana ini sudah aku susun dari awal. Sedari awal aku memang berusaha mati-matian menghindari pernikahan."
__ADS_1
"Emm ... bos!" panggil Faris.
"Kau mau tanya soal apa?"
"Itu ... Dika pernah cerita kalau bos dulu pernah ngajak dia nikah untuk menghindari pernikahan dengan suamimu yang sekarang, menurutku ... ketimbang Dika, bukankah Hendry yang paling mungkin untuk melawan suamimu? Terlebih lagi Hendry punya pengaruh di kota ini, dia pasti sanggup jika melawan suamimu."
"Itu juga sudah aku pikirkan. Hendry mungkin sanggup melawan, tapi jika dia terlibat ... masalahnya akan merambat ke politik. Hendry itu cukup kasihan, dia terpaksa jadi boneka politik demi ayahnya yang merupakan ketua dari salah satu partai. Toh dia sudah punya 3 istri, dia itu raja harem! Jelas aku nggak mau nikah sama dia. Sekarang kau mengerti?"
"M-mengerti ..."
"Oke, sekarang aku pamit. Tapi sebelum itu ..." Nisa lalu melirik ke arah Dika. "Apa Ivan sudah punya hasil?"
"Sudah, tapi ..." jawab Dika dengan nada ragu.
"Tapi apa?"
"Tapi kata Ivan ... di laptop itu tersimpan data-data yang sangat banyak, dia masih perlu waktu untuk mengelompokkan dan menganalisis data itu. Tapi dia bilang sudah bisa memastikan satu hal kalau ini ada kaitannya dengan kasus penjualan organ di pasar gelap!"
"Oh, begitu. Bilang ke Ivan jangan terlalu terburu-buru, kita bahas ini lagi setelah perceraianku selesai. Sekarang aku benar-benar pamit." Nisa langsung beranjak dari kursi dan bergegas pergi meninggalkan kedai.
Dika berekspresi sedikit masam saat melihat Nisa yang berjalan pergi, bahkan dia masih seperti itu saat Nisa sudah tak terlihat lagi. Di sisi lain Faris menyalakan korek api lalu mulai mengisap rokoknya kembali. Dia merasa sedikit bingung dengan ekspresi yang diperlihatkan oleh Dika.
"Fyuuh ... kenapa ekspresimu begitu?"
"Bukan apa-apa, cuma sedikit khawatir. Tadi itu tangannya bos gemetaran ..."
"Itu wajar, fyuhhh ... bos memang mengidap tremor, mungkin pengaruh efek obat, dia kan sering depresi."
"Aku tahu kalau bos sering pakai obat antidepresan, tapi penyebab tremor biasanya dipengaruhi oleh emosi. Yang aku khawatirkan adalah seandainya bos nanti benar-benar menyesal. Mungkin yang dia katakan adalah kata-kata kebencian, tapi ... tatapan matanya sedikit terasa gimana gitu ..."
"Entahlah, tapi bos selalu punya pertimbangan sendiri. Toh kasus perceraian memang wajar-wajar saja terjadi, itu bukan hal tabu. Di dalam pernikahan memang selalu saja ada masalah, makanya sampai sekarang aku lebih memilih sendiri. Pernikahan cuma formalitas untuk melanjutkan keturunan."
"Dih ... umurmu kan 25 tahun, pengacara kondang lagi. Memangnya sanggup terus-terusan menghadapi desakan dari orang tua?"
"Ya mau gimana lagi? Aku juga sedikit stress ditanya terus, jadi aku beli deh rumah baru. Kau sendiri juga kabur dari rumah, memangnya kau masih benci sama ayahmu?"
"Huh, kalau aku pulang ... dia pasti langsung memukulku dan mendesakku agar pergi sekolah ke luar negeri. Aku malas belajar, inilah sebabnya aku sekolah cuma sampai SMP. Padahal kan yang aku sukai cuma olahraga, alias berantem."
"Iya iya ... dasar peringkat ke-3!"
"Iri yaa? Salahmu karena sibuk belajar, jadinya peringkat ke-9~"
"Ck, jangan bahas peringkat! Tadi itu bos bahas yang katanya geng yang menculiknya kan?"
"Iya, bos bilang geng itu namanya Humble Dog. Mungkin saja Marcell tahu tentang geng ini ... apa menurutmu sebaiknya dia diberitahu kalau bos pernah diculik?"
"Jangan! Kalau dia diberitahu, dia pasti akan menggila. Lebih baik bos sendiri yang memberitahunya. Toh jika Marcell masuk lapas lagi, aku yang bakalan repot ..."
"Itu sudah tugasmu jika repot, bahkan jika seandainya nanti kita semua tertangkap polisi, kau yang paling kesulitan. Kita semua punya jalan hidup masing-masing, tapi aku masih belum percaya kalau bos kita yang barbar itu menikah dengan keluarga paling terpandang. Sebenarnya ... jika boleh jujur, sangat disayangkan jika mereka bercerai. Aku pikir bos bisa bahagia dengan pernikahannya, tapi aku salah. Mungkin bos memilih jalan ini karena masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya ..."
"Yahh ... kau benar juga, jika soal dendam mungkin baginya masih bisa dilupakan. Aku juga bingung sebenarnya apa yang dipikirkan olehnya, intinya kita berdoa saja semoga dia bahagia apa pun pilihannya."
__ADS_1
"Iya, kau benar."