Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Orang Kaya


__ADS_3

"Le-lepas baju...?" tanya Nisa dengan ekspresi sedikit aneh.


OMG! Kalau aku lepas baju, itu artinya aku akan telanjang! Apa dia mau melakukan itu padaku? Hiiyy... membayangkannya saja sudah membuatku merinding, tapi kalau itu benar maka aku akan memukulnya sampai pingsan!


"Cepatlah! Kau bisa melakukannya atau tidak? Atau... kau ingin aku membantumu?" Keyran lalu mencoba meraih kancing baju yang dipakai Nisa, tapi seketika Nisa langsung menangkap tangannya sebelum dia sempat meraihnya.


"Stop! Kenapa kau ingin aku melepas baju?" tanya Nisa dengan tampang panik.


"Eh!? Apa kau...?" wajah Keyran tiba-tiba memerah, kemudian dia berteriak, "Kau jangan berpikir yang tidak-tidak! Bahkan jika kau telanjang sekali pun aku juga tidak akan tertarik padamu!"


"Hah...?" Nisa lalu melepas tangan Keyran yang dia pegang.


Memangnya kapan aku bertanya kalau kau tertarik atau nggak padaku?


"Lupakan!" Keyran lalu memalingkan wajahnya, "Terserah kau ingin pakai apa, bukan urusanku!"


Sebenarnya aku hanya ingin dia mengganti bajunya dengan piyamaku, aku tidak bisa fokus jika dia tetap menunjukkan pahanya itu...


"...." Nisa ternganga.


Apaan sih? Gak jelas banget...


Kemudian suasana hening mulai terjadi kembali di antara mereka.


"Anu... apa boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Nisa dengan suara lirih.


"Ya, katakan saja." jawab Keyran seakan tidak peduli.


"Ayahku bilang setelah menikah kau tetap mengizinkan aku kuliah, jadi dimana tempatku belajar?"


"Kau bisa belajar di ruang kerjaku ini, ruangan ini cukup besar untuk kita berdua. Soal barang-barang yang kau perlukan, nanti akan ada orang yang mengurusnya."


"Eh!? Aku kalau belajar nggak bisa tenang loh, setiap kali belajar aku selalu bernyanyi dan berteriak nggak jelas. Bukankah itu akan mengganggumu? Nanti pasti ujung-ujungnya kau akan marah padaku..." ucap Nisa dengan tampang cemberut.


"Memangnya lagu apa yang kau nyanyikan? Jika suaramu bagus aku tidak keberatan." jawab Keyran dengan enteng.


"Oh, kalau itu sih aku biasanya menyanyikan lagu bahasa Jepang, Inggris, Arab, bahkan terkadang lagu India. Lalu soal suaraku kau nggak perlu khawatir, aku pernah mendapat juara tingkat kabupaten." ucap Nisa dengan antusias.


"Kau sebaiknya pelankan suaramu, berusahalah jangan sampai menggangguku bekerja!" ucap Keyran dengan nada ragu.


Hemm... aku tidak bisa membayangkan jika gadis ini bernyanyi bermacam bahasa dalam satu waktu, itu pasti akan terdengar sangat aneh.


"O-oke, aku akan berusaha. Aku juga ingin bilang kalau hari ini aku berencana untuk pulang, aku perlu mengambil beberapa pakaian dan barang. Kau mengizinkan aku kan?" tanya Nisa dengan nada sopan.


"Baiklah, tapi kau harus kembali sebelum makan malam!"


Gadis ini tahu tata krama juga, ternyata setelah menikah dia bisa lebih menghormatiku. Mungkin aku bisa sedikit percaya kepadanya.


"M-makasih..."


Ya ampun, ternyata sulit sekali menjadi istri yang baik.


"Tunggu sebentar," Keyran lalu mengambil sesuatu dari sakunya dan kemudian menyerahkan benda itu pada Nisa, "Ini, kartu kredit untukmu!"


"Eh!? I-ini..." Nisa ternganga.


Ini black card... Visa Infinite! Batas limit hingga unlimited dengan berbagai macam privilege!


"Oh iya, aku hampir saja lupa kalau kau masih kuliah. Jatah uang sakumu sebulan 50 juta, lalu untuk keperluan bulananmu 500 juta, aku akan transfer uangnya ke rekening milikmu. Kau juga bisa gunakan kartu itu semaumu, seharusnya itu cukup kan?"


"I-iya, ini cukup..." ucap Nisa terbata-bata.


Astaga... dalam sekejap saja aku langsung jadi holang kaya, mimpi apa aku semalam?


"Baguslah, ini keuntungan yang kau dapat karena menjadi istriku! Ini juga belum seberapa, jadi kedepannya biasakan dirimu!" ucap Keyran dengan nada sombong sambil memalingkan wajahnya.


Heh! Gadis ini pasti akan menyembahku nantinya...


"Kyaa... aku cinta kamu!" teriak Nisa.


"Eh!? Kau bilang apa?" Keyran kaget dan langsung menengok ke arah Nisa, "K-kau... apa-apaan?" ucap Keyran seakan tidak percaya.


Saat Keyran berbalik ternyata yang dia dapatkan bukanlah pengakuan cinta untuk dirinya, tapi yang terjadi adalah dia melihat Nisa yang tengah sibuk menggosok-gosokkan kartu kredit di pipi sambil bergumam, "Uang... aku mencintaimu, aku nggak bisa hidup tanpamu..." lalu beberapa saat kemudian Nisa tersadar, "Eh!? Kenapa kau menatapku seperti itu?"


"Bukan apa-apa, kau lanjutkan saja tingkah lakumu yang aneh itu!" Keyran lalu memalingkan wajahnya.


Sialan! Kenapa aku bisa ge-er seperti ini? Ternyata dia bilang cinta ke uang, bukan kepadaku.


"Hmph! Tingkah laku aneh apanya...? Tentu saja kau nggak akan paham bagaimana perasaanku, kau itu kan dari awal memang kaya!" gumam Nisa.


"Hei, kau sedang mengataiku kan?" tanya Keyran dengan tatapan sinis.


"Haha, apa sih? Aku kan cuma bicara kenyataan, aku bilang suamiku orang kaya, itu pujian untukmu~" ucap Nisa dengan senyum bodoh. "Ngomong-ngomong kapan celana dalamku sampai? Eh... lupakan! Lupakan! Anggap saja aku nggak tanya!" Nisa berteriak panik.


"Tsk! Akan segera sampai, Valen yang akan mengantarnya!"

__ADS_1


"Valen...? Kau ini jahat sekali!" Nisa lalu mencubit tangan Keyran, "Huuaaa... kau ini suami macam apa!? Kau membiarkan pria lain tahu ukuran pakaian dalam istrimu sendiri! Lebih baik kau siksa saja aku!" Nisa kembali menangis dan merengek.


Keyran lalu menahan tangan Nisa dan berkata, "Hei... berhentilah menangis! Aku menyuruhnya untuk membeli semua ukuran termasuk beberapa pakaian untukmu, jadi dia tidak tahu ukuranmu. Kau ini..." Keyran kemudian menghapus air mata di pipi Nisa, "Berhentilah menangis! Jangan menguji kesabaranku!"


Astaga... kenapa ayah mencarikan aku istri yang seperti ini? Rasanya seperti mengasuh anak kecil.


"Hiks! Maaf... habisnya kau nggak memberiku penjelasan lebih dulu, hiks... aku kan jadi malu... Hal seperti pakaian dalam sangat memalukan jika orang lain sampai tahu..."


"Terserah, cepat berhenti menangis! Kau bilang ingin pulang ke rumahmu, nanti Valen juga yang akan mengantarmu!"


"Iya..." ucap Nisa dengan nada pasrah.


Lalu beberapa saat kemudian Valen datang dengan membawa beberapa pakaian untuk Nisa, setelah Nisa selesai berpakaian Valen langsung mengantarnya. Dan selama di perjalanan Valen terus-menerus tersenyum seakan seperti sedang mengejek, melihat hal itu Nisa merasa sangat tidak tahan dengan sikap Valen.


"Berhentilah tersenyum! Itu terlihat sangat memuakkan!" teriak Nisa.


"Haha, kenapa nyonya keberatan? Saya ini sedang merasa bahagia~ apakah saya tidak boleh tersenyum? Nyonya pasti juga bahagia, tuan sangat peduli loh pada nyonya~" ejek Valen.


"Cih! Apa kau merasa bahagia saat menjadi pesuruh? Kau bahkan berani terang-terangan mengejekku seperti ini..." keluh Nisa dengan raut wajah cemberut.


"Haha, ternyata nyonya khawatir padaku ya? Saya bahagia kok jadi pesuruhnya tuan, lagipula bayaran yang saya dapatkan juga sepadan. Lain kali jika nyonya butuh apa pun, nyonya bisa menyuruh saya yang melakukannya. Nyonya Nisa adalah istrinya Tuan Keyran, jadi nyonya juga atasan saya." ucap Valen dengan senyum ramah.


"Oh iya, apa si brengsek itu, maksudku Keyran juga selalu memerintahmu seperti ini? Apa akhir-akhir ini dia nggak memberimu kelonggaran sedikit?" tanya Nisa sambil mengorek salah satu telinganya.


"Maksud nyonya kelonggaran seperti apa?"


"Maksudku itu kelonggaran di hari ulang tahunmu. Namamu Valen, bukankah sebentar lagi kau berulang tahun?"


"Oh, ternyata maksud nyonya hari valentine. Meskipun nama saya Valen, saya lahir bukan di hari valentine, tapi saya lahir di bulan September." jelas Valen.


"Hah!? Kok bisa begitu? Apa orang tuamu memberi nama secara asal-asalan?" tanya Nisa dengan wajah bingung.


"Mana mungkin orang tua memberi nama secara asal-asalan, sebenarnya Valen bukanlah nama saya yang asli. Nama saya berubah menjadi Valen karena orang tua saya adalah penggemar moto gp, maka dari itu mereka merubah nama saya jadi Valen." jelas Valen dengan wajah memerah.


"Pffttt....! Hahaha! Jadi namamu berubah karena pengaruh kegemaran orang tua, Ya Tuhan... bahkan ginjalku ikut tertawa!" Nisa tertawa terbahak-bahak sambil menepuk-nepuk pundak Valen. "Kasihan... aku tebak nama panjangmu Valentino kan? Hahaha! Korban orang tua..."


"Sopankah begitu?"


"Eh!? Cukup tau, cukup sabar. Aku nggak nyangka kalau kau juga paham tentang hal itu! Apa jangan-jangan kita ini satu frekuensi?" tanya Nisa dengan antusias.


"Haha, maaf mengecewakan nyonya, saya bukan shitposter seperti anda..." ucap Valen dengan wajah datar.


"Yah... kupikir kau juga sama sepertiku," Nisa lalu kembali duduk tenang, "Jika saja kau seorang shitposter itu bisa sedikit menghiburku, berada di lingkungan seperti ini bagiku kurang seru..." keluh Nisa dengan wajah murung.


"Nyonya..." ucap Valen sedikit kecewa.


"Nyonya, sebentar lagi kan hari valentine. Ngomong-ngomong nyonya dan tuan adalah pengantin baru, apa nyonya punya rencana di hari valentine?" tanya Valen dengan nada sopan.


"Tentu saja aku punya!" jawab Nisa secara spontan.


"Benarkah!? Apakah nyonya berencana mengajak tuan berlibur, atau memberi tuan kejutan yang romantis? Katakan saja rencananya pada saya, saya pasti dengan senang hati membantu nyonya!" ucap Valen dengan antusias.


"Bukan, rencanaku nggak ada hubungannya dengan Keyran!" bentak Nisa.


"Eh!? Lalu apa rencana nyonya?"


"Jualan nanas." jawab Nisa secara spontan.


"Jualan nanas?" tanya Valen dengan wajah bingung.


"Jualan nanas di hari valentine dan tahun baru itu bisa laris manis."


"...." Valen ternganga.


Ya Tuhan... ternyata yang nyonya maksud berjualan nanas lebih tepatnya nanas muda, kenapa nyonya bisa berpikir seperti itu? Saat orang-orang tahu kalau nyonya dari keluarga Kartawijaya berjualan nanas, hal itu pasti akan jadi lelucon selama bertahun-tahun. Ini gawat, aku harus melarang nyonya melakukannya!


"Nyonya sebaiknya jangan berjualan nanas, pikirkanlah reputasi keluarga nyonya! Nyonya adalah menantu dari keluarga paling terpandang di kota ini loh!"


"Kau benar juga, untuk sesaat tadi aku lupa kalau aku sudah menikah. Untung saja kau mengingatkan aku. Sudahlah, berhenti membahas itu! Kau menyetir saja yang benar, jangan ajak aku bicara lagi!"


"Baik nyonya..."


Astaga, nyonya bilang apa tadi? Dia sempat lupa kalau sudah menikah, ingatannya buruk sekali... Semoga saja dia tidak lupa kalau dia itu istrinya tuan.


Dan tak lama kemudian sampailah mereka di rumah Nisa, begitu sampai Nisa langsung turun dari mobil dan mengatakan pada Valen kalau dia tidak perlu menunggunya. Tapi saat Nisa memasuki rumahnya dia terkejut, karena di rumahnya ada beberapa remaja laki-laki yang sama sekali tidak dia kenali.


Braak...! suara bantingan pintu.


"Hai semua, Nisa disini! Apa kalian merindukan aku!?" teriak Nisa penuh semangat. "Eh!? Kalian ini siapa?" tanya Nisa sambil menunjuk ke arah orang-orang asing itu.


"Kau sendiri siapa? Kenapa begitu masuk langsung berteriak?" tanya seorang remaja laki-laki yang tidak dikenal.


"Sialan! Malah tanya balik! Siapa yang memberi izin kalian masuk? Ini rumahku, keluar kalian semua!" teriak Nisa seolah-olah terdengar seperti ancaman.


"Wooo.... kakak cantik~ kenapa marah-marah sih? Nanti cantiknya ilang loh~" ucap remaja laki-laki lainnya.

__ADS_1


"Iya tuh, padahal Reihan nggak bilang bakalan ada cewek disini..." ucap remaja lainnya.


"Oh, pantas saja kalian begini. Ternyata kalian ini temannya Reihan toh, kalian ini emang satu spesies!" Nisa lalu menarik kerah baju salah satu remaja laki-laki itu, "Mana Reihan?" tanya Nisa dengan tatapan sinis.


"K-kakak cantik~ jangan main tarik-tarik begini dong, Reihan ada tuh, dia lagi keluar beli minum..." ucapnya dengan nada ketakutan.


"Lalu kenapa kalian semua datang ke rumahku?" Nisa semakin erat menarik kerah baju.


"Anu... soal itu, kata Reihan dia mengundang kami untuk merayakan kepergian ratu iblis dari rumahnya. Jadi... kakak cantik ini ratu iblis itu ya?"


"Tsk!" Nisa melepaskan tangannya dari kerah baju kemudian mendorong remaja laki-laki itu menjauh, "Iya, aku ratu iblis. Nanti kalian bilang ke Reihan, suruh dia pergi ke kamarku!"


"Iya, yang mulia ratu..." ucap mereka semua bersamaan.


"Hmph! Bagus, tau diri juga kalian..." ucap Nisa sambil berjalan pergi menuju kamarnya.


Beberapa saat kemudian Reihan pulang, saat dia diberitahu oleh teman-temannya kalau Nisa kembali ke rumah dia langsung bergegas menuju kamar Nisa. Saat Reihan masuk kamar Nisa, dia melihat Nisa yang tengah sibuk mengepak barang-barang. Tapi, yang membuat Reihan lebih terkejut adalah dia melihat luka yang ada di tangan Nisa.


Braak...! suara bantingan pintu.


"Kak Nisa kok pulang sih? Eh... itu, tangan kakak..." ucap Reihan sambil menunjuk ke arah tangan Nisa.


"Akhirnya kau pulang juga. Lalu soal tanganku ini..." Nisa lalu menatap tangannya dengan raut wajah murung, "Kau pasti paham, jadi tolong rahasiakan dari ayah sama ibu ya?" ucap Nisa dengan senyum terpaksa.


"Oke, aku rahasiakan..."


Pasti gara-gara kak Ricky! Kak Nisa kasihan banget... seandainya saja kak Nisa bisa sepertiku, pasti dia nggak akan terlalu sakit hati.


"Ayah sama ibu kemana Rei?" tanya Nisa.


"Oh, ayah ada keperluan sama paman Chandra, lalu ibu juga ada urusan di balai desa, tapi nanti sore mereka berdua pasti udah pulang kok. Kakak perlu aku bantuin nggak?" Reihan lalu berjalan mendekat ke arah Nisa.


"Nggak perlu! Tapi, ayo sini..." Nisa menarik tangan Reihan lalu mengajaknya untuk duduk bersama di atas ranjang miliknya. "Nah, begini kan baru enak~ ayo kita bicara~" ucap Nisa sambil tersenyum.


"Emmm... k-kak," ucap Reihan dengan nada ketakutan.


Mau apa nih? Kok feelingku nggak enak ya...


"Adikku sayang~" Nisa tiba-tiba mencekik leher Reihan, "Maksudmu apa hah!? Kau merayakan kepergianku, bahkan juga mengundang teman-temanmu. Apa kau bahagia jika aku pergi dari rumah ini!?"


"Uukhh... k-kak... l-le... p-pas... m-maaf..." Reihan meronta dan mencoba melepaskan tangan Nisa dari lehernya.


"Hmph!" Nisa lalu melepaskan tangannya dari leher Reihan.


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Reihan lalu mengatur napasnya, "Kakak kebangetan banget sih! Apa kakak mencoba membunuhku? Aku bukannya senang kalau kakak pergi dari rumah ini, aku itu sedang merayakan pernikahan kakak!" Reihan lalu bergeser sedikit menjauh dari Nisa.


"...." Nisa hanya diam dan melototi Reihan.


Habislah aku... kak Nisa nggak percaya, aku harus apa...? Ya Tuhan... sekarang aku hanya bisa memohon.


"Kakak, kak Nisa baik deh, kakak sangat baik hati sudah mengampuni nyawaku... maafkan aku ya~" Reihan memohon dengan tampang memelas sambil memijat-mijat tangan Nisa.


"Cukup! Aku ampuni kau kali ini!" Nisa lalu menepis tangan Reihan, "Kenapa hari ini kau ada di rumah? Kau bolos sekolah ya?" tanya Nisa yang seketika kembali tenang.


"Sekolah? Hari ini libur woi, kakak ini pelupa banget. Aku tahu, pasti kak Nisa kelelahan karena semalam!" Reihan tersenyum nakal sambil mengangkat kedua alisnya.


"Kenapa kau senyum-senyum nggak jelas begitu? Kau tahu dari mana semalam aku ngapain aja?"


"Hehehe, ternyata aku benar! Kakak cerita dong~ bagaimana kakak ipar memuaskan kakak~"


"Memuaskan? M-maksudmu i-itu ya...?" tanya Nisa terbata-bata.


"Ya iya lah, skidipapap biskuit ahoy garing renyah uhuy! Ayolah kak~ ceritakan tentang hal itu~" ucap Reihan dengan antusias.


Plaaak....! Suara tamparan.


"Sakit woi, kenapa aku ditampar!?" teriak Reihan seakan tidak terima.


"Hehehe, sakit ya~ mau tambah gak? Ayolah adikku sayang~ sini main sama kakak~" ucap Nisa sambil tersenyum, senyum kematian.


Melihat kakaknya yang tersenyum seperti itu Reihan langsung berusaha untuk berlari keluar secepat mungkin, tapi sayangnya Nisa telah memegangi bajunya dari belakang. Dan waktu siksaan untuk Reihan akhirnya dimulai.


"Hei~ mau kemana~ ayo-ayo~ temani kakak bermain~"


"Glup..." Reihan menelan ludah, "K-kak... tolong lepaskan aku, kakak main saja sama samsak tinju milik kakak... a-aku terlalu lemah... tolong..." ucap Reihan dengan nada ketakutan.


"Hahaha, kau ini~ seru loh main sama kakak~ masa nggak mau sih~"


Nisa lalu berdiri dan kemudian mendorong Reihan hingga terjatuh ke lantai, namun Reihan masih berusaha untuk kabur.


"Kakak itu psikopat! Kalau kak Nisa menghajarku, nanti aku bilangin ke ayah loh!" Reihan berusaha kabur dengan berjalan mundur perlahan, tapi saat itu juga Nisa malah menarik kakinya. "Aaahhh! Siapa pun tolong aku! Kak Nisa sudah gila!"


Nisa lalu mendekatkan wajahnya pada Reihan, dan dengan senyuman dia berkata, "Ayolah~ sebentar saja... cuma main-main sampai kau pingsan kok, nanti setelah pingsan aku bangunin, setelah itu baru kau bilang pada ayah~ Seperti itu sangat seru kan?"


"Ya Allah, Tuhan Yesus, Dewa Narayan, Budha Rulai, Jagat Dewa Batara, siapa pun tolong aku! Selamatkan aku dari siksaan ratu iblis ini!" teriak Reihan histeris.

__ADS_1


Ya... dan begitulah akhirnya. Nisa kemudian mulai menghajar Reihan, tapi dalam beberapa pukulan akhirnya Reihan jatuh pingsan.


__ADS_2