
"Dinodai bagaimana?" Nisa lalu mencengkeram pundak Reihan. "Apa cewekmu itu jauh lebih barbar dibanding aku?"
"Mana mungkin, kak Nisa kan cewek paling barbar sedunia. Aku ini benar-benar dinodai, sekarang aku nggak suci lagi, darah yang mengalir di tubuhku adalah darah kotor ... Harga diriku sebagai fakboy telah diinjak-injak ..."
"Kok bisa?"
"Ya bisa lah, harga diriku hancur gara-gara ditraktir cewek. Aku nggak tahu kalau dia banyak uang. Masa aku sebagai cowok fakboy ditraktir cewek? Sumpah demi sempaknya mimi peri, itu bukan gayaku!"
"...." mata Nisa berkedut, dia lalu perlahan melepaskan cengkeraman tangannya dari pundak Reihan. Kemudian dia tiba-tiba menjitak jidat Reihan sekeras mungkin.
CTAK!!
"Sakit woii! Kenapa sih kakak kejam banget? Aku ini habis dinodai loh! Kak Nisa nggak kasihan apa?"
"Kasihan? Cuma mimi peri yang kasihan padamu! Kalau takut darahmu kotor, tinggal muntahkan saja makanan yang cewekmu traktir!"
"Mana bisa? Sekarang mah sudah sampai di usus dua belas jari. Intinya aku telah dinodai, sekarang cewekku nggak ada."
"Heemm ..." untuk sejenak Nisa terdiam dan bergeser lebih dekat dengan Reihan, dia lalu berbisik, "Jadi nanti pulang sendiri kan?"
"Ho'oh, i'm alone ... emang kenapa?" bisik Reihan.
"Bareng dong, malam ini aku ikut pulang ke rumah, nanti nginep. Aku bingung kalau sampai pulang bareng kakak iparmu. Emangnya bawa motor yang mana?"
"Yang vespa, biasalah ... kesukaan cewek-cewek. Nanti aku bonceng kakak gitu?"
"Iya, mau kan? Nanti kalau mau aku top up diamond deh ..."
"Oke, tapi aku cuma bawa satu helm. Kakak nggak pakai gapapa?"
"Gapapa kok, nanti lewat jalan tikus, jadi nggak bakal ditilang."
"Ehem!! Istriku ... apa yang kalian bicarakan?" tanya Keyran dengan senyum jahat.
"Ahaha ... i-itu biasalah, cuma percakapan kakak adik."
Nisa lalu tersenyum dan melirik ke arah Reihan. Reihan menangkap isyarat dari Nisa, dia mengangguk dan tiba-tiba berdiri.
"Ya ampun!! Di langit ada babi terbang!!" teriak Reihan sambil menunjuk ke arah langit.
Seketika semua orang termasuk Keyran, Jonathan dan Ricky menengadah ke langit. Tanpa basa-basi lagi Reihan langsung menarik tangan Nisa dan mengajaknya untuk kabur bersama.
"Hahaha! Dadah kakak-kakak ipar sekalian! Yang akur ya!!"
Ketiga pria yang ditinggalkan itu hanya tertegun melihat sang pujaan hati dibawa kabur oleh adiknya. Dan setelah kepergian Nisa dan Reihan, suasana di antara ketiga pria itu berubah kembali menjadi mencekam. Mereka bertiga diam seribu bahasa, namun tatapan sinis tak henti-hentinya berlangsung.
Di tengah-tengah itu akhirnya Keyran yang memulai percakapan. "Sekarang istriku sudah pergi, maka aku akan berterus terang kepada kalian. Yang aku inginkan tidak banyak, aku hanya ingin kalian berdua menjauh dari Nisa! Sekarang Nisa telah menikah, dan aku adalah suaminya. Kalian hanya orang luar, harusnya kalian sadar tempat!"
"Heh," Jonathan menyeringai. "Kau bangga sekali hanya karena kau adalah suaminya. Apa kau kira kau adalah suami yang baik, suami yang cocok untuk Nisa? Kau bahkan tidak pernah memahami Nisa itu seperti apa, dan tidak tahu apa yang dia rasakan. Mungkin saja baginya kau cuma suami pajangan."
"Ckck ..." Ricky tersenyum sinis. "Kau bicara seperti ini, memangnya kau memahami Nisa? Asal kau tahu, Nisa itu adalah tipe orang yang istimewa. Kau harus mengikuti permainannya jika ingin memenangkan hatinya. Kau bahkan ditolak oleh Nisa secara mentah-mentah." Ricky lalu melirik ke arah Keyran. "Tadi kau bilang kalau aku harus sadar tempat. Aku akui, kau memang lebih unggul karena kau suaminya Nisa. Mungkin raganya adalah milikmu, tapi hatinya ... bukan untukmu."
"Wah ... ternyata kau punya nyali bicara seperti ini." ucap Keyran seakan meremehkan. "Kau hanya seorang mantan, lebih tepatnya seorang yang gagal, kau telah gagal menjaga Nisa untuk tetap bersamamu. Aku akui, kau memang tidak bisa diremehkan. Dulu kau tidak apa-apanya dibanding aku, tapi sekarang kau bisa sebanding denganku. Tekadmu untuk merebut Nisa memang luar biasa, tapi semua itu tetap saja percuma."
"Kenapa yakin sekali kalau itu akan percuma? Akulah yang pernah dicintai oleh Nisa, akulah yang pernah diharapkan olehnya. Bukan kau yang menentukan hasil akhirnya, semuanya ditentukan oleh Nisa sendiri."
"Hehe ... tidak tahu malu! Apa kau pikir kau pantas bicara begitu hah!?" Jonathan menatap Ricky dengan tatapan membunuh. "Memang benar jika kau yang pernah diharapkan oleh Nisa. Dan asal kau tahu, harapan itu sendiri yang telah membuat Nisa menjadi terpuruk. Saat Nisa hilang arah, tanpa tujuan, putus asa, akulah yang berada di sampingnya, bukan kalian berdua. Kalian berdualah alasan kenapa Nisa menangis, jika kalian benar-benar mencintai Nisa, harusnya kalian rela melepasnya agar dia bahagia."
"Apa di otakmu tersangkut peluru?" tanya Keyran dengan tatapan merendahkan. "Apa kau pikir Nisa akan bahagia jika bersamamu? Seandainya Nisa bersamamu, maka hidup dan matinya tidak ada yang pasti. Dengan statusmu sebagai bos mafia, menempatkan Nisa di sampingmu hanya akan membuat keselamatannya terancam. Kau juga menginginkan Nisa bukan? Apa kau mau Nisa mati gara-gara ulahmu sendiri?"
"Memang apa bedanya denganmu? Dengan status dan posisi yang kau miliki banyak juga orang yang membencimu, kau sendiri juga sering kali menghadapi percobaan pembunuhan. Orang yang ingin kau mati juga banyak, dan aku termasuk salah satunya!"
"Hoho ... jika begitu bukankah sudah jelas?" tanya Ricky sambil tersenyum. "Nisa paling aman jika bersamaku, orang yang membenciku tidak banyak, yang banyak hanya orang yang iri padaku. Intinya adalah aku yang terbaik untuk Nisa! Suka atau tidak, memang itulah kenyataannya."
__ADS_1
"Tsk! Bicara dengan kalian memang tidak ada habisnya! Aku tegaskan sekali lagi, jangan harap kalau aku dan Nisa akan berpisah! Nisa adalah istriku, jika ingin merebutnya maka langkahi dulu mayatku!"
Dengan penuh kekesalan, Keyran akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan Jonathan dan Ricky. Bahkan setiap langkah yang dia ambil terlihat begitu terburu-buru.
Ricky lalu dengan santainya tersenyum kepada Jonathan. "Nah, sekarang hanya ada kita berdua. Dari tadi kau terus menatapku seperti ingin membunuhku, kau seperti itu memangnya ada dendam denganku?"
"Sebelumnya aku ingin tahu, apa kau ini psikiater?" tanya Jonathan dengan nada ketus.
"Bukan, aku ini adalah dokter spesialis bedah. Meskipun aku bukan psikiater tapi untuk masalah psikologis aku cukup paham. Apa kau ingin konsultasi?" ucap Ricky seakan mengejek.
"Meskipun jadi gila aku tidak sudi jika harus konsultasi kepadamu. Aku bertanya karena penasaran, sebenarnya apa yang kau lakukan kepada Nisa? Apa kau pernah mencuci otaknya?"
"Ckck ... mana mungkin aku mencuci otak kekasihku sendiri. Kau bertanya seperti ini pasti karena penasaran alasannya Nisa sampai sekarang belum bisa melupakan aku. Asal kau tahu ya, semua itu normal, inilah cinta, cintaku sudah merasuk ke jiwanya. Lagi pula cinta itu soal perasaan, bukan soal logika."
"Cih, omong kosong! Aku ingin kau menjauh dari Nisa, jangan ikut bersaing denganku! Nisa sudah mencoba untuk melupakanmu!"
"Kau punya hak apa untuk mengaturku? Tekadku sudah bulat, sampai akhir aku akan terus berjuang untuk mendapatkan Nisa kembali. Dan yang sebaiknya mundur adalah dirimu, kau yang menghalangi jalan untuk Nisa bahagia."
"Bagaimana bisa aku jadi penghalang? Nisa selalu tersenyum saat bersamaku, dia sudah menganggapku sebagai tempatnya bersandar. Tidak sepertimu, mengingatmu saja dia sudah bersedih."
"Aku peringatkan, jangan terlalu berharap! Kau sudah mengakui perasaanmu tapi langsung ditolak olehnya. Nisa memang seperti itu, dia mengatakan yang sebenarnya yang dia pikirkan. Dia tidak pernah sengaja menyakitimu, dia memang sudah mencintai seseorang sebelum kau datang. Jadi menepilah, kau menghalangi jalannya untuk bahagia."
"Mencintai seseorang? Apakah itu dirimu? Apakah kau masih yakin kalau Nisa mencintaimu?"
"...." Ricky lalu memalingkan wajahnya. "Yaa ... begitulah, aku yakin masih ada aku di hatinya."
Meskipun sebenarnya aku sangat enggan mengakui kalau Nisa sekarang telah berubah. Tatapan matanya kini samar-samar kembali seperti dulu lagi, samar-samar aku merasa kalau dia memang ingin melupakanku dan hanya menganggapku sebagai orang asing. Terlebih lagi saat dia menatap suaminya, tatapan itu seperti tatapan yang dulu dia perlihatkan padaku. Aaahh sialan! Ini memuakkan.
"Bagaimana bisa kau begitu yakin kalau Nisa akan kembali bersamamu?"
"Itu karena aku mencintainya. Aku mencintainya tanpa syarat, yang aku inginkan adalah kebahagiaannya. Aku percaya kalau Nisa akan kembali bersamaku, karena cintaku itu tulus. Semua yang dilakukan dengan tulus pasti akan berbuah manis ..."
"Sepertinya kau hanya membodohi dirimu sendiri, kalaupun Nisa bercerai, mustahil jika dia kembali bersamamu. Kau sudah terlanjur gila karena gagal mempertahankannya. Aku malas bicara dengan orang gila." Jonathan lalu beranjak dari kursi dan meninggalkan Ricky seorang diri.
"Huft ..." Ricky lalu tersenyum pahit dan menundukkan kepalanya seakan-akan terlihat tidak bernyawa.
Kata orang-orang, semua orang itu berhak untuk bahagia. Dan bahagiaku adalah mencintaimu. Jujur, sampai sekarang aku masih belum mengerti. Aku belum mengerti kenapa Tuhan mengatur semua ini. Tapi satu hal yang pasti, aku tulus mencintaimu.
Sekarang ... melihat begitu banyak orang yang ingin membahagiakan dirimu, aku telah membuat keputusan. Aku melepasmu, jika kamu adalah cinta sejatiku, maka esok pasti akan kembali dengan cara yang mengagumkan. Mungkin ini terkesan bodoh dan naif, tapi aku percaya pada Tuhan. Tuhan tidak akan pernah membiarkan sesuatu menjadi sia-sia. Tuhan tidak akan membiarkan cintaku dan pengorbananku menjadi sia-sia.
Ricky lalu mendongak dan kemudian mengambil ponselnya dari saku celana. "Cih, dimana Aslan? Dia enak-enak pacaran sedangkan aku kelelahan habis perang. Sungguh ... dasar setia kawan!"
Tapi lumayan lah, berkat dia yang memaksaku ikut ... aku punya kesempatan untuk bertemu dan bicara dengan Nisa secara langsung. Lebih baik tunggu sebentar lagi, Aslan juga berhak bahagia.
***
Nisa dan Reihan yang telah kabur meninggalkan bazar akhirnya sampai di rumah. Saat mereka melewati ruang tengah yang ada ayah ibunya beserta adik bungsu mereka yaitu Dimas, ketiga orang yang sedang asyik menonton TV itu terkejut saat melihat Nisa berada di rumah.
Meskipun begitu, tata krama tetaplah nomor satu. Nisa dan Reihan menghampiri ayah dan ibunya lalu bersalaman dan mengucapkan salam kepada mereka.
"My momsky ... aku pulang~ aku bawa cewek baru loh~" ucap Reihan sambil tersenyum.
"Diih ... cewek baru apanya? Kenapa sih tumben malam-malam ke sini? Apa suamimu tahu?"
"Ibu ... kenapa sih kok kayaknya nggak suka kalau aku ada di sini? Apa aku sudah dicoret dari KK?"
"Bukan begitu maksud ibumu, kau seharusnya bersikap baik kepada suamimu. Seperti ibumu ini loh, juga bersikap baik ke ayah. Memangnya ada urusan apa kau pulang ke sini?"
"Ayah kepo. Aku main ke sini karena kangen kok, cuma itu ..." Nisa lalu bergegas untuk duduk di sebelahnya Dimas yang berada di karpet depan tv. Dia bahkan juga mencomot makaroni yang dipegang oleh Dimas. "Minta dong, makasih!"
"Kau adalah tipe manusia yang paling ku benci!" ucap Dimas dengan wajah cemberut, dan dia kemudian bergeser sedikit menjauh dari Nisa. "Kak Nisa tumben malam-malam ke sini, apa karena berantem sama kakak ipar?"
"Nggak, nggak berantem. Nggak ada apa-apa ..."
__ADS_1
"Yaa ... emang nggak berantem sih," Reihan juga duduk di sebelah Dimas dan turut mencomot makaroni miliknya. "Kak Nisa cuma takut, dia takut karena ketahuan selingkuh~"
"Apa!?" teriak samua orang kecuali Nisa dan Reihan.
"Woii! Bisa diem nggak sih!" Nisa mencomot lagi makaroninya Dimas lalu melemparnya kepada Reihan tepat di kepalanya. "Ngawur! Dasar adek anjing!"
"Ya emang bener!" Reihan juga mencomot makaroninya Dimas lalu membalas Nisa. "Dasar kakak bangs*t!"
"Kakak goblook!!" teriak Dimas yang langsung berdiri. "Makaroniku terbuang sia-sia! Ini mubazir!"
"Diem deh! Dasar adek babi!" teriak Nisa dan Reihan bersamaan.
"Huh!" Dimas langsung menuju ke tengah-tengah ayah dan ibunya yang duduk di sofa. "Ibu ... ayah ... kalian lihat kan? Kak Nisa sama kak Rei menindasku ..."
"Iihh nggak tahu malu! Udah gede masih kayak bocil! Ini nih ... makanya jomblo terus ..." ejek Reihan.
"Lah, mending aku jomblo! Ketimbang selingkuh ketahuan sama suami ..." ejek Dimas dengan muka minta dihajar.
"WTF! Siapa juga yang selingkuh!? Nggak ada bukti nggak usah ngebac*t deh!"
"Kak Reihan noohh ... saksinya!"
"Cukup!! Kalian semua diamlah! Apalagi kau Nisa! Seharusnya kau ada perubahan sikap karena telah menikah, bukannya malah ikut-ikutan seperti adikmu yang masih kecil! Jika sikapmu saja masih seperti ini, bagaimana nanti jika kau punya anak!? Ibumu ini pusing dengan kelakuanmu ..."
"Ayah sependapat dengan ibumu. Yang dibicarakan ini masalah serius, apa kau benar berselingkuh dari suamimu!? Asal kau tahu ya, jika benar pasti sekarang suamimu sedang kecewa padamu, ayah ini juga seorang suami, ayah bisa paham apa yang dia rasakan."
"Ayah ... ibu ... sumpah demi warisan aku nggak selingkuh! Ini cuma salah paham. Aku cuma berkumpul dengan teman-temanku, dan kebetulan temanku adalah laki-laki, makanya jadi salah paham ... toh cuma main ke bazar, makanya aku bisa bareng sama Reihan."
"Ayah rasa ada yang janggal. Reihan, apa benar yang dibilang kakakmu?"
"Emmm ... Yaa gitu deh ..."
Kalau aku bilang juga ada kak Ricky, nanti pastinya bakal lebih ribet. Terus kak Nisa pasti juga akan perhitungan denganku. Lebih baik aku cari aman.
"Nah, ayah sama ibu percaya kan? Ini cuma salah paham, Reihan tadi itu cuma iseng." Nisa lalu melirik ke arah Reihan dan tersenyum. "Iya kan adikku sayang?"
"Iyaa ... cuma iseng, aku iseng karena kangen sama kakak!" Reihan tiba-tiba mendekat ke arah Nisa lalu memeluknya. "Kangen deh ... kakak juga kangen sama aku kan?"
"Iya, kangen bangeeet ..." Nisa lalu membalas pelukan dari Reihan. "Ayo mabar, kita eratkan ikatan kakak adik ... nanti aku top up diamond ..."
"Top up? Aku juga ikut mabar dong!!" ucap Dimas dengan antusias.
"Boleh, ayo mabar di tempat lain. Kita ke kamarku!" ucap Nisa dengan senyum terpaksa.
Ketiga bersaudara itu pun segera menuju ke kamarnya Nisa untuk main game bersama. Semua itu dilakukan oleh Nisa hanya demi mengalihkan topik perselingkuhan yang dibicarakan oleh orang tuanya. Namun karena Nisa masih frustrasi, mereka bertiga hanya bermain sebentar.
Nisa mengusir kedua adiknya dari kamarnya. Dia merasa sangat lelah dan butuh tidur. Ketika dia sudah berganti pakaian dan bersiap untuk tidur, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Tok tok tok ...
"Kakak! Ini aku, Dimas! Buka pintunya woi!"
"Tsk! Iya iya ... sebentar."
Apaan sih? Ganggu banget.
Dengan tubuh yang lesu dan malas, Nisa terpaksa membuka pintu. Bahkan dia membukanya hanya sedikit saja.
"Ada apa sih?"
"Selamat malam, kakak diminta menghadap presiden."
"Serius woii! Aku nggak ada waktu buat bercanda!"
__ADS_1
"Aku juga nggak bercanda kok." Dimas lalu bergeser ke samping. "Nih, presiden!!"
"Hah!? Key ...!?"