
Sontak saja semua orang terkejut dengan ucapan dari kepala pelayan itu. Cucu dari mana? Hal itulah yang berada di benak mereka yang masih berusaha mencerna keadaan. Selera makan seketika menghilang, mereka mulai menerka-nerka apa saja kemungkinan yang tidak-tidak.
Di antara mereka ada satu orang yang memberikan reaksi berbeda, dia tidak lain adalah Nisa. Tangan yang masih berada di atas meja itu terlihat gemetar sambil menggenggam sebuah pisau steak, dia diam seribu bahasa tetapi memberikan tatapan membunuh kepada suaminya.
"A-aku bersumpah kalau itu bukan aku!" ucap Keyran yang mulai gugup saat melihat tatapan mata istrinya itu. "Kau percaya padaku, kan?"
"Sedang kucoba," jawab Nisa dengan senyuman sinis.
Nisa yang mempunyai gangguan kecemasan umum tentu saja merasakan kekhawatiran yang luar biasa. Dadanya terasa sesak, perasaan-perasaan rumit berkecamuk di dalam dirinya. Dia berpikir akan jadi sebuah ironi jika suaminya benar-benar memiliki bayi dengan wanita lain, sedangkan dirinya sendiri belum lama mengalami keguguran.
"Hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja," ucap Tuan Muchtar sambil bangkit dari kursi.
"Ayah ingin menemuinya?" tanya Daniel.
"Iya, gadis itu berani bertindak sampai mengunjungi kediaman keluarga kita, artinya dia punya nyali." jawabnya dengan alis berkerut.
"Saranku jangan, ayah mungkin hanya akan buang-buang waktu. Mungkin saja dia cuma ingin mengambil keuntungan dari kita, lagi pula apa gunanya punya nyali yang besar jika dia datang demi kebohongan?"
Tuan Muchtar memalingkan wajah dari putranya itu dan berganti menatap sang kepala pelayan. Dengan suara pelan dia berkata, "Aku tahu kau tidak mungkin punya pandangan yang sembarangan, kau bisa membiarkan hadis yang mengaku-ngaku itu masuk, apa kau mengenalnya?"
"Benar, Tuan. Saya memang mengenalnya. Dia bukan gadis sembarangan, melainkan direktur utama dari One INC Entertainment. Nona dari keluarga Adinata."
Pria tua itu semakin terkejut saat mendengar jawaban dari kepala pelayan itu. Lalu dengan lantang dia berkata, "Ini benar-benar masalah serius, kalian semua juga temui gadis itu!"
Ekspresi panik dari pria tua itu menimbulkan rasa penasaran yang besar bagi yang lain. Mereka semua seketika beranjak dari kursi, meninggalkan meja makan dan bergegas pergi menuju ke ruang tamu.
Tetapi Nisa memperlihatkan sikap yang lain, dia merasa harap-harap cemas dengan apa yang sudah menantinya di ruang tamu. Rasa gelisah itu membuahkan rasa curiga, dia tiada hentinya menghindari berkontak mata dengan Keyran.
Menyadari sikap istrinya yang seperti itu, Keyran langsung berkata, "Percayalah padaku, apa pun yang sudah terjadi pada gadis yang mengaku-ngaku itu, aku bersumpah itu sama sekali tidak ada hubungannya denganku!"
"..." Nisa membisu, dia masih tak mau menatap suaminya itu.
"Tenanglah Nisa." Keyran tiba-tiba meraih tangan Nisa, namun sekejap kemudian Nisa menepis tangan yang hendak menggenggamnya dengan hangat itu.
"Jangan sentuh aku!" ucapnya penuh penekanan. Dia lalu mempercepat jalannya demi mendahului Keyran.
Benar saja, sesampainya di ruang tamu mereka semua melihat sesuatu yang mengejutkan. Seorang wanita muda yang berpakaian formal dan rapi tampak sedang duduk menanti di sofa, di pangkuan wanita itu terdapat seorang bayi mungil yang tampak sedang tidur dengan pulasnya.
Wanita yang sedari tadi menunduk sambil tersenyum tipis memandangi bayi di pangkuannya itu tiba-tiba mendongak, lalu mengubah ekspresinya menjadi serius sambil menatap semua anggota keluarga Kartawijaya satu per satu secara bergiliran.
"Suatu kehormatan bagiku bisa disambut oleh kalian semua," ucapnya dengan ekspresi datar.
Tidak ada yang menjawab ucapan dari wanita itu, semuanya hanya membisu dan lekas duduk di sofa yang lain. Nisa yang masih marah juga menjaga jarak duduknya dengan Keyran meskipun duduk di sofa yang sama.
Mereka semua merasa gugup lantaran tahu bahwa wanita yang datang bukanlah wanita sembarangan. Dia adalah Nona tertua dari keluarga konglomerat lain, keluarga Adinata. Pemegang kekuasaan terbesar kedua pada perusahaan entertainment yang paling berpengaruh di dunia hiburan, direktur utama One INC Entertainment, Chelsea Almayra Adinata.
Menyadari seberapa penting dan serius perbincangan yang akan terjadi, kepala pelayan pun pergi.
"Ehem, menurut keterangan dari pelayan tadi ... Bayi yang kau bawa adalah cucuku. Apa itu benar?" tanya Tuan Muchtar.
"Benar, Tuan. Kedatangan saya ke sini karena ingin meminta pertanggungjawaban dari keluarga Anda. Ayah dari bayi ini adalah putra Anda." ucap Chelsea dengan nada pelan, dia tidak ingin bayi itu terbangun.
"Hei, jangan sembarangan bicara! Apa kau punya bukti?!" tanya Daniel dengan ketus.
Seketika Chelsea menggunakan telapak tangannya untuk menutupi telinga bayi itu. Dia lalu menatap Daniel dengan tatapan sinis. "Mohon jangan bicara terlalu keras, saya tidak ingin bayi ini terbangun dan menangis lagi."
Chelsea lalu beralih menatap Tuan Muchtar, "Saya datang ke sini tentu saja dengan persiapan, jika Tuan memerlukan bukti, maka akan saya berikan! Bukti itu merupakan laporan hasil tes DNA."
Chelsea menyodorkan selembar amplop berwarna putih ke meja, dan Tuan Muchtar langsung saja mengambil amplop itu. Sebelum membukanya, dia memperhatikan betul-betul nama laboratorium rumah sakit mana yang tertulis di luar amplop.
__ADS_1
Rumah sakit itu adalah rumah sakit pusat, sudah tidak diragukan lagi kebenaran dari hasil tes itu. Dia lalu membuka amplop itu dan membaca isinya dengan saksama. Begitu selesai membacanya, pria tua itu menunjukkan ekspresi aneh sambil menatap sang bayi yang tertidur pulas.
Keyran yang berada dekat di samping ayahnya tiba-tiba merebut surat itu dan ikut membacanya. Dia tercengang dengan isi dari surat hasil tes DNA tersebut.
[Hasil analisa menunjukkan bahwa tiga belas alel Loci marka STR terduga ayah cocok dengan alel paternal dari anak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa probabilitas terduga ayah sebagai ayah biologis dari anak adalah lebih dari 99.99%, oleh karena itu terduga ayah tidak dapat disingkirkan dari kemungkinan sebagai ayah biologis anak]
Keyran ternganga, dia juga menatap Chelsea dengan tatapan tidak percaya. "Tunggu sebentar ... Ini sungguhan?"
"Tentu saja, demi meminta pertanggungjawaban dengan cara terhormat, tidak mungkin bagiku untuk memalsukan hasil tes itu." jawab Chelsea.
"Heh, melihat dari ekspresi kalian berdua sudah dapat disimpulkan apa hasilnya." Daniel kemudian beralih menatap Chelsea dengan tatapan sinis. "Dengar baik-baik ya Nona, jika memang hasil tes itu benar maka silakan jangan sungkan-sungkan meminta pertanggungjawaban dari kakakku!"
Ekspresi semua orang langsung berubah begitu mendengar pernyataan ketidakterlibatan dari Daniel. Terutama Nisa, wajahnya memerah karena marah, dia menggigit bibirnya sendiri sambil menatap Keyran.
"Hei, apa maksudmu?! Jangan bicara sembarangan!" teriak Keyran seakan tidak terima.
"Aku mana ada bicara sembarangan? Kita semua tahu kalau yang datang adalah Nona Chelsea! Dan di antara kita yang paling memungkinkan untuk sering bertemu dengannya adalah kakak sendiri! Aku tahu kalau perusahaan keluarga kita dan keluarga Adinata punya beberapa hubungan kerja sama, kakak sendiri bukan yang selalu mengurus soal kerja sama itu? Terlebih lagi di saat kakak belum menikah dengan kakak ipar sekarang, dulu kakak juga membawa Nona Chelsea ke rumah untuk dikenalkan ke ayah." Daniel bersikeras.
"Tapi ..." Keyran lalu menatap Chelsea lekat-lekat. "Aneh ... waktu terakhir kali kita bertemu dan membahas soal kerja sama antar perusahaan itu sekitar sebulan yang lalu. Aku ingat jelas saat itu bahwa perutmu biasa saja, tidak seperti orang yang mengandung. Sebenarnya bayi siapa yang kau bawa?"
Chelsea tersenyum tipis. "Tuan Muda Keyran memang orang yang cermat. Bayi ini memang bukan anak saya, tapi ... adik saya! Dan orang yang saya minta untuk bertanggungjawab adalah Tuan Muda Daniel."
"Apa?!"
Semua orang lebih terkejut lagi, tapi ada dua orang yang jauh lebih terkejut, yaitu Daniel dan Nisa. Pikiran kedua orang itu sudah melayang hingga ke mana-mana, di satu sisi Nisa kenal betul siapa adik dari Chelsea, tetapi di sisi lain Daniel tidak kenal siapa adik Chelsea dan siapa gadis yang telah dia tiduri.
"Nak, lalu sekarang di mana adikmu itu? Kenapa bukan dia yang ke sini?" tanya Nyonya Ratna pada Chelsea.
"Dia sekarang masih menunggu di luar, dia bilang takut jika harus berhadapan dengan kalian."
"Suruh dia ke sini!" seru Tuan Muchtar yang kemudian beralih menatap tajam Daniel. "Dan kau ... lebih baik kau diam saja nanti, kita semua akan tahu kesalahan apa yang sudah kau perbuat!"
"Huh," Daniel memalingkan wajahnya, dia masih berusaha mengingat-ingat tentang gadis mana yang pernah dia tiduri.
Meskipun dia cantik, datang dengan elegan dengan pakaian dress mewah yang berkancing depan. Ibu dari bayi itu tampak tidak percaya diri, dia terus-menerus menundukkan kepala. Hingga rasa penasarannya tak terbendung lagi, secara perlahan dia mengangkat kepala demi melihat semua orang yang sudah menantinya.
"Natasha!!?" teriak Nisa yang terkejut setengah mati. Meskipun tadinya dia sudah menduga, tapi dia tidak menyangka bahwa dugaannya benar. Dia kemudian membungkam mulutnya sendiri dan bola matanya terus melihat ke kanan kiri, dia berusaha mencerna keadaan yang rumit ini.
"K-kau ... Pelac*r!!" teriak Daniel secara spontan sambil menuding ke arah Natasha.
"Oeekk ... oeek ..." Tangisan bayi di pangkuan Chelsea terdengar keras. Seketika saat itu juga Chelsea terus mencoba untuk menenangkan bayi itu, namun hasilnya nihil.
Tangisan bayi belum berhenti dan Chelsea beralih menatap sinis kepada Daniel. "Jaga kata-katamu, Tuan! Adikku bukan seorang pelac*r!"
"Ka-kakak ...!" Natasha yang tak tahu harus berbuat apa langsung mendekati kakaknya.
Tak ada satu pun yang bicara, suara yang terdengar hanyalah suara tangisan bayi. Kedatangan Natasha merupakan suatu hal yang mengejutkan bagi mereka, terlebih lagi mereka juga sedikit heran karena Nisa dan Daniel sama-sama mengenal Natasha.
"Sshhh ... tenanglah sayang, cup-cup ... anak baik ..." ucap Chelsea yang masih berusaha menenangkan bayi itu, namun yang terjadi keponakannya itu tak kunjung tenang. "Sepertinya aku harus pergi, kau bisa jelaskan semuanya pada mereka sendiri." ucapnya pada Natasha.
"Kak ... aku takut," rengek Natasha sambil menggenggam lengan baju Chelsea.
Penjelasan dari mulut Natasha sangatlah penting dan tidak bisa ditunda-tunda lagi. Akhirnya Tuan Muchtar memanggil salah seorang pelayan di kediaman yang cukup ahli mengenai anak kecil untuk menenangkan bayi tersebut di ruangan lain. Awalnya Chelsea ragu, namun mengingat situasi yang sekarang akhirnya dia menyerahkan bayi itu kepada pelayan.
Suasana kembali menjadi tenang, semuanya sudah tidak sabar menanti penjelasan dari mulut Natasha. Tanpa basa-basi lagi Tuan Muchtar langsung berkata, "Jika kau memang benar ibu dari cucuku, di mana awal kesalahan ini terjadi?"
Natasha diam, dia tidak berani menatap langsung tatapan Tuan Muchtar. Namun Chelsea yang berada di sampingnya lalu memberikan isyarat agar Natasha tidak khawatir tentang apa-apa.
Natasha mengangguk pelan, "I-itu ... terjadi di hotel, Hotel Royal."
__ADS_1
"Benarkah itu, Daniel?" tanyanya dengan sinis.
"Hahh ..." Daniel memegang keningnya yang mulai terasa pening. "Aku akui kalau aku memang melakukan sesuatu di hotel itu. Tapi ini bukan salahku!"
"Jadi kau tidak mau mengakui kesalahanmu?" sindir Keyran sambil tersenyum miring.
"Diamlah, Kak! Kau tak tahu yang sebenarnya!"
"Nak, jangan terbawa emosi ... Jelaskan semuanya pelan-pelan saja." ucap Nyonya Ratna sambil menepuk bahu Daniel.
Daniel menunduk. "Aku tidak ingat kapan tepatnya tanggal hari itu. Tapi saat itu aku memang sudah membuat janji dengan perusahaan start-up. Perusahaan itu menawarkan wanita untukku agar bisa menjalin kerja sama, yang mereka janjikan adalah seorang model yang juga baru akan debut."
"Aku ini seorang pria tulen, aku juga perlu menyalurkan hasratku. Hotel Royal memang tempat langgananku melakukan reservasi, khususnya kamar nomor 101. Hari itu ... aku datang ke hotel sesuai janji, saat aku masuk ke kamar aku sudah menemui gadis yang berbaring di ranjang dan pakaiannya pun dress pesta yang cukup terbuka. Tentu saja aku berpikir kalau dia adalah gadis yang sengaja ditujukan untukku. Tapi sekarang ..."
Daniel lalu menatap Natasha. "Gadis itu berada di sini dan membawa seorang bayi! Parahnya lagi mengaku kalau bayi itu adalah anakku! Sebenarnya siapa yang salah?! Siapa yang seenaknya masuk ke dalam kamar orang lain?!"
Air mata Natasha jatuh tanpa seizinnya, dia yang sedari tadi menatap lututnya sendiri tiba-tiba mendongak. "Kau pikir aku mau?! Aku masuk ke kamar itu tanpa sepengetahuanku! Aku juga dirugikan di sini! Aku awalnya seorang gadis yang punya mimpi dan orang lain yang aku sukai! Tapi sekarang semua itu hancur!"
"Oh, benarkah? Lalu bagaimana kau bisa ada di hotel itu? Mungkin saja sebenarnya kau juga berhubungan dengan orang lain yang kau sukai itu tapi dia tidak mau tanggung jawab, jadi kau menargetkan aku untuk menanggung semuanya!" ucap Daniel.
"Keterlaluan!! Bahkan jika itu benar adanya, aku sangat bersyukur atas hal itu! Setidaknya aku melakukannya bukan dengan pria buruk sepertimu!" teriak Natasha yang air matanya semakin mengucur deras.
"Tenanglah ..." Chelsea menepuk-nepuk punggung adiknya itu. "Jelaskan dari awal, agar kau tak selalu disalahkan."
"A-awalnya ... aku datang ke hotel itu karena menghadiri acara pesta koktail yang diadakan di sana. Aku datang bersama orang yang aku sukai, dia adalah Kak Ricky."
"Tunggu sebentar!" sahut Nisa, "Ricky? Maksudmu ketua dari Asosiasi Kedokteran yang sekarang?"
"Iya, Ricky mantanmu! Tapi saat itu dia masih belum menjabat posisi itu!" ucap Natasha dengan ketus.
"O-ohh ... ya sudah, lanjutkan saja ceritamu." Nisa lalu bersandar pada sofa, dia juga memegang keningnya yang mulai terasa pening.
"Yang mendapatkan undangan ke pesta sebenarnya adalah Kak Chelsea, tapi Kak Ricky bilang padaku kalau dia sedang kesusahan. Katanya dia ingin berkenalan dengan orang-orang penting, karena itu aku menggantikan Kakak dan mengajak Kak Ricky sebagai partner dalam pesta itu."
Di sisi lain Nisa memalingkan wajahnya dan tersenyum sinis sambil bergumam, "Ternyata tidak berubah."
Kau selalu saja bisa memanfaatkan orang dalam segala situasi.
"Aku pikir dengan mengajak Kak Ricky ke pesta itu akan terhitung sebagai kencan, tapi dia malah fokus untuk menjalin relasi dengan orang lain. Aku akui kalau aku memang tidak terkenal di dunia bisnis seperti kakakku, wajar saja jika pebisnis lain kurang familier dengan wajahku. Jadi aku juga mencoba berkenalan dengan pebisnis lain, aku lebih nyaman jika mereka perempuan. Tapi aku tak pernah menyangka kalau aku akan mabuk dalam pesta itu."
"Pagi harinya saat aku tersadar dari pengaruh alkohol, aku terbangun di kamar hotel dalam keadaan berantakan. A-aku pikir aku melewati malam romantis dengan Kak Ricky, tapi siapa sangka akhirnya malah berujung seperti ini ..."
"Sudah dengar sendiri, bukan? Tuan Besar harusnya paham jika adikku juga adalah korban yang dimanfaatkan. Adikku hanya menginginkan kencan dengan orang yang dia sukai, tapi si bedeb*h Ricky itu tidak peduli atas keselamatan adikku dan meninggalkannya begitu saja di pesta. Bahkan mungkin saja dia yang mengatur agar Natasha bisa masuk ke kamar yang salah." ucap Chelsea.
"Hmmm ..." pria tua itu mengernyit.
"Itu tidak mungkin! Ricky bukan orang yang seperti itu!" celetuk Nisa tiba-tiba dan seketika semua pandangan tertuju kepadanya.
"Aku bukannya membela Ricky karena dia mantanku, tapi aku memang mengenalnya dengan baik. Ricky orang yang baik, meskipun dalam artian kasar dia suka memanfaatkan orang lain. Tapi setidaknya dia tidak merugikan orang dia manfaatkan. Kita semua sadar menurut penjelasan dari Natasha tadi bahwa Ricky mencoba memanfaatkan Natasha demi menjalin relasi. Tapi Natasha sendiri pun juga menyukainya karena dia bisa ke pesta dengan orang yang dia sukai."
"Natasha bisa mabuk itu tidak ada sangkut pautnya dengan Ricky. Faktor utamanya mungkin karena toleransinya pada alkohol buruk. Lalu kamar nomor 101 yang telah dipesan oleh Daniel, mungkin saja Natasha bisa masuk ke kamar itu dengan sendirinya karena dia tidak sadar, bisa juga pebisnis yang semula ikut minum bersamanya atau pegawai pihak hotel itu sendiri yang membawanya ke dalam sana. Kita tahu kalau kunci kamar hotel itu bukan cuma ada 1. Menurutku masalah ini bisa terjadi karena faktor kelalaian."
Nisa lalu menatap Chelsea lekat-lekat. "Jadi jangan menuduh Ricky! Dia tidak mungkin melakukan hal sebejat itu, bahkan itu tidak menguntungkan baginya. Jika tidak percaya maka Nona Chelsea bisa memeriksanya lewat CCTV hotel itu. Tapi semua ini juga bersumber dari Natasha itu sendiri, salahkan adikmu yang terlalu polos."
"Nyonya jangan menghina adikku, dia adalah korban!" bentak Chelsea seakan tidak terima.
"Lantas? Apa kau mau bilang kalau Daniel adalah pelaku utama? Dengar ya Nona, keselamatan diri sendiri itu adalah tanggung jawab masing-masing setiap individu, jadi jangan pernah bergantung pada orang lain."
Chelsea membisu, dia merasa bahwa yang dikatakan oleh Nisa benar adanya. Karena sejak awal tidak ada unsur pemaksaan ataupun penipuan, semuanya murni atas keinginan Natasha sendiri yang datang ke hotel tersebut.
__ADS_1
"..." Tuan Muchtar diam dan tersenyum tipis sambil memandang ke arah menantunya itu.
Syukurlah, ternyata aku tidak salah memilih menantu. Dia tahu harus bersikap dan bicara tentang apa dalam situasi sekarang.