
Malam yang memesona kembali menyapa. Suasana yang begitu tenang mengiringi keindahan suasana kediaman di kala malam. Langit cerah dihias oleh gemerlap bintang-bintang yang bertebaran, menemani anggunnya sang dewi malam yang sepenuhnya tampak bulat bersinar terang menebar cahaya berkilauan.
Semilir angin bertiup meliuk-liuk menggoyangkan dahan pepohonan, hawa dingin serasa menusuk kulit. Sayup-sayup terdengar suara serangga bagaikan simfoni alam yang mengusik sepinya malam.
Jiwa-jiwa yang kelelahan sudah terlelap dan merangkai mimpi dalam tidur mereka. Sementara saat ini Nisa masih tampak terjaga, berdiri di balkon kamar sendirian menatap kesunyian malam, terdiam dalam indahnya kedamaian penuh ketenangan.
Di sisi lain di dalam kamar itu, Keyran menatap istrinya dari sebalik pintu transparan yang nyaris memisahkan mereka. Diam tak tersentuh, begitulah yang dia lihat saat ini ketika menatap punggung seseorang yang sama sekali tidak peduli dengan keberadaannya.
Keyran menunduk dan menghela napas. Dirinya sadar dengan apa yang sedang terjadi sekarang. Dia tahu bahwa Nisa menghindar darinya dan enggan masuk sampai memastikan dirinya telah benar-benar tertidur.
Keyran lalu berjalan mendekat ke arah balkon, dia menggeser pintu itu pelan-pelan agar tak menimbulkan suara yang berisik. Di satu sisi Nisa menyadari bahwa Keyran berada di sana, namun dia tak sekali pun menoleh dan tetap memilih untuk mengabaikannya.
"Ini sudah larut malam, udara juga semakin dingin. Kau masuklah, mau sampai kapan kau berdiri di sini?" tanya Keyran.
"Suka-suka aku!" jawab Nisa tanpa menoleh.
Keyran membisu, sesaat kemudian dia menyeringai dan berjalan mondar-mandir di belakang Nisa. "Huft ... Astaga, dingin sekali ... Aku harus bagaimana agar tetap hangat?"
"Masuk ke dalam sana," gumam Nisa dengan ekspresi cuek nya.
Tanpa peringatan apa pun Keyran tiba-tiba memeluk erat tubuh Nisa dari belakang. Dan tentu saja Nisa berhasil dibuat kaget olehnya. "A-apa yang kau lakukan?! Cepat lepaskan aku! Kita berdua masih-"
"Diam!" bentak Keyran yang kemudian semakin mengeratkan pelukannya. "Diamlah! Kau tak berhak berkomentar! Inilah caraku agar aku tetap hangat!"
"..." Ekspresi wajah Nisa langsung berubah drastis, saat ini entah kenapa tubuhnya sama sekali tak menolak pelukan itu.
"Aku tahu ... aku sepenuhnya sadar jika sekarang kita memang sedang bertengkar. Kita saling mengabaikan, saling menunjukkan sikap yang buruk. Tapi, aku lelah ... aku lelah terus seperti ini terhadapmu."
"Dan sekarang ... setelah memelukmu akhirnya aku tahu, sekarang aku tahu betapa dinginnya tubuhmu dan bahkan mungkin ... hatimu juga sudah membeku."
__ADS_1
"Aku sudah lelah jika seperti ini, tapi entah denganmu. Meskipun begitu, dengarkan permintaanku baik-baik, Nisa! Aku hanya akan mengatakannya sekali! Ayo akhiri ini sekarang, mari kembali ke saat-saat sebelum ini terjadi. Dan ... tolong lain kali jangan pernah ulangi lagi. Semuanya, semua yang telah kau lakukan aku mohon jangan diulangi lagi, oke?"
"..." Nisa tak menjawab.
"Aku bertanya padamu, kau harusnya menjawabku Nisa!"
"Hik ... hik ... maaf Key, maaf karena telah mengecewakanmu .... I-iya, aku juga tak mau kita begini, t-tapi ... aku janji tak akan mengecewakanmu lagi ...." Tangisan Nisa semakin deras, dia mencurahkan semua air mata yang telah dia tahan sebelumnya.
Keyran yang menyadari hal itu langsung membalikkan tubuh Nisa menghadap ke dirinya, kembali mendekapnya ke dalam pelukannya yang hangat. Dia juga mengusap kepala istrinya dengan lembut.
Sedangkan di sisi lain Nisa juga membalas pelukan dari Keyran, dia memeluk begitu erat, seakan-akan tak mau untuk lepas selamanya.
"A-aku tahu kalau aku memang manusia yang buruk ... t-tapi, seburuk-buruknya aku ... aku juga tidak mau dibenci olehmu," ucap Nisa dengan nada gemetar.
"Tidak, dasar bodoh. Mana mungkin aku membencimu, aku cuma merasa khawatir jika terjadi apa-apa padamu."
"Kau ... sungguh tidak membenciku, kan?"
"Sudahlah, berhenti menangis. Tidak ada yang pantas untuk ditangisi. Kalau kau cengeng seperti ini, aku jadi ragu apakah kau benar-benar wanita tangguh atau tidak."
"Memang apa salahnya aku menangis? Lagi pula aku tidak menangis untuk sembarang orang. Aku benar-benar takut, Key. Aku takut ... kau akan pergi, meninggalkanku, membuangku, bahkan bisa saja kau menceraikan aku."
Keyran tersenyum tipis. "Kau tak perlu takut ataupun mencemaskan hal itu, semua yang kau sebutkan itu mustahil terjadi. Justru aku yang harusnya takut, hal yang kau ikuti punya risiko yang besar, bahkan bisa saja nyawa jadi taruhan. Tapi ... aku juga tahu kalau di dunia seperti itu punya aturan tersendiri. Sekarang aku paham apa alasanmu tidak bisa berhenti."
"Nisa ... aku memang tak tahu bagaimana kau bisa terlibat dan apa saja yang telah kau lalui selama ini. Tapi aku tahu kau sudah melalui hal-hal yang berat. Bahkan tidak mustahil juga kau punya musuh yang tidak sedikit. Tapi jika kau berhenti ataupun keluar, takutnya orang-orang yang berada di pihakmu saat ini nantinya akan berbalik jadi musuhmu. Saat itu aku menyuruhmu berhenti karena terlalu mengkhawatirkanmu. Aku takut jika ada yang akan menyakitimu."
"Mungkin jika kau benar-benar berhenti dan menurut padaku, mungkin saja malah aku sendiri yang akan menyakitimu secara tidak langsung dengan memberikanmu semakin banyak musuh. Sekarang aku paham kalau kau dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Bahkan jika aku pikirkan, sepertinya kau punya posisi yang cukup disegani. Karena itu maka aku akan meminta satu hal darimu."
"A-apa?" tanya Nisa yang masih belum berhenti isak tangisnya.
__ADS_1
"Aku tak peduli tentang organisasi macam apa yang kau ikuti dan siapa saja musuh yang kau miliki. Tapi aku minta kau berjanjilah satu hal padaku, kau tidak boleh ikut dan terlibat dalam aksi berbahaya atau apa pun itu!"
"Baiklah, itu mudah." jawab Nisa yang kemudian langsung kembali mendekap Keyran.
"Apa?! Mudah katamu?!" tanya Keyran seakan tidak percaya.
"Iya, aku sudah sempat vakum. Lagi pula yang kau permasalahkan itu kejadian lama, 4 tahun yang lalu. Aku sudah lama tidak aktif."
Lagi pula sebenarnya aku ini bos nya. Semuanya terserah padaku mau bagaimana. Jika Keyran melarangku terlibat maka baiklah, toh aku masih bisa memerintah mereka di balik bayangan.
"Syukurlah. Sebelumnya yang aku takutkan adalah kau menyelinap pergi diam-diam saat aku lengah. Misalnya saja kau keluyuran entah ke mana saat aku sedang tidur, lalu esoknya aku mendapat kabar buruk darimu. Aku tak mau hal seperti itu sampai terjadi."
"Haha ... untuk apa aku menyelinap keluar di malam hari? Aku lebih suka menghabiskan malamku bersamamu. Jadi ... sekarang kita sudah tidak bertengkar, kan?"
"Iya sayang, jangan ada lagi pertengkaran di antara kita," ucap Keyran dengan nada lembut.
"Emm ... kalau begitu, bolehkah aku membuat satu pengakuan lagi? Tapi kau berjanjilah dulu, setelah mendengarnya nanti kau tidak boleh marah."
"Baiklah, sekarang katakan."
"Sebenarnya ... saat memelukmu ketika aku masih menangis tadi, ingusku tak sengaja menempel di bajumu. Hehe ... tidak apa-apa, kan?" tanya Nisa sambil meringis.
"Apa katamu?!"
"Cuma sedikit ... kau tidak marah, kan?"
"Tidak, tapi kalau mau menangis juga harus yang bersih!" ucap Keyran penuh penekanan.
"Maaf ... kalau begitu, biar aku bantu kau ganti baju."
__ADS_1
"Nah, itu baru benar!"