Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Bimbang


__ADS_3

Diamnya Keyran yang tiba-tiba akhirnya membuat Ricky paham. Dia paham jika ada sesuatu yang kurang saat Keyran ingin menyombongkan dirinya.


"..."


Dia tiba-tiba berhenti bicara saat ingin mengatakan bahwa Nisa mengaku mencintainya. Apa mungkin sekarang dia bimbang?


"Hei, ada apa denganmu? Jangan-jangan ... Nisa belum pernah mengatakan jika dia mencintaimu?" tanya Ricky dengan nada bergurau.


"Benar, Nisa belum pernah mengatakannya. Padahal selama ini sudah banyak yang kami lalui. Bukankah menurutmu mengucapkan kalimat itu sangat sederhana?"


"E-eh?! Serius belum pernah?! Mungkin saja Nisa sudah bilang tapi kau tidak mendengarnya!" Ricky menatap seakan tidak percaya.


"Serius, lagi pula apa untungnya aku bohong padamu? Tapi ... hal lainnya membuktikan jika Nisa mencintaiku, tidak mengungkapkannya lewat kata-kata bukankah berarti tidak apa-apa?"


Ricky mengalihkan pandangan matanya. "Ehmm ... aku cuma orang luar, kau tanyakan saja pada dirimu sendiri."


Keyran diam seribu bahasa, ekspresinya pun tampak murung. Sejenak kemudian berkata, "Aku bertanya bagaimana pendapatmu."


"Menurutku ... kata-kata pengakuan cinta seperti itu termasuk sederhana. Lihat saja orang lain, bahkan mereka mengucapkannya dengan mudah dan ada pula yang mengatakan cinta demi kebohongan. Justru paling mudah diucapkan daripada membuktikan. Tapi ... Nisa itu memang berbeda dengan perempuan lain, kau jangan berpikir negatif terlalu banyak."


"Saat kalian masih bersama, apakah Nisa pernah mengatakan jika dia mencintaimu?" tanya Keyran dengan tatapan serius.


"Sering."


"Cih, tapi kenapa saat bersamaku dia tidak mengatakannya?!"


"Hei-hei ... tenangkan dirimu, aku sama sekali tidak bermaksud memprovokasimu. Ini masalah pribadi kalian berdua, langsung bicarakan saja dengan Nisa."


Keyran kembali tertegun, setelahnya malah menatap Ricky dengan penuh kebencian. Ricky yang menyadari hal itu pun merasa sedikit gugup. "K-kau ini kenapa?"


"Apa kau kira kau jauh lebih baik dariku?"


"Apa-apaan maksudmu? Jangan sembarangan menebak pikiran orang lain! Kau sendiri sekarang tidak bisa berpikir jernih, minumlah air putih itu dulu! Atau pulang dan berpikirlah di rumahmu sendiri sana!"


"Ck, sialan!" Keyran bersungut kesal dan memalingkan wajahnya. "Sebenarnya apa yang salah?! Apa kalimat itu Nisa ucapkan di waktu tertentu?"


"Itu sudah pasti, tentu saja kalimat pengakuan cinta diungkapkan ketika suasana mendukung."


"Suasana mendukung?" tanya Keyran yang mulai tertarik.


"Ck, apa aku juga harus mengajarimu?! Suasana mendukung sudah jelas dalam suasana romantis! Atau bisa juga saat kau mengatakan bahwa kau mencintainya, kemungkinan besar dia juga akan mengatakan bahwa dia mencintaimu!" ucap Ricky dengan tidak sabar.


"Tetap tidak bekerja, aku sudah berulang kali mengatakannya. Tapi Nisa tak pernah membalas perkataan yang sama, dia malah bertanya apa aku minta jatah berapa ronde."


Ricky menyeringai sinis. "Wah-wah ... sepertinya kau orang yang kelewat mesum, makanya Nisa sudah hafal motifmu."


"Huh, memangnya apa masalahmu jika aku mesum pada istriku sendiri?!"


Ricky menghela napas panjang. "Haiss ... romantis bukan hanya sebatas sentuhan fisik. Kau juga harus bertindak hingga psikis Nisa bahagia, bisa dibilang cinta itu tentang raga dan jiwa. Kalau tidak percaya cobalah ajak Nisa kencan, dia pasti senang."


"Mungkin kau ada benarnya juga, selama ini aku belum pernah berkencan dengan Nisa ...."


"Apa?! Pria macam apa kau ini?!" Ricky menatap tak percaya.


"Apa masalahmu? Nisa sendiri bahkan tidak pernah mempermasalahkannya, saat aku tanya dia mau apa, dia hanya menjawab tidak butuh apa-apa lagi. Jika dia minta kencan maka sudah pasti akan aku kabulkan dari dulu," ucap Keyran dengan enteng.


"Jangan berpikir dari sudut pandangmu saja. Nisa tidak memintanya pasti ada kaitannya dengan pekerjaanmu yang super sibuk dan penting. Nisa mungkin saja tidak ingin mengganggu waktumu. Dan kau seharusnya juga berinisiatif untuk menawarkan, dasar bodoh! Jika kau seperti ini ... lama-lama aku bisa punya keinginan merebut Nisa kembali."


"Ck, jangan coba-coba kalau kau tak mau hancur! Tapi apakah berkencan punya pengaruh sebesar itu? Berkencan di luar dan bersama di rumah tidak jauh berbeda, intinya sama saja menghabiskan waktu yang cukup bersama Nisa."


"K-kau ini ..." Ricky mengepal sekuat mungkin hingga tangannya bergetar. Entah kenapa dia sangat geram dengan manusia yang super tidak peka seperti Keyran.


"Tentu saja berbeda! Menghabiskan waktu bersama di rumah dengan di luar itu berbeda! Ck, sekarang aku terpaksa mengungkit masa lalu. Dengar ini baik-baik! Nisa itu menyukai kebebasan, dia akan sangat senang jika kau mengajaknya berkencan dan berkeliling bermacam tempat! Bahkan dulu dia sampai rela berbohong padaku, bilang tidak ada jadwal kuliah lalu membolos demi bisa berkencan denganku!"


"Begitu ya, pantas saja dia punya hobi kabur dari rumah ..." gumam Keyran.


Lagi-lagi setelahnya Keyran terdiam dan memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian dia bangkit dari sofa dan berkata, "Aku akan pergi sekarang, terima kasih sudah mau berbagi informasi. Dan semoga saja kau cepat mendapat perempuan lain, mimpi saja jika menunggu Nisa jadi janda!"


"Ya ... cepat pergi sana, tak perlu berpikir tentangku. Dan satu hal lagi, jika kau benar-benar ingin berkencan maka jangan pernah mencoba mengagetkan Nisa dari belakang. Dia itu gangster yang punya refleks yang bagus, bisa-bisa kau dibanting olehnya."


"Heh, sepertinya pengalamanmu cukup buruk. Hal seperti itu tidak akan pernah terjadi karena Nisa sangat lembut padaku."


Keyran pun pergi meninggalkan apartemen Ricky tersebut. Sedangkan Ricky, dia tiba-tiba mengambil segelas air putih yang belum tersentuh oleh Keyran lalu meminumnya.


"Huft ... Dasar bodoh, kenapa baru sekarang menemuiku? Harusnya kau datang lebih awal agar aku bisa segera menceritakan semuanya. Sekarang rahasia yang jadi bebanku telah hilang, kuharap kau akan membuat Nisa jadi lebih bahagia."


DRRTT DRRTT


DRRTT DRRTT

__ADS_1


Mendadak terdengar suara ponsel berdering, Ricky yang mendengarnya langsung bergegas ke kamar. Dia langsung mengangkat panggilan telepon itu begitu tahu jika berasal dari ibunya.


"Ada apa meneleponku malam-malam, Ibu? Apakah ada hal mendesak?" tanya Ricky.


"Ya, sangat mendesak. Ibu merindukanmu, atur agendamu dan pulanglah ke rumah. Nanti sekalian ibu kenalkan teman baru untukmu, anaknya teman ibu seorang bidan. Dia satu bidang denganmu, dia juga gadis yang cantik dan ramah, Ibu sangat menyukainya."


"Ohh ... kalau suka buat saja dia jadi anak angkat ibu," ucap Ricky dengan nada malas.


"Kau ini! Mana bisa begitu? Apa kau tidak mengerti apa maksud ibumu?!"


"Aku tahu, dan aku mohon berhenti mengatur kencan buta untukku. Aku belum ingin mencari pasangan. Dan maaf, minggu depan agendaku padat sekali jadi tidak bisa pulang. Aku sayang ibu, selamat malam ..."


"Ricky! Ibu tidak mau anak ibu satu-satunya jadi orang-"


TUT TUT ...


Ricky menutup panggilan telepon itu. Kemudian merebahkan diri yang terasa lesu ke atas kasur.


"Hahh ... astaga."


Nisa, aku sudah melakukan hal yang benar, kan? Aku tidak mau mencari perempuan lain sebagai pelarianku untuk melupakanmu. Daripada aku menyakiti orang lain lagi, lebih baik aku mengalihkan pikiranku tentangmu dengan fokus pada pekerjaanku.


"Selamat malam, untuk diriku sendiri ..."


***


Selepas dari apartemen Ricky, Keyran langsung menelepon Nisa dan memberitahu jika dia akan segera menjemputnya. Saat tiba di sana, begitu Keyran turun dari mobil langsung disuguhkan pemandangan yang tidak biasa.


Keyran pikir dia harus masuk ke club sendiri untuk menjemput istrinya yang bandel itu, tetapi kali ini Nisa justru sudah menunggunya di depan pintu masuk club.


"Kau serius menungguku di sini? Apa pestamu tidak menyenangkan?" tanya Keyran terheran-heran.


"Tentu saja menyenangkan, aku cuma tak ingin membuat suamiku kesusahan mencariku di dalam sana!" jawab Nisa dengan senyuman.


Keyran juga tersenyum, namun senyuman tersebut langsung menghilang saat dia merasa ada sesuatu yang janggal. Dan tiba-tiba saja dia menarik tubuh Nisa untuk mendekat padanya, "Aneh, aku tidak mencium bau alkohol dari tubuhmu. Tidak mungkin bagi pencinta wine sepertimu jika tidak minum satu gelas pun."


"Hehe, coba tebak~"


"Apa jangan-jangan ... kau hamil! Lalu kau tidak minum alkohol!" ucap Keyran penuh antusias dan tatapan berharap.


"Ehmm ... maaf, sepertinya aku menghancurkan harapanmu itu. Tapi aku harus jujur, aku minum alkohol dan aku tidak bau itu karena aku sudah mandi. Hehe ..." Nisa tersenyum canggung.


"Iya, aku cepat-cepat mandi setelah menerima telepon darimu. Aku ingin berangkat dan pulang dalam keadaan wangi, jadi begitu sampai rumah nanti aku bisa langsung tidur dalam pelukanmu!"


Nisa mendekat lagi satu langkah dan langsung memeluk Keyran dengan erat. "Aku sudah mandi dan menunggumu di sini. Aku sedang mencoba jadi istri yang patuh, ayo cepat puji aku~"


"Haha, baik-baik ... kau istri yang patuh dan pengertian."


Sial, kenapa aku masih bimbang? Padahal sikap Nisa sudah seperti ini, bukankah ini namanya cinta. Tapi kenapa aku masih belum lega jika dia belum mengatakannya?


Mereka berdua pun pulang ke rumah tanpa memperdebatkan apa pun lagi. Ketika malam semakin larut, keduanya kini bersiap untuk tidur dan saling berpelukan. Nisa tampak sangat nyaman mendekap di dada suaminya, hari bahagianya yang cukup melelahkan kini telah berakhir. Mulai dari pagi mempersiapkan wisuda hingga malam melakukan pesta.


Namun, justru berbanding terbalik dengan Keyran. Saat ini Keyran terus menerus melamun, pernyataan cinta yang belum pernah Nisa lakukan terus menghantui pikirannya. Dia akhirnya memutuskan untuk menyingkirkan keangkuhannya, mencoba percaya dengan apa yang telah mantan kekasih istrinya katakan.


Ricky tadi bilang asalkan aku mengatakan aku mencintai Nisa di saat romantis, Nisa pasti akan membalasku dengan mengatakan hal yang sama. Mungkin sebaiknya aku coba, sekarang menurutku suasananya cukup romantis.


"Nisa, aku mencintaimu ...." Setelah mengatakan itu Keyran langsung menutup mata, dia gugup apakah istrinya itu akan menjawab atau tidak.


Tetapi yang terjadi justru tak ada yang Nisa katakan sama sekali. Keyran yang merasa janggal langsung membuka mata, melihat bagaimana wajah Nisa sekarang. Dia menghela napas saat mengetahui bahwa Nisa sudah tertidur lelap.


"Kau ini ... tumben sudah tidur, sepertinya kau kelelahan sekali."


Keyran juga memutuskan untuk segera tidur. Dia tak terlalu memusingkan perkara malam ini yang belum mendapatkan pernyataan cinta dari Nisa.


Keesokan harinya saat terbangun dari tidur, Keyran sedikit terkejut karena Nisa bangun lebih awal dibanding dirinya. Begitu selesai bersiap-siap berangkat ke kantor, dia turun ke bawah untuk sarapan. Kebetulan saat ini juga hidangan untuk sarapan belum siap, dia punya inisiatif untuk melihat bagaimana tampilan istrinya ketika memasak.


"Nisa!" panggil Keyran dengan senyuman.


"Heum ...?" Nisa lalu menengok ke belakang. "Maaf ya, sarapanmu belum jadi. Apakah pagi ini kau ada meeting jadinya buru-buru?"


"Tidak ada, aku ke sini hanya ingin melihatmu saja."


"Oh, kalau begitu tunggulah sebentar lagi. Berikan aku waktu untuk menghias makanan ini jadi cantik~"


"..." Keyran tertegun, dia berpikir mungkin sekarang saat yang tepat untuk mendapatkan pengakuan dari Nisa.


"Nisa, aku mencintaimu!"


"A-apa sih?! Kenapa mendadak bilang begitu? Aku kan jadi berdebar tiba-tiba." Muka Nisa memerah, dia memalingkan wajahnya dan kembali fokus pada wajan penggorengan.

__ADS_1


Di sisi lain Nisa semakin salah tingkah karena ada kehadiran Bibi Rinn. Tetapi karena Bibi Rinn orang yang peka, dia hanya berpura-pura tidak melihat ataupun mendengar apa-apa dan langsung pergi dari dapur.


"Ehem, pergi sana! Kau pria yang sudah beristri, jadi percayakan saja makananmu pada istrimu ini!"


"..."


Nisa salah tingkah, tapi dia tetap tidak membalas pernyataan cintaku. Sudahlah, akan aku coba lagi nanti.


Percobaan kedua di pagi hari gagal. Tetapi masih banyak kesempatan lain bagi Keyran. Saat siang hari waktunya jam istirahat kantor, seperti biasa jika tak ada kepentingan lain maka Nisa akan mengantarkan makan siang untuk Keyran.


Dan hari ini pun begitu, untuk pertama kalinya Keyran seperti orang yang tidak dapat menunggu waktu makan tiba. Dan ketika Nisa datang, dia langsung kegirangan menyambutnya.


"Sini, duduk di sebelahku!" ucapnya dengan senyuman sambil menepuk-nepuk bantalan sofa.


"Tumben kau seperti ini, biasanya kau selalu lebih mementingkan pekerjaan dibanding perutmu, sampai-sampai aku harus membujukmu."


Nisa lalu berjalan menghampiri Keyran dan membuka kotak bekal yang dia bawa. Semua makanan dalam kotak bekal itu adalah kesukaan Keyran.


"Aku mencintaimu, Nisa." ucap Keyran yang seketika membuat tubuh Nisa kaku.


Nisa tidak siap dengan pernyataan cinta yang tiba-tiba seperti ini, dia langsung memalingkan wajahnya yang tersipu malu. "I-iya aku tahu ... Makanannya sudah dingin gara-gara aku tadi terjebak macet. Jadi cepat makan saja, jangan terlalu manja memintaku menyuapimu!"


"..."


Apa-apaan? Bisa-bisanya Nisa malah salah menangkap maksudku dan mengira jika aku minta disuapi. Padahal aku cuma ingin dia membalas kalimatku dengan cara yang sama. Kenapa sekarang aku merasa kalau istriku ini bodoh?


Percobaan ketiga di siang hari gagal. Keyran mulai sedikit frustrasi dan hilang kesabaran. Tetapi dia masih belum menyerah, dia mulai memikirkan untuk mengatakannya di saat lain dengan suasana yang lebih romantis.


Waktu terus berjalan hingga petang hari tiba. Sepulang dari kantor, seperti biasanya Keyran langsung menuju ke kamar untuk menemui Nisa. Di satu sisi Nisa yang awalnya sibuk bermain ponsel juga langsung beranjak dan menyambut kepulangan suaminya dengan ramah.


"Suamiku sudah pulang, sini tasmu!" Nisa meminta tas milik Keyran, dia juga membantu melepaskan jas dan juga dasi yang dipakai suaminya.


Keyran tak melewatkan kesempatan ini, dia memanfaatkan situasi sekarang dengan merangkul pinggang Nisa agar semakin menambah keintiman. Nisa yang juga menyukainya langsung tersenyum lembut sambil berkata, "Bagaimana harimu?"


"Coba tebak~"


"Haha, pasti berjalan lancar. Aku percaya pada kemampuan suamiku!"


"Hmm ... lalu bagaimana harimu? Kau tidak menghabiskan waktumu sepanjang hari hanya untuk merindukan aku, kan?"


"Benar, aku merindukanmu! Tapi aku juga tidak menganggur, tadi aku sudah buatkan cheese cake kesukaanmu. Kita bisa memakannya nanti saat makan malam!"


"Kau istri yang baik, aku sangat mencintaimu istriku."


Pipi Nisa merona, dengan cepat memberikan sebuah kecupan di bibir suaminya. Lalu dengan ekspresi malu-malu berkata, "Aku ... aku akan siapkan air hangat untukmu dulu!"


Nisa melepaskan diri dari Keyran dan berbalik menuju ke kamar mandi. "Aku juga sebenarnya belum mandi, jadi kita bisa sekalian mandi bersama. Tapi meskipun bersama sebaiknya jangan terlalu lama, soalnya kita tidak bisa melewatkan makan malam ...."


"Hahaha, aku tahu kau sangat menginginkan itu ... wajar saja karena kita belum sempat melakukannya semenjak kau kembali dari luar kota ...." ucap Nisa tanpa sadar karena merasa berbunga-bunga.


"..." Keyran diam seribu bahasa, dia tak tahu harus berkata apa supaya Nisa paham maksudnya. Tangannya juga mengepal sekuat mungkin hingga gemetar saking gemasnya terhadap sikap Nisa.


Kenapa bisa gagal lagi?! Sebenarnya salahku di mana?! Apakah suasananya terlalu romantis sampai Nisa menganggap jika itu kode minta jatah?


"Sial, tidak bisa begini terus! Pokoknya secepat mungkin aku harus mendapatkan apa yang mau aku dengar, aku pria dengan harga diri tinggi, jadi Nisa harus mengatakannya sendiri tanpa paksaan!"


Keyran lalu mengambil ponselnya di saku celana, dengan tidak sabar langsung menelepon asistennya.


"Ada apa Tuan, apakah ada barang yang tertinggal di kantor?" tanya Valen.


"Bukan, tapi aku minta kosongnya jadwalku untuk besok!"


"T-tapi Tuan ... besok ada janji temu dengan perwakilan perusahaan Tenko. Jika tiba-tiba dibatalkan bukankah ini sedikit kurang pantas?" tanya Valen dengan nada ragu.


"Aku bilang kosongkan ya kosongkan! Soal janji temu itu undur saja! Lagi pula cuma perusahaan kecil, mana berani dia berpaling ke perusahaan lain!"


"Baik Tuan, akan saya atur."


"Bagus, aku punya tugas lain untukmu! Besok aku mau kencan, kau siapkan semuanya yang dibutuhkan!"


"Kencan dengan nyonya Nisa?"


"Iya, selama ini aku sudah bekerja keras demi perusahaan. Aku mau kencan dan bolos kerja sehari saja! Bilang saja begini jika ayahku bertanya nanti!" ucap Keyran penuh penekanan.


"Baik Tuan."


TUT TUT ...


"Akhirnya beres juga. Dan kau Nisa, awas saja nanti. Akan kubuat kau terharu sampai kau berkata mencintaiku ribuan kali!"

__ADS_1


__ADS_2