Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Sepihak (1)


__ADS_3

Hari demi hari berganti, hingga tiba saatnya hari ini untuk Nisa keluar dari rumah sakit. Namun seminggu terakhir di rumah sakit terasa berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Semenjak Dimas mengutarakan maksudnya, sejak saat itu juga Jonathan tidak lagi datang menjenguk tanpa berkata apa-apa pada Nisa terlebih dulu.


Di sisi lain Ricky juga menampakkan perubahan, mungkin dia masih rutin memeriksa kondisi Nisa, tapi sikapnya terutama keinginan untuk berbicara lebih banyak dengan Nisa juga telah hilang. Keyran pun tak terkecuali, dia memutuskan untuk tidak lagi selalu berada di rumah sakit, dia kembali menjalani aktivitasnya seperti biasa, dia sekarang menganggap Nisa bukan lagi prioritas utamanya. Bahkan dia hanya datang sehari sekali, itu pun saat pagi-pagi buta dan Nisa masih tertidur pulas.


Setiap orang merasa hampa di relung hati mereka, meski tak dapat terlihat oleh mata, tetapi jarak terasa begitu jauh membentang. Namun jika dipaksakan untuk tetap bersama, hanya akan membuat hati semakin terluka, karena masing-masing mempunyai kesulitan dan posisi yang berbeda.


Begitulah Nisa menjalani seminggu terakhirnya yang penuh kehampaan di rumah sakit. Pakaian yang dipakainya sudah seperti pakaian biasa, bukan lagi seragam pasien. Hari ini, saat pagi hari dia menata dan membereskan barang-barangnya. Kemudian saat siang hari, ayahnya datang dan membawa barang-barang yang telah ditata untuk dibawa pulang. Ketika ayahnya mengajak untuk pulang bersama, dia menolak. Karena sebelumnya dia telah diberitahu oleh Valen bahwa dia akan dijemput nanti malam olehnya, Valen memberitahu Nisa bahwa ada sesuatu yang sangat penting yang memerlukan kehadirannya.


Setelah ditinggal seorang diri di rumah sakit, yang Nisa lakukan hanya duduk di sebuah kursi yang berada di dekat jendela. Dia melamun sembari menatap pemandangan dari balik kaca, bahkan dia terus seperti itu hingga sore hari tiba.


KLAAK ...


Di tengah-tengah kesunyian itu, tiba-tiba pintu terbuka. Seketika Nisa menoleh ke arah orang yang membuka pintu tersebut, namun dia tak pernah menyangka bahwa orang yang datang adalah Jonathan. Tapi kehadiran Jonathan kali ini terasa berbeda, selain tidak membawa buah stroberi, ekspresi Jonathan jelas terlihat sama sekali tidak ada senyuman yang biasanya dia perlihatkan.


Selepas menutup pintu, Jonathan langsung mendekat ke arah Nisa tanpa menyapa atau menanyakan kabar sebelumnya. Dia duduk di kursi lain namun masih bersebelahan dengan Nisa. Dan setelahnya dia malah menundukkan kepala.


"Kukira sudah pulang, ternyata masih di sini, sendirian pula."


"Nanti malam akan ada yang menjemputku, aku masih di sini karena menunggunya. Tapi ... kupikir kamu tak akan datang lagi, kenapa sekarang mendadak datang?"


Jonathan tidak menjawab, menyadari hal itu akhirnya Nisa kembali memalingkan wajahnya dan kembali menatap keluar jendela. "Katakan saja apa pun yang ingin dikatakan, lagi pula sekarang tak ada Yuna yang mengganggumu."


"Nisa, tolong ulurkan tanganmu!"


"Eh?" Nisa langsung berbalik menoleh pada Jonathan, tapi dia mengulurkan tangan kanannya dengan ragu. "Ada apa? Apa mau meramal garis tanganku?"


"Aku bukan orang seperti itu, tapi ..." Jonathan menahan tangan Nisa, sedangkan tangan yang satunya lagi merogoh sesuatu di saku celananya. Dan begitu tangan itu keluar, dia langsung menyerahkan sebuah benda di telapak tangan Nisa. Benda itu adalah sebuah gelang, dan yang membuat gelang itu istimewa adalah terdapatnya sebuah hiasan berbentuk hewan, yaitu kucing.


"I-ini untukku?" tanya Nisa dengan mata yang berbinar.


"Bukan, aku cuma mau pamer."


"Joe ...!!" keluh Nisa dengan wajah cemberut.


"Haha, tentu saja untukmu. Sini, aku pakaikan!" Jonathan lalu memasangkan gelang itu di tangan Nisa, dan Nisa sendiri menanggapinya dengan patuh hingga gelang itu selesai terpasang di tangannya.


"Kenapa bisa tahu kalau aku suka kucing? Padahal aku kan belum cerita."


"Karena kamu benci anjing, jadi kupikir kamu suka kucing. Baguslah kalau kamu memang suka, tadinya aku kira gelang itu akan ditolak."


"Mana mungkin aku tolak, benda yang aku suka akan selalu aku terima. Terima kasih Jonathan, lagi-lagi kamulah yang memberi sedangkan aku cuma menerima." ucap Nisa dengan senyuman.


"Sama-sama, lagi pula asalkan kamu senang apa pun bisa kuberikan." Jonathan juga tersenyum.


"..." Nisa berhenti tersenyum, dia mengalihkan pandangannya dan hanya menatap pada gelang pemberian Jonathan. "Sebenarnya ada apa? Mustahil kalau kamu datang cuma demi memberiku gelang ini, ada sesuatu yang ingin kamu katakan, aku benar kan?"


"Huft ... iya, aku ingin memberitahumu kalau aku akan pergi ..."


"Pergi?! Jadi gelang ini adalah hadiah perpisahan! Begitu?!" tanya Nisa dengan ekspresi panik.


"Hei, tenanglah dan biarkan aku selesai bicara. Aku pergi bukan untuk selamanya, tapi cuma sementara, hanya sampai ..."


"Sampai kapan? Kenapa tiba-tiba diam?"


"Sampai aku bisa memastikan kalau kamu benar-benar bahagia," ucap Jonathan sambil tersenyum.


"T-tunggu dulu, kenapa bilang begitu?"


"Entahlah, tapi aku harus melakukannya. Aku sendiri tahu kalau kamu selalu tersenyum saat bersamaku. Tapi, aku sadar kalau masih ada orang selain aku yang bisa membuatmu lebih bahagia, yang bisa membuat senyumanmu jadi lebih indah. Dan ... tentu saja kamu berhak memilih untuk bersama dengannya."


"Joe ..." ucap Nisa dengan nada bersalah.


"Dengar ya, kamu tak perlu merasa bersalah ataupun menyesali apa pun. Yang memutuskan untuk menyukaimu adalah aku sendiri. Dan satu hal yang harus kamu tahu, aku pergi bukan berarti aku menyerah. Bahkan sebenarnya aku tak akan pernah pergi, aku masih di sini dan akan selalu ada untukmu. Hanya saja aku sengaja mundur beberapa langkah untuk memberimu ruang melangkah. Aku tak akan berhenti peduli, aku akan terus memperhatikanmu dari jauh. Nanti, jika kamu terluka, carilah aku. Aku pasti akan datang. Saat ini temukan bahagiamu dulu, aku tak apa, aku baik-baik saja."


"..." Nisa membisu, bahkan diam-diam tangannya menggenggam erat gelang pemberian Jonathan. "Jadi, kamu pergi hanya karena aku?"


"Yaa ... itu termasuk salah satunya, sebenarnya aku masih punya sedikit urusan yang merepotkan di sana. Dan aku akan berangkat hari ini juga, mungkin Morris sudah menungguku. Tapi, terlepas dari semua itu ... sebenarnya dari dulu aku memendam satu pertanyaan untukmu. Sebelum aku pergi, bolehkah aku tanyakan sekarang?"


"S-silakan, bertanya saja sepuasnya."


"Hei hei, jangan gugup, pertanyaannya mudah kok. Aku cuma ingin tahu, andai saja waktu bisa kubuat mundur, jika saat pertama kali bertemu denganmu aku mengajakmu untuk pergi ke Italia, apa saat itu kamu akan setuju?"


"Hemm ... mungkin."


"Mungkin apa? Mungkin iya atau mungkin tidak?"


"Keduanya, mungkin tidak karena alasannya saat itu kita masih orang asing, mana mungkin aku mau pergi begitu saja, itu terkesan seperti penculikan sukarela. Lalu mungkin iya karena saat itu aku memang sangat ingin kabur dari segalanya, terlebih lagi keadaan juga mendukung, saat itu Keyran sedang berada di Jerman. Dan ... aku juga ingin jujur satu hal padamu."


"Soal apa?"


"Soal orang-orang yang kamu bunuh, maksudku orang-orang yang kamu hajar. Sebenarnya target mereka adalah aku, mereka itu juga suruhannya Keyran. Jika aku diawasi seperti itu terus lama-lama aku bisa gila! Mungkin dipertemukan denganmu, itu semacam takdir yang tak terduga. Aku beruntung bisa mengenalmu Joe, terima kasih, terima kasih untuk segalanya ..."

__ADS_1


"Hmm ... kamu memang orang yang berbeda, mungkin orang sepertimu di dunia ini hanya satu. Tapi sayangnya yang menginginkan orang sepertimu bukan cuma aku. Ah sudahlah, sekarang waktunya untukku pergi."


Jonathan berdiri dan langsung berjalan pergi, namun tiba-tiba saja tangannya ditahan oleh Nisa.


"Tunggu dulu! Apa penerbanganmu akan langsung menuju ke Italia?"


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Jonathan sambil menyingkirkan tangan Nisa yang menahan tangannya.


"Emmm ... bukan apa-apa, setidaknya perjalananmu akan butuh waktu selama 16 jam. Jadi kamu bisa berhemat tenaga, dan ... aku sangat paham seperti apa urusanmu, pasti berbahaya, jadi tolong berhati-hatilah! Lalu ..."


"Lalu apa?"


"Ah itu, Italia itu seperti apa?" tanya Nisa dengan senyum canggung.


"Panjang jika dijelaskan, tapi kalau kamu sungguh ingin tahu, maka datanglah ke sana. Saat aku di sini kamu yang jadi pemandu wisataku, jika kamu ke sana maka giliranku yang jadi pemandu wisatamu."


"Oke, akan aku usahakan untuk ke sana. Tapi ..."


"Sebenarnya kamu mau bilang apa? Kenapa berputar-putar?"


"A-aku cuma mau bilang ... terima kasih, aku banyak berhutang padamu. Tapi aku tak tahu bagaimana caranya membayar hutangku. Berterima kasih sebanyak apa pun juga tak akan pernah cukup, jadi ... sekali lagi terima kasih."


"Oh, jadi kamu merasa berhutang toh. Aku tahu bagaimana caramu membayarnya," tiba-tiba Jonathan mendekat, dia menunduk dan membelai wajah Nisa. Lalu saat dia mendekatkan wajahnya, dia berkata, "Bayar saja dengan senyumanmu, lain kali jika aku bertemu denganmu lagi, maka saat itu jangan sampai aku menemuimu dalam keadaan putus asa sampai-sampai ingin mengakhiri hidupmu. Dan ingat satu hal, aku menyayangimu. Sampai jumpa, Nisa ..."


"Sampai jumpa, Jonathan ..."


Dengan berat hati Jonathan menarik tangannya kembali. Dia lagi-lagi tersenyum kepada Nisa, bahkan dia kembali menengok ke belakang sesaat sebelum dia melangkah keluar.


Andai saja aku bertemu denganmu lebih awal, pasti semuanya akan berbeda sekarang. Semoga ke depannya kita masih bisa berhubungan baik, meskipun perasaan sepihak ini tak pernah terasa baik. Aku yang menemanimu saat hatimu pedih, tapi di saat hatimu pulih, orang lain yang kamu pilih.


***


Setelah kepergian Jonathan, Nisa kembali melanjutkan menunggu. Sepanjang sore dia betah terus menunggu, bahkan saking betahnya dia sama sekali tidak ada niatan untuk menghubungi Valen. Dia bisa betah seperti itu karena merenung, dia merenungkan seluruh masalah yang membuat hatinya terasa sesak.


Saat ini, ketika malam sudah tiba dan jam menunjukkan pukul 8 malam. Valen yang ditunggu-tunggu masih tak kunjung datang, namun Nisa tak mengeluh. Dia merasa seperti itulah caranya Valen membalas perbuatannya, yaitu dengan membuatnya menunggu lama.


KLAAK ...


Pintu mendadak dibuka, Nisa yang saat ini posisinya sedang enak-enak selonjoran di sofa merasa kaget dan segera membetulkan posisi duduknya. Namun lagi-lagi dia dikecewakan, ternyata yang datang bukankah Valen, melainkan Ricky.


Ricky yang saat ini tak lagi mengenakan seragam dokternya, yaitu jas putih. Setelah masuk, dia masih tak berkata apa-apa dan langsung saja duduk di sofa panjang tepat di samping Nisa.


"Kenapa masih belum pulang?"


"Mau aku antar?"


"Terima kasih, tapi jangan repot-repot."


"Iya juga sih, buang-buang bahan bakar."


"Cukup Rick, jangan basa-basi lagi! Ada perlu apa menemuiku?"


"Sebentar," Ricky merogoh sakunya lalu mengulurkan selembar kertas dan sejenis obat kepada Nisa. "Ini, resep obat dan salep khusus untukmu. Kamu pasti ingin bekas lukamu cepat hilang, ayo ambil!"


"Iya, terima kasih." Nisa dengan senang hati mengambil dua benda itu dari tangan Ricky lalu menyimpannya di tas miliknya. "Untung saja kamu ingat kalau aku sangat butuh salep ini, jadi nanti saat di pantai aku bisa dengan percaya diri memamerkan perutku! Aku ingin semua orang iri dengan perutku yang seksi!"


"Haha, vulgar sekali."


Bisa-bisanya berkata seperti itu di depanku. Tapi harus aku akui kalau dia benar, karena aku sendiri pernah melihatnya. Toh Nisa ini memang sering pakai baju yang sedikit terbuka.


"Kenapa masih di sini?"


"Memangnya kamu ingin aku pergi?"


"Tidak juga sih, aku butuh teman bicara. Sendirian itu membosankan. Tapi rasanya aneh, bukannya belakangan ini kamu sepertinya malas untuk bicara denganku?"


"Dengar ya, aku tak pernah malas untuk bicara denganmu. Tapi aku memang sengaja melakukan. Sekarang coba kamu pikir, selama seminggu ini kamu dijauhi, siapa yang paling kamu rindukan?"


"..." Nisa tertegun, dan setelahnya dia menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada atau tidak tahu?"


"Entahlah, aku bingung. Tolong jangan bahas itu! Setiap kali aku berpikir tentang itu, rasanya sangat menyesakkan!"


"Maka dari itu harus dibahas, jika setiap kali kamu selalu menghindar maka perasaan menyesakkan itu selamanya akan terus ada. Bicarakan saja denganku, lampiaskan semuanya padaku. Niatku itu baik, aku ingin melihatmu berhenti bersedih dan keluar dari penderitaan yang selalu menghantui pikiranmu. Jadi tolong jangan disimpan sendiri."


"Masalahnya aku bingung harus cerita dari mana, jika kamu memang benar-benar ingin membantu, maka bertanyalah, jika itu kamu maka aku bisa menjawab sejujur-jujurnya, apa pun itu."


"Baiklah, jika memang itu pilihanmu. Sekarang, ayo menghadap kemari dan tatap aku!"


Nisa mengambil napas panjang dan menurut untuk menghadap ke arah Ricky, dia menatap matanya seolah-olah telah siap untuk mencurahkan segalanya.

__ADS_1


"Pertanyaan pertama untukmu, kenapa saat itu kamu rela menghadang pisau untuk menyelamatkannya?"


"Karena aku tak ingin dia mati."


"Salah, itu karena kamu mencintainya! Alasan utama kamu rela berkorban adalah karena kamu mencintainya!"


"T-tapi aku ..."


"Jangan mencoba menyangkalnya! Lanjut ke pertanyaan kedua, padahal jelas-jelas kamu mencintainya, kenapa malah memilih untuk berpisah darinya?"


"Balas dendam! Aku ingin membuatnya merasa hancur seperti apa yang telah aku dan kamu rasakan, dia sangat pantas untuk menerimanya!"


"Apa kamu bodoh? Aku dan kamu memang merasa hancur, tapi ketika kamu memilih untuk menghancurkannya, tanpa sadar kamu telah menghancurkan dirimu sendiri untuk yang kedua kalinya! Lagi-lagi kamu menyakiti diri sendiri hanya demi balas dendam, tidakkah kamu sadar kalau kamu menderita itu karena perbuatanmu sendiri?"


"Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu juga bodoh ingin aku bahagia di atas penderitaanmu? Sampai sekarang aku masih ingat jelas saat kamu mengobrak-abrik apartemenmu dan menghancurkan semua hadiah dariku, kamu sampai segitunya karena cintamu, dan akulah penyebabnya. Bagaimana bisa aku bahagia jika kamu menderita? Dan aku sangat enggan bahagia di atas penderitaan orang lain!"


"Apa kamu pikir dia tidak sama denganku? Kamu pasti belum pulang ke rumah kalian kan? Coba saja kamu pulang lalu lihatlah, dia pasti juga telah mengobrak-abrik seluruh isi rumah. Sekarang aku tahu kenapa kamu sulit bahagia, itu karena kamu tidak mau jujur dengan perasaanmu sendiri. Kamu telah mencintainya, maka jangan menyangkalnya!"


"Ukh ..." Nisa mulai menggigit bibirnya sendiri, dia memalingkan wajahnya lalu menunduk, bahkan dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Aku tak apa Nisa, sungguh. Jangan gunakan aku lagi sebagai alasan balas dendammu. Melangkahlah ke arahnya, temukan bahagiamu yang sesungguhnya! Dia mencintaimu dan kamu juga mencintainya. Jika dialah yang memang menjadi penggantiku, semoga saja dia lebih baik dariku dalam segala hal, termasuk mencintaimu. Genggam erat tangannya seerat aku yang dulu pernah menggenggam tanganmu. Peluk kuat tubuhnya sekuat aku yang dulu pernah memeluk tubuhmu. Jaga dia semampumu seperti aku yang dulu pernah menjagamu. Aku mohon jangan pernah sesali apa yang terjadi pada kita. Lupakan, dan pelan-pelan ikhlaskan."


Sontak saja tangis Nisa pecah, bahkan tubuhnya juga terlihat bergetar karena emosinya yang meluap.


"Hik ... a-apa kamu tak pernah mengeluh, Rick? S-semua waktu, perhatian, tenaga, dan kenangan yang kamu telah kamu habiskan begitu banyak denganku ... tapi malah berakhir sia-sia. Hik .. apa kamu tak menyesal?"


"Tidak, karena aku bersyukur bisa mengenalmu, dan pernah menjadi bagian-bagian dalam hidupmu. Menjadi peluk yang menghangatkanmu, menjadi sesuatu yang kamu sebut bahagia. Aku bersyukur telah memiliki kesempatan itu bersamamu. Soal jodoh itu sudah ada yang mengatur, dan sejak awal aku datang hanya untuk mencintaimu, bukan untuk melawan takdir. Tersenyumlah, karena jika kamu tersenyum maka aku juga ikut tersenyum."


"K-kenapa ... kenapa kamu bisa setulus itu mencintaiku, sedalam itu mencintaiku, bahkan dengan bodohnya mencintaiku? Padahal aku ini orang yang sangat buruk ..."


"Jika kamu bertanya kenapa aku setulus itu, kenapa sedalam itu, atau kenapa aku sebodoh itu. Maka jawabannya hanya satu, aku mencintaimu tanpa syarat. Asalkan kamu adalah Nisa, Nisa yang aku kenal, maka aku akan terus mencintaimu. Di mataku, asalkan itu kamu, maka itu sudah sangat istimewa dibanding apa pun."


"Aaahhh!! Tetap saja! Tetap saja aku membenci diriku sendiri! Keputusan sepihak yang membuatku mengakhiri hubungan kita tetap tidak bisa dimaafkan! Dan itu pastinya sangat menyakitkan untukmu. K-kamu dari tadi berkata seperti itu karena ingin aku sadar kalau selama ini kamulah adalah yang paling tersakiti, kan?"


"Bukan, bukan begitu. Aku mengatakan semua itu bukan karena aku ingin menjelaskan bahwa akulah yang paling tersakiti, atau bahkan bukan karena memintamu kembali. Tapi akhirnya kamu sadar juga kalau keputusan sepihak yang kamu lakukan itu memang menyakitkan. Dan sekarang, tidakkah kamu sadar kalau kamu lagi-lagi melakukan keputusan sepihak kepadanya? Aku mengatakan semua itu hanya karena ada satu hal yang ingin kusampaikan. Aku mohon, tolong jangan ada lagi luka selain aku ..."


Nisa hanya bisa menangis, bahkan dia menangis sampai terisak dan dalam waktu yang cukup lama. Semua keluhan yang selalu mengganjal di hatinya dan yang membuatnya selalu merasa tersiksa telah dia keluarkan, bahkan mengejutkannya lagi jawaban yang diberikan adalah di luar dugaan.


Sedangkan Ricky, melihat orang yang masih dia cintai menangis membuat hatinya serasa teriris. Dia sendiri juga berusaha menahan keluarnya air mata, bahkan dia masih menyempatkan diri untuk membantu Nisa menenangkan diri.


Ketika Nisa telah usai menangis, dia memberitahu Ricky bahwa dia ingin ke kamar mandi untuk mencuci muka. Namun dia berada di kamar mandi juga terbilang cukup lama, padahal yang dia lakukan hanya memandangi bayangannya sendiri di cermin. Dia semakin merasa pilu begitu melihat dirinya yang tampak menyedihkan, matanya sembab bahkan sesekali dia masih terisak.


"Hahh ..."


Lihatlah aku, inilah aku, orang yang menyedihkan ini adalah aku. Aku selalu saja memilih pilihan yang salah, salah untukku, salah untuk orang yang kusayangi. Mungkin aku memang harus menerima semua ini, mungkin seperti inilah cara Tuhan menunjukkan siapa yang sebenarnya untukku.


Ricky adalah orang baik, sangat baik. Dan orang sepertiku memang tak pantas untuk bersamanya. Bisa-bisanya ada orang sebaik itu mau mencintaiku, dia rela untuk jatuh, bangun, patah, tumbuh, hanya demi diriku. Aku sadar, dia tak pernah kehilanganku, tapi aku yang kehilangan dia.


Andai saja perasaanku masih sama seperti sebelumnya, maka aku pasti akan berlari ke arahnya tanpa ragu atau takut akan apa pun, tapi kenyataannya sekarang berbeda. Sekarang rasanya terlambat untuk mengerti, yang disebut move on itu memang tidaklah mudah. Ini bukan cuma soal melupakan dan menghapus perasaan, menerima kenyataan dan memaafkan kesalahanku sendiri juga termasuk, dibanding melupakan masa lalu lebih tepatnya disebut berdamai dengan masa lalu. Andai saja aku menyadari ini lebih awal, dengan begitu maka aku tak akan menyakitkan orang lain lagi.


Ricky benar, sekarang perasaan menyesakkan yang selama ini terus menggangguku telah jauh berkurang. Tapi aku masih butuh satu hal, aku butuh kepastian, aku ingin memastikan perasaanku yang sebenarnya.


TOK TOK TOK!!


"Nisa, apa kamu baik-baik saja? Kenapa lama sekali?"


"I-iya, aku akan segera keluar!"


Sekali lagi Nisa menggosok matanya, dia menarik napas panjang dan bergegas keluar dari kamar mandi. Bahkan saat di luar sudah ada Ricky yang menyambutnya dengan senyuman.


"Sudah merasa baikan, kan? Ayo, aku antar pulang!"


"Tak perlu Rick, sebentar lagi aku pasti dijemput. Dan ..." Nisa terdiam, bahkan dia mencengkeram kuat tangannya sendiri yang dia sembunyikan di belakang.


"Dan apa?"


"Ehmm ... b-bolehkah aku memelukmu?"


"Untuk apa?" Ricky terkekeh.


"Aku hanya ingin memastikan sesuatu, jadi ... apakah boleh?"


"..."


Ricky tersenyum, dan mendadak dia mendekat kepada Nisa lalu langsung memeluknya. Menyadari hal itu, Nisa berhenti mencengkeram tangannya dan langsung membalas pelukan dari Ricky.


Pelukan ini ... ini adalah pelukan yang selalu aku rindukan. Hangatnya pelukanmu, bagaimana itu bisa menenangkanku, bagaimana itu bisa membuatku merasa aman. Ini adalah kehangatan akrab yang aku kenali setiap saat.


Tapi ... kurasa aku telah kehilangannya.


Rasanya sedikit lebih dingin sekarang, dan aku bertanya-tanya sebenarnya sejak kapan ini berubah jadi dingin? Apa yang membuatnya berubah jadi dingin? Apa karena perasaanku yang sudah tak sama lagi? Atau karena aku telah menemukan kehangatan yang lain?

__ADS_1


Haha, ternyata begitu, sekarang aku telah mendapat kepastian yang aku butuhkan. Terlepas dari semua itu, meskipun sekarang terasa lebih dingin, aku harap kamu dapat menemukan tempat yang hangat dan nyaman untukmu tempati. Aku harap ... kamu akan menemukan kehangatan akrab yang menjadi penggantiku. Karena, sangat sayang jika kehangatan seperti ini disia-siakan.


Aku mencintaimu, tapi itu dulu.


__ADS_2