Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Memenuhi Sumpah


__ADS_3

Nisa terus memeluk erat Keyran hingga tangisan terharunya berhenti. Kencan pertamanya dengan Keyran ini sungguh istimewa baginya. "Terima kasih, Key ... Aku tak tahu bagaimana mengungkapkan betapa senangnya aku hari ini."


"Baguslah jika kau senang." Keyran tersenyum lembut, mengusap pipi Nisa lalu memberikan kecupan di keningnya.


"Aku benar-benar tak habis pikir kau menyiapkan semua ini untukku, padahal setiap hari kau sibuk bekerja, tapi kau bisa menyiapkan kejutan yang romantis seperti ini."


"Maaf jika aku selalu sibuk, sebisa mungkin aku akan meluangkan waktu lebih banyak lagi untukmu. Dan harus aku akui, sebenarnya aku mengajakmu kencan karena menginginkan sesuatu."


"Ingin tubuhku?" tanya Nisa spontan.


"Bukan! Yang itu aku juga ingin ... tapi kenapa kau bisa berpikir aku semesum itu?"


"Habisnya kau sudah punya segalanya, dan yang aku punya cuma tubuhku. Jadi kupikir kau mau itu sekaligus jatah yang lebih banyak dari biasanya, hehe ..." Nisa tersenyum canggung.


"Dasar ... yang aku inginkan adalah pernyataan cintamu, belakangan ini aku baru sadar jika kau belum pernah mengatakan mencintaiku. Aku sempat bimbang, jadi aku membuat kencan yang romantis ini agar mendengar kata-kata itu keluar dari mulutmu."


Nisa tertegun, sejenak kemudian memeluk Keyran lagi dan berkata, "Aku mencintaimu. Sederhana, bukan? Kau tinggal bilang jika kau ingin mendengarnya dari mulutku. Tak perlu bersusah payah seperti ini, tapi aku tetap hargai yang kau lakukan untukku ..."


"Kalau begitu sering-sering ucapkanlah setelah ini. Meskipun itu kalimat sederhana seperti yang kau bilang, tapi aku sangat senang mendengarnya."


Akhirnya berjalan sesuai keinginanku, hanya tinggal satu lagi. Aku akan mengajak Nisa ke hotel untuk berdansa di ballroom, dan setelah itu tentu saja melakukan hal yang menyenangkan.


"Nisa, setelah ini mari pergi ke-"


"Key, aku mau ke toilet sebentar. Tadi aku menangis, jadi aku mau memperbaiki riasanku dulu," potong Nisa.


"Baiklah, aku akan menunggumu di sini."


Nisa pun melepaskan pelukannya dan pergi meninggalkan Keyran. Sedangkan Keyran kembali duduk dan menunggu hingga Nisa selesai memperbaiki riasannya.


20 menit telah berlalu, Keyran yang mulai jenuh menunggu lalu menggerutu, "Ck, dasar wanita ... Lama sekali kalau sudah berkaitan dengan riasan. Harusnya tadi aku bilang saja kalau Nisa sangat cantik jadi riasannya tak perlu diperbaiki."


Tiba-tiba saja seseorang datang, dia tidak lain adalah Valen. "Eh, Tuan masih di sini?"


"Tentu saja, aku sedang menunggu istriku. Cepat pergi sana, jangan sampai Nisa melihatmu!"


"Ah, saya ke sini cuma mau menanyakan satu hal. Pihak hotel bertanya lagu apa yang mau diputar untuk dansa nanti, saya berniat menghubungi Anda tapi tidak tersambung. Lalu saya lihat nyonya tidak ada, jadinya saya kemari," jawab Valen sambil memegang tengkuknya.


"Pilih saja lagu yang temponya sedang, dan sekalian suruh pelayan periksa toilet, tanyakan apa Nisa masih lama!"


"Baik Tuan," Valen bergegas pergi. Dan tak lama kemudian dia kembali lagi bersama seorang pelayan wanita.


"Cepat katakan!" pinta Valen pada pelayan itu dengan tampang gugup.


"Ada apa? Di mana Nisa?" tanya Keyran yang mulai berfirasat buruk.


"Anu Tuan ... Nyonya tak pernah masuk ke toilet, tadi saya melihat beliau turun ke lantai dasar. Sepertinya beliau hendak keluar dari restoran," jawab pelayan itu dengan keringat dingin.


"Apa?! Sial, lalu ke mana perginya?!"


Valen beserta pelayan itu hanya menundukkan kepala. Mereka tahu jika jawaban mereka hanya akan membuat Keyran bertambah marah.


DRRTT DRRTT


DRRTT DRRTT


Tiba-tiba ponsel milik Keyran bergetar, saat Keyran melihat bahwa itu panggilan telepon dari Nisa, dia langsung mengangkatnya begitu saja.


"Nisa, kau ada di mana?!"


"Aku teringat ada urusan mendesak. Jangan marah darling, aku mencintaimu. Muach~"


TUT TUT ...


Seketika Keyran panik dan merogoh sakunya. "Sial, kunci mobilku benar-benar tidak ada! Jangan-jangan Nisa tadi mengambilnya saat memelukku!"


Keyran teramat sangat marah, padahal kencan yang dia atur belum sepenuhnya berakhir namun istrinya malah kabur meninggalkan dirinya. Dia mencoba untuk menelepon Nisa kembali berulang kali, tetapi Nisa sama sekali tidak mengangkatnya.


"Kurang ajar, kenapa hobi anehnya harus kambuh sekarang?! Valen, cepat ikut aku!"


"B-baik Tuan."


Kedua orang itu segera meninggalkan restoran dan bertanya kepada petugas yang berjaga area parkir.


"Permisi Pak, tadi lihat tidak mobil Porsche warna merah jalan ke arah mana?" tanya Valen.


"Sepertinya tadi jalan ke arah barat."


"Baik, terima kasih Pak!"


"Ayo cepat kejar Nisa sekarang juga!" pinta Keyran.


Mereka berdua kembali berlari, Valen memimpin jalan untuk ke tempat dia memarkirkan mobil.


"Nyonya melaju ke arah barat, sepertinya ingin pergi ke pusat kota."


"Aku tahu dia pergi ke mana, cepat jalan ke Grizz Glory Casino!"

__ADS_1


"Baik."


Dengan kecepatan tinggi Valen pun melaju ke tempat yang Keyran minta. Perjalanan kembali ke pusat kota kali ini lebih cepat setengah jam karena dia mengebut.


Saat tiba di tempat yang dituju, Keyran langsung bergegas turun dari mobil dan masuk ke dalam kasino itu. Bahkan ketika di dalam area berjudi, dia berteriak dengan keras tanpa memedulikan tatapan dari semua pengunjung.


"Nisa! Keluar kau! Aku tahu jika kau ada di sini!"


"Cepat keluar! Dasar istri bodoh!"


Meskipun mengganggu, namun tak ada satu pun staff maupun penjaga kasino yang bergerak untuk memberi tindakan pada Keyran. Karena mereka semua paham betul apa akibatnya jika mengusik suami dari bos mereka.


Hingga salah seorang staff melaporkan kepada yang berwenang. Sang manajer kasino, yaitu Marcell akhirnya muncul dan menghampiri Keyran.


"Ada urusan apa kau kemari?" tanya Marcell dengan ekspresi datar.


"Di mana Nisa? Aku tahu jika dia ada di sini, cepat katakan padanya untuk segera menemuiku!"


"Dia tidak ada si sini, silakan kau pergi dan jangan buat keributan lagi!" ucap Marcell penuh penekanan.


"Tidak mungkin, jelas-jelas dia bilang padaku jika dia punya urusan. Pasti ini juga berkaitan denganmu, jadi kau jangan berusaha menyembunyikan Nisa dariku!" Keyran bersikeras.


"Baiklah jika kau tak percaya, geledah saja kasino ini sendiri. Aku malas meladenimu." Marcell berbalik dan berjalan pergi.


"Kau ..." Keyran membisu. Karena sikap Marcell yang seperti itu, dia mulai ragu jika Nisa memang berada di kasino. Akhirnya dia pun pasrah, keluar dari kasino dan kembali masuk ke mobil.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Keyran pada Valen.


"Saya sudah berkeliling dan memastikan jika mobil Tuan tidak ada di sekitar sini. Mungkin memang benar jika nyonya Nisa tidak kemari."


"Ya sudah, kita pulang saja!" pinta Keyran yang mulai frustrasi.


"Eh? Lalu bagaimana dengan nyonya?"


"Dia pergi atas keinginannya sendiri, meskipun aku tak tahu apa yang dipikirkan oleh otak aneh istriku itu. Aku yakin jika dia akan kembali dan baik-baik saja."


"Baiklah ..."


Sial, aku juga kesal dengan sikap nyonya yang tidak wajar. Bisa-bisanya dia kabur karena alasan tidak jelas di tengah-tengah kencan. Jika perasaan Tuan memburuk, gajiku juga yang akan kena imbasnya.


Valen pun mengantar Keyran pulang. Bahkan setibanya di kediaman, Bibi Rinn dibuat bingung kenapa bisa Keyran pulang sendirian. Dia tahu jika sebelumnya majikannya pergi berkencan, namun dia tidak berani bertanya dikarenakan ekspresi Keyran yang tampak begitu kesal.


Begitu masuk ke kamar, Keyran pun langsung berteriak, "Arghh ... Nisa! Awas saja nanti, saat kau pulang nanti aku akan menghukummu!"


DRRTT DRRTT


DRRTT DRRTT


"Reihan, ada apa?"


"Aku cuma mau mengabari sesuatu yang menarik, Kak Nisa sedang membuat masalah. Lebih jelasnya kakak ipar bisa langsung lihat video yang sudah aku kirim. Itu saja ..."


Panggilan telepon berakhir dan Keyran langsung melihat video seperti apa yang adik iparnya kirimkan. Matanya langsung membulat begitu menonton video tersebut.


"NISAAA!! Lebih baik kau siksa saja aku!"


...Pada saat yang sama, alun-alun kota...


...••••• ...


Keadaan alun-alun kota saat ini begitu ramai. Meskipun bukan malam minggu, di mana orang-orang maupun pasangan muda mencari suasana. Dan tentu saja semua kerumunan orang itu disebabkan oleh Nisa.


"Hahh ... sial, ramai sekali," keluh Nisa yang saat ini duduk di sebuah bangku sambil bersedekap.


"Kakak serius mau melakukan ini?" tanya Dimas.


"Tentu saja serius! Kita sekarang sudah di sini dan sudah banyak orang yang tidak sabar," sahut Reihan sambil mengayun-ayun sebuah alat musik ukulele.


"Diam kalian berdua!" bentak Nisa yang kemudian menoleh ke arah ayahnya. "Kapan aku bisa mulai ayah? Makin lama makin banyak orang!"


"Kapan saja asal kau siap putriku, sayang sekali ibumu tidak mau ikut untuk melihat pertunjukan spektakulermu~" jawab Gilang sambil tersenyum, senyum kematian.


"Ya sudah, kalau begitu sekarang saja!" Nisa beranjak dari bangku dan melangkah menuju ke tengah.


Puluhan pasang mata tidak bisa melepaskan perhatiannya pada Nisa. Penampilannya malam ini begitu menarik jika diabaikan. Dia memakai rok rumbai-rumbai dan atasan yang mini, menampilkan perut rampingnya yang sexy.


Selain itu, dia juga memakai hiasan lain seperti kalung, gelang, gelang kaki dan hiasan kepala yang terbuat dari rangkaian bunga. Penampilannya saat ini seperti penari Hawaii yang akan melakukan tarian hula.


"Aku rasa Kak Nisa sudah gila," ucap Dimas yang merasa malu dengan tingkah kakaknya.


"Heh, namanya juga cinta. Benar kan, Ayah?" tanya Reihan sambil meringis.


"Kalian berdua diamlah, lagi pula kalian sudah tahu sendiri seperti apa sifat kakak kalian. Dia tidak mungkin melanggar perkataan maupun sumpahnya," jawab Gilang sambil menyeringai.


"Memangnya kapan Kak Nisa membuat sumpah ini?" tanya Reihan penasaran.


"Dulu, ketika dia baru sehari menikah. Dia dengan lantang bersumpah di depan ayah jika seandainya dia jatuh cinta pada kakak iparmu, maka dia akan menari hula di tengah alun-alun kota. Sejak saat itu ayah sudah mempersiapkan semuanya, dan hari ini tidak ayah sangka kakakmu pulang ke rumah dan membuat pengakuan. Tentu saja ayah tidak melewatkan kesempatan mempermalukan kakakmu, dia itu nakal dan sekali-kali pantas diberi pelajaran."

__ADS_1


^^^*Note: Nisa bersumpah menari hula ada di episode [Janda Kembang, Bab 38] author maklum kalau kalian lupa😂 ^^^


"Pfftt ... sumpah macam apa itu? Kak Nisa sebegitunya percaya diri dan membuat sumpah yang ekstrim." Reihan terkekeh.


"Haiss ... jika kakak ipar tahu, dia tidak bunuh diri karena malu kurasa sudah bagus. Aku saja yang adiknya merasa lebih baik tidak kenal Kak Nisa," ucap Dimas dengan wajah suram.


"Hei, cepat kemari. Aku kedinginan!" teriak Nisa dari kejauhan.


"Iya-iya ..." Dimas lalu menghampiri Nisa dan memberikan mic kepadanya. "Aku mohon setelah ini berpura-puralah tidak ada hubungan darah denganku," bisiknya sambil melotot.


"Ck, bawel!"


Nisa kemudian menarik napas panjang. "Ehem! Aku mengucapkan selamat malam kepada semua yang sudah hadir di sini. Pertama, aku ingin menyampaikan jika aku tidak gila. Kedua, aku akan menari atas keinginanku sendiri, bukan untuk menghibur kalian ataupun mewakili sanggar tari! Dan yang terakhir, aku akan mengatakan alasan kenapa aku melakukan ini ...."


"AKU MENCINTAIMU, KEY!!" teriak Nisa yang mampu membuat semua orang melongo.


Nisa mengembalikan mic tersebut kepada adiknya. Setelah Dimas menyingkir ke pinggir, Nisa pun memberi aba-aba kepada Reihan untuk segera memainkan ukulele.


Nisa langsung memulai tariannya dengan menyesuaikan irama dari senar ukulele yang dipetik. Orang-orang yang menonton pun tak melewatkan hiburan yang langka seperti ini dan mengabadikannya dengan merekam video menggunakan ponsel mereka.


Suara teriakan dan tawa dari penonton tak mengganggu tarian Nisa sama sekali. Senyuman tipis terus terukir di sudut bibirnya, semua gerakannya berpadu sempurna dengan alunan irama musik yang mengiringi tariannya.


Rok rumbai-rumbai yang melilit juga berpadu dengan gerakan pinggul yang bergoyang ke kiri kanan serentak dengan gerakan kaki, menjadi kekhasan tarian Hawaii yang tak lupa Nisa tonjolkan dalam tariannya ini. Tangannya pun juga bergoyang, bergerak seperti ombak yang menggambarkan irama alam.


Sungguh tarian hula yang sangat indah dan anggun. Mungkin akan sesuai jika Nisa melakukan di pantai, yang mana terdapat riak ombak laut dan dedaunan pohon yang melambai. Namun sayang dia menari di tengah alun-alun, sehingga menimbulkan kesan lucu yang membuat orang-orang tertawa pada malam hari ini.


"Hentikan sekarang juga!!"


Nisa langsung berhenti menari dan Reihan berhenti memainkan ukulele. Saat Nisa menoleh ke sumber suara, dia terkejut melihat kedatangan suaminya.


"Hal bodoh apa yang kau lakukan?! Ayo cepat pulang!" Keyran menarik tangan Nisa, bermaksud untuk menyeretnya ke pinggir. Tetapi Nisa justru menepisnya.


"Tidak mau, aku baru menari setengah lagu. Tunggu aku selesai baru aku mau pulang!"


"Kau ...!"


Orang-orang pun mulai berbisik, Keyran yang tak mau lebih lama menanggung malu lagi akhirnya mengangkat tubuh Nisa dan menggendongnya di pundak dengan paksa.


"Turunkan aku, Key!" pinta Nisa sambil meronta.


"Kita pulang! Titik!" Keyran memegangi istrinya lebih erat lagi dan langsung membawanya masuk ke dalam mobil. Karena tak ingin mendapatkan lebih masalah lagi, Keyran pun dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah.


Dia terus menatap Nisa penuh amarah, bahkan dia juga menyeret Nisa dengan paksa dan melemparnya ke atas ranjang begitu saja. Di satu sisi Nisa juga tahu betul jika suaminya sedang marah padanya. Dia hanya duduk dan menundukkan kepala, tak berani lagi menatap mata suaminya.


"Maaf ..." ucap Nisa dengan suara lirih.


"Huh, kau pikir permintaan maafmu cukup untuk menutupi rasa maluku?! Apa-apaan kau ini?! Bisa-bisanya kau menari hula di alun-alun, aku tahu kalau kau aneh, tapi aku tak menyangka kau seaneh ini. Bahkan aku tidak habis pikir kau sampai meninggalkanku saat kencan demi menari hula!"


"Astaga, apa kau sebegitu sukanya membuat masalah? Apa kau senang menjadi trending topik? Sebenarnya apa ... apa yang membuatmu sampai melakukan hal tidak masuk akal seperti ini? Apa kau kalah dalam taruhan?!"


Nisa tak berkata apa pun dan menunggu Keyran selesai memaki dirinya. Saat suaminya tak berkata apa-apa lagi, dia pun mendongak dengan ekspresinya yang memelas. "Maaf ... aku tak bermaksud membuatmu malu."


Tiba-tiba dia menarik sebelah tangan Keyran dan meletakkannya di pipinya. "Hukum saja aku, tampar aku sebanyak yang kau mau ...."


Keyran menarik tangannya, tidak mungkin baginya tega untuk menyakiti atau menampar istrinya. Dia menghela napas kasar lalu duduk di sebelah Nisa. "Aku mau penjelasan!"


"Kurang tepat jika kau bilang karena kalah taruhan, tapi karena aku melanggar sumpahku."


"Sumpah?" tanya Keyran dengan tatapan dingin.


"Iya ... Sebuah sumpah lama, kau tahu sendiri jika dulu aku menentang pernikahanku denganmu. Aku sangat tidak suka denganmu, jadi aku membuat sumpah di hadapan ayahku apabila suatu saat aku mencintaimu, maka aku akan menari hula di tengah alun-alun."


"Aku pikir hari ini tidak akan pernah terjadi. Sebenarnya ini ada hubungannya dengan aku yang tak pernah mengatakan cintaku padamu, aku mencintaimu sudah lama tetapi baru berani mengatakannya hari ini. Itulah mengapa aku meninggalkanmu saat kencan, karena jika aku menunda menari di lain hari, mungkin aku tak akan pernah punya keberanian sebesar sekarang."


"Kejutan yang kau berikan padaku hari ini telah memberi keberanian untukku, aku tak merasa malu ataupun menyesal meskipun aku menari hula dan dilihat banyak orang. Aku hanya sedang menjalankan kewajiban sumpahku. Sekali lagi tolong maafkan aku jika kelakuanku membuatmu malu ...."


Keyran menoleh, lalu menepuk kepala Nisa dengan lembut. "Lain kali jangan buat sumpah konyol semacam ini lagi. Kau tenang saja, sebelum menjemputmu aku sudah menyuruh orang untuk mengendalikan berita. Jadi besok pagi berita tentang kelakuan anehmu ini akan tertutupi oleh berita lain."


Nisa tersenyum lembut lalu memeluk Keyran. "Terima kasih, aku mencintaimu ..."


"Ya, ngomong-ngomong ... kau jangan memakai pakaian minim seperti ini lagi di depan umum. Tubuhmu hanya aku yang boleh melihatnya!"


"Haha maaf, aku janji tidak akan ada lain kali. Aku akan ganti baju dulu, aku mulai kedinginan." Nisa melepas pelukannya dan turun dari ranjang. Dia hendak berjalan ke arah lemari namun Keyran menahan tangannya.


"Tunggu sebentar gadis hula!"


"Hm?"


"Kau bilang kedinginan, aku bisa membantumu menghangatkan tubuhmu."


"M-mesum!" teriaknya dengan wajah memerah.


Keyran menyeringai dan langsung menarik tangan Nisa hingga dia jatuh di atas pangkuannya. "Ini hukuman untukmu, bukankah cara ini lebih baik daripada menghukum dengan menamparmu? Dan aku juga penasaran bagaimana rasanya gadis hula~"


"Rasa katamu? Kenapa kau seperti mau memakanku?"


"Tentu saja, akan kumakan kau sampai habis!"

__ADS_1


__ADS_2