Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Saatnya Membalas!


__ADS_3

TAP TAP TAP!


Siang hari ini Natasha berjalan tergesa-gesa di lorong kantor pusat HW Group. Ruangan yang dia tuju adalah ruangan Keyran. Natasha langsung masuk begitu saja tanpa permisi, Keyran yang menyadari tingkah laku Natasha saat ini hanya membelalak karena kaget.


"Untuk apa kau datang ke sini?" tanya Keyran terheran-heran.


Natasha lalu meletakkan kertas di meja kerja Keyran dengan kasar. "Itu kertas laporan hasil laboratorium!"


"Kenapa kau yang mengantar? Di mana Daniel?" tanya Keyran dengan tatapan sinis.


Natasha menghela napas. "Dengar ya kakak ipar, Daniel sekarang sedang sibuk! Karena belakangan ini kerjamu seperti ini terus jadinya ayah mertua kurang puas. Dia lalu mengalihkan beberapa project untuk diurus oleh Daniel."


"Laporannya baru keluar hari ini karena kau bersikeras untuk menguji semua jenis hidangan saat pesta itu. Padahal hanya menguji minuman yang digunakan untuk menjebak Daniel saja sudah cukup untuk membuktikan jika istrimu itu bersalah!"


"Ck, diamlah!" Keyran mengambil kertas laporan itu, ekspresinya semakin bertambah masam saat membaca ternyata hasil dari laporan itu tak sesuai dengan yang dia inginkan.


Natasha yang menyadari hal itu diam-diam tersenyum tipis, dia sangat puas melihat bagaimana keadaan yang sedang terjadi sekarang. "Kakak ipar tak perlu mencurigaiku, aku tidak akan pernah menyuap untuk mengubah hasil tes! Jika masih belum percaya, silakan saja bertanya sendiri ke sana!"


Heh, lagi pula aku juga tak perlu melalukan itu. Kau pikir aku tak tahu jika kau menginterogasi semua pelayan satu per satu? Tapi sayangnya kau kalah cepat, pelayan yang tahu jika aku menambahkan sesuatu di minuman Daniel dan cake milik Nisa sudah aku suap. Aku tak masalah mengeluarkan uang sebanyak apa pun asalkan hidup si jal*ng itu hancur!


Rencana yang aku buat dengan matang akhirnya sempurna, apalagi saat Nisa yang menjadi penanggung jawab utama. Seolah-olah takdir memang membantuku, dugaan jika Nisa yang menjebak Daniel akan semakin kuat mengingat Nisa punya otoritas itu.


Aku sengaja menambahkan banyak obat ke dalam cake itu, bodohnya Nisa karena menghabiskan makanan itu tanpa sisa. Dan aku juga menambahkan sedikit ke minuman Daniel yang tersisa setengah. Jadi meskipun dilakukan uji coba laboratorium juga tidak akan masalah. Mungkin aku sedikit beruntung karena mendapatkan suami yang mendukungku. Meskipun sebelumnya aku tak menyangka jika Daniel juga membenci Keyran.


Ini adalah sebuah rencana yang sempurna. Aku ingin Nisa hancur, sementara Daniel ingin Keyran hancur. Dan itu dilakukan dengan cara memisahkan mereka berdua. Haha, bagaikan membunuh dua burung dengan satu batu.


Di sisi lain Keyran yang sudah selesai membaca akhirnya melipat kertas itu dan meletakkannya ke pinggir. Natasha yang menyadari hal itu langsung berkata, "Kakak ipar, aku sarankan segera panggil pengacaramu, lalu ajukan permohonan perceraian ke pengadilan. Sebuah aib jika terus mempertahankan wanita seperti Nisa."


"Diamlah! Cepat pergi jika urusanmu sudah selesai!" bentak Keyran penuh amarah.


"Huh, baiklah!" Natasha mendengus kesal dan segera pergi meninggalkan ruangan itu. Tetapi saat dia di luar, secara tak sengaja dia berpapasan dengan Valen yang ingin memasuki ruangan Keyran.


"Bos-mu sedang dalam suasana hati yang buruk," ucap Natasha.


"Aku lebih paham dia jika dibandingkan dengan kau," jawab Valen acuh tak acuh.


Natasha kesal karena diperlakukan tidak hormat oleh Valen. Dia langsung mempercepat jalannya untuk pergi meninggalkan kantor itu. Sedangkan Valen, dia memasuki ruangan Keyran sambil membawa selembar kertas di tangannya.


"Tuan, ini laporan hasil laboratorium. Sprei, selimut dan semuanya telah diperiksa secara diam-diam seperti yang Anda minta." Valen lalu menyerahkan kertas itu di meja kerja Keyran.


Keyran membaca hasil laporan itu, dia terlihat sedikit ragu ketika sudah selesai membacanya. "Di sini tertulis jika sampel DNA dari Nisa maupun Daniel terdapat di barang-barang itu. Tetapi ... sampel yang ditemukan cuma rambut yang menempel di sarung bantal."


"Menurut saya itu hal yang baik. Tidak ditemukan sampel lain selain rambut, jadi emm ... cairan seperti tanda-tanda setelah bercinta tidak ada. Dan kemungkinan besar tidak terjadi apa pun antara Nyonya Nisa dengan Tuan Daniel."


Keyran berekspresi murung, dia menggenggam kertas hasil laporan itu hingga menjadi kusut. "Valen," panggil Keyran dengan suara lirih.


"Ya Tuan?" tanya Valen dengan tampang sedikit gugup.


"Apa menurutmu aku ini suami yang buruk?"


Sejenak Valen tertegun, lalu berkata, "Maaf Tuan, saya tidak punya jawaban untuk itu ..."


"Mungkin Nisa berpikir begitu. Aku marah saat melihatnya berada di ranjang yang sama dengan orang lain. Aku sangat marah hingga tanpa pikir panjang menyuruhnya pergi. Dan sekarang aku tahu jika aku salah paham kepadanya."


"Akhirnya aku sadar jika aku salah karena tidak mempercayainya. Aku ingin segera meminta maaf, tapi aku tak tahu dia di man-" Tiba-tiba Keyran terdiam. Sejurus kemudian dia langsung berdiri dan ekspresinya terlihat panik.


"Sial! Aku lupa soal kalung itu!"


"Kalung?" tanya Valen kebingungan.


"Iya! Aku sempat memberikan sebuah kalung untuk Nisa, di dalam liontin itu aku diam-diam menaruh sebuah chip pelacak. Semoga saja sekarang dia masih memakainya!"


Keyran langsung mengambil ponselnya, di ponsel yang telah dihubungkan oleh fitur GPS itu terdapat hasil yang menyatakan lokasi terkini dari kalung tersebut. Selang tak lama kemudian hasil lokasi yang akurat telah diketahui, dan seketika Keyran langsung bersemangat.


"Di danau! Wonder Lake!"


"Nyonya ada di danau?!" tanya Valen seakan percaya.


"Benar, kita ke sana sekarang!"


"B-baik Tuan!"


Keyran yang sudah tidak sabar lagi bertemu dengan Nisa segera menuju ke parkiran bersama dengan Valen. Bahkan dia menyuruh Valen untuk melaju sekencang mungkin agar saat mereka sampai di sana, Nisa belum pergi dari danau.


Sesampainya mereka di sana, Keyran langsung memperhatikan seluruh sudut dari danau Wonder Lake itu. Dia cukup kesusahan karena di siang hari ini banyak sekali pengunjung yang sedang bertamasya di sana.


"Nisa! Kau di mana?!" teriak Keyran yang sudah berkeringat banyak karena mengelilingi danau itu.


"Tuan, saya sudah mencari di sebelah timur dan selatan tapi nyonya tidak ada!" ucap Valen sambil mendekat ke arah Keyran.


Sekali lagi Keyran melihat ponselnya untuk memastikan di mana kalung tersebut menunjukkan arah.


"Lokasinya sejak tadi tidak berubah, dia tetap berada di area danau ini. Jangan-jangan ..." Keyran lalu menatap permukaan air danau yang jernih itu.


"Mungkin saja Nisa melompat ke danau! Sial, dia itu kan tidak bisa berenang!" Keyran kalang kabut, dia sangat panik dan bergegas untuk mendekati danau itu, tetapi dia ditahan oleh Valen.


"Tuan mau ke mana?! Tolong jangan bertindak gegabah!"


"Lepas! Aku mau mencari istriku!" Keyran menepis tangan Valen, namun sekali lagi Valen berhasil menahannya.


"Tolong berpikir jernih dulu, Tuan! Nyonya tidak mungkin bunuh diri dengan melompat ke danau! Saya yakin jika beliau bukan orang yang berpikiran sempit!"


"Diam kau! Kau tak tahu jika Nisa itu punya penyakit gangguan kecemasan! Dia bisa saja depresi lalu memilih untuk melompat ke danau! Aku tak akan memaafkan diriku sendiri jika itu benar-benar terjadi!"

__ADS_1


Keyran yang sudah tak bisa menahan diri lagi akhirnya mendorong Valen untuk menjauh, dengan cepat dia mendekati danau dan melompat ke air itu begitu saja.


BYURR!


"Tuan!!" teriak Valen sekeras mungkin.


"Kyaaa! Tolong! Ada orang yang tenggelam!"


"Petugas! Cepat panggil petugas!"


Orang-orang yang sebelumnya sedang asyik bertamasya mendadak panik secara serentak karena melihat Keyran melompat ke danau. Satu per satu dari mereka mendekati tepi danau tepat di dekat tempat Keyran menceburkan diri tadi.


"Tuan! Cepatlah naik ke atas! Danau ini cukup dalam!" teriak Valen yang semakin khawatir.


Semua orang yang ada di sana terus memperhatikan permukaan air. Mereka berharap dan mencemaskan Keyran karena tak kunjung naik lagi ke permukaan.


Tak berselang lama kemudian Keyran muncul ke permukaan lalu berenang ke tepi. Valen berinisiatif untuk menariknya, tetapi dia masih tak mau naik juga. "Sial, danau ini lebih dalam dari yang aku kira!"


"Anda terlalu sembrono! Cepatlah naik Tuan!" pinta Valen dengan nada memaksa.


"Ck, jangan mengaturku! Lagi pula aku punya sertifikat menyelam!"


"Meskipun begitu, menyelam juga tidak boleh sembarangan! Setidaknya Tuan harus memakai alat bantu terlebih dulu! Saya yakin jika nyonya baik-baik saja, yang ada di dasar sana hanya kalung."


Orang-orang yang melihat pun langsung kaget jika hal berbahaya yang dilakukan oleh Keyran hanya demi sebuah kalung.


"Astaga, orang bodoh mana yang mau mempertaruhkan nyawa demi sebuah kalung."


"Benar, meskipun kalung berlian tetapi nyawa juga lebih penting. Padahal jika dilihat-lihat dia itu orang kaya."


Keyran yang mendengar itu semua langsung menatap sinis ke orang-orang itu. "Diam! Kalian tak tahu apa-apa! Ini menyangkut nyawa istriku!"


Di satu sisi Valen belum menyerah untuk meyakinkan Keyran. "Sudahlah Tuan, percayalah pada saya jika nyonya Nisa tidak mungkin melompat ke danau. Bahkan jika itu benar seharusnya sudah ada yang melaporkan hal itu. Kemungkinan terbesar adalah nyonya sendiri yang membuang kalung itu ke danau ini."


"Walaupun cuma kalung, aku tetap harus mengambilnya! Aku harus membongkar chip itu, dengan begitu aku bisa tahu harus mencari Nisa ke mana! Kau sama sekali tidak membantu, lebih baik jangan halangi aku!"


"Baiklah, saya akan membantu! Tetapi Tuan harus naik ke tepi danau terlebih dulu! Jika Tuan ingin mencari nyonya, maka keselamatan Tuan juga harus diperhatikan. Saya akan menghubungi orang untuk membawa beberapa peralatan kemari, kita juga butuh lebih banyak orang agar kalung itu cepat ketemu."


"Baiklah," jawab Keyran yang akhirnya bisa bersikap lebih tenang.


Keyran lalu naik ke tepi danau, dia terus menunggu kedatangan orang suruhan Valen. Selang beberapa menit kemudian orang yang dimaksud telah datang. Keyran lalu menjelaskan seperti apa bentuk dari kalung yang mempunyai liontin berbentuk hati itu. Setelahnya mereka langsung memakai peralatan menyelam dengan lengkap dan memulai pencarian kalung tersebut.


Sedangkan para pengunjung di sana, beberapa dari mereka memilih untuk pergi, beberapa di antaranya memilih untuk tetap melihat dan menunggu karena penasaran. Pencarian kalung itu cukup memakan waktu karena kondisi tanah di dasar danau yang berlumpur.


Ketika sudah kurang lebih 40 menit berlalu, Keyran memerintahkan semua untuk berhenti mencari karena dia sudah menemukan kalung yang dia cari-cari. Mereka semua melepas peralatan menyelam ketika sudah di tepi danau.


"Hahh ... haah ... akhirnya ketemu juga," ucap Keyran dengan napas terengah-engah.


"Anu ... Tuan, saya juga menemukan sesuatu." Valen lalu menunjukkan benda yang dia temukan. Benda itu juga kalung, tetapi kalung itu terbuat dari perak dan kini sudah tampak menghitam. Kalung itu mempunyai liontin berbentuk bulan sabit.


"Saya memperhatikan, tapi ... di belakang liontin ini tertulis nama nyonya. Saya pikir ini barang penting, jadi saja juga mengambilnya."


^^^*Note: Kalung bulan sabit dari Ricky dibuang Nisa di episode [Wonder Lake, bab 66]^^^


"Berikan padaku!" Keyran merebut kalung itu, dan benar saja jika nama istrinya tertulis di belakang liontin itu.


"Nisa ..." gumamnya dengan wajah murung sambil menatap kedua kalung yang berada di genggaman tangannya.


Dulu, saat memasangkan kalung ini. Aku pernah bilang padamu agar jangan pernah melepasnya jika kau masih menganggapku suamimu. Dan sekarang ternyata kau bukan cuma melepasnya, bahkan membuangnya.


Sedangkan kalung bulan sabit ini ... pastinya kau dapatkan dari seseorang di masa lalumu. Dan kau juga membuangnya, beserta dengan membuang perasaanmu terhadapnya.


Aku tak mau hal yang sama terjadi pada hubungan kita, aku mohon berilah aku kesempatan Nisa! Aku pasti akan datang menemuimu dan meminta maaf atas kesalahan yang aku perbuat.


Tiba-tiba Keyran berdiri lalu melemparkan kalung dengan liontin bulan sabit itu kembali ke danau. "Beres!"


"Eh?! Kenapa dibuang?" tanya Valen kebingungan.


"Yang satu itu bukan benda penting," jawab Keyran acuh tak acuh.


"Cepat bereskan sisanya! Aku ingin segera membongkar chip di dalam sini!"


Setelah mendapatkan kalung itu, Keyran segera kembali ke perusahaan. Tetapi dia bukan kembali ke ruangannya, melainkan menemui seorang ahli IT yang dulunya juga menanamkan chip di kalung tersebut.


"Cepat bongkar chip ini! Kau bilang chip ini otomatis menyimpan data lokasi jika berhenti selama lebih dari 20 menit! Cari tahu semua lokasi yang pernah didatangi istriku!" pinta Keyran.


"Baik, Tuan."


Ahli IT tersebut langsung melakukan apa yang Keyran minta. Di satu sisi Keyran merasa harap-harap cemas saat menunggu hasil yang dia inginkan. Kurang lebih sekitar 10 menit kemudian, ahli IT tersebut sudah selesai membongkar chip pelacak itu.


"Tuan, saya sudah selesai memproses datanya."


"Bagus!" Keyran langsung beranjak dari tempat duduknya, dia melihat dengan saksama semua lokasi yang ditampilkan pada layar monitor tersebut.


"Semua lokasi ini ... aku mengetahui semuanya. Rumah, kantor, kampus, kafe, semuanya tidak ada yang mencurigakan. Saat ini tak mungkin jika Nisa berada di tempat-tempat ini ..." ucap Keyran penuh kekecewaan karena hasilnya tak seperti yang dia harapkan.


Lalu lokasi kalung ini tak berubah selama lebih dari 10 hari, artinya malam itu kau langsung membuang kalung ini. Kau pasti sangat kesusahan saat itu, bahkan mungkin saja kau bermalam di luar dan kedinginan. Aku memang suami yang buruk.


"Ehmm ... Tuan, apakah ada yang bisa saya kerjakan lagi?"


Sejenak Keyran tertegun, kemudian dia berkata, "Kau buatlah pengumuman di seluruh media massa, aku akan memberikan hadiah kepada siapa pun yang mempunyai informasi tentang di mana Nisa berada."


"Baik."

__ADS_1


Keyran meninggalkan ruangan itu lalu kembali ke ruangannya sendiri. Saat ini dia sama sekali tak punya semangat untuk melakukan pekerjaan apa pun. Dia mengambil ponselnya dan bermaksud untuk menghubungi nomor Nisa.


[Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Tinggalkan pesan setelah bunyi bip]


Keyran menghela napas yang terasa begitu berat, lalu dia memutuskan untuk meninggalkan pesan suara.


"Nisa ... maafkan aku karena baru menghubungimu sekarang, aku telah mengetahui yang sebenarnya ... Maafkan aku karena tidak mempercayaimu ..."


"Jika kau menerima pesan ini, aku mohon katakan kau ada di mana. A-aku pasti akan menjemputmu di mana pun kau berada ..."


"Tolong berikan aku kesempatan, aku pasti tidak akan pernah mengulangi kesalahanku lagi. Aku akan lebih percaya terhadapmu, aku tak akan pernah meragukanmu. kembalilah Nisa, aku mencintaimu ..."


Keyran telah mengirim semua pesan suara yang dia katakan dengan gemetar. Tetapi setelahnya pandangan matanya tak luput dari layar ponsel itu, dia berkali-kali memeriksa apakah Nisa sudah menerima pesan itu atau belum.


Namun, semakin lama dia mulai merasa frustrasi. Sorot matanya menjadi garang dan dia sangat murka kepada orang yang telah menjatuhkannya ke dalam situasi ini.


"Awas kau Daniel! Kau berhasil mempermainkanku hingga aku kehilangan istriku yang sangat aku cintai. Semua rasa sakit ini akan kubalas berkali-kali lipat! Nisa adalah segalanya bagiku, akan kubuat kau juga kehilangan segalanya!"


***


3 hari yang terasa berat telah berlalu, sekarang sudah tepat 2 minggu sejak kepergian Nisa dari kehidupan Keyran. Tetapi jagat dunia maya masih dihebohkan oleh Nisa, setelah meledaknya berita perselingkuhan itu, kini yang menjadi topik hangat adalah berita soal Keyran yang mengadakan sayembara berhadiah demi mencari keberadaan Nisa.


Banyak sekali orang-orang serakah yang memberikan informasi palsu, mereka semua mengaku pernah melihat keberadaan Nisa di suatu tempat. Meskipun belum sepenuhnya yakin, Keyran tetap menyuruh orang untuk memastikan hal itu. Dia tak melewatkan kesempatan sekecil apa pun demi menemukan istri tercintanya.


Lalu siang hari ini, Keyran tampak sendirian di ruangannya. Dan tiba-tiba saja seseorang masuk dengan membanting pintu, dia tidak lain adalah adik tirinya sendiri.


"Apa-apaan kau ini? Kau seperti orang yang tak punya sopan santun," ucap Keyran dengan tatapan sinis.


"Aku yang harusnya bilang begitu! Apa yang Kakak lakukan?! Kenapa Kakak mengacau di setiap project yang aku urus?!" protes Daniel seakan tidak terima.


Keyran menyeringai. "Heh, aku mengacau? Kau saja yang kerjanya tidak becus."


"A-apa?!" Daniel semakin tersulut emosi karena merasa direndahkan. "Kakak ini sebenarnya kenapa?! Yang Kakak lakukan ini jelas-jelas membawa kerugian untuk perusahaan! Semuanya menyalahkanku, bahkan sekarang ayah jadi tidak percaya kepadaku lagi!"


Keyran beranjak dari kursinya dan berdiri menghadap Daniel dengan pose menantang. "Kau pikir aku peduli? Yang kau dapatkan ini masih belum seberapa. Ayah kecewa padamu itu baru permulaan, akan kubuat kau kehilangan semua hal penting dalam hidupmu! Karena kau telah merenggut segalanya dariku! Kau yang telah menjebak istriku!"


Daniel tersentak. "A-apa yang Kakak maksud?! Siapa yang menjebak siapa? Kakak jangan asal menuduh tanpa bukti! Akulah yang paling dirugikan karena istrimu yang jal*ng itu!"


"Tutup mulutmu! Kau yang bajing*n! Aku sudah punya bukti jika kau menjebak istriku! Dan soal bekas lipstik di tubuhmu itu hanya pengalihan. Mungkin warnanya sama dengan milik Nisa, tapi jika aku ingat kembali bekas itu tidak cocok dengan bentuk bibir Nisa!"


"Dan aku peringatkan satu hal lagi! Jika aku menemukan bukti lain seandainya istrimu juga terlibat, maka aku juga tak akan melepaskannya begitu saja! Kalian harus membayar semua yang kalian perbuat!"


"K-kau sudah gila, Kak!" teriak Daniel.


"Kau yang memaksaku melakukan ini!"


...Pada saat yang sama, Grizz Glory Casino...


...••••• ...


Saat ini Jonathan masih berada di kasino itu, dan sekarang dia terlihat mondar-mandir di depan pintu kamar Nisa. Raut wajahnya tampak khawatir, dia kaget saat Marcell tiba-tiba mendekat ke arahnya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Marcell.


"Kenapa kau bisa terlihat biasa saja? Apa kau sama sekali tidak khawatir? Sudah 2 hari Nisa belum keluar dari kamar, dan dia belum memakan apa pun!" bentak Jonathan.


"Dia tidak akan mati karena hanya tidak makan beberapa hari. Justru kau yang malah mengganggu," ucap Marcell dengan wajah datar.


"Aku mengganggu? Apa maksudmu?" Jonathan kebingungan.


"Dia sekarang sedang menghitung batas, jika sudah di luar batas yang dia tentukan, maka dia akan bertindak."


"Batas?"


KLAKK ...


Tiba-tiba pintu terbuka dari dalam, lalu tampaklah Nisa yang sorot matanya dipenuhi oleh kemarahan.


"Oh, kebetulan kau ada di sini. Suruh semuanya untuk berkumpul!" pinta Nisa pada Marcell, dia mengabaikan keberadaan Jonathan seolah-olah seperti angin lalu.


"Semuanya sudah berkumpul di area biliar. Kami tinggal menunggu perintah darimu," jawab Marcell.


"Baguslah, aku akan segera menyusul ke sana. Tapi aku punya tugas untukmu, seret Daniel kemari! Kau boleh pakai cara apa pun dan menyiksanya sesukamu, tapi biarkan dia tetap sadar karena aku ingin bicara beberapa hal dengannya."


"Baik."


"Tunggu dulu Nisa!" cegah Jonathan.


"Hm?"


"Apa kau serius? Dia mungkin bajing*n, tapi identitasnya sebagai adik iparmu dan anak si tua Muchtar bisa jadi masalah untukmu ke depannya."


"Kau bilang menyukai langitku, kenapa kau meragukan keputusan langit?" sahut Marcell.


"..." Jonathan membisu.


"Tak apa, aku paham kalau kau khawatir. Tapi inilah caraku, semua ini sudah di luar batas! Inilah saatnya membalas! Akan aku selesaikan dengan cara gangster!"


•••


Maafkan diriku karena baru sempat update🙏


Ceritanya author ketahuan menulis cerita ini oleh orang tua author karena ceroboh😭 Untungnya mereka belum baca keseluruhan, author takut banget tapi cuma bisa pelukan sama guling🤧

__ADS_1


Sekarang jadinya tiap mau nulis harus sembunyi-sembunyi dulu, jadi author mau minta maaf di awal jika bab-bab selanjutnya akan memakan waktu lagi🙏


Terima kasih banyak karena tetap setia menunggu, meskipun menunggu itu melelahkan💓


__ADS_2