Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Kunjungan Dadakan (2)


__ADS_3

"K-kau pernah hampir terbunuh karena Nisa?! Bagaimana itu bisa terjadi? Lalu apa hubungannya dengan tato?" tanya Jonathan yang tidak percaya dengan pernyataan Morris.


"Umm ... t-tiga tahun yang lalu, kebakaran kapal pesiar, Violent Zone. And about tatto ... s-saat itu dia pakai pakaian terbuka." jawab Morris sedikit ragu.


Sontak saja Jonathan tertegun, dia mulai serius berpikir tentang jawaban yang diberikan oleh Morris.


Waktu itu ... aku ingat kalau aku menyuruh Morris untuk mewakili hadir. Saat itu juga bertepatan dengan hari dimana turnamen hidup dan mati berlangsung. Tapi acara itu berantakan gara-gara ada yang membuat masalah, dan siapa sangka setelah turnamen itu berakhir kapalnya malah terbakar.


Morris beruntung bisa selamat, padahal orang-orang di kapal itu kebanyakan berasal dari kalangan konglomerat baik lokal maupun bukan. Mereka memasang taruhan untuk setiap peserta, tapi ternyata pemenangnya adalah peserta yang sebelumnya tidak pernah mendaftar ataupun mengikuti babak penyisihan. Bahkan identitasnya sampai sekarang belum diketahui.


Pihak penyelenggara atau pemilik bisnis tarung gelap itu sebenarnya juga kelompok mafia, kabarnya saat itu ketua mafia itu terbunuh, dan kalau aku tidak salah ingat ... namanya adalah Fire Shoot. Menariknya lagi keesokan harinya keluarga besar Adinata mengumumkan bahwa salah satu tuan muda mereka meninggal. Aku yakin kalau ini bukan sebuah kebetulan!


Jika benar apa yang dibilang Morris ... kemungkinan besar Nisa juga terlibat dengan kasus ini. Artinya dalang dibalik kebakaran kapal pesiar itu adalah Nisa, tapi hal sebesar ini tidak mungkin hanya dilakukan sendiri. Ternyata Nisa punya begitu banyak menyimpan rahasia, memang pantas jadi wanitaku!


"Hahaha, ternyata wanitaku punya hobi yang mahal! Kapal pesiar yang harganya triliunan pun belum cukup untuk menyenangkannya. Ayo Morris, kita bicarakan lebih jelasnya di jalan!"


"Yes, Sir!"


***


Kini di dalam ruang rawat hanya tinggal Nisa seorang diri, setelah Jonathan pergi dia kembali melanjutkan menikmati buah. Dan tak berselang lama kemudian tiba-tiba ada yang membuka pintu.


KLAAK ...


"Saniaaa!!!" teriak Jenny penuh semangat.


Nisa merasa senang sekaligus terkejut sampai ternganga karena lagi-lagi mendapatkan kunjungan secara mendadak. Dia semakin senang karena di belakang Jenny ada juga Isma yang mengikuti. Tapi Nisa semakin terkejut karena tak sesuai ekspektasi, karena ternyata Aslan juga datang, ditambah orang yang merupakan musuhnya juga datang, yaitu Terry.


Jenny datang dengan membawa camilan berupa biskuit kering, Isma juga datang dengan membawa keripik, makaroni serta makanan ringan lainnya kesukaan Nisa. Bahkan Terry pun juga tampak membawa parsel buah. Mereka lalu menaruh barang yang mereka bawa di meja terlebih dulu baru mendekat kepada Nisa.


Yang paling semangat di antara mereka adalah Jenny, dan Jenny tanpa pikir panjang langsung saja memeluk Nisa.


"Ya ampun ... Sania! Kok bisa begini sih?! Gue kaget banget waktu denger lu masuk rumah sakit!"


"J-jen ... pelan-pelan, susah napas ini ..."


"Eh, sorry ..." Jenny langsung melepaskan pelukannya. Namun setelahnya malah Isma gantian mendekat dan langsung mencubit pipi Nisa.


"Iiihh gemes deh! Lu sengaja sakit biar bisa bolos kuliah kan?!"


"Hahaha ... ngawur," Nisa lalu menyingkirkan tangan Isma dari pipinya. "Is, kok ajak dia sih?" tanya Nisa dengan suara lirih sambil melirik ke arah Terry.


"Oh itu, adalah alasannya kok. Toh dia kan sekarang pacarku. Iya kan beb?"


"Iya, lagi pula selain sebagai pacarnya Isma memang ada alasan lain. Pihak kampus memilihku sebagai perwakilan untuk menjengukmu." ucap Terry acuh tak acuh sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Oh, begitu toh, makasih ya semuanya ... Terus kalau kalian haus, di sana ada minuman sari buah apel, kalau mau yang dingin di kulkas juga ada, ambil sendiri-sendiri!"


"Nisa!" panggil Aslan.


"Ya?"


"Ricky mana? Katanya tadi dia mau duluan, mau lepas infus, kok sekarang nggak ada?"


"Entah, padahal juga sudah kutunggu dari tadi. Mungkin dia masih ada perlu apa gitu ..."


KLAAK ...


Tiba-tiba pintu kembali terbuka, dan orang yang kali ini masuk adalah Ricky. Namun bukan cuma Ricky, di belakangnya masih ada seseorang yang tidak lain adalah Keyran.


Begitu Keyran masuk, tatapannya langsung tertuju pada Nisa, dan Nisa juga sebaliknya. Ini merupakan pertama kalinya mereka bertatapan setelah insiden penusukan itu. Dan begitu Nisa sadar, dia langsung mengalihkan pandangannya, bahkan ekspresinya terlihat aneh yang bisa dibilang sulit untuk diungkapkan.


Keyran akhirnya memutuskan untuk memisahkan diri karena melihat ada banyak orang yang menjenguk Nisa. Dia menepi dan duduk di sebuah sofa yang berada di sebelah jendela, dia diam mengabaikan keberadaan semua orang dan hanya fokus melihat pemandangan di luar.


Tak dapat dipungkiri bahwa suasananya langsung berubah drastis, hanya karena keberadaan Keyran membuat semuanya jadi gugup.


"Ricky, cepat lepas!" pinta Nisa dengan tampang memaksa.


"Oke, tapi nanti kalau sakit bilang, jangan teriak!"


"Iya iya ..."


Hari ini benar-benar gila! Padahal suasana hatiku sudah membaik karena Jonathan, tapi sekarang malah dirusak oleh Terry dan Keyran! Ini sih bukan lagi seperti naik roller coaster, tapi naik jet tempur.


Ricky yang dibantu oleh Aslan pun mulai melepaskan infus yang menempel di tangan Nisa. Infus dilepas karena Nisa tak lagi memerlukan terapi intravena, sekaligus agar membuatnya lebih nyaman dalam beraktivitas.


Selama proses pelepasan infus, pandangan mata Nisa tak lepas dari Keyran. Tapi Keyran bersikap acuh dan sama sekali tidak tertarik, bahkan dia juga tidak melirik Nisa. Saat ini perasaan Nisa mulai kembali campur aduk, perasaan yang sering membuatnya terganggu kini timbul lagi.


"Key," gumamnya.

__ADS_1


Sekarang aku sadar, aku sadar kalau kita sudah tak seperti dulu lagi. Kita saling menghindar, saling berhenti bertanya kabar, bahkan saling mengacuhkan. Ini memang konsekuensi atas perbuatanku sendiri, aku memang pantas untuk diacuhkan dan diabaikan.


"Sudah!" ucap Ricky.


"Eh?" Nisa tersadar, kemudian dia melihat bahwa punggung tangannya sudah diplester.


"Oh iya!" Terry menyela. "Ada juga pemberitahuan khusus untukmu, Dosen Erwin bilang tetap tidak diperbolehkan untukmu ketinggalan pelajaran. Jadi khusus untukmu pembelajaran dilakukan secara online, untuk jadwal katanya juga seperti biasa, berlaku mulai besok. Dan yang terpenting ... jangan lupa soal skripsi!" ucap Terry penuh kepuasan.


"O-ohh ... gitu ya, itu bisa diatur kok." ucap Nisa dengan senyum kurang ikhlas.


Aaarghhh!! Kenapa masalahku berdatangan satu per satu?! Terus soal skripsi kan juga mustahil buat satu kali langsung jadi, toh dosen pembimbingnya juga pak botak lagi! Lengkap sudah penderitaanku ...


"San, btw ... rencananya skripsimu judulnya mau apa?" tanya Isma.


"Belum kepikiran yang jauh-jauh banget sih, tapi untuk judul mungkin ... Cara Memerah Susu Dengan Benar Dan Dengan Hasil Yang Banyak! Bagus kan?"


"Gila! Susu apa emangnya?!"


"Kambing lah, masa orang? Gila lu!"


"Sania, kayaknya lu kelamaan bolos sampai lupa jurusan deh. Jurusanmu kan akuntansi, bukan peternakan!" Jenny terkekeh.


"Ya habisnya Terry ini malah bahas skripsi pas orangnya lagi sakit! Emangnya nggak kasihan apa?!" bantah Nisa sambil menunjuk Terry.


"Lah? Malah nyalahin orang lain, itu kan kewajibanmu sendiri!" ucap Terry seakan tidak terima.


"Terry! Jangan gitu!" gertak Isma yang sambil melirik ke arah Keyran.


"Ck, iyaa ..."


Malas kalau begini, tapi aneh ... padahal biasanya sok mesra, tapi dari tadi dia malah menyendiri. Mungkin mereka ada masalah rumah tangga.


"Sania, kita semua pamit ya?" ucap Jenny dengan senyum canggung.


"Kok cepet banget sih?" tanya Nisa dengan tampang tidak rela.


"I-itu, aduh ... nggak enak ngomongnya, tapi sebenarnya ..." Jenny lalu menoleh ke arah Aslan. "Ayang ... kasih tahu dong!"


"Huh ... oke, sebenarnya hari ini kita-kita ada rencana double date. Jadi ... you know lah, jangan tersinggung." ucap Aslan dengan enteng.


"O-oh," Nisa tersenyum canggung. Dia merasa tidak mungkin mencegah teman-temannya agar lebih lama bersamanya. Apalagi saat dia melihat Jenny bergandengan tangan dengan Aslan, sedangkan Isma bergandengan tangan dengan Terry. Ditambah mereka berempat juga memasang senyuman kepada Nisa.


Batin Nisa rasanya seperti terkoyak, teman-temannya bisa bermesraan di depannya yang sedang dilanda masalah. Sang suami sedang ngambek, terlebih lagi ada sang mantan yang berdiri di sampingnya. Sungguh, rasanya aahh ... mantap!


"Nisa!" panggil Ricky.


"Apa?" tanya Nisa yang seketika menoleh ke arah Ricky, namun tampak jelas bahwa dia sangat iri.


"Mau gandengan juga?" tanya Ricky dengan tangan yang terulur.


Namun siapa sangka saat itu juga Keyran bereaksi, dia melotot dari kejauhan namun tidak berkata apa-apa. Bahkan tangannya ikut gemetar karena menahan amarah.


Sialan! Dasar dokter gadungan! Berani-beraninya menawarkan itu kepada istriku saat ada aku! Awas saja nanti kalau sungguh bergandengan, akan kubawa masalah ini ke pengadilan atas dasar tuduhan melecehkan pasien! Dan aku jamin pengacaraku tidak akan kalah.


"Uhmm ..." mendadak Nisa merasa panas dingin, perlahan dia berinisiatif untuk melirik ke arah Keyran. Tapi seketika Keyran malah kembali mengalihkan pandangannya.


Hadehh ... tambah ngambek tuh orang, lagi pula Ricky ini kenapa peka banget sih kalau aku memang pengen? Andai saja Keyran punya setengah dari kepekaan nya. Tapi entah kenapa rasa iri-ku mendadak hilang.


Nisa lalu menoleh ke arah Ricky dan memasang senyum canggung, "Jangan Rick, jangan repot-repot. Tanganku alergi gandengan ..."


"Oh, jadi malu nih?" goda Ricky yang bersikeras.


"B-bukan kok, tolong jangan begini!"


"Ckck ... bau-bau NTR, nggak takut ada yang marah? Dia kelihatan cukup ingin membunuh or ... umphh!?" ucap Aslan yang seketika mulutnya dibekap oleh Jenny.


"Ayang diem! Jangan ngomong yang aneh-aneh!" Jenny lalu menoleh ke arah Keyran tanpa melepaskan bekapan tangannya dari mulut Aslan. "Maaf yaa ... dia ini memang melebihi emak-emak komplek."


"Hng!" Keyran mendengus kesal dan mengabaikan perkataan Jenny.


Jenny merasa semakin gugup karena tidak digubris, dia lalu menoleh ke arah Nisa dan masih belum melepaskan bekapannya. "Sania, gue pergi sekarang ya? Soalnya tiket bioskop nya hampir hangus. Bye bye ... cepat sembuh!"


"Iya, hati-hati di jalan ..." ucap Nisa dengan senyum terpaksa.


Dasar Aslan beo! Mulutnya melebihi tukang gosip di acara televisi.


Jenny langsung bergegas pergi keluar sambil menyeret Aslan dengan penuh kemarahan, sedangkan di belakangnya diikuti oleh Isma dan Terry yang masih bergandengan tangan.


Namun setelah mereka pergi suasana di dalam ruang rawat itu semakin mencekam. Keyran yang sedari tadi sudah menahan amarahnya diam-diam di dalam hati mengutuk Ricky.

__ADS_1


Memang dasar dokter gadungan! Kenapa masih belum pergi juga?! Berani-beraninya menggoda istriku, ingin sekali aku memukul wajahnya! Semoga saja kau kena sial, ban mobilmu bocor, kaca mobilmu retak, atap mobilmu dipenuhi kotoran burung, dan semua mesin mobilmu rusak!


Perasaan Nisa semakin amburadul, bola matanya secara berganti melirik ke arah Ricky dan Keyran. Sedangkan Ricky sedari tadi diam dan raut wajahnya tampak biasa saja, seakan tidak punya beban satu pun.


Ya Tuhan ... tolong buat aku pingsan sekarang juga! Aku ingin Ricky pergi, tapi setelah itu nantinya cuma ada aku dan suamiku yang sedang dipenuhi permasalahan. Aku tidak sanggup menerima cobaan ini, aku ingin menghilang, menghilang dari peradaban! Jalan satu-satunya cuma menyuruh Ricky pergi, dan setelah itu pura-pura mengantuk dan tidur! Iya, lakukan seperti biasa.


"Hoamm ..." Nisa pura-pura menguap, namun aktingnya begitu mendalami. "Aku ngantuk Rick, aku mau tidur, jadi pergilah ..." pinta Nisa dengan mata yang meredup.


"Oh, oke. Istirahatlah honey~" ucap Ricky yang sengaja melirik ke arah Keyran, dan Keyran yang mengetahui itu hanya diam seribu bahasa namun dia mengacungkan jari tengahnya.


Tentu saja hal itu juga dilihat oleh Nisa, tapi yang dilakukan Nisa justru malah langsung berbaring, menaikkan selimut dan segera menutup matanya rapat-rapat.


Mampuss aku! Aku takut dengan apa yang akan selanjutnya terjadi besok, semoga saja besok lebih baik.


Kedua pria itu juga tidak bodoh, mereka berdua sama-sama tahu kalau Nisa hanya pura-pura demi menghindar. Namun jika mereka melanjutkan, tentu saja hal ini semakin rumit sekaligus mengurus emosi dan tenaga.


Ricky pun memutuskan untuk menuruti permintaan Nisa yang menginginkan dia pergi, namun sebelum keluar dia masih saja tersenyum sinis kepada Keyran. Bahkan saat Ricky sudah pergi, Keyran masih saja terus menggerutu sambil menatap keluar jendela.


***


Malam harinya, Nisa yang tadi sore pura-pura tidur namun kebablasan tidur sungguhan akhirnya kini terbangun. Saat dia membuka mata, dia melihat Keyran yang duduk di sofabed tengah sibuk dengan laptopnya. Tapi Keyran yang sibuk dengan pekerjaannya itu tidak menyadari kalau Nisa telah bangun.


Nisa masih saja tidak melakukan pergerakan, jauh di lubuk hatinya dia merasa bersalah ketika melihat suaminya yang senantiasa giat bekerja.


Lagi-lagi perasaan ini muncul, setiap kali melihatmu entah kenapa aku selalu merasa kalau ... kalau aku bersalah. Padahal kau bisa saja meninggalkan aku dan menjalani kehidupanmu seperti biasa, kurasa memang itu yang lebih baik bagimu. Daripada kita bersama, tapi saling mengacuhkan dan menghindar seperti ini rasanya sungguh menyesakkan.


Nisa perlahan mulai melihat sekeliling, dia melihat di meja sampingnya ada jatah makanan yang masih utuh tak tersentuh. Dia lalu bangkit dan menyandarkan tubuhnya. Saat itu juga Keyran seketika melihat ke arah Nisa, tapi kemudian dia mengabaikannya lalu kembali fokus melanjutkan pekerjaannya.


Rasa lapar mulai dirasakan oleh Nisa, tapi dia sama sekali tidak ada selera untuk makan. Pada akhirnya yang dia lakukan hanyalah terus memandangi Keyran. Sedangkan Keyran, dia tahu kalau sedang diperhatikan namun dia memutuskan untuk tetap mengabaikan.


"Huh ..."


Apa yang dia lakukan? Tumben sekali dia mau membuka matanya saat hanya ada aku. Tapi dia tidak makan makanannya, jangan-jangan dia rela terus-terusan sakit demi terus berada di rumah sakit. Tsk, artinya dia ingin terus di sini agar setiap hari bisa bertemu dengan mantannya. Padahal aku yang suaminya sendiri malah sama sekali belum bicara dengannya.


Nisa mulai merasa sedikit bingung karena melihat raut wajah Keyran yang terlihat sangat masam. Nisa mengira bahwa Keyran jadi seperti itu karena ditatap olehnya, dia pun akhirnya menundukkan kepalanya.


Apa aku lagi-lagi salah? Tapi dari tadi saat memperhatikan Keyran bekerja, entah kenapa aku merasa telah melupakan sesuatu. Tapi apa?


"Ayo Nisa, ingat-ingatlah!" gumamnya sampai dahinya pun ikut mengerut. Dan pada akhirnya Nisa berpikir keras cukup lama.


Astagaaa ... pak botak! Besok kan aku mulai kuliah online, terus file tugas-tugasku yang belum aku kumpulkan semuanya aku simpan di laptop. Tapi laptopku sekarang masih ketinggalan di villa, ditambah laporan praktik juga belum aku cadangkan ke cloud ataupun drive! Jalan satu-satunya cuma ambil laptop itu, tapi ...


Nisa perlahan melirik ke arah Keyran, dan ekspresi yang tampak setelahnya adalah kecewa, bingung, gengsi, semuanya jadi satu.


Aku benar-benar mampuss! Keadaanku sekarang seperti ini, mana mungkin aku bisa meminta Keyran untuk mengambilkan laptopku? Tapi aku sangat butuh laptopku! Tapi di satu sisi aku bingung bagaimana caraku memberitahunya, lagi pula belum tentu juga dia mau mengambilkannya untukku. Terus nasib kuliahku bagaimana? Mungkin saja kehidupanku sebagai mahasiswa abadi dimulai.


Jangan, jangan, jangan sampai! Amit-amit deh! Pokoknya aku harus mendapatkan laptopku kembali! Tapi mustahil juga kalau aku bicara langsung, mungkin saja aku bisa menggunakan cara lain. Mengigau misalnya ... nanti aku pura-pura tidur lalu dilanjut pura-pura mengigau, nanti aku bilang ... laptop ... laptop ...


"Hiyyy ... gila!" gumamnya karena jijik dengan pikirannya sendiri.


Kalau aku mengigau begitu, itu terkesan seperti ngidam laptop! Ogah ah, ini benar-benar konyol dan jika aku melakukannya harga diriku otomatis ternodai! Lalu apa yang harus aku lakukan?! Ya Tuhan, berilah aku pencerahan!


"Ermm ..." Nisa mengerang sambil menyentuh perutnya, bahkan dia juga mengerutkan dahinya.


Kok mendadak mules? Sepertinya aku terlalu stress sampai perutku ikut-ikutan terkena dampaknya. R-rasanya ... tambah mules, aku harus ke kamar mandi sekarang juga!


Nisa menyibakkan selimutnya, lalu perlahan berusaha turun dari ranjang. Keyran yang melihat hal itu ingin segera membantu Nisa, namun dia mengurungkan niatnya karena menyadari bahwa Nisa sama sekali tidak membutuhkan dirinya. Dia akhirnya terpaksa berdiam diri sambil memperhatikan dari kejauhan.


Nisa yang telah turun dari ranjang mulai berjalan, dia berjalan pelan sambil berpegangan pada benda ataupun tembok di dekatnya. Hingga pada akhirnya dia berhasil juga masuk ke kamar mandi dengan usahanya sendiri.


"Haiss ... memang, tidak butuh aku sama sekali." keluh Keyran karena merasa gagal mendampingi istrinya.


Menit demi menit telah berlalu, namun Nisa masih belum juga keluar dari kamar mandi. Keyran yang sedari tadi mengawasi jam mulai merasa khawatir. Dia akhirnya memutuskan untuk beranjak dari sofabed lalu mendekat ke pintu kamar mandi. Namun setelah berada di depan pintu kamar mandi dia malah semakin khawatir.


Keyran berjalan mondar-mandir, lalu mendadak dia mendekatkan telinganya pada pintu kamar mandi.


Aneh, kenapa sama sekali tidak ada suara? Sebenarnya Nisa di dalam sedang apa? Apakah mungkin dia pingsan?


"Jangan, jangan sampai!" ucap Keyran sambil menggelengkan kepala secepatnya.


Tapi ini sudah 20 menit lebih, Nisa sama sekali tidak ada tanda-tanda mau keluar ataupun dari dalam terdengar suara. Ini gawat, aku harus mendobraknya!


Keyran mundur mengambil ancang-ancang, dia sudah memantapkan diri untuk mendobrak pintu kamar mandi itu. Dan dengan sekali dobrakan keras darinya, pintu kamar mandi pun terbuka.


BRAAK!!!


"Nisa!" teriak Keyran yang langsung masuk begitu pintu terbuka.


Dan hal yang dia temui memang mengejutkan, dia melihat Nisa yang diam ternganga sambil melihat ke arahnya tanpa berkedip yang sedang duduk di toilet tanpa mengenakan bawahan.

__ADS_1


Mereka berdua sama-sama terkejut, apalagi Nisa yang tadinya sedang melatih kesabaran tingkat maksimal menunggu sesuatu keluar. Otaknya masih butuh waktu untuk memproses apa yang sedang terjadi.


"Keluaarrr!!!" teriak Nisa sekencang-kencangnya karena malu setengah mati.


__ADS_2