Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Bab 17. Oke, Sip!


__ADS_3

Tempat yang didatangi oleh Nisa adalah sebuah danau. Danau itu adalah danau alami yang sekarang sudah mendapat sentuhan buatan dari manusia untuk tetap menjaga kelestariannya. Biasanya sangat ramai dikunjungi oleh orang. Banyak orang yang piknik, memancing, atau bahkan sekedar mampir di danau yang bernama Wonder Lake itu.


Tetapi, sore hari ini saat Nisa mendatangi danau itu kebetulan sedang sepi. Dia lalu berjalan mendekati sebuah bangku yang berada di tepi danau. Dia hanya duduk termenung sambil terus memandangi kotak yang dia bawa dengan ekspresi murung.


"Sialan! Aku ini sebenarnya sedang apa sih?" gumam Nisa yang merasa konyol sendiri.


Besok aku akan bertunangan dengan Keyran, lalu saat ini statusku masih berpacaran dengan Ricky. Tapi ... aku tak mau semua ini nanti jadi semakin rumit.


"Ya Tuhan ... apa yang harus aku lakukan?" keluh Nisa sambil mendongak ke atas langit yang tampak tertutupi oleh awan.


Bahkan tanpa sadar aku sudah membawa kotak yang berisi semua hadiah berarti dari Ricky. Apa Tuhan sudah menuntunku untuk melakukan semua ini? Apa Tuhan juga ingin aku berpisah dengan Ricky?


"Sepertinya aku benar-benar harus putus dengan Ricky. Tapi, alasan apa yang harus aku pakai? Mustahil aku bisa bilang yang sebenarnya pada Ricky. Jika aku cerita dan jika dia benar-benar mencintaiku ... itu pasti akan menambah beban untuknya. Tapi aku tak mau dia berkorban sampai seperti itu."


Sial! Berpikir seperti ini hanya membuatku lelah! Mana mungkin aku bisa cari alasan untuk putus dengannya? Sedangkan aku sendiri sebenarnya juga tak ingin putus! Aku benar-benar sangat mencintai Ricky.


"Atau ... apa aku bohong saja? Aku akan buat alasan yang buruk, supaya dia membenciku! Iya ... seperti itu saja, setidaknya dia akan mengingatku! Meskipun nantinya aku akan diingat sebagai orang jahat."


Tapi ... apakah aku bisa? Memikirkannya saja sudah membuat hatiku sakit. Hatiku belum siap untuk semua ini. Bahkan mungkin selamanya juga tak akan siap.


Setelah berdebat dengan dirinya sendiri, akhirnya Nisa bergumam, "Aku harus telepon Ricky sekarang! Karena semakin lama aku memikirkannya, hatiku semakin terasa sakit!"


Nisa mengeluarkan ponselnya, dengan tangan yang gemetar dia mencoba memantapkan diri untuk menelepon Ricky. Dan hanya dalam sekali panggilan, Ricky langsung mengangkat panggilan itu. Tetapi Nisa justru semakin gugup saat menyadari bahwa panggilan itu telah tersambung.


"H-halo Ricky ..." ucap Nisa dengan gemetaran.


"Nisa, ada apa? Kenapa suaramu seperti itu? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ricky yang terdengar khawatir.


"A-aku baik ... Ngomong-ngomong apa kamu sibuk? Apa sekarang kamu ada waktu untuk bertemu denganku?"


"Aku selalu ada waktu buat kamu, sekarang kamu di mana?"

__ADS_1


"Aku di danau ... Wonder Lake."


"Oke, kamu tunggu aku! Aku segera ke sana!"


"Iya, aku gapapa kok, kamu nggak usah buru-buru. Hati-hati di jalan!"


TUT TUT ...


Panggilan telepon berakhir, Nisa langsung menyimpan ponselnya kembali. Tetapi dia tampak seperti menyesali perbuatannya yang telah menelepon Ricky.


"Sial! Pada akhirnya aku lakukan juga. Semoga saja nanti Ricky mengerti!" ucap Nisa dengan berat hati.


Tak butuh waktu yang lama bagi Ricky untuk sampai di danau. Melihat kondisi danau yang sepi membuatnya bertambah khawatir, dia kemudian mulai berlari secepat mungkin untuk mencari di mana Nisa berada.


Dia bernapas lega saat melihat punggung seseorang yang tidak asing lagi sedang duduk di bangku. Akhirnya dia menemukan Nisa yang tengah melamun di tepi danau, dia langsung berlari mendekat dan tiba-tiba memeluk Nisa dari belakang.


"E-eh?!" Nisa terkesiap.


"Untunglah kamu baik-baik saja, aku sangat khawatir padamu! Tadi suaramu terdengar gemetar, aku pikir ada hal buruk yang menimpamu. Lalu saat sampai di sini juga sangat sepi, itu membuatku semakin bertambah khawatir. Aku mohon jangan kamu ulangi lagi!" pinta Ricky yang semakin mengeratkan pelukannya.


Lagipula sesudah ini tak akan ada kesempatan untuk mengulangi lagi.


"Janji, ya! Kalau masih diulangi lagi, nggak akan aku maafkan!"


"Iya-iya ... Sekarang kamu duduk dulu, aku mau bicara!" pinta Nisa sambil mencoba melepaskan pelukan Ricky dari tubuhnya.


"Nggak mau! Kalau ingin bicara ya tinggal bicara saja. Aku ingin terus memelukmu seperti ini! Lagi pula bukankah kamu juga suka seperti ini?"


"...." Nisa hanya diam dan tubuhnya mulai gemetar ketakutan.


"Nisa? Hei, jawab aku!"

__ADS_1


"Kamu memeluk terlalu erat, sulit bicara jika seperti ini," ucap Nisa dengan suara lirih.


Ricky ... kamu sangat peduli padaku. Ini membuat hatiku semakin sakit. Jika terus seperti ini, mana mungkin aku akan sanggup untuk bilang yang sebenarnya.


"Oke-oke, aku lepas ... Silakan kalau mau bicara!" Ricky lalu melepaskan pelukannya.


Nisa mengambil napas dalam-dalam lalu berbalik ke arah Ricky "Ricky, aku-"


"Ya ampun! Apa kamu tidak tidur semalam? Lingkaran hitam di bawah matamu sangat buruk, seperti orang yang sakit ginjal! Apa yang akan dikatakan oleh dunia kalau dokter sepertiku tidak bisa mengurus pacar sendiri?" potong Ricky sambil memegangi wajah Nisa.


"Aku-"


"Ah!? Aku tahu! Pasti semalam kamu begadang baca komik kan? Atau, pasti kamu nonton film sampai lupa waktu! Aku kan sudah bilang, tidak baik untuk kesehatan kalau terus begadang. Kamu harus turuti perintahku ini! Kalau kamu insomnia, aku juga akan kasih resep obat untukmu!" potong Ricky lagi.


"Ric-"


"Oh iya, kenapa kamu ingin bertemu di tempat yang sepi seperti ini? Ah, aku ingat! Kamu itu orangnya suka ketenangan, kan? Makanya kamu memilih tempat ini. Ngomong-ngomong tempat yang sepi seperti ini bagus juga! Jadi kita bisa-"


"Ricky! Tolong berhenti memotong perkataanku!" teriak Nisa yang sedikit frustasi.


"Oke. Tapi, barusan kamu juga memotong perkataanku!"


"...." Nisa membisu dan hanya menatap dengan tatapan sinis.


"Ehmm ... maaf, silakan bicara."


Nisa menyingkirkan tangan Ricky dari wajahnya, dia lalu menundukkan kepalanya. "Ricky, kita putus saja!"


"Oke, sip!" ucap Ricky dengan spontan.


"...." Nisa terkesiap dan langsung menatap Ricky dengan tatapan tidak percaya. Di benaknya terlihat banyak sekali pertanyaan.

__ADS_1


Apa aku tidak salah dengar? Semudah itukah putus? Kamu dengan mudahnya bilang kalau kamu setuju, apa selama ini aku tidak ada artinya untukmu? Apa semua waktu yang kita habiskan bersama selama ini bukan cinta? Apa jangan-jangan kamu juga sudah muak terus berpacaran denganku ? Mungkinkah aku terlalu menganggap diriku sendiri penting untukmu?


Sial! Ternyata ... yang merasakan sakit cuma aku.


__ADS_2