
TOK TOK TOK!!
Seseorang tiba-tiba mengetuk kaca mobil. Dan suara ketukan itu membuat Keyran dan Nisa mengakhiri ciuman romantis mereka.
"Ck, siapa yang berani menggangguku?!" Keyran bersungut kesal, dia segera menurunkan kaca mobil tanpa meminta Nisa untuk turun dari pangkuannya terlebih dulu.
Begitu kaca mobil telah sepenuhnya turun, tampaklah seorang wanita paruh baya yang mengenakan jilbab dan berseragam oranye sedang memegang sapu, bahkan dia juga berani melotot pada Keyran karena belum tahu akan identitasnya.
"Astagfirullah hal adzim ... Istigfar Mas, Mbak. Dasar anak muda zaman sekarang, bisa-bisanya berzina di muka umum. Untung saja masih ada orang seperti saya yang mau mengingatkan. Memang ya, tanda-tanda kiamat sudah dekat, perzinaan semakin merajalela."
Wanita paruh baya itu menggeleng-geleng kepala sambil mengelus dadanya. Sedangkan Nisa, dia kesal karena diganggu sekaligus malu karena adegan ciuman yang dia lakukan dilihat oleh orang lain. Akhirnya dia menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah, dan hal itu membuat seolah dia benar-benar pelaku zina.
Berbeda halnya dengan Keyran, dia sama sekali tidak malu dan hanya merasa geram karena kesenangannya diganggu. Dia tidak terima karena menganggap seseorang telah sok ikut campur dalam urusannya dan mencibirnya dengan kata-kata yang berkebalikan dari kenyataan.
"Zina? Kiamat? Hei, apa yang kau bicarakan? Kami ini sudah menikah, apa perlu aku tunjukkan buku nikah-ku?! Kami bebas melakukan apa yang kami mau! Lagi pula tempat ini juga sepi." ucap Keyran dengan ketus.
Sialan, padahal aku ingin menggunakan kesempatan ini untuk bermesraan dengan Nisa. Sekarang saja masih belum sampai di rumah mertuaku, tapi sekarang malah ada petugas penyapu jalan yang berani menggangguku.
"Sudah menikah pun tetap ada aturannya! Lagi pula di sini masih ada saya, tempat ini bukan tempat sepi. Padahal kalau dilihat-lihat termasuk orang kaya, kalau memang ingin bermesraan sewa kamar hotel sana! Mentang-mentang punya mobil bagus terus ingin melakukannya di mobil. Bahkan sok-sokan pakai mawar hitam, kalian ini mau berduka cita atau bersuka cita?"
"Tutup mulutmu! Kau ini cuma ..."
"Key! Cukup, biar aku saja yang menangani masalah ini. Percaya padaku, oke?"
Keyran menghela napas lalu mengangguk, dia memalingkan wajahnya dari petugas penyapu jalan itu karena merasa muak melihatnya. Nisa bergerak untuk beranjak dari pangkuan Keyran, namun tiba-tiba Keyran menahan pinggang Nisa agar tetap berada di atas pangkuannya.
Nisa semakin merasa canggung, tapi dia tetap memaksa tersenyum kepada wanita paruh baya yang terlihat sudah bersiap-siap dengan sapu nya.
"Halo ... selamat pagi," ucap Nisa dengan nada rendah.
"Halo apanya?! Kau mau memberi penjelasan kalau kalian sedang kasmaran maka dunia serasa milik berdua, begitu? Cih, jangan pikir karena kalian kaya berarti bisa berbuat seenaknya! Di dunia ini masih ada saya yang akan berada di jalan kebenaran. Yang bermasalah itu kalian, kalian berdua tidak tahu aturan!"
"Ehmm ... tolong sabar dulu."
Buset, orang ini mirip tetangga sebelah yang kebiasaannya nyinyir.
"Sabar apa?! Kalian ini harusnya sadar lalu cepat pergi. Tapi suamimu ini malah sok arogan dan merasa kalau perbuatan kalian itu benar!"
"Haha, dia memang begitu, jadi tolong maklum. Tadi itu kami sama sekali tidak tahu kalau ada orang, kami mengira tempat ini sepi. Ngomong-ngomong ... apa Ibu' ini pernah masuk acara program televisi, soalnya aku pernah lihat di acara Uang Kejut!"
"Oh itu! Kalau itu mah tetangga sebelah saya, tapi Mbak nya lihat saya, berarti saya tersorot kamera juga, jadi saya masuk TV dong! Hahaha, saya baru tahu. Maklum TV di rumah rusak." ucapnya dengan antusias, amarahnya entah hilang ke mana.
"Emm ... ya, muka Ibu' dikenal satu negara loh ... dan ternyata Ibu' ini orang baik-baik ya, aku doakan semoga rezeki nya lancar." Nisa tersenyum canggung, sesekali dia melirik ke arah Keyran yang tampak bingung dengan obrolannya.
"Amin ... syukur deh saya masih diberi kesehatan dan bisa bekerja, tapi kadang saya iri dan juga kesal sama tetangga saya. Padahal mah kalau dibandingkan masih lebih membutuhkan saya dibanding dia. Tapi benar kan saya masuk TV?!"
"Iyaa ... aku ini orangnya jujur, sama sekali belum pernah berbohong. Tanya saja sama suamiku. Iya kan darling?"
Nisa tersenyum dan memberikan kode pada Keyran, sejenak Keyran melirik ke arah wanita paruh baya itu dan kemudian kembali menatap Nisa. Keyran sama sekali tidak tak berkata apa pun dan hanya memasang senyum kurang ikhlas.
"Nah, lihat sendiri kan? Sekarang kami permisi ya, soalnya kami buru-buru. Lain kali kami pasti akan lebih menjaga kelakuan kami saat di muka umum."
"Hah ... dasar kids zaman now, biarpun kalian orang kaya tapi norma masyarakat jangan diabaikan! Cepat pergi sana!"
Nisa segera menaikkan kaca mobil, lalu turun dari pangkuan Keyran dan kembali duduk ke tempat semula. Keyran dengan penuh kekesalan langsung menancap gas, bahkan dia sengaja menabrak tumpukan dedaunan yang telah dikumpulkan oleh wanita paruh baya tadi.
Daun-daun kering kembali bertebaran di jalan, wanita paruh baya itu merasa geram lalu membanting sapu nya. Bahkan dia juga berteriak memaki Keyran sekencang-kencangnya. "Dasar orang kaya suka seenaknya! Kudoakan semoga kau merasakan apa yang kurasakan!!"
Suara teriakan itu terdengar oleh Keyran dan Nisa, tapi Keyran merasa tidak peduli, sedangkan Nisa penasaran dan akhirnya menengok ke belakang.
"Ini keterlaluan," gumam Nisa sambil membetulkan sabuk pengaman. Dan dia masih memegangi buket bunga mawar hitam.
"Kenapa tadi kau bicara begitu dengannya?" tanya Keyran yang pandangannya fokus pada jalanan.
"Itu cuma pengalihan topik, aku paham betul tipe orang seperti itu. Jika dibiarkan maka dia akan terus mengomel dan mengulangi kata-katanya."
"..."
Kau sendiri juga sama.
"Kau bilang pengalihan topik, jadi kau bohong soal acara TV itu?" tanya Keyran yang rasa kesalnya mulai berkurang.
"Yep, seandainya saja tadi jawabannya bukan begitu, maka aku akan bilang kalau dia sangat mirip dengan orang yang ada di TV. Tapi ada satu hal dari kata-katanya yang mengena ... Bisa dibilang kalau kita memang sedang kasmaran, tapi perihal ungkapan dunia serasa milik berdua itu sepertinya tidak berlaku bagiku."
"Maksudmu? Kau selalu merasa ada pengganggu?"
"Haha, begitulah. Tapi lebih tepatnya maksudku adalah sebelumnya aku pernah mengalami hal serupa. Dulu ... malahan aku kepergok oleh Satpol PP, aku dan Ricky juga di mobil, rasanya saat kepergok waktu itu dag-dig-dug ser! Secara ... mungkin di negara ini hal seperti itu dianggap tabu, berbeda dengan negara bebas yang lain. Makanya aku dan Ricky dipaksa menikah karena telah dianggap berzina."
"Tentu saja saat itu baik aku maupun Ricky sama-sama menolak, aku sendiri masih di semester awal, sedangkan Ricky juga baru memulai kariernya sebagai dokter. Tapi kau tahu sendiri lah, keperawananku kau yang ambil, jadi saat itu kami cuma diberi teguran oleh petugas. Dan sejak saat itu juga Ricky semakin pandai dalam mencari tempat yang sepi, agar kami bisa ..."
"Cukup!! Berhenti bicara tentangnya!!!" bentak Keyran penuh penekanan. Pandangannya masih fokus pada jalanan tapi rasa kesalnya kembali, bahkan lebih kesal daripada sebelumnya.
"Jangan pernah ucapkan lagi nama itu di depanku! Aku tidak suka."
Sejenak Nisa tertegun, dia mengalihkan pandangannya dari Keyran lalu menunduk. Tangannya dengan erat mencengkeram buket bunga, lalu dengan suara lirih dia berkata, "Maaf ..."
"..." Keyran membisu, sekilas dia melirik Nisa yang masih menundukkan kepalanya.
"Lagi-lagi kau kesal dibuatku ... Aku akui, aku sudah kelewatan membicarakan seseorang dari masa laluku saat bersamamu. Maaf ... aku bukannya sengaja, tapi cuma teringat. Lain kali aku tak akan mengulanginya lagi. Aku janji tak akan pernah membahas tentang masa laluku."
"Huft ... baguslah, setidaknya kau tahu bagaimana menjaga perasaanku."
Perbincangan di antara mereka berakhir, itu karena Nisa yang biasanya selalu berisik sekarang masih merasa canggung setelah membuat Keyran kesal.
__ADS_1
Lama-kelamaan perjalanan terasa panjang dan membosankan, tapi mereka sama sekali tidak ada niatan untuk saling bicara. Nisa yang tengah sibuk memandangi jalanan tanpa sadar dia mulai bersiul.
"Fyiuu~ fuuu ..."
Nisa memang berbakat, bukan cuma memiliki suara yang bagus, tapi suara siulan nya pun bagus. Bahkan dia bersiul dengan nada yang jika didengarkan dengan saksama maka iramanya terdengar seperti sebuah lagu.
"Kau bisa bersiul?" tanya Keyran terheran-heran.
"Barusan kau mendengarnya." jawab Nisa tanpa memandang Keyran.
"Bukankah tadi itu mirip seperti lagu ... lagu di film India?"
"Kuch Kuch Hota Hai, itu judul filmnya."
"Oh ..."
Apa dia marah karena tadi aku membentaknya? Cih, kalau dibiarkan nanti malah menjadi-jadi. Jika dia seperti itu di depan orang tuanya maka nanti akan menyusahkanku. Lebih baik bujuk dia dengan topik pembicaraan lain.
"Aku baru tahu kalau kau bisa bersiul, padahal jarang ada perempuan yang bisa. Tapi selain itu kau bisa apa lagi?"
"Semua bisa, kecuali berenang."
"Panjat tebing? Memanah? Kalau berkuda?"
"Bisa, sejak kecil aku dituntut untuk bisa semuanya."
"Oh, itu bagus. Kalau begitu lain kali aku akan mengajakmu untuk berkuda bersama. Ngomong-ngomong aku punya kuda jantan warna hitam namanya Gerald, lain kali kau bisa pilih kuda mu sendiri, kau juga bisa sesukamu memberinya nama."
"Aku sudah punya."
"Apa?! Lalu di mana kuda mu berada?"
"Di desa, di rumah kakekku. Kuda-ku juga jantan dan warnanya coklat, namanya Dadang."
"O-oh, kakekmu masih hidup?"
Seketika Nisa menoleh, "Tentu saja masih! Sudah cukup basa-basi nya, kenapa kau ambil jalan memutar?"
"Aku tidak ambil jalan memutar, tapi kita harus ke mall dulu."
"Untuk apa kita ke sana?"
"Hei, kita ini mau berkunjung secara resmi ke rumah orang tuamu, tentu saja kita harus bawa sesuatu untuk mereka. Kalau tidak memangnya mau taruh di mana mukaku?"
"Sudahlah, itu tidak perlu! Lagi pula kau sudah membeli banyak anggrek untuk ibuku, itu sudah cukup. Sekarang cepat putar balik!"
Huh, siapa juga yang mau belanja bersamamu? Kalau mengajakmu bisa-bisa nanti kau malah memborong semuanya. Dulu saja ketika mau beli minuman, kau malah ingin membeli saham perusahaan minuman itu.
"Tidak bisa, ini jalan satu arah. Sepertinya akan memakan banyak waktu lagi ke rumah orang tuamu."
"Benar kau mau lewat situ?"
"Iya, aku sudah sering lewat sana."
"... Oke," Keyran menghela napas lalu menuruti apa arahan Nisa.
Jalanan yang dibilang Nisa adalah jalan pintas terbilang cukup sepi, memang jalan itu tidak seluas jalan utama, tapi jalan itu cukup terawat dan tidak berlubang-lubang. Bahkan tidak sedikit ada warung kecil-kecilan dan pohon-pohon rindang di kanan kiri jalan.
Semuanya terkesan normal, namun Keyran menunjukkan raut wajah yang tampak sedang memikirkan sesuatu. Bahkan dia masih seperti itu hingga jarak ke tempat yang dia tuju sudah dekat.
"Hmm ... sudah cukup lama aku tidak lewat jalan ini, ternyata banyak yang sudah berubah." gumam Keyran.
"Berubah apanya?" tanya Nisa penasaran.
"Terdengar olehmu toh, maksudku itu dulu banyak toko yang tutup. Dan di pertigaan tadi ada peringatan yang menghimbau agar orang-orang tidak melewati jalan ini. Menurut rumor yang beredar ... jalanan ini dikuasai oleh kelompok brutal yang berkendara. Geng motor itu katanya juga merebak dan meneror jalanan lain. Mayoritas geng itu berisikan remaja dibawah usia 20 tahun, bahkan polisi pun dibuat kesusahan untuk menangkap mereka."
"Dulu aku lewat saat siang, jadi tidak bertemu dengan geng itu. Dan sekarang kelihatannya sudah banyak berubah, para pedagang juga sudah berani membuka tokonya. Tapi jalanan ini masih sepi, dan tadi kau bilang sering lewat jalan ini, kau tidak pernah diganggu oleh geng itu, kan?"
"Tidak kok, aku selalu selamat ketika lewat ..." Nisa tersenyum dan mengalihkan pandangannya.
Justru yang sedang kau bicarakan itu adalah aku, aku bos nya! Sialan, malah bahas soal ini. Harusnya tadi aku biarkan saja kau ambil jalan memutar.
"Nisa, lagi-lagi kau berbohong padaku."
Nisa tersentak dan langsung melotot pada Keyran. "A-apa?! Aku mana ada berbohong?! Kau jangan sembarangan menuduhku!"
"Heh, buktinya sekarang kau panik. Jujur saja, justru aku akan marah kalau kau berusaha menutupinya dariku. Bilang padaku siapa yang mengganggumu, aku akan buat perhitungan dengannya!"
Ekspresi Nisa langsung berubah, dia yang awalnya panik sekarang sudah lega.
Oh, aku pikir dia sudah tahu tentang identitasku, ternyata dia salah paham. Kalau begitu sekalian saja aku mendongeng kisah palsu.
Nisa lalu merubah ekspresinya menjadi bersalah. "Maaf ... bukan maksudku untuk menutupinya, aku hanya ingin agar kau tak terlalu khawatir. Aku tak ingin menambah beban pikiran untukmu. Tapi kau malah memaksa ... kalau begitu ya sudah, aku ceritakan semuanya."
"Sebenarnya ... aku memang pernah diganggu, mereka ingin merampok dan melecehkanku. Tapi kau tahu sifatku, jadi aku menantang mereka dengan seluruh kemampuanku. Ternyata pada akhirnya aku menang, meskipun aku juga sedikit terluka karenanya. Jadi jangan terlalu dipikirkan, mereka itu hanya sekumpulan orang-orang sok, tapi sebenarnya mereka payah! Kau tahu sendiri bagaimana para remaja, mereka bertindak tanpa pikir panjang. Jadi rumor itu hanya melebih-lebihkan saja, tidak perlu buat perhitungan pada orang-orang payah seperti mereka."
"Benarkah?" tanya Keyran dengan tatapan ragu.
"Haha ... ketahuan lagi, sebenarnya dulu aku berdua dengan temanku. Namanya ... Cinta!"
"Cinta? Yang dulu katamu sudah meninggal karena kanker hati?"
"Iya ..."
__ADS_1
Njirr, dia masih ingat. Dulu aku cuma mengarang sebab bingung mau buat alasan apa karena terlambat pulang. Padahal aku terlambat bukan karena melayat, tapi ke apartemennya Ricky lalu setelah itu ke club. Bahkan aku tak tahu Cinta itu siapa.
"Hanya kalian berdua bisa mengalahkan satu geng?!"
"Iya, Cinta sendiri pintar karate, sedangkan aku bisa taekwondo karena diajari oleh ibuku."
"Hmm ... masuk akal, ngomong-ngomong ibumu sabuk apa?"
"Sabuk merah dengan satu strip hitam, atau Geup 2. Dan setelah itu ibuku berhenti karena terobsesi pada musuhnya, yaitu ayahku. Ibuku tidak bisa menang dari ayahku, dan lama-kelamaan malah tumbuh rasa cinta di antara mereka. Heh, kisah cinta yang aneh."
"Haha, itu mungkin karena ayahmu sudah bersabuk hitam, mungkin master atau bahkan grand master."
"Bersabuk apanya? Ayahku sama sekali belum pernah masuk dojang ataupun belajar taekwondo secara resmi. Itulah mengapa aku menyebutnya kisah cinta yang aneh."
"Oh ... apa kau juga belajar bela diri dari ayahmu?"
Sekarang aku tahu mengapa kedua mertuaku bisa mempunyai anak-anak yang unik. Padahal keluarganya Nisa punya bakat dalam bela diri, tapi mereka terjun ke dalam perusahaan department store. Aku tidak mengerti jalan pikir mereka.
"Soal itu ... sedikit, banyaknya aku belajar dari ibuku."
Yang aku pelajari dari ayah bukanlah teknik bela diri, melainkan teknik membunuh. Cih, aku mulai sedikit muak, sebaiknya aku alihkan topik pembicaraan lainnya.
"Key, ngomong-ngomong tumben banyak bertanya soal orang tuaku. Apa kau ingin memahami mereka agar terlihat seperti menantu idaman?" tanya Nisa dengan nada mengejek.
"Iya, itu salah satunya. Dan tadi pagi kan kau sendiri yang menyuruhku untuk lebih mengenal mereka, alasan utamaku tentu saja memenuhi permintaanmu."
"Ihhh ... suamiku semakin pintar menggombal ya, padahal ini bertolak belakang dengan sifatmu yang dingin itu. Siapa yang mengajarimu?"
"Heh, mana mungkin aku diajari, aku ini belajar secara otodidak." jawab Keyran dengan senyum kebanggaan.
Nisa akan mengejekku kalau tahu aku diajari oleh adiknya sendiri, tapi harus aku akui kalau Reihan itu memang master playboy.
"Oh bagus, manusia sepertimu ternyata bisa berkembang juga. Kalau begitu sekarang lebih baik membahas tentang orang tuaku, agar kau bisa mengenalnya dan mendapat predikat sebagai menantu idaman. Kau ingin bertanya soal apa?"
"Emmm ... ibumu menyukai anggrek, jadi dia suka berkebun. Aku ingin tahu apa lagi kesibukan ibumu sehari-hari, biarpun aku hanya akan menginap semalam tapi aku harus sebisa mungkin menghindari kesalahan."
"Baiklah, pertama ayahku itu ketua RT, jadi ibuku itu Bu RT, kadang orang-orang suka iseng memanggilnya Bu Rik. Padahal nama aslinya Rika."
"Burik?!"
"Haha, ada spasi Key! Itu peringatan pertama, pokoknya jangan pernah memanggil ibuku dengan sebutan itu, atau dia akan marah. Keseharian ibuku tak ada yang spesial kok, kadang mengurus masalah warga, dan dia juga rutin mengajar kelas memasak."
"Jadi ibumu membuka kursus memasak!"
"Iya, dan tempatnya dekat dengan gedung olahraga yang kita lewati tadi. Asal kau tahu ya, temanku yang namanya Jenny juga ikut kelasnya ibuku."
"Jenny yang pernah menjengukmu di rumah sakit?"
"Iya, yang pacarnya dokter yang mengoperasiku."
"Oh ..."
Tadinya aku pikir Jenny itu adalah pelesetan dari nama Jonathan, ternyata bazar itu memang bukan sengaja toh. Lain kali aku akan lebih percaya lagi pada Nisa.
"Bahkan saat aku bertanya alasannya Jenny ikut kelas memasak itu karena demi pacarnya! Huh, kadang aku merasa kalau dia cerminan dari diriku. Aku dulu juga begitu, apa-apa demi pacar, tapi siapa sangka ternyata malah kandas di tengah jalan."
"Jadi kau belajar memasak juga demi mantanmu?" tanya Keyran dengan nada ketus.
"Bukan! Justru sejak kecil aku sudah dibiasakan, aku bisa memasak seperti sekarang itu penuh dengan penderitaan. Ibuku mengajari orang lain dengan ramah, tapi saat mengajariku dia membentak, menabok, melempariku dengan sayuran, haiss ... pokoknya saat di dapur itu serasa seperti di medan perang."
"Hahaha, sepertinya benar kalau kau dituntut harus serba bisa."
"Ya begitulah, saat aku protes kenapa mereka mendidikku seperti itu alasannya demi kebaikanku. Mereka menganggap kalau aku ini sangat nakal, mereka khawatir kalau di dunia ini tak ada seorang pun yang mau menikahiku. Tapi aku mendapatkanmu, pria dengan pengagum wanita yang bahkan bisa membuat barisan yang benar-benar mengelilingi ibu kota sampai 3 kali!"
"Haha, mana mungkin sebanyak itu?"
"Kau saja yang tidak tahu, pengagum CEO bucin sepertimu sangat banyak! Bahkan florist yang di toko bunga tadi juga melirikmu."
"Itulah yang membuatmu berbeda Nisa, kau satu-satunya yang kurang bersyukur bisa mendapatkanku. Dulu aku berpikir begitu, tapi sekarang aku paham dasar penilaianmu terhadap seseorang. Kau tak pernah memandang status, yang kau pandang adalah kepribadian. Jika kau merasa tidak sesuai dengan kepribadian seseorang maka kau akan menjauhinya, ayahku misalnya. Dan jika kau merasa sesuai maka kau akan mendekati orang tersebut, Jonathan misalnya. Tapi aku pengecualian, kau pasti sudah terbiasa denganku dan cinta juga tidak memerlukan penilaian. Hehe ... benar kan darling?"
"Sok tahu!" Nisa memalingkan wajahnya yang memerah.
"Karena aku memang tahu~"
"..."
Lagi-lagi aku berdebar. Sebenarnya tujuanku adalah agar Keyran tak terlalu merasa kekurangan kasih sayang. Aku sudah membuat ibu setuju, terlebih lagi duo kecebong itu juga mendukung. Semoga semuanya berjalan lancar.
***
Perjalanan jauh itu tidak lagi terasa membosankan, Nisa dan Keyran terus berbincang dan sesekali juga bercanda. Yang mereka berdua bicarakan adalah hal-hal yang sederhana namun berkesan, bahkan Keyran juga kerap memberikan gombalan receh pada Nisa.
Beberapa saat telah berlalu, mereka berdua akhirnya sampai di tempat tujuan. Suara mesin mobil yang halus telah berhenti di halaman depan rumah orang tua Nisa. Mereka berdua turun, dan tak lupa Nisa membawa sebuah bunga anggrek bersamanya.
Mereka berdua berhenti tepat di depan pintu, dan dengan penuh antusias Nisa sampai berkali-kali membunyikan bel rumah.
TING TONG! TING TONG! TING TONG!
"Iya, sebentar!!" teriak seseorang dari dalam rumah. Lalu tak lama kemudian pintu terbuka.
KLAKK ...
"Kakak sudah datang toh! Ayo masuk! Ibu sudah menyiapkan makanan untuk kalian!" sambut Reihan dengan senyum ramah.
__ADS_1
Hehehe, wahai kakak-kakakku, permainan keluarga sederhana baru saja dimulai~