
"Tadi kau bilang anak?" tanya Keyran penasaran.
"A-anak apanya...? Aku bilang... b-beranak, bakso beranak!" ucap Nisa dengan ekspresi panik.
"Benarkah?" tanya Keyran penuh keraguan.
Padahal tadi aku mendengar Nisa berkata... Key, ayo buat anak. Tapi kenapa sekarang berubah jadi bakso beranak?
"Iya, benaaarr..." ucap Nisa sambil meringis.
"Tapi, tadi itu aku juga mendengar kalau kau mengatakan kata buat." ucap Keyran penuh keyakinan.
"I-itu... kau salah dengar, buat... yang aku maksud itu... b-buatkan, iya buatkan! Jadi... kalimat yang aku katakan tadi itu adalah... Key, buatkan bakso beranak!"
"Masa?"
"Iya, sungguh!"
"Jadi... kau memintaku untuk membuat bakso beranak untukmu, di jam 2 pagi?" tanya Keyran terheran-heran.
"Y-yaa.. begitulah," jawab Nisa dengan senyum canggung.
"Apa kau sungguh ingin makan bakso beranak se pagi ini?"
"I-iya, itu permintaanku... Tapi kalau kau keberatan, aku juga nggak memaksa kok. Nggak dituruti juga gapapa."
"Hmm..." Keyran menatap Nisa tanpa berkedip. "Bagaimana jika bibi Rinn yang membuatnya?"
"Key, aku sudah bilang seandainya kau keberatan aku gapapa. Jangan libatkan bibi Rinn..."
"Jadi maksudmu harus aku sendiri yang membuatnya?"
"I-iya, tapi... untukmu ini pasti sangat aneh, kau itu kan seorang CEO, mana mungkin kau mau membuat bakso beranak untukku. Jadi, lupakan saja permintaanku yang tadi itu."
"Sungguh? Apa kau akan menagih di lain hari?"
"Itu... entahlah, mungkin nggak akan ada lain kali. Jadi jangan kau pikirkan dan kembali tidur saja, a-aku juga akan tidur!" Nisa langsung berbalik membelakangi Keyran.
"Selamat malam istriku yang suka keluyuran~"
"Selamat malam juga suamiku yang interrogator!"
Huft... Syukurlah aku berhasil membodohi Keyran, untung saja pencipta bakso beranak menamainya bakso beranak, bukan bakso berbayi, jadi aku akhirnya bisa ngeles.
Ini semua bersumber dari Ricky, kalau aku nggak kepikiran dia aku nggak mungkin punya pikiran konyol mau buat anak. Karenanya aku jadi membuat kebohongan lain, dan otomatis dosaku juga bertambah. Pokoknya Ricky harus menanggung sebagian dosaku! Tunggu sebentar... kenapa sekarang aku malah kepikiran Ricky lagi? Padahal kan tadi aku sudah bertekad untuk melupakannya...
"Hah..."
Aku kehabisan ide untuk melupakan Ricky, apa aku coba searching di google? Nanti aku search cara melupakan mantan. Iya, aku coba dulu saja! Tapi... mungkinkah orang-orang di markas google akan menertawakan aku? Preett lah, bodo amat! Di dunia ini yang susah move on bukan cuma aku, masih banyak kok yang lain.
Nisa lalu mengambil ponselnya dari atas meja, kemudian dia mulai browsing cara untuk melupakan mantan. Dan hasil penelusuran itu adalah...
--
...TIPS MELUPAKAN MANTAN, DIJAMIN MOVE ON! ...
• Jangan terlalu memaksakan diri, biarkan saja mengalir dengan sendirinya.
• Hapus semua foto tentang dia
• Membahagiakan diri sendiri
• Sibukkan diri dengan aktivitas
• Jangan menghubungi mantan sekali pun
• Curhat ke sahabat terdekat
• Berinteraksi dengan orang baru
• Mendekatkan diri kepada Sang Pencipta
--
"Heemmm..."
__ADS_1
Yang terakhir ini... apakah maksudnya untuk cepat-cepat mati? Dan aku rasa semua ini sudah aku lakukan, tapi kenapa aku masih belum bisa move on? Mungkin saja aku coba cari motivasi lainnya yang berhubungan dengan melupakan cinta.
Nisa lalu membaca setiap kata-kata motivasi hasil dari penelusuran internet. Dari semua kata-kata yang telah dibaca, Nisa tidak bisa mengerti satu pun. Namun ketika dia selesai di page terakhir, tiba-tiba saja Nisa seperti mendapat sebuah pencerahan.
--
Cinta yang satu bisa tergantikan bila cinta yang lain datang.
--
"Hmm..."
Kalimat ini membuatku teringat pada kata-kata ayah saat hari pernikahan. Saat itu ayah bilang kalau aku harus berusaha membuka hatiku, mungkin maksudnya adalah aku harus berusaha mencintai Keyran.
Tapi... jika aku mencintainya, apakah cinta ini akan benar? Aku dan dia menikah karena terpaksa, apakah nantinya juga akan menjadi cinta terpaksa?
"Huft..." Nisa lalu kembali meletakkan ponselnya di atas meja. Setelah itu dia menutup matanya rapat-rapat.
Kalau aku pikir-pikir... sebenarnya Keyran itu lumayan baik. Yang aku nggak suka darinya adalah karena dia suka mengatur, seakan-akan semuanya harus sesuai dengan yang dia inginkan. Bahkan kenyataannya pun hidupnya juga terbilang sempurna, Keyran itu sudah tampan, mapan, punya status, cerdas, pekerja keras, bertanggung jawab, terlebih lagi dia beruntung mendapatkan aku sebagai istrinya. (diihh narsis:v)
Sekarang sudah aku putuskan! Aku akan berusaha, berusaha untuk melupakan Ricky dan berusaha untuk mencintai Keyran! Tapi bagaimana caranya...?
Mungkin saja lebih baik aku menuruti apa yang dibilang ayah, aku harus membuka hatiku terlebih dulu. Selebihnya untuk urusan melupakan Ricky, itu bisa aku pikirkan belakangan. Yang paling penting adalah berusaha! Dan mungkin saja... aku bisa berusaha mulai dari sekarang.
Nisa lalu berbalik menghadap ke arah Keyran, dan dia melihat wajah Keyran yang sudah menutup mata dengan begitu tenang. "Key..." ucap Nisa dengan suara lirih.
"Hm? Ada apa?" ucap Keyran tanpa membuka matanya.
"Aku kedinginan..."
"Selimut lain ada di lemari, ambil saja sendiri!"
"Humph.. nggak peka banget sih?"
"Nisaaa... aku malas mengambil selimut untukmu. Ini masih jam 2 pagi, aku sangat lelah dan butuh tidur. Jangan ganggu aku dengan permintaan anehmu, oke?"
"Maaf... aku cuma..."
"Cuma apa?"
"Cuma ingin dipeluk..."
"I-iya, sudah hangat..." Nisa lalu menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Keyran. "Tapi jangan kuat-kuat, jadinya aku susah tidur..."
"Iyaaa.. cepat tidur babi malasku~" Keyran lalu menepuk-nepuk pantat Nisa.
PUK PUK PUK...
"Hei hei, apa yang kau lakukan? Aku ini bukan bayi, jadi berhentilah menepuk pantatku!"
PUK PUK PUK...
"Key!! Hentikan, jika kau masih menepuk pantatku maka aku batal minta peluk!"
"Haha... baik-baik... aku akan berhenti." Keyran tersenyum lalu mencium kening Nisa. "Selamat malam Nisa..."
"Selamat malam juga Key..." Nisa lalu menutup matanya dan masih terus mendekap di dada Keyran.
Menit demi menit telah berlalu dan Nisa juga sudah tertidur pulas. Namun di sisi lain Keyran masih belum tidur, dia terus tersenyum dan tidak melepaskan pelukannya.
"...."
Nisa tiba-tiba saja meminta dipeluk olehku, padahal dia biasanya selalu menghindar saat aku menyentuhnya. Apa mungkin Nisa ketempelan makhluk halus? Dia kan pulang larut malam, tapi... zaman sekarang apakah ini mungkin?
Dan menurutku Nisa semakin bertingkah aneh, masa di jam segini mau makan bakso, bahkan juga harus aku sendiri yang membuatnya. Permintaan ini terdengar sangat aneh seperti orang yang sedang ngidam. Tunggu sebentar... ngidam?
Astagaaa... apakah mungkin Nisa hamil!? Jika memang benar Nisa hamil, maka aku akan segera menjadi ayah! (Muka memerah)
"Huft... tenang... tenanglah Key..."
Aku harus tenang dan jangan terlalu berharap! Karena pada dasarnya Nisa itu memang sedikit aneh, mungkin saja dia tidak hamil. Bahkan jika memang hamil, sepertinya Nisa sendiri juga belum menyadarinya. Pokoknya aku harus memastikan dulu hal ini, dan jika dipastikan bahwa Nisa hamil... maka aku akan bertekad untuk belajar membuat bakso beranak! Aku harus bisa memenuhi semua keinginan calon anakku.
"Nisa... aku mohon jangan kecewakan aku."
Sekarang aku mulai berharap kalau kau sungguh hamil, semoga saja harapanku jadi kenyataan. Sekarang aku sadar alasan ayah terus memaksaku untuk segera punya anak, karena membayangkannya saja sudah membuat hati begitu bahagia. Dan harapan terbesarku adalah semoga anakku nanti sifatnya tidak seperti Nisa, aku bisa gila kalau orang seperti Nisa ada dua.
__ADS_1
"Haiss... jika seperti ini... rasanya aku ingin selalu memanjakanmu agar kau merasa nyaman bersamaku..."
Sebenarnya aku merasa khawatir, sifatmu yang begitu bebas itu membuatku selalu merasa kalau kau bisa meninggalkanku kapan saja. Mungkin ragamu kini adalah milikku, tapi hatimu... aku tidak tahu apakah kau sudah bisa menerimaku sebagai suamimu atau belum. Sebenarnya aku punya hak untuk membatasi kebebasanmu, tapi... nantinya kau pasti akan membenciku.
Aku akui, ini adalah pertama kalinya aku menyukai seseorang. Bahkan aku sampai sekarang terus berpikir apa yang sebenarnya membuatku menyukaimu. Padahal kau itu orang yang kasar, keras kepala, susah diatur, kekanakan, suka membuat masalah, terus merepotkan orang. Tapi, entah kenapa setiap aku mendengar namamu saja, aku sudah bisa dengan sendirinya tersenyum bodoh. Mungkin ini karena aku yang sudah gila. Jika menyukaimu berarti kegilaan, maka selamanya aku tidak berharap untuk kembali waras.
Lucunya lagi aku sudah terbiasa dengan kehadiranmu, jika kau tidak ada maka aku sulit untuk tidur. Dan sekarang... melihatmu yang berada di dekapku seperti ini, aku merasa senang sekali. Dan saat melihat tingkah bodohmu, entah kenapa aku suka sekali melihatnya. Aku sangat menantikan kejutan-kejutan yang akan kau buat.
"Mimpi indah istri kecilku..." Keyran lalu mengusap kepala Nisa dan kemudian dia menutup matanya.
***
Waktu pun berlalu dengan cepat dan tibalah pagi hari. Suasana pagi ini sangat cerah, matahari sudah terbit dan memancarkan sinarnya yang hangat, suara kicauan burung yang merdu juga terdengar bersahutan-sahutan. Dan suara itu akhirnya membuat Keyran terbangun.
Dengan mata yang masih tertutup Keyran berkata, "Hmmm... ayo bangun babi malasku~" tangan Keyran lalu mencoba untuk mencari-cari tubuh Nisa, namun ternyata dia sama sekali tidak merasakannya dan akhirnya dia membuka mata. "Loh? Tumben sekali bangun lebih awal dariku? Padahal biasanya kalau belum aku cubit belum bangun."
Terlebih lagi... pagi ini aku kelewatan kesempatan untuk mencium keningnya.
"Sudahlah, masih ada lain hari." Keyran lalu duduk dan mulai meregangkan kedua tangannya. "Tanganku rasanya sedikit kram karena sepanjang malam Nisa menindih tanganku. Tapi... semua itu sepadan." ucap Keyran sambil tersenyum.
Pagi ini suasana hatiku sangat bahagia, aku bahagia karena Nisa mulai bersikap manja kepadaku. Lalu... tadi aku juga bermimpi indah, aku bermimpi aku dan Nisa punya seorang anak yang sangat pandai bermain piano, dan aku juga mengadakan konser piano tunggal untuknya.
"Semoga saja menjadi kenyataan!"
Hoeek... Hooekk... Hoek...
"Hah!?" Keyran langsung menoleh ke arah kamar mandi dan kemudian dia ternganga.
Nisa sedang muntah-muntah, di pagi hari? Aku tidak salah dengar kan?
Keyran langsung beranjak dari ranjang dan berlari menuju ke arah kamar mandi, dia juga mendekatkan telinganya pada pintu kamar mandi.
Hoek... Hooek...
"Ya Tuhan, apakah Nisa benar-benar hamil?"
Feelingku mengatakan iya!! Tadi malam dia mengidam bakso beranak, dia juga bersikap manja, sekarang dia mengalami muntah-muntah di pagi hari.
"Tapi... mungkin saja ini cuma kebetulan," ucap Keyran dengan nada kecewa.
Aku tidak bisa mendiagnosis kehamilan hanya dengan gejala-gejala kecil seperti ini. Lagi pula jika Nisa benar-benar mengidam seharusnya semalam dia mendesakku untuk memenuhinya, tapi dia tidak keberatan jika tidak dipenuhi. Toh jika Nisa tidak hamil, pasti sebentar lagi akan hamil.
"Pasti! Itu pasti!" ucap Keyran penuh keyakinan.
Sikap manjanya itu bukan kebetulan, pasti saat-saat bahagia seperti di surga yang aku nantikan akan segera datang! Astaga, ini masih pagi tapi aku sudah berpikiran mesum seperti ini... Sebaiknya aku tanya dulu keadaan Nisa, mungkin saja dia masuk angin, dia kan keluyuran sampai larut malam.
"Nisa! Apa kau baik-baik saja?"
"Yaa... aku baik-baik saja kok. Kalau kau mau gunakan kamar mandi tunggulah sebentar lagi, sebentar lagi aku akan selesai!"
"Oh, oke. Tidak perlu terburu-buru!"
Tak berselang lama kemudian Nisa keluar dari kamar mandi. Dan tentu saja Nisa terkejut saat melihat Keyran yang berdiri tepat di samping pintu kamar mandi. Sedangkan Keyran, dia terpesona karena melihat Nisa yang hanya berbalutkan sehelai handuk, dan di tubuh Nisa masih terlihat tetesan air dari rambut panjangnya yang basah setelah keramas.
"Aku sudah selesai, apa aku membuatmu menunggu lama?"
"T-tidak juga!" dengan wajah yang terlihat merah Keyran langsung masuk ke kamar mandi dan juga membanting pintu.
BRAAK!!
"Itu orang kenapa sih? Kebelet banget ya?"
Sebaiknya aku cepat-cepat pakai baju, setelah ini aku masih harus memasak omelet untuk Keyran. Sebenarnya aku sedikit penasaran kenapa setiap hari dia nggak bosan makan omelet, padahal aku yang memasak saja sudah merasa muak.
"Nggak tau ah, selama menjadi istrinya aku bahkan belum pernah menanak nasi, hebat kan aku?"
Haha... tentu saja hebat, aku ini Nisa Sania! Mungkin saja aku menjadi pemecah rekor istri paling gak guna sedunia.
***
Beberapa saat kemudian Nisa telah selesai berpakaian serta mengeringkan rambutnya. Begitu selesai Nisa langsung bergegas menuju ke dapur untuk memasak. Saat di dapur dia menjumpai bibi Rinn yang sedang memasak hidangan lainnya. Yaa.. memang seperti itulah keseharian Nisa di pagi hari.
Ketika Nisa sedang membuat saus untuk omelet, saat itu juga bibi Rinn sedang mencuci ikan tuna di wastafel, dan tentu saja tercium bau amis. Seketika saat itu juga Nisa menutup hidung dan mulutnya. "Bibi Rinn mau masak ikan ya?"
"Iya, saya mau memasak ikan tuna asam pedas. Bukankah nyonya suka makanan yang pedas?"
__ADS_1
"Kalau pedas sih memang suka, tapi bau amisnya itu loh... pokoknya bibi Rinn jangan masak ikan!"
"Eh!? Apakah nyonya..."