
Nisa kebingungan dengan perkataan Tuan Arie yang baru saja meminta bantuannya. "Bantuan seperti apa yang Anda maksud?" tanya Nisa yang kemudian menarik tangannya dari genggaman pria itu.
"Kau satu-satunya orang yang aku tahu punya hubungan dengan putraku yang satu itu. Bisakah kau menghubunginya sekarang? Aku ingin bicara sebentar dengannya!" pinta Tuan Arie dengan tatapan berharap.
"Ah, soal itu ... bukannya saya tidak mau, tapi saya ingin tahu dulu alasannya. Sebenarnya saya memang tak pantas menanyakan ini, tapi kenapa Anda tidak menghubungi Joe saja sendiri? Anda kan ayahnya, jadi Anda pasti punya nomornya."
Tuan Arie menghela napas. "Aku memang ayahnya, tapi hubunganku dengannya tidak baik. Aku juga sudah mencoba menghubunginya, jangankan diangkat, bahkan sampai diblokir. Dia meninggalkan rumah begitu saja tanpa memberitahu tujuannya ke mana, sudah lama aku tak mendengar kabar apa pun tentangnya. Aku hanya khawatir ...."
"Tapi sekarang, akhirnya lewat pesta ini aku bisa bertemu denganmu! Sebelumnya aku tak tahu jika Jonathan punya teman di kota ini, dan sekarang aku yakin bahwa kau adalah seseorang yang jadi alasannya sempat betah berada di negara ini!"
"Haha, saya tak tahu jika saya sepenting itu baginya ..." ucap Nisa dengan senyum canggung.
Sial, sepertinya aku salah telah mengungkit nama Jonathan. Permintaan untuk menghubunginya agak sulit untuk aku lakukan. Mengingat sebelumnya aku pernah menolak perasaannya, jika sekarang meneleponnya aku merasa seperti orang yang tak tahu malu.
"Bisakah kau membantuku? Jika kau melakukannya maka aku sangat berhutang budi kepadamu."
"Ehmm ... sebenarnya saya ingin membantu, tapi ponsel saya sekarang tertinggal di kamar. Tapi Tuan Arie jangan risau, terakhir kali saya menelepon Jonathan, dia dalam keadaan baik-baik saja!" ucap Nisa sambil memegang tengkuknya.
Tentu saja baik, dia bahkan dalam keadaan prima karena bisa mengangkat telepon saat sedang bercinta.
"Benarkah?! Syukurlah jika dia baik-baik saja, tapi dia berada di mana?" tanya Tuan Arie dengan antusias.
"Dia sedang berada di Italia," jawab Nisa dengan sedikit ragu.
Sebenarnya aku juga tak tahu dia di mana, tapi saat itu aku dengar jelas jika wanita yang bersama Jonathan mendesah dan mengucapkan bahasa asing. Sedangkan di negara ini PSK mayoritas orang-orang lokal, kecil kemungkinannya jika Jonathan berada di negara ini. Jadi dia pasti ada di negara asalnya.
"Sudah aku duga jika dia pergi ke sana. Terima kasih atas penjelasanmu, setidaknya aku merasa lebih tenang sekarang. Oh iya, tunggu sebentar!" Tuan Arie lalu merogoh saku jasnya, dia mengambil sebuah benda dan memberikannya kepada Nisa.
"Ini kartu namaku, tolong hubungi aku jika kau mendapat kabar apa pun tentang Jonathan!"
"Baik, pasti akan saya kabari," ucap Nisa dengan nada pasrah.
"Kau cantik," ucap Tuan Arie yang sontak saja membuat Nisa kaget.
"Eh?! Anda barusan bilang apa?"
"Haha, aku bilang kau cantik! Pantas saja jika putraku itu menyukaimu, tapi sayangnya dia melakukan kesalahan karena menyukai istri orang. Aku minta maaf jika permintaanku tadi mungkin memberatkanmu, tapi aku benar-benar butuh bantuanmu."
"Bagaimana Anda bisa tahu soal saya dan Jonathan?" tanya Nisa terheran-heran.
"Sebelumnya aku juga hadir di pesta ulang tahun si tua Muchtar, saat itu kau terkena insiden penusukan. Aku pulang cepat dan menceritakan hal ini ke orang rumah, kebetulan Jonathan mendengarnya. Dia langsung panik dan bersikap tidak wajar saat tahu kau terluka, jadi sekarang aku bisa yakin jika dia punya perasaan terhadapmu."
"Tapi kau jangan merasa tidak enak kepadaku, aku tak masalah jika kau membuat putraku patah hati. Pilihanmu sudah benar tetap setia terhadap suamimu. Zaman sekarang kesetiaan itu sulit dicari, dan kau juga harus hati-hati karena terkadang kesetiaan pun masih dicurigai. Ingat pesan dari orang tua ini."
Setelah mengatakan itu semua, Tuan Arie pun berjalan pergi meninggalkan Nisa. Sedangkan di satu sisi Nisa masih berdiam diri di tempat karena tidak habis pikir dengan semua kejadian barusan.
"Apa-apaan dia itu? Dia bicara tentang kesetiaan sedangkan dia terkenal mempunyai 2 istri, itu pun belum termasuk ibunya Jonathan jika dihitung. Apa maksudnya tidak masalah jika pria yang tidak setia?" gumam Nisa.
Ah sudahlah, jangan dilihat siapa yang menyampaikan, tapi lihat apa yang dia sampaikan. Aku harus mengubah kebiasaanku yang selalu berpikir negatif.
Nisa memutuskan untuk kembali melanjutkan tugasnya, dia berkeliling ke setiap sudut dan memastikan jika pesta itu berjalan dengan sebagaimana mestinya.
Selang beberapa waktu kemudian saat Nisa sudah senggang, dia pergi mengendap-endap ke dapur. Dia berjalan mendekati meja yang di atasnya terdapat sebuah tudung saji, lalu perlahan membuka tudung saji itu dengan senyuman semringah.
"Hehe, akhirnya tiba juga saatnya aku menyantapmu. Wahai choco lava cake kesayanganku ...."
"Tunggu sebentar Nyonya!" ucap salah satu pelayan yang tiba-tiba mendekati Nisa.
"Ada apa?" tanya Nisa.
"Tadi saya sempat melihat nyonya Natasha juga memegang cake itu, lalu saya bilang padanya jika itu adalah milik Anda. Dan dia langsung meletakkan cake itu kembali begitu saja."
"Hemm ... coba kulihat," Nisa mengangkat cake itu di depan wajahnya, lalu memperhatikan segala sisi dari cake itu.
"Bentuknya masih bagus, taburan gula halusnya masih rapi, buah stroberinya juga masih utuh. Tidak ada yang salah dengan cake ini," gumamnya.
"Eh? Memangnya Nyonya berpikir ada apa dengan cake itu?" tanya di pelayan penasaran.
"Bukan apa-apa, aku hanya tidak sudi jika cake yang aku buat sempurna dengan susah payah digigit oleh orang lain. Oh ya, tolong ambilkan sendok untukku!"
__ADS_1
"Baik Nyonya."
Nisa memakan cake spesial buatannya dengan lahap, dia gembira sekali akhirnya bisa bersantai menikmati sebuah cake kesukaannya. Setelah menghabiskan cake itu, dia langsung kembali ke tempat acara pesta.
Dia tersenyum kepada setiap orang yang dia temui dengan ramah. Tetapi lambat laun saat dia berkeliling, tubuhnya terhuyung dan tak sengaja menyenggol vas bunga hingga pecah.
PRANGG!
"Nyonya tidak apa-apa?" tanya seorang pelayan yang dengan sigap menghampiri Nisa.
"Aku tak apa, untung saja di sini tidak ada tamu. Aku tak mau membuat kepanikan," jawab Nisa.
"Ah, sepertinya Nyonya kelelahan. Saya lihat belakangan ini Nyonya sangat sibuk, sebaiknya Nyonya beristirahat jika memang lelah."
"Nanti saja, setidaknya aku harus ada di acara sampai para tamu pulang. Lagi pula ini tidak ada apa-apanya bagiku, mungkin hari ini aku kelelahan karena sedikit tegang." Nisa tersenyum canggung.
"Ehmm ... jika biasanya Nyonya dalam keadaan baik dan sekarang tiba-tiba kelelahan, apa mungkin ini gejala kehamilan?"
"H-hamil?!" Seketika Nisa tertegun dan memegangi perutnya.
Sebelumnya aku keguguran karena kelelahan, jika kali ini aku benar-benar hamil maka itu tidak boleh terjadi lagi! Tapi sekarang aku tak punya test pack untuk memastikan hal ini. Sebaiknya aku istirahat saja seperti saran dari pelayan ini.
Tapi aku tidak bisa ke kamar sekarang, kamar Keyran ada di rumah induk dan akan tidak pantas jika ini diketahui oleh para tamu. Sebaiknya aku pergi ke paviliun yang ada di dekat taman saja.
"Aku mau istirahat sebentar, tolong bersihkan pecahan vas ini, ya!"
"Baik Nyonya," jawab pelayan itu dengan sopan.
Di sisi lain dari pesta itu, Keyran sejak tadi terus berkeliling demi mencari keberadaan Nisa. Dia bertanya kepada setiap pelayan yang berpapasan dengannya, tetapi mereka semua mengatakan tak tahu di mana Nisa berada.
Akhirnya pun Keyran menyerah, dia bermaksud mencari Nisa ketika pesta telah usai dan para tamu sudah pulang. Hingga saat ini dia tiba-tiba melihat sesuatu yang mengejutkan di tengah-tengah pesta. Natasha terlihat penuh amarah dan berteriak-teriak.
"Nisa! Nisa Sania! Di mana kau jal*ng?!"
Sontak saja semua perhatian orang tertuju kepada Natasha yang tampak seperti kesetanan. Bahkan orang-orang yang semula berada agak jauh kini berbondong-bondong mendekatinya, tak terkecuali dengan Keyran.
"Hentikan! Apa maksudmu berteriak memanggil istriku jal*ng?! Apa kau sudah gila sampai tidak sadar kau sedang di mana?!" tanya Keyran yang merasa tersinggung.
"Aku akan jauh lebih gila lagi jika tidak segera bertemu dengannya sekarang! Asal kau tahu, istrimu itu benar-benar wanita jal*ng! Dia berani menggoda suamiku, Daniel!"
"Cukup, aku mengenal Nisa dengan baik. Dia tak mungkin melakukan itu!" bantah Keyran penuh keyakinan.
"Kau tak tahu apa yang dia lalukan di belakangmu! Selama dia mempersiapkan pesta ini, dia sering datang ke kediaman ini sendirian tanpa ditemani olehmu. Selama itu juga aku menyaksikan jika dia menggoda adik iparnya sendiri, yaitu suamiku! Sebelumnya aku masih tahan dan bermaksud menyelesaikan hal ini secara baik-baik, tapi sekarang tidak lagi!"
"Kau jangan asal menuduh tanpa bukti!" teriak Keyran penuh amarah.
"Bukti?! Baiklah kalau kau menginginkan bukti! Mari cari istrimu itu bersama-sama! Sejak tadi aku mencari Daniel, tapi tidak ketemu! Aku yakin jika saat ini mereka berdua sedang bersama di suatu tempat!"
Keyran tertegun, dia merasa jika Natasha benar soal Nisa dan Daniel yang tak terlihat di mana pun juga. Jauh di dalam lubuk hatinya, dia merasa cemas jika apa yang dikatakan oleh adik iparnya itu benar-benar terjadi. Apalagi saat dia mengingat bahwa belakangan ini Nisa cenderung mengabaikan dirinya.
"Baiklah, mari kita buktikan! Ayo cari di mana mereka, tapi ... kau akan menerima akibatnya jika semua yang kau katakan itu cuma omong kosong!" ucap Keyran penuh penekanan.
"Baik!" Natasha mengangguk.
Di satu sisi orang lain pun ikut penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Orang tua dari masing-masing pihak keluarga juga mengikuti lantaran khawatir dengan anak mereka. Hingga para wartawan yang bertugas melakukan peliputan berita, tak satu pun dari mereka melewatkan kesempatan ini demi meliput berita yang panas.
"Daniel! Kau di mana sayang?!" teriak Natasha.
"Nisa! Jawab aku jika kau mendengarku!" teriak Keyran.
Mereka semua memeriksa semua ruangan satu per satu, tetapi hasilnya nihil. Mereka sudah mencari di seluruh sudut guest house tersebut, dan mereka sudah memastikan bahwa para pelayan sama sekali tidak melihat Nisa ataupun Daniel pergi ke rumah utama.
Seorang pelayan tiba-tiba datang dari belakang kerumunan. Dengan raut wajah bingung dia berkata, "Eh? Kenapa di sini banyak sekali orang? Bagaimana dengan pestanya?"
"Kau dari mana saja?" tanya pelayan yang lainnya.
"Aku habis membuang pecahan vas bunga yang tadi dipecahkan oleh Nyonya Nisa."
Seketika pandangan semua orang tertuju kepada pelayan itu. Dan Keyran langsung berkata, "Kau bilang apa barusan?! Ah, lupakan itu! Apa kau melihat ke mana perginya istriku?"
__ADS_1
Pelayan itu langsung gugup. "S-saya tidak tahu persis di mana, tapi Nyonya Nisa bilang jika beliau ingin beristirahat. Saya melihat beliau berjalan di lorong ini menuju ke arah taman."
"Taman ...?" Sejenak Keyran tertegun. "Dia pasti berada di paviliun!"
Keyran langsung bergegas menuju ke paviliun diikuti oleh Natasha dan yang lainnya. Sesampainya mereka di sana, paviliun yang terbuat dari ornamen kayu itu tampak sangat damai. Tanpa basa-basi lagi Keyran langsung mencoba untuk membuka pintu tersebut.
"Sial, dikunci dari dalam!" Keyran lalu menengok ke belakang. "Tolong mundur sedikit!"
"Kau mau mendobraknya?" tanya Natasha.
"Iya!"
Setelah diberikan sedikit ruang, Keyran langsung mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu itu. Tetapi sayangnya pintu itu sangat kokoh, sudah tiga kali dia mencoba namun tetap gagal.
"Biar aku bantu!" ucap Reihan yang tiba-tiba muncul dari kerumunan.
Keyran mengangguk, dia memberi aba-aba kepada Reihan untuk melakukannya bersama.
BRAAKKK!!!
Dalam sekali percobaan pintu itu akhirnya terbuka. Keyran dan Natasha langsung masuk ke dalam paviliun untuk memastikan keberadaan pasangannya.
Saat melangkah lebih dalam, tiba-tiba Natasha menjerit, "Daniel!!"
Daniel yang saat ini berada di atas ranjang yang berukuran sedang langsung terbangun, dan yang mengejutkan dia dalam keadaan bertelanjang dada.
"Apa yang terjadi?" gumam Daniel yang masih setengah sadar. Dia langsung melotot begitu menyadari semua orang yang menatapnya saat ini.
"Ughh ... kenapa berisik sekali?" Nisa perlahan membuka mata. Dia langsung bangun saat menyadari ada Keyran dan banyak orang lain di sana. Dia sangat bingung dengan keberadaan Daniel yang tepat seranjang dengannya. Dia bertambah syok saat menyadari bahwa dia sendiri dalam keadaan setengah telanjang.
Nisa langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Dia melotot ke arah Daniel dan berteriak, "Kenapa kau ada di sini?! Apa yang kau lakukan padaku?!"
"Harusnya aku yang bilang begitu!" teriak Daniel seakan tak terima.
Di sisi lain Natasha sudah menangis, dia melangkah mendekat dan memukul-mukul suaminya. "Hik ... kau tega sekali! Kita menikah belum lama tapi kau sudah selingkuh dariku! Apa kurangnya aku ... Daniel ... kau kejam!"
"Aku mohon dengarkan penjelasanku dulu!" Daniel lalu memegangi kedua tangan istrinya untuk berhenti memukulinya. "Ini bukan seperti yang kau pikirkan, aku dijebak!"
"Kau bohong!" teriak Natasha yang air matanya semakin mengalir deras.
"Aku tidak bohong! Nisa lah yang menjebakku! Dia sempat menggodaku, lalu aku menolaknya! Tapi dia menjebakku dengan membuatku pingsan!"
"Tutup mulutmu sialan! Kau munafik! Akulah yang dijebak di sini!" teriak Nisa yang kemudian beralih menatap suaminya. "Key, ini tidak seperti yang kau kira ...."
Nisa berusaha turun dari ranjang, tetapi kakinya terjerat oleh selimut hingga dia terjatuh ke lantai yang dingin itu. "Sial, berhentilah mengambil gambar!" teriak Nisa kepada para wartawan yang sibuk mengabadikan momen ini dari belakang Keyran.
Belum sempat Nisa bangkit, tiba-tiba Natasha mendekat dan memberikan sebuah tamparan keras di pipinya.
PLAK!
"Dasar wanita jal*ng! Kau mau menipu siapa dengan mulutmu yang berbisa itu?! Buktinya sudah sangat jelas! Di tubuh suamiku ada noda yang menempel, dan warnanya sama seperti lipstik yang kau pakai! Sedangkan di tubuhmu tak ada bekas apa pun! Kau tak bisa mengelak lagi!"
"A-apa?!" Nisa tercengang, dia melihat semua orang saat ini menatapnya dengan tatapan jijik. Seakan-akan bahwa dirinya adalah seorang wanita ******* yang terhina.
"Ayah kecewa padamu, Nisa."
"A-ayah ...." Nisa mencoba untuk meraih dan menahan tangan ayahnya, tetapi gagal. Saat ini dia melihat punggung ayahnya yang berjalan pergi meninggalkan dirinya dalam keadaan malu. Bukan cuma ayahnya, ibu dan kedua adiknya juga pergi meninggalkan dirinya.
Harapan Nisa saat ini satu-satunya tinggal suaminya. Dia mendongak menatap Keyran yang berdiri tepat di hadapannya. "Darling ... percayalah padaku, aku tak mungkin mengkhianatimu."
"...." Keyran diam seribu bahasa, tiba-tiba saja dia melepas jasnya lalu memakaikan jas itu untuk menutupi tubuh Nisa.
Sekilas Nisa tersenyum, dia berusaha bangkit tetapi kembali mematung saat menyadari ekspresi Keyran. Tatapan yang asing, raut wajah kekecewaan dan aura yang menyesakkan. Semua itu terpancar dari seseorang yang selalu memperlakukannya dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"K-Keyran ..." ucap Nisa dengan nada gemetar. Dia berusaha untuk meraih tangan suaminya, tetapi Keyran sengaja menghindar.
"Enyah!"
Deg!
__ADS_1