
Pagi hari tiba, Keyran bangun lebih awal daripada Nisa. Keyran terbangun karena dia merasakan ada sesuatu yang aneh di wajahnya, dan ternyata yang terjadi adalah Nisa yang masih tertidur lelap tangannya sibuk menguyel-uyel wajah Keyran.
"Emmm..." Keyran membuka matanya dan dia dikejutkan oleh tangan Nisa yang menempel pada wajahnya, "Eh!? T-tangan...?" Keyran lalu melirik ke arah Nisa.
Gadis aneh ini sedang apa? Apa dia sengaja melakukan ini padaku?
"Lingkaran kecil, lingkaran kecil, lingkaran besar~ jadilah babi..." ucap Nisa yang masih tertidur lelap.
"Tsk!" Keyran lalu menahan tangan Nisa, "Kenapa Tuhan bisa menciptakan makhluk seperti ini?"
Bahkan saat mengigau dia masih saja membuatku kesal, kemarin kampret, sekarang babi, besok apa lagiiii....!?
"J-jangan pergi..." secara refleks Nisa tiba-tiba mencengkeram lengan baju Keyran, "Aku mencintaimu... kembalilah... aku mohon..." ucap Nisa dengan nada gemetar.
Saat Keyran melihat hal itu untuk sejenak dia terdiam dan hanya menatap Nisa, kemudian dia mengelus pipi Nisa sambil berkata, "Gadis aneh..." Keyran lalu melepaskan cengkeraman tangan Nisa dari bajunya, setelah itu dia turun dari ranjang dan kemudian dia masuk ke kamar mandi.
Dan tak lama kemudian Nisa terbangun, dia yang masih dalam keadaan setengah sadar langsung bergegas menuju kamar mandi.
"Hoamm..." Nisa mengucek matanya lalu dia masuk ke kamar mandi serta mengunci pintu, setelah itu dia bersenandung, "Bangun pagi, gosok gigi, cuci muka dan mandi~ hem-hem-hem-hem... hem-hem-hem-hem...." Nisa lalu berbalik, "hem-hemm...." Nisa terdiam dan mematung.
Saat Nisa berbalik, dirinya langsung dikejutkan oleh Keyran yang dalam keadaan telanjang sedang mandi di bawah derasnya guyuran air shower. Dan Keyran saat itu juga langsung terdiam lalu menatap Nisa dengan sorot mata yang tajam.
"Kau...!" Keyran lalu menunjuk ke arah Nisa, dan kemudian dia malah berjalan mendekati Nisa yang masih mematung.
"Aaahhh!" teriak Nisa sambil menutup matanya menggunakan kedua tangannya.
B-buwung puyuh! Barusan aku melihat semuanya...! Sekarang harus bagaimana!? Aku harus segera keluar!
Nisa lalu menurunkan satu tangannya, dan dengan keadaan masih menutup mata dia mulai meraba-raba sekitarnya untuk menemukan gagang pintu.
"Apa yang sedang kau lakukan!?" bentak Keyran.
"Aku mau keluar!" Nisa masih terus menutup matanya.
Gagang pintu.... mana! Mana... cepatlah ketemu! Kalau nggak habislah aku...! Yes, Dapat! Tapi... kenapa gagang pintu teksturnya begini?
"Hei, buka matamu! Lihatlah benda yang sedang kau pegang!" bentak Keyran.
"Gagang pintu lah, memangnya apa lagi...?" Nisa lalu perlahan membuka matanya, dan ternyata yang dia pegang bukanlah gagang pintu, melainkan benda pusaka milik Keyran. Mengetahui hal itu Nisa langsung berteriak histeris, "Asdfghj! Aaahhh! Apa yang aku lakukan!?" Nisa seketika menarik tangannya kembali, tapi karena terlalu kaget akhirnya dia terpeleset lalu terjatuh ke lantai.
Tubuh Nisa kini mulai basah karena terjatuh ke lantai, dan sekarang dia sama sekali tidak berani untuk melihat ke arah Keyran karena sudah melakukan itu terhadapnya. Nisa hanya bisa menundukkan kepalanya karena terlalu malu, dia juga menatap tangannya seolah-olah tidak percaya dengan apa yang sudah dia lakukan.
Ya ampun, tadi aku sungguh memegangnya... sekarang aku harus apa? Tanganku sudah berbuat maksiat! Tapi, kenapa dia nggak berbuat apa-apa? Apa dia sedang berpikir cara untuk menyiksaku? Sialan, pagi hariku yang cerah sekarang berubah menjadi hujan deras disertai petir dan angin...
"Hei! Apa kau akan terus di lantai seperti itu?" tanya Keyran dengan tatapan yang penuh amarah.
"M-maaf... aku nggak sengaja, a-aku pasti akan cuci tangan, bahkan dengan bunga tujuh rupa. T-tolong jangan marah, anggap saja ini nggak terjadi... b-bisa kan?" ucap Nisa dengan nada gemetar.
__ADS_1
"Cepat berdiri!" bentak Keyran.
Setelah dibentak oleh Keyran, Nisa masih saja terus di lantai, Keyran yang melihat hal itu langsung mencoba untuk membantu Nisa berdiri. Setelah Nisa berdiri, Keyran tiba-tiba memojokkannya ke dinding kemudian dia menatap Nisa dengan sorot mata yang tajam.
"Kenapa kau masuk?" tanya Keyran dengan tidak sabar.
"Anu... i-itu..." ucap Nisa terbata-bata.
Kenapa buwung-nya itu nggak ditutupi dulu sih? Kalau dibiarin begitu kan jadinya aku nggak bisa fokus...
"Cepat jawab! Kenapa kau masuk?" Keyran lalu mendekatkan wajahnya pada Nisa.
"Anu... t-tolong tutupi punya-mu itu..." ucap Nisa sambil menunjuk ke bawah
"Heh! Kenapa aku harus menutupinya? Lagipula kau juga sudah menyentuhnya. Aku tanya sekali lagi, kenapa kau masuk!?" bentak Keyran.
"A-aku mau mandi." jawab Nisa secara spontan.
"Oh, mandi ya? Baiklah," Keyran lalu menyeret Nisa ke bawah shower bersamanya, lalu dia berkata, "Seperti ini kan?"
"Ha.. ha.. apa yang kau lakukan? Sekarang ha.. aku basah kuyup, le-lepaskan aku!" Nisa meronta tapi Keyran malah semakin erat memegang tangannya.
Sial, air ini sangat dingin... sebenarnya dia ini mau apa? Kenapa dia malah menyeretku ke bawah shower bersamanya?
"Nah, sekarang kau sudah basah. Selanjutnya," Keyran lalu menyentuh pinggang Nisa, kemudian dia menarik baju yang dipakai Nisa. Tapi, tiba-tiba Nisa menghentikan tangan Keyran yang hendak melepaskan bajunya.
"Tentu saja melepas bajumu, kau bilang ingin mandi. Jadi, aku membantumu melepasnya, ini sesuai dengan yang kau minta." ucap Keyran sambil tersenyum.
"Kapan aku memintamu untuk melepas bajuku? Aku bisa melakukannya sendiri, ups..." Nisa seketika langsung menutup mulutnya.
Ini salah! Apa yang barusan aku katakan!? Sekarang sangat berbahaya jika aku melepas bajuku, i-ini gawat...
"Baiklah, kau lepas saja bajumu sendiri." Keyran lalu semakin mendekatkan wajahnya pada Nisa, "Setelah itu kita bisa mandi bersama, itu kan yang kau inginkan?"
"M-mandi bersama?" Wajah Nisa tiba-tiba memerah, "Kau salah paham! Aku nggak punya maksud untuk mandi bersama denganmu! Cepat lepaskan aku!" Nisa mulai meronta, tapi saat itu juga Keyran langsung menarik tangan Nisa kemudian merangkul tubuhnya seerat mungkin.
"Apa kau pikir aku bodoh? Aku tahu semuanya, kau sengaja melakukan semua ini karena kau ingin mandi bersama denganku. Aku sarankan agar kau segera melepas bajumu, kau jangan merasa sungkan, kita ini suami istri loh~" bisik Keyran di telinga Nisa.
"A-apa...?" ucap Nisa seakan tidak percaya.
Kenapa dia bisa berpikir seperti itu tentangku? Kan aku sudah bilang kalau ini salah paham. Tapi, sekarang dia malah merangkul tubuhku seperti ini, bahkan dalam keadaan telanjang. Apa dia mau melakukan itu? Di kamar mandi? Sebenarnya aku belum siap, tapi dia itu suamiku. Tunggu sebentar! Kenapa aku juga ikut-ikutan berpikir mesum sih?
"Hei, apa kau...?" Wajah Keyran tiba-tiba memerah.
Sialan! Pakaian gadis ini mulai transparan, bahkan sekarang aku dapat dengan jelas melihat tubuhnya. Jika seperti ini terus, aku tidak akan bisa mengendalikan diriku lagi.
"Emmm... soal yang tadi itu, aku nggak mau melepas bajuku. Sekarang lepaskan aku!" Nisa lalu melototi Keyran, tapi Keyran malah semakin erat merangkul tubuhnya. "Hei, aku bilang cepat le- Eh...!?" Nisa tiba-tiba terkejut dan kemudian dia ternganga melihat ke arah Keyran.
__ADS_1
WTF! A-ada sesuatu yang menabrakku! I-itu... miliknya kan? Habislah aku... mungkin ini saatnya untukku bilang good bye...
"J-jangan melihatku seperti itu! Ini salahmu!" teriak Keyran seakan tidak terima.
Hng! Ini semua karena ulah gadis ini! Jadi sekarang aku harus meminta pertanggungjawaban darinya!
"Salahku? Kau gila ya? Cepat lepaskan aku!" Nisa lalu meronta sekuat tenaga.
Gilaaa! Rasanya aneh sekali, pokoknya aku harus segera kabur! Ini masalah yang sangat serius!
"Jangan bergerak! Kau hanya membuatnya semakin tidak karuan, jadi berhentilah memberontak!"
Astaga... kendalikan dirimu Key! Yang di hadapanmu ini hanyalah gadis aneh, jadi jangan berpikir apa pun tentangnya!
"O-oke, aku akan diam." Nisa lalu memalingkan wajahnya.
Kedua orang itu berusaha untuk berhenti memikirkan tentang hal yang lumrah untuk mereka lakukan, tapi kenyataannya semesta berkata lain. Saat ini jarak di antara mereka sangat dekat, bahkan suara gemericik air menjadi pendukung suasana yang sangat baik. Keyran berusaha sebisa mungkin untuk menahan semua hasrat dalam dirinya, tapi akhirnya dia kalah. Dan untuk pertama kalinya dia menatap mata istrinya dengan tulus, bahkan dia juga menyebut namanya dengan senyuman yang lembut.
"Nisa..." ucap Keyran sambil memegang wajah Nisa.
"Glup..." Nisa menelan ludah.
I-ini pertama kalinya dia menyebut namaku tanpa keterpaksaan. Tapi, kenapa feelingku nggak enak ya?
Keyran semakin lama semakin erat merangkul tubuh Nisa, bahkan kini detak jantung dan deru napas Keyran terdengar sangat jelas di telinga Nisa. Tapi, Nisa sama sekali tidak terpengaruh oleh suasana, kali ini dia tidak kehilangan akal sehatnya. Tubuh Nisa kini mulai gemetar ketakutan, melihat hal itu Keyran langsung meraih tangan Nisa dan menggenggamnya seerat mungkin, seolah-olah seperti dia sedang menenangkan istrinya.
"Keyran..."
"Hm? Ada apa?" tanya Keyran dengan tatapan penuh kasih.
Ini pertama kalinya dia menyebut namaku tepat di hadapanku, mungkin ini artinya dia sudah menerimaku sebagai suaminya. Sekarang aku bisa melakukan hal ini tanpa hambatan apa pun.
"Key, a-apa ini serius?" tanya Nisa dengan nada gemetar.
"Tentu saja, akan aku buktikan padamu." ucap Keyran dengan senyum lembut.
Sepertinya istriku sedikit ketakutan, tapi tenang saja, aku pasti akan berusaha selembut mungkin.
Keyran memeluk tubuh Nisa erat-erat, kemudian secara perlahan dia membawanya untuk sedikit menyingkir dari guyuran air. Keyran menatap wajah Nisa tanpa berkedip sekali pun, di dalam lubuk hatinya mulai muncul perasaan yang selama ini belum pernah dia rasakan. Jari-jemari Keyran mulai mengusap bibir manis Nisa, semakin lama dia semakin terpesona dengan apa yang dimiliki istrinya. Suhu tubuhnya kini semakin hangat, seolah-olah seperti dibakar oleh api asmara. Keyran lalu mendekatkan wajahnya pada Nisa, dia menutup matanya perlahan dan kemudian dia memberikan ciuman pada istrinya.
"K-kenapa...?" Mata Keyran tiba-tiba membelalak karena terkejut, dia sangat terkejut karena ciuman tulus yang ingin dia berikan gagal. Namun lebih tepatnya dihalangi, ciumannya terhalang oleh telapak tangan Nisa. Bukan cuma itu, saat itu juga Nisa bahkan mendorongnya menjauh. Tentu saja saat itu Keyran langsung merasa bingung, dan ada juga sedikit rasa kecewa yang terlihat di wajahnya.
"Nisa, apa yang kau lakukan?" Keyran berniat mengulur tangannya, tapi saat itu juga langsung ditepis oleh Nisa. "Nisa, ada apa denganmu?" tanya Keyran dengan tatapan bingung.
"Pembohong!" Nisa berteriak sambil menunjukkan jarinya ke arah Keyran, "Kau pembohong!"
"Maksudmu apa?" Keyran lalu mencengkeram pundak Nisa, "Nisa... tolong jelaskan padaku!"
__ADS_1
"Singkirkan tanganmu dariku!"