
"Selamat datang kembali ..." ucap Keyran selepas membukakan pintu kamar untuk Nisa.
Nisa hanya terpaku setelah memasuki kamar. Melihat sekeliling, memperhatikan setiap sudut, hingga dia sadar bahwa sama sekali tidak ada yang berubah sejak terakhir kali dirinya meninggalkan kamar itu. Senyuman tipis terukir di wajahnya, air mata kebahagiaan kembali mengalir keluar.
"Ada apa, hm?" tanya Keyran sambil mengusap air mata di pipi istrinya.
Nisa menggeleng pelan, lalu berkata, "Bukan apa-apa, aku hanya ... sedikit emosional. Rasanya sudah lama aku tidak menginjakkan kaki di rumah ini, aku tak pernah menyangka jika sekarang aku berada di kamar ini lagi."
Keyran tersenyum dan memeluk Nisa, lalu mengusap kepalanya dengan lembut. "Kamar ini akan selalu jadi milikmu."
"Iya ..." jawab Nisa sambil membalas pelukan suaminya.
"Sekarang sudah sangat larut, aku tahu jika kau lelah, mau beristirahat sekarang?"
"Baiklah."
Mereka berdua pun beralih tempat ke atas ranjang. Berbaring bersama dan saling berpelukan dengan mesra. Malam-malam dingin yang telah dilalui sendiri kini telah berakhir. Dengan kembali bersama, mereka saling berbagi kehangatan untuk melewati sunyinya malam.
Malam yang hangat kian larut, tetapi Nisa masih belum memejamkan mata dalam dekapan Keyran. Sesekali dia mendongak dan melihat apakah suaminya sudah tertidur atau belum. Saat mata mereka bertemu, dirinya hanya tersenyum dan kembali membenamkan wajahnya di dada suaminya.
"Apa kau tidak bisa tidur? Insomnia mu kambuh?" tanya Keyran.
"Hmm ... mungkin, tapi tidak apa-apa."
"Kau butuh obat? Sebentar, aku ambilkan!" Keyran hendak beranjak dari sana, namun dengan cepat Nisa menahannya agar tetap berbaring.
"Tidak usah! Tetaplah seperti ini!"
Keyran menghela napas lalu tersenyum tipis, dia kembali memeluk Nisa dan juga mengusap kepalanya. "Baiklah, sekarang aku akan terus seperti ini. Tutup matamu dan tidurlah, kau harus beristirahat."
"Tidak mau ..." keluh Nisa sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa?"
"Aku takut ... jika aku tidur, saat aku membuka mata esok hari ternyata kau tidak ada. Aku takut jika semua ini hanya khayalanku belaka karena terlalu merindukanmu, malam ini rasanya terlalu indah untuk jadi kenyataan ..."
Sejenak Keyran termenung, dan sejurus kemudian tiba-tiba saja dia memberikan ciuman di bibir Nisa.
"U-uhmm ...." Mata Nisa membelalak, dia tidak siap dengan serangan mendadak seperti ini. Perlahan dia bergeser hingga ciuman itu tak berlangsung lama.
"Sekarang bagaimana?" tanya Keyran dengan ekspresi serius.
"B-bagaimana apanya?! Kenapa kau menciumku tiba-tiba?" tanya Nisa dengan pipi merona.
"Apa ciuman tadi masih terasa kurang nyata bagimu? Atau kau mau kucium lagi untuk memastikan jika ini bukan khayalan?"
"N-nyata! Rasanya nyata! Ehmm ... kau tak perlu menciumku lagi."
"Kenapa tidak mau?"
Nisa tak menjawab, lalu mengalihkan pandangan matanya dari Keyran.
"Kenapa Nisa? Apa jangan-jangan ... kau sudah tak tertarik lagi padaku?"
"Bukan itu!" bantah Nisa seraya membungkam mulut Keyran. "Hanya saja ciuman barusan rasanya berbeda, r-rasanya geli. Kapan terakhir kali kau mencukur kumis?"
"Eh?!" Keyran langsung meraba wajahnya, dia terkekeh saat merasakan kumis tipis telah tumbuh di wajahnya. "Haha, jadi karena ini. Kupikir karena apa."
"Humph, kenapa malah tertawa? Kau terlihat menyedihkan sampai lupa mencukur kumis, pokoknya aku tidak mau menciummu sampai kau mencukur kumismu!"
"Haha, kau tidak suka?" tanya Keyran yang kemudian langsung menciumi pipi Nisa.
"H-hentikan Key! Ini geli haha ..." pinta Nisa sambil berusaha mendorong Keyran agar berhenti menciumi dirinya.
"Cukup! Dasar pria yang tak bisa mengurus diri!"
Keyran langsung menghentikan aksinya, lalu mencubit ujung hidung mancung istrinya dengan gemas. "Kau pikir ini karena siapa? Sekarang perhatian aku baik-baik. 2 minggu kau pergi dan aku jadi tak terurus seperti ini, kau pikir akan jadi apa aku nanti jika kau memilih dipenjara selama 20 tahun?"
"Ehmm ... pasti kumismu akan sangat panjang jika tidak dicukur selama 20 tahun."
"Dasar konyol, ini bukan masalah kumis! Apa kau masih belum mengerti bagaimana keadaanku saat kau pergi?"
Sejenak Nisa tertegun, kemudian dia tersenyum lembut. "Ya ... aku tahu, karena kau membutuhkanku. Kau ingin aku kembali karena kau sudah terbiasa denganku."
"Bukan cuma itu, alasan utamanya karena aku mencintaimu. Mungkin kau tak tahu, saat kau tidak ada di sini, rasanya sakit sekali ... seperti kehilangan sesuatu yang berharga dari tubuhku. Mungkin benar kata orang, kehilangan pasangan sama saja seperti kehilangan tulang rusuk."
Lagi-lagi Nisa tersenyum, kemudian mendekap Keyran dengan erat. "Aku juga sama, apa yang kau rasakan aku juga tahu rasanya. Tapi ... masih ada satu hal yang mengganjal di pikiranku."
"Katakan saja, aku akan mendengarkan."
Nisa mengambil napas dalam-dalam dan berkata, "Jujur saja ... aku masih tidak menyangka jika kita bisa seperti ini sekarang. Aku tak paham mengapa alasanmu tetap menerimaku. Padahal kau sudah tahu semuanya, perbuatan busuk yang telah aku lakukan."
"Aku tidak peduli."
"Maksudmu?! Kau tidak peduli jika istrimu adalah perempuan yang buruk?" tanya Nisa tatapan heran.
Keyran menghela napas lalu tersenyum tipis, dia juga merapikan rambut yang tampak sedikit menutupi wajah istrinya. "Dengarkan aku baik-baik. Entah seburuk apa pun masa lalumu, entah serumit apa identitasmu, yang jelas kau itu adalah istriku. Kau paham maksudku, kan?"
"Aku paham. Tapi ... apakah di hatimu sama sekali tidak ada rasa kecewa terhadapku? Kau sungguh menerimaku jadi istrimu?"
"Ya," jawab Keyran tanpa ragu.
"Kenapa? Apa kau tidak menginginkan wanita yang sempurna sebagai pendampingmu?"
"Astaga, kau ini ..." Saking gemasnya tiba-tiba saja Keyran mencubit pipi Nisa. "Sebelum aku menjawab, tolong sebutkan satu saja hal apa yang kau anggap sempurna."
__ADS_1
"Hal yang sempurna ... Langit!"
"Kenapa langit?"
"Karena ada banyak alasan. Langit begitu agung, di bawah langit ada kehidupan tak terhitung seperti kita. Di atas langit juga terdapat banyak keindahan. Semua orang juga memuja-muja langit. Dan langit juga menyimpan banyak misteri yang belum terpecahkan. Ngomong-ngomong ... apa ini penting?" tanya Nisa penasaran.
"Tentu saja penting. Tapi bagiku salah jika menyebut langit sebagai suatu hal yang sempurna. Langit itu terlalu luas, bahkan tak mempunyai ujung. Tidak bisa dibilang sempurna jika tak memiliki segalanya. Intinya ada di sini, Nisa. Semuanya tergantung persepsi masing-masing. Yang kau anggap sempurna belum tentu sempurna bagi yang lain. Pada dasarnya ... kesempurnaan itu tidak ada, kita sendirilah yang menentukan sempurna atau tidak."
"Begitu juga atas pertanyaanmu tadi. Wanita yang sempurna itu tidak ada, tapi ... aku melihat kesempurnaan dalam dirimu. Aku sendiri pun juga bukanlah pria yang sempurna, tapi saat bersamamu aku bisa merasakan kesempurnaan. Kau itu seperti melengkapi bagian diriku yang hilang. Itulah mengapa saat kau pergi, aku merasa sangat kehilangan ...."
"Aku pergi juga bukan tanpa alasan," celetuk Nisa dengan bibir cemberut.
"Aku tahu, itu salahku. Tetapi cobalah untuk mengerti, semua kejadian ini juga mempunyai arti. Dari sini aku sudah belajar, jika cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah hubungan. Kita juga harus saling menjaga, saling setia dan saling percaya. Terima kasih sudah memberikanku kesempatan sekali lagi."
"Heh, kau jangan berpikir kesempatan yang aku berikan ini gratis. Aku mau kompensasi sebagai bayarannya!" pinta Nisa sambil meringis.
"Hemm ... baiklah, katakan apa yang kau inginkan."
"Aku menginginkan dua hal. Yang pertama ... Kau harus membuatku lebih bahagia dibanding sebelumnya!"
"Haha, itu pasti. Lalu apa yang kedua?"
"Yang kedua ..." Tiba-tiba saja Nisa membenamkan wajahnya di dada Keyran. "Besok saat aku bangun tidur, begitu membuka mata aku harus melihatmu!"
"Baiklah, aku menyanggupi kedua permintaanmu." Keyran lalu memeluk Nisa lebih erat dan memberikan sebuah kecupan di keningnya. "Selamat malam, darling. Beristirahatlah ...."
"Selamat malam untukmu juga, suamiku Keyran ...."
Keyran tak henti-hentinya tersenyum. Baginya malam ini adalah malam terindah, seseorang yang selalu dia rindukan kini telah berada di dalam pelukannya.
Saat dia menyadari bahwa istrinya telah tertidur, perlahan dia membelai pipi yang dirasa semakin kurus. "Kau manis sekali, siapa yang akan menyangka jika wajah sepolos ini ternyata seorang gangster."
Keyran lalu beralih menggenggam tangan Nisa, dengan penuh kelembutan dia mencium telapak tangan itu. "Tangan selembut ini ... tangan yang selalu memperlakukanku dengan lembut, aku tak pernah mengira di balik kelembutan ini justru menyimpan banyak sekali rahasia gelap tentangmu."
"Tapi meskipun begitu, aku tak akan mengubah keputusanku. Aku siap jika harus mendampingimu bertarung melawan dunia sekalipun, aku akan selalu bersamamu. Aku mencintaimu ...."
***
Hari telah berganti, tetapi hari ini bukanlah hari yang cerah. Rintik hujan yang cukup deras membuat hawa menjadi dingin. Nisa yang masih tertidur di kamarnya turut merasakan kedinginan itu, tangannya meraba-raba hendak memeluk Keyran lebih erat untuk mencari kehangatan.
Namun, Nisa merasakan sesuatu yang berbeda. Dia tidak menemukan apa yang dia cari, sontak saja dia langsung panik dan membuka mata lebar-lebar.
"Keyran!!!" teriaknya sekencang mungkin.
Keyran adalah fokus utama yang Nisa cari, dan keberadaannya tak terlihat di mana pun. Nisa kini mulai memperhatikan sekeliling, dia akhirnya bernapas lega saat menyadari kamar yang sedang dia tempati.
Nisa lalu melihat ke arah jam dinding, dia baru sadar jika dirinya bangun kesiangan. "Ah ... rupanya sudah hampir jam 10."
Baru kali ini rasanya aku bisa tidur nyenyak, tapi di mana Keyran? Bisa-bisanya dia mengingkari apa yang dijanjikan tadi malam. Awas saja, akan kubuat perhitungan nanti.
Nisa beranjak dari ranjang dan pergi ke kamar mandi. Selang tak lama kemudian, Keyran memasuki kamar sambil membawa nampan berisi makanan. Kebetulan saat ini juga Nisa keluar dari kamar mandi dalam keadaan yang hanya memakai sehelai handuk.
"Eh, kau sudah bangun?!" tanya Keyran.
"Ya, dan apa yang kau bawa?"
"Ini sarapan untukmu."
"Taruh saja, aku mau pakai baju dulu."
Keyran meletakkan sarapan itu di atas meja, dia lalu duduk di sofa sambil menunggu Nisa selesai memakai pakaian. Dia ingin melihat bagaimana istrinya mengenakan baju, tetapi dia memandang ke arah lain. Dia penasaran, tetapi dia takut jika tidak bisa mengendalikan diri.
"Key~ lihatlah kemari, aku cocok pakai baju yang mana?"
"Emm ... kau cantik memakai apa pun," jawab Keyran tanpa memandang ke arah Nisa.
Aku tahu kalau kau pasti sengaja menggodaku.
Benar saja, di sisi lain Nisa merasa sedikit kesal karena suaminya tidak menengok ke arahnya. Niatnya untuk bermain-main telah gagal. Setelah dia selesai memakai baju, dia langsung duduk di sebelah Keyran dan melihat sarapan apa yang dibawakan untuknya.
"Pancake cokelat?"
"Iya, ada juga buah stroberi. Aku siapkan sesuai apa yang kau suka," jawab Keyran dengan senyuman.
"Apa kau sendiri sudah sarapan?"
"Sudah. Dan aku juga ingin minta maaf ... padahal semalam aku sudah berjanji akan ada di sampingmu saat kau membuka mata."
"Haha, bukan masalah. Kau kumaafkan karena sudah membawakan sarapan untukku."
Tanpa basa-basi lagi Nisa memakan pancake itu. Dia tidak menyangkal jika dirinya sedang kelaparan, bahkan ini pertama kalinya dia menikmati sarapan dengan benar setelah sekian lama. Karena selama ini saat berada di kasino, dia sama sekali tidak memedulikan apa saja yang dia makan.
"Apa rasanya enak?" tanya Keyran dengan tatapan berbinar.
"Ya, ini enak ..." jawab Nisa sambil mengunyah.
"Syukurlah, kukira makanan buatanku tidak enak dimakan."
"Uhuk-uhukk!!" Nisa tersedak mendengar omongan suaminya barusan.
Di satu sisi Keyran cepat tanggap mengambilkan minuman untuk Nisa, juga menepuk-nepuk punggungnya. Ketika istrinya sudah tampak lebih baik, dia pun berkata, "Bagaimana? Sudah merasa lebih baik?"
"Ya, sudah lebih baik ... Aku hanya kaget saja jika pancake ini kau yang memasaknya, dipikir-pikir itu hampir mustahil."
"Cih, kau bukannya tersanjung dengan apa yang aku lakukan untukmu, tapi kau malah meragukanku."
__ADS_1
"Oke-oke ... masakanmu sangat enak, aku terkesan karena kau bangun lebih awal untuk menyiapkan semua ini. Kau mau aku suapi?" bujuk Nisa.
"Huh, aku tahu kau terpaksa mengatakan semua itu!" Keyran mendengus kesal dan memalingkan wajahnya. Namun diam-diam berusaha menahan tawa karena dia pikir sangat menyenangkan menggoda istrinya.
"Tidak darling! Aku mengatakannya tulus dari lubuk hatiku yang terdalam!!"
"Bohong!"
Nisa mulai merasa kesal, dia terpaksa mengeluarkan senjata pamungkasnya untuk melewati keadaan seperti sekarang. Dan itu tidak lain adalah bersikap tidak berdaya dan memelas.
Pertama, Nisa mencoba untuk mendapatkan perhatian Keyran. Dia mencolek bahunya, tetapi Keyran tetap tidak menoleh ke arahnya. Menyadari hal itu Nisa langsung menyadarkan kepalanya di bahu Keyran.
"Maaf jika kau tersinggung, kau pasti mengira jika aku tidak menghargai kerja kerasmu. Pancake yang kau buat adalah pancake terenak yang pernah aku rasakan. Aku tak akan pernah menjumpai makanan seenak ini meskipun di restoran bintang sembilan sekali pun. Pancake seperti ini jika dijual pasti harganya sangat mahal, aku jelas tak punya uang untuk membayarnya. Atau ... mungkinkah harus kubayar saja dengan tubuhku?"
"Pffttt ..." Keyran hanya menahan tawanya dan tak bicara apa pun.
"Ayolah Key ... kau mau aku melakukan apa agar kau tak merajuk lagi?"
Keyran menyeringai, langsung berbalik ke arah Nisa dan menahan dagunya. "Cium aku!"
"Cukur kumismu dulu!" ucap Nisa spontan.
"K-kau masih membahas soal itu?!" tanya Keyran seakan tidak percaya.
"Humph, tentu saja. Kau pilih kumis atau kecupan dariku, semua itu tergantung pilihanmu sendiri. Kau pikir ciuman yang geli itu nikmat dilakukan?" Nisa melepaskan diri dari Keyran, dia juga kembali melanjutkan menyantap pancake itu tanpa memedulikan sikap Keyran lagi.
Di satu sisi Keyran hanya tersenyum kecil, saat-saat seperti inilah yang selalu dia rindukan. Melihat istrinya ada di sampingnya, pertengkaran kecil yang tak berarti, semua itu seolah-olah telah mengembalikan dunianya menjadi sedia kala.
Tak berselang lama kemudian Nisa telah menghabiskan semua pancake. Keyran yang menyadari hal itu langsung berkata, "Sini, biar aku kembalikan ke dapur."
"Tidak perlu, aku sendiri saja. Lagi pula ... aku sekalian ingin bertemu Bibi Rinn."
"Baiklah jika itu maumu."
Nisa lalu membawa piring kotor itu ke dapur, dan secara kebetulan dia berpapasan dengan Bibi Rinn. Tampak senyuman bahagia dari wanita paruh baya itu.
"Selamat pagi Nyonya ...."
"Selamat pagi juga, Bibi." Nisa juga tersenyum.
Bibi Rinn tiba-tiba tersadar akan sesuatu. "Ah, piring kotor itu biar saya yang cuci!"
"Tidak usah, aku akan mencucinya sendiri. Dan emm ... tolong buatkan secangkir teh untukku."
"Baik Nyonya!"
Tak berselang lama kemudian teh yang diminta oleh Nisa telah siap. Bibi Rinn menyajikan teh itu di atas meja makan, saat Nisa duduk di sana, dia juga meminta Bibi Rinn untuk duduk dan menemaninya.
"Sudah lama aku tidak meminum teh buatan Bibi." Nisa tersenyum sambil menggoyangkan pelan cangkir teh itu.
"Iya, Nyonya benar ... Saya juga senang bisa menyajikan teh lagi untuk Anda," ucap Bibi Rinn dengan senyuman tulus.
"Ada apa Bibi? Kenapa ekspresimu begini?"
"Haha, bukan apa-apa. Saya hanya terlalu senang melihat Nyonya Nisa kembali ke rumah ini. Rumah ini telah mendapatkan nyawanya kembali."
"Maksudnya?" Nisa kebingungan.
"Saat Nyonya pergi, rumah ini terasa kosong. Semua ini gara-gara tuduhan itu, saya sangat tidak percaya ketika Nyonya diberitakan telah mengkhianati Tuan. Karena saya melihat sendiri bagaimana kemesraan Tuan dan Nyonya di rumah ini. Tidak hanya rumah ini, Tuan pun ikut berubah."
"Keyran?"
"Benar, Tuan jadi mudah marah dan tersinggung. Terkadang beliau juga berteriak tanpa alasan yang jelas. Mungkin saja karena kenangan bersama Nyonya melekat di seluruh rumah ini. Dan yang paling saya sayangkan, Tuan seakan-akan tidak peduli pada kesehatannya."
"Setiap pagi, beliau selalu melewatkan sarapan sebelum berangkat ke kantor. Di lain hari saya juga mengganti dengan menu yang disukai olehnya. Pernah satu kali saya menyajikan omelet karena teringat kebiasaan Nyonya. Tetapi reaksi beliau aneh, dia berteriak dan mencari-cari Anda di seluruh rumah ini. Tuan sulit mempercayai jika saya yang memasak omelet itu. Lalu beliau memarahi saya, saya tidak diizinkan untuk memasak omelet lagi."
"..." Nisa tertegun, dan entah kenapa teh yang dia minum tak terasa nikmat lagi.
Aku tak menyangka jika Keyran sampai seperti itu. Hal-hal sepele yang berhubungan denganku dapat menyiksanya. Ternyata memang benar jika Tuhan itu adil, kami berdua sama-sama tersiksa.
"Tapi Nyonya, sekarang Anda telah kembali! Semua hal buruk itu tidak akan terjadi lagi!" lanjut Bibi Rinn.
"Iya, lagi pula aku tidak berencana untuk pergi lagi."
"Oh iya, apakah saya boleh menanyakan satu hal?"
"Hm? Soal apa?"
"Soal hal romantis yang Tuan lakukan pagi ini."
Wajah Nisa langsung memerah. "E-eh?! Hal romantis apa?! T-tidak ada hal yang seperti itu! J-jaga bicara Bibi!"
Bibi Rinn sedikit bingung dengan reaksi Nisa, tetapi setelahnya dia malah tertawa. "Haha ... Nyonya salah paham, lagi pula saya juga tidak berani menanyakan perihal romantis yang satu itu. Yang saya tanyakan adalah, bagaimana rasa dari pancake buatan Tuan?"
"O-oh ... pancake! Rasanya enak." Nisa tersipu malu.
"Haha syukurlah, Tuan sudah sangat berusaha membuatnya. Bagi saya, pria yang memasak untuk istrinya itu sungguh romantis! Tuan juga ..." Tiba-tiba saja Bibi Rinn berhenti bicara. Dan setelahnya dia berdiri mendadak hingga mengagetkan Nisa.
"Maaf Nyonya, saya tidak bisa menemani Anda berbincang lebih lama. Hujan semakin deras dan saya lupa menutup jendela di paviliun, saya harus segera menutupnya agar semakin tidak banyak air hujan yang masuk! Saya permisi ..."
"Ya, pergilah."
Kini hanya bisa seorang diri. Di dalam kesendirian ini, dirinya hanya termenung, banyak sekali hal-hal yang dia pikirkan.
Keyran sudah kesusahan saat aku pergi. Dan sekarang aku sudah kembali, aku juga harus mengembalikan semua yang bisa membuatnya bahagia. Dia sendiri sudah berusaha menjadi suami yang baik, jadi aku pun harus melakukan hal yang sama.
__ADS_1