
"Oh ... ternyata soal itu," Nisa kembali bersikap santai lalu melanjutkan pekerjaannya. "Memang ... aku pun tak bisa menyangkalnya, begitu banyak yang aku sembunyikan darinya. Tapi aku janji, suatu saat aku akan memberitahukan segalanya."
"Suatu saat itu kapan? Semakin lama kau menyembunyikannya, semakin besar pula rasa kecewa yang suamimu dapat. Apa kau mau mengulangi kesalahan ayahmu hah?!"
"Ibu bercanda, mana mungkin aku sanggup menunggu selama itu. Toh suamiku orang yang kuat, dia tak akan mengancam untuk mengakhiri hidupnya dengan mengarahkan gunting ke lehernya."
"Kauu!!"
"Kenapa? Merasa tersindir? Kasusku berbeda dengan ayah, ibu harus ingat ini. Ibu baru mengetahui identitas ayah sebagai ketua gangster ketika usia pernikahan kalian sudah 8 tahun. Ibu marah dan tak terima, sampai sekarang aku masih bertanya-tanya kenapa ibu harus sampai mengancam agar ayah berhenti saat ada aku, Reihan, Dimas yang masih anak-anak. Ingatan itu masih jelas sampai sekarang."
"Nisa, waktu itu i-ibu ..."
"Apa? Toh semuanya berjalan seperti keinginan ibu, ayah hanya punya satu pilihan, yaitu berhenti. Lalu ayah mengumumkannya di depan seluruh anggota, dan tentu saja ada keributan besar karena ketua mereka tiba-tiba memutuskan untuk berhenti. Bahkan para paman ... maksudku para petinggi dari generasi sebelumnya, sebagian besar dari mereka menentang keputusan ayah. Hanya sepertiga yang bersedia mengikuti keputusan ayah."
"Tapi meskipun saat itu aku hanya anak kecil, posisiku juga sulit. Karena aku anak pertama ayah, aku yang sudah mengenal para paman dengan baik, dan aku yang sudah mengenal sisi dunia yang seperti itu, otomatis karakterku juga berubah. Dan sampai sekarang tak berubah. Orang yang sudah ikut campur seperti itu, sampai kapan pun juga tak bisa sepenuhnya lepas. Aku sendiri buktinya, ayah juga tak terkecuali."
"Tapi saat itu kau bisa meninggalkan segalanya demi mantan pacarmu. Harusnya kau juga bisa demi suamimu! Nisa, ibu mohon hentikan sekarang, sebelum semuanya terlambat."
"Ricky itu spesial," Nisa lalu tersenyum. "Ricky itu orang yang paling baik yang aku kenal, tentu saja untuk jadi pacarnya aku juga harus jadi orang baik. Lagi pula ... dia sudah mengetahui identitasku sebelum menjadi pacarku, bahkan dia memaafkanku yang pernah ingin mencelakainya."
"Maksudmu suamimu tak lebih baik darinya?"
"Dia baik, hanya saja ... dengan identitasnya sebagai pebisnis berpengaruh, terlahir di keluarga konglomerat, apa jadinya jika istrinya seorang gangster sepertiku?"
"Kau sendiri sudah mengerti apa akibatnya, maka dari itu kau harus berhenti!"
"Hah ... Ibu yang masih belum mengerti. Ibu pikir semua keluarga dari kalangan konglomerat itu sepenuhnya bersih? Lalu bagaimana dengan saingan bisnis mereka yang tiba-tiba terpuruk? Bagaimana dengan orang yang menyinggung mereka tiba-tiba hilang tanpa jejak seperti air yang menguap?"
"Maksudmu?"
"Heh, sudah sangat jelas. Mereka itu punya banyak benda yang paling penting di dunia ini, yaitu uang. Mereka bisa saja membayar mahal orang-orang yang berasal dari kelompok gangster ataupun mafia untuk pekerjaan kotor. Lalu jika sudah beres, mereka bisa sesuka hati memotong ekor, alias menghilangkan bukti keterlibatan mereka sendiri."
"Tapi sejauh ini ... aku belum menemukan apa pun tentang suamiku, tapi aku juga tak bisa menjamin, aku kan juga manusia biasa, aku juga tak tahu segalanya yang dia lakukan. Yang aku khawatirkan, bisa saja sebelumnya aku ataupun bawahanku pernah mengacaukan urusannya. Dan itu akan menambah masalah baru untuk hubunganku dengannya. Dan sekarang, aku telah menjadi istrinya CEO yang dituntut harus bisa mengimbanginya dan bisa menjaga reputasinya. Dia juga sama, seandainya identitasku terbongkar maka dia juga harus menjadi suaminya seorang ketua gangster."
"Haiss ... Entahlah Nisa, ibu hanya bisa memberikan saran terbaik untukmu. Tapi, kau malah mengabaikannya begitu saja. Kau sendiri sadar kalau harus menjaga reputasinya, lalu bagaimana reputasinya nanti begitu identitasmu diketahui? Bahkan yang terburuk ... kau bisa saja tertangkap polisi."
"Heh, apa itu polisi?" Nisa terkekeh.
"Anak ini benar-benar ..."
"Buang jauh-jauh rasa khawatir ibu, toh mustahil bagiku tertangkap. Bukti keterlibatan langsungku saja tak ada, bahkan jika adapun ... sudah ada yang bersedia menggantikan posisiku. Aku ini bukan anak kemarin sore, semuanya sudah masuk ke dalam perhitunganku."
"Benarkah? Apakah suamimu meninggalkanmu itu juga termasuk?" tanyanya dengan nada menusuk.
"..."
"Nisa ... kau masih muda, belum terlambat untuk berhenti sekarang. Sebagai gangster, hal-hal gila dan pembunuhan adalah hal biasa. Tapi, itu hanya berlaku untuk orang-orang dari kalangan yang sama. Kebanyakan orang normal pasti akan menjauhi tindakan kriminal dan pembunuhan. Suamimu pun tak terkecuali, bisa saja dia akan meninggalkanmu karena sulit untuk menerima kenyataan tentang dirimu ... Ibu juga tak mau hal itu sampai terjadi! Jadi berhentilah dan kubur dalam-dalam sebelum semuanya terlambat!"
"Hah ..." Nisa menghela napas lalu tersenyum. "Ibu ini cerewet sekali, pertanyaan ibu sebelumnya saja belum aku jawab. Dan jawabanku adalah ... sudah, sudah aku perhitungkan. Tapi jika itu memang benar terjadi artinya dia tak sungguh-sungguh mencintaiku."
"Apa?! Kenapa kau tiba-tiba menyinggung soal cinta? Jangan-jangan kau baru akan bilang kepadanya hanya jika dia cinta buta kepadamu!"
"Haha, cinta buta ..." Nisa lalu mengambil napas panjang dan kembali tersenyum. "Aku sudah pernah mengalaminya. Tapi sepertinya sulit untuk membuat ibu mengerti, kalau begitu aku akan ceritakan segalanya, segalanya tentang sebab akibat kenapa aku melakukan semua ini. Apa ibu siap mendengarnya?"
__ADS_1
Nisa lalu menatap mata ibunya lekat-lekat, kemudian tatapan matanya berubah menjadi sayu begitu melihat ibunya menganggukkan kepala.
"Bagus kalau begitu, karena ceritaku cukup panjang ibu nantinya jangan sampai lupa agar membalik masakan ibu, takutnya gosong lalu nanti dikritik ayah. Lalu ibu tak terima dan terjadilah pertengkaran karena ayam goreng gosong ..."
"Ck, mulai saja ceritanya!"
"Hah ... ini bermula dari keinginan Paman Chandra membangun perusahaan 15 tahun yang lalu. Dia orang yang punya ambisi besar serta kemampuan, tapi dia kekurangan di permodalan. Dan kakek yang ..."
"Tunggu sebentar, kenapa kau malah cerita tentang sejarah berdirinya perusahaan keluarga kita?"
"Ssttt ... dilarang berkomentar! Toh aku hanya akan bercerita garis besarnya saja."
"Ya, terserah kau saja."
"Emm ... sampai mana aku tadi?"
"Sampai di bagian kakekmu yang tercinta."
"Nah, bisa dibilang dengan aset tanah dan perkebunan yang kakek miliki ... dia termasuk orang kaya, bahkan orang-orang di desa menyebutnya juragan. Kakek bersedia membantu permodalan Paman Chandra, awalnya dia menolak karena dia merasa cuma seorang menantu, itu pun dia dibesarkan di panti asuhan, tapi karena banyak yang membujuknya akhirnya dia mau. Lalu berdirilah sebuah perusahaan bernama ... Moon Department Store."
"Waktu pun berjalan, perusahaan semakin lama semakin berkembang dan juga banyak persaingan. 5 tahun yang lalu, ketika Kak Tia berusia 17 tahun, dia punya impian untuk menjadi seorang model. Tentu saja semua orang mendukung, lagi pula dia kan memang cantik dan tubuhnya juga ideal. Tapi siapa sangka kalau impian yang indah itu adalah awal dari bencana."
"Kak Tia terobsesi jadi model dan sudah ada agensi yang siap untuk mendukungnya. Paman Chandra juga sepenuhnya mendukung karena hanya dia satu-satunya orang tua kakak yang tersisa, dia tak ingin anaknya bersedih. Tapi kita malah ditipu oleh agensi itu yang telah meraup banyak keuntungan, dan sialnya lagi ternyata agensi itu cuma abal-abal, bahkan pemiliknya langsung melarikan diri ke luar negeri! Ingin mengusut kasus ini juga perlu biaya lagi dan tak ada jaminan uang kembali. Alhasil perusahaan rugi besar."
"Berita itu tersebar cukup cepat, pihak investor juga menarik kembali uang mereka, para pegawai juga protes dan menuntut pesangon, dan untuk mengatasi itu jalan satu-satunya adalah menggadaikan seluruh aset. Perusahaan pun terpuruk, susah untuk bangkit kembali. Dan saat itulah ayah membuat kesepakatan dengan ayah mertua yang menawarkan bantuan. Totalnya 25 miliar dan dibatasi harus dikembalikan dalam kurun waktu 5 tahun, ternyata hal itulah yang telah mengubah hidupku sekarang."
"Aku bisa maklum, jumlah itu tak sedikit dan kegiatan perusahaan juga bukan cuma hanya membayar hutang. Tapi sisi baiknya Kak Tia akhirnya menerima pelajaran, dan selama itu juga dia perlahan meniti karier dan sekarang dia berhasil menjadi super model. Berbeda halnya denganku, aku bersikap masa bodoh dan hanya tahu bersenang-senang juga berbuat seenaknya. Tapi, 3 tahun yang lalu dari sekarang ... pertemuanku dengan Ricky mengubah hidupku."
"Yahh ... meskipun awalnya aku tak terlalu suka dengan kehadirannya, tapi Ricky mengajarkanku tentang hal-hal baru. Entah karena aku sedang masa puber atau apa, tanpa sadar aku menyukainya, bisa dibilang cinta pertamaku. Saat bersamanya aku merasa bahagia, tapi aku sadar kalau duniaku dan Ricky jauh berbeda. Dengan bodohnya aku selalu membuat alasan-alasan konyol untuk bertemu dengannya, dan lama-lama akhirnya pun kami jadi dekat."
"Setiap kali aku tak sengaja bertemu dengan teman-temanku, aku memperlakukan mereka dengan acuh tak acuh. Aku telah cinta buta pada Ricky, seakan-akan hanya Ricky seorang yang bisa aku lihat, dan aku sepenuhnya rela berubah demi dirinya. Aku mengabaikan semua orang, asalkan Ricky bahagia denganku, aku juga merasa sudah cukup bahagia dengan itu."
"Aku merasa hidupku sudah bahagia dan sama sekali tak ada niatan untuk merubahnya, hingga beberapa bulan yang lalu ... saat ayah tiba-tiba mengatakan kalau aku akan menikah tapi bukan dengan Ricky. Saat itu ayah menjelaskan segalanya tentang kesepakatan yang telah dia buat dan disetujui oleh semua orang. Aku sama sekali tak menyangka kalau orang sejahat aku, aku yang pernah menjadi ketua gangster akan terjebak perjodohan. Dan semua itu dikarenakan oleh uang."
"Saat itu pikiranku mulai terbuka, aku mulai berandai-andai jika ayah tak memutuskan untuk berhenti ... Ah salah, cukup seandainya saja aku tak memutuskan untuk berhenti, mungkin uang sejumlah itu bisa aku dapatkan dengan mudah. Tapi jika aku melakukan cara itu, itu sama saja dengan aku mengkhianati Ricky, sedangkan tujuanku menghindari perjodohan adalah demi tetap bersama dengan Ricky."
"Kesalahanku adalah karena aku telah cinta buta, aku terlalu ingin menjadi sempurna di mata Ricky. Aku salah, aku memilih meninggalkan jati diriku agar Ricky terus bersamaku, tapi pada akhirnya aku malah kehilangan Ricky. Dan sekarang aku tak mau kehilangan apa pun lagi, aku enggan mengulangi kesalahan yang sama. Intinya sekarang aku tak mau kehilangan Keyran! Tapi ... jika Keyran yang tak bisa menerima jati diriku, itu artinya Keyran yang kehilangan aku. Inilah sebabnya aku melakukan semua ini, apa sekarang ibu sudah paham?"
"..."
"Apa ibu sudah paham?"
Nisa bertanya sekali lagi namun ibunya tetap tidak menjawab. Mendadak ibunya menarik sebuah wadah untuk didekatkan ke kompor.
"Kau sudah selesai melumuri keju ini dengan tepung, biar ibu saja yang goreng, kau bisa kerjakan yang lain. Ternyata kau pengertian juga ya, suamimu suka keju dan kau membuat kudapan cheese stick untuknya."
"Apa yang ibu bicarakan? Ibu mencoba mengalihkan topik pembicaraan saat kutanya. Sikap macam apa ini?" tanya Nisa dengan tatapan sinis.
"Hah ..." kembali menghela napas lalu menggelengkan kepala. "Entahlah Nisa, ibu hanya tidak habis pikir ... jika saja yang menikah bukan kau, tapi Tia ... akankah semua jadi berbeda?"
"Haha, jika memang hal seperti itu terjadi maka akan sangat sempurna. Tapi sayangnya itu berbeda, yang sebenarnya diinginkan oleh ayah mertua bukanlah seorang menantu, tapi aset keluarga kita berpindah tangan kepadanya sesuai dengan konsekuensi dari kesepakatan. Jika memang benar yang diinginkannya adalah menantu, otomatis yang dia pilih adalah Kak Tia, bukan aku."
"Padahal jika dilihat ayah mertuamu sangat sayang kepadamu, setiap kali ibu atau ayah bertemu dengannya, dia selalu membicarakanmu dan berharap untuk segera memiliki cucu. Tapi apa maksudmu yang barusan bilang kalau dia tak menginginkan menantu?"
__ADS_1
"Hah ... dia itu orang licik. Dia bersikap baik seperti itu agar kalian semua tertipu, tapi tidak denganku. Sekarang coba ibu pikir ... siapa yang lebih cocok menjadi sosok menantu idaman? Aku yang barbar dan suka membuat masalah ini, atau Kak Tia yang anggun dan lemah lembut?"
"Jelas Tia, dari segi femininitas kau tak ada apa-apanya dibandingkan dia." jawab langsung tanpa ragu.
"Wah ... ibu blak-blakan sekali, tapi ibu benar juga sih. Itulah intinya yang aku maksud, dan yang ayah mertua incar adalah aku. Orang sepertinya bisa saja dengan mudah mendapat informasi mengenai diriku, dia tahu kalau aku sudah punya Ricky, jadi dia mengincarku dan berharap agar aku menolak, lalu pada akhirnya aset kita berpindah tangan sesuai dengan keinginannya. Tapi sayangnya aku tak sepolos itu, aku tak bisa membiarkan aset keluarga dan perusahaan yang sudah dibangun selama 15 tahun lebih lenyap, agar rencananya gagal tentu saja aku menerima dan melepaskan Ricky. Untuk sekarang, itulah keputusan terberat dalam hidupku saat ini."
"Tapi semuanya akan jadi berbeda jika itu Kak Tia, dia single dan juga mengagumi sosok perfeksionis seperti Keyran. Akan jadi keuntungan mutlak bagi pihak kita jika seandainya itu yang terjadi. Bahkan aku juga pernah melakukan hal nekat untuk mewujudkannya, di hari pernikahanku saat hanya ada aku dan Kak Tia di ruang rias, aku pernah memaksanya untuk menggantikanku. Tapi sayangnya ayah datang mencegah semuanya saat Kak Tia hampir luluh. Bahkan aku juga ditampar ..."
"Haha, kau pantas mendapatkannya. Yang kau lakukan itu terlalu gila, kau hanya membuat masalah bertambah."
Nisa langsung terdiam saat ibunya menertawakannya. Dia segera mencuci tangan lalu mengambil beberapa buah wortel, dia memotong wortel dengan penuh kekesalan hingga suara yang keluar dari talenan terdengar cukup keras.
"Sudahlah Nisa, tidak baik kau melakukannya seperti itu, bisa-bisa jarimu terpotong."
"Humph!"
"Haiss ... Tapi jika mengingat sifatmu itu, kau pasti tak akan diam saja. Kau sudah menyadari maksud lain dari ayah mertuamu. Lalu apa yang dia katakan padamu dibalik alasan dia memilihmu jadi menantunya?"
"Haha, itu alasan konyol. Dia bilang dulu aku pernah membantunya menyeberang jalan, tapi tak sesederhana itu. Karena dia pegang tongkat kayu dan pakai kacamata hitam aku mengira dia buta, makanya aku membantunya. Jika diingat-ingat hal seperti itu memang ada. Tapi aku tak pernah mengira kalau hal konyol seperti itu akan dijadikan alasan. Dan mulai saat ini aku bersumpah tak akan lagi membantu orang menyeberang jalan, mau dia buta, pincang, cacat, aku tak peduli!"
TAK TAK TAK!!
Nisa semakin bertambah kesal lalu mempercepat gerakannya dalam memotong wortel.
"Huh, benar apa yang ibu katakan tadi. Orang sepertiku mustahil untuk diam saja tanpa perlawanan. Setelah menikah awalnya kukira hidupku akan seolah-olah berdampingan dengan orang asing, tapi kenyataannya justru berbeda. Keyran baik, dia juga royal, di awal pernikahan dia masih menganggapku sebagai gadis kecil yang cuma tahu melawan dan bertengkar."
"Dia benar, kau saja yang enggan mengakuinya." meledek sambil tersenyum.
"Ibuuu! Aku malas bicara dengan ibu!"
"Haha, iya-iya lanjutkan saja ceritamu, kali ini ibu akan menyimak. Jadi setelah menganggapmu sebagai anak kecil bagaimana perlakuannya kepadamu?"
"Memangnya apa lagi, tentu saja dia bersikap seakan-akan paling dewasa, dan itu terasa seperti dia adalah orang tua asuhku. Dia menggunakan statusnya sebagai suami untuk mengatur segala kegiatanku, jam mainku dibatasi hanya sampai jam 9 malam, bahkan meskipun aku menjelaskan kalau aku cuma ada kelas siang dia tetap membangunkan aku di pagi hari. Aku tersiksa, kebebasanku serasa direnggut. Bahkan saat aku meminta pisah ranjang, dia menolaknya. Memang benar kalau kasurnya luas, tapi tidur berdua itu masih membatasi gerakanku saat tidur."
"..."
Bocah ini pada dasarnya memang pemalas, dan sepertinya juga terlalu berjiwa bebas, padahal itu hal lumrah jika sudah berumah tangga. Terlebih lagi dari kecil posisi tidur Nisa memang seperti kuda, hah ... entah kenapa aku semakin kasihan pada menantuku.
"Tapi ibu, penderitaanku itu masih bukan apa-apa. Yang paling membuatku tersiksa adalah aku menikah tapi bukan dengan orang yang aku cintai. Keyran itu super dingin, bahkan tersenyum padaku saja jarang. Tapi terkadang ketika dia peduli dan perhatian ... dia membuatku teringat akan Ricky. Perasaan seperti itulah yang aku benci, bayangan tentang Ricky terus berada di kepalaku. Aku benci pada diriku sendiri yang masih berharap, yang masih belum bisa merelakan. Dan semua rasa benci itu aku lampiaskan pada Keyran. Aku sengaja membuatnya jatuh cinta lalu aku patahkan, aku jahat bukan?"
"Ya, kau jahat. Tapi siapa sangka insiden penusukan itu terjadi, mungkin itulah karmamu. Tapi sekarang coba lihat sisi baiknya, kalian berdua terbilang cukup mesra. Kau sendiri pasti tak menyangka akan punya perasaan kepadanya. Sekarang ayah dan ibumu ini ... bisa bernapas lega, kami selaku pihak orang tua salut akan keputusanmu yang mengorbankan egomu."
"Haha, jangan menilaiku terlalu tinggi. Mungkin ibu masih belum tahu, tapi orang sepertiku mana mungkin rela berkorban secara cuma-cuma. Sebagai ganti atas aset keluarga kita yang sepenuhnya gagal berpindah tangan, aku ada satu permintaan kecil pada kakek yang aku sampaikan lewat ayah, dan beberapa minggu lalu prosesnya sudah selesai. Emm ... jangan kaget ya, aku meminta jatah warisan lebih awal."
"A-apa?! Kau benar-benar ... padahal kakekmu masih sehat, ibu tarik kembali pujian ibu barusan! Memangnya warisan apa yang kau minta? Lahan perkebunan atau beberapa persen dari saham perusahaan?"
"Bukan, yang aku minta adalah villa yang berada di puncak. Villa itu luas, nyaman, terlebih lagi cocok untuk menanam stroberi di dataran tinggi seperti di sana. Impianku adalah menikmati masa tuaku di sana, lalu jika melihat keadaan sekarang ... nilai plusnya adalah suamiku itu seorang CEO dari perusahaan properti, aku bisa dengan mudah memperoleh properti limited edition untuk mengisi villa-ku. Aku pintar bukan?" tanya Nisa dengan senyuman.
"Ya, kau jahat dan pintar, bahkan kau bisa disebut terlalu licik, keuntungan yang kau dapat itu melebihi ekspektasi orang. Tapi tidak heran juga kalau pemikiranmu bisa sampai ke sana, secara kau itu dari kecil sudah dilatih secara diam-diam oleh ayahmu untuk jadi penerusnya. Sekarang kau membuktikan kalau kau benar-benar layak, entah ini hal bagus atau bukan."
"Menurutku itu bagus, toh menjadi bodoh atau kurang pintar adalah kekalahan mutlak untuk hidup di dunia yang kejam ini. Dan ibu sendiri sudah menyadari potensiku, jadi posisiku yang sekarang untuk seterusnya akan tetap aku pertahankan, toh berada di posisi ini juga sulit. Aku sudah mengorbankan masa kecilku, aku tumbuh secara berbeda dengan anak-anak lain, dan aku tak rela jika darah dan keringat yang aku korbankan jadi sia-sia. Kurasa semua penjelasanku tadi sudah cukup untuk membuat ibu paham. Aku harap sekarang ibu akan berhenti bertanya."
"Yaa ... ibu mengerti, memang beban yang kau pikul itu berat. Sekarang ibu akan berhenti memaksamu untuk mengakui identitasmu. Lagi pula semuanya akan kembali pada dirimu sendiri, jika kau sanggup menanggung konsekuensinya maka itu bukan masalah. Tapi sebagai ibumu ... rasa khawatir itu selamanya akan tetap ada, ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu. Ibu doakan semoga kau cepat hamil!"
__ADS_1
"Eh?!"