
Hari bahagia telah tiba, pesta perayaan cucu pertama dari kedua keluarga konglomerat yang terpandang dirayakan dengan begitu meriah. Pesta kali ini tidak diselenggarakan di kediaman, melainkan digelar di luar yang tepatnya berada di Galaxy Square Hall.
Tujuan pesta ini tidak lain adalah demi memperkenalkan Samuel kepada para khalayak umum. Satu hal yang membuat pesta ini istimewa, yaitu acara amal. Sejumlah dana amal yang jumlahnya tidak sedikit disumbangkan untuk beberapa yayasan dan panti asuhan. Salah satu perbuatan mulia yang cukup untuk menaikkan lagi martabat keluarga konglomerat itu.
Para tamu yang diundang untuk hadir cukup menikmati acara pesta itu, tak lupa juga mereka semua memberikan doa terbaik untuk Samuel. Namun sesekali ada juga orang-orang yang masih gemar bergosip, mereka malah mengungkit soal keguguran yang Nisa alami dan mulai membandingkan antara Nisa dengan Natasha.
Nisa yang mempunyai pendengaran yang tajam merasa sedikit terganggu dengan hal itu. Karena pesta ini merupakan pesta penyambutan bayi, Nisa cukup kesulitan menemukan wine untuk mengusir rasa kesalnya, akibatnya sekarang suasana hatinya menjadi semakin buruk.
Untuk mengurangi kekesalannya, Nisa akhirnya meninggalkan lantai pesta dan pergi ke lantai atas. Dia memilih menepi untuk menenangkan diri. Berdiri di balik kaca dan menatap keramaian panorama malam pemandangan kota.
TAP TAP TAP ...
Terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat, Nisa tak menengok ke belakang lantaran bayangan orang yang datang sudah terpantul di kaca. Tetapi ekspresinya datar karena yang datang adalah Natasha.
Natasha datang dengan gaun mewah nya yang berkilau. Dia berdiri tepat di samping Nisa dan ikut memandang ke arah mana Nisa memandang.
"Kenapa di sini? Sendirian pula," ucap Natasha dengan tatapan heran.
"Bukan urusanmu," jawab Nisa dengan nada cuek nya.
"Oh, aku tahu. Kau pasti tidak suka melihatku bahagia, dan kau pasti iri karena ayah mertua lebih sayang padaku." ucap Natasha dengan nada menusuk.
"Hei, apa kau jadi bodoh karena berhenti kuliah?" tanya Nisa dengan tatapan merendahkan.
"Kurang ajar, kenapa kau malah menghinaku?!" Natasha tersinggung.
"Aku bilang bukan urusanmu, artinya tidak ada hubungannya denganmu."
__ADS_1
Lagi pula siapa juga yang iri karena kasih sayang dari orang tua licik yang satu itu? Kasih sayang dari Keyran sudah cukup untukku.
"Cih!" Natasha lalu membuang muka. "Aku masih tidak menyangka sekarang aku jadi iparmu."
"Ya, aku juga." sahut Nisa.
"Mungkin di kota ini banyak gadis-gadis yang patah hati. Kedua tuan muda dari keluarga Kartawijaya semuanya telah beristri. Entah berapa banyak gadis yang kecewa karena hal ini. Tapi kau yang secara umur lebih muda dariku mendapatkan kakaknya, sedangkan aku mendapatkan adiknya."
"Apa maksudmu bicara begitu? Kau tidak puas mendapatkan Daniel? Apa sebelumnya kau mengincar Keyran, suamiku?" tanya Nisa dengan tatapan sinis.
"Tidak, yang aku incar adalah kak Ricky." jawab Natasha secara spontan.
"Heh," Nisa menyeringai.
"Kalau dipikir-pikir sekarang lucu juga, haha ... Dulu kita berdua sama-sama berebut cinta dari kak Ricky. Tapi sekarang kita malah jadi ipar dan berakhir di keluarga ini. Ternyata kita berdua malah mendapatkan tuan muda yang tak disangka-sangka. Sebuah takdir yang lucu, dan kita yang dulunya adalah musuh ternyata punya takdir yang sama."
"Cuma mirip, tidak sepenuhnya sama. Ada perbedaan yang jelas di antara kita."
"Sejak awal Ricky adalah milikku, dan sejak dulu kau tak pernah berhasil merebutnya. Saat aku menikah, Ricky menangis untukku. Sedangkan saat kau menikah, Ricky sama sekali tak peduli padamu. Artinya sudah jelas berbeda, jadi jangan pernah menganggap bahwa kita sama."
"K-kau ...."
Natasha tak bisa membantah apa yang telah Nisa katakan, namun dia merasa kesal dan tidak terima dengan kenyataan yang Nisa sebutkan barusan. Dia merasa bahwa Nisa seakan-akan sedang merendahkan dirinya dan menunjukkan bahwa Nisa lebih baik darinya.
"Huh, kau memang benar soal itu. Lagi pula bagi kita sekarang apa untungnya dapat simpati dari Ricky? Sekarang hal itu tidak pantas untuk dibanggakan. Dan yang jelas kau jangan menganggap bahwa kau lebih di atasku, aku tak lebih buruk darimu! Setidaknya posisiku sekarang lebih baik daripada kau!"
"Apa yang kau katakan hah? Kau tersinggung dengan kata-kataku yang merupakan kenyataan pedih hidupmu?" tanya Nisa dengan nada menyindir. Sifatnya masih belum berubah, dia masih suka membuat masalah, memancing amarah dan membuat Natasha kesal.
__ADS_1
"Hidupmu yang lebih pedih! Kau gagal jadi seorang istri dan menantu! Setidaknya aku memberikan semua orang kebahagiaan dengan keberadaan bayiku! Pesta meriah ini juga diadakan demi menyambutnya! Sedangkan kau?! Kau malah keguguran! Bahkan mungkin saja bayimu yang mati itu juga tidak sudi punya kau sebagai ibunya, mirisnya nasibmu. Haha ... aku bersyukur karena dia tak terlahir ke dunia. Sekarang siapa yang tertawa pada akhirnya?"
"..." Seketika Nisa membisu, entah kenapa kata-kata yang dilontarkan oleh Natasha terasa sangat menusuk di dadanya. Ekspresinya langsung berubah suram, dia mengepalkan kedua tangannya seerat mungkin sambil menundukkan kepala.
"Kenapa? Mau marah? Dengar ini baik-baik! Tidak akan ada asap tanpa api! Kau sendiri yang menyulut api itu! Aku hanya membalasmu saja."
Mendadak Nisa mengangkat kepala, dia melotot dan menatap Natasha lekat-lekat. "Aku tahu. Hanya saja aku tidak habis pikir kalau kau akan mengungkit hal itu. Tidak masalah jika kau maupun orang lain menganggapku sebagai orang jahat. Tapi menurutku kata-katamu barusan sudah keterlaluan, bisa-bisanya kau bicara seperti itu tentang bayiku yang tiada. Apa kau tahu? Mungkin saja sekarang bayiku sedang menangis di surga karena kata-katamu barusan."
Nisa melangkah lebih dekat lagi ke arah Natasha. "Aku akan mengingat penghinaanmu hari ini. Suatu saat aku pasti akan membuatmu menyesal. Dan jangan harap aku memandangmu ataupun mengganggap bayimu dengan rasa hormat. Bagiku kau bahkan lebih buruk dari kotoran, perempuan kotor. Dan bayimu yang kau bangga-banggakan itu selamanya tak akan berubah, darah kotormu mengalir di dalam dirinya. Persis seperti ayahnya, anak haram."
"Tadi kau bilang apa? Tak ada asap jika tak ada api? Memang aku yang menyulut api, tapi kau yang membuat kobaran api semakin besar. Kau yang lebih dulu membuat permusuhan kita berlanjut ke anak-anak kita. Bercermin saja sana, kau pikir kau pantas jadi orang tua? Sekarang saja kau sibuk menikmati pesta dan sanjungan-sanjungan konyol yang keluar dari mulut para penjilat itu. Sedangkan bayimu, aku yakin sekarang dia sedang bersama dengan kakakmu Chelsea itu. Aku malah lebih suka jika kakakmu yang jadi iparku. Setidaknya dia lebih beretika dan pintar dibanding denganmu."
"Sepertinya ungkapan tak ada musuh yang abadi itu salah. Kau dan aku memang selamanya tak akan pernah bisa berteman. Terserah kau mau apa, jika kau berbuat sesuatu padaku, aku tak akan segan membalasmu meskipun seluruh dunia berpihak kepadamu. Camkan ini baik-baik!"
Nisa berpaling dan langsung berjalan pergi dari sana. Sedangkan Natasha, dia hanya diam dan menggertakkan giginya. Dia teramat kesal dengan semua perkataan yang ditekankan oleh Nisa kepadanya. Bahkan dirinya tidak henti-hentinya menatap sinis punggung Nisa sampai bayangannya pun tak lagi terlihat.
***
Di sisi lain tepatnya di lantai pesta. Keyran celingak-celinguk memperhatikan setiap sudut ruangan. Dia gelisah karena tak kunjung menemukan Nisa di mana pun dia mencarinya. Dia terobsesi untuk terus mengawasi Nisa sejak saat dia mengetahui hal tentang Nisa yang sempat membuatnya marah.
"Nisa bodoh, kau di mana? Tadi kau bilang ingin pergi ke lantai atas, tapi aku cari di mana pun juga tidak ketemu, padahal sekarang aku ingin mengajakmu untuk pulang lebih awal." gumam Keyran dengan ekspresi kesal.
KRIIINNNGGGG ...!!!
Suara alarm peringatan kebakaran tiba-tiba berbunyi nyaring dan keras. Semua orang yang sedang berada di gedung itu seketika berteriak karena panik. Berlarian ke sana kemari demi mencari jalan keluar dari gedung aula itu. Mereka semua tak memedulikan apa pun kecuali masing-masing diri mereka sendiri selamat.
Keyran pun juga merasa panik, namun dia masih berdiam diri di tempat dan tak berlari menuju pintu keluar.
__ADS_1
"Nisa!! Kau di mana?!"
"Aku mohon jawab aku!! Nisaaa!!"