Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Memandang Orang Asing


__ADS_3

"Nanti akan kukabari lagi!" ucap Keyran yang kemudian mematikan panggilan teleponnya dengan Valen.


Keyran melihat Nisa yang tampak masih kaget karena berita kegugurannya bocor ke publik. Dia kemudian meraih tubuh Nisa dan langsung memeluk serta mengusap punggungnya.


"Tenanglah, tak apa kalau kau tak mau menemui para reporter itu. Kita bisa pulang saat mereka sudah tak ada." ucap Keyran dengan suara lembut, dia berusaha menenangkan emosi Nisa.


"Key, bagaimana berita ini bisa sampai bocor? Apa ada seseorang yang sengaja melakukannya? Apa orang itu menargetkanmu? Menargetkanku, atau kita berdua?"


"Hei-hei ... jangan berpikir yang macam-macam! Tidak ada yang menargetkan kita berdua. Apa kau masih ingat perawat yang memberitahumu soal keguguranmu? Dialah pelakunya, dia tidak bisa mengontrol jarinya dan menyebarkan ini ke akun gosip di sosial media."


"Jadi masalahnya cuma itu, kan?"


"Iya sayang, cuma itu. Jadi tenanglah ..."


Percuma saja jika aku berbohong, Nisa ini terlalu pintar dan bukan orang yang lugu.


"Huft ..." Nisa lalu mendongak dan tersenyum kepada Keyran. "Aku tak apa Key, aku cuma khawatir berlebihan, aku kira ada yang ingin berniat jahat. Tapi ternyata cuma kecerobohan seseorang."


TING!


Tiba-tiba saja pintu lift yang berada di samping mereka terbuka, orang yang turun dari lift cuma satu, orang itu tidak lain adalah Ricky.


"Oh, kebetulan aku bertemu kalian!" ucap Ricky yang kemudian memalingkan mukanya begitu menyadari bahwa Nisa sedang memeluk Keyran.


"Ada apa? Sepertinya kau memang berniat mencariku." ucap Keyran dengan nada menyindir.


"Yah ... barusan aku dari luar, saat kembali ke rumah sakit aku melihat banyak reporter yang sepertinya ingin meliput kalian. Aku ingat kalau Nisa akan pulang hari ini, jadi ... Ini untuk Nisa!" Ricky menyodorkan sebuah paper bag ke arah Nisa, namun yang menerimanya adalah Keyran.


Keyran melihat apa isi dari paper bag tersebut, kemudian dia menatap Ricky dengan tatapan heran. "Syal?"


"Iya, biarkan Nisa memakainya. Setidaknya wajah Nisa akan tertutupi jika kalian berdua menerobos reporter itu."


"Kembalikan!" ucap Nisa.


"Hm?"


"Aku bilang kembalikan! Aku tak butuh syal itu!" pinta Nisa sambil menatap tajam ke arah Ricky.


"B-baiklah," seketika Keyran langsung mengembalikan syal beserta paper bag itu kepada Ricky. "Nisa benar, dia tak butuh syal ini! Karena kami akan menunggu sampai para reporter itu pergi!"


Ricky menghela napas. "Kalian akan menunggu lama."


"Tidak! Karena kami akan pergi sekarang!"


"Kau serius?!" tanya Keyran yang sulit mempercayai perkataan istrinya itu.


"Iya," Nisa lalu tersenyum lembut pada Keyran. "Aku tak apa Key, aku bisa menghadapi para reporter itu. Aku hanya tinggal mengiyakan jika aku memang keguguran. Lagi pula sebelum ini mereka pasti juga sudah mencoba meminta klarifikasi darimu. Kau diam dan tak memenuhi apa yang mereka mau. Sedangkan mereka pasti juga dituntut oleh perusahaan masing-masing untuk mendapatkan berita eksklusif. Jadi hadapi saja, aku mau semua ini segera berakhir. Aku ingin segera beristirahat di rumah."


"Baiklah jika itu yang kau mau, ayo turun dan hadapi mereka bersama!" Keyran menggandeng tangan Nisa, mereka berjalan melewati Ricky begitu saja dan langsung masuk ke lift.


Sesaat setelah mereka masuk, tiba-tiba Ricky berkata, "Aku akan bilang ke staf keamanan agar membantu mengondisikan keadaan di bawah!"


"Tidak, terima kasih. Aku cuma keguguran, aku tak butuh perhatian dari dokter bedah ataupun ketua Asosiasi Kedokteran!" ucap Nisa penuh penekanan.


Ricky yang menyadari hal itu hanya bisa membisu, sedangkan Keyran samar-samar tersenyum karena merasa puas dengan yang barusan dia dengar. Di sisi lain Nisa yang menatap tajam Ricky beralih memandang Keyran serta merangkul tubuhnya.


Perasaan aneh mulai menyeruak dari dalam hati Ricky. Dia sama sekali tidak berkedip sampai pintu lift tertutup. Tangannya ikut mengepal sekuat mungkin, ketika lampu indikator lift menunjukkan lift telah bergerak turun, saat itu entah kenapa Ricky serasa bisa bernapas kembali.


"Haha ... orang asing," gumam Ricky sambil tersenyum pahit.


Ternyata sekarang seperti itu caramu memandangku, kau yang dulu pernah bilang akan mencintaiku selamanya tapi sekarang memandangku sebagai orang asing. Kau hebat, Nisa! Akulah yang payah, sampai sekarang aku masih belum bisa memandangmu sebagai orang asing.


Saat aku ditanya orang lain apakah aku ikhlas melepasmu, aku jawab bahwa aku ikhlas. Aku membohongi mereka, aku membohongi diriku sendiri. Jika saja ikhlas bisa terlihat oleh mata, kau tak akan mampu menemukannya di mana pun bahkan sekali pun itu di hatiku. Karena sejak awal, ikhlas itu memang tak pernah ada.


Padahal kau tahu betul dengan siapa kau bersama sekarang, dengan bersamanya maka beban yang harus kau tanggung akan jauh lebih besar. Tapi mau bagaimana lagi? Itu pilihanmu. Meskipun aku tak rela dia bersamamu, tapi aku berharap bersamanya kau akan lebih bahagia dibanding saat bersamaku. Aku mohon, setelah ini jangan sampai dirawat di rumah sakit lagi.


***


Sebelum benar-benar keluar dari area khusus rumah sakit, Keyran menghubungi Valen agar bersiap, dia juga meminta tim pengawal pribadinya untuk membuatkan jalan agar bisa melewati kerumunan para reporter.


Keyran yang masih merasa khawatir lagi-lagi menggenggam tangan Nisa dengan erat. Dan setelah mereka berada di area parkir, sekelompok reporter serta juru kamera langsung mengerubungi mereka.


Mereka tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan kepada Nisa dan Keyran. Keyran tak mengatakan apa pun, dia lebih fokus untuk menuntun Nisa berjalan. Sedangkan Nisa, dia hanya merespons pertanyaan mengenai keguguran yang dia alami, sama sekali tidak memberikan ruang bagi reporter untuk mengajukan pertanyaan lain.

__ADS_1


Butuh usaha yang besar untuk mereka berdua masuk ke mobil. Setelah itu Keyran langsung meminta Valen untuk segera menginjak gas dan pergi dari sana. Saat ini di dalam perjalanan pulang,  tanpa peringatan apa pun tiba-tiba saja Nisa sepenuhnya bersandar pada bahu Keyran.


Keyran terkejut, dia langsung merangkul tubuh Nisa serta mengusap kepalanya dengan lembut. "Kau pasti lelah. Tak usah terlalu dipikirkan Nisa, sekarang istirahatlah ..."


"Key, maaf ... aku banyak menyusahkanmu ..." ucap Nisa dengan suara lirih.


"Mana ada yang namanya menyusahkan?! Aku ini suamimu, sudah jadi tanggung jawabku untuk melindungimu. Intinya jangan berpikir yang macam-macam, kalau kau lelah kau boleh tidur."


"Iya," Nisa mengangguk, dia tak lagi mengatakan apa pun dan tetap bersandar pada Keyran dalam keadaan tubuhnya yang lesu.


Perjalanan pulang terus berlanjut, tetapi Keyran berpesan kepada Valen agar dia turun di apotek untuk menebus resep obat Nisa. Keyran tak turun karena memilih untuk tetap menemani Nisa yang raut wajahnya terlihat seperti dirundung kesedihan.


Tak lama kemudian akhirnya mereka tiba di villa. Meskipun merasa lelah, Nisa sama sekali tidak tidur di perjalanan. Lalu suaminya yang pengertian juga menuntunnya berjalan memasuki rumah.


Ketika mereka memasuki kamar, Keyran melepas blazer yang dia pakai lalu menggantungnya di tiang baju yang berada tidak jauh dari pintu. Sedangkan Nisa, dia berjalan mendekati meja rias lalu mengusap meja tersebut. Namun sesaat setelahnya tubuh Nisa mendadak gemetar.


"Ada apa?" tanya Keyran sambil berjalan mendekat.


"Key ... s-saat itu aku berdiri seperti ini, lalu tiba-tiba perutku sakit, kepalaku sangat pusing, setelah itu a-aku ..."


"Cukup! Hentikan bicaramu!" bentak Keyran yang seketika memeluk Nisa. "Jangan dipikirkan, sekarang tarik napas ... bernapaslah dengan normal ..."


"Iya ..." ucap Nisa dengan suara gemetar.


"Ayo tarik napas, ulangi lagi!"


Aku pikir saat di rumah sakit tadi kondisimu sudah membaik, tapi siapa sangka saat tiba di kamar justru membuat trauma kambuh. Aku tak bisa membayangkan seberapa besar rasa kesedihanmu. Mungkin ini juga salahku, aku selalu bilang padamu kalau aku menginginkan anak. Dan sekarang justru itu yang semakin membuatmu bersedih.


"Nisa, malam ini mau pindah kamar?" tanya Keyran sambil membelai wajah Nisa.


Nisa menggeleng. "Itu tidak perlu, aku cuma ... cuma butuh pelukan lebih lama lagi."


"Hm, baiklah. Aku akan memelukmu selama apa pun kau mau."


Pelukan dari orang tersayang sudah cukup untuk memperoleh ketenangan. Begitulah yang dirasakan oleh Nisa saat ini. Keyran memeluknya cukup lama, setelah dirasa Nisa sudah cukup lebih baik, Keyran lalu membujuknya untuk makan dan setelah itu meminum obat.


Nisa menurut, ketika dia turun sudah ada hidangan yang telah tersaji di meja makan. Bibi Rinn membuat semua makanan yang disukai oleh Nisa, dengan tujuan menghibur dan membuat Nisa lebih berselera makan. Bahkan tanpa diminta, Keyran juga berinisiatif untuk menyuapi istrinya itu.


Nisa sangat dimanja, apa pun yang bisa membuat suasana hatinya membaik maka Keyran tak ragu untuk menurutinya. Bahkan Keyran juga mengingatkan kepada semua orang agar jangan mengungkit soal keguguran ataupun yang berkaitan dengan anak kecil supaya Nisa tidak bersedih.


Meskipun semua itu dilakukan, tetapi tetap tidak bisa mengubah cara berpikir Nisa. Terkadang saat dia sendiri, dia cuma melamun menatap udara kosong. Lalu saat diajak bicara oleh Bibi Rinn ataupun Valen, Nisa menanggapi mereka dengan ekspresi datar. Bahkan saat orang tuanya berkunjung untuk melihat keadaannya, Nisa cenderung tidak banyak bersuara.


Senyum ceria yang selalu diperlihatkan oleh Nisa kini telah menghilang, Nisa hanya memperlihatkan senyuman kepada Keyran, itu pun senyum kepalsuan. Sewaktu Keyran berada di kantor, setiap jam dia menelepon Nisa untuk memastikan keadaannya. Jika Nisa tertidur, maka yang dihubungi oleh Keyran adalah Bibi Rinn. Keadaan seperti ini berlangsung setidaknya selama 4 hari setelah Nisa keluar dari rumah sakit. Selama itu juga Nisa tidak berangkat kuliah, sepanjang hari dia berada di kamar.


***


Saat ini, saat malam sudah larut. Nisa sudah tertidur dan diselimuti oleh selimut yang hangat. Tetapi saat ini di balkon kamar, Keyran saat ini tengah berdebat hebat dengan seseorang di telepon.


"Apa-apaan?! Bagaimana bisa aku meninggalkan istriku dalam keadaannya seperti sekarang?! Dia membutuhkanku, sebaiknya ayah suruh orang lain saja!!" teriak Keyran.


"Baiklah, kalau begitu ayah akan suruh Daniel yang turun tangan!" ucap Tuan Muchtar di telepon yang terdengar marah.


"Tidak bisa ayah! Itu proyek penting! Aku tak bisa membiarkan Daniel menangani proyek itu! Jika dia membuat kesalahan sedikit saja, maka perusahaan bukan cuma rugi besar, kita juga akan kehilangan kepercayaan dari klien lain!"


"Huh, kau tidak mau kehilangan kepercayaan dari klien, tapi kau sendiri bahkan tidak menaruh kepercayaan kepada adikmu! Ayah tunggu keputusanmu besok, jika kau tidak bisa maka Daniel yang akan menggantikanmu mengurus proyek ini!"


TUT TUT ...


Panggilan telepon berakhir. Keyran menghela napas lalu kembali masuk ke kamar. Dia menutup pintu, meletakkan ponselnya di samping lampu tidur, kemudian dia naik ke ranjang dan memeluk tubuh Nisa yang saat ini posisinya membelakanginya.


"Aku harus bagaimana ...?" gumam Keyran.


"Turuti saja apa yang ayahmu mau."


"Eh, kau bangun?! Apa tadi aku bicara terlalu keras?"


Nisa membalikkan badan lalu membelai wajah Keyran. "Iya, sangat keras. Tapi aku tak mendengarkan dari awal, apa yang ayahmu minta?"


"Aku diminta mengurus proyek penting di luar kota, rencananya akan memakan waktu setidaknya 3 hari. Tapi aku tidak rela jika harus membiarkanmu sendiri."


"Pergilah, aku tak apa. Kau masih bisa meneleponku jika merindukan aku." Nisa lalu mencubit ujung hidung Keyran. "Sekarang kau malas bekerja ya, ini bukan Keyran yang aku kenal!"


"Haha, mungkin aku ketularan jadi pemalas sepertimu~ Aku sekarang cuma ingin menghabiskan seluruh waktuku untukmu."

__ADS_1


"Jangan menggombal di tengah malam! Dan jangan jadikan aku sebagai alasan! Lagi pula aku tak mau punya suami pemalas, jika nanti jatuh miskin bagaimana?"


"Kita tinggal melarat bersama! Asalkan denganmu, aku sudah sangat bahagia!"


"Terlalu percaya diri, memangnya kau berani cuma makan nasi dengan garam? Bisa-bisa kau sakit perut, lalu menyusahkanku."


"Hehe baiklah, aku akan berangkat. Akan aku usahakan agar selesai lebih cepat."


"Suamiku memang yang terbaik!"


Keyran tersenyum lalu mencium kening Nisa. "Ayo tidur lagi, darling."


Keesokan harinya berjalan seperti apa yang telah dijadwalkan. Hari ini Keyran berangkat ke luar kota saat siang hari. Sebelum pergi, Nisa berpesan kepada Keyran jika sudah sampai maka harus mengabarinya.


Setelah keberangkatan Keyran, Nisa seharian cuma duduk di balkon, menatap udara kosong dan pikirannya selalu terbayang ke mana-mana. Dia masih begitu meskipun sudah dapat kabar dari Keyran yang telah sampai di tempat tujuan.


Ketika matahari sudah tampak terbenam, mendadak Nisa masuk ke kamar dan mengambil ponselnya. Dia lalu bersiap untuk menelepon seseorang, tak lama kemudian orang tersebut mengangkat telepon.


"Ivan, kau di mana?" tanya Nisa.


"Eh, boss ... Aku sekarang berada di club. Soal keguguranmu, aku turut berduka cita."


"Aku punya tugas untukmu! Aku minta kirim orang ke dermaga barat kota, pastikan apakah ada sebuah bangunan lama seukuran pabrik di sana! Aku beri waktu setengah jam!"


"Baiklah, tapi jika ada, memangnya bangunan apa itu?" tanya Ivan penasaran.


"Apa kau masih ingat soal Aliansi Barat yang pernah kau bahas?"


"Iya, apa jangan-jangan ... itu markas mereka!"


"Tepat, malam ini aku akan melenyapkan mereka dan membalas dendam atas keguguranku!"


"Serius?! Emm ... bos, sebenarnya aku bohong soal aku yang berada di club. Sebenarnya saat ini aku sedang bermain billiard dengan anak-anak lain. Dan kebetulan ... mereka semua di sini."


Nisa menyeringai. "Bagus, semakin banyak orang akan lebih cepat selesai! Terserah kalian semua mau ikut atau tidak!"


TUT TUT ...


Panggilan telepon diakhiri oleh Nisa. Di sisi lain, Ivan yang saat ini berada di area bermain billiard langsung melirik ke arah rekan-rekannya. Ada yang juga main billiard, ada yang dikelilingi wanita cantik, ada yang cuma merokok di pojok, dan ada pula yang sedang minum minuman keras.


Salah satu dari mereka yang sedang memegang tongkat billiard, yaitu David berkata. "Bos bilang apa?"


Ivan lalu tertawa cekikikan. Rekan-rekannya yang melihat hal itu langsung menatapnya dengan tatapan aneh. Kemudian Dika berkata, "Penyakit gilanya kumat."


"Haha, kau tahu apa bajing*n? Malam ini bos mengadakan pesta! Pesta pembantaian! Dan apa kalian tahu? Dia mengizinkan kita semua turun tangan, artinya dia saat ini sedang marah besar!" Ivan lalu merangkul seorang wanita cantik yang berpakaian terbuka yang berada di sebelahnya.


"Hei, apa yang akan kau lakukan jika kau kehilangan bayimu yang sangat kau sayangi?" tanya Ivan pada wanita itu.


"Ehmm ... kehilangan akal sehat, mungkin." jawab wanita penghibur itu.


"Kehilangan akal sehat? Haha, sempurna! Malam ini iblis yang telah lama tidur akan bangkit!" Ivan lalu mendorong wanita yang bersamanya ke arah David. "Aku pergi duluan, bangs*t! Haha, aku akan menyisakan para pecundang untuk kalian!"


"Sialan, tunggu aku!" David lalu mengoper wanita penghibur itu ke arah Dika dan langsung berlari menyusul Ivan.


"Ck, aku juga mau ikut!" Dika berniat mendorong wanita penghibur itu ke arah rekannya yang lain. Namun sayang, semua rekannya telah bergerak cepat. Alhasil Dika lalu mendorong wanita itu ke lantai dan bergegas mengejar para rekannya.


"Uhhh ..." wanita penghibur itu mengernyit sambil menatap para wanita penghibur yang lain.


Sial, berurusan dengan para mafia memang tidak mudah. Untungnya uang mereka banyak, aku sampai sekarang bertahan cuma karena uang.







Halo~ author kembali menyapa🤗 Kali ini author bawa pemberitahuan penting, untuk para pembaca yang heran kenapa Ricky susah move on atau sebegitu cintanya pada Nisa, maka silakan mampir ke novel author yang lainnya, judulnya Trouble Lady (Project Of Love)


Novel tersebut bercerita tentang kisah cinta Nisa dan Ricky, jangan khawatir kok, alur ceritanya tetap nyambung dengan novel ini. Mungkin ada juga pembaca yang bingung kenapa flash back kisah mereka dipisah. Karena, kalau dicantumkan di novel ini bakal kepanjangan hehe. Sedangkan novel ini berpusat pada Nisa dan Keyran.

__ADS_1


Novel tersebut masih ongoing, dan author iseng-iseng ikutan lomba menulis noveltoon kategori Yang Muda Yang Bercinta. Author juga nggak percaya ternyata ceritanya lulus seleksi. Novel itu berlatar waktu saat Nisa masih SMA, saat dia masih dalam fase paling barbar, lalu perlahan luluh karena Ricky. Jika mampir jangan lupa tinggalkan jejak ya, like, favorit, kritik dan saran, komen apa pun bebas, stiker atau titik doang juga boleh.


Lalu yang terakhir, novel Usaha Pelarian Seorang Istri masih berlanjut ya kawan-kawan. Dan nanti inti dari konflik adalah terbongkarnya identitas Nisa oleh Keyran secara bertahap. Penasaran? Yuk ikuti terus perkembangan novel ini.


__ADS_2