
Dengan cepat Nisa mengecilkan volume ponselnya setelah mendengar suara-suara erotis. Kemudian dia berkata, "B-bukan apa-apa! Maaf mengganggu, s-silakan lanjutkan!"
TUT TUT ...
Nisa mengakhiri panggilan telepon itu sebelum ada jawaban dari Jonathan. Dia masih sulit mempercayai apa yang barusan dia dengar.
"Bisa-bisanya ..." gumam Nisa.
Padahal aku khawatir karena Roberto bilang Jonathan menghilang. Ternyata dia baik-baik saja, malahan sepertinya dalam kondisi yang prima.
Tapi di mana etikamu? Setidaknya kalau begituan ya dijeda dulu kalau mau angkat telepon. Suaranya juga nyaring begitu, untung saja sekarang aku sendirian, kalau di tempat umum aku bisa tamat karena malu.
"Ck, terserah! Siapa pun wanita itu bukan urusanku, lagi pula pergaulan bebas di sana juga hal wajar, terlebih lagi Jonathan juga bukan anak kecil. Justru ini baik untukku maupun untuknya, setidaknya aku bisa tahu kalau dia sudah menghapus perasaannya untukku, rasa bersalahku juga berkurang. Berbeda halnya dengan Ricky, meskipun perasaanku sudah berubah, tapi rasa bersalah itu akan tetap ada jika Ricky masih sendiri. Hah ... rumit, semakin banyak kenalan semakin banyak masalah."
Masalah soal Jonathan sudah selesai, nanti tinggal hubungi Roberto lalu bilang Jonathan baik-baik saja dan semua beres. Tapi ... soal Jenny masih belum ada kepastian, semoga besok ada kabar baik tentangnya.
"Nisaaa!!" teriak Keyran yang berada di dalam mandi. Teriakannya sangat keras sampai-sampai Nisa terkejut dan hampir menjatuhkan ponselnya.
"Y-ya?! Kau kenapa?"
"Ambilkan handuk untukku!"
"Iyaa ... darling!!"
Nisa beranjak dari ranjang dan menaruh ponselnya di meja. Dia lalu mengambil sebuah handuk putih dari lemari, dia berjalan ke arah pintu kamar mandi lalu mengetuk pintu dengan keras.
"Key! Buka pintunya!"
Keyran langsung membuka pintu dan tersenyum kepada Nisa. "Terima kasih~"
Nisa mengulurkan tangannya, tetapi bukan handuk yang dipegang oleh Keyran, justru tangannya Nisa yang dia pegang. Keyran mendadak menarik Nisa masuk ke kamar mandi dan dengan cepat segera menutup pintu.
"H-heii! Apa-apaan kau ini?!" tanya Nisa dengan wajah memerah.
Keyran tak menjawab dan hanya tersenyum. Dia menarik Nisa lebih dekat lagi lalu merangkul pinggangnya yang ramping.
"Bahaya!" Nisa dengan cepat melilitkan handuk yang dia bawa ke tubuh suaminya itu, handuk hanya menutupi bagian bawah antara pusar sampai lutut.
"Bahaya apanya? Kau bertingkah seperti baru pertama kali melihatnya." Keyran terkekeh.
"Pokoknya bahaya, belum terlambat kalau belum bangun!"
"Heh," Keyran menyeringai, mendadak melepas handuk yang melilit tubuhnya lalu membuangnya ke lantai kamar mandi yang basah. Dia juga makin erat merangkul tubuh Nisa dan menekankan kejantanannya pada tubuh lembut istrinya itu.
"Jangan Key," ucap Nisa dengan suara lirih.
"Hm?" Keyran melonggarkan rangkulan tangannya dan kemudian menyelipkan rambut Nisa yang tergerai ke telinga. "Ada apa?"
Nisa menggeleng kemudian menunduk. "Lain kali saja, ya? Hari ini aku tak begitu bergairah. Aku ambilkan handuk lagi untukmu."
Nisa menyingkirkan tangan Keyran yang melingkar di pinggangnya, lalu berjalan keluar dari kamar mandi untuk mengambilkan handuk lain.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua yang telah sama-sama selesai membersihkan diri seperti biasa melanjutkan dengan makan malam bersama. Selama waktu makan, kali ini Nisa jadi lebih pendiam dari biasanya.
Bahkan ketika mau tidur, hari sudah terbilang larut tetapi Nisa masih terjaga. Dia lelah tapi susah tidur, berkali-kali berganti posisi tetapi matanya masih belum bisa terpejam.
Ketika Nisa berbalik menghadap ke arah Keyran, dia sedikit terkejut saat melihat Keyran yang juga belum tertidur. Sedangkan Keyran yang melihat tingkah laku tidak biasa istrinya itu, dia kemudian bergeser mendekat dan memeluk tubuh Nisa.
Keyran lalu membelai wajah Nisa sambil berkata dengan suara lirih, "Ayo tidur, darling."
"Iya," jawab Nisa yang kemudian membenamkan wajahnya di dada suaminya.
"Hari ini adalah hari pertama kau masuk kuliah lagi, aku tahu kau lelah, jadi tidurlah dan istirahat. Tapi aku perhatikan dari tadi sikapmu berbeda dari biasanya. Ayo katakan, apa yang sedang mengganggu pikiranmu?"
"Bukan apa-apa," jawab Nisa dengan suara lirih.
"Apa dosenmu memberikan tugas yang banyak dan sulit?"
"Bukan."
"Apa kau membuat masalah dan diharuskan membayar ganti rugi?"
"Bukan juga."
"Ayolah Nisa, ceritakan saja padaku. Aku suamimu, kau bisa ceritakan keluh kesahmu. Aku pasti akan mendengarkan."
"Sungguh?" tanya Nisa yang tiba-tiba memperlihatkan wajahnya.
Keyran menjawab dengan anggukan kepala, menyadari hal itu Nisa langsung tersenyum. "Baiklah, ehmm ... aku mulai dari mana ya?"
__ADS_1
"Dari kiri." sahut Keyran.
"Key! Diam dan tunggu aku selesai cerita!"
"Haha iya-iya ... aku diam aku tampan."
"Dasar narsis! Emm ... tadi aku cerita sampai mana?"
"Kau belum cerita soal apa-apa. Dasar pelupa!"
"Oh iya. Sebenarnya aku bukan mau cerita, tapi meminta pendapat. Menurutmu apakah kita harus membantu seseorang yang dalam kesulitan? Soalnya kita juga bisa memilih untuk diam dan membiarkan orang lain yang membantu seseorang yang kesulitan itu."
"Itu tergantung, emm ... ibaratnya seperti ini. Ada seorang kakek tua yang terjatuh dan di sekitar sana hanya ada sedikit orang, termasuk kau. Jika kau ingin menolong, kau harus memastikan bahwa kakimu cukup kuat untuk berjalan atau berlari. Baru setelah itu mengulurkan tangan untuk membantu. Jadi itu tergantung kemampuanmu, jika kau mampu maka jangan ragu untuk menolong seseorang. Lagi pula menolong orang yang kesulitan adalah hal yang baik."
"Tapi ... bagaimana jika setelah aku menolong malah dikira ikut campur urusan orang lain?"
"Berarti orang yang bilang begitu berpikiran pendek, harusnya mengerti kalau niat awalmu itu baik. Orang yang seperti itu juga tak tahu terima kasih, sudah ditolong tapi malah memaki."
"Baiklah, sekarang aku paham. Selamat malam darling!" Nisa langsung mendekap erat Keyran serta memejamkan matanya.
"Sudah? Seharian kau bingung cuma karena memikirkan hal itu?" tanya Keyran terheran-heran.
"Iya, cuma itu. Sekarang ayo peluk aku!"
"Tapi aku sudah memelukmu."
"Peluk lebih erat lagi! Aku kedinginan!"
"Haha dasar ..." Keyran tersenyum lalu mengeratkan pelukannya. Lalu tiba-tiba dia berkata, "Nisa, apa kau sama sekali tidak merasa ada yang aneh dengan tubuhmu?"
"Hal aneh? Tidak ada, memangnya kenapa? Kau berharap aku sakit?"
"Bukan! Mana ada suami yang mau istrinya sakit! Yang aku maksud itu ..." seketika Keyran mengubah nada suaranya menjadi pelan. "Tanda-tanda kehamilan."
"Pffttt ... hahahaha! Kau sudah tidak sabar ingin jadi ayah, ya?"
"Memangnya apa yang lucu dengan itu?!" wajah Keyran memerah. "Padahal tiap kali kita berhubungan saat bulan madu, aku selalu mengeluarkan di dalam."
"Hei-hei, jangan bicara mesum begitu!" ucap Nisa sambil mencubit pinggang Keyran.
"Akhh! Kenapa mencubitku? Aku serius Nisa, kau tidak minum pil kontrasepsi diam-diam, kan?"
"Kali ini? Kalau begitu hari ini kau sudah membuat kebohongan yang mana?!"
"Ahaha ... entahlah, lupakan saja! Ayo tidur!"
"..."
"Tidur sayangku, kekasihku, suamiku, kakanda Keyran~ lupakan kesalahan adinda, adinda janji tidak akan mengulangi lagi ... Sekarang adinda sudah lelah dan mengantuk."
"Ck, terserah! Lagi pula jika kau bohong soal masalah serius, kau pasti sudah gagap saat membujukku."
"Hehe, apa darling marah?"
"Ya, aku marah! Sekarang cium aku agar amarahku hilang!"
Nisa memandang Keyran lalu meringis, "Cium? Mau cium di mana?"
"Terserah di mana saja!"
Nisa membelai wajah Keyran lalu mencium pipinya. "Sudah, sekarang masih marah?"
"Masih." jawab Keyran dengan nada ketus yang kemudian pipinya sekali lagi dicium oleh Nisa.
"Masih marah?"
"Masih!"
Nisa lalu kembali mencium pipi Keyran. "Sekarang bagaimana?"
"Ck, kau mau menciumku sebanyak 100 kali pun aku tetap masih marah!"
"Kalau begitu aku tinggal menciummu sebanyak 101 kali, hehe ..."
"1000 kali masih marah!"
"Aku cium 1001 kali!"
Keyran yang semula berekspresi ketus mendadak tersenyum lalu mencubit pipi Nisa. "Haha, kenapa kau manis sekali? Mau marah padamu jadinya susah!"
__ADS_1
"Humphh!" Nisa lalu mengusap pipinya, "Pipiku sakit, cium sejuta kali baru sembuh!"
"Haha, sini aku cium!" Keyran menguyel-uyel pipi Nisa lalu menghujaninya dengan ciuman yang mesra.
"Cukup Key, ini sudah sejuta lebih haha!"
"Belum! Berhitung saja tidak bisa!"
***
Hari berganti. Nisa menjalani hari-harinya seperti biasa, namun di hatinya masih ada rasa khawatir karena belum ada kabar apa pun tentang Jenny.
3 hari telah berlalu, kabar tentang menghilangnya Jenny mulai menyebar di lingkungan kampus. Polisi yang menerima dan memproses laporan dari orang tua Jenny, akhirnya juga membuat pengumuman orang hilang. Detektif swasta yang diperkerjakan juga masih belum menemukan petunjuk mengenai keberadaan Jenny.
Hari ini saat sore hari, Nisa yang sudah pulang kuliah sekarang ada di kamar. Dia mondar-mandir karena terpikirkan tentang persoalan Jenny. Setelah berpikir panjang, dia telah membuat keputusan untuk mencari tahu keberadaan temannya itu dengan caranya sendiri.
Nisa mengambil ponselnya, dia lalu menelepon seseorang, yaitu Ivan.
"Van, apa kau sudah menerima nomor yang aku kirimkan?" tanya Nisa.
"Sudah, bos menghubungiku pasti ada sesuatu. Apa aku disuruh untuk melacak nomor ini?" tanya Ivan yang suaranya terdengar malas.
"Iya, sekarang katakan di mana lokasi terakhir dari nomor itu!"
"Mana bisa secepat itu?! Jika tersambung aku bisa menemukan lokasinya dengan mudah, tapi nomor ini sudah tidak aktif. Aku butuh waktu untuk melacak jejak sinyal digital terakhir agar lokasinya akurat!"
"Oke, aku tinggal mandi sebentar. Awas kalau nanti belum kelar juga!"
Beberapa saat kemudian Nisa telah selesai mandi, dia yang masih dalam keadaan hanya memakai handuk kembali mencari ponselnya untuk menelepon Ivan.
"Jadi bagaimana? Sudah kau temukan?" tanya Nisa.
"Sudah dari tadi, mandimu terlalu lama bos, aku tebak tanganmu pasti sampai jadi keriput!" jawab Ivan.
"Katakan saja di mana lokasinya!" bentak Nisa dengan tidak sabar.
"Di bagian barat kota, titik akurasi tepatnya di jembatan yang berada tidak jauh dari terminal bus. Untuk lebih jelasnya sudah aku kirimkan lokasinya lewat pesan."
"Jembatan?"
Tunggu sebentar ... Apa mungkin Jenny bunuh diri dengan cara melompat dari jembatan? Tapi kata Ivan dekat dari terminal bus, ada kemungkinan juga kalau Jenny ingin pergi meninggalkan kota dengan naik bus.
"Bos, ngomong-ngomong ... suruh saja orang lain kalau mau mencari seseorang. Atau mau sekalian aku bantu? Sudah lama loh kita belum beraksi bersama~"
"Jijik! Jangan pakai nada bicara itu! Kali ini akan aku cari sendiri, masalah kali ini tidak ada hubungannya dengan kelompok kita. Ini urusan pribadiku."
"Yahh ... tapi harus aku ingatkan, daerah barat kota itu bukan wilayah teritorial kita. Masih ingat kelompok bernama Big Bang?"
"Ya, memangnya kenapa? Mereka cuma kelompok kecil."
"Kelompok itu baru-baru ini katanya bubar, lebih tepatnya berganti pemimpin dan nama jadi Aliansi Barat! Markas utama dan apa bisnis ilegal mereka yang baru, aku belum tahu. Tapi ada satu hal yang pasti, mereka belum menunjukkan tanda-tanda akan menantang kita. Jadi untuk saat ini aku rasa mereka bukan ancaman."
"Hah ... oke, tapi aku punya tugas khusus untukmu! Hari ini kau tidak boleh tidur! Kau harus cepat-cepat angkat telepon jika aku nanti meneleponmu!"
TUT TUT ...
Nisa mengakhiri panggilan telepon dengan Ivan, kemudian dia kembali menelepon seseorang yang tidak lain adalah suami tersayang nya. Tentu saja hanya dalam sekali panggilan, Keyran langsung mengangkat panggilan telepon itu.
"Darling~ Apa hari ini kau jadi lembur?" tanya Nisa dengan nada manja.
"Iya, aku harus menyelesaikan rancangan data perencanaan yang baru. Tumben kau telepon, apa kau sudah merindukan aku?"
"Rindu, sangat-sangat rindu! Tapi ... untuk malam ini aku bisa tahan, kau fokuslah bekerja. Kalau bisa selesaikan hari ini juga, ya! Agar besok-besok kau tidak perlu lembur lagi!"
"Istriku sudah menyemangatiku, tentu saja aku harus fokus. Sudah ya darling, I miss you."
"I miss you, too!"
Panggilan telepon berakhir, Nisa meletakkan ponselnya di atas kasur lalu berjalan ke arah meja rias. Dia menatap bayangannya sendiri di cermin dengan tatapan datar.
Lokasi terakhir Jenny sudah diketahui, Keyran juga sudah dipastikan pulang larut malam atau bahkan pulang pagi. Permasalahan sekarang adalah caraku keluar dari rumah ini tanpa menimbulkan rasa curiga.
Seluruh ruangan di villa ini dilengkapi CCTV kecuali kamar. Jika aku berpenampilan mencolok, dan itu terekam saat aku melewati ruang tengah, pasti suatu saat akan menimbulkan curiga. Jadi lebih baik berpakaian sederhana tapi nyaman dan bebas untuk bergerak.
Masih ada Bibi Rinn, sekarang Bibi Rinn pasti sedang memasak hidangan makan malam di dapur, jadi aman. Aku tinggal menata bantal dan guling lalu menutupinya dengan selimut agar mengecoh Bibi Rinn. Soalnya jika aku tidak di rumah saat makan malam, dia pasti akan mengadu pada Keyran.
Lalu persiapan yang terakhir, karena nanti mungkin aku akan ke wilayah yang padat penduduk jadi tidak boleh berisik dan menarik perhatian. Lebih baik aku bawa belati sebagai senjata dari pada bawa pistol.
Nisa lalu menyeringai, "Aliansi Barat atau apa pun itu, jika nanti kalian menghalangiku maka jangan salahkan aku jika aku pakai cara yang keras!"
__ADS_1