
BRAAK!
Nisa membanting pintu kamarnya, dia tidak tahu kenapa dia merasa kesal. Begitu naik ke atas ranjang, dia hanya diam dan duduk menekuk lutut. Perasaan aneh dalam dirinya semakin bergejolak, bahkan matanya pun terlihat berkaca-kaca.
Tak lama kemudian datanglah ibunya yang tiba-tiba masuk. Menyadari hal itu, Nisa langsung menunduk menempelkan kepalanya di lutut. Dia tidak ingin ibunya melihatnya dalam keadaan ingin menangis.
Bu Rika perlahan mendekat lalu ikut duduk di sebelah Nisa. Dia juga mengusap kepala putrinya dengan lembut. Hati seorang ibu memang seperti itu, dia paham betul apa yang sedang dialami oleh anaknya.
"Maafkan ibu, mungkin sekarang kau merasa ini kurang adil bagimu. Meskipun adik-adikmu terkesan seperti menyindirmu, tapi itu satu-satunya cara agar kau sadar. Ibu juga mengerti jika sikapmu seperti ini, pada dasarnya ini memang karena sifatmu sekaligus keadaanmu. Ibu tahu alasanmu jadi seperti ini adalah karena patah hati, tapi jika patah hatimu menyebabkan patah hati lain ... itu tidaklah baik Nisa ..."
"Memangnya kenapa? Aku pernah mencintai seseorang, dan aku patah hati juga karenanya. Bukankah wajar jika mencintai harus siap untuk patah hati?" ucap Nisa dengan suara gemetar.
"Kau salah, yang membuatmu patah hati sebenarnya bukan cinta, melainkan besarnya harapan yang kau taruh untuknya. Belajarlah mencintai tanpa takut kehilangan, jangan lagi seluruh kebahagiaanmu terpaku pada satu orang, karena jika dia pergi maka kau akan kehilangan dirimu sendiri. Jadi tolong cobalah belajar untuk mencintai suamimu, tak perlu terburu-buru, pelan-pelan saja ..."
"Ibu memintaku untuk mencintainya, tapi bukankah cinta tak bisa dipaksakan?"
"Ibu bukannya memaksamu, tapi cobalah untuk membuka hatimu dulu. Pasti lama-lama akan terbiasa, nanti kau pasti akan jatuh cinta karena terbiasa."
"Tapi rasanya tersiksa ... Setiap kali aku menatap matanya, tatapan matanya sama persis dengan Ricky. Dan aku benci tatapan itu! Sampai sekarang setiap kali aku ingat dia, entah kenapa aku juga merasa membenci diriku sendiri. Uuhh ... r-rasanya menyesakkan ..."
"...."
Haiss ... anak ini ... mungkin di usianya ini memang wajar jika sudah bisa berpikir dewasa. Tapi tetap saja dia masih muda, masih punya hati yang rapuh.
Tubuh Nisa kini mulai terlihat bergetar, dia mengepalkan tangannya sekuat mungkin. Ibunya yang melihat hal itu merasa tak tahan lagi.
"Nisa!"
"A-apa ...?"
"Angkat kepalamu sekarang juga! Lihat ibu!"
Nisa perlahan mengangkat kepalanya. Bu Rika yang melihat keadaan putrinya itu sedikit kaget, bibir Nisa berdarah karena gigitannya sendiri, dan matanya tampak menahan begitu banyak genangan air mata. Tanpa berkata apa pun lagi, tiba-tiba saja Nisa memeluk ibunya dengan erat meskipun tubuhnya sendiri gemetar.
"Tak apa nak, menangislah jika ingin menangis ..." ucapnya sambil mengelus kepala Nisa.
"Hik ... hik ..."
Seketika keluarlah air mata yang selama ini telah dia tahan. Perasaannya begitu rumit, secara bersamaan dia dipermainkan oleh rasa bersalah, dendam, tidak terima, putus asa, kebencian, dan cinta. Memang tak semua perasaan dapat dikalimatkan, itulah mengapa air mata diciptakan.
Nisa masih terus menangis dalam pelukan ibunya. Butuh waktu yang cukup lama baginya untuk melampiaskan semua kesedihannya. Bahkan dia masih terisak meskipun telah berhenti menangis.
"Tenanglah, apa kau mau minum obat?"
Nisa menggelengkan kepala.
"Kenapa? Biar kau merasa lebih baik, katakan dimana kau menyimpannya, ibu akan ambilkan untukmu."
"S-sudah habis ..."
"...."
Haiss ... benar juga, pasti sudah habis semenjak dia belum menikah. Anakku yang satu ini sungguh memprihatinkan, aku lihat ada bekas luka di lehernya, pasti dia mencoba untuk menyakiti dirinya lagi. Dibawa ke psikolog hasilnya juga nihil, malahan dia kena pukul oleh Nisa. Sepertinya besok harus minta obat lagi.
"I-ibu ..."
"Ya?"
"A-apa aku orang yang buruk?"
"Nisa, baik buruknya seseorang itu relatif. Kau mau jadi apa, mau bagaimana, apa pun yang terjadi kau tetaplah anak ibu. Dan yang ibu minta darimu cuma satu, belajarlah untuk mengendalikan emosimu. Jangan pernah mencoba menyakiti diri sendiri lagi, orang yang menyayangimu banyak. Ibu selama ini tahu kalau kau sering menutupi bekas luka di tubuhmu dengan concealer, ibu minta berhentilah membodohi orang. Dari dulu kau sering mencakar tanganmu sendiri, ibu juga tahu itu."
"...."
Sekarang akhirnya aku paham, ibu sampai berkata seperti ini, ini artinya aku memang bukan orang yang buruk, tapi orang yang mengecewakan.
"A-aku tahu ibu menyayangiku. Tapi ... apakah pernah sekali saja ibu menyesal karena melahirkan aku?"
"Hei, kau ini melantur apa? Ibu mana mungkin menyesal melahirkan anak yang manis sepertimu. Memang terkadang kau nakal dan membuat ibu kesal, tapi ibu juga paham kenapa kau berbuat seperti itu. Ibu juga pernah muda, dulu ibu juga pernah nakal. Jadi mustahil jika ada seorang ibu yang menyesal melahirkan anaknya, ibu yakin suatu saat kau akan mengerti, suatu saat kau juga akan jadi seorang ibu."
"...."
__ADS_1
Apakah mungkin aku pantas jadi seorang ibu? Jadi seorang istri saja aku gagal, kalaupun nantinya aku punya anak, anakku pasti akan jadi orang paling sial karena punya aku sebagai ibunya.
Nisa lalu melepas pelukannya, tiba-tiba dia berbaring dan berbalik membelakangi ibunya. "Ibu bisa pergi ... tinggalkan aku sendiri ..."
"Baiklah," Bu Rika tersenyum, sebelum dia pergi sekali lagi dia mengusap kepala Nisa.
KLAP ...
***
Hari berganti, sikap yang ditunjukkan oleh Nisa pada keluarganya berubah menjadi sedikit lebih dingin. Namun saat ini ketika makan malam selesai, saat semua orang masih di meja makan, tiba-tiba ayahnya berkata, "Nisa, ada yang harus ayah katakan padamu."
"Apa?" tanya Nisa dengan ekspresi datar.
"Tadi siang ayah menerima undangan acara pesta, ayah mertuamu yang memberikannya. Dia mengundang kita semua untuk hadir di pesta ulang tahunnya yang akan diadakan 3 hari lagi."
"Bukankah ayah paham kondisiku? Aku ingin bercerai, yang artinya memutuskan hubungan keluarga dengannya. Terserah jika ayah dan yang lainnya ingin hadir, tapi aku memilih tetap di rumah."
"Nisa, ayah mohon jangan terlalu egois. Jika kami menghadiri pesta tanpamu, maka apa artinya itu? Toh pesta ini juga akan dihadiri banyak orang berpengaruh, terlebih lagi statusmu masih jadi istri resmi, jika kau tetap di rumah maka orang-orang akan berpikir yang macam-macam. Memangnya kau ingin masalah hidupmu diekspos?"
"Ibu setuju dengan ayahmu, yang terpenting adalah kehadiranmu, bahkan jika nantinya kau memilih untuk menghindari semua orang itu bukan masalah. Terlebih lagi ... katanya pamanmu dan kakakmu juga diundang, lucu jadinya jika Tia datang tapi Nisa malah masa bodoh, ini acara ulang tahun mertuamu loh."
"..." Nisa memalingkan wajahnya.
Ck, dasar orang tua kebanyakan gaya! Kenapa dia harus lahir di bulan ini, nggak bisa apa lahirnya bulan depan? Padahal sudah hampir bau tanah, tapi malah sibuk acara ultah.
"Pokoknya aku nggak mau datang!!" Nisa langsung berdiri dan bermaksud ingin pergi.
"Cih, kau yang memaksa ayah. Reihan!"
"Ya ayah?" jawab Reihan spontan.
"Cepat ambil pulpen!"
"Pulpen untuk apa?"
"Untuk mencoret nama kakakmu dari daftar warisan!"
"Jangan woi!" Nisa langsung lari berbalik mendekat ke meja makan. "Iya iya ... aku akan datang! Apa sekarang ayah puas?!"
"Nah, begitu baru benar." ucapnya sambil menyilangkan tangan di depan.
"...."
Aaarghhh!! Demi warisan aku rela melakukan semuanya! Meskipun aku datang, tapi jangan harap aku akan bawa hadiah.
...3 hari kemudian, kediaman utama Kartawijaya...
...••••••...
Nisa beserta seluruh keluarga hadir. Pesta ulang tahun Tuan Muchtar disiapkan begitu mewah, hiburan yang berkelas, tamu-tamu yang glamor, serta hidangan yang sekelas dengan restoran berbintang.
Namun tak dapat dipungkiri bahwa ulang tahun hanyalah sebuah kedok, tujuan utama pesta itu adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang sibuk membahas bisnis serta menjalin relasi. Bahkan tak sedikit juga ada orang yang berpura-pura akrab demi panjat sosial.
Sorotan utama dalam pesta itu tentu saja adalah Keyran. Sedangkan Nisa, dia malah sengaja bersikap ketus ke semua orang yang mencoba mengajaknya berbicara, dia melakukannya demi menghancurkan imagenya di mata orang-orang. Ya ... bisa terbilang ini suatu berkah, Nisa tidak berniat membuat masalah merupakan berkah terbesar.
Yang dilakukan oleh Nisa di acara pesta cuma dua hal, pertama dia terus meminum wine, dan yang kedua dia terus berusaha mati-matian untuk menghindar dari Keyran. Namun ada satu hal yang membuat sedikit merasa senang, yaitu dia bisa berjumpa dengan Tia.
Tia sendiri adalah seorang super model, karena tuntutan pekerjaan, dia tidak bisa berlama-lama berbincang dengan Nisa. Begitu ditinggal oleh Tia, Nisa kembali melanjutkan minum wine dengan begitu rakusnya.
Acara yang telah disusun berjalan dengan baik. Tapi Nisa tetap merasa jenuh dan sangat ingin segera pulang. Awalnya Nisa tidak membawa hadiah, tapi dia terpaksa menyerahkan hadiah yang telah disiapkan oleh ibunya. Bahkan saat mengucapkan selamat ulang tahun kepada ayah mertuanya, kata-kata dan harapan-harapan yang dia lontarkan semuanya penuh kepalsuan.
Namun Tuan Muchtar tak kalah licik, saat mengucapkan harapan di ulang tahunnya yang ke-58, dia berharap untuk segera mendapatkan cucu. Tentu saja itu merupakan sebuah tamparan keras bagi Nisa. Sedangkan Keyran, saat mendengar ucapan ayahnya itu, dia hanya membisu dan menatap Nisa dengan tatapan penuh kekecewaan.
Acara pesta masih berlangsung lama dan semakin meriah. Di tengah-tengah kemeriahan itu tiba-tiba ada seorang pria yang menepuk pundak Nisa dari belakang. Nisa terkejut dan seketika menoleh ke arah pria itu.
"David ...?"
"Yep, ini aku." David tersenyum, kemudian dia memberi isyarat ke salah satu pelayan untuk mendekat. Dia mengambil dua buah gelas wine yang satunya ditujukan untuk Nisa. Setelah itu dia mengajak Nisa untuk bersulang.
"Aku masih belum menyangka akan bertemu denganmu, kau pasti diundang untuk memeriahkan acara." ucap Nisa sambil tersenyum.
__ADS_1
"Yaa ... bos benar, terlebih lagi direktur dari agensiku juga sedang panjat sosial. Inilah sebabnya aku di sini. Dan ... aku sudah dengar berita dari Faris, jadi apakah itu sungguhan?"
"Iya, aku sungguh-sungguh."
"Oh pantas, pantas saja dari tadi suamimu melotot terus ke arahmu. Lihat tuh!" ucap David yang disertai isyarat mata.
"Ck, jangan bahas masalah itu. Entah kenapa dari tadi aku punya firasat buruk ..."
"Firasat buruk seperti apa?"
"Lihat ke arah jam 2! Pelayan cowok yang berdiri di dekat meja penuh wine itu dari tadi nggak pindah-pindah, dia di situ terus."
"Mungkin dia newbie, jadi bos jangan terlalu overthinking."
Padahal di dekat meja itu juga ada suamimu, paling sebenarnya bos juga diam-diam memperhatikannya.
"Tapi meskipun dia anak baru, harusnya ada yang menegurnya."
"Mungkin dia anti sosial, sudah deh ... bos berhentilah overthinking. Kita bahas yang lain saja."
"Bahas apa?"
"Bahas masa depan. Atau mungkin uang, bos kan suka uang~"
"Bagiku sekarang masalah uang kurang menantang, setiap bulan rekeningku otomatis terisi. Terlebih lagi uang hasil investasi dari kasino, sekarang mah bisa dibilang balik modal. Jadi intinya aku bisa foya-foya tanpa khawatir apa-apa."
"Haha ... ternyata sudah kaya permanen ya sekarang. Lalu soal penculikan itu, apa rencana bos untuk balas dendam?"
"Itu bisa dipikirkan nanti, aku masih menunggu hasil dari Ivan. Kau bertanya seperti ini, memangnya mau ikut?" tanya Nisa dengan senyum sinis.
"Tentu saja ikut, toh sudah lama kita berdiam diri."
"Heh, kita tunggu saatnya tiba. Aku tinggal dulu sebentar, aku mau ambil wine sendiri."
"Oke."
Nisa akhirnya pergi meninggalkan David untuk mengambil wine, dia berjalan mendekat ke arah meja yang sempat dia bahas. Saat dia hendak mengambil segelas wine, tiba-tiba saja tangannya ditahan oleh Keyran. Seketika Nisa menoleh, dia lalu menepis tangan Keyran yang menahan tangannya.
"Berhenti minum!" pinta Keyran dengan nada rendah.
"Apa hakmu mengaturku?" tanya Nisa sambil memalingkan wajahnya.
"Aku suamimu! Dan selamanya akan begitu. Setelah pesta ini selesai, aku ingin bicara serius denganmu."
"Memangnya apa yang ingin dibicarakan? Apa kau masih belum puas mendengar kata-kataku? Tapi sebenarnya aku juga tidak keberatan jika harus mengulang semuanya lagi. Jika kau ingin bicara tentang hal yang kurang berguna, sebaiknya tidak usah."
"Nisa, aku mohon jangan pancing emosiku!"
"Cih, terserah."
"...."
Sialan, ternyata sikapmu masih acuh seperti ini! Jika saja ini bukan negara hukum, pasti aku sudah merantaimu.
Keyran akhirnya terpaksa pergi dengan penuh kekesalan. Sedangkan Nisa, dia melanjutkan kembali tujuannya untuk meminum wine. Dia dengan cepat menghabiskan wine itu, dan kemudian menaruh gelas kosong itu di meja.
Trak!
Huh, sekarang seleraku untuk minum telah hilang.
"T-tunggu sebentar ..."
Tiba-tiba saja mata Nisa membelalak, dia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Seorang pelayan laki-laki yang sempat mencuri perhatian tadi tiba-tiba lewat di depannya, tapi Nisa menyadari kalau pelayan itu sedang menyembunyikan sebuah pisau.
Pelayan itu berjalan tergesa-gesa melewati Nisa, pandangan matanya tampak sedang mengincar seseorang, dan orang itu tidak lain adalah Keyran.
Nisa menyadari hal itu, dan seketika dia berlari sambil berteriak, "Key!! Awas!!!"
Pelayan itu panik, dia segera berlari menuju ke arah Keyran sambil bersiap menghunjamkan pisau. Namun Nisa mempercepat larinya sehingga berhasil menghadang jalan pelayan itu dengan tubuhnya sendiri.
JLEEB ... !!
__ADS_1