Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Keadaan Buruk


__ADS_3

Meninggalkan permasalahan tentang kebakaran. Hari ini Keyran dan Nisa pergi dari kediaman utama dan pulang ke rumah mereka sendiri. Sesampainya di sana, Nisa langsung merebahkan diri di kasur yang dia rindukan.


BRUGH!


"Ahh ... memang ya, rumah sendiri adalah tempat paling nyaman." Nisa memejamkan mata, dia tampak senang sekali merebah di sana.


Keyran yang melihat kelakuan istrinya itu tersenyum tipis. "Apa kau kelelahan?"


"Sangat, sangat lelah ... bukan cuma tubuhku saja, tapi mentalku juga! Aku kapok berkunjung ke rumah orang tuamu, pasti ada saja kejadian aneh saat kita berkunjung ke sana."


Tiba-tiba Nisa membuka mata, dia juga turun dari ranjang dengan penuh semangat. Keyran merasa bingung saat melihat suasana hati istrinya yang berubah secepat itu.


"Kau semangat sekali, mau ke mana?" tanya Keyran.


"Menemui Bibi Rinn! Entah kenapa aku sangat merindukan dia, juga masakannya!" jawab Nisa sambil meringis.


"Heh, bilang saja kalau kau lapar."


"Benar, apa kau juga lapar? Kau mau makan apa?"


"Terserah, aku akan makan apa yang kau makan."


"Oke, saat makanan sudah siap aku akan memanggilmu untuk turun!" Nisa lalu segara keluar dari kamar.


***


Beberapa saat kemudian Nisa kembali lagi ke kamar. Namun, saat masuk ke kamar dia terkejut karena melihat Keyran yang berpakaian rapi selayaknya seperti ingin berangkat kerja.


"Eh, kau mau ke mana?" tanya Nisa.


"Aku harus ke kantor, aku dapat panggilan karena ada beberapa masalah serius. Dan mungkin saja aku akan lembur," jawab Keyran sambil merapikan dasi yang ia kenakan.


"Lembur? Apa masalahnya seserius itu?"


"Yah ... tapi percayalah kalau aku akan menanganinya. Tidak mengherankan juga jika ada masalah, mungkin ini karena aktivitas perusahaan sempat terhenti karena suasana berduka. Dan mungkin juga musuh ataupun saingan bisnis memanfaatkan celah ini."


"Begitu ya .... Tapi Key, apa kau tidak makan dulu?"


"Maaf, tapi waktunya tidak akan sempat." Keyran tersenyum lalu memberikan sebuah kecupan di kening Nisa. "Aku pergi dulu, darling. Nanti malam tak usah menungguku."


"Tunggu! Aku akan siapkan bekal untukmu!"


"Tidak usah, aku harus buru-buru, Nisa."


"Tapi kau harus janji jangan lupa makan!"


"Iya darling ... aku janji, kau jangan terlalu khawatir padaku."


Seperti yang diucapkan oleh Keyran, malam ini dia benar-benar tak kunjung pulang. Nisa yang kesepian pun merasa kesal karena harus tidur sendirian. Keyran pulang ketika sudah lewat tengah malam.


Pagi harinya pun juga berbeda, Keyran sangat sibuk sampai-sampai dia tak sempat makan omelet buatan Nisa yang biasanya menjadi menu sarapan favoritnya. Tetapi, di satu sisi Nisa juga punya kesibukan sendiri. Dia masih harus masuk kuliah, apalagi saat ini dia sudah memasuki semester akhir.


Ketika Nisa pulang kuliah, dia menyempatkan diri pergi mengantarkan makanan ke kantor untuk Keyran. Namun, sesampainya di sana untuk pertama kalinya dia mendapatkan penolakan. Dia tidak bisa bertemu karena suaminya itu kini teramat sibuk. Akhirnya dia memutuskan untuk menitipkan makanan yang telah dia bawa dengan penuh cinta kepada orang lain.


Kegiatan yang sangat tidak nyaman ini berlangsung berhari-hari, selama seminggu penuh Keyran terus menerus lembur. Jam tidur yang dia miliki kini menjadi tak teratur.


Di suatu pagi yang cerah, Keyran bangun tidur lebih lambat dari biasanya. Tubuhnya terasa berat dan nyeri, dia langsung membelalak ketika melihat jarum jam telah menunjukkan pukul delapan.


"Jam 8?!"


"Eh, kau sudah bangun?" tanya Nisa yang saat ini duduk di depan meja rias. Dia sedang berhias diri karena akan berangkat kuliah.


"Kenapa kau tidak bangunkan aku?! Sekarang aku terlambat berangkat ke kantor!"


"Mana aku tahu, aku kira urusanmu sudah selesai dan hari ini kau sudah bisa bersantai. Dan kau sendiri biasanya bangun lebih awal dibanding denganku."


"Ck, tidak ada waktu bagiku untuk bersantai!" Keyran merasa kesal, dia menyibakkan selimutnya begitu saja dan langsung turun dari ranjang.


Begitu turun dari ranjang dia hendak ke kamar mandi, namun saat ingin melangkah dia terhuyung seakan-akan mau jatuh.


"K-kau tak apa-apa?" tanya Nisa yang kemudian langsung beranjak dari meja rias. Dia menghampiri suaminya yang tampak lemas itu.


"Minggirlah, aku mau ke kamar mandi!" pinta Keyran.


"Tunggu sebentar!" Nisa tiba-tiba berjinjit dan menyentuh jidat Keyran dengan telapak tangannya, lalu dia berganti memegang jidatnya sendiri. "Hmm ... kau panas, suhu tubuhmu mencapai 38 derajat Celsius."

__ADS_1


"Tsk, itu hanya menurutmu. Lagi pula mana ada orang mengukur suhu dengan cara seperti itu?!"


"Ssttt ... diamlah!" Nisa lalu menyentuh wajah Keyran dengan kedua tangannya. "Kau kelihatan pucat, dan kantong matamu juga mengerikan. Belakangan ini kau kurang istirahat, jadi hari ini kau tidak usah pergi ke kantor!"


"Tapi Nisa, aku harus pergi ke kantor. Situasi perusahaan sekarang sedang dalam banyak masalah. Sudah jadi tanggung jawabku sebagai pimpinan perusahaan untuk mengurus semua ini!"


"Huh, tanggung jawab sebagai pimpinan apanya? Kau bahkan tidak bisa bertanggung jawab terhadap dirimu sendiri! Kau kurang istirahat, makan juga tidak benar, jika kau memaksakan diri maka kau akan jatuh sakit!"


"Aku mohon mengertilah Nisa, aku harus mengurus-"


"Diam!" potong Nisa. Dia lalu mendorong Keyran dan memaksanya untuk duduk di pinggir ranjang. "Tunggu di sini, aku akan ambil termometer dan kau pasti akan terbukti benar-benar sakit!"


Tak lama kemudian Nisa kembali dengan membawa termometer. Dengan tatapan mengintimidasi dia berkata, "Buka mulutmu!"


Keyran menutup mulut rapat-rapat dan juga menggelengkan kepala.


"Darling~ ayo buka mulut!"


"...." Sekali lagi Keyran menggeleng. Di sisi lain Nisa malah mengubah ekspresinya menjadi memelas, dia juga beralih duduk di sebelah Keyran.


"Key ... aku sangat berterima kasih jika kau yang suamiku ini seorang pekerja keras, bahkan kau sampai tak peduli dengan kesehatanmu sendiri. Tapi bagaimana jika kau nanti sakit? Lalu sakitmu tambah parah, kau tidak selamat dan aku berakhir jadi seorang janda. Aku tak mau jadi janda menyedihkan secepat ini! Jika kau masih memaksakan diri maka aku tak punya pilihan lain demi mencari jalan aman. Sebelum kau mati, cepat tuliskan surat wasiat! Alihkan semua hartamu padaku!"


"Sembarangan! Aku cuma masuk angin biasa, aku tak akan mati! Dan aku hanya akan menulis surat wasiat jika aku sudah lansia!"


"Kau pikir di dunia ini tak ada kasus orang mati karena masuk angin?! Pokoknya aku tak mau kau sakit! Menurutlah dan biarkan aku merawatmu!"


"Hahh ... baiklah, aku tak bisa menang berdebat darimu. Tapi jika suhu tubuhku normal, aku akan tetap berangkat kerja," ucap Keyran dengan nada pasrah.


Keyran kemudian menuruti apa yang Nisa inginkan. Ketika suhu tubuhnya telah diukur, Nisa kembali berteriak, "Lihat, kan?! Aku benar! Kau itu sedang sakit, kau tidak boleh berangkat ke kantor!"


Tiba-tiba Nisa mendorong Keyran lagi, namun kali ini sampai membuat Keyran terbaring di kasur.


"Hei, apa yang kau lakukan? Seperti inikah caramu merawat orang sakit?!" protes Keyran.


"Tetap berbaring dan diamlah! Aku tahu apa yang aku lakukan! Intinya kau itu harus istirahat!"


Nisa lalu berjalan ke arah lemari, dia mengambil beberapa helai pakaian Keyran lalu meletakkannya di atas kasur.


"Ayo ganti baju! Mau ganti sendiri atau aku bantu?"


"Untuk apa ganti baju? Aku bahkan belum mandi." Keyran menatap heran.


"Oh, kalau begitu bantu aku!" ucap Keyran sambil meringis.


Nisa lalu melakukan apa yang Keyran minta. Setelahnya dia juga menyiapkan makanan dan obat paracetamol untuk meringankan demam. Bahkan dia juga menyuapi Keyran saat makan.


"Bagaimana? Apa kau merasa seperti mau muntah?" tanya Nisa.


"Tidak, aku cuma merasa dingin dan agak pusing."


DRRTT DRRTT ...


DRRTT DRRTT ...


Ponsel milik Keyran yang berada di atas nakas mendadak berdering, tetapi Nisa dengan cepat mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang menelepon suaminya.


"Cih, dari Valen." Nisa berekspresi malas, namun dia tetap mengangkat panggilan telepon itu.


"Halo Tuan, sekarang Anda sedang di mana? Kenapa sampai sekarang belum di kantor juga? Masalah di departemen keuangan masih-"


"Ini aku!" bentak Nisa yang memotong ucapan Valen.


"Eh, Nyonya ... lalu ada di mana Tuan sekarang?"


"Suamiku sedang sakit! Jangan ganggu dia! Kau selesaikan saja semuanya sendiri! Lakukan dengan benar maka aku jamin bonusmu bulan ini akan bertambah!"


TUT TUT ...


Nisa menutup telepon itu, bahkan dia meletakkan ponsel Keyran ke nakas dengan tidak ramah.


Keyran menghela napas. "Jangan begitu, Nisa. Setidaknya biarkan aku dengar dulu apa masalahnya, aku bisa memberinya instruksi apa yang harus dia lakukan dari sini."


"Tidak! Harus aku katakan berapa kali kalau kau itu sedang sakit?! Pikiranmu tidak boleh terganggu dan terbebani oleh apa pun! Jika pikiranmu stres maka sakitmu bisa jadi makin parah!"


Kemudian Nisa bergumam, "Ck, nanti aku harus minta izin ke kampus kalau aku tidak masuk."

__ADS_1


"Kenapa kau harus tidak masuk kuliah?" tanya Keyran.


"Darling ... kau itu sedang sakit, tentu saja aku harus merawatmu! Terlebih lagi aku harus selalu mengawasimu dan memastikan bahwa kau beristirahat dengan baik!"


"Kau tak perlu mengawasiku, aku janji akan istirahat dengan baik. Aku akan tetap di rumah dan tidur seharian, besok aku pasti sudah sembuh."


"Tidak bisa begitu, jika kau tidur maka aku harus membangunkanmu secara berkala. Demam bisa menyebabkan dehidrasi, jadi aku harus memastikan agar kau minum air yang cukup."


"...." Keyran membisu, namun sesaat kemudian ekspresinya berubah menjadi cemberut. Bahkan dia juga memalingkan wajahnya dari Nisa.


"Kau kenapa?" tanya Nisa kebingungan.


"Huh, aku tak tahu harus bagaimana. Kau sepertinya paham banyak hal tentang hal medis, apa hal itu kau pelajari dari mantanmu?"


"Sudahlah Key ... jangan memikirkan hal yang tidak perlu, kau fokus saja pada penyembuhanmu."


Aku akui kalau yang Keyran katakan benar. Dulu saat aku sakit karena kabur dari rumah, Ricky juga merawatku seperti ini. Tapi lupakan perasaan apa pun itu, ambil saja sisi baiknya. Setidaknya sekarang aku paham bagaimana merawat orang sakit.


Begitulah Nisa merawat Keyran yang sedang sakit demam. Bahkan saat malam harinya Keyran juga mengigau, menyebut nama Nisa. Sedangkan di satu sisi Nisa juga memberikan perhatian dengan memeluk Keyran sepanjang malam.


Keesokan harinya Keyran bukannya sembuh, namun justru keadaannya kian memburuk. Suhu tubuhnya semakin panas, dia mengigil, berkeringat, seluruh tubuh terasa nyeri, sakit kepala, lemas dan kehilangan nafsu makan.


"Key ... kondisimu makin parah. Kita periksa ke rumah sakit, ya?" tanya Nisa dengan nada khawatir.


"J-jangan, perusahaan sedang dalam masalah. Jika aku ke rumah sakit dan kondisiku yang sedang tidak berada di perusahaan diketahui oleh musuh, itu akan berbahaya bagi perusahaan ...." ucap Keyran dengan suara parau.


"Kau ini masih saja memikirkan perusahaan! Kalau begitu aku akan panggil dokter untuk ke sini dan memeriksamu!"


"Baik ... seperti itu juga boleh."


Nisa lalu melakukan panggilan darurat dari ponsel Keyran, dia memanggil salah seorang dokter yang nomor teleponnya tertera di sana. Selang beberapa waktu kemudian dokter tersebut datang, dia memeriksa keadaan Keyran dan memberikan resep obat kepadanya.


Keringat mengucur deras dari tubuh Keyran. Nisa dengan telaten menyeka keringat itu dengan handuk. Dengan penuh kesabaran dia juga mengompres dahi Keyran dengan air hangat.


Nisa selalu berada di samping Keyran, apa pun yang Keyran butuhkan dia juga selalu berusaha memenuhinya. Untuk pertama kalinya dia melihat Keyran berada dalam keadaan selemah ini, dia sangat khawatir sampai-sampai mengabaikan dirinya sendiri, terkadang Bibi Rinn harus mengingatkan dia untuk makan.


Demam yang Keyran alami masih bertahan di hari ketiga. Selama itu juga tanpa adanya Keyran, urusan kantor ataupun perusahaan menjadi tidak terkoordinasi. Hari ini saat Nisa masih sibuk mengompres Keyran, tiba-tiba saja Bibi Rinn memasuki kamar.


"Anu Nyonya ... ada yang perlu saya sampaikan," ucap Bibi Rinn dengan nada pelan karena tak ingin mengganggu Keyran.


"Ada apa?" tanya Nisa.


"Valen menunggu di luar, katanya ada urusan penting yang perlu dibahas."


"Hahh ... baiklah, sebentar lagi aku akan menemuinya."


Tak lama kemudian Nisa turun untuk menemui Valen yang berada di ruang tamu. Dia berpose garang dengan bersedekap dan menatap sinis terhadap Valen.


"Ada perlu apa? Aku sudah bilang kalau Keyran sedang sakit, sekarang dia tidak bisa diganggu! Aku juga sudah sampaikan jika ada apa pun taruh saja semuanya di meja kerja suamiku! Kunci pintu ruang belajar juga sudah aku berikan padamu."


"Tapi Nyonya ... ini masalah serius, beberapa departemen sedang bermasalah, tapi yang lebih serius adalah soal rapat dewan yang akan dilaksanakan sebentar lagi," ucap Valen mencoba memberi pengertian kepada Nisa.


"Tunda saja rapatnya sampai suamiku sembuh!"


"Tidak bisa begitu, Nyonya. Perusahaan sedang dalam masalah, rapat dewan kali ini dilakukan demi menyikapi masalah tersebut. Saya ditekan oleh kedua pihak, pertama sebagian besar dewan direksi setuju untuk mempercepat jadwal rapat, tapi di satu sisi saya ditekan oleh Anda."


Sejenak Nisa tertegun, kemudian dia berkata, "Kapan rapat itu diadakan?"


"2 hari lagi," jawab Valen.


"Baiklah, biar aku yang ambil alih!"


Valen tersentak. "A-apa?! Tapi Nyonya ... Anda tak punya jabatan resmi di perusahaan! Terlebih lagi masalah ini bukan untuk bercanda!"


"Ck, itu bisa diatur! Hari ini juga, tolong secepatnya serahkan semua dokumen penting di atas meja kerja!"


"B-baik, Nyonya."


***


Sekitar setengah jam kemudian Nisa masuk ke ruang belajar. Di atas meja kerja itu terdapat setumpuk dokumen yang bahkan memandangnya saja bisa membuat mata jadi perih.


Nisa memeriksa semua dokumen itu satu per satu, namun dia hanya membacanya sekilas di bagian yang menurutnya sangat penting.


"Huftt ... masalah yang serius ada di tiga departemen. Departemen perencanaan, pemasaran dan keuangan. Untuk masalah departemen lain sudah diurus oleh Valen."

__ADS_1


"Aku bisa saja mengatasi ini, tapi aku tak tahu bagaimana cara kerja Keyran. Jika aku menggunakan caraku sendiri, takutnya orang-orang akan menganggapku sebagai diktator."


Haiss ... sepertinya aku harus merepotkan teman-temanku.


__ADS_2