Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Reuni


__ADS_3

"Hemmm ..." gumam Reihan sambil mengerutkan dahi.


Kenapa kakak sampai kaget begitu sih? Terlebih lagi ini dari Kak Ivan, aku ragu ... jangan-jangan sampai sekarang kakak ipar belum tahu apa-apa soal ratu iblis ini.


"Rei! Ivan chat apa?" tanya Nisa penasaran.


"Eh, bentar!" Reihan lalu menunduk dan mulai membaca, "2 hari lagi kami semua akan menjenguk, GWS bos!"


"Ck, coba lihat!" Nisa merebut ponselnya dari tangan Reihan, saat membaca chat itu dia masih saja tampak tidak begitu percaya. Bahkan tangan yang satunya ikut memegangi kepala.


Astaga, ini semakin susah dan rumit! Kemunculan mereka akan sangat menarik perhatian banyak orang. Terutama Hendry, David, dan Faris! Akan kacau jika mereka semua bertemu Ricky, terakhir kali aku lebih memilih Ricky dibanding mereka semua. Bahkan, aku ragu jika mereka sudah memaafkanku. Pokoknya aku butuh pengalihan.


Nisa mulai mengatur napasnya, mendadak dia menoleh ke arah Reihan dan memasang senyum ramah. "Adikku sayang~"


"Hiyy! Jangan pasang senyum horor begitu!"


"Rei, aku butuh bantuanmu! Jadi ... 2 hari lagi datanglah ke sini, tugasmu alihkan perhatiannya Ricky, Keyran dan Jonathan!"


"Ogah! Memangnya rencana jahanam apa yang mau kakak bahas dengan kawan-kawan atau yang berpangkat family itu?"


"Jangan menyindirku! Toh aku begini juga karena aku anak pertamanya ayah. Kalau saja aku bukan anak pertama, mana mungkin aku terlibat sampai sejauh ini."


"Heh, persetan dengan anak pertama atau bukan! Kak Nisa pada dasarnya memang suka! Toh aku dan Dimas juga terseret, kemampuanku juga bukan kaleng-kaleng, terlebih lagi aku adik kandung kakak, tapi pangkatku juga masih jadi anggota tetap, bukan family! Untuk apa aku ikut campur urusan para family?"


"Rei ... kau sendiri tahu peraturannya, slot untuk para family terbatas, hanya bisa 9 orang. Tunggu salah satunya ada yang mati, atau tunggu aku yang mati ... baru setelahnya kau bisa jadi family atau bahkan jadi penggantiku."


"Pokoknya aku nggak mau ikut campur!" Reihan lalu memalingkan wajahnya.


"Reihan! Ini perintah! Lagi pula untuk bisa jadi family, kau harus siap maju dan mati setiap saat! Aku ini kakakmu, dan mustahil bagiku untuk membuatmu terlibat lebih jauh sampai mempertaruhkan nyawamu. Aku mohon, sekali ini saja jadilah berguna ..."


"..." Reihan terdiam, namun sejenak dia melirik Nisa.


Kenapa kakakku berubah jadi begini lagi? Padahal kukira bakal selamanya mau tobat, sepertinya pengaruh Kak Ricky padanya sudah hilang. Cih, sebenarnya aku malas, tapi kalau nggak dibantu bisa-bisa jadi berabe.


"Okelah, aku bantu. Kakak mau aku alihkan bagaimana?"


"Makasih! Aku cuma mau pengalihan sebentar kok, cuma pada saat mereka semua ada di sini. Chat dari Ivan kan bilang semuanya, jadi nanti pasti mereka datangnya barengan, toh paling-paling mereka di sini cuma sebentar."


"Oh, tapi nanti aku juga ajak Dimas. Kakak nggak keberatan kan?"


"Terserah, yang penting lakukan dengan benar, dan prioritas utama adalah Ricky!"


"Lah? Bukan kakak ipar?"


"Jangan banyak tanya! Lakukan saja!"


"Iya deh," ucap Reihan sambil tersenyum kecil.


Hehehe, ini bagus, mumpung kakak lengah maka sekalian saja aku jalankan rencana rahasiaku dan Dimas. Sebenarnya ini demi kebaikan semua orang, terutama Kak Nisa sendiri. Rencanaku adalah menghancurkan haremnya kakak! Dengan kemampuan bicara Dimas yang blak-blakan, dia akan membuat orang luar yang mengejar kakak mundur dengan sendirinya.


Terlebih lagi prioritas utama adalah Kak Ricky, jadi ini artinya Kak Nisa memang sengaja memberi celah untuk kakak ipar. Kakak sebenarnya ingin jujur tentang siapa dia sebenarnya, tapi kakak memilih cara yang perlahan. Iya juga sih, kalau langsung tahu semuanya sekaligus bisa-bisa nanti kena gejala stroke.


Bahkan ayah pun juga sudah angkat tangan tentang ulahnya kakak. Toh sebelumnya memang sudah dibubarkan, tapi sayangnya ada yang mencuci otak Kak Nisa untuk membentuknya kembali. Tapi, sumber utama dari semua ini juga adalah ayah sendiri. Bahkan sampai sekarang pun aku ragu kalau ayah sudah sepenuhnya berubah atau belum.


***


2 hari kemudian. Rencana kunjungan ke rumah sakit berjalan sesuai keinginan Nisa. Reihan dan Dimas yang ditugaskan untuk mengalihkan perhatian Ricky, Keyran dan Jonathan juga melakukannya dengan baik, bisa dikatakan bahwa semuanya terorganisir tanpa menimbulkan kecurigaan apa pun.


Saat ini adalah saat yang ditunggu-tunggu telah tiba. Di dalam ruang rawat, Nisa dengan santainya duduk bersandar di atas ranjang sambil menikmati buah stroberi pemberian Jonathan. Dan tak berselang lama kemudian tiba-tiba pintu terbuka.


KLAAK ...


"Silakan masuk~"


Nisa menyambut dengan senyuman yang ramah. Lalu secara bergiliran orang-orang mulai masuk, dan semuanya datang sesuai pesan sebelumnya. Ada Marcell, Dika, Ivan, David, Damar, Faris, Yhonsen, dan Hendry. Ya, semuanya pria dan hanya Nisa seorang yang wanita.


Begitu mereka semua masuk, Nisa langsung turun dari ranjang. Dan dengan senyuman dia pun berkata, "Duduklah dimana saja, mau tiduran juga boleh!"


"Wah wah ... setelah sekian lama masih belum berubah juga," ucap Yhonsen yang berjalan mendekat ke arah Nisa dan kemudian duduk di ranjang.


"Cih, jangan berharap terlalu banyak padaku." ucap Nisa seakan tidak peduli.


Tiba-tiba saja Ivan mendekat ke arah Nisa lalu menyentuh keduanya pundaknya dari belakang. "Hei, kalian semua lihatlah baik-baik! Jelas-jelas bos ada perubahan kok, sekarang jauh lebih berisi~"


Seketika semua pandangan tertuju pada Nisa, lebih tepatnya terpusat pada dadanya. Bahkan setelahnya semua orang kecuali Nisa tampak menahan tawa. Nisa pun menyeringai, dia sangat kesal hingga menepis tangan Ivan untuk menyingkir dari pundaknya.


"Memangnya kenapa hah?! Bilang saja kalian iri karena punya kalian datar!"


"Haha, maaf, jangan marah begitu dong! Lagi pula ini pertama kalinya kita semua berkumpul lagi setelah 2 tahun lebih, bisa dibilang kalau kita ini sedang reuni!" ucap Damar.


"Yep, Damar benar! Lagi pula ... reuni ini bisa terjadi karena bos tertusuk. Tapi, saat itu aku jelas-jelas lihat kalau sebenarnya pisau itu bisa ditangkis, kenapa malah memilih menerimanya?" tanya David.


Nisa membisu, dalam sekejap suasana berubah jadi serius. Tampak jelas bahwa Nisa kesulitan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh David. Bahkan ekspresinya terlihat gelisah, dan dia pun menunduk.


"Entahlah, aku juga bingung. Saat itu yang aku pikirkan cuma bagaimanapun caranya aku harus bisa menghalangi pelayan itu secepatnya."


"Kenapa mesti bingung, bukannya itu sudah jelas karena saking cintanya pada suamimu?" tanya Hendry.

__ADS_1


"Cinta?" Seketika Nisa mendongak dan menatap Hendry. "Gila ya? Mustahil karena cinta, toh mungkin saja gara-gara aku kebanyakan minum terus pikiranku jadi buyar. Lagi pula jika aku menangkisnya, bisa saja pisau itu terlempar lalu melukai orang lain lagi."


"Iya tuh, jangan sok bahas soal cinta deh! Memangnya kau tahu apa soal cinta? Padahal istrimu saja ada tiga!" ucap Marcell sambil menabok bahu Hendry.


"Memangnya cinta harus satu? Kau mana tahu enaknya punya tiga istri?! Pacaran saja belum pernah!"


"Iya iya ... punya tiga istri itu enak, tiga suami baru namanya sengsara!" ucap Nisa secara spontan.


"Lah? Kok bisa tahu rasanya? Hemmm ... mencurigakan~"


Seketika semuanya menatap Nisa dengan tatapan curiga sekaligus tersenyum nakal. Bahkan di tengah-tengah itu Dika malah berkata, "Hayoo ... yang paling bikin nagih yang mana? Padahal katanya mau cerai, iya kan Ris?"


"Heheh, nggak jadi paling~ Jadinya bebanku berkurang," ucap Faris sambil mengangkat kedua alisnya.


"Huh! Jangan bahas lagi! Kita langsung saja bahas masalah utamanya!" Nisa lalu melirik ke arah Ivan.


"Iyaa ... sudah beres kok," ucap Ivan dengan nada malas.


Cih, sok-sokan mengalihkan topik pembicaraan.


Semuanya langsung bersikap serius untuk mendengarkan penjelasan dari Ivan. Sedangkan Ivan, dia mengeluarkan ponselnya dan segera membaca file yang telah dia persiapkan sebelumnya.


"Nah, harap semuanya diam sampai aku selesai menjelaskan!"


"Iya, cepat katakan!" bentak Nisa.


"Ehem! Agenda berkumpul sekarang ini adalah demi merencanakan balas dendam, balas dendam pada Humble Dog. Ini berawal dari bos diculik. Dan menurut keterangan, mereka melakukan serangkaian penyiksaan sekaligus ingin mengorek informasi mengenai Grizzly Cat. Haha, goblook! Salah tangkap!"


"Hei, cepat lanjutkan!"


"Iya bos, maaf kebawa perasaan. Nah, kelanjutannya ... ada salah satu bukti tertinggal. Dan setelah aku selesai memilah dan mendapatkan kesimpulan, ternyata memang benar bahwa Humble Dog adalah geng mafia. Operasi atau bisnis yang merupakan sumber pendapatan dana mereka terbilang banyak. Mereka terlibat dalam sindikat penjualan obat-obatan, penjualan organ, dan bahkan termasuk senjata secara ilegal. Beruntungnya lagi, aku dapat informasi tentang tempat mereka melakukan transaksi, sekaligus gudang penyimpanan senjata ilegal mereka. Jadi bagaimana?"


"Heh," Nisa menyeringai, kemudian dia mendekat ke arah Ivan serta menepuk bahunya. "Apa mereka juga menawarkan jasa yang dapat diakses jika tersambung ke jaringan deep web?"


"Iya, bahkan jika diakses lewat sana ... mereka juga menawarkan jasa pembunuh bayaran."


"Sudah tahu apa tugasmu?"


"Oh, tentu saja sudah. Tapi yang lain gimana?"


"Untuk yang lain ... tentu saja aku sudah punya rencana! Pertama, aku lebih tertarik pada senjata ilegal itu. Kita mulai dari sana saja, lokasi gudangnya juga sudah pasti, toh pastinya gudangnya bukan cuma satu. Jadi ... daripada menghancurkannya, lebih baik kita curi saja!"


"Curi buat apa? Bukannya kita sendiri sudah punya?" tanya David penasaran.


"Kita memang punya, tapi tetap saja masih terbatas. Lagi pula senjata itu nantinya bukan cuma untuk kita, masih ada para anggota tetap yang juga membutuhkannya. Tapi tentu saja barang seperti itu hanya akan diberikan pada yang pantas. Mengerti?"


"Makanya dengarkan rencanaku sampai habis! Orang yang menculikku mengaku sebagai eksekutif, jika sebuah geng mafia menggunakan sistem seperti itu, maka bisa dipastikan kalau masih ada eksekutif yang lain. Dan menurutku ... para eksekutif adalah yang bertanggung jawab atas transaksi-transaksi ilegal itu. Eksekutif yang menculikku menggunakan gas semacam pelumpuh saraf, kemungkinan besar dia termasuk salah satunya eksekutif yang bertanggung jawab soal obat-obatan. Jadi kalian bisa tenang, lawan kalian adalah para eksekutif itu!"


"Jadi kesimpulannya kita mengacau dulu baru menghancurkan mereka?" tanya Dika.


"Yup, itulah rencanaku! Kita hancurkan secara perlahan dan kita lakukan secara diam-diam serta tetap di dalam bayangan. Jika perubahannya sudah tampak di permukaan, pasti saat itu ketua mereka akan turun tangan dengan sendirinya. Setelah tahu siapa yang sengaja mencari masalah denganku, baru setelah itu kita nyatakan perang!"


"Itu bagus! Tapi ... katamu mereka sengaja mencari masalah, maksudnya itu apa bos?" tanya Ivan.


"Maksudku mereka itu memang sengaja, terlebih lagi mereka juga berbahaya. Mereka bisa tahu identitasku sedemikian rupa sampai-sampai perbuatanku juga. Aku pikir mereka memang sudah lama menjadikanku sebagai target. Dan jika tentangku saja mereka bisa tahu, kemungkinan besar tentang kalian juga bisa tahu. Tapi dapat dipastikan mereka hanya tahu sebagian, bukan seluruhnya, jika mereka tahu seluruhnya otomatis mereka akan langsung membunuhku di tempat. Jadi, aku minta kalian untuk tetap hati-hati! Kemungkinan besar mereka punya bukti mengenai perbuatan kita!"


"Baik, kami mengerti."


"Bagus! Sekarang untuk masalah obat-obatan, kita nantinya £&%*# ..."


...Pada saat yang sama, taman...


...••••••...


Reihan dan Dimas yang bertugas mengalihkan perhatian juga melakukannya dengan baik, dan tempat yang dipilih adalah taman rumah sakit. Namun Reihan dan Dimas juga punya rencana terselubung, yaitu menghancurkan harem kakaknya dan membuat hubungan Keyran dan Nisa kembali normal.


Tugas itu sepenuhnya diserahkan kepada Dimas, sedangkan Reihan, dia menjalankan tugas yang lebih penting, yaitu memisahkan Yuna.


"Yuna main sama Kak Rei, ya? Kakak ini kan playboy, nanti kakak beri tips supaya Yuna bisa dapat targetnya Yuna!"


"Oke, tapi janji ya, pokoknya jangan tips yang sesat! Nanti Om Nathan malah tambah tidak suka Yuna ..."


"Iya, kakak janji! Ayo main agak jauh ke sana! Ini rahasia loh, bukan sembarang orang yang boleh tahu."


"Yey! Kak Rei memang yang terbaik!"


Reihan pun akhirnya berhasil membuat Yuna menjauh. Dan yang tersisa kini hanya Dimas beserta Keyran, Ricky, dan Jonathan. Ketiga pria tampak itu kebingungan karena sengaja dibuat menjauh dari Nisa, bahkan Yuna saja yang anak kecil juga sengaja dijauhkan.


Dimas masih memandangi Reihan dari kejauhan, dia menunggu aba-aba dari Reihan. Dan ketika Reihan sudah lebih jauh, dia pun melihat ke arah Dimas dan mengangguk.


"Ck, aku malas. Sebenarnya aku nggak mau ikut campur, tapi aku harus." gumam Dimas dengan ekspresi malas.


"Sebenarnya ada apa? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Keyran dengan tidak sabar.


"Huft ... aku akan langsung ke intinya, aku mau kalian semua menjauh dari kakakku!"


"Apa?!" sontak saja ketiganya terkejut, terlebih lagi Keyran.

__ADS_1


"Tunggu sebentar ... semua, maksudmu aku juga?" tanya Keyran seakan tidak percaya.


"Iya, karena aku, sebenarnya bukan cuma aku sih, melihat kalian bertiga yang selalu mengelilingi kakakku itu membuat orang muak. Dan terlebih lagi dengan status yang kalian punya, itu hanya membuat semuanya lebih rumit."


"Hei, aku menghargaimu karena kau adalah adiknya Nisa. Terlebih lagi Nisa selalu senang saat bersamaku, kenapa kau ingin aku menjauh?" tanya Jonathan.


"Harusnya sadar tempat lah, orang luar yang katanya teman tapi terus berada di samping orang yang sudah bersuami. Apa menurutmu itu sesuatu yang pantas?" Dimas lalu menoleh ke arah Ricky. "Kak Ricky juga, aku tahu kalau kakak sengaja mengatur agar hanya kakak satu-satunya dokter yang merawat Kak Nisa. Terlebih lagi Kak Ricky itu seorang mantan, harusnya kakak lebih menjaga batasan. Tapi apa yang kakak lakukan baik sebagai dokter ataupun mantan itu sudah benar?"


Jonathan dan Ricky dibuat membisu, perkataan Dimas bagi mereka memang sesuatu yang tidak bisa terbantahkan. Tapi masih ada pengecualian untuk Keyran, dia merasa janggal kalau dirinya juga disuruh untuk menjauh, padahal jelas-jelas bahwa dia adalah suami sah nya Nisa.


"Lalu bagaimana denganku? Kenapa aku juga diminta untuk menjauh dari istriku sendiri?"


"Dengar ya kakak ipar, aku bukan Kak Reihan yang berpihak kepadamu. Aku ini Dimas, aku sepenuhnya berpihak pada kakakku! Dan yang akan atau sudah aku katakan, itu nggak ada sangkut pautnya dengan Kak Nisa yang menyuruhku, semuanya murni dari diriku sendiri. Aku ingin kakak ipar menjauh itu bukan karena aku nggak suka kakak, tapi ... kakak tahu sendiri lah apa keinginannya Kak Nisa."


"..."


Apa-apaan? Apakah posisiku sebagai suami memang tidak ada artinya?


"Bagaimana jika aku menolak untuk menjauh?" tanya Ricky dengan sorot mata yang dingin.


"Itu terserah. Tapi aku yakin kalau kalian bertiga punya perasaan terhadap kakakku, kalian semua ingin kakakku bahagia kan?"


Ricky, Keyran, dan Jonathan mengangguk bersamaan.


"Nah, jika kalian memang ingin kakakku bahagia maka menjauhlah, biarkan kakakku yang memilih ingin bahagia bersama siapa!" Dimas lalu menatap Ricky. "Kak Ricky, semua orang bisa tahu kalau kakakku belum bisa lepas dari masa lalunya, yaitu kamu." Dimas lalu berpaling menatap Jonathan. "Dan untukmu, kakakku selalu tersenyum tanpa beban saat bersamamu, kehadiranmu yang selalu dinantikan olehnya." Dimas mengambil napas panjang lalu menatap mata Keyran. "Mungkin posisimu yang tersulit, bahkan sekarang saja kalian saling mengacuhkan, tapi di luar dugaan kakakku malah rela mempertaruhkan nyawanya demi dirimu. Aku sendiri juga bingung kakakku itu ingin bersama siapa, satu-satunya jalan adalah kalian semua tolong mundurlah. Tolong biarkan kakakku memilih kebahagiaannya sendiri."


Maaf, maaf Kak Rei, aku rasa inilah yang terbaik. Mungkin kakak ingin pernikahan Kak Nisa berlangsung lama, tapi aku berbeda. Aku hanya ingin kakak kita sendiri bahagia, aku sudah cukup muak melihatnya diam-diam menangis dan menyakiti dirinya sendiri.


Bahkan sebenarnya, sebenarnya aku lebih suka jika Kak Nisa kembali lagi bersama Kak Ricky. Karena yang aku tahu, hanya Kak Ricky yang bisa merubah Kak Nisa menjadi lebih baik. Tapi perasaan kan sulit ditebak, mungkin saja Kak Nisa sudah jatuh cinta dengan kakak ipar, tapi Kak Nisa belum menyadarinya. Makanya aku ingin Kak Nisa memilih kebahagiaannya sendiri. Toh mereka bertiga ini orang pintar, harusnya kata-kataku tadi dianggap serius oleh mereka.


Benar saja, mereka bertiga memang menginginkan kebahagiaan Nisa. Tentu saja perkataan Dimas itu terus membekas di pikiran mereka. Bahkan suasana masih berlanjut hening hingga cukup lama.


Namun tanpa berkata sepatah kata pun tiba-tiba saja Ricky berjalan pergi. Tak lama kemudian juga diikuti oleh Jonathan yang pergi. Sedangkan Keyran, dia masih diam membisu di tempat, tak ada niatan untuk pergi ataupun bicara.


"Oh iya, kata-kataku tadi jangan terlalu dipikirkan. Anggap saja cuma sebuah pertimbangan, tentu saja akan dipertimbangkan jika kakak ipar benar-benar mencintai kakakku. Aku hanya berharap, semoga keputusan yang nantinya kakak ipar ambil akan membawa kebaikan bagi semuanya. Dan satu hal lagi, semakin cepat membuat keputusan maka semakin baik. Aku pergi," Dimas lalu pergi meninggalkan Keyran dan berjalan menghampiri Reihan.


"Sial!"


Tentu saja posisiku sulit, bahkan sebelumnya aku juga telah bersumpah akan mengabulkan apa pun keinginan Nisa asalkan dia selamat. Tapi di satu sisi aku juga takut dengan apa yang akan dia minta. Aku sangat enggan memenuhi permintaannya jika yang dia minta lagi-lagi adalah perceraian.


Perceraian itu memang wajar, tapi aku lebih ingin memperbaiki dengan orang yang sama daripada memulai lagi dengan yang baru. Jika aku memulai lagi dengan yang baru, itu membutuhkan waktu yang lebih banyak lagi untuk memahaminya seperti apa. Dan bahkan ada satu hal yang paling penting, yaitu kenyamanan. Aku tidak semudah itu nyaman dengan orang baru, aku mustahil secepat itu punya perasaan yang sama. Bagiku memperbaiki adalah jalan yang terbaik, kita hanya perlu bicara, mencari inti masalah, lalu berusaha menyelesaikannya bersama. Tapi ... setiap kali aku bicara denganmu, yang kau bicarakan selalu saja menusuk bagiku.


***


Keyran yang sudah berulang kali berdebat dengan dirinya sendiri akhirnya memutuskan untuk kembali ke ruang rawat Nisa. Tapi siapa sangka saat di koridor yang dekat dengan ruangan Nisa, dia ternyata berpapasan dengan semua orang yang tadinya menjenguk Nisa.


Keyran bertambah merasa aneh saat mereka tersenyum ramah kepadanya, dan yang membuatnya merasa yakin bahwa mereka selepas menjenguk Nisa adalah karena adanya Dika, dia masih hafal betul dengan wajahnya.


Bahkan saat hendak membuka pintu, Keyran mendadak kembali termenung, dia mulai merasa ragu melakukannya. Dia terus memikirkan siapa saja yang dilihatnya tadi.


Tadi itu ... bukannya dia teman Nisa yang punya kedai itu? Bahkan aku ingat jelas kalau diantara mereka juga ada yang mengaku penjaga di DG Club waktu Nisa pura-pura mabuk, ternyata mereka juga komplotannya Nisa toh! Dan ... kalau tidak salah, tadi itu juga ada aktor yang sedang naik daun, orang yang sekilas sangat mirip pak wakil walikota juga ada. Sebenarnya Nisa ini punya backingan apa? Kenapa orang-orang itu sampai menjenguknya?


Bahkan, aku ingat kalau salah satu di antara mereka ada juga yang pengacara kondang. Dia menjenguk Nisa, apakah mungkin artinya Nisa masih bersikeras untuk bercerai dariku?


"Ck, sial! Semua ini datangnya sekaligus dan terlalu tiba-tiba. Pikiranku saat ini sudah penuh."


Keyran memilih untuk mengabaikan apa yang mengganggu pikirannya, dia memutuskan untuk segera masuk ke dalam. Tapi selepas dia masuk, dia kembali terkejut saat melihat Nisa yang berjalan perlahan menghampirinya.


Saat Nisa sudah cukup dekat dengannya, mendadak dia berhenti. Tapi Nisa tampak sangat ragu, dia menunduk dan bahkan terus memegangi jari tangannya di depan.


"Ada apa?" tanya Keyran dengan nada dingin.


Tumben sekali dia seperti ini, biasanya selalu menghindariku.


"Ehmm ... bisakah aku meminta waktumu sebentar? Sebenarnya, tak ada yang khusus. Akhir-akhir ini aku mulai berpikir tentang jarak ini. Dan aku mulai cemas saat berpikir yang berhubungan tentang hubungan kita ke depannya. Aku harap aku tak terlalu mengganggumu. Hanya saja ... kurasa kita perlu bicara."


"..."


Ingin bicara denganku ternyata, pasti yang ingin dia dibicarakan lagi-lagi soal perceraian. Cih, bisa gila aku!


"Kau ingin bicara denganku?"


Seketika Nisa mendongak, "Iya, sebentar saja."


"Untuk apa bicara? Untuk sengaja menyakitiku lagi?" tanya Keyran dengan tatapan kecewa.


"A-apa maksudmu?"


"Maksudku sudah sangat jelas! Aku segalanya hanya saat di depanmu, lalu aku bukan apa-apa saat kau di depan orang lain. Aku jadi istimewa hanya saat kau melihatku, tapi aku bukan siapa-siapa saat kau melihat orang lain. Dengan tega kau membuatku bahagia dengan kebahagiaan yang juga kau berikan pada orang lain! Kau membuatku tersenyum dengan kisah yang juga kau kisahkan pada orang lain! Kau membuatku merasa yang paling kau harapkan tapi kau juga mengharapkan orang lain! Dan kau membuatku seolah yang paling kau rindukan padahal kau juga merindukan orang lain! Terima kasih darling, itu menyakitkan sekali ..."


"...."


Melihat Nisa yang membisu membuat perasaan Keyran semakin meluap. Dia tak sanggup lagi untuk menatap matanya. Dan akhirnya dia lebih memilih untuk segera keluar lagi.


Bahkan setelah di luar tetap membuatnya tidak merasa lebih baik. Dengan tubuh yang terasa berat dan lelah, dia menyandarkan tubuhnya itu ke tembok.


Sadarkah kau jika kita sudah tidak seperti dulu lagi? Kita saling menghindar, saling berhenti menanyakan kabar, bahkan bertatapan ataupun bicara saja rasanya enggan.

__ADS_1


Entah, sebenarnya siapa yang memulai menciptakan jarak ini? Kau berlari dan aku berhenti mengejar, kau diam di tempat dan aku memilih berjalan mundur. Tiba-tiba saja kita saling menjauh dengan sendirinya, tanpa alasan ataupun penjelasan yang jelas.


__ADS_2