
"Eh!? Ricky memanggilku!"
Sebaiknya aku matikan dulu kompornya...
Nisa mematikan kompor dan tanpa melepas apron yang dipakai, dia langsung bergegas pergi menemui Ricky. Sesampainya disana, dia melihat Ricky yang berada di atas ranjang menangis. Tanpa berkata apa pun Nisa langsung mendekatinya dan memeluknya dari belakang.
"Siapa!?" Ricky terkejut dan langsung menengok ke belakang. "Nisa...?"
"Iya, ini aku. Kamu sendiri yang memanggilku."
"I-ini beneran kamu kan? Jadi tadi itu aku nggak mimpi?" tanya Ricky seakan tidak percaya sambil mencubit pipi Nisa.
"Hum! Hamu hapar aha ihimu henihi, hahan henhuit hau!"
(Humph! Kamu tampar saja dirimu sendiri, jangan mencubit aku!)
"Syukurlah..." Ricky lalu memeluk Nisa, "Ternyata kamu masih disini, a-aku sangat butuh kamu. Jangan pergi!"
"Iya..." Nisa lalu menepuk-nepuk punggung Ricky dengan perlahan, "Aku nggak akan pulang sebelum pamit ke kamu. Aku ini bukan jailangkung, datang tak diundang pulang tak diantar. Tenangkan dirimu Ricky..." Nisa lalu menghapus air mata di pipi Ricky.
"Makasih Nisa..." Ricky tiba-tiba menggenggam tangan Nisa, lalu dengan senyum lembut dia berkata, "Aku janji nggak akan berbuat bodoh seperti ini lagi. Setelah tahu kalau kamu juga mencintaiku, aku merasa sangat bahagia. Meskipun kamu menikah dengan orang lain, setidaknya yang kamu cintai adalah aku. Aku bersyukur atas cinta yang kamu berikan..."
"Iya, aku juga sama bersyukurnya seperti kamu." Nisa tiba-tiba mencubit hidung Ricky. "Sekarang kamu harus mandi! Kamu bau alkohol! Setelah selesai mandi, nanti langsung ke dapur! Aku sudah memasak sup untukmu." Nisa lalu menarik tangannya kembali.
"Iya-iya aku mandi, tapi kenapa malah mencubit hidungku? Yang mengeluh kalau aku bau kan kamu, seharusnya kamu cubit hidungmu sendiri! Seperti ini..." Ricky membalas mencubit hidung Nisa, saat itu juga Nisa langsung menepis tangannya dan mendorong Ricky menjauh.
"Cepat mandi! Kamu bau, sangat bauuu...!" teriak Nisa.
"Baik bunda~"
"Apaan sih!? S-siapa yang bundamu!?" Nisa lalu memalingkan wajahnya yang memerah.
"Haha, malu nih~ bunda... bunda Nisa~" ejek Ricky sambil menguyel-uyel pipi Nisa.
"Cepat mandi! Apa aku perlu membantumu mandi? Ups..." Nisa langsung menutup mulutnya.
"Boleh bunda~ ayo-ayo mandikan aku..." Ricky lalu menarik-narik tangan Nisa dengan tatapan mata yang berbinar-binar sambil tersenyum nakal.
"Aku nggak mau mandiin kamu! Cari saja bundamu sendiri!!"
Ya Tuhan, sekarang aku sedikit trauma dengan kamar mandi...
"Oke-oke, aku mandi. Tapi, saat aku mandi kamu nggak boleh pulang loh!" ucap Ricky sambil berjalan menuju kamar mandi.
"Iya, aku nggak akan pulang. Dasar old baby!"
Ya ampun, aku ini bodoh dan naif, untuk sesaat tadi aku merasa kalau Ricky itu suamiku. Seandainya saja aku menikah dengan Ricky, pasti rasanya akan bahagia seperti ini. Tapi, tetap saja ini salah! Aku harus sadar diri, sekarang aku ini istrinya Keyran, pokoknya nanti aku akan menjelaskan semuanya ke Ricky!
Tak lama kemudian Ricky selesai mandi. Saat dia keluar kamar, dia dikejutkan oleh keadaan apartemennya yang sudah bersih dan semua barang tertata rapi. Kemudian dia bergegas menuju ke dapur untuk mencari Nisa. Dan saat dia sampai, dia langsung disuguhkan dengan semangkuk sup yang hangat. Melihat hal itu dia langsung tersenyum pahit, secara bersamaan di dalam hatinya muncul perasaan tersentuh dan juga iri.
"Nisa, makasih..." ucap Ricky dengan senyum pahit.
Seandainya saja aku yang menikah denganmu, pasti rasanya akan seperti ini. Saat aku tidur kamu beberes rumah, bahkan juga memasak untukku. Suamimu pasti sangat bahagia bisa mendapatkan seorang istri seperti kamu.
"Sama-sama, tapi kenapa kamu tersenyum seperti itu?" Nisa lalu duduk secara berhadapan dengan Ricky.
"Bukan apa-apa..." ucap Ricky dengan wajah murung.
"Kamu nggak usah khawatir. Tadi aku tuh habis delivery order, jadi sayur yang aku pakai buat bikin sup itu masih baru. Itu sehat dan higienis! Cepat makan! Jangan diliatin doang!"
"I-iya, aku makan..." Ricky langsung memakan sup itu dengan cepat.
Haha, dia salah paham, ternyata yang dipikirkan Nisa itu sayur. Nisa sama sekali nggak berubah, dia selalu saja peduli pada hal-hal kecil seperti ini.
"Oh iya, tunggu sebentar!" Nisa lalu menyuguhkan secangkir minuman ke Ricky. "Minum ini juga, aku sudah membuat teh jahe untukmu. Ini sangat bagus untuk seorang pemabuk~" ucap Nisa seolah menyindir.
"Nyindir nih, lagian aku juga baru pertama kali minum bir sebanyak itu. Aku itu dokter, aku juga sangat paham manfaat dari minuman ini." Ricky lalu menyeruput teh jahe itu.
"Iya-iya... dokter hebat Ricky~"
"Nisa, sebenarnya aku tidur berapa lama?"
__ADS_1
"4 jam."
"Selama itu? Kenapa kamu nggak bangunin aku? Kamu pasti lelah membereskan apartemenku sendirian, padahal aku sendiri yang membuatnya berantakan. Maaf ya, aku menyusahkan kamu..." ucap Ricky dengan tampang bersalah.
"Ricky, aku nggak bangunin kamu karena tidurmu itu pulas sekali, kamu pasti sangat lelah karena menangis, makanya aku nggak tega bangunin kamu. Terus... soal beberes rumah, kamu simpan saja maafmu itu. Kamu sama sekali nggak nyusahin aku kok!" ucap Nisa dengan senyum lembut.
"Kamu baik sekali, padahal aku sudah membuang banyak waktumu."
"Aku bukannya baik, aku cuma bertanggungjawab. Kamu melakukan semua ini karena aku. Aku itu cuma nggak tahu malu, bukannya nggak tahu diri. Jadi, kamu sama sekali nggak membuang waktuku. Buat dirimu senyaman mungkin."
"Oke, cuma tanggung jawab. Tapi, soal tanggung jawab... kamu masih berhutang satu hal padaku." Ricky tiba-tiba menarik tangan Nisa dan menggenggamnya seerat mungkin. "Tolong berikan aku penjelasan..."
"Hah... pada akhirnya tetap saja seperti ini. Baiklah, tanyakan semuanya padaku. Aku pasti akan menjawab semua pertanyaan darimu."
"Oke, kamu harus menatap mataku. Pertanyaan pertama, apa kamu cinta dia?" Ricky lalu menatap mata Nisa dengan saksama.
"Nggak!!" jawab Nisa secara spontan.
"Nisa..." Ricky tiba-tiba memeluk Nisa seerat mungkin.
Kamu menjawabnya tanpa keraguan sedikit pun, itu artinya di hatimu cuma ada aku! Pertanyaan ini adalah yang paling penting, selebihnya nanti hanyalah penjelasan yang nggak berarti.
"Ri-Ricky... sesak... tolong lepas..." ucap Nisa dengan nada gemetar.
"Eh!? Maaf..." Ricky langsung melepaskan pelukannya. "Maaf, aku cuma terlalu senang. Jadi, aku tanpa sadar langsung memelukmu. Maaf ya...?" ucap Ricky dengan tatapan memelas.
"Haiss... sudahlah, jangan minta maaf terus! Apa pertanyaanmu cuma itu?"
Aku pikir ada apa, ternyata Ricky senang sekali dengan jawaban yang sederhana seperti itu.
"Nggak lah, aku ingin tahu semuanya. Tadi saat kamu menangis, kamu bilang kalau kamu terpaksa menikah. Apa orang tuamu yang memaksamu?"
"Bukan orang tuaku, nggak ada siapa pun yang memaksaku. Tapi, keadaanlah yang memaksaku." jawab Nisa dengan wajah murung.
"Keadaan?" tanya Ricky dengan wajah bingung.
"Hah... Taruhannya adalah semua yang keluargaku miliki. Sebenarnya, semua pilihan tergantung padaku. Tapi, sayangnya aku terlalu pengecut. Aku pengecut yang terburuk! Aku lebih memilih harta daripada cinta, aku nggak mau keluargaku kecewa dan menganggapku sebagai beban. Kalau aku cerita ke kamu, nantinya kamu pasti juga terbebani..."
"Nisa, pasti rasanya sangat berat berada di posisimu. Kalaupun aku tahu, pasti pernikahanmu juga sulit dihindari. Kartawijaya, itu keluarga suamimu kan?"
"Iya, melawan orang yang punya segalanya seperti status, kekuasaan dan pengaruh seperti mereka sangatlah sulit. Jika dibandingkan dengan mereka, perbedaannya sangat besar sekali. Maaf Nisa... aku nggak bisa kamu andalkan, maaf..."
"Berhentilah meminta maaf Ricky! Kamu nggak salah, aku juga nggak salah, siapa pun nggak bisa disalahkan. Ketimpangan sosial seperti ini sangat wajar jika terjadi, mereka semua yang berkuasa akan selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan. Bahkan nggak peduli seberapa keras aku membuat rencana, tetap saja aku nggak bisa lepas dari cengkeraman mereka."
"Nisa, aku khawatir padamu. Apa kamu bisa beradaptasi dengan lingkungan seperti itu? Orang-orang seperti mereka sangatlah penuntut, mereka selalu memaksakan keinginan mereka pada orang lain. Apalagi kamu, sekarang kamu adalah menantu mereka. Bahkan mungkin suamimu sendiri yang akan selalu memaksamu melakukan hal-hal yang nggak kamu mau." ucap Ricky dengan nada khawatir.
"Haha, kamu nggak perlu khawatir. Kamu jangan meremehkan aku, aku sudah terbiasa dituntut harus bisa ini-itu oleh orang tuaku." ucap Nisa sambil tersenyum. " Oh iya, aku ingin bicara tentang hal serius padamu." Tatapan mata Nisa langsung berubah menjadi sinis.
"Soal apa?"
"Ricky, aku yakin kamu paham bagaimana perasaanku padamu, tapi sekarang sebaiknya kita saling menjauh."
"Apa!? Kita saling mencintai, kenapa aku harus menjauh darimu?" tanya Ricky seakan tidak terima.
"Ricky... aku sudah menikah, jalan kita sekarang sudah berbeda. Aku yakin kamu paham tentang hal ini..."
"Aku tahu kalau kamu sudah menikah, tapi aku cinta kamu! Aku nggak bisa kalau disuruh jauh dari kamu! Sebelumnya kamu sudah nggak jujur sama aku, sekarang kamu ingin aku menjauh dari kamu. Ini nggak adil Nisa! Aku nggak terima!"
"Iya, ini memang nggak adil untukmu..." ucap Nisa dengan senyum pahit, "Karena itulah aku nggak minta maaf padamu, kesalahanku memang nggak bisa dimaafkan. Statusku sekarang berbeda, jika kita berdua nggak saling menjauh, cepat atau lambat pasti akan ada rumor yang beredar. Itu cuma akan memperburuk keadaan. Lagipula, kamu sekarang nggak terikat hubungan apa pun denganku, sebaiknya kamu hilangkan saja perasaanmu padaku..."
"Nggak akan! Aku bisa terima kalau aku memang harus menjauh dari kamu, tapi aku nggak akan pernah menghilangkan perasaan ini! Selamanya nggak akan bisa!" ucap Ricky dengan penuh keyakinan.
"Terserah, sekarang aku nggak punya hak untuk menuntut sesuatu darimu. Itu semua tentang perasaanmu sendiri, cuma kamu yang berhak ingin seperti apa. Tapi, aku sarankan berusahalah melupakan aku, anggap saja aku ini cuma sebuah fase dalam hidupmu."
"Fase? Nggak Nisa! Kamu lebih dari itu, sebenarnya kenapa kamu bicara seperti itu? Apa kamu sudah berencana untuk melupakan aku?" ucap Ricky seakan tidak percaya.
"Iya, aku memang ingin melupakan kamu juga perasaanku ini padamu. Aku ini jahat, aku bisa melakukan apa saja demi mencapai tujuanku. Termasuk menghapus semua cintaku padamu. Kalau kamu nggak terima, benci saja aku. Lagipula orang yang membenciku juga sudah banyak, bertambah satu orang lagi juga nggak masalah." ucap Nisa dengan enteng.
"Aku nggak percaya kamu bisa bilang seperti itu, melupakan seseorang sangatlah sulit. Bahkan, kamu dengan mudahnya bilang kalau aku bisa membencimu. Apa menurutmu cinta itu sangat mudah untuk dihilangkan? Kamu memintaku melakukan hal yang mustahil, aku nggak sanggup kalau harus melupakan kamu..."
"Kalau begitu, maka anggap saja aku sudah mati." ucap Nisa acuh tak acuh.
__ADS_1
"Nisa!!" Ricky lalu mencengkeram pundak Nisa, "Ada apa denganmu? Kenapa kamu selalu berkata hal gila seperti itu!? Apa setelah ini kamu juga akan memintaku untuk membuat kuburan untukmu!? Aku mohon berhentilah bersikap seperti ini, sebenarnya apa tujuanmu?"
"Entahlah, aku nggak tahu." ucap Nisa dengan ekspresi datar.
"Hah..." Ricky menghela napas lalu melepaskan cengkeraman tangannya dari pundak Nisa. "Nisa... aku pikir begitu kita saling mencintai, aku akan bisa mengerti sepenuhnya tentang dirimu. Tapi, bahkan setelah mengenalmu bertahun-tahun, aku masih saja nggak bisa mengerti jalan pikiranmu. Aku nggak nyangka kalau kamu melakukan semua ini tanpa tahu tujuanmu." ucap Ricky dengan nada kecewa.
"Ricky, aku harus meminta sesuatu hal kepadamu." ucap Nisa dengan serius.
"Apa lagi?" tanya Ricky seakan tidak tertarik.
"Aku meminta agar kedepannya kamu jangan percaya padaku!"
"A-apa!? Aku tahu kamu selalu punya alasan di setiap perkataanmu. Tapi, yang satu ini apa maksudnya?"
"Kamu akan tahu saat waktunya sudah tiba." jawab Nisa sambil tersenyum.
"Ini baru Nisa yang aku kenal, perkataanmu selalu saja sulit dipahami. Memangnya kenapa aku nggak boleh percaya padamu?"
"Karena aku sering berpura-pura, aku ini selain jahat juga seorang penipu." ucap Nisa dengan wajah datar.
"Penipu? Apa sekarang kamu juga sedang menipuku?" tanya Ricky sambil tersenyum.
"Iya." jawab Nisa sambil tersenyum.
"Hahaha, kamu lucu Nisa! Aku nggak bodoh, seorang penipu nggak mungkin bicara jujur. Aku ini juga ahli dalam psikologi, jangan pernah mencoba menipuku!"
"Haha, aku tahu. Kamu memang ahlinya..."
Jangankan menipumu, bahkan aku sering menipu semua orang, termasuk diriku sendiri.
"Nisa, aku ingin mengatakan sesuatu padamu," Ricky lalu menggenggam tangan Nisa. "Maaf, aku mungkin nggak akan bisa melupakanmu. Aku masih belum sepenuhnya bisa menerima kehilangmu. Kamu terlalu dalam menempati hatiku, kamu sudah terlalu banyak memberiku kenangan. Jujur, sampai detik ini aku masih berharap kalau kamu tetap disampingku selamanya. Permintaanmu sangat sulit untuk aku penuhi..." ucap Ricky dengan nada putus asa.
"Ricky... ini juga sulit untukku. Tapi," Nisa lalu menyentuh wajah Ricky dan dengan senyum pahit dia berkata, "Sekarang semuanya sudah berubah, aku, kamu, impian kita dan semua yang kemarin kita harapkan selamanya. Aku sangat bersyukur bisa mengenal kamu, terima kasih karena telah menjadi bagian dalam kisah sedih dan senangku. Tapi, tetap saja aku harus pergi." Nisa tiba-tiba menangis.
"Nisa..." Ricky lalu menghapus air mata di pipi Nisa. "Aku gapapa jika kamu akhirnya memilih pergi, aku paham mungkin takdirmu memang nggak ada padaku. Aku juga nggak tahu, entah serumit apa takdir bekerja, sesulit apa kedepannya dan entah kemungkinan apa yang akan terjadi dalam hidupku. Namun, kamu harus tahu satu hal, kamu adalah seseorang yang paling aku cintai."
"Aku tahu, aku juga cinta kamu. Sekarang semuanya dipaksa berubah, sementara aku cuma bisa berharap. Suatu saat nanti, jika ada kesempatan bertemu lagi, aku harap kita bisa menjadi dua orang yang berteman baik. M-meskipun... perpisahan kita ini sama sekali nggak membuatku merasa baik."
"Iya, semuanya pasti akan baik. Semoga kamu bisa bahagia, doaku untukmu. Aku cinta kamu Nisa..." Ricky lalu mencium kedua tangan Nisa.
"Ricky... bisakah kamu mengabulkan permintaan terakhirku padamu? I-ini mungkin akan sedikit lancang..." ucap Nisa dengan nada gemetar.
"Silakan, katakan saja. Aku pasti akan mengabulkannya."
"Cium aku, Ricky... tolong berikan aku ciuman terakhir sebagai sepasang kekasih, hanya itu permintaanku..."
"Baiklah, dengan senang hati. Kemarilah..." ucap Ricky sambil tersenyum dan merentangkan kedua tangannya.
"Makasih Ricky..." ucap Nisa dengan senyum lembut.
Dengan perasaan bahagia Nisa lalu mendekat ke arah Ricky kemudian duduk di pangkuannya. Mereka berdua saling memandang satu sama lain dengan tatapan penuh kasih. Nisa perlahan mencengkeram bahu Ricky. Ricky juga mulai membelai leher, telinga dan wajah dengan jari-jemari yang masuk di antara rambut Nisa. Nisa kemudian mendekatkan wajahnya lalu memiringkan sedikit kepalanya. Seketika mereka berdua melanjutkannya dengan ciuman dan kemudian secara perlahan mereka menutup matanya.
"M-mmm...."
Ricky, terima kasih atas semuanya... saat-saat bersamamu adalah saat yang paling bahagia dalam hidupku. Ini adalah ciuman perpisahan yang aku berikan untukmu. Selamat tinggal Ricky, selamat tinggal cintaku...
"Mmmm... m-mmm..."
Nisa, ciuman terakhir yang kamu berikan padaku, ini adalah rasa sakit termanis yang pernah aku rasakan seumur hidup. Aku mencintaimu, jika saja Tuhan mengabulkan keinginanku, aku ingin ciuman ini bukan menjadi yang terakhir. Saat ini aku sangat ingin waktu bisa berhenti, aku ingin selalu bersamamu...
Karena merasa sangat tidak rela, akhirnya mereka berciuman cukup lama. Tapi, tetap saja waktu berlalu dengan cepat, mereka pada akhirnya tetap harus mengakhiri ciuman perpisahan mereka. Nisa kemudian turun dari pangkuan Ricky, setelah itu tanpa berkata sepatah kata pun dia langsung bergegas pergi.
"Tunggu dulu!!" teriak Ricky sambil menarik tangan Nisa.
"...." Nisa hanya menengok tanpa berkata apa pun.
"Nisa, seandainya kamu terluka, kamu bisa mencariku. Anggaplah aku rumahmu, jika kamu pergi kamu tahu kemana arah pulang. Kamu bisa menetap jika kamu mau, dan bisa pergi jika kamu bosan. Aku tak apa, aku akan terus mencintaimu..." Ricky lalu melepas Nisa.
"Terima kasih atas tawarannya, pasti akan aku ingat." Nisa tersenyum lalu bergegas pergi.
Maaf, aku nggak akan mampu untuk membeli rumah sepertimu Ricky. Jangankan membeli, membayar sewa saja aku nggak mampu.
__ADS_1
Ricky hanya bisa tersenyum pahit saat melihat Nisa pergi. Tapi, beberapa saat kemudian dia tiba-tiba merubah ekspresi wajahnya.
"Tekadku nggak berubah, hanya tujuanku yang berubah. Sebelumnya tujuanku hanya ingin membuat Nisa jatuh cinta kembali padaku, tapi sekarang tujuanku adalah merebut Nisa kembali ke pelukanku! Nisa, tunggulah aku! Aku akan berusaha untuk sebanding dengan suamimu, bahkan aku akan melampauinya! Setelah itu, aku akan dengan mudah merebutmu kembali kesisiku!"