Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Grizzly Cat


__ADS_3

"Wah... wah... terus kenapa? Apa aku harus takut?" Nisa lalu menyeringai. "Heh, jangan mengancamku hanya dengan kata-kata. Toh kalaupun om ini memang anggota Grizzly Cat, aku juga nggak takut! Memangnya om sendiri kenal dengan ketuanya?"


"Kau itu cuma bocah ingusan! Kau tidak akan paham betapa kejamnya ketua kami, dia itu adalah rajanya mafia! Bocah sepertimu tidak pantas untuk mengetahui namanya!" teriak preman itu yang masih terkapar.


"Raja mafia? Kalau dia adalah rajanya mafia, maka aku adalah kaisar langit! Toh kau sendiri pasti hanya kroco, kemampuanmu saja nggak ada apa-apanya. Bahkan sekalipun ketuamu itu buat perhitungan denganku, aku juga nggak takut. Kau panggil saja dia!" ucap Nisa sambil berkacak pinggang.


"Heh, tunggu saja nanti. Bocah sepertimu berani-beraninya membuat masalah dengan Grizzly Cat, nantinya kau pasti akan menyesal!"


"Tsk! Bac*t, suara om juga nggak bagus, membuat telingaku tercemar!" Nisa lalu menyumpal mulut preman itu dengan kakinya yang memakai sepatu.


"Huumm!! Humm!"


Sialan, bocah tengik ini ternyata berani melakukan ini padaku, bahkan sepatunya juga sedikit berlumpur. Bocah ini punya mental psikopat! Kedua tangan dan kaki semua sudah dia patahkan, semoga saja dia tidak berniat untuk membunuhku.


"Nisa." ucap Jonathan dengan suara lirih.


"Hm?" Nisa lalu tersenyum dan menoleh ke arah Jonathan, tapi dia masih menaruh kakinya di mulut preman itu.


"Sebaiknya kamu hentikan saja, tidak baik jika berurusan dengan mafia, apalagi orang ini bilang bahwa itu adalah Grizzly Cat."


"Hehehe, apanya yang nggak baik? Justru karena dia mengaku Grizzly Cat maka dia harus dihabisi!"


Nisa lalu menendang dagu preman tersebut dan juga menginjak tepat di ulu hati dengan sangat keras. Dan preman itu muntah darah, namun setelah itu dia kejang-kejang dan tak lama kemudian dia tenang, dengan kata lain mati.


Jonathan yang melihat hal itu mulai merasa merinding dengan tingkahnya Nisa. Ini pertama kalinya dia melihat gadis kecil membunuh seseorang yang terlihat sama sekali tidak menyesal, bahkan dia juga melihatnya menampakkan sebuah senyuman.


"...." Jonathan hanya mengerutkan dahi sambil terus menatap Nisa.


Apakah ini adalah Nisa yang aku kenal? Dia terlihat sangat berbeda. Tadinya aku berpikir kalau Nisa hanya ingin menghajar sampai patah tulang saja, tapi ternyata sampai membunuh orang. Jangan-jangan setiap emosinya meledak dia selalu membunuh orang. Jika memang begitu, kira-kira sudah berapa banyak orang yang telah dia bunuh?


"Cih, ternyata sudah mati." Nisa lalu membetulkan semua pakaiannya yang sempat dia rubah. Dan kemudian Nisa tersenyum sambil berjalan mendekat ke arah Jonathan. "Di sini sudah nggak seru. Jadi ayo kita bermain di tempat lain!"


"Nisa, kamu sungguh membunuhnya?" tanya Jonathan sambil menunjuk ke arah mayat preman.


"Iya, dia berani menatapku dengan tatapan mesum, jadi dia pantas mati!"


"Tapi dia bilang kalau dia adalah anggota Grizzly Cat, dan geng mafia itu terkenal sangat sadis, apalagi dengan ketuanya yang merupakan seorang psikopat. Bahkan sebenarnya Grizzly Cat adalah buronan yang diincar oleh banyak pihak, mereka juga berani menyinggung geng besar lainnya. Jadi apa kamu siap dengan konsekuensinya?"


"Konsekuensi? Dengar ya Joe, aku nggak takut. Sekalipun geng mafia itu buat perhitungan denganku, aku juga nggak takut. Tapi, kamu sepertinya cukup tahu banyak tentang Grizzly Cat. Apa kamu punya hubungan dengannya?"


"Tidak, aku sama sekali tidak punya hubungan. Dan sepengetahuanku Grizzly Cat adalah geng mafia yang sangat tertutup, semua identitas anggotanya sulit untuk diketahui. Tapi ternyata pria paruh baya yang kamu bunuh ini adalah salah satu anggotanya, padahal aku mengira kalau anggota Grizzly Cat semuanya adalah orang elite. Ini berbeda dari kabar yang aku dengar."


"Yaahh.. mungkin saja orang ini hanya mengaku-ngaku. Anggota dari geng mafia mana mungkin selemah ini, bahkan di tubuhnya juga nggak ada senjata. Lalu... apa lagi yang kamu tahu tentang Grizzly Cat?" tanya Nisa sambil tersenyum.


"Aku hanya tahu sedikit, setahuku Grizzly Cat sering membuat masalah yang sangat merugikan. Aku juga mendengar kalau mereka pernah membuat salah satu bandara terbakar, tapi tidak ada satu pun korban tewas dengan luka bakar, melainkan seperti tewas karena dibunuh. Yang lebih aneh, semua korban adalah orang luar yang tidak ada hubungannya dengan pihak pengelola bandara ataupun maskapai penerbangan lainnya. Tapi bisa-bisanya mereka membuat kerusuhan di bandara."


"Ohh... tadi kamu juga bilang kalau mereka terkenal sadis, memangnya apa yang membuat orang-orang berpikir kalau mereka sadis?"


"Karena semua korban yang mereka bunuh kondisinya terlihat sangat mengerikan. Bahkan mereka juga membuat karya seni dari darah para korbannya, dan saat kerusuhan di bandara... mereka meninggalkan sebuah gambar kucing di tengah-tengah lapangan bandara. Menurutku Grizzly Cat itu adalah kumpulan dari orang-orang psikopat. Jadi, apakah kamu merasa takut jika mereka membuat perhitungan denganmu?"


"Emmm... Joe, seandainya kamu berhadapan dengan mereka yang kamu bilang psikopat, apa kamu akan takut?"


"Tidak, jika aku berhadapan dengan mereka maka aku akan melawannya. Lagi pula aku sudah cukup sering bertemu dengan orang-orang semacam itu."


"Jawabanku sama denganmu. Toh orangnya juga sudah mati, dia nggak akan bisa melapor ke yang lain. Nah, kalau begitu.. wuupp..." tiba-tiba tangan Nisa membungkam mulutnya sendiri.


"Ada apa? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Jonathan dengan ekspresi khawatir.


"Uuhh..." Nisa menurunkan tangannya lalu menoleh ke arah mayat preman sambil mengerutkan dahi. "Bau darahnya sangat anyir, rasanya aku mau muntah." Nisa menoleh ke arah Jonathan. "Ayo tinggalkan tempat ini!" Nisa langsung menarik tangan Jonathan dan mengajaknya untuk segera pergi meninggalkan gang.


"O-oke, tapi jalannya pelan-pelan saja..."


Ini sedikit aneh, padahal aku merasa kalau bau darahnya biasa saja, tidak terlalu anyir. Tapi Nisa malah merasa sangat anyir, bahkan dia juga mau muntah. Sepertinya indra penciuman Nisa sangat sensitif.


***


Setelah Nisa dan Jonathan meninggalkan gang yang gelap beserta preman-preman itu, mereka berdua kembali menyusuri jalanan. Tapi, kali ini jalan yang dipilih adalah jalan yang cukup ramai, masih terdapat orang-orang yang berlalu lalang. Dan tingkah laku keduanya juga terlihat biasa-biasa saja, seolah tidak pernah melewati kejadian pembunuhan.


Ketika mereka berdua berjalan sekitar beberapa ratus meter, tiba-tiba saja Nisa menghentikan jalannya. Dan begitu menyadari hal itu, Jonathan juga berhenti berjalan.


"Ada apa? Apa kamu sudah merasa lelah?"


"Nggak kok, aku cuma... cuma lapar!"


Perutku tiba-tiba terasa kram, mungkin saja ini karena aku lapar. Ini sudah malam, dan sejak tadi siang aku belum makan.


"Lapar yaa..." Jonathan lalu melihat sekeliling. "Di sana ada restoran yang masih buka, apa kamu mau ke sana?"


"Emmm... nggak usah Joe, aku nggak terlalu lapar. Makan snack saja sudah cukup, di dekat sini juga ada vending machine, aku beli di sana saja. Apa kamu juga mau snack?"


"Baiklah, aku mau. Kalau begitu akan aku temani, nanti aku akan memilih sendiri."


"Oke, ayo beli sekarang!"


***


Setelah Nisa dan Jonathan selesai membeli beberapa snack dan minuman di vending machine, mereka berdua lalu duduk di bangku yang ada di trotoar. Sembari menikmati snack, mereka juga menikmati pemandangan kendaraan yang berlalu lalang.


Mereka berdua terus memakan snack, tapi mereka berdua juga sama-sama diam, tidak ada perbincangan sama sekali. Terlebih bagi Jonathan, dia terus memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan Nisa. Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ingin dia ajukan, namun dia memilih untuk tetap diam karena merasa Nisa masih enggan untuk menjawabnya. Pada akhirnya Jonathan hanya melihat kendaraan yang berlalu lalang dan sesekali melirik ke arah Nisa.


"...."


Nisa, kamu seperti orang yang dipenuhi teka-teki. Jika dilihat sekilas, kamu hanya tampak seperti gadis kecil yang polos, tapi kenyataannya kamu sama sekali tidaklah polos. Bahkan kamu juga sangat tertarik dengan hal yang berhubungan dengan mafia, padahal Grizzly Cat itu sangat pantang untuk disinggung.


Dan yang membuatku terkejut, tadi saat kamu menghajar orang-orang itu, ternyata kamu juga bisa systema sama sepertiku, dan seandainya kita bertarung, mungkin hasilnya nanti akan seri. Sebenarnya menurutku kamu itu punya bakat untuk menjadi pembunuh. Aku juga sedikit penasaran dari mana kamu mempelajari keahlian itu, padahal tubuhmu saja terlihat sangat mulus seperti tidak pernah mendapat luka sekecil apa pun.


Dan yang membuatku heran, kenapa gadis tangguh sepertimu bisa-bisanya punya pikiran untuk bunuh diri hanya demi seorang mantan. Aku sangat penasaran siapa sebenarnya mantanmu itu. Menurutku mantanmu itu hebat sekali, dia bisa membuatmu sebegitu cintanya sampai nyawa pun rela diberikan. Tapi siapa pun dia... sekarang itu tidak lagi menjadi masalah.


Sekarang Nisa sedang patah hati, dan satu-satunya orang yang membuatnya kembali bersemangat adalah aku. Yang terpenting Nisa itu berbeda, dia bisa menerima siapa pun diriku, meskipun... untuk sekarang aku masih tidak bisa sepenuhnya jujur kepadanya. Takutnya jika aku mengatakan segalanya, mungkin saja Nisa akan langsung meninggalkanku. Dan tentu saja aku tidak menginginkan itu!


Sepertinya menuruti keinginan orang tua itu ada keuntungannya, karenanya aku bisa mengenal Nisa dan menjadi temannya. Nisa mengajarkanku betapa indahnya punya seorang teman, padahal sebelumnya aku menganggap bahwa orang di seluruh dunia ini adalah musuh. Dan sekarang... aku sedikit berharap kalau kita bisa menjadi lebih dari sekedar teman.

__ADS_1


"Joe..."


"Eh!? Iya, ada apa?"


"Emmm..." Nisa tersenyum lalu menoleh ke arah Jonathan. "Terima kasih untuk hari ini, berkat kamu sekarang aku merasa jauh lebih baik. Lalu... untuk kapan-kapan bolehkah aku mencarimu?"


"Boleh, cari saja aku sesukamu. Dan mungkin saja aku yang akan lebih dulu menemuimu." ucap Jonathan sambil tersenyum.


"Emmm... bagaimana jika aku butuh kamu, tapi kamu nya nggak ada?"


"Kamu tenang saja, untuk dalam waktu dekat aku tidak akan kembali ke Italia. Kalaupun aku sedang berada di sana sementara kamu membutuhkanku, maka kamu tinggal hubungi saja aku, aku pasti akan langsung datang dimanapun tempatmu berada."


"Joe, aku sangat berterima kasih, tapi... sebaiknya kamu jangan terlalu peduli padaku. Aku sudah menjelaskan bahwa aku ini mudah bergantung kepada orang lain, mungkin saja nantinya aku akan merepotkan kamu." ucap Nisa dengan wajah murung.


"Hah..." Jonathan tiba-tiba menepuk kepala Nisa. "Memangnya kenapa kalau kerepotan? Aku suka direpotkan olehmu. Jadi aku tegaskan sekali lagi, kamu bisa mencariku sesukamu."


"Hehe... baiklah kalau begitu, jadi mulai sekarang kita resmi menjadi teman curhat. Mulai sekarang kamu juga harus siap mendengar kata-kataku yang bawel!"


"Baiklah, aku siap menjadi pendengarmu, tapi aku punya satu syarat."


"Syarat apa?"


"Kamu tidak diperbolehkan untuk punya pacar!"


"Hah!?" untuk sejenak Nisa terdiam. "Emmm... oke, itu syarat yang mudah." ucap Nisa dengan senyum canggung.


Kalau aku punya pacar itu artinya aku selingkuh. Toh suami sama pacar itu kan beda, jadi kalau aku menerima syaratnya Jonathan itu nggak masalah.


"Benarkah? Apa kamu bisa berjanji?"


"Iya, aku janji! Bahkan jika kamu sendiri yang memintaku untuk jadi pacarmu, aku juga akan menolakmu."


"S-siapa juga yang memintamu untuk jadi pacarku!?" seketika Jonathan langsung memalingkan wajahnya.


Sialan! Apakah Nisa bisa membaca pikiranku? Dan mungkin sekarang kamu memang menolakku, tapi lihat saja nanti. Mulai sekarang aku juga sudah memutuskan, Nisa adalah satu-satunya wanitaku, siapa pun yang mencari masalah dengannya itu artinya dia juga mencari masalah denganku! Dan tentu saja aku akan menghabisi siapa pun itu.


"Haha... aku cuma bercanda kok... Dan sekali lagi aku ucapkan terima kasih kepadamu Joe, aku beruntung bisa mengenalmu." Nisa lalu memalingkan wajahnya menghadap ke arah jalan raya, dan kembali melanjutkan makan snack.


"Yaa... sama-sama." Jonathan juga kembali melanjutkan makan snack. Setelah itu mereka berdua kembali diam dan hanya melihat kendaraan yang berlalu lalang.


"...." Nisa tersenyum kecil dan melirik ke arah Jonathan.


Ternyata kamu berbeda dari dugaanku, tadi itu aku memang sengaja membunuh preman itu. Aku pikir setelah mengetahuinya kamu akan menjauh dariku, tujuanku hanya mengetes apakah kamu benar-benar tulus menjadi temanku. Dan ternyata kita berdua malah semakin akrab.


Terlebih lagi, sekarang aku sudah menemukan seseorang yang cocok dari dalam diri Jonathan. Seseorang yang selalu mendukung, selalu menghibur, dan selalu mendengarkan setiap ceritaku. Tapi, sekarang aku belum bisa sepenuhnya percaya kepadanya. Mungkin seiring berjalannya waktu, nantinya kamu pasti akan mengenali siapa sebenarnya diriku. Dan mungkin saja kita berasal dari dunia yang sama.


Aku juga merasa beruntung karena aku telah menemukan seseorang yang selama ini aku cari, seseorang yang tak terikat apa pun denganku, dan seseorang yang mempersilakan aku berbuat senyaman ku. Sekarang aku telah menemukan seseorang yang bisa aku anggap sebagai rumah, yang jika aku pergi aku mengerti ke mana arah pulang, aku bisa menetap jika aku mau dan pergi jika aku merasa bosan. Intinya adalah seseorang yang bisa aku andalkan jika nantinya seluruh dunia melawanku.


"Nisa."


"Ah!? Iya, ada apa?"


"Setelah ini kita mau pergi ke mana?"


"Kalau lagu kebangsaan sih bisa, tapi untuk lagu lainnya aku kurang hafal."


"Bagus, nggak masalah. Kalau begitu setelah ini kita akan pergi ke tempat karaoke!"


"Memangnya jam segini masih ada yang buka?"


"Ada kok yang buka 24 jam. Btw, sekarang jam berapa?"


"Sekarang..." Jonathan lalu melihat arloji di tangan kirinya. "Jam 12 lebih 24 menit."


"What!?" Nisa tersentak dan ekspresinya langsung berubah panik.


Ya ampun, kenapa aku bisa lupa waktu sampai segininya? Dan kenapa saat main aku bisa melupakan semuanya, semua termasuk Keyran. Sebaiknya aku cek hp dulu.


Nisa lalu mengambil ponselnya, dan setelah mengeceknya dia terlihat semakin panik. Karena banyak sekali chat dan panggilan masuk dari Keyran. Bahkan tangan Nisa yang memegang ponsel juga ikut gemetar.


--


Nisa, cepatlah pulang! Aku sudah membawakan martabak manis sesuai permintaanmu.


--


Nisa, cepatlah pulang! Martabak manis kesukaanmu sekarang sudah dingin.


--


Nisa, cepatlah pulang! Martabak manis kesukaanmu sekarang sudah aku berikan kepada anjing.


--


Nisa, cepat pulang! Aku menunggumu!


--


Nisaaa! Cepat pulang! Aku sudah menunggumu sampai berlumut!


--


Cepat pulang istriku... aku menunggumu untuk berbincang-bincang mengenai masalah kehidupan. Jadi cepat pulang yaa~ kau harus kembali dalam keadaan utuh!


--


"Snif... ya ampun..." ucap Nisa dengan nada putus asa.


Ada 121 panggilan tak terjawab, dan parahnya lagi sekarang Keyran sedang online, dia tahu kalau aku barusan sudah membaca chat darinya. Dan sekarang aku harus balas apa? Apakah emot batuđź—ż?


"Nisa, kenapa tanganmu gemetaran seperti itu? Apa kamu mendapat pesan teror? Apa ada orang yang meneror mu?"

__ADS_1


"B-bukan, cuma ada orang rumah yang sudah menungguku, jadi aku harus segera pulang. Kita ke tempat karaokenya lain kali saja ya?"


"Baiklah, kalau begitu aku akan mengantarmu."


"Nggak usah, rumahku cukup jauh dari sini. Aku naik taksi online saja, kamu sekarang juga pulanglah."


"Oke," Jonathan tersenyum dan mengusap kepala Nisa. "Kamu jaga diri baik-baik, yaah... meskipun aku tahu kalau kamu bisa menjaga dirimu sendiri. Kalau begitu sekarang aku pergi dulu."


"Iya, jangan khawatir padaku..." ucap Nisa sambil tersenyum.


Jonathan lalu beranjak dari bangku dan langsung berjalan pergi meninggalkan Nisa seorang diri. Dan tak berselang lama kemudian taksi yang dipesan oleh Nisa datang, namun tiba-tiba Nisa menyuruh supir taksi itu untuk duduk di belakang, sedangkan dia sendiri yang menggantikannya menyetir. Dan tanpa basa-basi Nisa langsung menancap gas hingga kecepatan taksi mencapai 160 km/jam. Melihat tingkah laku Nisa seperti itu, supir taksi itu mulai berpikiran negatif kepada Nisa.


"M-mbak... jangan cepat-cepat! Hati-hati mbak! Mbak ini bukan begal kan?"


"Begal gundulmu! Aku ini sedang buru-buru, jadi duduk tenang dan diamlah!!"


"Tapi ini bahaya mbak!! Setidaknya tolong pakai sabuk pengaman!"


Ya Allah, tolong lindungi hamba-Mu ini. Tadinya aku pikir orang yang selarut ini memesan taksi adalah hantu, tapi ternyata adalah orang gila! Aku hanya ingin selamat, tidak dibayar juga tidak apa-apa.


"Yang santuy dong! Pak supir tenang saja, aku sudah menonton semua seri dari film Fast & Furious, yaah... meskipun pemeran favoritku sudah mati, tapi aku bisa jamin kalau semuanya akan baik-baik saja!"


"Tapi mbak... itu kan cuma film, dan ini kehidupan nyata! Ini bahaya mbak!!"


"Ya ampun Budi... tolong diamlah!"


"Tapi mbak... nama saya Asep!"


"Woii!! Aku bilang diam! Jangan lagi ucapkan kata tapi! Apa kau mengerti!?"


"M-mengerti, tapi... upss... maaf mbak..."


"Nah, begitu dong. Joko yang pintar~"


"Salah mbak, nama saya Abdul Asep Kurniawan!"


"Bodo amat! Nggak ada yang mau tahu nama panjangmu siapa!"


"Tapi mbak, saya hanya membenarkan."


"Terserah deh, dasar Wawan!"


"Kurniawan mbak..."


"...."


CKIIIT!!


"Loh mbak, kenapa mendadak berhenti?" tanya supir taksi dengan wajah bingung.


"Streess aku!" Nisa lalu melemparkan beberapa lembar uang ke arah supir taksi tersebut. "Nih! Kembalian nya ambil saja! Aku turun di sini!" Nisa langsung turun dari mobil dan berlari secepat mungkin.


"...." Supir taksi hanya ternganga, dan beberapa saat kemudian dia mengelus dada sambil memunguti uang yang dilempar oleh Nisa. "Ya Allah, tolong berikanlah hidayah bagi mbak yang tadi itu. Semoga seluruh keluarganya diberikan kesabaran..."


***


Setelah Nisa tiba di rumahnya, dia lalu terhenti di depan pintu rumah. Dia mengatur napasnya terlebih dulu, sekaligus mempersiapkan mentalnya.


"Haahh... haaa..."


Berlari sejauh 3 kilometer tanpa henti itu cukup melelahkan. Ini semua gara-gara supir taksi yang o'on itu! Lalu... masalahnya sekarang adalah manusia yang sedang menungguku di balik pintu ini, aku bingung bagaimana aku harus berhadapan dengannya.


"Nggak tau ah, nanti kalau ditanya jawab asal-asalan saja!"


Nisa lalu perlahan membuka pintu, dan begitu masuk dia merasa suasana rumahnya sangat hening, tidak ada tanda-tanda kehadiran seseorang. Nisa kemudian berjalan mengendap-endap menuju ke kamar.


Begitu Nisa memasuki kamar, dia terkejut karena tidak ada keberadaan Keyran. Dan tentu saja Nisa mulai tersenyum bodoh sendiri.


"Hehehe... situasi aman dan terkendali."


"Ehem!!"


"Uuhh... sial." Nisa perlahan berbalik badan menghadap ke belakangnya. Dan dia melihat Keyran yang berdiri tepat di belakangnya sambil berkacak pinggang sedang tersenyum kepadanya. Sedangkan Nisa, dia lalu membalas Keyran dengan senyuman, senyum terpaksa.


"Wah... wah... kau berjalan mengendap-endap seperti pencuri, memangnya apa yang mau kau curi?"


"A-aku... mau mencuri bantal dan selimut, aku t-tidur di luar saja. Mohon toleransinya yaa... darling?"


Ya ampun, tadi aku dituduh begal, sekarang pencuri.


"Oh, sekarang kau ingat kalau aku suamimu. Ke mana saja kau sampai selarut ini baru pulang?"


"Aku... main, ini kan malam minggu, jadi aku pergi main."


"Main yaa... tapi kenapa matamu terlihat sembab? Apa kau sangat bahagia ketika bermain sampai-sampai kau menangis?"


"I-ini kelilipan, makanya aku menangis."


"Benarkah?" Keyran langsung mendekat ke arah Nisa lalu mendekatkan wajahnya. "Apa kau kelilipan kerikil?"


"Anu... aku mengaku salah, jadi jangan tanya lagi. A-aku mau mandi dulu!"


Nisa berniat ingin berjalan melewati Keyran, namun tiba-tiba saja Keyran menggendongnya di pundak, bahkan dia juga memukul pantat Nisa.


PLAAK!!


"Dasar nakal! Istri macam apa yang keluyuran sampai larut malam seperti ini!?" Keyran lalu menjatuhkan Nisa di atas ranjang dan kemudian dia memposisikan dirinya di atas Nisa.


"K-kau mau apa?"


"Biasalah.... aku mulai yaa.. istriku~"

__ADS_1


"Glup..." Nisa menelan ludah.


Mampuuuss aku, kali ini aku harus membuat kebohongan seperti apa?


__ADS_2