
Hari berganti, suasana yang menyambut indahnya pagi hari di kediaman Kartawijaya bukanlah suasana yang membuat suka hati, melainkan suasana penuh ketegangan yang membuat sesak siapa pun yang berada di kediaman itu.
Bukan cuma anggota keluarga saja yang dirundung rasa cemas, bahkan para pelayan pun diam-diam saling bergosip mengenai ulah Tuan Muda mereka yang telah menghamili seorang gadis di luar nikah.
Tuan Muchtar yang tidak tidur sepanjang malam karena memikirkan ulah putranya itu mulai merasa pusing. Suasana hatinya buruk hingga mempengaruhi semua rutinitas di kediaman. Bahkan hari ini pun acara sarapan bersama ditiadakan, semua jatah sarapan di antarkan oleh pelayan ke masing-masing kamar.
Satu-satunya orang yang suasana hatinya biasa-biasa saja adalah Keyran. Baginya selagi itu tidak menimbulkan hal buruk bagi hubungannya dengan Nisa, maka itu bukanlah masalah yang serius yang pantas dia pusingkan. Seperti biasa, dia menjalani rutinitasnya berangkat ke kantor.
Saat Keyran selesai mengenakan jas nya, tiba-tiba Nisa datang dari belakang dan memeluk tubuhnya dengan erat.
"Hm? Ada apa?" tanya Keyran sambil memegang tangan Nisa yang melingkar di perutnya.
"Kau tidak boleh berangkat kerja!" pinta Nisa dengan nada ketus.
"Hei, kalau aku tidak berangkat kerja bagaimana aku bisa menghasilkan uang?" Keyran terkekeh.
"Kau itu sudah sangat kaya, bolos kerja sehari juga tidak apa-apa! Lagi pula kau itu bos nya!"
"Nisaaa ... tidak bisa begitu, menjadi bos juga punya tanggung jawab. Memangnya aku punya alasan apa agar aku tidak berangkat?"
"Bilang saja kalau aku rewel! Kau biasanya selalu menggunakan alasan itu saat kau sendiri tidak mau berangkat! Padahal kenyataannya aku sama sekali tidak rewel! Tapi sekarang saat aku benar-benar rewel kau malah bersikeras mau berangkat!"
"Haiss ..." Keyran lalu berbalik dan memegang wajah istrinya yang sedang berekspresi cemberut itu. "Katakan, sebenarnya ada apa?"
"Temani aku, aku tidak mau sendirian di sini."
"Kenapa? Apa ada yang membuatmu merasa tidak nyaman?"
"Bukannya tidak nyaman ... hanya saja aku merasa sedikit tidak enak mau berbuat apa pun, rasanya agak tertekan. Keadaan rumah masih seperti ini, tapi kau dengan santainya tetap mau berangkat ke kantor, apa kau sama sekali tidak merasa prihatin?"
"Ternyata begitu," Keyran tersenyum kecil lalu mengusap kepala Nisa. "Bukan tidak prihatin, tapi bagiku persoalan ini tidak pantas jika terlalu diambil pusing."
"Mengapa? Bukankah ini juga akan menyangkut soal reputasi keluarga? Apa mungkin kau biasa saja karena kau tidak suka pada Daniel?"
"Ehmm ... ya, itu salah satunya. Tapi kau juga tidak usah terlalu memikirkan masalah ini, ayahku pasti bisa menemukan jalan keluarnya. Jadi kau tidak perlu merasa tidak enak jika ingin melakukan apa yang kau mau. Bersikaplah seperti biasa saja."
"Seperti biasa? Apa hari ini Daniel juga pergi ke kantor sama sepertimu?"
"Tidak, ayah bilang untuk sementara Daniel akan dilarang untuk keluar dari rumah. Lalu perkerjaannya yang sekiranya cukup penting akan dialihkan padaku, aku akan sangat sibuk. Karena itu hari ini aku harus berangkat ke kantor, darling ... Jika kau bosan kau bisa melakukan apa pun yang kau mau."
"Apa pun yang aku mau? Sungguh?!" tanya Nisa dengan tatapan berbinar.
"Y-ya ... Memangnya apa yang kau mau?" tanya Keyran yang sudah punya firasat tidak enak.
"Ikut pergi ke kantor bersamamu!"
"Apa?! Itu tidak boleh!"
"Tapi kenapa?" Nisa menatap kecewa.
"Aku akan sangat sibuk Nisa, aku tak punya waktu untukmu. Jika kau tetap ikut denganku kau pasti akan membuat masalah!"
"Jadi di matamu aku ini hanya kau anggap sebagai pembuat masalah?" tanya Nisa seakan tidak percaya.
"Bukan begitu, aku akan sangat disibukkan oleh pekerjaanku, artinya aku harus fokus dan jika kau ikut takutnya aku akan mengabaikanmu. Kalau kau diabaikan kau pasti akan marah-marah tidak jelas."
"Aku tidak masalah kau abaikan, aku akan diam dan duduk manis sambil menunggumu bekerja. Jadi kau bisa fokus."
"Justru aku sama sekali tidak bisa fokus! Tidak nyaman ditatap terus saat sedang bekerja. Bisa-bisa pekerjaanku jadi berantakan."
"Huh, anggap saja kalau kau sedang ujian dan aku pengawas ujiannya. Dengan begitu kau bisa fokus!"
"Ini berbeda! Mengerjakan ujian dan mengerjakan tugas kantor itu berbeda!" Keyran lalu mengambil napas panjang dan berkata, "Baiklah kalau begitu, untuk hari ini kau aku bebaskan! Kau boleh keluyuran sepuasnya!"
"Tapi aku mau main ke mana?"
"Terserah, kau bisa ke mall dan belanja apa pun yang kau mau, kau bisa ke taman hiburan ataupun ke bioskop. Pergilah ke mana pun kau suka asalkan kau ingat waktu untuk pulang!"
"Cih, jika waktunya dibatasi artinya aku tidak bermain sepuasnya, kurang asik ah."
"Tentu saja dibatasi, kau itu wanita yang sudah bersuami! Kau harus ingat waktu untuk pulang!"
"Iya-iya ... aku tahu," Nisa lalu melepaskan rangkulan tangannya dari perut Keyran. "Ya sudah kalau begitu, sekarang berangkatlah kerja!"
"..." Keyran membisu, dia kemudian mencubit hidung Nisa karena gemas dengan tingkahnya. "Ingat, waktumu bermain hanya sampai jam 6 sore. Sebelum makan malam kau sudah harus ada di rumah. Mengerti?"
Nisa menepis tangan Keyran yang mencubit hidungnya. "Sebelum makan malam? Pagi ini saja tidak ada sarapan bersama, apa nanti saat makan malam akan ada yang mencariku? Lagi pula kau sendiri yang bilang kalau pekerjaanmu banyak, bukannya kau juga akan lembur?"
"Hari ini akan ada jamuan makan malam. Keluarga utama Adinata akan berkunjung untuk membahas tentang permasalahan dan tanggung jawab."
"Secepat itu? Apa hasil tes DNA nya sudah keluar?"
__ADS_1
"Belum, nanti malam baru akan keluar. Tapi pihak sana sangat yakin dengan hasil tes yang sebelumnya, mereka yakin hasilnya tidak akan ada yang berubah. Jadi malam ini adalah malam penentuan bagi nasib Daniel ke depannya."
"Oh, pantas saja Daniel dikurung oleh ayahmu."
"Ya begitulah, tamu penting akan datang malam ini. Karena itu kau harus pulang sebelum makan malam, dan aku sendiri pun juga sama."
Tiba-tiba Nisa berjinjit lalu dengan cepat memberikan sebuah kecupan di bibir Keyran. "Ciuman pagi hari sudah, sekarang aku sudah mengesahkanmu jika kau mau berangkat kerja!"
"Heh, kau istri yang unik. Tapi ... ciuman pagi harimu ini belum sah."
"Kenapa?"
"Karena kau melakukannya saat aku belum siap, ulangi lagi!"
"Haha, dengan senang hati~"
***
Siang harinya sekitar pukul 14:15, saat ini Keyran masih tampak sangat sibuk di ruangannya. Kedua alisnya saling mengait lantaran tidak puas dengan setumpuk dokumen dan berkas-berkas yang berada di meja kerjanya.
"Sebenarnya apa yang dilakukan Daniel selama ini?! Semua ini tak ada satu pun yang sesuai dengan kriteriaku!"
Keyran melemparkan dokumen yang dia pegang ke atas meja, dia mengusap wajahnya dengan kasar lalu menghela napas.
TOK TOK TOK!!
"Ck, masuk!" teriaknya penuh kekesalan.
"Bukakan pintunya!!" teriak orang yang berada di luar pintu.
"Kurang ajar, berani-beraninya menyuruhku! Kau dipecat!"
"Darling! Ini aku istrimu! Kau serius mau memecatku?!"
"Eh?!" Seketika Keyran bangkit dari kursi dan bergegas membuka pintu. Dia melihat istrinya yang sedang menenteng beberapa buah box di masing-masing kedua tangannya.
"Nisa, untuk apa kau ke sini?" tanyanya terheran-heran.
"Mengantar paket!" jawabnya ketus, dia lalu langsung masuk begitu saja dan meletakkan semua box-box itu di meja.
Keyran menutup pintu lalu menyusul Nisa. Sambil menata box-box yang ternyata isinya adalah makanan, dia kembali mengoceh.
"Kau tidak membaca pesan dariku! Aku khawatir terjadi apa-apa denganmu, lalu aku telepon Valen. Dia bilang kau sangat sibuk, kau bahkan sampai melewatkan makan siang. Jadi aku ke sini bawakan makanan untukmu!"
Keyran hanya ternganga saat menatap banyaknya makanan yang dibawa oleh istrinya. Dia lalu berganti menatap istrinya dengan tatapan bingung. "Bukannya kau seharusnya sedang bermain dan bersenang-senang?"
"Ya, harusnya memang begitu. Tadinya aku memang bersenang-senang, tapi saat aku mengirimkan gambar lewat pesan kau tak kunjung membalasnya. Padahal biasanya kau selalu cepat membalas. Aku bertanya ke Valen dan mendapat jawaban itu tadi. Jadi aku mampir ke restoran dan memilih menu take away untuk kau makan."
"Oh, haha ... gambar yang kau kirim pasti cantik."
"Cantik katamu? Kau bahkan belum melihatnya."
"Tak perlu dilihat pun kau sudah pasti selalu cantik."
"Gambar yang aku kirim bukan fotoku, tapi foto angsa. Aku pergi main ke danau."
"Ehmm ... begitu ya," Keyran tersenyum canggung.
"Ah sudahlah, kau cepat makanlah! Aku tak mau kau sakit."
Keyran lalu menurut untuk menyantap makanan yang dibawakan oleh Nisa. Rasa kekesalan yang dia rasakan jauh berkurang karena istri tercintanya datang sambil membawakan makanan kesukaannya.
Di sisi lain Nisa tersenyum tipis saat melihat suaminya makan dengan lahap. Tetapi dia mendadak mendekat ke meja kerja Keyran sambil bergumam, "Jadi kertas-kertas ini yang membuatmu sibuk sampai lupa makan."
"Itu masalahnya, Daniel tidak becus mengerjakan apa pun." sahut Keyran sambil mengunyah makanan.
"Oh ..." Nisa kemudian mencoba memeriksa beberapa dokumen yang tergeletak di meja kerja itu. Dia terus memeriksa satu per satu sembari menunggu Keyran selesai makan.
"Hmm ... kira-kira aku sudah paham. Tidak ada masalah serius."
"Apa katamu?! Uhuk ... uhuk!" Keyran tersedak.
"Hei, makan dengan benar." Nisa lalu menutup dokumen itu. "Di sini tertulis beberapa perusahaan start-up yang sedang dalam tahap pengembangan yang rencananya akan menerima penyertaan modal."
"Bisa dikatakan kapitalis ventura tetapi agak sedikit berbeda. Pendanaan modal ventura itu hanya berlaku untuk jangka waktu tertentu, tapi di sini sebagian dituliskan untuk seterusnya. Jika perusahaan start-up itu berhasil nantinya akan berubah jadi anak perusahaan, bagus juga pemikiran Daniel."
Keyran yang sudah minum lalu berkata, "Ehem! Tapi Nisa, harusnya kau tahu kalau skema pembiayaan yang menyangkut penyertaan modal ventura itu termasuk risiko tinggi."
"Kau benar, memang ada risiko operasional, tata kelola, kepengurusan, aset, liabilitas, dan hukum yang besar adalah gagalnya investasi. Kau hanya tinggal memilih dan memilah perusahaan start-up mana yang akan dapat penyertaan modal. Menurutku sebagian memang ada yang meragukan, tetapi ada juga yang punya potensi. Kau pilih saja yang sekiranya termasuk ke dalam targetmu."
"Tapi, kau harus mempertimbangkan juga dana yang sudah dikeluarkan. Karena menurut keterangan, Daniel juga sudah membeli obligasi dari beberapa perusahaan. Wajar saja kau agak kurang cocok dengan masalah ini. Pada dasarnya ini bukan tugasmu, sepertinya ayahmu memang sengaja mengatur agar Daniel yang mengerjakan semua kerja sama yang berhubungan dengan perusahaan menengah ke bawah."
__ADS_1
"Harus aku akui kalau pemikiran ayah mertua sangat bagus. Dengan adanya penyertaan ventura yang dikerjakan oleh Daniel, harapannya kredibilitas perusahaan akan meningkat dan memperoleh citra yang lebih baik, nantinya berdampak pada pemasaran produk ataupun jasa yang ditawarkan oleh perusahaan. Sedangkan kau sebaliknya."
"Untuk hubungan kerja sama dengan perusahaan menengah ke atas dan luar negeri, kaulah yang mengendalikannya. Dengan begitu perusahaan keluarga akan menguasai pasar. Pantas saja ayahmu sangat kaya!"
"Wah ... Kau bisa paham, istriku memang hebat."
"Heh, kau pikir aku kuliah untuk apa?" Nisa tersenyum angkuh.
"Yahh ... hanya saja aku memang kesulitan menentukan pilihan perusahaan start-up mana yang akan mendapatkan pendanaan. Setelah tahu kelakuan Daniel, aku jadi ragu atas semua pilihannya. Bisa saja perusahaan yang dia pilih adalah perusahaan yang hanya bisa menawarkan wanita untuk memuaskannya!"
"Kau benar, masalah yang sedang terjadi juga berawal dari ini. Daniel sebelumnya memang mengira Natasha adalah kiriman salah satu perusahaan start-up itu! Jadi ... ayahmu sengaja mengalihkan ini padamu agar kau bisa memeriksa satu per satu!"
"Akhirnya kau paham, karena itulah aku pusing memikirkan itu, waktuku mana cukup?!"
"Kau tidak boleh!" Nisa langsung berlari mendekati Keyran dan memeluknya dengan erat. "Pokoknya tidak boleh! Bagaimana jika ada yang menawarkan wanita cantik untukmu? Aku bahkan tidak mau membayangkan hal itu!"
"Hei-hei ... tenanglah, aku sudah punya kau. Aku tidak akan tergoda dengan wanita mana pun."
"Huaaa ... pokoknya aku tidak memberikanmu izin! Bagaimana jika kau nanti diberi obat?! Ayahmu itu memang jahat, bisa-bisanya memberimu tugas semacam ini! Kau suruh saja orang lain yang mengerjakan tugas itu!"
"Kau berpikir terlalu jauh Nisa ..."
"Tapi itu kan tidak mustahil, ada kemungkinan juga itu akan terjadi! Kau mencintaiku atau tidak?! Jika kau mencintaiku kau tidak boleh mengerjakan tugas itu!"
"Huft ..." Keyran menghela napas.
"Kenapa kau butuh waktu untuk menjawab?! Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?!"
"Aku mencintaimu!" bentak Keyran yang mulai kehilangan kesabaran.
"Kalau kau mencintaiku kenapa kau membentakku? Kau membenciku, ya? Aku salah apa padamu sampai kau membenciku?"
"Astaga, bukan begitu! Aku mencintaimu, aku tidak membencimu dan aku berjanji tidak akan mengerjakan tugas itu! Apa sekarang kau puas?"
"Sungguh?" tanya Nisa dengan nada manja.
"Iya darling ... aku bersungguh-sungguh."
"Hehe, baguslah kalau begitu!" Nisa meringis.
"..."
Aku benar-benar benci ini. Aku mohon cepatlah selesai datang bulan, gara-gara PMS kau jadi sensitif terhadap semua hal sampai kita selalu bertengkar tidak jelas.
Keyran sudah berselera lagi untuk makan, setelah membereskan semuanya dia hendak melanjutkan pekerjaannya, tetapi istrinya yang nakal itu tidak membiarkan dirinya.
Nisa meminta Keyran untuk tetap duduk di sofa panjang itu, sedangkan dirinya berbaring sambil meletakkan kepalanya di pangkuan Keyran.
"Mau sampai kapan kita begini?" gumam Keyran dengan suara pelan, namun dipastikan bahwa Nisa dapat mendengarnya.
"Kau tidak suka bermesraan denganku seperti ini?"
"B-bukan begitu, aku suka ... sangat suka! Tapi sekarang kita berada di kantor, aku masih harus melanjutkan pekerjaanku yang lain. Ini bukan saat yang tepat untuk bermesraan, kita bermesraan nanti malam di rumah saja, ya?"
"Kau mau gantian aku pangku?" tanya Nisa dengan tatapan berbinar.
"Boleh ..." jawab Keyran dengan nada pasrah.
Astaga, dia mengabaikan kata-kataku barusan.
Nisa berusaha untuk bangkit, namun sekejap kemudian tiba-tiba dia berteriak, "Aduh, jangan tarik rambutku!"
"Aku tidak menariknya."
Nisa lalu mencoba menengok ke belakang semampunya, dia melihat rambut panjang yang sangat dia sayang ternyata tersangkut di ritsleting celana Keyran. "Hah?! Bagaimana bisa tersangkut?!"
"Mana aku tahu. Tunggu sebentar, biar aku ambilkan gunting."
"Jangan! Jangan coba-coba menggunting rambut indahku!" Nisa lalu menurunkan tubuhnya dari sofa. Dengan rambut yang masih tersangkut, dia berjongkok di bawah dengan posisi di antara kedua kaki Keyran.
Posisinya mereka sekarang sangat ambigu, Keyran yang menyadari hal itu wajahnya memerah. Apalagi ketika tangan Nisa masih sibuk mencoba melepas rambut yang tersangkut di ritsleting celananya.
"Kau jangan diam saja, cepat bantu aku!"
"O-oke ..."
Ya Tuhan, situasi macam apa ini? Apa dia tidak sadar posisi seperti apa ini sekarang? Ini salah satu posisi yang sangat aku sukai. Ritsleting celanaku sejak tadi juga bergeser naik turun, semoga kau tahan adik kecil, tetaplah tidur dan jangan bangun.
KLAKK!
Pintu mendadak dibuka dari luar.
__ADS_1
"Permisi Tuan, ini ada dokumen baru dari ... Eh?!" Seketika Valen ternganga dan menjatuhkan dokumen itu. "ASTAGAAA! MATAKUU!"