Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Penuhi Janjimu!


__ADS_3

Sehabis dari taman, Nisa langsung pulang ke rumahnya, dan dia sama sekali tidak berpapasan dengan Keyran. Karena merasa sedikit haus, dia berniat untuk membuat jus di dapur. Namun dia tiba-tiba termenung saat melihat omelet yang telah dia buat sama sekali tidak tersentuh. Bibi Rinn yang saat itu berada di dapur juga merasa prihatin melihat Nisa yang seperti itu. "Nyonya... apakah nyonya baik-baik saja?"


"Iya, aku gapapa..." Nisa tersenyum lembut dan seketika mengambil omelet itu lalu memakannya, memakannya dengan sangat lahap.


"Nyonya, omelet itu sudah dingin. Jika nyonya memang lapar, saya bisa membuat lagi untuk nyonya."


Kasihan sekali, pasti nyonya merasa kesal karena tuan tidak memakan omelet buatannya.


"Emmm.. nggak usah, bibi Rinn nggak perlu membuat lagi." Nisa lalu menelan omelet yang dia kunyah. "Aku nggak lapar, cuma... daripada mubazir lebih baik aku memakannya. Lalu, bibi Rinn tolong buatkan aku jus nanas ya, es nya sedikit saja.." pinta Nisa dengan senyuman.


"Baik nyonya, segera saya buatkan." Bibi Rinn lalu bergegas membuatkan jus untuk Nisa.


Hah... nyonya masih bisa tersenyum seperti itu, pasti senyum nyonya itu terpaksa. Sepertinya nyonya sedang berusaha menyembunyikan kesedihannya...


Waktu pun berlalu dengan cepat, saat malam hari setelah Keyran pulang dari kantor, dia melihat Nisa yang sedang sibuk menonton film di kamarnya. Nisa terlihat sangat menikmati film itu sambil terus memakan popcron. Dan saat Nisa melihat Keyran masuk kamar, dengan santainya dia menyodorkan popcron yang dia pegang kepada Keyran.


"Mau?" Nisa menatap Keyran dengan tatapan yang biasa saja, tapi Keyran malah menatapnya dengan tatapan sinis. Seketika Nisa langsung menarik tangannya kembali, " Ya sudah kalau nggak mau..." Nisa melanjutkan menonton film dan melempar popcron ke udara lalu menangkapnya dengan mulut.


"Haha bodoh! Masa kesandung gitu doang langsung koma, kenapa sinetron di TV selalu sok mendramatisir sih? Aku heran kenapa ibu suka sekali menontonnya... Ganti ah," Nisa lalu mengganti saluran TV. "Nah, mending nonton berita. Setidaknya lebih masuk akal," untuk sejenak Nisa terdiam. "Loh? Berita macam apa ini!? Masa artis cukur kumis diliput? Kenapa... berita lokal selalu menyampaikan hal bodoh!"


Nisa terus mengoceh dan mengeluh tentang acara-acara konyol di TV, dia juga sama sekali tidak menganggap serius kehadiran Keyran. Dan tentu saja melihat hal itu Keyran merasa sangat kesal, dia langsung merebut remote TV dari tangan Nisa kemudian mematikannya agar Nisa diam. Dan setelah itu Keyran berteriak, "Kenapa kau seperti ini!?"


"Maksudmu? Bukankah kau sendiri tahu aku orangnya seperti apa, dari lahir aku juga sudah seperti ini. Kalau mau mengeluh juga jangan kepadaku. Mengeluh saja kepada orang tuaku, mereka berdua yang bertanggung jawab karena telah membuatku." ucap Nisa dengan nada malas sambil terus memakan popcron miliknya.


"Dasar gila! Apa kau sudah lupa tentang hal semalam!?" Keyran lalu merebut popcron dari tangan Nisa lalu dengan sengaja menumpahkannya. "Aku serius! Berhentilah menguji kesabaranku!"


"Kau juga berhentilah bersikap seperti ini! Baru pulang kerja bukannya istirahat, tapi malah mengajakku berdebat, memangnya kau nggak lelah? Dan untuk masalah semalam aku minta maaf, aku khilaf..." Nisa lalu memalingkan wajahnya.


"Khilaf katamu!?" teriak Keyran seakan tidak terima.


Apa berhubungan dengan mantan termasuk khilaf!? Aku tidak menyangka kalau kau bisa membuat alasan seperti ini, kau sudah sangat kelewatan! Jangan salahkan aku jika aku mulai berbuat kasar kepadamu.


"Yaa.. maap, aku nggak tahu kapan kau pulang. Aku juga khilaf karena datang ke club lagi, jadi terserah kau mau apa. Maki aku sesukamu! Nanti aku akan mendengar semua makian darimu," ucap Nisa tanpa menoleh ke arah Keyran.


"Kau...!!"


Apa Nisa memang tidak mengingat kejadian semalam? Yang dia maksud khilaf adalah pergi ke club, bukan saat berhubungan dengan mantannya. Pantas saja dia tidak merasa bersalah sedikit pun. Tapi, kenapa aku masih merasa kecewa?


"Tsk! Aku muak denganmu!" Keyran lalu pergi ke kamar mandi, dan dia juga mulai tidak menghiraukan Nisa.


"Cih, aku juga muak denganmu!" ucap Nisa dengan wajah cemberut. Namun beberapa saat kemudian dia mulai membereskan popcron yang berserakan.


Sialan! Kalau mau marah ya marah saja, kenapa harus popcron milikku yang jadi korban? Sekarang juga aku yang repot membersihkannya. Tapi, emangnya Keyran kenapa sih? Biasanya kan nggak sampai seperti ini, jangan-jangan pms kali...


Saat mereka berdua akan tidur, Keyran sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun, dan dia segera tidur dengan posisi membelakangi Nisa. Sementara itu Nisa malah bersikap tidak peduli, dia juga terus bermain game di ponselnya sampai larut malam.


Keesokan harinya mereka berdua tetap saja seperti itu, sama sekali tidak ada interaksi di antara mereka. Yang satu bersikap angkuh dan yang satunya lagi bersikap masa bodoh, sungguh pasangan yang serasi, bagaikan pasangan yang ditetapkan oleh kaisar langit.


Suasana hening seperti itu berlangsung selama berhari-hari, namun ada satu hal yang rutin dilakukan oleh Nisa setiap harinya. Hal rutin itu adalah membuatkan omelet untuk Keyran, meskipun Keyran tidak memakan omelet buatannya, tapi Nisa tetap saja terus membuatnya.


Bibi Rinn yang melihat Nisa begitu bersikeras membuat omelet setiap hari mulai merasa prihatin sekaligus bingung. Akhirnya dia mencoba mendekati Nisa yang sedang membuat omelet, kemudian dengan suara lirih dia berkata, "Nyonya... sebaiknya nyonya hentikan saja ini, jangan lagi membuat omelet untuk tuan. Tuan sama sekali tidak ingin memakannya."


"Selama Keyran ada di rumah ini, aku akan terus memasak omelet setiap hari!" ucap Nisa dengan penekanan.


"Tapi nyonya, omelet ini ditujukan untuk tuan, sementara tuan tidak ingin memakannya. Kenapa nyonya tetap ingin membuatnya?"


"Karena aku sudah menyanggupi untuk membuat omelet setiap hari, aku nggak peduli dia makan atau nggak! Yang penting aku sudah memenuhi perkataanku, dan aku selamanya nggak pernah main-main dengan perkataanku!" Nisa lalu melepaskan apron yang dia pakai, kemudian dia menyerahkan omelet yang sudah jadi kepada bibi Rinn.


"N-nyonya... i-ini..." ucap bibi Rinn terbata-bata.


"Berikan itu padanya! Bahkan jika dia membuangnya, aku juga nggak peduli!" Nisa lalu bergegas pergi.


"Baik, tapi... nyonya ingin pergi kemana? Apa nyonya tidak sarapan dulu?"


"Aku mau kuliah, dan aku akan sarapan di luar!" ucap Nisa tanpa menoleh ke belakang.


Kampret! Waktu itu kau sendiri yang memintaku untuk membuat omelet untukmu setiap hari, tapi sekarang kau malah nggak mau memakannya. Keyran... padahal kau itu cowok, tapi kalau ngambek malah melebihi cewek. Bodo amat lah, lagipula aku bisa hidup tanpa dirimu.


"..." untuk sejenak bibi Rinn terdiam, lalu dia bergumam, "Nyonya kuliah?"


Astaga, padahal nyonya selama ini hanya berdiam diri di rumah. Ternyata nyonya masih kuliah, dia tidak takut seandainya kena drop out dari kampus. Tapi nyonya malah bersikap tidak peduli. Nyali nyonya besar sekali...


...Saat di kampus...


...••••••...


Semua orang yang mengenal Nisa terkejut saat mengetahui Nisa masih datang ke kampus, mereka semua berpikir bahwa Nisa telah berhenti kuliah. Namun tidak ada satu pun dosen yang menegur ataupun memperingatkan Nisa tentang hal itu, Nisa juga tidak memperoleh surat peringatan meskipun sudah bolos selama berhari-hari.

__ADS_1


Nisa menjalani aktivitasnya seperti biasa, meskipun dia malas dan tidak belajar, dia masih bisa menjawab semua kuis yang diberikan oleh dosen dengan tepat. Yaa.. bisa dibilang semua orang tahu kalau Nisa adalah orang yang pintar, dan dia juga terkenal sering membuat masalah di kampus. Tidak sedikit juga orang yang tahu nama julukannya, yaitu Trouble Lady. Julukan itu lebih terkenal di bandingkan dengan nama aslinya.


Setelah kelas selesai, Nisa masih berada di tempat duduknya dan juga ditemani oleh kedua temannya, yaitu Jenny dan Isma. Dengan raut wajah yang masam dan terlihat seperti telah kehilangan nyawa, Nisa lalu menempelkan wajahnya di meja sambil berkata, "Sumpah... capek banget..."


"Capek kenapa? Apa gara-gara semalam?" tanya Jenny seolah-olah seperti menyindir.


"Pasti iya lah... namanya juga pengantin baru~" ejek Isma.


"Kalian berdua apaan sih? Jangan begitu dong... aku beneran capek banget... rasanya pengin cepet-cepet liburan!" Nisa lalu mengangkat kepalanya dari meja.


"Liburan? Emangnya belum puas bolos kuliah? Kita semua ngira kalau lo udah berhenti kuliah, bener kan Jen?" tanya Isma pada Jenny.


"Iya, bener..." Jenny lalu mengecek ponselnya dan tiba-tiba dia berdiri. "Emmm... gue duluan ya, soalnya pacarku udah nungguin." Jenny bergegas pergi meninggalkan Nisa dan Isma. Setelah Jenny pergi, Nisa hanya memandang ke arah Isma dan ternganga.


"Hayooo... bingung kan? Gue beritahu ya, Jenny sama Aslan udah jadian. Sekarang lo bisa berhenti jadi mak comblang buat mereka. Tapi, kalian nggak kasihan ya sama gue? Lo udah nikah, sementara Jenny udah punya pacar, sekarang cuma gue yang jomblo..." ucap Isma dengan wajah cemberut.


"Cup... cup..." Nisa menepuk-nepuk punggung Isma dengan perlahan, "Tumben banget jomblo, biasanya kan lo nggak pernah kosong. Tapi, gimana soal cowok yang waktu itu gue kenalin?"


"Maksudnya cowok yang namanya Valen itu?"


"Yup, menurut gue sih... dia tipe lo banget, seharusnya udah ada perkembangan dong..."


"Perkembangan apanya? Dia itu orangnya to the point banget, nggak bisa diajak bercanda. Masa baru kenalan nama, eehh.. dianya langsung tanya mau serius atau nggak? Kalau mau serius lanjut nikah, tapi kalau nggak mending nggak usah buang-buang waktu, dia bilang waktunya sangat berharga. Gue baru tahu kalau ada orang sejenis itu..."


"Haha, beneran begitu? Terus lo jawab apa?"


Valen... Valen... ternyata sikapmu pada orang asing seperti ini, padahal saat di depanku kau selalu gugup dan terlihat sangat pemalu.


"Yaa.. gue jawab ngasal, gue jawab 'Save ya Isma, atau Risma, terserah deh!' udah itu doang. Habis itu dia nggak jawab lagi. Gue sih ogah kenalan sama cowok yang modelnya begitu, gue maunya cari cowok tuh yang cuma baik sama gue, tapi dingin ke cewek lain."


"Hah!? Maksudnya yang rela berubah demi elo, gitu ya?"


Heemmm... sepertinya temanku yang satu ini terlalu banyak halu, mungkin efek dari baca novel.


"Iya, cowok yang cuma manja sama gue, tapi sama cewek lain dia nggak peduli. Itu kan so sweet banget... Gue maunya cowok yang kayak mantan lo, Ricky itu idaman bangeeett!" ucap Isma dengan antusias.


"Ri-Ricky..." raut wajah Nisa seketika berubah murung.


Ternyata selama ini temanku sendiri mendambakan Ricky! Tapi, aku bisa apa? Sekarang aku nggak punya hak, ikhlaskan saja Nisa... relakan Ricky... Lagipula Isma orangnya juga baik, bahkan mungkin saja lebih baik dari aku. Mungkin takdirku memang nggak ada pada Ricky, Ricky terlalu baik untuk orang sepertiku...


"Gapapa kok, kalau elo emang mau sama Ricky, gue nggak keberatan. Gue sadar status kok, sekarang gue nggak punya hak lagi... jadi jangan ngerasa nggak enak sama gue. Malahan gue tenang seandainya elo beneran jadi sama Ricky..." ucap Nisa dengan senyum terpaksa.


"Sumpaaahh... gue beneran nggak punya maksud begitu. Toh Ricky sendiri pasti juga nggak mau sama gue, jadi lo jangan begini dong... Gue beneran minta maaf San..."


Untuk beberapa saat mereka berdua terdiam, dan Nisa langsung menarik tangannya serta memalingkan wajahnya. Isma semakin merasa bersalah saat melihat sikap Nisa. Namun tiba-tiba Isma berkata, "Sebenarnya sih gue nggak mau bilang ini ke elo, gue sama Jenny udah sepakat nggak akan cerita ke elo. Tapi, sekarang gue ngerasa kalau elo harus tahu soal ini..."


"Soal apa?" tanya Nisa tanpa menoleh.


"Uuhh... gimana ya bilangnya... Sania, nanti pokoknya lo sebisa mungkin tahan emosi..." ucap Isma sambil garuk-garuk kepala.


"Bilang aja, gue nggak akan marah kok." ucap Nisa acuh tak acuh.


"Jadi gini... elo kan udah lama nggak masuk, selama elo nggak ada di kampus, banyak banget yang udah terjadi. Yang gue mau ceritain itu masalah Natasha, dia tuh pamer ke orang-orang kalau dia kencan sama Ricky!"


"..." Nisa tersentak sekaligus merasa tidak percaya pada ucapnya Isma. Nisa mulai mengepalkan tangannya sekuat mungkin, dia juga berusaha menahan amarahnya agar terlihat tetap tenang. Namun tiba-tiba Nisa berkata, "Natasha bilang apa aja?"


"Natasha bilang kalau dia udah beberapa kali ketemuan sama Ricky, katanya sih... Ricky juga udah diajak main ke rumahnya, bahkan juga dikenalin sama orang tuanya. Gue sebagai temen lo ngerasa nggak terima, makanya gue ngebantah omongan dia. Gue sama Jenny minta bukti, tapi ternyata dia juga punya buktinya. Buktinya itu foto Ricky waktu main ke rumahnya, bahkan orang tuanya Natasha juga ikut difoto."


Nisa hanya diam dan ekspresi wajahnya berubah sangat masam setelah mendengar penjelasan dari Isma. Melihat hal itu Isma merasa gugup dan merasa bersalah, tapi dia juga ingin menghibur Nisa. "San, elo nggak perlu sampai begini... Toh gue juga udah buat Natasha diem, gue bilang kalau dia itu cuma dapat bekas orang. Ricky itu mantan lo, jadi Natasha itu dapat bekas elo..."


"Heh!" Nisa lalu tersenyum sinis pada Isma, "Elo salah, Ricky itu bukan barang, dia bukan bekas siapa pun! Meskipun gue yang udah pacaran sama dia selama 2 tahun lebih, Ricky juga bukan bekas gue..." Nisa tiba-tiba berdiri dan saat beberapa langkah dia menoleh ke belakang, "Makasih ya infonya..."


"S-Sania..." ucap Isma dengan ekspresi bersalah.


Kok jadinya begini sih? Jangan-jangan Sania itu belum bisa merelakan Ricky, apa dia udah terlanjur sayang banget? Menurutku sih, Sania itu beruntung banget, dia bisa menikah dengan orang yang diidamkan oleh banyak orang, berasa dapat jackpot! Seharusnya hidupnya bahagia kan? Kalau di novel-novel yang aku baca sih begitu...


"Nggak tau ah, semoga aja hidupnya bahagia! Yah.. meskipun menurutku Sania itu sedikit o'on, semoga suaminya nggak ketularan gila..." gumam Isma.


Rasa tidak percaya, kecewa dan kemarahan semua bercampur menjadi satu. Nisa yang mengalami semua itu langsung mencoba untuk tetap tenang, dia tidak ingin menunjukkan ekspresi kecewanya kepada siapa pun. Akhirnya dia memilih untuk menenangkan diri di perpustakaan yang ada di kampus.


Suasana perpustakaan itu terbilang cukup sepi, hanya tersisa sedikit orang saja yang benar-benar ke perpustakaan untuk belajar. Nisa memilih tempat yang ada di pojokan, dan tentunya juga membaca buku supaya pikirannya teralihkan.


Nisa terus membolak-balik halaman buku yang dia baca, namun bukannya tenang dia malah semakin terpikirkan oleh Ricky. Dia terus-terusan bergumam sendiri, dan tentu yang diucapkan adalah kata-kata kotor. "Bangs*t, b*jing*n, a*u, c*leng, tol*l, j*ncok, anj*ng..." (153 nama binatang selanjutnya diabaikan)


Sialan!! Ricky bodoh! Pembohong! Pengkhianat! Kamu bilang kalau kamu cinta aku, tapi kenyataannya malah begini... Dulu aku pernah bilang kalau kamu bisa gantikan aku, tapi kenapa harus Natasha!? Emangnya nggak ada yang lain apa?


Mau marah juga nggak bisa, aku nggak punya hak, sekarang aku sudah bukan siapa-siapa. Tapi, apakah kamu pernah memikirkan tentangku? Sakit... rasanya sakit Ricky! Aku bahkan rela melakukan hal ekstrem untukmu, tapi ternyata semua itu sia-sia.

__ADS_1


Aku jadi penjahat demi kamu, jadi penipu demi kamu, berulang kali melawan suamiku juga demi kamu, semuanya demi kamu! Aku melakukan itu semua karena masih berharap kepadamu, aku bahkan sudah melakukan dosa besar...


Aku telah menipu suamiku sendiri, saat itu aku nggak mabuk, semua itu cuma sandiwara. Aku bahkan menipunya kalau aku sudah nggak perawan, taruhanku sangat besar kan? Aku masih menjaga keperawananku sampai sekarang, kamu pikir semua itu untuk siapa hah!?


Aku melakukan semua itu karena ingin membuat Keyran membenciku, dan aku berharap kalau dia sudah sangat muak, maka dia akan menceraikan aku. Sialan, bahkan aku masih teringat jelas saat dia menciumi tubuhku. Saat itu aku sangat ingin mencekiknya sampai mati, aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan emosi agar rencanaku bisa berjalan sempurna. Aku juga terpaksa muntah karena telah menciumnya. Tapi, ternyata kamu malah...


"Uuuhh... semuanya sia-sia, sekarang aku harus apa?" Nisa terus membolak-balik halaman buku yang dia pegang.


Apa aku benar-benar harus jadi istri yang baik? Idiihhh... aku nggak mau! Keyran itu orangnya cabul, mesum, brengsek, gampang ngambek, aku nggak tahu berapa banyak wanita yang sudah di rasakan.


Sreekk..!! suara robekan kertas.


"Sial..." Nisa langsung terdiam dan menengok ke kanan kiri.


Huft... untunglah nggak ada yang lihat, bisa-bisa nanti disuruh bayar denda. Sebaiknya cepat kembalikan dan pura-pura saja nggak tahu.


Nisa menata sobekan halaman buku itu dengan rapi, dia juga bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja. Setelah dia mengembalikan buku itu di rak, dia berniat ingin mengambil buku lainnya. Saat ingin mengambil buku, tangannya tidak sengaja bersentuhan dengan tangan orang lain yang juga ingin mengambil buku itu. Seketika Nisa langsung menoleh ke arah orang tersebut.


"Hah!? Terry...?" Nisa langsung menarik tangannya kembali.


Gawaaaat, cepetan kabur! Ada petugas babi.


Saat Nisa ingin pergi, tiba-tiba Terry menghalangi jalannya. "Hallo Trouble Lady... mau kemana?" Terry tersenyum jahat, dan tiba-tiba dia menarik tangan Nisa lalu menyeretnya menjauh dari pandangan orang-orang.


"Woii... apaan sih? Jangan tarik-tarik begini!" Nisa lalu menepis tangan Terry, "Memangnya mau apa sih? Padahal aku kan nggak buat masalah..."


"Kau nggak buat masalah? Itu mustahil! Aku menyeretmu karena ingin membicarakan hal penting denganmu. Sebenarnya aku pikir kau nggak kuliah lagi, tapi ternyata hari ini kau masuk. Jadi aku nggak akan melewatkan kesempatan ini!"


"Hal penting apa? Cepat bicara, jangan basa-basi lagi!" ucap Nisa acuh tak acuh.


"Heh! Aku juga nggak ingin bicara lama-lama denganmu! Aku hanya ingin menyampaikan amanat dari dekan, ini soal tugas yang beberapa minggu lalu dia berikan. Dia bilang deadline nya sudah habis, sekarang dia ingin meminta laporan tentang tugas itu! Dekan ingin aku meminta laporan milikmu, mana laporanmu!" Terry lalu mengulurkan tangannya pada Nisa.


"T-tugas... apa yang kau maksud adalah tugas yang berhubungan dengan perusahaan besar itu? Jika iya, kapan-kapan saja lah, aku lupa membuatnya..." Nisa lalu memalingkan wajahnya.


"Tunggu sebentar! Jangan-jangan kau sama sekali belum mengerjakannya! Memangnya perusahaan mana yang jadi objekmu? Aku peringatkan ya, itu harus perusahaan besar loh! Jadi jangan main-main!"


"Emmm... itu... HW Group. Kau juga benar, aku memang belum mengerjakannya. Aku bahkan berada di sana cuma 5 hari. Jadi laporan milikku akan aku kumpulkan kapan-kapan..."


Sialan, tugas ini adalah awal mula hancurnya hidupku. Kenapa aku bisa melupakannya?


"Kau masih bisa santai!? Apa kau tahu masalah apa yang kau buat? Apa kau sudah punya kontrak kerja dengan perusahaan HW? Dan apa posisimu di sana?" tanya Terry dengan nada panik.


"Tsk! Kau saja yang terlalu panik. Posisiku juga nggak penting kok, cuma jadi sekretaris CEO aja..."


"What!? Posisi sepenting itu kau anggap main-main? Sania... dengarkan aku, sebaiknya kau cepatlah minta maaf ke perusahaan itu! Tapi, kenapa kau masih bisa hidup damai, apa perusahaan HW nggak menuntutmu? Apa CEO itu nggak marah?"


"Jangankan marah, saat bertemu dengannya saja, tatapan matanya itu seperti ingin membunuhku. Tapi, akhir-akhir ini dia cukup pendiam, sama sekali nggak membentak ataupun bicara padaku."


"Hah!? Tunggu sebentar... kau bilang cuma di sana selama 5 hari, tapi barusan kau bilang bertemu dengannya akhir-akhir ini. Apa kau bertemu di luar perusahaan? Kau juga bercerita padaku kalau kau pernah mengancam akan membunuhnya, kenapa dia masih membiarkanmu?" tanya Terry terheran-heran.


"Aku bertemu dengannya setiap hari, dia juga membiarkan aku berbuat semauku. Aku bahkan nggak pernah disuruh ini-itu olehnya, dia itu nggak asik!"


"Dasar gila! Setelah semua ini kau masih bisa santai? Apa kau pikir perusahaan itu dengan mudahnya akan menandatangani laporanmu? Tapi, aku sedikit heran... kenapa kau bisa bertemu dengannya setiap hari?"


"Tsk! Pertanyaanmu banyak sekali! Kau tenang saja, besok lusa laporanku akan aku kumpulkan! Dan malam ini akan jadi! Soal kenapa aku bertemu dengannya setiap hari... lebih tepatnya setiap malam," ucap Nisa acuh tak acuh.


"Setiap malam? Apa kau tidur dengannya!? Tidur dengan atasanmu sendiri!" ucap Terry seakan tidak percaya.


"Yup, aku tidur dengannya, itu tugasku."


"WTF! J-jadi tugasmu sebagai sekretaris adalah..."


Ya Tuhan... apa yang barusan aku dengar? Sania menjadi penghangat ranjang CEO dari Group HW, ini adalah berita yang bisa merusak citra perusahaan besar itu sendiri! Tapi, apa CEO itu sudah buta? Bisa-bisanya memilih cewek barbar seperti ini. Pantas saja begitu yakin kalau perusahaan itu akan menandatangani laporan miliknya.


"Hei, sudah selesai kan? Kalau begitu aku pergi..." Nisa ingin pergi, namun tiba-tiba tangannya ditahan oleh Terry. "Apa lagi?" tanya Nisa dengan nada malas.


"Belum selesai, kau masih berhutang satu hal padaku. Waktu itu kau sudah berjanji akan memenuhi satu permintaanku, aku sudah melakukan yang kau minta untuk mencari informasi tentang orang-orang yang punya otoritas di kampus ini. Sekarang penuhi janjimu itu!"


"Cepat katakan!"


Cih, ternyata cecunguk satu ini masih mengingatnya. Aku malas berurusan dengannya.


"Baiklah, apa pun yang aku minta kau harus memenuhinya!"


"Iya iya... Cepat bilang! Aku sangat sibuk!"


"Baiklah, persiapkan dirimu." Terry tiba-tiba mendekat ke arah Nisa dan kemudian berbisik, "Sania, aku mohon jadilah..."

__ADS_1


__ADS_2