
Grizz Glory Casino. Sebuah kasino besar yang namanya sudah dikenal oleh banyak orang. Tetapi, orang-orang tak mengetahui bahwa kasino itu adalah markas utama sebuah kelompok gangster. Aktivitas perjudian di dalamnya dijadikan sebagai penyamaran sekaligus bisnis tambahan bagi mereka.
Para pengunjung kasino yang didominasi oleh wisatawan asing sama sekali tak tahu jika tempat itu sangat berbahaya. Semua pegawai seperti bandar, staf layanan, teknisi mesin slot, kasir dan petugas keamanan, semuanya adalah orang-orang berbahaya yang mempunyai kemampuan membunuh.
Tempat yang dipenuhi oleh kaum hedonis ini sebenarnya termasuk casino hotel. Kebutuhan pemain judi diberikan di dalam satu lokasi. Berbagai macam bentuk umum dari perjudian, seperti mesin slot, poker, rolet, blackjack, dan taruhan lainnya sangat digemari oleh orang-orang ini.
Selain permainan judi, masih terdapat 2.000 kamar suite dengan paket-paket eksklusif yang ditawarkan, semua kamar tersebut terhubung langsung ke kasino. Seluruh kamar didesain dengan gaya Eropa modern dilengkapi dengan berbagai furnitur agar membuat para tamu nyaman. Kasino ini juga menyediakan fasilitas seperti restoran, bar, kolam renang dalam ruangan, parkir valet, dan layanan hotel lainnya.
Selain itu ada juga berbagai macam hiburan, seperti pertandingan tinju, basket dan tenis. Grizz Glory Casino juga mempunyai berbagai macam toko-toko retail yang terkenal untuk pengunjungnya yang ingin berbelanja.
Luas area kasino ini dibagi menjadi 4 area bermain utama, yaitu Black Tail (ekor hitam), Silver Fangs (taring perak), Golden Eyes (mata emas) dan yang terakhir Diamond Claw (cakar berlian). Area kasino tersebut mempunyai 1.800 mesin slot dan 400 meja judi untuk menarik banyak wisatawan dan pengunjung. Tentu bukan sembarang orang yang bisa masuk ke tempat ini.
Meskipun terdapat kesan buruk, kasino ini telah secara resmi mendapatkan perizinan dari pemerintah. Lebih tepatnya tempat ini adalah tempat judi untuk orang asing. Kasino yang tujuannya penghasilan mata uang asing diizinkan negara, apalagi dengan mempertimbangkan besarnya setoran pajak yang dihasilkan. Jadi singkatnya kasino ini bukanlah tempat ilegal. Sungguh disayangkan pemerintah telah bekerja sama dengan gangster tanpa tahu apa-apa.
Saat ini di sebuah meja judi terlihat sekelompok orang yang sedang bermain poker, tampak banyak sekali chip kepingan taruhan yang bertumpuk di sana. Salah satu pemain poker itu tidak lain Nisa, dia tampak bertaruh dengan seseorang pria asing.
"Hmmm~" Nisa bersenandung, dia sangat menikmati permainan poker itu.
Sedangkan di sisi lain lawannya juga tampak santai, seolah-olah sangat yakin jika dia akan menang. Lalu seorang pria lagi tampak sudah tampak pasrah. Hingga tibalah saatnya penentuan untuk membuka kartu. Setiap pemain membuka kartunya untuk mengetahui siapa yang memiliki kombinasi kartu terbaik.
"Full house!" teriak salah seorang pria itu dengan antusias.
"Hehe ..." Nisa menyeringai. "Royal flush! Apa ada royal flush lain?"
"A-apa?!" Semua lawan Nisa kaget, mereka melongo karena tidak percaya jika Nisa memiliki kombinasi kartu yang bernilai paling tinggi.
"Kalau begitu aku menang lagi! Hahaha ... semua taruhan jadi milikku!" Nisa tersenyum semringah.
"K-kau pasti curang! Mana mungkin kau bisa menang secara berurutan terus!" teriak pria yang memiliki kartu full house.
"Buka matamu sialan! Lihat kartu ku baik-baik! Kartu 10, jack, queen, king, dan as semuanya satu jenis! Aku menang terus artinya aku memang hebat, kalian saja yang payah!" bantah Nisa.
"D*mn it!"
"Sudahlah kawan, kita terima saja kekalahan kita."
"Aku datang ke sini karena ingin liburan! Tapi semua uangku malah dirampas oleh wanita ini!" teriaknya sambil menuding ke arah Nisa.
"Huh, salahmu sendiri pasang taruhan yang besar!" ucap Nisa dengan enteng.
"Sialan kau!" Pria itu mendadak berdiri, dia sangat marah dan tiba-tiba saja mengeluarkan sebuah pistol lalu menodongkannya tepat ke kepala Nisa.
KRACAK!
Tanpa peringatan apa pun seorang dealer yang bertugas di meja tersebut menodongkan pistol tepat di kepala pria itu. Sekejap kemudian semua dealer juga menodongkan pistol, diikuti oleh para host, staf layanan, teknisi mesin hingga semua pegawai yang berada di dekat sana.
Sontak saja para pengunjung yang melihat hal itu langsung syok dan kaget, baru pertama kali bagi mereka menyaksikan hal segila ini. Hal gila di mana seluruh staf kasino menodongkan pistol hanya untuk seorang wanita.
Nisa yang masih duduk tenang di tempatnya hanya diam dan tersenyum melihat kelakuan bodoh pria itu. Sedangkan pria itu langsung membeku, dia seketika jadi gugup karena melihat banyaknya pistol yang diarahkan kepadanya.
"S-siapa kau sebenarnya?" tanya pria itu yang tangannya sudah gemetar.
"Aku penguasa tempat ini," jawab Nisa sambil menyeringai.
"K-kalau begitu suruh mereka semua menurunkan senjatanya!"
"Wah-wah ... orang yang tak punya etika, jika kau menginginkan itu maka kau harus buang pistol jelek di tanganmu itu dulu!"
Pria itu langsung melemparkan pistolnya ke atas meja judi itu. Lalu dia mengangkat kedua tangannya yang mengisyaratkan bahwa dia telah menyerah. Meskipun begitu, semua staf masih belum menyimpan kembali senjata mereka.
Tiba-tiba Nisa bangkit, dia mengambil pistol itu lalu mengeluarkan semua pelurunya. "Hmm ... mari kita lihat, ini revolver kaliber 44, dan kau memasukkan 6 peluru di senjata ini. Cukup mengesankan, jadi kau berencana menembakku sebanyak 6 kali?" tanya Nisa dengan tatapan sinis.
"T-tidak!"
"Hoho ... masih bisa mengelak, kalau begitu hukumanmu potong jadi 6 bagian!" ucap Nisa dengan senyuman.
"Nona, m-maksud saya bos besar ... Tolong ampuni teman saya!" pinta seorang pria yang satunya lagi.
"Kau cepatlah minta maaf, Vin! Relakan saja uangmu, pikirkan nyawamu! Kau menyinggung orang yang salah!"
Pria itu menundukkan kepala, dia merasa malu karena tingkahnya yang tidak sabar sekarang dia malah jadi tontonan. "Saya minta maaf! Tolong lepaskan saya!"
"..." Nisa membisu, sekilas dia melirik pria itu lalu dia kembali memalingkan wajahnya.
"Ukhh sialan!" gumam pria itu. Tiba-tiba saja dia mendekati Nisa lalu berlutut di sebelahnya. "Tolong maafkan saya, maafkan kebodohan saya karena telah menyinggung Anda!"
Nisa menyeringai. Dia lalu memberikan isyarat tangan agar semua staf menurunkan senjata mereka. "Heh, kau akhirnya paham juga bagaimana cara meminta maaf dengan benar. Kalau begitu ... hukumanmu akan aku kurangi, kau cukup menerima 6 kali pukulan dari dealer ini."
"T-terima kasih, saya pasti akan belajar dari kesalahan saya!"
__ADS_1
Untunglah, jika cuma 6 kali pukulan aku masih bisa menahannya.
"Oh~ aku lupa mengatakan satu hal, dealer yang memukulmu harus memakai knuckle!" ucap Nisa dengan senyuman iblisnya.
"A-apa?! Itu berlebihan! Saya mohon maafkan saya kali ini saja!" Pria itu ketakutan, dia memohon sambil menyentuh kaki Nisa.
"Ck, singkirkan tanganmu! Kau tak pantas menyentuhku!" teriak Nisa sambil mengibaskan kakinya hingga membuat pria itu nyaris terjatuh ke belakang.
"Seret dia keluar! Terserah mau pukul berapa kali!"
"Baik, bos!" Seorang dealer saja sudah cukup untuk menyeret pria itu pergi. Lalu teman dari pria itu juga merasakan ketakutan, dia yang tak mau menyinggung Nisa akhirnya memutuskan untuk segera pergi dari sana.
Para pengunjung yang lain tak terkecuali. Mereka semua menutup mulut karena tak mau salah bicara, mereka tak ingin menjadi sasaran dari kemarahan Nisa berikutnya. Bahkan semua aktivitas di kasino itu kembali berjalan seperti semula.
"Cih, itu akibatnya jika berani menodongkan senjata padaku!"
"Selanjutnya, siapa yang mau melawanku?!" teriak Nisa yang sontak saja membuat suasana kembali hening. Tak ada satu pun orang yang berani mendekati meja judi itu.
"Aku!" ucap seseorang yang suaranya tidak asing lagi di telinga Nisa.
Seketika Nisa menoleh ke belakang, dia membelalak tak percaya dengan siapa yang dia lihat sekarang. "Jonathan! K-kau di sini?!"
Jonathan tersenyum tipis, dia lalu melangkah semakin dekat ke arah Nisa. "Ya, aku di sini. Sudah lama ya, bagaimana kabarmu?"
Nisa tak menjawab, dia justru berdiri lalu menggandeng tangan Jonathan dan menyeretnya untuk ke suatu tempat. "Ikut aku!"
"Hei, lalu bagaimana dengan poker nya?" tanya Jonathan.
"Kita bisa main lain kali!"
"Kau mau membawaku ke mana?"
"Diam dan menurutlah!"
"Oke-oke ... asalkan bersamamu ke neraka sekali pun aku juga mau."
Nisa melangkah dengan cepat, dia menuju ke sebuah kamar VVIP nomor 11 dan menyeret Jonathan masuk bersamanya. Dia menutup pintu dengan keras, lalu tiba-tiba memojokkan Jonathan ke sudut dinding dengan tangan.
Jonathan yang tak tahu apa-apa merasa bingung. Lalu dengan asal dia kemudian berkata, "Wah ... apa kau sangat merindukan aku sampai-sampai langsung mengajakku ke kamar?"
Nisa menatap Jonathan lekat-lekat. "Bukan! Tapi aku ingin bicara serius! Kau ada di sini jadi kau pasti sudah melihat kejadian tadi. Sekarang kau tahu siapa sebenarnya aku ...."
"Kau sungguh tak menganggap jika itu masalah? Aku sudah menipumu Joe, sebelumnya aku selalu tak pernah jujur terhadapmu."
Jonathan tersenyum tipis, lalu menyentuh dagu Nisa dengan telunjuknya. "Hal itu sama sekali tidak masalah bagiku, lagi pula aku sendiri tidak lebih baik darimu. Aku paham alasanmu merahasiakan identitasmu, aku pun begitu. Kau juga tahu tentangku dari orang lain. Ngomong-ngomong ... tadi kau keren sekali."
Nisa memalingkan wajahnya, dia menarik tangannya kembali dan berdiri memunggungi Jonathan. "Aku tanya satu hal, kenapa kau bisa di sini?"
"Tentu saja untuk mencari suasana, tapi aku tak menyangka jika kau adalah penguasa tempat ini."
"Terakhir kali kau bilang jika kau pulang ke Italia, kapan kau kembali ke sini?"
"10 hari yang lalu," jawab Jonathan yang seketika membuat Nisa terpaku.
"..."
10 hari yang lalu bertepatan saat aku dijebak hari itu! Dan pasti Jonathan juga sudah mengetahui soal berita perselingkuhan itu.
Nisa berbalik, sekali lagi menatap Jonathan lekat-lekat. "Kau mau bicara dengan lebih santai denganku?"
"Ya, aku mau," jawabnya dengan senyuman.
Mereka berdua akhirnya duduk bersama di sebuah sofa berukuran sedang yang ada di balkon kamar itu. Bersama-sama menatap panorama malam dan ditemani oleh beberapa botol bir yang telah tersaji di sana.
Nisa menghabiskan segelas bir begitu saja, tanpa menatap Jonathan dia lalu berkata, "Jujur saja, kau datang ke kasino ini karena sengaja mau bertemu denganku, kan?"
"Ya, aku dengar dari kenalanku jika kau beberapa hari ini sering terlihat di sini. Tapi memang kebetulan yang luar biasa aku bisa menyaksikan langsung yang tadi itu."
"Kenapa kau ingin menemuiku?"
Sekilas Jonathan tersenyum, kemudian meneguk sedikit bir di gelas itu. "Apa kau sudah melupakan yang aku katakan di rumah sakit saat itu?"
Nisa tertegun, dia mencoba mengingat-ingat perkataan mana yang Jonathan maksud. Namun dia tetap tidak ingat, dia menggelengkan kepalanya sambil menghadap ke Jonathan.
"Aku tak akan berhenti peduli, aku akan terus memperhatikanmu dari jauh. Jika kau terluka, carilah aku ... Itu yang aku katakan, tapi kau sudah lupa, jadi aku yang menghampirimu."
"O-oh, maaf aku lupa. Itu salahku karena terlalu naif, aku pikir aku tak akan pernah terluka lagi. Tapi ... kau tahu dari mana jika saat ini aku sedang di posisi itu?"
Jonathan tersenyum, dia mengusap kepala Nisa dengan lembut lalu membuatnya bersandar pada bahunya.
__ADS_1
"A-apa yang ...?!" Nisa mencoba untuk menyingkir namun Jonathan berhasil menahannya agar tetap bersandar.
"Ssttt ... diamlah! Aku tahu jika kau sudah sangat lelah, aku tahu jika kau sudah sangat muak, dan aku tahu jika kau butuh tempat bersandar. Aku kembali ke sini hanya untukmu, jadi kau bebas jika mau bersandar padaku."
Bibir Nisa terasa kelu, semua yang dikatakan oleh Jonathan memang benar adanya dan tidak bisa dia bantah. Sangat lelah dan muak dengan keadaan yang sama sekali tidak memihaknya, diabaikan oleh orang-orang penting termasuk suaminya sendiri.
Beberapa saat Nisa masih diam seperti itu, lalu tiba-tiba saja dia berkata, "Joe, apa kau tahu YOLO?"
"You Only Live Once, kau cuma hidup satu kali."
"Kau benar. Seseorang pernah bilang padaku jika menggunakan konteks itu untuk bersenang-senang dan menikmati hidup. Terus melakukan hal baik, menghindari penyesalan, seakan-akan hidup akan sangat bahagia. Tapi ... menurutku itu adalah kata yang sedih."
"Kenapa?" tanya Jonathan.
"Kita cuma hidup satu kali, lantas apa yang akan terjadi jika kita membuat kesalahan yang tidak bisa diperbaiki? Bagaimana jika kita melakukan hal yang akan kita sesali? Bagaimana jika kita dijebak? Bagaimana jika terjadi masalah karena kesalahpahaman? Dan bagaimana jika kita terlahir dengan lingkungan yang tidak mendukung?"
Sekali lagi Jonathan mengusap kepala Nisa. "Meskipun kita sudah terjatuh berkali-kali, kita harus percaya jika kita bisa memulai hidup kita kembali. Tapi kau benar, kita hanya hidup satu kali ... kita tidak bisa memulai atau mengubah hidup dengan mudah. Karena itulah aku di sini, aku akan membantumu melewati semua ini."
Nisa tersenyum kecil. "Terima kasih, aku beruntung bisa mengenalmu. Kita sama-sama hidup di dunia gelap, bagaimana jika kita saling berbagi pengalaman untuk lebih mengenal satu sama lain?"
"Baiklah, kau bisa mulai lebih dulu."
"Kalau begitu kau harus bersiap untuk kisah yang panjang!"
"Haha, kisahku juga panjang. Jadi kita habiskan malam ini untuk bercerita saja!"
"Namaku Nisa Sania Siwidharma, aku sekarang menjadi seorang ketua gangster. Nama organisasi yang aku pimpin adalah Grizzly Cat."
"A-apa?!" Jonathan terkesiap. "Aku tak menyangka ternyata kau adalah ketua yang misterius itu!"
"Haha, jangan terlalu terkejut. Kau masih lebih hebat ketimbang aku. Oke, kita lanjut. Grizzly Cat, sebuah nama yang konyol sebelum aku mengerti artinya. Tapi sekarang tidak lagi, Grizzly di sini punya arti abu-abu. Itu mencerminkan bisnis organisasi ini yang sebagian tersimpan rapi di kegelapan, lalu sebagian lagi sengaja ditampilkan ke permukaan, misalnya kasino ini."
"Cat, punya artian kucing. Kucing merupakan hewan yang lucu dan menggemaskan, tapi kucing adalah hewan yang bisa menjadikan manusia sebagai budaknya. Ada mitos yang mengatakan jika kucing memiliki 9 nyawa, di organisasi ini juga sama. 9 posisi tertinggi, kami menyebutnya Family. Dan aku adalah salah satunya. 9 nyawa, 9 pilar utama dari organisasi ini. Tapi kejadian mencengangkan di tahun-tahun sebelumnya bukan aku yang mengaturnya, karena aku adalah generasi kedua. Generasi pertama adalah ayahku, dia dan para paman yang membentuk kelompok gangster ini."
"Aku bisa kenal dengan dunia gelap ini karena ayahku. Saat itu umurku 4 tahun, aku punya 2 orang adik laki-laki. Ibuku sudah kewalahan mengurus kedua adikku, dia tidak sanggup merawatku karena aku terbilang anak nakal. Bahkan tidak ada yang mau menjadi pengasuhku. Akhirnya aku sering ikut ayah bekerja di kantor, ayah jadi direktur perusahaan keluarga demi menutupi identitasnya sebagai gangster. Tapi, lagi-lagi aku tidak bisa diam dan malah mengganggu para karyawan."
"Ayahku yang mulai tidak tahan, tanpa sepengetahuan ibuku mengajakku ke kasino ini. Di sini dia mengenalkanku dengan para paman, ayah bilang asalkan aku merahasiakan ini dari ibu maka aku bisa mendapatkan segalanya yang aku mau. Aku menjadikan ini sebagai rahasia kecilku dengan ayah, saat ayah pulang kerja aku juga harus sudah selesai bermain di kasino ini. Jadi sejak kecil pun aku sudah diajari berbohong."
"Lama-kelamaan aku mulai bosan karena tidak ada yang seumuran denganku. Tapi paman Morgan, casino manager saat itu ternyata punya anak dan ternyata lebih tua dibanding aku. Dia adalah Marcell, sekarang dia menjadi tangan kananku. Lalu demi membuatku tetap betah, para paman yang mempunyai anak di luar nikah juga mengenalkan anak mereka untuk menjadi teman bermainku. Sedangkan mereka yang tidak punya, mereka memilih untuk mengadopsi anak angkat. Jadi 9 Family yang sekarang, semuanya adalah anak dari 9 Family generasi pertama. Tapi ... semua itu bermula karena kesalahanku."
"Hm? Kesalahan apa itu?" tanya Jonathan.
"Saat umurku 4 tahun ... aku bercanda dengan menjatuhkan sebuah asbak kaca dari lantai atas. Asbak itu mengenai kepala seseorang yang ternyata membuat orang itu terbunuh karena pendarahan di kepala. Aku sangat syok saat itu, itulah pertama kalinya aku membunuh orang, tapi semuanya mengatakan jika itu tidak apa-apa. Aku boleh mengambil nyawa seseorang jika aku mau. Semua itu dikatakan oleh para paman dengan senyuman. Tak lama setelah itu mereka mulai melatihku dengan segala kemampuan yang harus aku kuasai, mulai dari berkelahi, bahasa asing, menghadapi masa krisis dan masih banyak lagi."
"Semua hal itu membuat masa kecilku berbeda dari orang normal pada umumnya. Aku jadi dewasa lebih cepat, hal yang harusnya tidak boleh aku lihat sudah aku pelajari semuanya. Saat aku mulai menyukai dan beradaptasi dengan itu, tiba-tiba ayahku memutuskan untuk berhenti. Karena ibuku sudah tahu, bahkan dia mengancam akan bunuh diri."
"Tapi kepribadianku yang buruk sudah terlanjur terbentuk, aku mengisi masa sekolahku dengan penuh kenakalan. Lalu saat masa SMA akan berakhir ... aku mengenal Ricky, entah apa yang dia perbuat hingga aku bisa luluh padanya. Aku memutuskan untuk memutus hubungan dengan rekan-rekanku dan meninggalkan dunia gelap ini demi Ricky. Hingga ... semua berubah saat aku dijodohkan dengan suami brengsek itu!"
"Ya ... aku sudah tahu kelanjutannya," ucap Jonathan dengan sedikit senyum kepuasan tergambar di wajahnya.
Haha, entah kenapa aku suka sekali saat Nisa menyebut Keyran sebagai suami brengsek.
"Dia memang bajing*n yang bodoh! Aku sudah setia kepadanya tapi dia malah tidak mempercayaiku! Aku sudah berusaha melindunginya diam-diam tapi dia malah memintaku berhenti! Dia ingin aku jadi istri yang baik dan berbudi luhur, persetan dengan itu! Bilang saja dari awal jika memang tak pernah menginginkan aku! Dengan mudahnya dia bilang enyah!"
Saking merasa geramnya tanpa sadar Nisa sampai mencengkeram baju Jonathan. "Eh?! M-maaf ... aduh, jadi kusut deh ..." Nisa tersenyum canggung, dia mengusap-usap baju Jonathan yang tampak kusut karena merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, tapi ..." Tiba-tiba saja Jonathan menahan tangan Nisa yang masih berada di dadanya.
"T-tapi apa?" tanya Nisa dengan ekspresi gugup karena saat ini wajah Jonathan sangat dekat dengannya.
"Nisa, aku ingin membuat pengakuan."
"Soal apa?"
"Terakhir kali kau meneleponku itu sudah cukup lama. Saat itu kau mendengar suara wanita mendesah, kan? Sebenarnya itu tidak seperti yang kau pikirkan, aku dan wanita itu tidak melakukan apa pun. Aku sengaja menyuruh wanita itu untuk membuat suara erotis agar kau ... cemburu."
"E-eh?! Sialan kau! Aku jadi bersalah saat itu karena merasa telah mengganggu kesenanganmu! Kau bukan membuatku cemburu, tapi membuatku salah tingkah! Lagi pula kenapa aku harus cemburu?"
Jonathan mengalihkan pandangan matanya. "Kau harus cemburu, karena aku adalah suami masa depanmu."
"Hei ... jangan ngawur!" teriak Nisa sambil mencubit pipi Jonathan.
"Cukup, Nisa! Aku serius!" bentak Jonathan yang sontak saja membuat Nisa berhenti mencubitnya. Sedangkan Nisa, dia merasa gugup karena baru kali ini Jonathan membentaknya.
"Orang-orang yang kau anggap penting di sini sudah tidak peduli lagi, bahkan beritamu di media massa juga belum reda. Jadi, maukah kau pergi bersamaku ke Italia?"
"Apa kau menawarkan itu karena kasihan padaku yang sedang terpuruk ini?" tanya Nisa.
"Bukan karena merasa kasihan. Tapi ini murni keinginanku sendiri untuk membuatmu bahagia bersamaku. Jadi apa jawabanmu?"
__ADS_1
"A-aku ..."