
"Sshhh ..." Keyran terbangun dari tidurnya, kepalanya masih terasa sedikit pening karena efek dari alkohol yang dia minum semalam. Kemudian dia melihat sekitar, dia menyadari bahwa pagi ini dia bangun agak lambat dibanding dengan biasanya.
KLAK!
Pintu kamar mendadak terbuka, tampaklah Nisa yang memasuki kamar dengan membawa sebuah nampan berisi makanan di tangannya. Dia sedikit kaget saat melihat suaminya yang sudah bangun.
"Eh? Kapan kau bangun?" tanya Nisa.
"Baru saja," jawab Keyran dengan suara khas nya saat bangun tidur.
Nisa tersenyum tipis, dia berjalan mendekat lalu meletakkan nampan makanan yang dia bawa di atas nakas. Nisa duduk di pinggir ranjang, dia juga mengusap lembut wajah Keyran. Lalu dia berkata, "Bagaimana perasaanmu? Apa masih merasa pusing?"
"Ya, sedikit. Hal terakhir yang aku ingat adalah saat kita masih di restoran dan bertanding minum arak, aku tak ingat bagaimana caranya kita pulang. Apa semalam aku mabuk?"
"Haha begitulah, jadi sekarang aku bawakan sup untukmu. Makanlah agar kau merasa lebih baik."
"Tunggu sebentar! Jika semalam aku mabuk, aku tidak melakukan hal memalukan seperti telanjang di tempat umum, kan?"
"Pffttt ... hahaha, bahkan lebih buruk dari itu!"
"Sungguh?! Aku mohon jangan bohong, Nisa!" pinta Keyran dengan ekspresi panik.
"Astaga, mana ada aku berbohong. Lihat baik-baik baju yang kau pakai sekarang, sudah berganti, kan? Asal kau tahu, kemarin kau merobek bajumu sendiri lalu dengan riangnya kau menari dalam keadaan bugil."
"T-tidak mungkin! Mustahil bagi orang terhormat sepertiku melakukan hal seperti itu meskipun dalam keadaan tidak sadar!" Keyran berusaha menyangkal dengan wajahnya yang memerah.
"Terserah kau mau percaya atau tidak, bahkan ayahmu sampai pingsan karena melihatmu. Darah tingginya kumat gara-gara kelakuan konyolmu, untung saja sekarang ayah mertua kondisinya sudah membaik."
Keyran melongo, sesaat kemudian dia menundukkan kepala dan dengan lesu bergumam, "Sial, mau ditaruh di mana mukaku? Harga diri dan martabatku sudah hilang."
Nisa meringis, perlahan dia mendekati telinga Keyran dan berbisik, "Aku bercanda~"
"K-kau!" Keyran melotot, dia langsung menangkap Nisa erat-erat dan mencubit pipinya karena gemas. "Kau bilang apa barusan? Bercanda?! Apa kau sesuka itu mempermainkan suamimu sendiri?!"
"Umm ... iya-iya ... maaf! Aku tak akan melakukannya lagi! Kau harusnya lega karena aku bercanda, tapi kenapa kau marah? Apa kau berharap kalau itu kenyataan?"
"Tentu saja tidak! Sekarang ceritakan yang sebenarnya!"
"Uhh ... berhentilah mencubit pipiku dulu!"
Keyran langsung melepaskan cubitannya dari pipi Nisa. Sedangkan Nisa, dia memasang ekspresi cemberut sambil mengelus pipinya yang kesakitan.
"Humph, harusnya aku yang marah! Kau tak tahu seberapa menyusahkan dirimu saat mabuk! Kau bahkan nyaris membuat kita berdua mati!"
"Serius? Kali ini kau tidak bohong, kan?"
__ADS_1
"Aku serius, mana mungkin aku membuat nyawa sebagai lelucon. Yang terjadi sebenarnya adalah kau lari ke jalan raya sembarangan, untung saja kita selamat karena lampunya pas sekali berubah dan jalanan sepi."
"O-oh maaf, tapi ... bajuku kenapa bisa berganti? Apa semalam kau melakukan sesuatu padaku?" tanya Keyran dengan senyum canggung.
"Aku melakukan apa?"
"Ehmm ... jadi maksudku ... semalam aku sedang mabuk, bisa saja kau mengambil keuntungan dariku. Tapi jika itu benar-benar terjadi, aku rela ..." ucap Keyran yang wajahnya merona.
"Hei, kenapa kau memasang tampang begitu?! Aku sama sekali tidak melakukan apa pun yang aneh-aneh! Jadi berhentilah berpikir mesum seolah-olah aku telah memperkosamu!"
"Oh, jadi aku yang berbuat sesuatu kepadamu!"
"Iihhh ... bukan!" Nisa merasa gemas lalu mencubit lengan Keyran. "Berhenti berpikir mesum di pagi hari! Bajumu aku ganti karena semalam kita kehujanan!"
"Akhh ... hentikan Nisa! Cubitanmu itu sakit! Dan kenapa kita bisa kehujanan? Kita kan naik mobil."
"Ck, itu karena kau tiba-tiba lari di tengah hujan! Aku terpaksa harus ikut kejar-kejaran denganmu! Huh, untung saja kau tidak sakit. Awas kalau kau sampai demam lagi gara-gara tingkah konyolmu, aku tidak sudi jika harus merawatmu lagi!"
"Maaf ... lagi pula aku sendiri juga tak mau demam lagi," ucap Keyran dengan tampang memelas.
"Kau pikir aku akan memaafkanmu?" tanya Nisa dengan nada ketus.
"Maaf ... darling ...." Keyran semakin berekspresi memelas.
Nisa langsung tersenyum dan menguyel-uyel pipi Keyran. "Baik-baik, kau dimaafkan! Jangan lagi memasang tampang seperti itu! Itu tidak cocok denganmu!"
"Hei, jangan manja!"
"Kalau aku tidak manja ke istriku, aku harus manja ke siapa? Ke orang lain?"
"Sudahlah Key, makanlah sendiri. Kedua tanganmu juga baik-baik saja. Aku bukannya tidak mau, tapi tidak bisa. Aku dikejar oleh waktu."
"Hm? Tumben pemalas sepertimu bisa sibuk?"
"Aku sudah memasuki semester akhir, jadi hari ini aku akan ke kampus untuk menyerahkan berkas-berkas persyaratan kelulusan. Aku juga harus membagi waktuku karena aku dipercaya oleh ayahmu untuk mengurus acara tahunan perusahaan. Jadi kau jangan memanggilku pemalas lagi, aku ini istri yang rajin!"
"Baiklah istriku yang rajin tiada tanding. Aku ingin tanya apa kau serius menerima tanggung jawab dari ayahku? Aku bukannya meremehkanmu, tapi di sisi lain kau juga masih harus memikirkan tentang kuliahmu."
"Haha, tenanglah. Aku sudah mengambil semua mata kuliah yang harus aku ambil, dan nilaiku semuanya bagus, jadi aku juga tidak ada pengulangan mata kuliah. Memang di semester akhir banyak jam kosong yang diganti dengan seminar. Tapi, tugas dari ayahmu ini akan kuanggap sebagai pelatihan untuk menguji skill-ku. Jadi tidak masalah aku tidak ikut seminar, lagi pula itu tidak wajib."
"Hmm ... begitu ya, jadi setelah kau menyelesaikan urusanmu di kampus, kau akan datang ke kantor untuk membuat perencanaan. Aku benar, kan?"
"Iya, tapi sebelum itu aku harus ke kediaman utama dulu untuk menemui ayahmu. Dia selaku komisaris, jadi penting membahas ini dengannya."
"Kediaman utama ya ..." Sejenak Keyran termenung. "Mau aku temani ke sana?"
__ADS_1
"Hm? Untuk apa?" tanya Nisa kebingungan.
"Kau pernah bilang sudah kapok berkunjung ke sana. Jadi aku akan menemanimu agar kau merasa lebih nyaman."
Nisa tersenyum tipis. "Itu tidak perlu, Key. Aku bisa ke sana sendiri, lagi pula hanya sebentar. Jadi kau tak perlu khawatir."
"Cih, ini semua gara-gara ayahku yang suka seenaknya itu! Mentang-mentang dia komisaris, dia memilih melakukan semuanya dari rumah, bahkan aku ragu dia menginjakkan kaki di kantor meskipun hanya sebulan sekali."
"Haha, tidak apa-apa. Cobalah untuk mengerti ayahmu, mungkin saja dia sudah jenuh dan cuma ingin menikmati masa tuanya. Itu terlihat jelas dari betapa dia mendambakan cucu."
Keyran menghela napas, ekspresinya ikut berubah murung. "Kenapa Nisa?"
"Kenapa apanya?"
"Kau tahu jika tugas ini menyulitkanmu, tapi kenapa kau masih mau menerimanya? Aku tahu kau bukanlah orang yang bodoh, kau tak akan melakukan itu jika tidak menguntungkanmu."
"Ah ... aku ketahuan, aku memang punya maksud tertentu saat menerima tanggung jawab ini. Jika aku melakukan ini dengan baik, maka aku akan memperoleh hal yang sulit untuk didapatkan."
"Apa itu?" tanya Keyran penasaran.
"Kepercayaan, penilaian dan pengakuan. Aku ingin membuat semua orang percaya pada kemampuanku. Aku ingin mengubah penilaian buruk orang lain yang selalu menganggapku wanita yang tak bisa berbuat apa-apa. Dan aku juga ingin mendapatkan pengakuan dari semua orang jika aku ini adalah orang yang pantas, orang yang pantas memiliki semua kemewahan yang sudah aku miliki saat ini."
"Aku ini istrinya Keyran Kartawijaya, suamiku adalah CEO ternama yang kompeten dan berkontribusi besar untuk perusahaan. Suatu kehormatan bagiku bisa menjadi istrimu. Tapi ... jika boleh jujur, aku tak terlalu suka jika terus hidup di bawah bayang-bayangmu. Aku benci saat ada yang menganggapku tidak berguna dan hanya bisa mengandalkanmu."
"Jadi, dengan aku mengambil tanggung jawab ini. Otomatis orang-orang akan mengakuiku sebagai seseorang yang pantas bersanding denganmu! Aku ingin mengubah pemikiran menjijikkan orang-orang yang menganggapku cuma mengandalkan ranjang untuk memilikimu. Mungkin ayahmu menyadari hal ini saat aku pernah berurusan dengan dewan direksi, karena itulah aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ayahmu berikan untukku."
"Akan aku buktikan pada semua orang jika aku ini adalah wanita yang pantas untukmu!"
Keyran tersenyum dan mengusap kepala Nisa dengan lembut. "Pintarnya istriku, aku tak akan pernah menyesal telah menikah denganmu."
"Hehe, aku juga senang menikah denganmu."
Sebenarnya itu cuma alasanku yang lain. Tujuan utamaku sebenarnya memang untuk membangun citra yang baik di depan semua orang. Karena identitasku yang asli adalah ketua gangster, aku tidak bisa membiarkan identitas itu mencemari nama baik perusahaan apalagi Keyran.
Apa jadinya jika mereka tahu istri CEO mereka adalah ketua gangster? Pasti akan buruk, semua klien dan rekan bisnis akan takut jika diancam atau dibunuh. Ya memang benar seperti itulah caraku, bahkan aku telah membereskan beberapa orang yang sempat jadi ancaman. Huh, salah mereka sendiri mau menyusahkan suaminya Nisa Sania Siwidharwa.
"Oh iya Nisa! Sebelum kau berangkat ke kampus, tolong suapi aku dulu!"
"Eh? Bukannya tadi aku sudah bilang kalau aku sedang buru-buru!"
"Ayolah ... hanya satu suapan saja, suapi aku pakai mulutmu!" pinta Keyran sambil meringis.
"Permintaanmu aneh, masa aku harus menggigit gagang sendok untuk menyuapimu? Lagi pula jika aku melakukannya, kuah sup nya pasti akan tumpah ke mana-mana."
"Huh, kau ini wanita yang tidak peka! Yang aku inginkan adalah ini ...!" Tiba-tiba Keyran menahan wajah Nisa dan memberikan ciuman di bibirnya.
__ADS_1
"Uhmmm ...." Nisa terkesiap, dia memukul-mukul Keyran pelan untuk melepaskan ciuman itu. Tetapi, yang terjadi Keyran justru menahannya lebih kuat dan menciumnya lebih dalam.
Sial, sepertinya aku akan terlambat.