
"Ricky..." ucap Nisa dengan suara lirih.
Uuhh... kenapa nggak ada suara sama sekali sih? Ricky bahkan nggak muncul setelah ada orang yang masuk, apa dia nggak dengar ya? Apa dia tidur? Semoga saja dia nggak apa-apa. Sekarang aku terlanjur masuk, mungkin aku bisa melihat keadaannya sebentar saja.
Nisa mulai berjalan perlahan, dan tiba-tiba saat berjalan beberapa langkah dia menginjak sesuatu. Karena kondisi ruangan yang gelap, Nisa akhirnya memungut benda yang dia injak itu.
"Ini kertas? Tunggu dulu! I-ini..." Nisa terkejut dan seketika matanya membelalak kemudian tubuhnya mulai gemetar.
Ini foto Ricky dan aku! Ricky merobeknya, bahkan dia juga mencoret dan menuliskan kata 'pembohong' di sobekan gambarku.
"Hahaha, kenapa aku begini? Semua ini memang pantas aku dapatkan. Lebih baik aku hidupkan lampunya." Nisa lalu menyalakan sakelar lampu. "Eh!? I-ini..."
Nisa semakin terkejut setelah dia menyalakan lampu. Dia melihat semua foto miliknya berserakan di lantai, bahkan semua barang yang dia berikan juga dihancurkan. Nisa semakin merasa khawatir, akhirnya dia bergegas mencari Ricky di setiap ruangan. Dan hasilnya dia tetap saja masih belum menemukan keberadaan Ricky. Namun, masih ada satu ruangan yang belum Nisa masuki, ruangan itu adalah kamar Ricky. Nisa berdiri lama sekali di depan pintu kamar. Pikirannya mulai dipenuhi oleh hal negatif yang bermacam-macam, setelah beberapa saat dia mulai memberanikan diri untuk membuka pintu.
"Semoga Ricky ada di dalam..." Nisa menarik napas panjang kemudian membuka pintu. "R-Ricky!?" Nisa seketika terdiam dan mematung.
Nisa dikejutkan oleh keadaan yang sedang terjadi pada Ricky. Dia melihat keadaan kamar yang sangat berantakan, banyak botol bir berserakan di lantai. Keadaan Ricky sangatlah menyedihkan, dia tidak memedulikan apa pun dan pandangannya matanya terlihat kosong. Dia duduk di lantai dan bersandar pada kaki ranjang, bahkan dia juga bergumam sendiri sambil terus meminum bir. Saat Ricky melihat Nisa masuk kamarnya, dia hanya diam dan menatap Nisa dengan matanya yang merah. Selama berhari-hari Ricky tidak tidur dan hanya menangis, dia sangat frustasi karena perbuatan tidak berperasaan yang sudah dilakukan oleh Nisa kepadanya.
"Ricky..." ucap Nisa seakan terdengar sangat menyesal.
Nisa berjalan mendekat ke arah Ricky secara perlahan. Nisa tiba-tiba merebut bir yang dipegang Ricky lalu dia melemparnya ke lantai, tapi Ricky tetap tak berkutik sedikit pun. Nisa mulai merasa muak, akhirnya dia mencoba untuk menarik Ricky untuk berdiri. Setelah Ricky berdiri dia hanya diam dan menatap Nisa untuk waktu yang cukup lama. Namun tiba-tiba dia mencengkeram pundak Nisa dan mendorongnya ke atas ranjang.
"Kyaaa!" Nisa terkaget. Tapi kemudian dia hanya diam dan menatap Ricky yang berada tepat di atasnya.
Ricky sama sekali tidak melakukan apa pun dan hanya menatap mata Nisa. Ekspresi wajah Ricky tampak berubah-ubah, yang tergambar di wajahnya adalah kebencian, kekecewaan, kemarahan, kesedihan dan juga kerinduan. Dia amat sangat kecewa sampai tidak tahu harus berbuat apa. Lalu tiba-tiba dia mendekatkan wajahnya pada Nisa.
__ADS_1
"Kenapa datang? Kamu sudah mencampakkan aku dan menikah dengan orang lain! Apa tujuanmu datang kemari hah!?" teriak Ricky dengan nada kasar.
"Aku datang karena ingin melihatmu Ricky..." ucap Nisa sambil tersenyum.
"Ha ha ha ha ha ha!" Ricky tertawa cekikikan dan tiba-tiba dia turun dari ranjang lalu meminum bir kembali. "Melihatku? Apa kamu belum puas!? Apa kamu masih ingin melihatku yang hancur seperti ini!? Ini semua salahku yang sudah jatuh cinta padamu! Jika aku tahu akan seperti ini, lebih baik dari awal aku nggak kenal kamu! Apa kamu ingin menertawakan aku yang mencintaimu sampai jadi gila seperti ini!?"
"Ricky..." Nisa lalu merebut bir yang dipegang Ricky lalu membuangnya ke lantai. "Ricky, apa aku harus mengingatkanmu kalau kamu itu dokter? Kamu sudah menghabiskan puluhan botol bir, ini nggak baik untukmu. Berhentilah bersikap seperti ini. Semua ini nggak merubah apa pun."
"Heh! Untuk apa kamu peduli padaku!? Urus saja suamimu itu! Aku tahu jika ini nggak merubah apa pun, setidaknya ini bisa membuatku semakin membencimu!" Ricky tiba-tiba menarik tangan Nisa lalu mendekatkan wajahnya. "Nisa, aku sangat kecewa padamu! Aku sangat ingin membencimu, tapi aku tetap nggak bisa merubah kenyataan kalau aku cinta kamu. Kamu sudah menikah, bahagiakan saja suamimu. Nggak peduli seberapa besar cintaku padamu, tetap saja kamu masih mencampakkan aku! Lebih baik sekarang kamu pergi, tinggalkan aku sendiri!"
"Aku nggak mau pergi kalau kamu masih seperti ini, semua orang khawatir padamu Ricky! Aku tahu, aku memang nggak tahu malu. Tapi, aku mohon tolong jangan seperti ini..."
"Aku nggak butuh simpati darimu! Rasa peduli yang kamu berikan nggak akan merubah apa pun. Cinta yang aku berikan padamu nggak berbalas, selamanya kenyataan ini nggak akan berubah! Pergilah!"
"Aku bilang pergi!" Ricky lalu mendorong Nisa kembali ke ranjang. "Nisa... kamu yang memaksaku melakukan ini. Jika kamu merasa nggak terima saat aku mendorongmu, itu bukan urusanku!" ucap Ricky sambil meneteskan air mata.
Untuk beberapa saat Nisa masih terdiam dan semakin lama tubuhnya mulai gemetar. Tapi, tak lama kemudian dia mulai menangis.
"Hik.. Iya!! Aku akui kalau kenyataan selamanya nggak akan berubah! Hik.. hik.. kenyataan kalau aku menikah nggak akan berubah! Bahkan kenyataan kalau aku masih mencintaimu juga nggak berubah! Hik.. hik.. aku juga merasa sakit Ricky... b-bahkan sangat sakit..."
Ricky kemudian mendekati Nisa dan duduk di sampingnya. Lalu dengan senyum pahit dia berkata, "Heh! Kamu pikir aku bodoh? Kamu itu jahat Nisa! Kalau kamu juga mencintaiku seharusnya kamu nggak menikah dengannya! Cintamu itu semuanya palsu, bahkan sampai sekarang kamu masih pura-pura di depanku! Kamu berlagak seolah-olah peduli padaku, semua itu cuma sandiwara yang kamu mainkan!"
"Iyaaa!! Kamu itu memang bodoh! Aku datang kemari karena aku cinta kamu! Aku peduli padamu juga karena aku cinta kamu! Aku menangis karena aku cinta kamu! Hik.. hik.. aku bahkan hampir mati juga karena aku cinta kamu... Aku mencintaimu Ricky! A-aku sungguh... huuaaa..." Nisa menangis sekencang-kencangnya.
"Nisa..." Ricky lalu memeluk Nisa dengan erat dan kemudian dia ikut menangis. "Maaf... Aku memang bodoh, a-aku bodoh telah meragukan cintamu. Maafkan aku... a-aku pikir cuma aku yang merasa sakit. Aku juga salah, aku yang nggak cukup percaya padamu..."
__ADS_1
"Huuaaa... kamu bilang aku jahat, kalau aku jahat maka kamu itu kejam Ricky! A-aku terpaksa... aku terpaksa menikah dengannya. Saat itu kamu adalah harapan terakhir yang aku punya, tapi kamu malah memilih diam. Hik.. hik.. b-bahkan aku lebih suka jika kamu merobek dan menghancurkan tubuhku, kamu bisa melakukan sesukamu! T-tapi... kamu malah memilih diam dan membuat hidupku hancur. Kebisuanmu menghancurkan hidupku. Kamu itu kejam!"
"Nisa... saat itu aku juga merasa hancur, dadaku sesak sekali bahkan bicara pun aku nggak sanggup. Kalau kamu mau, kamu bisa lampiaskan semuanya padaku. Nisa, aku juga sangat mencintaimu..."
"Huuaaa... Ricky, cuma kamu yang mengerti. Sekeras apa pun aku berteriak dan menangis, mereka semua nggak ada yang peduli padaku. Hik.. hik.. t-tapi, meskipun aku selalu menyakitimu, kamu tetap memelukku erat seperti ini. A-aku itu jahat, aku nggak pantas mendapat semua ini. Lepaskan aku Ricky..." Nisa lalu meronta sekuat tenaga.
"Cukup! Nisa, aku sangat merindukanmu... Jadi tenanglah, biarkan aku terus memelukmu seperti ini!"
"Ricky, aku cinta kamu..." Nisa berhenti meronta lalu membalas pelukan Ricky dengan erat.
"Aku juga, sangat mencintaimu..."
Kedua orang itu saling berpelukan dan menangis untuk waktu yang cukup lama. Dalam pelukan itu ada sebuah kerinduan yang sangat besar, mereka sangat merindukan kehangatan. Kehangatan yang hanya bisa diberikan oleh orang yang dicintai.
Sejatinya cinta adalah dua hati yang saling memberi dan berbagai. Terkadang saling memberi penderitaan dan setelah itu saling berbagi kesedihan. Karena mencintai bukan hanya sekedar memikirkan hati sendiri. Tapi tentang dua belah pihak, tentang dua hati.
Walaupun mereka berdua telah dikecewakan, tapi cinta akan selalu datang kepada mereka yang masih mempunyai harapan. Cinta akan datang kepada mereka yang masih percaya, walaupun telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun telah disakiti. Dan juga kepada mereka yang punya keberanian dan keyakinan untuk membangun kembali kepercayaan.
Meskipun pada akhirnya semuanya akan tetap sama, mereka masih harus melepas cinta tersebut. Cinta itu juga tidak harus saling memiliki, karena cinta sejati selalu ingin membahagiakan orang yang dicintai, tidak peduli akan status atau ikatan apa pun. Memang seperti itulah cinta yang murni, semuanya hanya tentang masalah hati.
...••••••••...
Beberapa saat kemudian dia membuka mata dan terbangun dari tidurnya. Dia hanya melihat sekeliling kamar dengan tatapan penuh kekecewaan. Kemudian dia menundukkan kepala serta tubuhnya mulai gemetar. Dia juga menangis dan mulai bergumam sendiri.
"Haha, inilah kenyataan. Ternyata aku sendiri, semua itu hanyalah mimpi. Tolong kembalilah... aku mohon... aku sangat membutuhkanmu..." ucapnya dengan nada kecewa, "Nisa!!!" teriak Ricky sekencang-kencangnya.
__ADS_1