
"Tuan Arie, acara pesta yang anda buat sungguh luar biasa." puji Keyran pada tuan besar keluarga Cakrakumala.
"Haha, tidak perlu memuji, ini memang sudah sewajarnya." untuk sejenak Tuan Arie terdiam. "Lagipula kau menemuiku bukan untuk sekedar menyapa, kau pasti ingin membicarakan tentang proyek real estate."
"Anda benar, proyek itu sempat tertunda karena suatu hal, ditambah saya juga harus mengurus urusan di luar negeri. Dan sekarang, saya ingin membicarakan tentang kelanjutan proyek itu dengan anda."
"Yaa.. tapi sebelum itu, secara pribadi aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu. Yang kau maksud suatu hal tadi pasti itu adalah pernikahan. Tapi aku sedikit kecewa karena kau tidak memperkenalkan istrimu kepadaku. Seperti apakah dia?" tanya Tuan Arie seakan seperti menyindir.
"Saya berterima kasih atas ucapan selamat yang anda berikan. Dan.. istri saya itu sangat berbeda, dia adalah orang yang luar biasa." ucap Keyran dengan senyum terpaksa.
Nisa memang luar biasa, luar biasa tidak tahu malu.
"Oh, ternyata istrimu adalah gadis yang luar biasa. Tentu saja dia tidak bisa dibandingkan dengan putriku..."
"Haha, jangan seperti itu. Istri saya luar biasa hanya menurut saya saja." ucap Keyran dengan senyum canggung.
Orang ini pasti masih punya dendam kepada ayah. Sebelumnya aku memang pernah mengajak salah satu dari putrinya untuk dikenalkan pada ayah, tapi ternyata ayah menolaknya mentah-mentah.
"Melihatmu yang cakap dalam berbisnis, aku sedikit iri kepada ayahmu, dia memiliki putra yang sangat berkompeten seperti dirimu." untuk sejenak Tuan Arie terdiam, namun setelah itu dia memperlihatkan senyum pahit. "Sebenarnya aku juga punya seorang putra yang berkompeten sepertimu, hanya saja dia sama sekali tidak tertarik dengan bisnis. Dia terus sibuk dalam dunianya sendiri."
Bahkan putraku yang satu itu tidak menganggapku sebagai ayahnya.
"Benarkah? Siapa yang anda maksud?" tanya Keyran penasaran.
"Sudahlah, itu tidak terlalu penting. Sekarang ayo bicarakan soal proyek real estate!"
"Baik, jadi bagaimana tanggapan anda?"
"Untuk proyek itu, rencananya adalah...."
Keyran dan Tuan Arie Cakrakumala lalu mulai membahas tentang masalah proyek real estate. Namun tak berselang lama, saat perbincangan mereka sampai di titik serius, tiba-tiba ada seorang pelayan pria mendekat ke arah Keyran.
"Anu... maaf mengganggu tuan..." ucap pelayan itu dengan tampang panik.
"Ada apa?" tanya Keyran dengan tatapan sinis.
"I-istri anda tercebur ke kolam renang!"
"Apa!?" Seketika Keyran menghadap ke arah Tuan Arie. "Permisi, perbincangan kita hanya sampai disini!" Keyran langsung berlari menuju ke kolam renang, dan tanpa disadari Tuan Arie juga mengikuti dari belakang.
***
Begitu sampai di kolam renang, Keyran melihat orang-orang sudah berkerumun. Dia lalu mencoba untuk menembus kerumunan orang-orang itu. Setelahnya, dia melihat Nisa yang sudah tidak sadarkan diri tergeletak di pinggir kolam.
Alangkah terkejutnya dia ketika melihat bahwa istrinya ternyata ditolong oleh seorang pria, pria itu tidak lain adalah Ricky. Namun melihat hal itu, Keyran hanya berdiam diri sambil mengepalkan tangannya sekuat mungkin. Sebenarnya dia sudah mengetahui bahwa Ricky adalah mantan pacar dari istrinya, oleh karena itu dia merasa semakin muak.
Keyran sangat muak ketika melihat Ricky yang memberi napas buatan untuk Nisa. Dan di sisi lain Ricky terus mencoba agar Nisa segera sadar. Saat Ricky memberi napas buatan untuk yang ketiga kali, Nisa masih belum sadar.
Dan untuk yang keempat kalinya, setelah Ricky melepaskan mulutnya dari mulut Nisa, tiba-tiba saja Nisa tersadar. Begitu sadar Nisa langsung memiringkan tubuhnya dan memuntahkan air yang tertelan, "Uhuk.. uhuk..."
Setelah memuntahkan semua air yang tertelan, Nisa lalu mencoba untuk duduk dengan tubuh yang masih lemas dan gemetaran. Nisa sangat terkejut begitu mengetahui bahwa Ricky adalah orang yang menolongnya.
Ricky langsung tersenyum lega dan kemudian menyelimuti Nisa dengan jas miliknya yang masih kering. Dia lalu membelai wajah Nisa sambil berkata, "Syukurlah... tadi aku khawatir sekali..."
"Ricky..." ucap Nisa dengan suara lirih dan matanya yang terlihat berkaca-kaca.
Ricky, kamu basah kuyup dan rela memberi napas buatan kepadaku yang sebelumnya telah berulang kali menyakitimu. Aku nggak tahu harus senang atau sedih karena diselamatkan olehmu.
Di sisi lain Keyran sudah tidak menahan diri lagi. Dia akhirnya mendekat ke arah Nisa dan berjongkok di sampingnya. Keyran lalu melepaskan jas milik Ricky yang menempel pada tubuh Nisa, dia juga melepas jas miliknya sendiri lalu digunakan untuk menyelimuti tubuh Nisa.
Ini adalah pertama kalinya Ricky dan Keyran berhadapan secara langsung, dan tak dapat dipungkiri bahwa ketegangan terjadi di antara mereka. Keyran lalu membopong Nisa dan masih terus menatap Ricky dengan tatapan sinis, dan setelah itu dia berkata, "Terima kasih karena telah menolong istriku, dan menjauhlah darinya!"
"Heh," Ricky menyeringai lalu berdiri dan menatap balik Keyran dengan tatapan sinis. "Kau jaga yang benar!"
__ADS_1
"Tidak perlu kau beritahu!"
Di sisi lain Nisa masih gemetaran dan merasa tidak berani untuk melihat Ricky, dia kemudian menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Keyran. Nisa juga mencengkeram baju Keyran dengan tangan yang gemetar. "Key... ayo pulang, a-aku mau pulang ke rumah..." pinta Nisa dengan suara lirih.
"Baiklah, kita pulang." Keyran lalu berbalik dan berjalan pergi, namun saat ingin melewati Tuan Arie dia tiba-tiba berhenti. "Istriku hampir terbunuh di kediamanmu, masalah soal proyek masih harus berpikir ulang. Terima kasih atas pestanya." ucap Keyran dengan penuh penekanan.
Saat Keyran yang membopong Nisa sudah pergi, orang-orang yang berkerumun juga mulai bubar. Namun Ricky masih berdiam diri di tempat, dia kemudian mengambil jas miliknya yang sebelumnya telah dilempar oleh Keyran. Setelah itu dia berjalan mendekat ke arah Tuan Arie sambil berkata, "Saya pamit undur diri, terima kasih atas undangan pestanya."
Ricky langsung bergegas pergi meninggalkan acara pesta itu. Namun di sisi lain Tuan Arie masih berdiam diri di tempat, dia lalu memandang ke arah kolam sambil mengerutkan dahi. "Ckck... ini masalah besar," ucapnya sambil geleng-geleng kepala.
Karena istrinya hampir terbunuh, masalah ini merambat ke urusan perusahaan. Semoga saja nanti bocah itu tidak berubah pikiran, jika itu sampai terjadi maka kerja sama antara HW Group dan SR Company Tbk bisa gagal. Dan tentu saja kerugian tidak akan bisa dihindari.
Aku harus segera memeriksa rekaman CCTV untuk membuktikan bahwa istrinya tercebur itu karena kecerobohannya sendiri, tidak ada sangkut pautnya dengan percobaan pembunuhan di kediamanku. Dengan begitu mungkin saja kerja sama bisa terus berlanjut.
***
Keyran menuruti permintaan dari Nisa untuk pulang ke rumahnya sendiri. Setelah mereka berdua selesai mengganti baju, Keyran berinisiatif untuk mengeringkan rambut Nisa yang masih basah. Dia lalu menghampiri Nisa yang sedang duduk di ranjang, dan keadaan Nisa saat itu masih terus melamun dengan pandangan matanya yang terlihat kosong.
Saat Keyran hendak mulai mengerikan rambut Nisa menggunakan hair dryer, tiba-tiba saja Nisa menghadap ke arah Keyran lalu mengulurkan tangannya. "Berikan padaku, aku bisa melakukannya sendiri."
"Hah... kau diamlah, sekali saja tolong menurut kepadaku." Keyran lalu menyalakan hair dryer yang dia pegang.
"Oke," dengan raut wajah murung, Nisa lalu berbalik dan membelakangi Keyran. Setelah itu Keyran mulai mengerikan rambut Nisa. "Maaf..." ucap Nisa dengan suara lirih.
"Untuk apa?" tanya Keyran yang masih terus mengeringkan rambut Nisa.
"Aku selalu membuatmu kerepotan, bukankah rasanya seperti mengurus anak kecil?"
"Yaa.. kau benar. Bagiku kau adalah berandal kecil, suka membuat masalah, merepotkan orang, tidak tahu malu, bicaramu juga kasar, intinya kau itu bocah nakal. Hanya beberapa menit aku tidak mengawasimu, tapi kau sudah membuat masalah yang bahkan hampir membuatmu terbunuh. Kau pasti terlalu banyak minum sampai berhalusinasi, bisa-bisanya kau ceroboh hingga tercebur ke kolam renang."
"Kau salah, aku tercebur bukan karena berhalusinasi, tapi memang sengaja dicelakai oleh orang. Awalnya aku keasyikan makan cake di pinggir kolam, lalu mendadak ada orang yang sengaja mendorongku dari belakang hingga aku tercebur."
"Oh, begitu~ Aku pikir kau sengaja tercebur agar bisa berciuman dengan mantanmu, dan.. sepertinya kau tidak berpikir akan ada banyak orang yang melihat." ucap Keyran seakan menyindir.
"Hng! Siapa juga yang ingin menciummu!!" teriak Keyran dengan wajah yang memerah.
"Memangnya siapa juga yang memintamu untuk menciumku? Aku nggak pernah memintanya, yang aku katakan tadi adalah seandainya jika aku ingin berciuman. Itu saja, jadi jangan salting~"
"Huh! Memangnya siapa yang salting!?"
"Ohh.. rupanya kau ingin tahu siapa yang salting. Kalau begitu cobalah ambil ponselmu lalu hidupkan, pilih menu kamera dan aturlah mode selfie. Mudah kan?"
"Kau!! Baiklah, akan aku buktikan kalau aku tidak salting!" ucap Keyran seakan tidak terima.
"Hehe, padahal tinggal mengaku saja. Kenapa susah sekali," Nisa lalu berbalik menghadap ke arah Keyran. "Gengsimu itu tinggal sekali~" ejek Nisa sambil mengangkat kedua alisnya.
"Berhenti mengejekku!" Keyran lalu mematikan hair dryer dan kemudian menaruhnya di meja yang berada di sebelah ranjang. "Kau yang memaksaku!!"
Tiba-tiba Keyran menarik tangan Nisa dan memegang kepalanya, dia lalu menciumnya dengan paksa. "M-mmm... mmm...!!"
Apa-apaan Keyran, tiba-tiba saja dia menciumku! Mau melawan juga nggak bisa, tenagaku sudah terkuras habis setelah tenggelam.
"Mmmm..." Keyran lalu menutup matanya dan masih terus mencium Nisa.
Ada apa denganku? Kenapa aku merasa sangat tidak suka ketika melihat gadis gila ini berciuman dengan orang lain? Sebenarnya aku ingin memarahinya, tapi entah kenapa dari dalam diriku muncul dorongan untuk tidak melakukannya. Jangan-jangan aku sudah tertular gila!
Tak lama kemudian Keyran akhirnya melepaskan ciumannya. Dan di sisi lain wajah Nisa juga berubah menjadi merah, "Haa.. haa.. haa.." Nisa terengah-engah lalu menghalangi mulutnya dengan kedua telapak tangan. "Apa yang kau lakukan, kenapa tiba-tiba menciumku!?"
"Terus kenapa? Mantanmu boleh, sedangkan aku yang suamimu tidak boleh?" tanya Keyran dengan wajah datar.
"Uuhhh... terserah! Rambutku juga sudah kering dan aku sangat lelah, sekarang aku mau tidur!" Nisa langsung berbaring dan menutupi dirinya dengan selimut. "Selamat malam..." Nisa lalu menutup kedua matanya rapat-rapat.
"Huft... aku juga lelah." Keyran ikut-ikutan berbaring dan juga menutupi dirinya dengan selimut yang sama yang dipakai oleh Nisa. "Selamat malam berandal kecil..." Keyran lalu memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
Malam hari semakin larut, namun tiba-tiba Nisa membuka kedua matanya. Dia lalu berbalik dan menghadap ke arah Keyran yang sudah tertidur lelap. Sebenarnya Nisa dari tadi belum bisa tidur, dia hanya berpura-pura.
Nisa lalu beranjak dari ranjang dan kemudian menuju ke kamar mandi. Dia mencuci wajahnya dan setelah itu bercermin pada kaca yang berada tepat di atas wastafel kamar mandi. Dia menyentuh permukaan kaca dan tiba-tiba saja ada ari mata yang keluar.
Nisa menangis, menangis tapi tidak bersuara. Dia menarik tangannya kembali lalu digunakan untuk menutup mulutnya, dia juga bergumam, "Ricky..."
Kenapa... kenapa aku belum bisa lepas darimu? Bahkan, untuk bernapas saja aku masih membutuhkanmu. Aku muak dengan semua nasib buruk ini, rasanya sulit sekali, rasanya sangat ingin menyerah.
Setiap malam aku selalu diam-diam menangis, selalu diam-diam khawatir padamu, selalu diam-diam merindukanmu. Sebenarnya aku sadar bahwa ini salah, seharusnya yang aku pikirkan adalah suamiku, bukan kamu. Aku sudah bersumpah untuk mencintainya, tapi sampai sekarang masih belum bisa.
Aku hanya ingin seperti orang lain, mereka terlihat begitu mudahnya melupakan, bahkan juga begitu mudahnya membenci. Sedangkan aku, aku berusaha mati-matian tapi tetap belum bisa. Jika saja Tuhan mengabulkan permintaanku, aku ingin diberikan satu alasan yang cukup untuk membuatku membencinya.
"Uuhh... sudah, sudah cukup!" Nisa lalu menghapus air matanya dan sekali lagi membasuh wajahnya. "Mungkin aku akan bisa jika pikiranku teralihkan, lebih baik besok kuliah."
Mungkin pikiranku akan teralihkan dengan tugas-tugas yang diberikan oleh pak botak Erwin.
...Keesokan harinya...
...••••••...
Nisa berusaha untuk kembali bersemangat menjalani kesehariannya. Selama beberapa hari dia rajin masuk kuliah. Saat di rumah, dia juga tidak berseteru dengan Keyran.
Untuk sesekali dia meminta izin kepada Keyran agar diperbolehkan pulang lebih malam, dia melakukan dengan alasan ingin bersenang-senang dengan teman-teman. Keyran juga setuju untuk memberikan izin, namun dengan syarat Nisa harus meneleponnya setiap satu jam sekali.
Belakangan ini Nisa tidak membuat masalah satu pun. Dari dalam dirinya mulai muncul rasa kasihan kepada Terry, karena setiap Nisa berada di kawasan kampus, Terry selalu mengawasi setiap gerak-geriknya. Namun ada satu hal yang membuat Nisa menjadi tidak betah, hal itu tentu saja adalah Natasha.
Selama di kampus saat Nisa berpapasan dengan Natasha, Natasha selalu mengompori Nisa dengan hal-hal yang berkaitan dengan Ricky. Bahkan saat ini, sekarang kedua orang itu sedang bertemu di kantin. Nisa duduk bersama dengan kedua temannya, yaitu Jenny dan Isma. Sementara Natasha, dia duduk di agak berjauhan dan juga ditemani oleh teman-temannya.
Natasha mulai melancarkan aksinya, dia berbicara dengan suara yang cukup keras sambil berusaha untuk menyindir Nisa. "Wah... kasihan banget yaa~ dipaksa menikah dengan om-om~"
"Snif..." Nisa menyedot ingus sambil tersenyum pahit.
"Padahal banyak loh yang masih muda~ tapi demi harta tentu saja bukan apa-apa, emang cewek matre~" ejek Natasha.
"Snif..." Nisa masih menahan diri.
"Beruntungnya aku~ dua hari yang lalu kak Ricky mentraktirku ice cream~"
"Snif...!" Nisa mulai mengepalkan tangannya.
"Kak Ricky juga bilang kalau aku cantik sekali~"
"Huft..." Nisa mencoba untuk mengatur napasnya.
Sabar.. sabar Nisa.. ingat kalau kamu sedang diawasi Terry, jadi jangan buat masalah. Dan.. andai saja Terry nggak ada, pasti mulutnya Natasha sudah aku sumpal dengan sikat wc! Setelah aku menghabiskan milkshake, aku akan segera pulang.
Buzz... buzz...
"Eh!?" Nisa lalu memeriksa ponselnya. " Aku dapat email," Nisa lalu membaca email dari seseorang yang tidak dikenal, dan Nisa sangat terkejut ketika melihat isinya.
Email itu melampirkan beberapa foto kemesraan Keyran dengan seorang wanita, wanita itu tidak lain adalah Amanda. Bahkan juga menuliskan bahwa sekarang Nisa sedang ditunggu oleh pengirim email tersebut di sebuah kafe.
"Tsk! Hari penuh ketenanganku sepertinya sudah berakhir," keluh Nisa sambil mengerutkan dahi.
"Ada apa, San?" tanya Isma.
"Gapapa kok, cuma orang yang cari masalah. Tapi masalah ini nggak bisa dibiarkan, aku harus meladeninya. Aku pergi dulu yaa..."
"Oke, pergi sana!" ucap Isma dan Jenny bersamaan.
"Iya, dadah~" Nisa lalu bergegas berjalan pergi sambil melambai-lambaikan tangannya.
Sialan, aku ingin lihat siapa yang berani-beraninya cari masalah denganku! Bahkan juga melampirkan foto mesum suamiku, hehehe kira-kira dia dapat foto ini dari mana yaa~
__ADS_1