Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Anugerah atau Kesialan?


__ADS_3

Nisa langsung tersadar setelah mendengar teriakan dari kedua temannya. Dia meminta Keyran untuk menyudahi berpelukan. Akhirnya Keyran menuruti permintaan Nisa meskipun sebenarnya dia masih belum puas. Dia lalu melirik ke arah Jenny dan Isma dengan tatapan mata yang sinis.


Cih, kalian ini dasar para pengganggu! Mungkin sebaiknya aku meminta Nisa untuk cari teman yang lain.


Keyran lalu kembali memandang ke arah Nisa dan tersenyum lembut. "Sudah merasa lebih baik?"


"Iya, sudah." Nisa lalu memungut ranselnya yang sebelumnya terjatuh ke lantai. "Sekarang apa?"


"Kemarilah ..." Keyran lalu menuntun Nisa untuk kembali duduk di bangku. "Tunggu sebentar ya, aku akan segera kembali."


Saat Keyran hendak melangkah tiba-tiba tangannya ditahan oleh Nisa. "Kau mau kemana?"


"Aku ingin memberi sedikit pelajaran kepada seseorang. Dia masih harus menanggung konsekuensi dari perkataannya." Keyran lalu tersenyum dan melirik ke arah Terry.


"Baiklah, lakukan sesukamu ..." Nisa juga menangkap isyarat itu, dia lalu tersenyum dan melepaskan tangannya dari Keyran.


Keyran langsung berjalan ke arah Terry. Dia kemudian mengajaknya menepi dari pandangan orang-orang untuk berbicara secara empat mata. Bahkan Keyran juga menatap Terry dengan tatapan yang begitu mengintimidasi, seakan-akan seperti sebuah ancaman.


Tak dapat dipungkiri bahwa Terry mulai merasa gugup. Dia sedikit bingung dengan apa yang sedang terjadi, dia berpikir bahwa dia sama sekali tidak membuat kesalahan apa pun, karena yang dia lakukan hanyalah mengatakan sebuah kebenaran. Terlebih lagi yang membuatnya ikut campur adalah Keyran sendiri.


"Apakah ingin membuat perhitungan denganku?" tanya Terry yang mencoba untuk terlihat tetap tenang.


"Ya, tepat sekali. Memang masih ada hal yang harus diperhitungkan. Apakah semua yang kau katakan tadi itu benar?"


"Eh!? T-tentu saja benar, memangnya apa gunanya aku berbohong?"


Kaget aku, aku pikir karena terlihat bucin dia akan langsung mengancam dan menargetkan perusahaan keluargaku. Ternyata rumor itu benar, tuan muda dari keluarga Kartawijaya memang punya pandangan yang menyeluruh.


"Jika memang benar, berapa nomor plat mobil lamborghini itu?"


"Nomornya ..." untuk sejenak Terry terdiam. "Aku lupa, aku hanya melihat sekilas."


"Heh, jangan pura-pura! Tanggal dan waktu kejadiannya saja kau ingat, masa nomor plat bisa kau lupakan?"


"Aku sama sekali tidak berpura-pura. Aku ingat tanggal karena saat itu merupakan tanggal deadline dari sebuah tugas. Dan untuk waktu, aku ingat karena waktu itu adalah jamnya kelas telah berakhir. Untuk plat nomor mobil itu aku benar-benar tidak ingat."


"Baiklah jika kau memang tidak ingat. Apa kau mengenal pria yang menjemput istriku?"


"Tidak, dia adalah orang asing. Seumur hidup aku baru pertama kali melihatnya."


"..."


Orang ini baru pertama kali melihat pria itu. Jadi pria itu ternyata baru sekali menjemput Nisa. Untuk masalah nomor plat, nanti aku akan mencari tahu lewat CCTV yang berada di sekitar kawasan kampus.


"Apa hanya ini yang ingin ditanyakan?"


"Tidak, masih ada hal lain. Kenapa sepertinya kau itu sangat tidak suka kepada istriku, dan kenapa istriku bisa sangat membencimu?"


"Haiss ... kalau soal itu ..." Terry lalu menyerahkan catatan kecil yang khusus dibuat untuk Nisa pada Keyran. "Baca saja, nanti pasti akan paham." ucap Terry dengan nada malas.


Keyran mulai membaca catatan yang diberikan oleh Terry. Dia membacanya dengan teliti dan tak melewatkan satu kata pun. Namun saat di pertengahan dia tiba-tiba berhenti membaca, bahkan dia juga mengerutkan dahinya.


Ternyata Nisa membuat masalah yang sangat banyak, pantas saja orang ini sangat tidak suka kepada Nisa. Tapi pelanggaran sebanyak ini ... pihak kampus harusnya memberi Nisa surat peringatan, bahkan sewajarnya Nisa itu di drop out.


Mungkin selama ini Nisa selalu dibiarkan karena petinggi kampus tahu kalau aku adalah suaminya. Sebenarnya aku tidak terlalu suka, ini terkesan seperti nepotisme. Tapi anehnya ... sebagian besar pelanggaran yang dibuat Nisa sebenarnya bisa dihindari. Bahkan Nisa itu juga termasuk orang yang cerdas, jangan-jangan dia memang sengaja melakukan semua pelanggaran ini.


Jika memang sengaja, pasti Nisa juga punya motif tertentu. Apakah mungkin motifnya adalah membuat orang ini kesusahan? Jika memang begitu, aku harus melakukan sesuatu. Ini juga demi kebaikan Nisa.


"Emm .. ternyata pelanggaran yang dibuat istriku cukup banyak. Ini, simpanlah kembali." Keyran lalu menyerahkan catatan itu kepada Terry.


"Memang banyak. Bahkan masih ada catatan yang lain, sejak masih masa ospek dia itu sudah membuat begitu banyak masalah."


"Istriku sudah banyak menyusahkanmu. Sebagai suaminya aku ingin meminta maaf mewakili dia. Tolong terima permintaan maaf ini ..."


"Hah!?"


A-apa ini? Dia baru saja meminta maaf, ini sangat bertolak belakang dengan yang aku pikirkan. Aku pikir dia akan mengancamku jika aku berurusan dengan Sania. Ternyata dia rela merendah diri demi istrinya.


"Satu hal lagi, aku ingin kau sebisa mungkin jangan muncul di depan istriku! Dan juga jika istriku membuat masalah maka segera laporkan padaku. Aku adalah suaminya, aku juga walinya, jadi aku berhak tahu semua yang dilakukan olehnya selama di kampus. Apa kau bisa melakukannya?" ucap Keyran seakan memaksa.


"Anda ingin aku mengawasi istri Anda sendiri?"


"Iya, dan jangan biarkan istriku tahu akan hal ini! Toh kau sendiri menulis semua pelanggaran secara rinci, pasti selama ini kau juga sudah mengawasinya. Hanya saja kali ini sebisa mungkin jangan muncul di hadapan istriku."


Nisa tidak senang melihatmu, sekarang dia sedang hamil dan aku ingin memastikan kalau suasana hatinya selalu baik.


"Baiklah, setidaknya sebagai suaminya Anda memiliki kesadaran. Saya harap Anda juga bisa menasihatinya."


"Heh, aku bisa mengurus istriku sendiri dengan baik. Tidak perlu saran darimu. Ini saja yang ingin aku katakan. Dan kau harus mengingat semua perkataanku tadi baik-baik!" Keyran langsung berjalan pergi meninggalkan Terry dan kembali menemui Nisa.


"Huft ..." Terry menghela napas sambil terus memandangi Keyran yang berjalan pergi.


Dasar licik! Di hadapan istri dia bilang percaya, tapi sebenarnya dia tetap curiga. Bahkan juga memintaku untuk melaporkan semuanya, padahal kan aku bukan bawahan atau pesuruh. Ternyata dia juga bersikap seenaknya.


Soal nomor plat ... sebenarnya aku ingat, aku berbohong karena enggan ikut campur urusan mereka. Bahkan sebenarnya aku juga mengenal pria itu, namanya Jonathan, Jonathan Harrison. Aku mengenalnya karena kakakku pernah berurusan dengannya. Tapi sepertinya dia tidak mengenalku.


Yang paling membuatku jengkel adalah Sania, dia adalah orang paling licik yang pernah aku temui. Aku tahu alasan dia menamparku, alasannya bukan karena marah, tapi pengalihan. Dia ingin mengalihkan perhatian suaminya, dia takut jika terus ditanyai dan membuat kebohongan pada suaminya.


Aku cukup mengenal Sania, dia itu terbilang cukup misterius dan sangat nekat. Bahkan pernah ada sebuah kejadian yang cukup aneh, dulu ada seorang mahasiswi yang pernah berseteru dengannya. Tapi tiba-tiba mahasiswi itu putus kuliah, ternyata mahasiswi itu mengalami trauma dan sekarang dia berakhir di rumah sakit jiwa. Bahkan setelah diselidiki ternyata membuktikan bahwa Sania sama sekali tidak terlibat. Kejadian ini membuat sebagian besar orang merasa takut jika berurusan dengannya.


Entah apa pun yang dilakukan Sania, lebih baik jangan sampai terlibat dengannya, dan terpenting jangan sampai masuk dalam pandangannya. Dia itu bisa membuat semuanya menjadi terbalik, bahkan sekarang dia juga berhasil melakukannya. Padahal yang dicurigai berselingkuh adalah dirinya, tapi akhirnya malah suaminya yang meminta maaf kepadanya. Dia bertingkah seolah-olah difitnah dan terdzolimi. Padahal penjahatnya adalah dia sendiri.


Sang suami bersikap curiga, sementara sang istri tidak mau jujur. Mungkin mereka berdua terlihat mesra, tapi kepercayaan di antara mereka adalah nol. Lebih buruk lagi jika ada dendam di antara mereka. Entah apa yang akan terjadi dengan pasangan ini?


"Sudahlah, lebih baik segera ke perpustakaan. Masih ada tugas yang harus dikerjakan, Anthony pasti sudah lama menungguku." Terry langsung bergegas pergi meninggalkan kantin dan menuju ke perpustakaan.


***


Setelah Keyran kembali, dia langsung duduk tempat di sebelah Nisa. Lalu dengan senyum lembut Nisa berkata, "Tadi kau bilang apa saja kepadanya?"


"Tidak banyak, aku hanya memperingatkan dia untuk menjauh darimu. Kau lebih senang jika dia tidak ada kan?"

__ADS_1


"Iya. Lalu sekarang ... ayo pulang!"


"Sekarang belum bisa, kau masih harus menghabiskan makanan yang aku bawa."


"Key ... aku sudah kenyang, sekarang aku ingin pulang!"


"Aku tahu kau bohong, kau baru makan beberapa suap, mustahil jika kau sudah kenyang. Sekarang aku akan menyuapimu lagi ..." Keyran lalu mengarah sesendok sup brokoli ke mulut Nisa, tapi Nisa malah memalingkan wajahnya. "Ayolah ... jangan rewel."


"Humph! Aku nggak bisa!"


"Kau hanya harus membuka mulut dan mengunyah. Memang apa susahnya?"


"Bukan itu maksudku ..." keluh Nisa dengan tampang cemberut.


"Terus apa? Apakah karena kau masih marah dan enggan untuk makan dari tanganku?"


"Juga bukan itu. Cobalah kau lihat dulu keadaan di sekelilingmu! Ada lebih dari 50 orang yang terus memperhatikan kita, bahkan beberapa juga ada yang memotret. Aku nggak mau kalau sampai foto kita dipajang di mading kampus!"


"Heh, kenapa harus takut jika dipajang di majalah dinding? Saat kau bicara sarkas kau tidak takut sama sekali, tapi kenapa jika adegan mesra harus takut?"


"Hei hei, jangan mengejekku! Semua orang di kampus ini termasuk petugas yang membersihkan toilet juga sudah tahu kalau aku memang barbar, jadi jika keburukanku diekspos itu sudah biasa. Tapi kali ini berbeda, pasti semua orang akan tahu kalau kau adalah suamiku! Toh disuapi seperti ini juga termasuk memalukan ..."


"Menurutku itu bagus, jika semua orang tahu kalau aku adalah suamimu itu sangat bagus. Setidaknya jika ada yang tertarik padamu, mereka pasti akan berpikir dua kali. Nah, sekarang ayo aaaa ..." Nisa masih menutup mulutnya rapat-rapat. "Sekarang apa lagi?"


"Apa kau masih belum paham? Aku mana bisa makan jika terus diperhatikan oleh banyak orang? Sekarang aku kehilangan nafsu makan ..."


"Haiss ... kalau begitu," Keyran lalu menarik napas dalam-dalam dan kemudian berteriak, "Hei kalian semua! Kalian tidak diperbolehkan untuk melihat istriku! Dia bukan topeng monyet untuk menghibur kalian! Istriku tidak mau makan karena dilihat oleh kalian! Jadi jangan melihatnya, jika tidak maka bersiaplah menerima konsekuensinya!!"


Setelah Keyran berteriak semua orang langsung menundukkan kepalanya dan menahan tawa. Dan Nisa hanya ternganga dan tak berkedip sekali pun. Namun Keyran malah tersenyum lembut kepadanya sambil berkata, "Nah, sekarang ayo aaaa ..." Keyran lalu menyuapi mulut Nisa yang masih ternganga. "Sekarang kunyah!"


Secara refleks Nisa menuruti perintah Keyran. Dan pada akhirnya Nisa menghabiskan semua makanan tanpa adanya keluhan. Setelah semua beres, Keyran lalu mengajak Nisa untuk pulang. Tapi, Nisa masih tidak berkata apa pun.


Di luar kampus ternyata sudah ada Valen yang telah menunggu mereka. Bahkan setelah di dalam mobil Nisa masih saja terdiam, namun tiba-tiba kesadarannya kembali saat Valen berkata, "Nyonya, apakah bakso beranak buatan tuan enak?"


"Eh!? Bakso...?" untuk sejenak Nisa terdiam. "Ah, sekarang aku ingat! Bakso buatan Keyran sangat sempurna, bahkan aku merasa sayang untuk memakannya." Nisa lalu tersenyum pada Keyran dan mengangkat kedua alisnya. "Benar kan darling?"


"Iyaaa ..." jawab Keyran dengan senyum canggung.


"Haha baguslah kalau memang sempurna. Saya bertanya karena tadi bibi Rinn menelepon saya, dia bilang kalau tuan membawa bakso yang salah."


"Hei, tutup mulutmu! Cepat jalan sana!"


"B-baik tuan ..." Valen langsung menancap gas.


Aku bisa menebak seperti apa reaksinya nyonya, pasti nyonya langsung memuntahkannya. Kasihan ... padahal tuan telah bekerja kerja, tapi hasilnya malah zonk.


Selama di perjalanan mereka bertiga tidak berkata sepatah kata pun. Namun ketika sudah hampir sampai rumah, tiba-tiba Nisa berkata, "Valen, mampir dulu ke supermarket!"


"Baik nyonya ..."


***


Tak lama kemudian mereka sampai di parkiran supermarket. Nisa langsung turun dari mobil, namun tiba-tiba saja Keyran dan Valen juga ikut turun. Nisa pun kebingungan lalu berkata, "Untuk apa kalian berdua turun?"


"Hei, kedua tanganku masih lengkap. Aku bisa mendorong troli sendiri."


"Pokoknya tidak boleh! Kau baru saja selesai kuliah, kau pasti kelelahan. Dan kau jangan membantah, ini demi kebaikanmu!"


"Iya nyonya, benar apa yang dikatakan oleh tuan. Nanti saya saja yang akan mendorong."


"Terserah deh ..."


Kedua orang ini aneh, tapi jika aku berdebat dengan mereka itu malah akan membuatku semakin lelah.


Ketika di dalam supermarket, tentu saja Valen yang mendorong troli belanja. Tapi barang-barang yang dibeli oleh Nisa semuanya adalah snack yang bermacam-macam yang terdiri dari, makaroni, keripik, cokelat, wafer dan masih banyak lagi.


Keyran mulai merasa sedikit bingung karena Nisa hanya membeli snack yang menurutnya tidak baik jika terlalu banyak dimakan. Lalu dia pun berkata, "Untuk apa kau membeli snack yang begitu banyak?"


"Untuk acara nanti malam."


"Acara apa?"


"Acara nonton film, nanti malam jam 11 akan ditayangkan film kesukaanku. Kalau mau kau juga bisa bergabung denganku."


"Memangnya film apa sampai kau bersemangat seperti ini?"


"Ada deh, yang pasti bukan sinetron ku menangiiiisss.... kayak di indosihir! Nanti kau pasti juga suka."


"Terserah, tapi kau tidak boleh begadang!"


"Iya iya ... nanti setelah filmnya selesai aku langsung tidur."


Mereka bertiga lalu melanjutkan belanja. Tapi Nisa berhenti cukup lama saat di depan freezer minuman yang berderet-deret, Nisa mengerutkan dahinya dan terlihat berpikir keras. Dia masih bingung ingin membeli minuman yang mana.


Menit demi menit telah berlalu, dan Keyran mulai merasa kesal. "Kenapa diam saja? Apa di depanmu ada soal matematika?"


"Tsk, diamlah! Aku masih bingung ingin mengambil yang mana, semua minuman ini sangat enak."


"Pilih saja yang paling kau suka!"


"Tapi aku suka semuanya ..."


"Oh, kalau begitu ..." Keyran lalu memandang ke arah Valen yang masih memegangi troli. "Valen!"


"Iya tuan?"


"Segera akuisisi semua perusahaan minuman ini!"


"Hah!?" ucap Valen seakan tidak percaya. Kemudian dia melirik ke arah Nisa lalu dengan suara lirih dia berkata, "Nyonya ..."


"Key, untuk apa kau ingin mengakuisisi semua perusahaan minuman ini?"

__ADS_1


"Kau bilang kau suka, jadi aku ingin agar kau tidak kekurangan stok." ucap Keyran dengan enteng.


"Huft ... jangan akuisisi perusahaan mana pun. Aku akan mengambil satu minuman saja." Nisa lalu mengambil salah satu minuman dari dalam freezer. Namun Keyran merasa kalau minuman yang diambil oleh Nisa sedikit bermasalah.


"Apa kau serius mengambil minuman itu?"


"Ini minuman khusus untuk wanita, jamu nyiranti!"


"Aku tahu kalau itu jamu, tapi kenapa kau ingin meminumnya!?"


"Key ... masa aku harus menjelaskannya? Seharusnya kau paham!" Nisa lalu memelankan suaranya, "Perutku terasa kram, ini karena aku telat datang bulan. Makanya aku mau minum jamu."


"Kau!!" Keyran langsung merebut minuman dari tangan Nisa lalu memasukkannya kembali ke dalam freezer. "Telat datang bulan itu normal, kau tidak perlu meminum jamu!"


"Apa?"


Normal? Apa menurutnya datang bulan tidak teratur itu normal? Pasti dulu saat pelajaran biologi dia selalu bolos. Padahal kan pelajaran biologi itu asik, apalagi soal bab reproduksi.


"Pokoknya kau tidak diperbolehkan minum jamu!"


"Huh, terserah ... Masih ada yang ingin aku beli."


Mereka bertiga terus melanjutkan berbelanja. Tapi Nisa berhenti lagi saat di depan rak yang dipenuhi dengan mi instan yang beraneka ragam. Saat Nisa ingin mengambil sebungkus mi instan, tiba-tiba saja tangannya ditahan oleh Keyran.


"Aku sudah bilang kalau mi instan itu tidak sehat, kenapa kau masih bersikeras untuk memakannya!?"


"Baiklah," Nisa langsung menepis tangan Keyran, tapi dia malah mengambil sebungkus mi instan lalu berpose aneh. "Darling~ mi instan yang ini berbeda, mi ini dikeringkan dengan cara dipanggang, bukan digoreng~ Mi ini dibuat tanpa pengawet dan pewarna buatan, warna air rebusannya jernih dan aman dikonsumsi setiap hari~ Inilah mi instan lemonijo! Harga nambah dikit, manfaat nambah banyak. Boleh aku memakannya?"


"Hmmm ... Valen!"


"Iya tuan?"


"Nanti segera akuisisi perusahaan yang memproduksi mi instan merk ini!"


"Uuhh ..." Valen lalu melirik ke arah Nisa. "Nyonya ... tolong ..."


"Cih, sekalian saja kau beli supermarketnya." ucap Nisa dengan nada malas.


"Ide bagus. Valen, cepat panggil manajer supermarket ini!"


"Hei hei, apa yang kau katakan!? Aku cuma bercanda, kau ini sebenarnya kenapa sih?"


Tahu begini ... lebih baik aku belanja online dari rumah.


"Aku hanya mencoba memenuhi permintaanmu, memangnya ada yang salah?"


"Tentu saja salah, kau terlalu berlebihan."


"Bagiku ini hanya seberapa, tidak berlebihan sama sekali. Setelah membeli supermarket ini, nanti aku akan merubah kepemilikannya dengan namamu. Jadi kedepannya kau bisa lebih nyaman berbelanja."


"Astaga, seandainya aku menginginkan taman hiburan, bioskop, pom bensin, stadion, dan restoran, apa kau akan tetap memenuhi permintaanku?"


"Iya, bahkan aku juga sudah membeli restoran yang waktu itu kita gunakan untuk makan malam bersama kakakmu. Kalau kau mau, aku bisa mengubah nama kepemilikannya dengan namamu. Sekarang kau bisa gratis makan sepuasnya di sana."


"Kau ..."


Keyran ini benar-benar crazy rich, dia benar-benar kaya dan benar-benar gila. Bisa menikah dengannya merupakan anugerah atau kesialan?


"Sudahlah, aku nggak jadi beli mi instan, snack saja sudah cukup. Sekarang ayo cepat bayar lalu pulang!"


...Malam hari, pukul 22:30...


...••••••...


Di dalam kamar semua persiapan untuk acara menonton film sudah selesai disiapkan. Dan Nisa juga sudah berganti baju dengan piama, sejak kejadian malam itu dia sudah kapok tidak lagi hanya memakai tank top dan celana pendek.


Saat ini Keyran juga belum tidur, dia berniat ingin menonton film bersama Nisa. Sambil menunggu filmnya dimulai, mereka berdua duduk bersebelahan di ranjang dengan tenang sambil memandangi iklan di tv dan terus memakan snack.


Tiba-tiba saja Keyran merebut snack dari tangan Nisa. "Berhenti sebentar, aku ingin bicara! Ini serius."


"Apa sih? Kan tinggal bilang saja."


"Aku ingin menagih janji, janjimu yang tadi pagi itu!" wajah Keyran lalu memerah. "Kau bilang setelah di rumah kau ingin melanjutkan ciuman itu ..."


"I-itu ..." Nisa lalu memalingkan wajahnya. "Kau pasti salah dengar ... mana mungkin aku pernah bicara begitu?"


"Hei ... apa kau malu mengakuinya? Toh ini juga bukan yang pertama kali, pokoknya kau harus melanjutkan ciuman itu!" Keyran lalu memegang wajah Nisa dan memalingkannya untuk menghadap ke arahnya. "Ayo ... buktikan perkataanmu~"


"...." Nisa lalu menutup matanya. "Cepat lakukan! Jangan sampai filmnya terlewat ..."


"Heh ..." Keyran lalu menyeringai.


Padahal filmnya baru akan mulai 30 menit lagi, ternyata kau ingin berciuman selama itu. Jika itu permintaanmu, tentu saja aku ladeni.


Dengan tangan yang satunya lagi, Keyran lalu membelai leher, wajah dan telinga Nisa. Jari-jari tangannya juga masuk ke dalam helai rambut Nisa. Pandangan mata Keyran meredup, dia lalu sedikit memiringkan wajahnya dan kemudian mencium bibir Nisa. Setelah itu Keyran menutup matanya dan mulai menikmati setiap detik ciuman itu.


Nisa membuka matanya, saat melihat Keyran yang masih menutup mata, dia lalu kembali menutup matanya dan tidak melawan sedikit pun. Keyran juga membuka matanya, dia lalu kembali menutup mata ketika melihat Nisa yang seperti ingin berciuman lebih lama.


Tak lama kemudian secara bersamaan mereka membuka mata. Dan kemudian mereka berdua melepaskan ciuman itu secara perlahan. Keduanya terengah-engah sekaligus wajahnya juga ikut memerah.


"Nisa, tutup matamu!" pinta Keyran dengan senyum lembut.


"Kenapa? Apa masih kurang?"


"Lakukan saja! Aku akan memberimu kejutan."


"O-oke ..."


Setelah Nisa menutup matanya rapat-rapat, Keyran lalu mengambil sesuatu dari saku celana. Dia kemudian menyodorkan benda itu tepat di depan wajah Nisa.


"Nah, sekarang buka matamu!"

__ADS_1


"Memangnya apa sih?" Nisa lalu membuka matanya, dan dia sangat terkejut dengan benda yang ditunjukkan oleh Keyran kepadanya. "I-ini ... test pack!?"


__ADS_2