
"Kak! Bangun Woi!" Teriak Reihan.
"Berisik.... pergi sana!"
"Ayo kak! Bangun! Buka matamu! Ini hari pertunanganmu loh! Apa kakak tidak peduli dengan itu?"
"Cuma pertunangan.... kau wakilkan saja.... Cepat pergi... kau mengganggu tidurku...."
"Apa kakak sudah gila!? Jika aku mewakili kakak maka semua orang akan menganggapku dan calon kakak ipar sebagai pasangan gay! Aku nggak mau!"
"Terserah.... aku malas...."
"Kak! Cepat bangun! Calon kakak ipar sudah datang untuk menjemputmu! Kalau kakak terus seperti ini, dia sendiri yang akan menyeret kakak!"
"Hah!?" Langsung bangun karena kaget.
"Akhirnya bangun juga...."
"Dia sudah disini!? Emangnya ini jam berapa?"
"Kakak ini kebangetan... ini sudah jam 4 sore loh!"
"Sial! Kau pergilah dulu, bilang padanya 10 menit lagi aku siap!"
"Oke!"
Reihan akhirnya pergi dan meminta pada Keyran untuk memberikan waktu 10 menit untuk kakaknya bersiap. Lalu, tak lama kemudian Nisa datang. Saat Nisa datang, Keyran sedikit terkejut karena melihat kaki Nisa terluka.
Eh!? Kakinya benar-benar terluka, aku kira Valen berbohong agar aku peduli pada gadis busuk ini. Tapi, kenapa gadis ini berjalan seperti biasa, seolah-olah kakinya tidak pernah terluka?
"Kakimu kenapa?" Tanya Keyran.
"Hng! Bukan urusanmu!" Teriak Nisa.
"....."
Gadis ini angkuh sekali! Percuma saja aku peduli padamu!
"Nisa! Jaga bicaramu! Kau harus menghormatinya, dia ini calon suamimu!" Teriak ayah.
"Jigi bicirimi...." Ucap Nisa dengan remeh.
"Anak setan! Aku ini ayahmu! Kau mau menantangku!" Teriak ayah dengan penuh amarah.
"Ya! Aku menantang ayah! Apa ayah pikir aku takut? Meskipun kakiku sedang terluka, aku juga bakalan menang! Maju kalau ayah berani!" Teriak Nisa sambil mengacungkan jari tengahnya ke ayah.
"Kau! Cepat turunkan jarimu itu! Atau jari itu akan hilang!"
"Hei, ayo taruhan! Aku bertaruh kakak yang akan menang!" Bisik Reihan ke telinga Dimas.
"Oke, aku bertaruh kalau ayah yang menang. Yang kalah taruhan harus menyerahkan uang saku selama seminggu! Berani nggak?"
"Siapa takut! Kak Nisa semangat kak!" Teriak Reihan dengan antusias.
"Cukup! Berhenti bertengkar! Suamiku.... kendalikan amarahmu... jangan seperti ini! Kan malu dilihat orang. Kau juga Nisa! Sebagai seorang gadis apa kelakuanmu ini pantas! Apa nggak malu dilihat oleh calon suamimu?" Teriak ibu.
"Bodo amat..." Ucap Nisa sambil melirik ke arah keyran.
"Emmm.... ayo cepat pergi! Jangan buang waktu lagi!" Sahut Keyran sambil menarik tangan Nisa.
__ADS_1
Keluarga macam apa ini? Bisa-bisanya anak perempuan menantang ayahnya sendiri untuk berkelahi, lalu seorang ibu malah ikut memarahi anaknya, sedangkan adik-adiknya malah terlihat seperti sedang menikmati pertengkaran. Kalau terus disini bisa-bisa aku tertular bodoh!
"Eh!? Kenapa hanya aku? Lalu ayah..." Tanya Nisa dengan tatapan bingung.
"Heh! Masih menganggap aku sebagai ayahmu! Memangnya kau peduli kalau aku datang atau tidak!? Tidak tahu diri, dasar bocah liar!" Teriak ayah.
"Sudah... sudah... jangan marah lagi! Nak, kau tenang saja. Kami akan menyusulmu nanti, masih ada yang perlu diurus!" Ucap ibu dengan senyum terpaksa.
"Oke, kalau begitu aku akan menunggu kalian. Dah semuanya! Aku pergi dulu, aku sayang ibu! Kalau untuk ayah, sedikit...." Ucap Nisa sambil berjalan pergi.
"Huh! Simpan rasa sayangmu itu, bocah barbar!" Gerutu ayah.
Setelah pertengkaran keluarga yang singkat tadi, Nisa dan Keyran akhirnya bergegas pergi menuju tempat acara. Acara pertunangan itu diadakan di kediaman utama keluarga Kartawijaya. Saat mereka sampai, Nisa langsung ternganga karena melihat rumah yang begitu megah.
"....."
Wah...! Rumah ini sangat besar dan mewah! Pantas saja Keyran brengsek ini terlihat sok berkelas!
"Apa yang sedang kau pikirkan? Ayo cepat masuk! Ada banyak orang sudah menunggumu!" Keyran berjalan melewati Nisa.
"Eh!? Iya...."
"Tunggu dulu!" Tiba-tiba berhenti berjalan.
"Ada apa?"
"Gandeng tanganku!" Sambil mengulurkan tangannya.
"Nani!?"
"Cepat! Nggak usah banyak tanya, seharusnya kau sudah paham kenapa harus melakukan hal ini..."
"Terserah...." Nisa kemudian menggandeng tangan Keyran lalu tersenyum.
"....."
Sialan! Ingin sekali aku mematahkan tangannya!
Saat mereka berdua masuk, semua pandangan orang langsung tertuju pada mereka. Bahkan saat mereka berjalan, para pelayan yang berpapasan dengan mereka juga menyambut secara bergantian, meskipun para pelayan itu sedang sibuk mempersiapkan acara.
"Selamat datang tuan muda, nona...." Ucap salah satu pelayan sambil membungkuk.
"......" Nisa membalas dengan senyuman.
Gila! Mereka semua menganggap dan menghormatiku seperti nyonya mereka! Padahal, setelah aku masuk ke rumah ini, aku merasa kalau aku seperti seorang pengemis yang sedang meminta sumbangan. Nggak lebih dari itu....
"Hei, setelah ini ikuti aku! persiapkan dirimu!"
"Oh, oke..."
Keyran lalu mengajak Nisa ke suatu ruangan. Di ruangan itu ada anggota keluarganya, dia berencana untuk mengenalkan Nisa pada keluarganya.
"Ayah, aku sudah kembali!" Teriak Keyran.
"Aiyo~ menantuku sudah datang! Aku sudah lama sekali menunggumu, akhirnya putraku membawamu kemari. Ah!? Ternyata kalian bergandengan tangan, kalian seperti ini terlihat sangat serasi! Menantuku, kau pasti akan membuat putraku ini tergila-gila padamu! Jarang sekali ada gadis semanis dirimu!" Ucap Tuan Muchtar dengan gembira.
"Haha, paman bisa saja...."
Dasar orang tua! Ingin sekali aku menyumbat mulutmu itu dengan sepatuku! Aku dan anakmu ini serasi dari mana!?
__ADS_1
"Hei... jangan panggil paman, panggil aku ayah mertua! Bisa kan menantuku~ Pokoknya harus bisa!"
"Emmm.... ayah mertua...."
Tahan Nisa... tahan! Demi keluarga aku harus menanggung siksaan batin ini!
"Nah! Seperti itu! Beruntung sekali bisa punya menantu semanis dirimu! Tapi, tentu saja putraku lebih beruntung!"
"Cukup ayah! Aku akan memperkenalkan dia ke yang lain"
"Ya, silakan.... aku tidak akan mengganggu"
"Tante Ratna, kenalkan dia.... calon istriku" Ucap Keyran dengan malas.
"Salam kenal tante...."
"Tante apanya? Aku ini ibu dari calon suamimu, yah... meskipun ibu tiri. Jadi, kau juga menantuku. Panggil aku ibu mertua ya?"
"Ya. Secara teknis dia istriku, ibu tirinya Keyran!" Sahut tuan Muchtar.
"Emmm.... Salam kenal ibu mertua...." Ucap Nisa dengan canggung.
Tunggu.... Secara teknis? Mereka ini ada masalah apa sih? Bodo amat lah, masalah orang kaya seperti ini bukan urusanku!
"Ah! Ternyata benar, dari dekat seperti ini kau memang terlihat sangat manis! Tapi, nama panggilanmu siapa?" Ucapnya dengan lembut.
"Tante.... Eh! Maksudku ibu mertua.... bisa memanggilku Nisa"
"Nisa ya.... nama ini cukup umum. Nah, sekarang giliranmu untuk berkenalan dengan adik ipar. Daniel! Cepat kemari!"
"Halo! Aku Daniel, salam kenal kakak ipar..."
"Iya, salam kenal...." Ucap Nisa sambil tersenyum.
Ternyata Keyran punya adik, tapi kenapa mereka nggak terlihat mirip? Dari penampilan ataupun sikap semua nggak mirip.
"Eh!? Kakak ipar, kakimu terluka!" Teriak Daniel dengan keras.
"Mana yang terluka!? Menantuku.... kenapa bisa seperti ini? Ayo duduk dulu!" Tuan Muchtar lalu memapah Nisa untuk duduk.
"Ini... hanya luka kecil, ayah mertua tidak perlu panik seperti ini..." Ucap Nisa sambil tersenyum.
"Kau masih bisa tersenyum! Hei, Keyran! Kau bisa mengurus calon istrimu atau tidak!? Kenapa menantuku yang manis ini bisa terluka?" Teriak Tuan Muchtar.
"Kenapa menyalahkan aku? Dia terluka tidak ada hubungannya denganku!"
"Masih berani membantah! Cepat panggilkan dokter!"
"Ayah mertua jangan marah, luka ini memang tidak ada hubungan dengannya. Juga tidak perlu memanggil dokter, aku cuma tergores...." Ucap Nisa dengan raut wajah murung.
Ugh....! Saat mendengar kata 'dokter' seketika aku langsung teringat pada Ricky. Lalu.... jika mereka benar-benar memanggil dokter kemari, kemungkinan terburuk dokter itu adalah Ricky. Bisa habis aku kalau itu terjadi!
"Menantuku jangan murung seperti ini... Baiklah kalau kau tidak mau panggil dokter. Tapi, nanti harus hati-hati!"
"Iya, ayah mertua...."
"Key! Kau bawalah menantuku ke ruang rias! Pastikan dia tampil dengan sempurna!"
"Iya ayah.... Ayo, kita pergi!" Keyran mengulurkan tangannya ke Nisa.
__ADS_1
"Baik...." Nisa memegang tangan Keyran lalu mereka berdua berjalan pergi.
Keyran dan Nisa akhirnya pergi ke ruang rias untuk bersiap. Di tengah jalan, mereka melepaskan tangan mereka yang bergandengan. Itu juga tanda kalau berakhirnya drama sok romantis yang mereka perlihatkan ke orang-orang.