
Jam 7 malam tepat Ricky telah sampai di rumah Nisa, dia sudah tidak sabar untuk menjemput pacarnya itu berangkat kencan.
TOK TOK TOK!
"Permisi!" ucap Ricky sambil mengetuk pintu.
"Iya, sebentar!" Terdengar suara wanita dari dalam, tak lama kemudian pintu terbuka dan tampaklah ibunya Nisa.
"Selamat malam, Tante!" sapa Ricky sambil tersenyum ramah.
"S-selamat malam ..." Wanita itu tersenyum canggung. Dia pikir setelah membicarakan tentang perjodohan itu, hubungan putrinya dengan pemuda yang saat ini berada di hadapannya telah usai. Tetapi justru pemuda itu tampak seolah-olah tak tahu apa-apa dan kini memasang senyuman kepadanya.
"Eh, Ricky. Cari Nisa, ya? Ayo masuk dulu!"
"Iya Tante," jawab Ricky dengan sopan.
Ricky langsung masuk setelah dipersilakan. Dia duduk dengan tenang di ruang tamu, sama sekali tak banyak tingkah seperti anak patuh.
"Tumben jam segini ada tamu. Siapa yang datang?" tanya Dimas yang tiba-tiba muncul.
"Aku, hehe ..." Ricky meringis.
"Oh, kakak ipar. Cari ratu iblis, ya?"
"Iya, apa dia masih lama?"
"Tak usah buru-buru, santai saja. Minum dulu, ini sudah tante bawakan!" ucap ibunya Nisa yang datang dengan membawa nampan berisi minuman.
"Ah iya, maaf merepotkan."
"Jangan sungkan, tante nggak repot kok. Oh iya, Dimas, cepat panggil kakakmu sana!"
"Nggak mau ah!" jawab Dimas.
"Hehe, nggak usah dipanggil. Orangnya sudah di sini!" ucap Nisa yang tiba-tiba masuk ke ruang tamu.
"Dadah ibu, aku berangkat dulu!" Nisa mencium tangan dan pipi ibunya, sesaat kemudian dia melirik ke arah Dimas. "Kenapa lihat-lihat? Mau kucium juga?"
"Dih, najis!" Dimas langsung memalingkan muka.
"Tunggu, ini kunci rumah. Nanti malam jangan gedor-gedor pintu!"
"Iya ibu," jawab Nisa sambil mengangguk.
***
Nisa dan Ricky kini tengah berada di dalam mobil. Saat mereka belum melaju kencang dan bergerak jauh, Ricky tiba-tiba berkata, "Nisa!"
"Ada apa?" tanya Nisa tanpa menoleh.
"Kok nggak lihat ke arahku?"
"Aku kapok, nanti tiba-tiba dicium seperti tadi siang." jawab Nisa dengan ekspresi cemberut.
"Haha, nggak akan ... tapi nanti mungkin. Oh iya, ada yang perlu aku bicarakan."
"Soal apa? Kan kamu tinggal bicara saja."
"Sebenarnya aku sudah lama memikirkan hal ini, kita juga sudah pacaran selama 2 tahun lebih. Perasaan kita juga sama, selama ini kita juga saling jujur, hubungan kita juga bisa dibilang mesra. Jadi ..."
"J-jadi apa?" tanya Nisa dengan ekspresi gugup.
Apa nih?! Kok Ricky bicara pakai nada serius? Apa dia mau mengajakku menikah?
"Jadi aku ingin sesuatu padamu, ini sebenarnya hal sederhana. Emm ... bisa kan kalau mulai sekarang kita punya nama panggilan sayang?"
"Hah?!" Nisa ternganga.
"Iya, nama panggilan khusus buat aku dan kamu. Jadi nanti kita saling panggil dengan nama panggilan itu. Biar kita tambah mesra. Ehem, itu sih jika kamu setuju." Ricky tersipu.
__ADS_1
"...." Nisa membisu.
Mesra ya, jadi itu yang kamu minta. Oke, kalau begitu akan aku kabulkan.
"Honey~ kita mau ke mana, ya?" tanya Nisa dengan senyum nakal.
CKITTT!
Ricky mengerem mobil mendadak.
"Eh, kenapa berhenti mendadak? Bahaya tahu!" bentak Nisa.
"...." Ricky melongo.
"Rick? Ricky! Honey!"
"Ah, habisnya aku kaget. Bisa-bisanya kamu bicara begitu, seperti bukan kamu saja."
"Tadi katanya mau panggilan mesra, jadi sekalian aku panggil honey. Aku kan cuma mengabulkan permintaan pacarku sendiri. Memangnya kamu nggak suka?"
"Suka, suka banget malah! Jadi ... kita sepakat dengan panggilan itu saja. Nah, sekarang kamu mau ke mana?"
"Ke taman hiburan!" jawab Nisa penuh semangat.
"Haha, kamu nggak pernah bosan ya pergi ke sana. Tapi, bukannya sekarang taman hiburan sudah tutup?"
"Belum tutup kok, sebentar lagi hari jadinya yang ke-25. Jadi beberapa hari ini taman hiburan dibuka selama 24 jam."
"Ok, let's go!"
***
Taman hiburan bagaikan surga bagi sebagian orang. Ada berbagai wahana permainan yang menyenangkan, bermacam gerai yang menyajikan makanan dan minuman. Banyak sekali pengunjung yang berdatangan, entah itu pasangan ataupun orang-orang yang ingin bersenang-senang dengan keluarga dan teman.
Malam ini taman hiburan tampak begitu menakjubkan, gemerlap lampu-lampu yang beraneka warna menghiasi setiap sudut. Di tengah-tengah ramainya orang, Ricky terus menerus menggandeng tangan Nisa dengan erat.
"Nah, sekarang kamu mau apa dulu?" tanya Ricky.
"Baiklah. Kamu tunggu di sini sebentar, aku mau beli dulu!"
"Nggak mau! Aku ikut, nanti kalo aku hilang bagimana?"
"Pffttt hahaha ... kamu ini sudah umur berapa sih?" Ricky terkekeh.
"14. Eh, maksudku 19!" jawab Nisa spontan.
"...." Sejenak Ricky tertegun, kemudian dia tersenyum tipis.
Dasar ... umur sendiri bisa lupa, kamu sepertinya akhir-akhir ini tertekan. Padahal itu tidak bagus untuk penderita gangguan kecemasan umum sepertimu. Kadang aku prihatin dengan peristiwa yang menimpamu saat umurmu 14 tahun.
"Tetap gandeng tanganku, jangan sampai lepas! Kamu takut hilang, kan?"
"Iya honey~"
"Ayo, sebelum antrean jadi panjang!" Muka Ricky memerah.
Uhh ... orang ini! Aku belum terbiasa dengan panggilan itu, tapi dia benar-benar manis. Benar-benar bisa buat orang cinta setengah mati.
Nisa dan Ricky akhirnya makan ice cream bersama, mereka duduk di sebuah bangku yang berada di dekat air mancur, seolah-olah terlihat sangat mesra.
"Setelah makan ice cream kamu mau apa lagi?" tanya Ricky.
"Emm, ayo naik kincir ria!" jawab Nisa sambil menunjuk ke arah kincir ria yang berukuran sangat besar.
"Kincir ria?"
"Iya, jangan-jangan kamu takut! Ayo dong, jadi cowok nggak boleh cemen!"
"Aku nggak takut! Malahan kamu, aku tahu kalau kamu mabuk laut dan benci dengan hal-hal yang berputar. Nanti kalau kamu pusing bagimana?"
__ADS_1
"Nggak akan, kincir ria berputar pelan. Lagi pula pacarku kan dokter, jadi kamu bisa merawatku jika nanti aku pusing, hehe ..."
"Hei, aku ini dokter bedah. Tapi ya sudah, ayo segera naik!"
Mereka berdua menaiki kabin kincir ria. Begitu lama Nisa tenggelam dalam lamunan, memandangi pemandangan malam selagi kabin semakin menanjak.
Ricky tak bicara sepatah kata pun, dia terus memandangi sosok Nisa yang membuatnya terpana. Gadis manis yang rupawan, manik mata berwarna cokelat yang berbinar menangkap cahaya, serta bibir mungil yang mengukir senyuman tipis menenangkan jiwa.
Namun, dia merasa khawatir karena sejak tadi Nisa hanya diam. Sesekali Ricky mengamati seluruh struktur kabin, merasakan sebagaimana kincir ria berderit dan bergerak naik secara perlahan.
"Nisa, apa kamu pusing?" tanya Ricky dengan nada khawatir.
"Nggak!" jawab Nisa singkat.
"...."
Nisa lalu menengok ke arah Ricky. "Ricky!" teriak Nisa.
"Akhirnya kamu bicar- Uhmm ...?!"
Nisa mendaratkan di bibirnya ke bibir penuh milik Ricky. Dia melakukannya tepat pada saat kabin yang dia naiki sudah sampai puncak. Nisa perlahan mulai merangkul leher Ricky, ciuman yang semula terasa lembut itu kini berubah menjadi lebih agresif, di mana lidah turut andil di dalamnya.
"M-mmm ..." Ricky terkesiap.
L-lidah, lidahnya masuk! Ini pertama kalinya Nisa jadi agresif. Tapi ... sesuai keinginanmu, maka akan aku layani.
Ricky menyambut tindakan Nisa, dia juga melakukan hal yang sama persis seperti apa yang Nisa lakukan padanya. Dia mengulurkan kedua tangannya, sebelah tangannya merangkul pinggang ramping itu, sedangkan yang satunya lagi menekan tengkuk Nisa agar ciuman itu semakin dalam.
"Ummm ..." Pandangan mata Nisa kian meredup, dia semakin terhanyut ke dalam suasana itu.
Ricky, hanya ini yang bisa aku berikan. Kata orang, pasangan yang berciuman di kincir ria saat di titik tertinggi akan diberikan anugrah untuk selalu bersama. Aku tak pernah percaya dengan hal semacam ini, tapi untuk kali ini saja aku ingin mempercayainya dan berharap jika semua itu benar akan terjadi.
Seiring dengan berjalannya waktu, ciuman itu semakin menjadi liar. Hanya mengikuti naluri, mereka saling mencium, menggigit dan berebut napas di kala mereka mulai kehabisan napas.
Perlahan Nisa membuka mata, dia menyadari bahwa kabin yang dia tumpangi saat ini semakin bergerak turun. Khawatir jika banyak orang yang akan melihat, dia pelan-pelan melepaskan tautan bibirnya.
Ricky tersenyum tipis, sebelah tangannya membelai pipi yang chubby itu. Menyentuhnya dan memberikan kesan nyaman nan hangat bagi Nisa. Di satu sisi Nisa juga membelai wajah Ricky, menggeser ibu jarinya untuk mengusap bibir yang terdapat sedikit warna merah muda bekas lipstick yang tertinggal.
"Hah ... hahh ...." Ricky terengah-engah, dia tak bisa mengalihkan tatapannya dari Nisa.
"Ricky, sudah ya?" tanya Nisa sambil tersenyum.
"Iya, kita lanjutkan lain kali. Lagi pula sekarang sudah mau ke bawah, bisa-bisa nanti dilihat orang." ucap Ricky yang sebenarnya merasa sedikit kecewa.
Sial! Padahal aku mau lagi, andai saja ini bukan di tempat umum.
"Haha, iya ..." Muka Nisa memerah.
Habislah aku! Dilanjut lain kali katanya, apa Ricky pikir aku ingin melakukan hal-hal begituan dengannya? Sialan, aku benci pikiranku.
"Setelah ini kita mau apa lagi? Nisa-ku sayang~" tanya Ricky dengan nada menggoda.
Nisa lalu memalingkan wajahnya. "Pulang! Habis ini kita pulang saja!"
Sial, aku malu banget!
"Eh, serius? Banyak wahana yang belum kita coba loh~"
"Aku mau pulang, Ricky! Aku pusing jika naik wahana lain lagi!"
"Oke-oke ... Tapi sebelum pulang, mau makan malam dulu?"
"Iya boleh, tempatnya terserah kamu!"
"Baik honey~" ucap Ricky dengan senyum nakal.
Hehe, sekarang kita impas!
"I-iya," jawab Nisa dengan muka yang memerah.
__ADS_1
Uhh ... jantungku belum siap jika Ricky memanggilku honey.