
"Nisa, aku mau sekarang ..." wajah Keyran memerah. Tangan yang tadinya memegang dagu kini perlahan merayap ke leher dan berakhir di tengkuk. Sementara tangan yang satunya lagi juga mulai merayap di punggung Nisa, mengelus dan mengusapnya dengan lembut.
"T-tapi aku belum siap ..." ucap Nisa dengan suara lirih serta dengan ekspresi panik.
"Percayalah, kau sudah siap, aku tahu itu." Keyran langsung menarik Nisa mendekat ke wajahnya, dia meniup telinga Nisa dengan manja serta menggigit daun telinganya.
"Enh ..." seketika tubuh Nisa bergetar, dia ingin segera menyingkir tapi gagal karena tengkuknya ditahan oleh Keyran. Dirinya mulai gelisah, dia menutup matanya rapat-rapat dan kedua tangannya mencengkeram erat lengan baju Keyran.
Keyran menyeringai, dia menelan ludahnya dengan kasar. Keyran merendahkan kepalanya, dia menggosok-gosok ujung hidung mancungnya pada kulit leher mulus Nisa. Aroma manis menguar begitu saja di penciumannya, dan tercium lah wangi vanilla yang begitu lembut namun memabukkan.
Tubuh Nisa semakin bergetar saat hembusan napas yang hangat menyapu kulitnya. Sedangkan Keyran, dia tak tahan lagi untuk merasakan betapa manisnya itu. Dia segera mencium leher Nisa, mengisapnya terus menerus disertai gigitan kecil yang menimbulkan bekas kecupan.
"Ahnn ... K-Key ..." Nisa perlahan menggelengkan kepala dan dengan ekspresi memelas yang mengisyaratkan agar Keyran berhenti.
"Hm?" Keyran tersenyum lembut. Namun diam-diam tangannya sibuk melepas kancing piyama Nisa. Ketika tiga kancing paling atas telah terlepas, tiba-tiba saja tangannya ditahan oleh Nisa. "Ada apa?"
"Jangan ..." satu kata yang dilontarkan oleh Nisa membuat Keyran semakin bergairah. Dia tidak bisa berhenti menatap belahan dada Nisa yang terpampang jelas di depan matanya. Dan semakin menggoda saat dia tahu kalau itu tanpa bra.
Karena kedua tangannya sedang sibuk, Keyran lalu menggunakan mulutnya untuk merasakan betapa lembut dan empuknya benda yang dari tadi menarik perhatiannya. Bahkan dia juga mengisap hingga berbekas.
"Aaahh ... cepat henti ... hik .. kan .. hik .."
"Hah!?" seketika Keyran menghentikan tindakannya lalu menatap Nisa dengan tatapan tidak percaya. "Kau cegukan?"
"Kau pi .. hik .. kir .. aku pura-pu .. hik .. ra?"
Sialan! Kenapa aku harus cegukan!? Ini sangat memalukan.
"Cih, kau cegukan di waktu yang sangat tidak tepat!"
"Kenapa menyalah .. hik .. kan aku? Aku sudah bilang kalau a .. hik .. ku belum siap!" ucap Nisa sambil membetulkan kancing piamanya.
"Nisaaa ... dasar bodoh!" dengan penuh kekesalan, Keyran lalu meraih cangkir di meja yang berada di depannya. "Minumlah, semoga cegukanmu hilang!"
"Hik ..." Nisa langsung meminum minuman di cangkir itu sampai habis. "Su .. hik .. dah."
"Haiss ..." Keyran lalu merebut cangkir kosong dari tangan Nisa dan menukarnya dengan cangkir yang satunya lagi. "Cepat minum!"
"Ta .. hik .. pi ini bekasmu."
"Terus kenapa jika itu bekasku? Padahal kau juga sudah pernah merasakan ludahku. Jadi cepat minum!"
Setelah dibentak oleh Keyran, Nisa langsung menurut untuk minum sampai habis. Setelah habis, dia menyerahkan cangkirnya kepada Keyran untuk dikembalikan ke nampan.
"Sudah hilang?"
"Sepertinya sudah." jawab Nisa sambil menepuk-nepuk dadanya.
"Heh, itu artinya kau memang diharuskan untuk minum bekasku."
"Kau ini, dasar nar .. hik .. sis."
"Astaga," Keyran lalu memegang wajah Nisa dengan kedua tangannya. "Sekarang perhatikan kata-kataku! Tarik napas dalam dan tahan napas selama 10 detik, lalu keluarkan napas perlahan. Ulangi 3, 4 kali, atau seperlunya. Paham?"
__ADS_1
Nisa mengangguk dan mulai melakukan instruksi yang telah disebutkan oleh Keyran. Dia mengulanginya sampai 7 kali, baru cegukannya bisa berhenti.
"Nah, sekarang cegukanmu sudah berhenti. Ayo lanjutkan yang tadi~" ucap Keyran sambil meringis.
"Key ... aku sudah bilang kalau aku belum siap, jadi berhentilah menggodaku! Atau ... kau mau merasakan pukulanku?"
"Wah ... aku penasaran bagaimana kau akan memukulku~"
"Hohoho ... itu mudah saja, kau hanya perlu memilih. Tangan kiri untuk rumah sakit, tangan kanan untuk kuburan. Tapi, aku sarankan kau pilih yang kanan saja. Nanti namamu akan berubah menjadi Alm. Keyran Kartawijaya, sungguh aestetic~"
"Aestetic pantatmu!! Apa menambahkan kata almarhum di depan nama itu bagus hah!?"
"Siapa yang bilang kalau Alm. itu almarhum? Alm. adalah ... Al .. Al .. Almar .. Almar Zoni!"
"Cih, lupakan tentang nama! Aku mau kau gunakan kedua tanganmu~" Keyran lalu menyeringai. "Gunakan kedua tanganmu dan peganglah bahuku, setelah itu aku akan menggendongmu menuju ke kamar~"
"Berhenti menggodaku! Kau bilang kalau kau akan menunggu sampai aku sepenuhnya siap, tapi lihatlah yang kau lakukan sekarang ... Kau memaksaku, kau mengingkari perkataanmu!"
"Aku mana ada memaksamu? Yang aku lakukan hanyalah membujuk ... mungkin saja kau akan siap setelah dibujuk seperti ini~ Ini cuma membujuk oke ..."
"Ini namanya memaksa!"
"Membujuk!"
"Humph! Terserah, selama ini kau memang sering bertentangan denganku. Tapi ... apa kau benar-benar ingin melakukannya?"
"Tentu saja! Apa sekarang kau sudah siap?" ucap Keyran dengan senyum semringah.
"Key ... dengar ya, dalam waktu dekat ini aku masih belum siap. Jadi jangan terlalu berharap." tiba-tiba Nisa mendekatkan wajahnya lalu menempelkan ujung hidungnya pada hidung Keyran. "Bersabarlah sebentar lagi, oke?"
"..." Nisa tersenyum dan kembali menjauhkan wajahnya. "Oh iya, aku ingin meminta izin darimu."
"Izin untuk apa?"
Ternyata ada maunya toh, pantas saja hari ini begitu baik.
"Izin pergi main."
"Tidak boleh, ini hampir jam 9 malam. Kau tidak boleh berangkat keluyuran di jam segini!"
"Bukan sekarang, tapi besok. Emmm ... aku akan jelaskan, dalam rangka memperingati hari jadi kota, maka diadakan sebuah bazar yang berlangsung selama 3 hari, dan besok adalah hari terakhir. Nantinya besok saat puncak acara pada jam 8 malam, akan ada pertunjukan kembang api yang meriah. Dan besok aku sangat ingin datang ... boleh ya?"
"Hmmm ..." gumam Keyran sambil mengerutkan dahi.
"Besok aku akan pulang sebelum jam 9 malam, itu artinya aku mematuhi peraturanmu. Jika kau mau, kau juga bisa ikut. Ayolah ... izinkan aku ... darling ... darling ... darling!! Aku mohon!"
"Kau bilang bazar itu berlangsung selama 3 hari, ini artinya sekarang juga masih berlangsung. Kalau begitu ... ayo berangkat sekarang! Jika sekarang aku bisa menemanimu, tapi kalau besok aku tidak bisa."
"Tapi aku maunya besok, aku mau lihat kembang api!"
"Sekarang juga bisa, nanti aku akan menyuruh orang untuk menyalakan kembang api yang banyak untukmu. Kau mau satu kontainer pun juga akan aku turuti. Dan pastinya kembang api akan terus menyala sampai pagi."
"Mana bisa begitu!? Itu namanya menyalahi prosedur, puncak acara hanya bisa dilakukan satu kali, orang-orang yang berencana datang besok pasti banyak yang kecewa. Nanti aku juga yang disalahkan ... ini karena aku punya suami sepertimu. Pokoknya aku maunya besok, dengan atau tanpa dirimu!"
__ADS_1
"Haiss ... baiklah, besok ya besok. Tapi karena aku tidak bisa ikut, kau berencana ingin mengajak siapa?"
"Temanku, Isma atau Jenny, mungkin keduanya. Mereka berdua pasti mau kalau aku traktir sosis bakar sepuas mereka. Jadi kau setuju memberiku izin?"
"Iya, tapi kau jangan sampai lupa waktu! Jam 9 malam kau harus sudah pulang!"
"Baik ... Tapi, besok kau sibuk sekali ya?"
"Iya, besok aku harus lembur. Belakangan ini para dewan direksi entah kenapa selalu kurang puas. Dan beberapa departemen juga ada sedikit masalah, ini semua karena Valen!"
"Memangnya Valen kenapa?"
"Dia ambil cuti, dia sakit tipes."
"Hei hei, mungkin Valen sakit karena kau terlalu banyak memberinya pekerjaan. Sebaiknya kau jangan terlalu menekannya, dia sudah punya tanggung jawab di semua departemen."
"Aku membayarnya sesuai dengan yang dia kerjakan. Toh jika dijumlahkan ... bayarannya selama setahun cukup untuk membeli sebuah pulau."
"Hah!?"
Jika Valen saja sanggup membeli pulau, apalagi Keyran?
"Lagi pula ... asal kau tahu, aku sendiri juga merasa lelah dengan pekerjaanku. Bagiku, saat-saat bersamamu adalah saat-saat yang paling menyenangkan. Seumur hidup aku terus fokus pada hal yang disebut bisnis, ini juga nasibku yang terlahir di keluarga seperti ini. Dan ayahku, sejak aku kecil dialah yang selalu menentukan arah tujuanku, mulai dari pendidikan, hobi, teman, semua diatur olehnya."
Keyran lalu memeluk Nisa dan menyandarkan kepalanya di pundak Nisa. Sementara Nisa, dia hanya bisa membisu dan tak berkutik sedikit pun.
"Aku akui, aku bisa punya segalanya seperti ini memang karena ayahku. Munafik jika aku mengaku kalau ini hanya karena usahaku sendiri. Tapi, ada satu hal yang membuatku bersyukur memiliki ayah seperti dirinya. Karena dialah yang menjodohkan aku denganmu, aku bersyukur karena kau adalah istriku. Aku mencintaimu."
"K-kau bilang apa!?"
Keyran mengangkat kepalanya kembali dan menatap mata Nisa lekat-lekat, kedua tangannya juga memegang wajah Nisa.
"Aku bilang ... kau adalah istri paling bodoh, pemalas, gampang marah, suka membuat masalah, sering melawanku, bicara juga buruk, tidur suka ileran, tidak bisa berenang, cinta pada uang, dan selalu menghindar jika aku sentuh. Tapi aku bersyukur punya istri seperti dirimu, meskipun kau terkesan seperti wanita yang paling buruk sedunia, aku suka dengan semua yang kau lakukan, karena semua itulah yang telah membuatku merasakan jatuh cinta."
Keyran mendekatkan wajahnya pada Nisa dan tiba-tiba menempelkan dahinya pada dahi Nisa.
"Nisa, dengar baik-baik! Aku mencintaimu! Inilah sebabnya muncul perasaan ingin memiliki dirimu seutuhnya, aku ingin tubuhmu dan juga ... hatimu. Aku ingin dicintai olehmu, aku ingin dicintai oleh orang yang aku cintai. Bisakah kau buka hatimu untukku?"
"...." Nisa masih diam membisu dan tak berkedip sekali pun.
"Tak apa jika kau enggan menjawabku. Aku paham posisimu pasti sulit, kau menikah denganku karena terpaksa, bahkan kau juga pernah berniat ingin bercerai denganku. Tapi satu hal yang harus kau tahu, aku jatuh cinta bukan karena sebatas pernah menidurimu. Aku merasa jatuh cinta padamu sebelum itu, aku juga cemburu saat kau dekat dengan pria lain, bahkan Valen sekali pun."
Keyran lalu menjauhkan wajahnya dan kemudian tersenyum lembut.
"Sekarang kau sudah tahu perasaanku, kelak kau jangan berbuat nakal, jangan berbuat yang macam-macam. Sebenarnya ... mengutarakan perasaan ini sangat sulit. Sebelumnya aku yakin kalau kau yang akan terlebih dulu takluk olehku. Dan ternyata aku kalah, ini kekalahan pertama dalam hidupku. Tapi, aku tidak keberatan jika dikalahkan olehmu. Intinya adalah aku mencintaimu. Oke, bagaimana? Sampai sini kau sudah paham?"
"Heh, aku pikir aku salah dengar." Nisa lalu menyeringai.
Tanpa peringatan apa pun Nisa langsung merangkul leher Keyran dan tiba-tiba mencium bibirnya. Sedangkan Keyran, matanya membelalak karena terkejut dengan tingkahnya Nisa. Tapi ciuman itu tidak berlangsung lama, setelah melepas ciuman itu Nisa lalu meringis.
"Key, pernyataan cintamu ini sedikit di luar bayanganku. Dan asal kau tahu ... aku sudah menunggumu untuk mengatakan ini."
"Nisa ... k-kau ..."
__ADS_1
Keyran tersenyum bahagia. Dia tak tahan lagi untuk segera mencium Nisa balik. Di sisi lain Nisa juga menanggapi ciuman itu. Keduanya mulai menutup mata serta mengeratkan pegangannya. Semakin lama ciuman itu semakin dalam, begitu dalamnya hingga terdengar suara decapan erotis dari kedua bibir itu.