Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Tak Punya Kemauan Hidup


__ADS_3

"Kenapa kau ada di sini?!"


"..." sekilas Ricky melihat ke arah Keyran, namun kemudian dia menunduk. Tangannya membelai kepala Nisa dengan lembut, bibirnya bergetar, tatapan matanya sayu, di matanya hanya ada Nisa seorang, dan dengan mudahnya mengabaikan keberadaan Keyran.


"Cih!" Keyran merasa semakin tidak terima saat dirinya diabaikan. Dia segera mendekat ke arah Ricky, menyingkirkan tangannya dari Nisa lalu tiba-tiba menarik kerah bajunya. "Aku bicara denganmu! Kenapa kau ada di sini?!"


"Lepas!" pinta Ricky dengan sorot mata yang tajam. Namun Keyran semakin erat mencengkeram kerah bajunya. Dia lalu mencengkeram balik pergelangan tangan Keyran, memaksanya agar segera melepaskannya.


"Apa kau menantangku?" Keyran menyeringai, namun kemudian dia terkejut karena Ricky tiba-tiba melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangannya.


"Ya, aku memang menantangmu, tapi aku malas meladenimu."


"Oh, ternyata selain pecundang kau juga penakut."


"Dasar bodoh! Ini rumah sakit, dan siapa pun dilarang melakukan keributan di sini. Terlebih lagi jika kita membuat keributan, maka itu akan mengganggu proses pemulihan Nisa. Yang aku khawatirkan adalah Nisa, bukan karena aku takut kepadamu. Pantas saja Nisa sampai terluka, ternyata ini gara-gara kau yang kurang becus dalam menjaganya." Ricky lalu tersenyum sinis.


"Ck, sialan." Keyran bersungut kesal, dia terpaksa melepaskan cengkeraman tangannya dari Ricky. Dia berbalik arah melihat Nisa, tapi dia diam-diam mengepalkan tangannya sekuat mungkin. "Aku tanya sekali lagi, kenapa kau di sini?"


"Aku dokter, tentu saja aku di sini untuk memeriksa perkembangan kondisi Nisa. Sekarang kau sudah tahu alasan mengapa aku di sini, jadi cepat keluarlah!"


"Kenapa aku harus keluar? Aku ini suaminya, dan memangnya pemeriksaan macam apa yang hanya boleh kau seorang saja yang tahu?"


"Dengar ya, aku seorang dokter! Dan Nisa adalah pasienku! Jika kau memang ingin jadi suami yang baik maka keluarlah, kau di sini hanya mengganggu."


"Kau pikir aku bodoh? Kau ini cuma seorang mantan yang berkedok dokter, kau pasti cuma modus ingin berduaan dengan istriku. Toh peralatan sederhana seperti stetoskop saja tidak bawa, memangnya kau mau memeriksa dengan apa?"


"Stetoskop tak terlalu penting, di sini sudah ada elektrokardiogram yang mengukur dan merekam aktivitas listrik jantung. Jadi aku masih bisa memeriksa kondisi Nisa." ucap Ricky sambil menunjuk ke arah EKG.


Sial, karena buru-buru jadinya aku tak sempat ambil stetoskop.


"Cih, itu cuma garis yang berbentuk seperti rumput yang digambar anak TK, seperti itu saja aku juga paham, itu tandanya Nisa masih hidup. Jadi pemeriksaanmu itu tidaklah penting!"


"Kau paham apa?! Kau harus ingat, garis yang ditunjukkan oleh EKG berbeda dengan trading saham! Memangnya kau mengerti semua artinya dan bisa membacanya?"


"Ehmm ..." Keyran lalu mengalihkan pandangannya.


Sialan! Jelas-jelas ini bukan bidangku, tapi tetap saja aku tidak rela.


"Nah, tidak bisa kan? Jadi cepat sana keluar! Biarkan aku melakukan tugasku."


"Tidak akan! Aku ingin dokter lain!"


"Dokter lain sedang sibuk, dan ... aku beritahu padamu, ke depannya aku secara khusus yang akan merawat Nisa!"


"Apa?! Pokoknya tidak bisa! Kau tidak boleh membuat keputusan seperti ini, aku suaminya dan aku tidak rela jika kau dokter yang merawatnya! Aku mau dokter lain, dokter yang kemarin itu!"


"Dia sekarang juga sedang sibuk, dia pergi mengantar pacarnya berangkat kuliah. Dokter lainnya juga masih punya pasien lain yang harus diurus. Harusnya kau bersyukur karena aku yang merawat Nisa, akan kulakukan yang terbaik untuknya."


"Pokoknya tidak bisa! Jika ingin merawatnya maka harus minta persetujuan dari keluarganya, dan aku sebagai suami menolaknya! Kau tidak kuizinkan untuk menyentuh Nisa, bahkan rambutnya sekalipun tidak boleh!"


"Astaga, turunkan nada bicaramu! Kau bersikeras seperti ini sama sekali tak ada baiknya bagi Nisa. Jadi tolong keluarlah demi kebaikan semua orang."


"Pokoknya tidak, titik!"


"Huft ..." Ricky lalu melirik ke arah Nisa. "Pemeriksaan hanya akan berlangsung sebentar. Aku di sini dengan status sebagai dokter, bukan sebagai mantannya. Jadi kau bisa tenang, aku hanya akan memperlakukan Nisa selayaknya pasien pada umumnya. Cepat keluar, tolong berikan aku waktu sebentar saja untuk bersamanya."


Sejenak Keyran terdiam, dia menatap Ricky dengan tatapannya yang sinis, namun Ricky menatapnya balik dengan cara yang sama. "Hng! Baiklah, tapi kau harus ingat kalau Nisa adalah istriku!"


"Aku ingat, tapi kau juga harus paham kalau Nisa adalah pasienku!"


Tanpa berkata apa pun lagi Keyran lalu keluar, meskipun dia sangat tidak rela meninggalkan Ricky dan Nisa begitu saja. Sedangkan Ricky, dia masih berdiam diri dan hanya kembali mengusap kepala Nisa.


Nisa ... Nisa ... bisa tidak berhenti membuatku khawatir? Mengapa kamu malah kembali seperti dulu lagi yang sering terluka? Padahal siang malam aku selalu berusaha untuk melupakanmu, belajar terbiasa tanpamu, dan belajar mengikhlaskanmu.

__ADS_1


Iya, yang aku inginkan cuma sebatas ikhlas, bukan untuk memilikimu kembali. Bahkan ... aku selalu berdoa agar selamanya kamu kekal bersamanya. Aku ikhlas jika dia yang jadi pendampingmu, jika dia yang bersanding denganmu. Tapi aku tak ikhlas jika dia membuatmu menangis, apalagi jika membuatmu terluka.


Sebenarnya ... aku juga salah di sini, aku menyalahgunakan statusku agar bisa merawatmu. Mulai sekarang tak akan ada dokter lain yang punya waktu untukmu.


"Tapi tak apa, aku janji akan merawatmu dengan kemampuan terbaikku. Cepat sembuh, oke?"


***


Seperti yang dikatakan oleh Ricky sebelumnya, dia tak terlalu lama memeriksa kondisi Nisa. Begitu dia keluar dari ruangan, dia sudah disambut oleh tatapan sinis dari Keyran yang sedang berdiri menyandarkan badannya di tembok sambil melipat kedua tangan.


Ricky menanggapi Keyran dengan hanya bersikap dingin, seolah-olah tak menghiraukan apa pun.


"Dokter sudah selesai bermesraan dengan istriku?" tanya Keyran dengan senyum sinis.


Ricky lalu berjalan dan berhenti tepat di depan Keyran, namun tiba-tiba dia juga tersenyum sinis sambil melirik Keyran dari samping. "Jangan terlalu memikirkan tentangku, sebaiknya pikirkanlah apa yang akan kau katakan saat Nisa sudah bangun."


Ricky langsung berhenti tersenyum dan setelah itu berjalan pergi meninggalkan Keyran.


"..." Keyran diam seribu bahasa setelah mendengar ucapan dari Ricky, dia lalu menurunkan tangannya dan raut wajahnya berubah jadi muram.


Dia benar, sebenarnya aku sendiri juga tak tahu harus berkata dan bersikap seperti apa saat Nisa sudah bangun. Sebelumnya aku dan Nisa bertengkar hebat, dia bersikeras ingin bercerai. Bahkan jika setelah ini aku bersikap baik, aku juga sama sekali tidak bisa memprediksi bagaimana sikapnya Nisa nanti.


Yang aku takutkan adalah jika setelah ini Nisa malah semakin ingin bercerai. Sekarang membayangkannya saja sudah membuatku merasa sulit, sepertinya aku tak akan sanggup untuk menatap matanya lagi.


"Ah sudahlah, pikirkan saja nanti!"


Yang terpenting sekarang Nisa masih belum bangun, jadi untuk saat ini aku masih bisa terus berada di sampingnya.


Keyran lalu bergegas masuk kembali, dia duduk di samping ranjang tempat Nisa berbaring. Dan tiba-tiba saja dia mendengar ponselnya berdering, dia segera melihat ponselnya untuk menjawab panggilan telepon tersebut.


"Valen, kenapa tiba-tiba meneleponku? Baru sehari aku tidak ada apa Daniel sudah membuat ulah?"


"Sebelumnya maaf mengganggu waktu tuan, ini bukan soal Tuan Daniel, tapi soal si pelayan itu."


"Itu ... sebenarnya ini berita buruk, orang yang saya suruh untuk mengunjungi tempat tinggalnya ternyata mendapat sesuatu yang tidak mengenakkan. Dia menemui seluruh keluarga pelayan itu mati mengenaskan, dan itu jelas-jelas terlihat seperti kasus pembunuhan. Tapi saat bertanya kepada warga setempat, mereka semua memberi keterangan bahwa keluarga si pelayan itu memang selalu menutup diri, jadi bahkan saat mereka mati, para warga juga tak ada satu pun yang tahu. Maaf, sepertinya penyelidikan ini hanya bisa sampai sini."


"Huh ... tak apa, kau sudah bekerja keras. Lanjutkan saja pekerjaanmu!"


"Baik tuan."


TUT ... TUT ...


Panggilan telepon berakhir, setelah Keyran menyimpan ponselnya dia kemudian meraih tangan Nisa lalu menggenggamnya. Dan ekspresi yang dia perlihatkan adalah ekspresi bersalah.


"Maaf ... lagi-lagi aku gagal, aku gagal menemukan siapa sebenarnya pelaku yang telah melukaimu. Kejahatan ini dilakukan dengan sangat bersih. Tapi aku janji, setelah ini tidak akan ada lagi yang bisa melukaimu. Aku akan memperketat penjagaan untukmu."


Keyran tiba-tiba merogoh saku celananya, dia mengambil sebuah benda berukuran kecil berbentuk kotak dan berwarna merah. Dia membuka kotak itu lalu tampaklah sebuah cincin berlian, yaitu cincin pernikahan yang sempat dilepas oleh Nisa.


Perlahan Keyran memasangkan cincin itu di jari Nisa, bukan jari manis, melainkan jari jempol. Namun Keyran tersenyum pahit begitu cincin itu terpasang.


"Haha ... bahkan sekarang di jari jempol pun terlalu besar. Kau ini semakin bertambah kurus saja, padahal hobimu itu cuma makan, tidur, bermain dan bermalas-malasan. Kau tahu tidak? Kau kurus seperti ini terlihat seperti orang yang puasa selama 10 tahun. Tapi aku janji, aku pasti akan membuat cincin ini menjadi pas di jari manismu."


Keyran kembali mengelus tangan Nisa lalu mencium punggung telapak tangannya.


Rasanya seperti mengulang masa lalu, saat itu di acara pertunangan kita, aku memasangkan cincin ini untukmu, dan setelah itu aku juga mencium tanganmu sama seperti ini, lalu kita berdua juga berdansa. Jujur, kau adalah partner dansa terbaik yang pernah berdansa denganku. Saat itu semua orang memberikan tepuk tangan, entah karena kemampuanku atau kemampuanmu yang membuat mereka takjub. Dan aku berharap ... aku bisa berdansa lagi denganmu, tak perlu alunan musik, di tengah kesunyian malam juga tak apa.


Sebenarnya, aku ingin memasangkan cincin ini saat acara pesta ulang tahun ayahku berakhir. Saat itu aku ingin bicara baik-baik denganmu, tanpa pertengkaran ataupun kesalahpahaman. Aku pikir dengan begitu kita bisa berbaikan, dan setelahnya aku memasangkan cincin ini kembali ke tempat yang seharusnya. Yang aku inginkan hanya agar hubungan kita bisa kembali seperti sedia kala.


Aku sendiri juga punya perasaan, Nisa. Aku bisa merasakan kalau semua perlakuanmu itu cinta, bukan pura-pura. Lagi pula, apakah mungkin bagi seseorang untuk berpura-pura selama itu di setiap waktu?


Tapi tetap saja aku belum sepenuhnya mengenalmu, sampai sekarang kau terkesan seperti selalu menyembunyikan sesuatu dariku. Dan sampai sekarang juga aku belum sepenuhnya bisa memahamimu, aku sama sekali tidak bisa mengerti jalan pikiranmu. Bukankah kau membenciku? Tapi kenapa kau menyelamatkan aku? Mengapa kau rela berkorban demi aku?


"Huh ... andai saja kau sudah bangun, sebenarnya tadi itu adalah yang ingin aku katakan kepadamu. Tapi aku tidak yakin bisa mengatakannya saat kau sudah bangun nanti. Aku tidak bisa bukan karena gengsi, tapi karena takut. Aku takut mendengar kata-kata yang akan kau keluarkan dari mulutmu."

__ADS_1


Pandangan mata Keyran meredup, dia lalu perlahan menurunkan kepalanya di ranjang tepat di sebelah tangan Nisa.


"Sekarang aku mengantuk, bangunkan aku jika kau sudah sadar, oke?"


***


Waktu pun terus berlalu, hingga tiba saatnya hari menjelang sore. Keyran yang saat ini masih tertidur pulas tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang menyentuh kepalanya, secara refleks dia menangkapnya lalu terbangun.


"Nisa! Kau sudah bangun?!" ucap Keyran yang masih setengah sadar.


"Hei, lihat aku baik-baik! Aku Reihan!"


"Eh?" seketika Keyran melepaskan genggaman tangannya. Dia lalu mengucek matanya dan mulai melihat keadaan sekitar. Dia melihat Nisa yang masih belum sadar, sedangkan di sekelilingnya ada kedua adik iparnya, ibu mertuanya, dan satu orang lagi yaitu dokter Ricky.


"Oh, ternyata kalian ada di sini." ucap Keyran yang beranjak dari kursi sambil merapikan rambutnya.


"Iya, aku di sini ingin melihat keadaan putriku. Suamiku sedang pergi membeli makanan untukmu, kau belum makan kan?"


"Iya, belum. Terima kasih ibu mertua." Keyran lalu melihat ke arah Ricky. "Kenapa lagi-lagi kau ada di sini?"


"Pemeriksaan rutin. Memangnya kenapa? Kau keberatan?" tanya Ricky dengan nada ketus.


"Hei hei, sudahlah. Kalian jangan cari muka di depan ibuku! Emm ... Kak Ricky, kapan kakakku akan sadar?" tanya Dimas sambil memandangi garis-garis di EKG.


"Karena kondisinya semakin membaik, kemungkinan besar besok dia akan sadar, bahkan mungkin saja nanti malam dia sudah sadar."


Ckck ... ternyata belum berubah, Dimas ini sejak dulu memang blak-blakan.


"Kau ini sedang apa?" tanya Keyran yang terheran-heran melihat Reihan sedang membisikkan sesuatu di telinga Nisa.


"Bukan apa-apa, aku hanya berbisik sesuatu agar Kak Nisa cepat bangun, yah ... semacam motivasi hidup." jawab Reihan sambil mengangkat pundaknya.


"Memangnya kau memberikan motivasi hidup seperti apa?" tanya Keyran lagi.


"Seperti ... Kak Nisa ayo cepat bangun, ada obral action figure kamen rider asli buatan Jepang terbaru!"


"Sudahlah Reihan, jangan usil mengganggu kakakmu. Ibu yakin jika dia sudah bangun, dia akan memukulmu karena membohonginya."


"Iya ibu, maaf ..."


Begitulah keadaan sore hari ini, keluarga Nisa datang menjenguk. Ya .. meskipun kedua adiknya terkadang agak sulit diatur. Di situasi seperti ini yang janggal hanya satu, orang tua Nisa merasa seakan-akan kalau mereka mempunyai dua orang menantu.


Mereka menjenguk cukup lama, dan sekitar jam 7 malam baru pulang. Sebelum pulang mereka juga berpesan agar segera mengabari begitu Nisa sudah bangun.


Keesokan harinya Nisa masih belum bangun, dan seperti biasa Ricky yang ingin memeriksa kondisi perkembangan Nisa, sebelumnya pasti terlibat cek-cok dulu dengan Keyran.


Hari ini setelah mengamati kondisi Nisa, Ricky akhirnya memutuskan untuk melepaskan alat bantu pernapasan yaitu ventilator, dikarenakan kondisi Nisa yang sangat stabil sehingga tidak lagi memerlukan alat bantu. Sekarang hanya menunggu Nisa untuk bangun.


Di sisi lain Keyran yang mengetahui hal ini merasa senang sekaligus gelisah, dia masih belum tahu apa yang akan dia katakan nanti saat Nisa sudah bangun. Sepanjang malam dia selalu berjaga-jaga di samping Nisa, menantinya untuk segera membuka mata.


Hingga keesokan harinya lagi Nisa masih belum bangun. Saat ini Ricky yang sedang memeriksa kondisi Nisa juga merasa sedikit bingung. Raut wajahnya tampak khawatir, dia lalu membelai kepala Nisa dengan lembut.


"Ini aneh, harusnya efek obat bius sudah hilang, tapi sampai sekarang kamu belum juga sadar. Apakah mungkin ... kamu tak punya kemauan untuk tetap hidup?"


Jika memang benar seperti ini maka gawat, aku tak tahu apa yang membuatmu kehilangan semangat untuk hidup.


"Sebaiknya aku bicarakan ini dengan orang-orang terdekatmu, terutama suamimu."


Ricky menarik tangannya kembali, dia lalu bergegas untuk segera keluar memanggil Keyran. Namun tiba-tiba saja dia berhenti karena tangannya ditahan.


"Eh?!" Perlahan Ricky menengok ke arah Nisa, dan dia terkejut begitu melihat Nisa yang sudah bangun sedang menahan tangannya.


"J-jangan pergi ..." ucap Nisa dengan suara lirih.

__ADS_1


__ADS_2