
Chelsea menghela napas panjang, kemudian dia kembali berkata, "Baiklah, jika memang seperti itu maka anggap saja tidak ada yang salah. Hanya anggap saja kalau masing-masing pihak sama-sama dirugikan."
"Jadi bagaimana pendapat Anda, Tuan Muda Daniel? Apakah Anda bersedia bertanggung jawab?" tanya Chelsea dengan tatapan menusuk.
"Tidak! Aku masih ragu kalau bayi itu adalah anakku, dan mungkin saja adikmu ini memang nakal, dia bukan cuma pernah tidur denganku." ucap Daniel sambil menatap Natasha dengan tatapan jijik.
"A-apa?!" Natasha membelalak. "Bisa-bisanya kau bilang begitu! Kau sendiri yang telah merenggut kesucianku! Kau saja yang pada dasarnya memang brengsek! Aku menuntut tanggung jawab penuh darimu!"
"Kami sudah mengalah dengan tidak melibatkan pihak berwajib, jadi mohon agar Anda bisa diajak bekerja sama untuk mencari solusi dari permasalahan ini!" ucap Chelsea penuh penekanan.
"Heh, mengalah katamu? Silakan saja jika mau lapor pihak berwajib, aku tak takut. Bahkan jika kau benar-benar melakukannya, justru citra keluarga kalian sendiri yang paling akan tercoreng. Aku hanya akan bertanggung jawab, hanya jika kalian bisa membuktikan bahwa benar-benar akulah ayah dari bayi itu!"
"Bukti apa lagi yang harus kami berikan? Kami sudah memberikan laporan hasil tes DNA! Silakan Anda baca sendiri dan cermati baik-baik!" teriak Chelsea yang mulai kehilangan kesabaran.
"Justru itu yang aku pertanyakan. Dari mana kau mendapat sampel tes DNA tanpa sepengetahuanku? Kau pasti telah memalsukan hasil tes itu yang sebenarnya adalah milik orang lain!"
"Huft ... Baiklah, untuk mengobati rasa penasaran Tuan, saya akan menjelaskan semuanya dari awal lagi, tetapi kali ini menurut versi saya."
Chelsea melirik ke arah adiknya, juga menggenggam kedua tangannya yang masih gemetaran. "Di hari insiden itu, saya sempat khawatir saat Natasha tidak pulang ke rumah sampai pagi. Lalu saya lebih heran lagi saat dia pulang ke rumah sendirian tanpa di antar oleh Ricky. Dan ketika saya bertanya ada apa, Natasha berekspresi aneh dan terlihat malu-malu, jadi saya biarkan saja asalkan dia pulang dengan selamat."
"Anehnya, sejak saat itu Ricky seakan-akan tidak ingin berhubungan dengan Natasha lagi. Mungkin dia merasa bahwa adikku sudah tidak berguna untuk dimanfaatkan lagi karena dia sudah mendapatkan jabatan yang dia inginkan. Lalu yang paling mengejutkan, secara diam-diam di waktu yang lain Natasha bilang kalau dia tidak menstruasi selama 2 bulan."
"Begitu tahu hal itu, Natasha langsung saya bawa ke rumah sakit untuk mengecek kondisinya. Dan hasil pemeriksaan itu menyatakan bahwa dia hamil. Natasha sangat yakin kalau dia menghabiskan malam itu dengan Ricky, lalu kami berdua pun menghampiri dokter Ricky di ruangannya."
"Ricky menyangkal hal itu, dia menjelaskan bahwa dia tidak tahu dan tidak terlibat dengan apa pun. Karena saat dia berada di pesta, dia tidak selalu bersama dengan Natasha. Dia bahkan dengan entengnya pulang tanpa beban meskipun partner nya tidak ikut bersamanya. Jika kalian meragukan keterangan saya, kalian bisa bertanya kepada Nyonya Nisa. Karena saat di lorong rumah sakit kami berpapasan dengannya."
"Ehmm ... ya, itu benar." jawab Nisa sambil mengangguk.
^^^*Note: episode pertemuan Nisa dengan Chelsea dan Natasha ada di episode [Penyakit Mematikan, bab 63]^^^
"Kau ada perlu apa ke rumah sakit? Kenapa kau tidak memberitahuku?" tanya Keyran.
"Donor darah, kalau kau lupa hari apa itu maka akan aku ingatkan. Itu adalah hari saat kau menipuku, lalu mengira aku terlibat kecelakaan dan kau menangis seperti orang gila di ... Whupp!?" Seketika Keyran membekap mulut Nisa.
"Aku sudah ingat, jangan dijelaskan lagi!" Keyran lalu beralih menatap Chelsea dan tersenyum canggung. "Silakan Nona lanjutkan."
"Selanjutnya ... ketika sampai di rumah Natasha menangis histeris, dia tidak ingin hamil dan tidak tahu siapa yang menghamilinya. Berita tentang ini mustahil untuk dirahasiakan dari orang tua, ketika ayah dan ibu tahu ... mereka marah besar terhadap Natasha. Bahkan tanpa ragu menyuruh untuk menggugurkan bayi itu."
"Apa?! Maksudmu Tommy ingin agar bayi itu digugurkan?!" tanya Tuan Muchtar seakan tidak percaya.
"Benar, ayah memang menginginkan hal itu. Akan jadi aib yang memalukan bagi keluarga kami jika ada anak gadis hamil di luar nikah. Natasha sendiri juga tidak mau jika semua mimpinya harus pupus, dia setuju untuk menggugurkan kandungannya. Tapi saya tidak tahan dengan hal itu, saya mati-matian menentang perbuatan tidak bermoral yang ingin dilakukan oleh ayah. Saya juga mati-matian membujuk Natasha agar mau mempertahankan janinnya."
"Akhirnya saya membuat kesepakatan, saya berjanji kepada ayah agar berusaha semampunya mencari orang yang harus bertanggung jawab. Tapi jika tidak ketemu, kemungkinan terburuknya saya yang akan membesarkan anak itu sampai dewasa dengan memberikan status palsu sebagai anak angkat. Lalu sejak hari itu saya terus mengumpulkan informasi apa pun yang berkaitan tentang insiden hari itu."
"Saya juga pergi ke hotel dan meminta pihak hotel untuk memperbolehkan saya melihat rekaman CCTV di hari itu. Tapi sayangnya, karena penumpukan data rekaman, rekaman di hard disk telah hilang, pihak hotel juga mengatakan tidak adanya back-up file rekaman. Tapi untungnya saya mendapatkan petunjuk dari salah seorang resepsionis, dia bilang kamar bekas insiden itu adalah kamar yang selalu dipesan oleh Tuan Muda Daniel."
"Bagi saya, ini hal yang sangat mengejutkan. Saya memendam hal ini seorang diri cukup lama. Apalagi saat mempertimbangkan kondisi kesehatan Natasha yang naik turun ketika terus terisolasi di rumah, bahkan saya juga mencarikan dokter khusus untuk mengecek kesehatannya secara berkala. Keluarga saya mati-matian merahasiakan hal ini dari publik, bahkan ayah juga tanpa ragu mengabari pihak universitas bahwa Natasha berhenti kuliah."
"Lalu saat bayi itu lahir, Natasha sempat tidak mau melihatnya dan enggan memberikannya ASI. Untungnya saya masih punya harapan, saya memiliki teman yang bekerja sebagai sekretaris nya Tuan Daniel."
"Maksudmu Alina?!" tanya Daniel seakan tidak percaya.
"Benar, saya mendapatkan sampel rambut atas bantuan dari Alina. Itu hal mudah untuk dilakukan jika mengingat Alina selalu bekerja di dekat Tuan. Jadi sekarang tidak ada alasan lagi bagi Tuan Daniel untuk mengelak dari tanggung jawab!"
Kebisuan Daniel membuat suasana menjadi hening, bahkan Natasha yang sudah berhenti menangis juga menyeka air matanya dan menatap Daniel dengan tatapan berharap. Tapi di tengah keheningan itu tiba-tiba saja Nisa berdiri.
"Kau mau ke mana?" tanya Keyran.
"Aku lelah, aku mau beristirahat lebih awal. Permisi," Nisa lalu pergi meninggalkan ruang tamu itu.
Daniel masih membisu, lalu tiba-tiba saja Nyonya Ratna berkata sambil memandang ke arah Natasha. "Nak, bayimu perempuan atau laki-laki?"
__ADS_1
"Laki-laki, dia bayi laki-laki yang sehat ..." jawab Natasha dengan suara lirih.
Wanita paruh baya itu lalu tersenyum lembut. "Syukurlah, tapi ... aku baru mengenal kakakmu, siapa nama lengkapmu dan berapa usiamu?"
"Na ... Natasha Faradila Adinata, usiaku 21 tahun ..."
"Ohh, lalu apakah bayimu sudah kau berikan nama?"
Natasha menggeleng. "Belum, aku tak tahu harus memberikan nama apa yang cocok untuknya ..."
Tiba-tiba Natasha menunduk, air matanya kembali mengucur lagi. "A-aku sudah berbuat salah ... aku mengakui kesalahanku karena sempat ingin menggugurkannya, bahkan saat dia lahir aku juga tidak sudi memberikan ASI untuknya. T-tapi ... tangisannya membuat hatiku sakit, dia masih kecil dan rapuh. Dia sama sekali tidak mempunyai kesalahan ..."
"Ketika dia di dalam perutku, dia tidak pernah merasa bahagia karena aku selalu merasa tertekan, bahkan terkadang aku juga mengutuk keberadaannya ... Tapi dia bertahan atas semua itu dan lahir ke dunia, aku pikir dengan begitu maka penderitaanku tak akan ada habisnya ..."
"T-tapi, lagi-lagi suara tangisannya membuat hatiku sakit seakan aku akan gila jika terus mendengarnya. Aku tak tahan! Aku mencoba mendekatinya untuk membungkam mulutnya, tapi sesaat sebelum itu, dia langsung tenang saat aku menyentuhnya. Dia juga menggenggam jariku dengan tangannya yang mungil ..."
"Tanpa sadar saat itu juga aku menangis ... Untuk pertama kalinya aku merasakan perasaan yang rumit semacam ini ... Dulu aku memang ingin menyingkirkannya dari hidupku, tapi sekarang aku sangat menyayanginya! Aku ingin dia tumbuh dengan sehat dan merasakan kasih sayang dari orang tua yang sepantasnya dia dapatkan!"
Natasha mendongak dan menatap Daniel lekat-lekat. "Aku mohon bertanggung jawablah! Yang aku butuhkan hanya sosok ayah yang bersedia memberikan kasih sayang untuk anakku!"
Tangisan Natasha semakin menjadi-jadi, bahkan Chelsea juga turun tangan dan memeluknya untuk mencoba menenangkan adiknya itu.
...Pada saat yang sama, kamar tidur...
...••••••...
Nisa yang sudah pergi meninggalkan ruang tamu sekarang berada di kamar, dia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar dengan tatapan mata yang kosong.
"Hahh ... ini gila," gumamnya.
Ternyata aku telah salah sangka. Dulu saat Natasha tiba-tiba berhenti kuliah, aku dengar rumor dari Jenny kalau dia berhenti gara-gara hamil. Waktu itu dia memang sedang dekat dengan Ricky, jadi aku pikir dia hamil anaknya Ricky. Tapi kenyataannya ayah dari bayi itu adalah Daniel.
Dulu aku masih punya perasaan kepada Ricky, aku yang mendengar rumor itu tidak dapat mengendalikan diri lagi. Aku sangat kecewa dan aku juga berniat untuk bunuh diri dengan melompat ke danau.
"Ahh ... sialan! Untung saja saat itu ada Jonathan yang menghalangiku, jika tidak maka aku sudah pasti akan mati konyol."
Mungkin jika bertemu dengannya lagi, aku harus mengatakan terima kasih. Lalu mungkin saja aku juga harus meminta maaf pada Ricky karena telah berprasangka buruk terhadapnya. Kalau dipikir-pikir ... aku memang gila. Bisa-bisanya dulu aku punya perasaan kepada Ricky sampai sebegitu dalamnya.
"Tapi sekarang ... tidak menutup kemungkinan jika nanti akan ada pernikahan antara Daniel dengan Natasha. Jika itu benar terjadi, maka artinya ... aku dan Natasha akan jadi satu keluarga besar! Dih, najis!"
Akan lebih gila lagi jika itu benar-benar terjadi, padahal dulu bisa dibilang aku dan Natasha saling bermusuhan gara-gara berebut Ricky. Tapi anehnya kita berdua sama-sama terjebak oleh Tuan Muda dari keluarga Kartawijaya ini.
Kacau ... hubungan Keyran dan Daniel sama sekali tidak harmonis, padahal aku sempat terpikirkan untuk memperbaiki ini. Aku pikir setidaknya nanti Daniel akan mendapatkan istri yang baik dan ramah, tapi jika itu Natasha ... Aku jelas tidak akan sudi berteman baik dengannya. Natasha sendiri pun pasti juga begitu, dia menyebalkan!
"Hahh ..." Nisa menghela napas, dia berkedip beberapa kali sembari menatap langit-langit, lalu tiba-tiba saja dia tersenyum pahit sambil mengusap perutnya.
"Tadi aku berpapasan dengan pelayan yang menggendong bayi itu, ternyata dia bayi laki-laki. Cucu pertama dari keluarga Kartawijaya dan Adinata. Wah ... dia seperti uang bernyawa dari kedua keluarga konglomerat yang digabungkan, nantinya dia pasti akan diperlakukan dengan sangat baik dan selalu dimanjakan. Mungkin ini yang dinamakan berkah di balik kemalangan."
"Dulu, aku selalu berhasil membuat Natasha iri karena Ricky masih milikku. Tapi sekarang berbanding terbalik, untuk pertama kalinya aku merasa iri. Aku juga ingin merasakan yang namanya perjuangan jadi seorang ibu. Andai saja aku tidak keguguran ... Sepertinya bagiku hanya ada kemalangan lain di balik kemalangan yang aku alami."
Nisa lalu memiringkan badannya, seketika pandangannya tertuju pada sebuah bingkai foto yang berada di atas meja kabinet samping ranjang. Dia kemudian bangkit dan mengambil bingkai foto itu, dia menatap foto yang berada di dalam bingkai itu cukup lama.
Gambar foto tersebut tidak lain adalah portrait Keyran, Nisa mengusap bingkai itu sambil tersenyum tipis. "Aku tarik kembali kata-kataku barusan," gumamnya.
Bodohnya aku, untuk apa aku iri jika aku sudah punya sesuatu yang selalu diimpikan oleh orang lain? Aku punya suami yang sangat mencintaiku, dia juga selalu memenuhi segala keinginanku, aku merasa bersalah karena tadi sudah meragukan kesetiaannya.
"Ehem! Aku tahu kalau aku memang tampan, tapi mau sampai kapan kau memandangi fotoku? Padahal orang aslinya ada di sini tapi malah kau abaikan." ucap Keyran yang tiba-tiba saja sudah berada di kamar.
"Eh, kapan kau datang?! Aku tidak dengar suara pintu dibuka." Nisa salah tingkah dan segera menaruh bingkai foto itu ke tempat semula.
"Pintunya masih terbuka, dasar pelupa." Keyran lalu menghampiri Nisa dan ikut duduk di pinggir ranjang. Kedua tangannya menahan wajah Nisa lalu dia hadapkan wajah itu kepadanya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Nisa.
"Hehe, bukannya kau suka menatap wajahku? Sekarang kau bisa menatapnya seharian!"
"Humph, aku kira ada apa." Nisa menyingkirkan tangan Keyran dari wajahnya, kemudian dia bersandar pada bahu Keyran. "Kau sudah kembali ke sini, apa perbincangannya sudah selesai?"
"Sudah, untuk sementara permasalahan itu sudah diatasi secara baik-baik."
"Jadi bagaimana? Apa Daniel berencana bertanggung jawab dengan menikahi Natasha?"
"Dia masih belum memutuskan, dia menginginkan tes DNA ulang. Bahkan saat ini juga mereka sudah berangkat. Ayah juga menganggap hal ini sangat mendesak, jika menggunakan darah sebagai sampel, waktu 24 jam itu sudah cukup untuk mengidentifikasi DNA."
"Lalu ... bagaimana jika hasil tes ulang itu tetap sama? Bukankah ini juga akan berakibat pada reputasi keluarga jika punya keturunan di luar nikah?" tanya Nisa lagi.
"Itu memang benar, tapi jika hasilnya tetap sama maka ayah sendiri yang akan turun tangan. Dia akan membicarakan ini dengan menemui tuan besar keluarga Adinata di kediaman mereka. Dan untuk masalah lain-lain seperti media massa dan reputasi, tentu saja para orang tua yang akan membahasnya. Oh iya, tadi sepertinya kau mengenal gadis yang Daniel hamili. Tapi ... sepertinya hubungan kalian juga tidak baik."
"Haha, kau benar. Dia satu angkatan denganku, jika saja dia tidak hamil dan masih kuliah, dia pasti sudah berada di semester akhir sepertiku. Soal hubunganku dengannya ... memang tidak baik, dulu dia selalu mencoba merebut Ricky dariku secara terang-terangan. Bahkan orang lain yang satu angkatan denganku juga tahu kalau aku sering membuat masalah dengan Natasha karena hal itu."
"Huh, kau rela bermusuhan dengan orang lain demi mantanmu, tadi di ruang tamu kau juga terkesan seperti membelanya. Apa kau masih punya perasaan yang tersisa untuk mantanmu itu?" tanya Keyran dengan nada ketus.
Sejenak Nisa tertegun, kemudian dia berkata, "Apa kau cemburu hanya karena itu? Aku kan sudah jelaskan kalau aku cuma meluruskan kesalahpahaman Chelsea terhadap Ricky."
"Cih, tetap saja aku kesal!"
Tiba-tiba saja Nisa berhenti bersandar lalu memberikan sebuah kecupan di pipi Keyran. "Ayolah darling ... Aku juga akan memperlakukanmu dengan cara yang sama jika ada yang mencoba merebutmu dariku. Aku rela bermusuhan dengan siapa pun itu, dan aku juga akan selalu membelamu. Jadi berhenti cemburu, oke?"
Keyran lalu memalingkan pandangannya. "Heh, tadi siapa yang katanya tidak mau kusentuh? Tapi sekarang malah seenaknya menciumku. Kau mencurigaiku tanpa tahu penjelasannya, dasar tukang marah!"
"Entahlah Key, sebelumnya aku membayangkan jika itu benar-benar bayimu dengan orang lain. Aku rasa ... jika itu benar terjadi, aku akan marah sampai jadi gila. Maaf, aku tidak bisa mengendalikan amarahku jika itu menyangkut tentangmu. Terserah kalau kau mau menyebutku tukang marah, karena itu memang benar."
Keyran menatap istrinya itu, lalu tersenyum tipis sambil mengusap kepala Nisa dengan lembut. "Aku pun sama, aku juga tidak bisa mengendalikan rasa cemburuku jika itu berhubungan denganmu, sekecil apa pun itu aku akan tetap cemburu. Aku tidak masalah jika kau menyebutku tukang cemburu, karena itu benar adanya."
"Haha, tukang marah dan tukang cemburu, apa menurutmu kita cocok?" Nisa terkekeh.
"Tentu saja, bukan cuma cocok, tapi kita juga best couple!"
"Pffttt ...hahaha! Aku suka itu!" Nisa langsung mendekat dan memeluk Keyran dengan erat.
Keyran juga tersenyum dan membalas pelukan dari istrinya itu. "Emm ... Nisa, tadi kau bilang kalau kau kelelahan, tapi saat aku ke sini nyatanya kau belum tidur, apa kau belum mengantuk?"
"Sebenarnya belum, tapi kau sudah tahu kebiasaanku, asalkan sudah ada bantal dan kau memelukku, aku jamin tidak 5 menit aku sudah tidur." Nisa lalu melepaskan pelukannya. "Ayo cepat berbaring!"
"Tunggu dulu!" ucapnya sambil menahan tangan Nisa.
"Ada apa?"
"Bukan apa-apa, hanya saja ... sebelum tidur bukankah ada sesuatu yang harus kita lakukan? Yang kita lakukan seperti malam-malam biasanya." ucap Keyran dengan ekspresi malu-malu.
"Kau benar, kalau begitu ayo ke kamar mandi!"
"Kau serius ingin melakukannya di kamar mandi?"
"Tentu saja, memangnya kau mau gosok gigi di mana?" Nisa menatap heran.
"Ohh ... tapi bukan itu yang aku maksud."
"Lalu apa?"
"Yang biasanya kau lakukan sebelum tidur, tapi tidak dilakukan setiap malam juga."
Sejenak Nisa tertegun, kemudian dia berkata. "Oh iya, hampir saja aku lupa! Terima kasih sudah mengingatkan kalau aku harus ganti pembalut! Kau tenang saja, pasti tidak akan tembus dan kasurmu akan tetap bersih!"
__ADS_1
Nisa langsung berlari ke kamar mandi. Sedangkan Keyran, dia masih berdiam diri duduk di pinggir ranjang. "Ternyata ..." gumamnya dengan senyum terpaksa.
Pantas saja hari ini dia selalu mencari-cari kesalahanku, selain tidak dapat jatah aku juga jadi pelampiasan suasana hatinya yang buruk.