
Hari yang dinantikan akhirnya tiba, semua orang yang hadir di acara itu tampak sangat antusias. Semua orang juga dibuat takjub dan kagum oleh acara pernikahan yang megah itu, tapi semua itu tak luput dari rasa iri dan penasaran.
Semua orang yang hadir mulai dari para tamu, orang-orang penting dan juga para wartawan, mereka semua bertanya-tanya siapakah gadis beruntung yang akan menikah dengan si pewaris dari keluarga terpandang. Maka dari itu, semua orang sudah tidak sabar ingin acara pernikahan untuk segera dimulai.
Lalu pada saat yang sama, di sebuah ruangan ada seorang gadis yang sudah mengenakan gaun pengantin sedang duduk di depan meja rias. Gadis itu bercermin dan hanya memandangi dirinya sendiri dengan tatapan kosong, di dalam pikirannya dia masih tidak percaya kalau dirinya akan segera menikah.
Tak lama kemudian datanglah seorang gadis lain yang tiba-tiba masuk, gadis yang dimaksud adalah Tia, kakak perempuan dari mempelai wanita. Setelah Tia masuk, dia langsung menghampiri dan berdiri di belakang mempelai wanita, yaitu Nisa.
"Hei, kenapa melamun? Apa yang sedang kamu pikirkan?" bisik Tia sambil menepuk pundak Nisa.
"Kak, menurutmu bagaimana gaunku?" tanya Nisa.
"Cocok sekali denganmu, gaun pengantin yang kamu pakai ini sangat bagus," ucap Tia sambil tersenyum lembut.
"Kalau menurut kak Tia bagus, kakak saja yang pakai!" ucap Nisa seakan terdengar memaksa.
Tia tersentak dan langsung berjalan mundur beberapa langkah, "A-apa!? Maksud kamu apa?" tanya Tia seakan tidak percaya.
"Heh!" Nisa menyeringai lalu berdiri dan berjalan mendekat ke arah Tia, kemudian dengan entengnya dia berkata, "Kak Tia masih punya keinginan untuk menikah dengan Keyran kan? Maka gantikan aku!"
"A-aku tidak..." Tia tiba-tiba berhenti berjalan mundur, "Apa yang kamu bicarakan? Dia itu calon suamimu, aku mana mungkin ingin menikah dengannya. M-mungkin sebelumnya aku ingin, tapi hari ini adalah hari pernikahanmu. Jadi kamu jangan bicara sembarangan seperti itu!" ucap Tia sambil menggelengkan kepala.
"Haha, begitukah...?" Nisa melangkah lebih dekat dan tiba-tiba dia mencengkeram pundak Tia, lalu dengan tatapan mata yang mengerikan dia berkata, "Kak Tia jujurlah padaku, aku tahu semua isi hati kakak. Kak Tia takut kan? Sebaiknya kakak singkirkan perasaan itu, jadilah berani!"
"T-tapi... jika aku menggantikanmu, maka akibatnya sangat buruk... Aku takut! Meskipun aku sangat ingin menggantikan posisimu, aku sangat takut! S-Semuanya mungkin akan kacau..." ucap Tia dengan nada ketakutan.
"Kak Tia tenang saja, semuanya nanti aku yang tanggung! Bahkan jika aku tetap menikah, pasti pernikahanku juga nggak akan bertahan lama, satu tahun juga nggak akan sampai... jadi kakak gantikan aku saja! Mereka pasti bersyukur kalau kita melakukan ini!" ucap Nisa dengan penuh keyakinan.
"Tapi, tetap saja aku takut... Jelas-jelas saat itu dia sudah menolakku, kalau aku yang menikah pasti dia akan sangat membenciku! Aku tidak bisa menggantikanmu..." ucap Tia dengan nada putus asa.
"Ayolah... kakak, aku mohon... Aku jamin dia pasti akan menyukaimu! Yang sebenarnya mengatur perjodohan ini adalah rubah tua sialan itu, jika dia benar-benar buat perhitungan karena hal ini, maka aku sendiri yang akan menanggung semuanya. Nanti kak Tia bilang saja kalau aku mengancam kakak, kakak limpahkan semuanya padaku, pasti nanti mereka akan mengerti dan hanya menyalahkan aku! Kak Tia pasti akan baik-baik saja," paksa Nisa.
"T-tapi..."
"Tapi apa? Ayolah kak, waktunya sudah mepet... ayo kita cepat bertukar gaun!" ucap Nisa sambil menarik-narik gaun milik Tia.
"J-jangan! Aku masih belum yakin kalau ini benar," ucap Tia dengan nada ketakutan.
"Ayolah! Buang keraguan kakak! Ini demi kebaikan kita semua, ini hal yang benar! Percayalah padaku, aku pasti..."
"Cukup! Hentikan kegilaanmu sekarang!" teriak seseorang yang tiba-tiba masuk.
Setelah mendengar teriakan seseorang, Nisa langsung terdiam dan melepas cengkeraman tangannya dari pundak Tia. Nisa dan Tia juga kaget saat orang yang masuk itu berjalan mendekat ke arah mereka, lalu dia tiba-tiba menampar Nisa.
Plaakk....!
"A-ayah..." ucap Nisa terbata-bata.
"Paman Gilang...!?" ucap Tia seakan tidak percaya.
"Tia, kau pergilah! Paman ingin bicara dengan adikmu yang gila ini," ucap ayah dengan tatapan sinis.
__ADS_1
"B-baik paman, aku pergi..." ucap Tia dengan nada ketakutan sambil berjalan pergi.
Astaga... menakutkan sekali, bisa-bisanya paman Gilang menampar anaknya sendiri, untung saja tadi aku tidak setuju.
Saat Tia sudah pergi, ayah langsung memegang pundak Nisa dan mengguncang tubuhnya, lalu dia juga menatap Nisa dengan tatapan penuh amarah.
"Nisa! Kendalikan dirimu! Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Bukankah tadi malam kau sudah yakin tetap ingin menikah? Kenapa sekarang kau malah bertingkah seperti ini!?" tanya ayah dengan nada kasar.
"...." Nisa hanya diam dan menatap ayahnya dengan tatapan kosong.
"Sudahlah, tenangkan dulu dirimu," ucap ayah yang seketika kembali tenang, lalu beberapa saat kemudian dia berkata, "Nisa, maafkan ayah karena sudah menamparmu, ayah melakukan itu agar akal sehatmu kembali, sekarang kau bisa cerita pada ayah kan?" ucap ayah dengan nada menyesal.
"Iya..." ucap Nisa dengan lirih dan tanpa sadar dia meneteskan air mata.
"Tenangkan dirimu," ayah kemudian mengusap air mata Nisa lalu dia berkata, "Nisa, kendalikan emosimu, katakanlah pada ayah, sebenarnya kenapa kau seperti ini? Ada apa denganmu?"
"Ayah... aku nggak bisa melakukan ini, aku sudah mencoba berkali-kali meyakinkan hatiku, tapi tetap saja aku nggak bisa. Aku nggak setegar seperti yang ayah duga, aku nggak terima... Aku nggak bisa ayah! Aku nggak mau terjebak dalam lingkaran setan yang disebut pernikahan ini!" ucap Nisa dengan nada putus asa.
"Nisa... kemarilah," ayah lalu memeluk Nisa dan kemudian berkata, "Pernikahan nggak seburuk seperti yang kau kira, ayah tahu apa yang membuatmu berpikir seperti ini. Kau itu cuma gugup, ayah yakin kau bisa melewati semua ini, pernikahan ini nggak ada apa-apanya untuk gadis tangguh seperti dirimu. Jadi hadapilah semua ini, apa pun yang akan terjadi di masa depan ayah pasti selalu bersamamu, keberanian ada dalam dirimu!" ucap ayah dengan penuh keyakinan.
"Benarkah ayah...?" seketika Nisa menjadi tenang dan akal sehatnya kembali.
"Iya, ayah sangat yakin padamu. Kalau kau masih ragu, ayo ikut ayah!" Ayah lalu menuntun Nisa untuk duduk di depan meja rias, kemudian dengan senyum lembut dia berkata, "Lihatlah pengantin ini, dia adalah dirimu!"
"Aku tahu, tapi yang ayah maksud apa?" tanya Nisa dengan wajah bingung.
"Kau perhatikanlah dia, dirimu sendiri!" ayah tiba-tiba berlutut lalu menggenggam tangan Nisa, "Tersenyumlah, kau itu adalah pengantin termanis yang pernah ada!"
"Ayah dulu juga sama sepertimu, sesaat sebelum menikahi ibumu di dalam hati ayah juga muncul keraguan. Ayah juga berpikir apakah yang ayah lakukan ini benar, tapi akhirnya ayah memutuskan untuk berani. Setelah ayah menikahi ibumu di dalam diri ayah akhirnya muncul rasa kepuasan, ayah sangat puas karena ayah berhasil menyingkirkan keraguan ayah. Jadi, rasa keraguanmu itu muncul cuma karena kau sedang gugup." jelas ayah.
"Tapi, pernikahan sialan ini... tetap saja rasanya sulit untuk dilakukan," keluh Nisa dengan tampang memelas.
"Hah... ayah akan memberimu penjelasan. Terkadang apa yang kita anggap sebagai kesialan dan nasib buruk, sejatinya itu adalah undangan untuk membuat diri agar menjadi lebih dewasa. Kalau kau berpikir dewasa, pasti kau akan menemukan sebuah keberhasilan dalam hidup." ayah lalu kembali berdiri.
"Jadi... maksud ayah pernikahanku ini mungkinkah akan berhasil? Tapi, bukankah cinta juga penting agar pernikahan bisa berhasil?" tanya Nisa.
"Iya, cinta memang sangat penting. Ayah juga tahu kalau kau masih belum bisa melupakan mantanmu itu, tapi cepat atau lambat antara kau dengan calon suamimu pasti juga akan tumbuh perasaan cinta. Dengan begitu pernikahanmu bisa berhasil, dan itu semua akan terjadi jika kau berusaha!"
"Usaha...?"
"Iya, kau harus berusaha untuk membuka hatimu. Dan kau juga harus berhenti hidup di masa lalu, jika kau terus seperti itu maka kau hanya akan melukai hatimu," ucap ayah sambil mencubit hidung Nisa.
"Ugh... iya-iya...!" Nisa lalu menepis tangan ayahnya, "Ayah bicara seperti itu memang gampang, tapi bagiku itu semua sangat sulit ayah...!" ucap Nisa dengan wajah murung.
"Astaga... kan ayah sudah bilang, kau harus berusaha! Sekarang kau harus perbaiki riasan wajahmu itu, eyeliner di matamu sedikit luntur!" ayah lalu berjalan sedikit menjauh dari meja rias.
"Baiklah..." Nisa lalu perlahan mulai memperbaiki riasan wajahnya.
Saat Nisa selesai berdandan, ayah tiba-tiba memasangkan veil pada rambut Nisa. Kemudian dia menutupi kepala dan wajah Nisa dengan veil yang telah dia pasang.
"Nah, sekarang kau terlihat seperti pengantin yang sempurna! Setelah wajahmu ditutupi dengan veil ini, perasaan gugup dalam hatimu berkurang kan?" tanya ayah sambil menepuk pundak Nisa.
__ADS_1
"Iya, sudah berkurang. Terima kasih ayah..." ucap Nisa sambil tersenyum.
"Pernikahanmu akan dilaksanakan sebentar lagi, lalu untuk sekarang kau hanya harus mempersiapkan hati dan mentalmu! Ayah pergi dulu ya..." ayah mengusap kepala Nisa lalu berjalan pergi.
"...." Nisa hanya diam dan menatap dirinya sendiri di cermin, lalu untuk beberapa saat kemudian dia tiba-tiba menyeringai seakan seperti sedang menertawakan dirinya sendiri.
Haha, tadi untuk sesaat aku sempat kehilangan akal sehatku, semua itu tentu saja karena dirimu Ricky. Semua orang memaksaku untuk melupakanmu, tapi apa aku bisa? Aku takut, aku sangat takut bagaimana aku akan menatapmu di kemudian hari. Aku hanyalah seorang pengecut yang bahkan sulit untuk mengatakan semua kebenaran pada dirimu, tapi sekarang aku malah berpura-pura seakan aku ini adalah gadis yang tegar dan berani. Bukankah semua ini percuma...?
"Nggak, nggak bisa begini terus! Aku harus membuat hatiku setenang mungkin, aku harus mencoba mengalihkan pikiranku dari hal-hal negatif!"
Nisa mulai mengatur napasnya, dia berusaha bernapas normal dan serileks mungkin. Bahkan dia juga mulai berhitung, menghitung angka 1 sampai 10.
Di dalam hati, Nisa terus mengulangi hitungan dan mengatur pernapasan. Mungkin hanya sebagian orang yang tau, bahwa Nisa punya penyakit gangguan kecemasan. Terkadang dia jadi sensitif terhadap suatu hubungan. Dia akan melakukan apa saja asalkan dapat menyingkirkan rasa cemasnya, bahkan dia juga kerap diam-diam menyakiti dirinya sendiri.
Nisa terus mengulangi hitungan sampai dia mendapatkan ketenangan di hatinya. Lalu tak lama kemudian datanglah seseorang yang tiba-tiba memberi kabar mengejutkan untuk Nisa.
Braak!! suara bantingan pintu.
"Kak Nisa, gawat! Ini darurat! Emergency!" teriak Dimas dengan nada panik sambil berlari ke arah Nisa.
"Hey... tenanglah, ada apa?" Nisa lalu berdiri dan memegang pundak Dimas untuk menenangkannya.
"Kak, gimana nih? Sekarang kita harus apa?" tanya Dimas sambil meloncat-loncat karena panik.
"Apa sih? Yang jelas dong!" Nisa terbawa suasana lalu dia juga ikut-ikutan meloncat.
"A-anu.... Kak Ricky ada di luar! G-gimana nih!? Apa kak Nisa kabur aja?" ucap Dimas terbata-bata.
"Nani!?" Nisa tersentak dan dia langsung berhenti meloncat, lalu beberapa saat kemudian dia tiba-tiba duduk kembali dan seolah-olah bersikap tenang. Nisa lalu menatap Dimas dengan tatapan serius, dan kemudian dia menarik napas panjang, "Hah... Aku nggak nyangka kalau Ricky bakalan kesini, sekarang dia sedang apa? Kau panik seperti ini jangan-jangan dia buat keributan ya?"
"Kak... kenapa kakak masih bisa setenang ini!? Apa kakak nggak takut kalau kak Ricky sampai-sampai berbuat nekad?" tanya Dimas terheran-heran.
"Oh, jadi dia belum melakukan apa-apa. Sekarang dia sedang apa?"
"Emmm... bagaimana ya? Pokoknya kak Ricky belum melakukan apa-apa karena sepertinya dia masih belum tahu kalau ini adalah pernikahan kakak, lalu dia sekarang sedang bersama kak Reihan! Kak Rei sedang berusaha untuk mengalihkan perhatiannya, lalu sebenarnya kak Nisa ini ngapain sih? Mau nikah kok ngundang mantan!?"
"Tsk! Ini nih kalau otak nggak dipake, kalau aku yang ngundang dia seharusnya dia tahu dong kalau ini nikahan siapa. Sialan! Ini pasti si brengsek itu yang mengundangnya! Kenapa dia ini cari masalah terus sih!?"
"Kak.... ini bukan waktunya memaki orang, sekarang kita harus apa? Apa aku dan kak Rei harus mengusirnya!?"
"Nggak, nggak perlu!" jawab Nisa secara spontan.
"Apa kak Nisa gila!? Kak Ricky mungkin saja akan membuat keributan!" ucap Dimas seakan tidak percaya.
"Memang itu yang aku harapkan..." ucap Nisa dengan senyum licik.
"What!? Terserah kakak! Pokoknya aku nggak ikut-ikutan kalau sampai acara ini berantakan! Aku pergi... bye!" Dimas lalu pergi dengan perasaan kesal.
"Haha, akhirnya..." Nisa tertawa sambil menepuk jidatnya sendiri.
Ricky... Ricky... semakin aku berusaha menghindar darimu, maka kamu juga semakin dekat denganku. Dan pada akhirnya aku juga tetap bergantung padamu! Tapi aku senang, akhirnya masih tersisa satu harapan untukku, Ricky kamu adalah harapan terakhir yang aku punya...
__ADS_1