
"Apa?! Meninggalnya ibu mertuaku?"
Nisa masih kebingungan sekaligus tidak percaya, rasa penasarannya tidak bisa ditahan lagi. Dia menarik Valen untuk sedikit menjauh dari pintu ruangan tempat Keyran mengurung diri.
"Katakan yang sebenarnya! Tolong ceritakan semuanya!" pinta Nisa dengan tatapan memaksa.
"Emm ... tapi, saya punya persyaratan. Nyonya tidak boleh mengungkit ataupun menyebarkan tentang hal ini pada orang lain nantinya." ucap Valen dengan nada ragu.
"Iya, cepat katakan!"
"Huft ... baik, sebenarnya Tuan mulai mengurung diri seperti saat ini semenjak kepergian Nyonya Besar, yaitu Nyonya Kenanga, nama panggilannya adalah Nana. Dan ini sudah terjadi cukup lama sekali, sejak Tuan masih berusia 7 tahun. Lebih buruknya lagi sejak itu Tuan juga mulai kurang suka terhadap Tuan Besar."
Nisa membisu, sejenak dia melirik ke arah pintu dan menatapnya dengan tatapan iba. Dia juga penasaran bagaimana dengan keadaannya Keyran yang sedari tadi sangat hening. Dia menarik napas dalam-dalam kemudian kembali menatap Valen.
"Aku bilang semuanya, termasuk awal dari kejadian ini. Mengapa Keyran bisa membenci ayahnya sendiri? Dan apa hubungannya dengan festival lampion?"
"Baiklah jika Nyonya memaksa. Awal dari semua ini adalah kesalahan yang dibuat oleh Tuan Besar. Nyonya Besar yang saat ini, yaitu Nyonya Ratna, sebenarnya dia dulu hanya seorang pelayan di kediaman. Suatu ketika tiba-tiba dia mengundurkan diri sebagai pelayan, dan setelah 3 tahun kemudian dia kembali bersama seorang anak laki-laki."
"Itu Daniel!"
Ternyata dia anak haram toh.
"Benar, tapi keadaannya saat itu Tuan Daniel yang berumur 2 tahun sedang sakit dan sangat butuh pengobatan sesegera mungkin. Awalnya semua orang tidak percaya kalau dia adalah anaknya Tuan Besar, namun saat dites DNA hasilnya ternyata cocok. Dan setelahnya Nyonya Ratna menjelaskan kalau dirinya pernah dilecehkan sewaktu masih menjadi pelayan, dia kembali ke kediaman utama karena alasan tidak punya biaya untuk pengobatan anaknya."
"Tuan Besar saat itu juga mengakui kesalahannya, dia bilang kalau saat itu dia sedang mabuk, dia tidak bisa mengontrol tindakannya. Jadi mau tidak mau dia harus bertanggung jawab dan membiayai seluruh pengobatan Tuan Daniel. Pertengkaran pun tidak bisa dihindari, mengetahui kenyataan pahit itu membuat Nyonya Kenanga jatuh sakit, bahkan dia sering pingsan akibat terlalu tertekan. Sejak saat itu Tuan Keyran mulai membenci dan selalu membangkang ayahnya."
"Identitas Tuan Daniel sebagai anak haram juga tidak bisa dihindari. Karena pada dasarnya Keluarga Kartawijaya adalah keluarga terpandang di kalangan konglomerat, tentu saja Tuan Besar tidak bisa membiarkan identitas itu terus menempel dan rumor buruk tersebar ke mana-mana. Akhirnya dia memutuskan untuk menikahi Nyonya Ratna, meskipun sebenarnya dia enggan. Nyonya Ratna awalnya menolak, yang dia inginkan sebagai pertanggungjawaban hanya sebatas Tuan Besar mau membiayai pengobatan. Tapi anehnya Nyonya Kenanga berlapang dada dan membujuk Nyonya Ratna untuk menerima. Dia seperti itu karena merasa tidak adil jika Nyonya Ratna tidak menikah, karena bagaimanapun suaminya yang telah melecehkannya sampai mempunyai anak. Terlebih lagi Nyonya Ratna juga tidak melapor ke polisi."
"Setelah pernikahan, kedua Nyonya tampak akur, pada dasarnya memang mereka berdua sama-sama baik hati. Tapi tetap saja Nyonya Kenanga masih sering sakit-sakitan. Saat itu usia Tuan Keyran 5 tahun, dia tumbuh berdampingan dengan Tuan Daniel. Namun saat itu tetap saja Tuan Keyran masih polos, dia melakukan apa saja yang dia anggap benar. Dia tidak pernah mengakui Nyonya Ratna sebagai ibu tirinya ataupun Tuan Daniel sebagai adiknya, bahkan dia juga kerap membully."
"Tahun demi tahun berlalu, namun tidak ada yang bisa mengubah kebencian Tuan Keyran. Saat Tuan berusia 7 tahun, dia sudah mulai mengerti bermacam-macam hal. Saat itu dia diberitahu oleh teman sekolahnya bahwa akan ada festival lampion, dia sangat tertarik dan ingin mengajak Nyonya Kenanga untuk menghadiri festival itu dengannya. Namun di luar dugaan Tuan Besar melarang dengan alasan kondisi kesehatan Nyonya Kenanga. Nyonya Kenanga tidak mau anaknya kecewa, akhirnya dia pun bersikeras untuk tetap datang."
"Saking semangatnya, Tuan memutuskan untuk berangkat terlebih dulu, katanya dia ingin memborong semua lampion. Ketika acara hampir berakhir, Nyonya Kenanga tak kunjung datang juga. Namun siapa sangka ternyata di perjalanan Nyonya Kenanga mengalami kecelakaan lalu lintas dan tewas di tempat. Kejadian itu membuat Tuan terpukul, dia menyalahkan dirinya sendiri atas meninggalnya Nyonya Kenanga. Sejak saat itu dia selalu mematuhi apa pun perkataan Tuan Besar. Dan sejak saat itu Tuan selalu mengurung diri selama acara festival lampion yang diadakan setiap tahun berlangsung."
"Alasan saya melarang Nyonya untuk masuk tadi adalah dikhawatirkan kalau Tuan akan melukai Anda. Sebenarnya ini berlaku bagi semua orang, entah siapa pun yang mencoba mengganggunya di saat-saat seperti ini maka Tuan akan tanpa ragu melukai orang tersebut. Bahkan setiap kali mengetahui ada berita mengenai kecelakaan lalu lintas, dia selalu bersikap panik."
"Ehmm ... jadi itu sebabnya Key begitu panik ketika saat itu aku dikira terlibat dalam kecelakaan. Tapi," Nisa kembali menoleh ke arah pintu. "Sejak umur 7 tahun, itu artinya 20 tahun sudah berlalu, sudah 20 tahun dia terperangkap dalam kondisi ini, kalau seperti ini ... bukannya sudah termasuk trauma berkepanjangan?"
Ternyata ini sebabnya mengapa Keyran selalu mengirim orang untuk diam-diam mengawasiku dan selalu melarangku melakukan ini itu. Dia tidak ingin lagi mengambil risiko kehilangan seseorang yang dia sayangi. Aku akui kalau niatnya baik, tapi caranya terlalu ekstrem dan terkesan seperti membatasi kebebasanku.
Sejenak Nisa membisu, dan tiba-tiba saja dia menatap mata Valen, namun setelahnya dia malah menunduk dan sebelah tangannya mencengkeram erat lengan yang satunya.
"Dia sebenarnya butuh dukungan, butuh bantuan untuk menariknya keluar dari kondisi ini. Bahkan aku sebenarnya pernah dalam kondisi seperti ini, kondisi dimana aku menyalahkan diri sendiri atas semua yang terjadi. Aku bisa keluar karena ada yang membantuku. Tapi Keyran ... kalian semua yang sebelumnya dekat dengannya ataupun keluarganya, apakah di antara kalian tidak ada satu pun yang peduli?"
"Bukan tidak ada yang tidak peduli, tentu saja Tuan Besar sudah melakukan segala cara untuk menghilangkan trauma ini, tapi Tuan menolak semuanya dan bilang tidak memerlukan bantuannya. Bahkan Tuan Besar pernah mencoba menyuap pemerintah daerah untuk tidak lagi mengadakan festival lampion, tapi ditolak karena alasan peminat yang sangat banyak, tentu saja jika ditiadakan maka akan menimbulkan pertentangan. Tuan juga akan sangat marah jika ada yang mengungkit tentang kondisinya ini. Dan orang yang mengetahui tentang hal ini sangat sedikit, hanya Tuan Besar, saya, Bibi Rinn, dan yang terakhir adalah Nyonya."
"Lalu sekarang bagaimana? Apa yang biasanya kalian lakukan di saat-saat seperti ini?"
"Tidak ada, biasanya hari esok Tuan sudah tidak akan lagi mengurung diri, namun beberapa hari setelahnya suasana hatinya masih kurang baik. Intinya semuanya akan kembali seperti biasa. Nyonya tidak perlu terlalu khawatir, bersikap saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa."
"Apa katamu?! Aku ini istrinya! Mana mungkin aku harus diam saja di saat suamiku menderita karena trauma?! Pokoknya aku harus masuk! Suamiku sudah menderita terlalu lama!"
Nisa bergegas menuju ke arah pintu namun tiba-tiba Valen menghadang jalannya.
"Minggir!"
"Nyonya, sebaiknya tolong pikirkan sekali lagi. Bagaimana jika terjadi apa-apa denganmu nanti? Tidak ada yang bisa menjamin tindakan Tuan terhadap Anda."
"Aku bisa jamin! Dia mencintaiku jadi mustahil baginya menyakitiku. Valen, aku minta padamu tolong minggirlah. Jika tidak membantu setidaknya jangan menghalangi. Kau tak usah cemas tentang bagaimana aku nanti. Percayalah, aku mohon jangan halangi aku bertemu suamiku ..."
"T-tapi tetap saja ini berisiko, jika terjadi apa-apa sebaiknya Nyonya cepat lari keluar. Jika memang benar bahwa Tuan bisa terbebas dari trauma masa kecilnya, maka saya akan membantu."
"Bagus, harusnya kau memang mendukungku! Sekarang cepat dobrak pintunya!"
Valen mengangguk lalu bersiap mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu. Namun pintu itu begitu kokoh, sudah percobaan yang ketiga kali tapi masih belum berhasil.
__ADS_1
"Sialan!" Valen meringis kesakitan sambil memegangi bahunya. Tapi dia belum menyerah dan masih ingin mencobanya lagi.
"Cukup!" teriak Nisa yang membuat Valen terhenti. "Ini percuma, kita lakukan bersama-sama!"
"Eh?! Tapi tubuh Nyonya ... terlebih lagi Nyonya juga baru keluar dari rumah sakit, saya rasa sebaiknya jangan."
"Diamlah, kondisi tubuhku aku sendiri yang paling tahu. Aku yakin bisa melakukannya!"
Valen mengangguk setuju, dengan aba-aba dari Nisa mereka berdua bersama-sama mendobrak pintu itu sekuat tenaga.
BRAAKK!!
Pintu terbuka, Nisa langsung masuk ke dalam ruangan begitu saja. Dan di luar dugaan setelah Nisa masuk, dia kembali menutup pintu itu. Valen yang masih berada di luar hanya bisa pasrah dan berharap tidak terjadi apa-apa pada Nisa.
Nisa mengambil napas dalam-dalam, perlahan dia memperhatikan seluruh keadaan di sekelilingnya. Ruangan itu gelap, tidak ada cahaya lampu sebagai penerangan, yang ada hanya seberkas cahaya yang keluar dari lubang-lubang ventilasi. Seluruh barang-barang di ruangan berantakan, bahkan sebagian besar terlihat rusak dan berdebu tebal.
Nisa berjalan perlahan tanpa bersuara, dan dia terkejut begitu melihat keadaan Keyran. Keyran yang saat ini sedang duduk menekuk lutut di lantai dan bersandar pada dinding yang dekat dengan jendela, yang bahkan gordennya sudah tampak lusuh. Dia menunduk menempelkan kepalanya di lutut, rambutnya terlihat acak-acakan seperti bekas jambakan.
Nisa memberanikan diri untuk mendekat, perlahan dia bersimpuh di depan Keyran. Seketika Keyran mendongak, tampak matanya yang merah, pipi yang basah terkena air mata, dan dia melotot kepada Nisa seakan tidak suka dengan kehadirannya.
"Key ..." ucap Nisa dengan bibir yang gemetar. Tangannya maju untuk meraih wajah Keyran, namun Keyran langsung menepisnya.
"Pergi!! Tinggalkan aku sendiri!!" teriak Keyran sekencang-kencangnya sampai suaranya terdengar ke luar. Bahkan dia juga mendorong Nisa untuk menjauh darinya.
Nisa menggertakkan giginya, dia segera bangkit dan tiba-tiba melayangkan satu tamparan keras di pipi Keyran.
PLAAK!!
Keyran menyentuh pipi bekas tamparan Nisa, lalu dia menatap Nisa dengan tatapan yang tajam, seakan-akan tidak terima dan ingin segera membalas.
"Rasanya sakit, kan? Masih sakit, kan?"
Keyran membisu, namun dia masih menatap Nisa dengan cara yang sama. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Nisa yang tiba-tiba menamparnya.
"Diam!! Kau tidak mengerti! Cepat pergi atau aku akan menyakitimu!!"
"Ya, aku memang tidak mengerti seperti apa rasanya. Tapi aku tahu, aku sudah tahu semuanya! Jadi berhentilah seperti ini, ini sepenuhnya bukan salahmu!"
"Tidak! Ini salahku! Jika aku tidak meminta, maka ibuku pasti masih hidup! Ini semua karena aku egois, aku terlalu egois, aku pantas untuk seperti ini!"
"Aku mohon berhentilah, Key ... ini bukan salahmu. Kau mau seperti ini selama 20 tahun ataupun seumur hidup, pada akhirnya hasilnya tetap akan sama, ibumu tidak akan pernah kembali! Yang kau lakukan ini percuma, percuma kau terus meratapi kepergian seseorang yang mustahil kembali. Bersedih boleh, tapi jangan berlarut-larut sampai seperti ini!"
"Aku mungkin tak tahu rasanya kehilangan ibu, tapi aku juga pernah kehilangan orang yang kusayangi. Jika kau benar-benar menyayangi ibumu, maka hentikanlah ini sekarang juga! Aku yakin, ibumu sama sekali tidak ingin kau seperti ini. Dan sekarang, dengan kau yang seperti ini, itu sama saja dengan kau mengecewakan ibumu! Kau hanya membuat ibumu tidak tenang di alam sana!"
"A-aku ... mengecewakan ibuku?" tanya Keyran dengan nada gemetar.
"Iya, kau mengecewakan." Nisa meraih wajah Keyran, membelainya serta mengusap air matanya. "Sekarang sudah paham, kan? Jadi cukup sampai di sini, jangan lagi menyalahkan dirimu atas meninggalnya ibumu."
"Aku istrimu Key, aku akan selalu mendampingimu. Aku mengatakan semua ini bukan semata-mata hanya ingin menghiburmu, tapi juga memberitahumu tentang kenyataan, kenyataan bahwa ibumu sangat menyayangimu. Ibuku selalu bilang kalau dia ingin anaknya hidup dengan bahagia, aku yakin ibumu pasti juga begitu. Jadi lupakan kesedihanmu dan hiduplah dengan bahagia, ibumu pasti bangga mempunyaimu sebagai putranya."
"B-benarkah? Apa semua kata-katamu itu benar adanya?"
"Tentu saja, kali ini aku tidak berbohong. Suamiku adalah orang yang baik, mapan, tampan, bijaksana, bertanggung jawab, pintar mengurus istri yang bandel sepertiku, sabar dalam segala masalah yang kuperbuat, terlebih lagi kau mencintaiku dengan segala yang kekurangan yang aku punya. Memangnya siapa yang tidak bangga memilikimu dalam hidupnya? Ibumu pasti bangga karena kau tumbuh menjadi sosok yang seperti ini, apalagi jika kau hidup dengan bahagia. Percayalah, ibumu pasti tenang di alam sana."
"Jangan diteruskan lagi, oke? Cobalah untuk menerima dan menghadapi kenyataan. Kau tak sendiri, ada aku yang akan selalu di sampingmu. Aku tahu kalau kau enggan menunjukkan sisi lemahmu, tapi di hadapanku kau tak perlu begitu, aku ada di sini untukmu. Kau tak perlu melakukan apa pun, hanya bertahan saja itu sudah cukup. Aku yakin kalau kau bisa melaluinya. Aku memang tak tahu rasanya, tapi melihatmu seperti ini cukup untuk membuatku memahami. Aku bisa memahami perasaanmu karena aku menyayangimu. Sangat, sangat menyayangimu ..."
Bibir Keyran gemetar, dia perlahan menyingkirkan tangan Nisa dari wajahnya. Mendadak dia menarik tubuh Nisa ke dalam dekapnya, mendekapnya dengan begitu erat, seolah tak akan pernah melepasnya.
"A-aku mohon tetaplah bersamaku selamanya ... Aku sudah kehilangan orang yang paling kusayangi, aku tak mau kehilangan orang yang kucintai. Apa pun yang terjadi menetaplah bersamaku, jangan pernah tinggalkan aku ... Aku tak tahu harus bagaimana jika tanpamu, aku mohon temani aku di setiap langkahku ... temani aku sepanjang hidupku ..."
Nisa tersenyum, dia membalas pelukan dari Keyran lalu menepuk-nepuk punggungnya secara perlahan.
"Iya, aku masih di sini, dan akan selalu menemanimu. Tak apa jika ingin bersedih, tapi secukupnya saja. Kalau kau sedih, aku juga ikut sedih. Sepanjang hidupku aku ingin berbagi semua hal indah bersamamu, jadi sudahi rasa sedih dan penyesalanmu. Tak ada yang perlu disesali, yang sudah terjadi memang sudah sepantasnya terjadi. Jadi hiduplah tanpa rasa penyesalan dan tetap semangat. Ngomong-ngomong ... maaf karena telah menamparmu, bukan maksudku untuk begitu ..."
"Tak apa, aku tetap mencintaimu. Terima kasih sudah datang ke dalam hidupku, aku bersyukur memilikimu ... Biarkan tetap seperti ini, aku ingin mendekapmu lebih lama lagi."
__ADS_1
"Iya, dekap aku sepuasmu."
Tak apa Key, kehilangan seseorang memang sangat menyakitkan. Dan ternyata sejak kecil kau sudah kekurangan yang namanya kasih sayang, tapi untuk seterusnya tidak akan lagi. Aku punya rencana agar kau merasakan apa itu kehangatan keluarga. Yahh ... meskipun keluarga yang menyebalkan dan kurang wajar.
***
Keyran masih terus mendekap Nisa, bahkan bisa dibilang sangat lama, sampai Valen yang masih berada di luar pun mengantuk tapi belum berani pulang.
Tubuhnya kini sudah tidak lagi gemetar, rasa kesedihan dan bersalah yang terus menghantuinya juga telah banyak berkurang. Ingatan terhadap peristiwa traumatis yang sering hadir sebagai mimpi buruk, tekanan emosional yang dirasa seperti mengulang kembali kejadian itu, sekarang rasanya sudah tidak lagi menyesakkan di dada.
Sebelumnya dia cenderung menyalakan dirinya sendiri, dia telah kehilangan minat pada hal yang disukai dan merasa putus asa. Oleh karenanya dia menjadi sosok yang lebih suka menyendiri dan sulit menjalin hubungan dengan orang lain.
Malam ini adalah malam yang kesekian kalinya dimana dia memperlihatkan mata yang sedih. Dia yang tak tersenyum di hari istimewa ini, tapi dia punya keyakinan bersama dengan orang yang dicintai pasti akan melihat hari esok yang menyilaukan.
Dalam hari yang dia benci dan ingin dilupakan, dia menggenggam erat tangan yang diulurkan padanya. Istri tercintanya yang telah membuatnya luluh dengan kehangatannya. Kabut kesedihan yang terus menyelimuti akhirnya hilang. Dia tak tahu apa yang terjadi tapi dia yakin, pasti akan ada banyak hal mulai sekarang. Berapa kali dia marah dan menangis, meski begitu suatu hari nanti pasti dia akan melaluinya.
"Nisa." panggil Keyran dengan suara pelan.
"Hmm ...?"
Astaga, sudah berapa lama dia memelukku? Saking nyamannya tanpa sadar aku mengantuk.
"Ayo berangkat!"
"Ke mana?"
"Festival lampion."
"Eh?!" Nisa terkejut dan langsung melepas pelukannya. "Apa maksudmu? Tolong jangan memaksakan diri demi aku, lagi pula itu cuma festival, masih banyak kok festival lainnya. Jadi tak apa, kali ini aku akan patuh dan tetap di rumah menemanimu."
"Kau salah, aku tak memaksakan diri atau apa pun. Aku gagal merayakan festival lampion bersama almarhum ibuku, jadi sekarang aku ingin merayakannya bersama istriku. Aku ingin melakukan festival lampion pertamaku denganmu."
"Sungguh?"
"Iya."
"Serius gapapa?"
"Iya!"
"Tapi ... kalau berangkat sekarang itu percuma, saat kita sampai di sana acaranya sudah berakhir."
"Bukannya kau tadi siang membuat lampion terbang sendiri?"
"Iya, terus?"
"Kita bisa menerbangkannya di taman belakang, lagi pula kawasan ini bukan kawasan yang padat, ditambah cuaca juga tidak berangin, jadi aman-aman saja menerbangkan lampion di sini."
"Hmm ... boleh, itu bisa! Ngomong-ngomong ... kau sudah merasa baikan?"
"Sudah, memangnya kau tidak lihat?!"
"Di sini gelap, bahkan wajahmu saja tak terlihat jelas."
"Iya juga. Ayo cepat ambil lampion, tapi sebelum itu ... bisakah kau sekarang menciumku dulu?"
"Aku bilang gelap, sebaiknya nanti saja."
"Ck, aku punya solusinya!"
Keyran langsung berdiri lalu membantu Nisa untuk berdiri juga. Kemudian dia membuka gorden yang berdebu itu. Dan tiba-tiba dia kembali menarik Nisa ke dalam pelukannya lalu mencium bibirnya dengan lembut.
"Uhmm ...?!" Nisa terkejut karena masih belum siap, namun setelahnya dia melingkarkan tangannya pada leher Keyran dan menikmati ciuman itu.
Nisa diam-diam merasa puas, meskipun kencannya gagal tapi setidaknya ciuman yang dia harapkan tetap dia dapatkan. Dia mengharapkan ciuman yang dilakukan di bawah sinar rembulan di tengah-tengah gemerlap cahaya lampion, tapi dia tetap puas meskipun hanya berciuman di bawah sinar rembulan yang menembus kaca jendela.
__ADS_1