Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Keluarga Sederhana (5)


__ADS_3

Bayangan tentang bulan madu langsung terlintas di pikiran Keyran, dia tersenyum kecil dan wajahnya ikut memerah. Sedangkan Reihan yang melihat hal itu terdiam, dia paham alasan mengapa Keyran bereaksi begitu.


Hmm ... pasti pikirkannya traveling! Saranku memang sempurna, kakak ipar yang bucin kronis akut stadium akhir pasti setuju.


"Ehem! Itu saran yang bangus, tapi ... Nisa masih harus kuliah, mana mungkin manusia lurus sepertiku menyuruhnya membolos berhari-hari. Adakah saran lain?" tanya Keyran sambil mencoba mengontrol ekspresi.


"Memangnya kakak ipar belum tahu kalau Kak Nisa sekarang sedang libur semester? Karena hari ini libur tanggal merah jadi pengumumannya lewat website resmi kampus, di sana ada nilai dan peringkat mahasiswa dari semua jurusan. Kak Nisa ikut ujian sewaktu masih dirawat di rumah sakit, beruntungnya dia bisa ujian online."


"..."


Pantas saja tadi Nisa bangun pagi, tapi dia malah tidak memberitahuku kalau dia akan liburan semester. Pasti dia berniat membohongiku agar dia bisa keluyuran sepuasnya dengan alasan pergi kuliah.


"Tunggu sebentar, ada yang aneh ... Bagaimana bisa kau tahu secepat itu kalau ada pengumuman di website kampus?"


"Bukan aku yang tahu, tapi ayahku yang dikabari langsung oleh wakil dekan. Emmm ... tugas wakil dekan kan mengarahkan, membina, mengevaluasi semacam itu. Nah, Kak Nisa sering buat masalah hingga membuatnya turun tangan langsung, lalu saat ada panggilan orang tua ayah yang datang. Wakil dekan itu perempuan yang katanya single umur 30 an, dia terpesona oleh ayahku ..."


"J-jadi mereka ...?!"


"Bukan! Bukan hal yang seperti kakak pikirkan! Yah ... memang kata ibu dulu sebelum menikah ayah playboy, sekarang sudah insaf. Tapi sampai sekarang dia masih suka tebar pesona, perlakuan ayah ke perempuan yang genit juga cuma sewajarnya. Malah ayah memanfaatkannya untuk mengabari apa saja tentang kelakuan Kak Nisa. Bahkan hal seremeh apa pun tetap dikabari, makanya ayah terlebih dulu tahu soal perkembangan kakak di kampus. Oh iya, rahasiakan ini dari Kak Nisa ya!"


"Ohh ... baiklah."


Ternyata playboy memang gen turunan, pantas saja Nisa juga begitu menarik perhatian.


"Nah, jadi sudah dipastikan kalian akan bulan madu, kan?"


"Yahh ... masih banyak yang harus diatur, harus memilih tempat yang tepat, terlebih lagi aku harus mengatur jadwalku agar kegiatan perusahaan tetap berjalan lancar. Kurasa cukup untukku menyiapkannya, masih ada waktu 5 hari sebelum ulang tahun Nisa tiba. Menurutmu bagaimana jika sekalian mengadakan pesta?"


"Loh? Masih 5 hari lagi? Kukira besok."


"Kau ini bagaimana? Masa tanggal ulang tahun kakakmu sendiri bisa lupa?"


"Ya jangan tanya, asal kakak ipar tahu ya, kakak setiap hari ulang tahunnya tiba selalu menghilang. Dia keluyuran entah ke mana, tapi dugaanku dia pasti ke club, secara kan dia cewek clubbing. Lalu besoknya dia pulang dalam keadaan baik-baik saja. Sekedar informasi, toleransinya pada alkohol sangat bagus, jadi jangan pernah percaya kalau dia mabuk."


"..."


Ini tidak bisa dibiarkan, acara ulang tahun mana boleh seperti itu! Terlebih lagi aku ingin agar Nisa cepat hamil, sebisa mungkin batasi dia minum alkohol.


"Oh iya, Kak Nisa nggak pernah marah kalau nggak dikasih hadiah. Sebenarnya kakak ipar nggak perlu pusing ataupun buat acara pesta segala."


"Apa kau sengaja menipuku? Mana mungkin seorang perempuan benar-benar tak butuh diperhatikan di hari ulang tahunnya?"


"Hah ... terserah kalau nggak percaya, tapi kenyataannya memang begitu. Cara berpikir Kak Nisa itu berbeda, harusnya kakak ipar sudah menyadarinya. Kalian kan sudah baikan, memangnya Kak Nisa sendiri belum cerita segalanya pada kakak?"


"Maksudmu soal dia yang memiliki gangguan kecemasan?"


"..." seketika Reihan membisu dan memalingkan wajahnya.


Apa yang direncanakan kakak? Dia masih merahasiakan identitasnya dari suaminya setelah semua hal yang terjadi. Aku heran, padahal Kak Ricky yang mantan pacarnya saja tahu. Apa sebaiknya aku beritahu saja, ya?


Sekilas Reihan menatap Keyran lalu kembali memalingkan wajahnya.


Jangan deh! Ini masalah serius, kalau aku ikut campur bisa gawat. Kakak vakum sementara karena terlalu bucin saat masih pacaran dengan Kak Ricky, tapi sekarang dia sudah mulai aktif lagi. Bahkan para anggota tetap yang lain sudah melakukan beberapa pekerjaan tanpa sepengetahuanku. Sepertinya kakak memang sengaja merahasiakan ini dariku. Apa sebaiknya aku mengadu ke ayah saja?


Arghhh! Itu lebih bahaya lagi. Kalau ayah sudah marah dan lepas kendali pasti akan menemui para paman. Sedangkan Kak Nisa itu keras kepala, terlebih lagi posisinya adalah sebagai penerus yang diakui, bisa-bisa nanti ada perang antara generasi sekarang dengan sebelumnya! Aku ragu kalau ini akan berujung pada ...


"Hei, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Keyran yang tiba-tiba menepuk pundak Reihan.


"Eh?!" Reihan terkejut dan seketika pikirannya jadi buyar. "A-apa? Kakak ipar barusan tanya apa?"


"Aku bertanya tentang apa yang kau lamunkan, kau langsung bertingkah aneh begitu aku mengungkit soal gangguan kecemasan yang diderita Nisa."


"S-siapa yang aneh?! Kak Nisa yang aneh!" Reihan panik.


"Maksudmu? Tingkat lakunya Nisa, begitu?"


"Yaa ... kakak memang melakukan hal aneh-aneh sewaktu tertekan, kadang marah-marah nggak jelas, suka menghancurkan barang. Apa kakak ipar sudah tahu soal itu?"


Huft ... lupakan, soal identitas kakak itu urusannya kakak sendiri.


"Ohh ... ternyata kau memikirkan tentang hal itu. Soal itu ... setahuku Nisa tak pernah bertingkah begitu, tapi jika soal dia tertekan ... kurasa dia lebih memilih untuk menangis diam-diam, tapi itu dulu! Sekarang aku janji akan membuatnya terus bahagia!"


"I-iya memang harus begitu!"


Dasar bucin, semoga saja karena bucin dia akan menerima identitas kakak saat tahu nanti.


"Oh iya, kita kesampingkan dulu soal itu! Bagaimana jika aku buat kejutan saja untuk Nisa?"


"Hmm ... boleh, nanti *#%@€& ...."


...Pada saat yang sama, dapur...


...•••••• ...


Di dalam dapur ada Nisa yang sedang menyiapkan blender, sedangkan Dimas mengambil beberapa buah mangga dari kulkas lalu bersiap untuk mengupasnya. Kemudian Nisa kembali membuka kulkas untuk mengambil es batu, yoghurt, susu dan air dingin.


"Nah, semua bahan lengkap. Tinggal kau yang buat!" Sekali lagi Nisa membuka kulkas dan mengambil sebuah susu kotak, lalu dia meminumnya tepat di hadapan Dimas.

__ADS_1


"Dih, enak banget. Kok aku serasa jadi babu kalian bertiga?"


"Kau sendiri tahu kalau aku benci mangga, dan pastikan pisaunya jangan sampai bau bawang!"


"Iya ..."


Buah mangga yang selesai dipotong dimasukkan ke dalam blender bersama dengan yoghurt, es batu, air dingin dan susu. Dimas yang mengerjakan semuanya sendirian dengan terpaksa mulai bersungut kesal dan menyindir Nisa.


"Jadi babu itu melelahkan ya, tumben kakak yang punya skill dewa bisa kalah dengan amatir seperti kakak ipar."


"Sengaja kok," jawab Nisa dengan santai sambil membuang kotak susu ke tempat sampah.


"Apa?!"


"Iya sengaja, aku sengaja kalah. Kenapa? Mau protes?"


"Jadi kakak secara sukarela jadi babu!"


"Heh, kau saja yang belum paham. Ini namanya taktik~ Pertama kali bertaruh kau harus membuat lawanmu menang agar dia senang, percaya diri dan merasa kalau punya kemampuan, lalu dia pun akan kecanduan bermain. Dan ketika pertaruhan selanjutnya ... kau bisa mengeluarkan kemampuanmu yang sebenarnya agar dia kalah, dan tentu saja yang dipertaruhkan berkali-kali lipat dari sekarang. Dalam berjudi juga begitu, sekarang sudah paham, kan?"


"..."


"Haha, aku tebak setelah ini suamiku itu akan mengajakku bermain dan bertaruh lagi tanpa pikir panjang!"


"Licik, kakak orang yang paling licik! Di sini cuma kakak yang diuntungkan, sedangkan aku ... apa yang aku dapat?"


"Pengalaman."


"Ck, tahu akan begini harusnya dari awal aku satu tim dengan kakak ipar."


"Sabar ... kau capek, ya?"


"Tentu saja, aku habis dari futsal! Dan apa kakak tahu apa yang dilakukan Kak Rei?! Dia futsal cuma untuk tebar pesona ke cewek-cewek! Yang buat gol aku, tapi yang disoraki dia! Iklan poster ekstrakurikuler juga pakai wajahnya, sedangkan aku jadi tim cadangan! Niat main PS awalnya buat hilangkan stress, tapi nyatanya sekarang jadi babu! Apa kakak tahu dimana letak kesalahanku sampai dapat perlakuan seperti ini?!"


"Sabar ..."


"Kesabaranku juga sudah habis!"


"Ckck, saranku ya ... ubah penampilanmu kalau ingin dapat perhatian lebih. Coba panjangkan rambutmu lalu buat model curtain atau belah tengah, mirip oppa-oppa Koreya itu loh! Selera cewek-cewek sekarang kan kebanyakan begitu, toh wajahmu juga mendukung, jangan model klimis begini. Contoh Reihan."


"Apa kakak juga kasih saran begini ke kakak ipar?"


"Apa sih? Dia sudah cocok kok dengan penampilannya yang sekarang, aku belum pernah kasih saran, tapi untuknya aku beri kasih sayang, hehe."


"... Terserah!"


"Tahu lah, tadi kalian berisik. T-tunggu sebentar ... Jadi kakak melakukannya lagi saat aku pergi futsal?! Rajinnya~"


"K-kau salah paham! Hari ini cuma sekali! Ah, lupakan! Pokoknya lupakan!" teriak Nisa dengan wajah memerah.


"Hehe iya-iya, sudah lupa kok~"


"..."


Bodohnya aku sampai kelepasan menceritakan ini pada adikku.


Tak lama kemudian jus mangga sudah jadi dan siap dipersembahkan untuk majikan. Nisa dan Dimas masing-masing membawa nampan dengan segelas jus mangga yang tampak sangat segar.


Menyadari kedatangannya mereka, Keyran dan Reihan langsung mengubah topik pembicaraan mereka tentang rencana untuk ulang tahun Nisa. Begitu melihat jus pesanannya sudah jadi, Reihan dengan cepat langsung meminumnya hingga habis setengah gelas.


"Ahhh ... enak juga," ucap Reihan yang sengaja menatap Dimas dengan tatapan mengejek.


"Tentu, aku ludahi pasti enak." Dimas menyeringai.


"Haha, bercandamu itu basi."


"Nggak kok."


"Serius?"


"Iya."


"..." Reihan terdiam, ekspresinya terlihat jijik saat melihat jus mangga yang tersisa setengah.


Begitu pula dengan Keyran, dia ragu untuk meminum segelas jus yang sudah berada di tangannya. Lalu dia melirik ke arah Nisa tanpa berkata-kata.


"Hah ... minum saja, dia cuma bercanda. Toh kalaupun memang benar kalian pasti akan menyuruh untuk membuat minuman lagi, mana mungkin aku sebodoh itu buang-buang energiku." ucap Nisa dengan nada malas.


Begitu mendengar penjelasan dari Nisa, Keyran langsung meminum tanpa ragu. Sedangkan Reihan, dia mengacungkan jari tengahnya pada Dimas lalu melanjutkan minum sampai habis.


"Kak Nisa, aku ada perintah untukmu!" ucap Reihan sambil melirik ke arah Dimas.


"Kenapa melihatku?"


"Itu loh, yang pernah kita bahas, yang viral itu ... Intinya cepat ambilkan hp-ku di kamar!"


"Ck, iya ..."

__ADS_1


Mereka bertiga pun hanya bisa menunggu Dimas kembali, Reihan menunggu dengan senyuman tidak sabar, sedangkan untuk Nisa dan Keyran masih kebingungan dengan apa yang diinginkan oleh Reihan.


Tak lama kemudian Dimas kembali, Reihan yang mendapatkan ponselnya segera mencari-cari sesuatu dengan tergesa-gesa. Lalu setelah menemukannya dia menghadapkan layar ponselnya ke arah Nisa.


"Nah, sekarang coba kakak tiru ini!"


"A-apa?!" Nisa terkejut lalu berteriak, "Untuk apa aku melakukannya?!"


"Huh ... ceritanya sekarang kan ini sedang viral, aku bilang ke teman-temanku kalau aku punya kakak perempuan namanya Nisa yang nggak kalah imut. Untuk membuktikannya aku tinggal video, lalu kakak tinggal bilang ... Ihhh nggak mau, nggak suka gelay~"


"Gila! Aku ini Nisa Sania, bukan Nisa Sabunan! Lagi pula aku bukan babumu, Dimas yang babumu! Jadi jangan harap aku mau melakukannya!"


"Ayolah kak, sekali ini saja ..." Reihan lalu menatap Keyran dengan tatapan memohon. "Kakak ipar bantu aku ..."


"Jangan dengarkan dia, dia sedang membodohimu!"


"Nisa, ayo lakukan apa yang dia minta!" pinta Keyran dengan senyuman.


"Nggak mau, nggak suka gelay! Sudah, sekarang puas?!"


"Oy, dimana sisi imutnya? Ulangi lagi sampai terlihat benar-benar imut untuk direkam!" Reihan mengarahkan ponselnya pada Nisa.


"..."


Sialan, awas kau!


Nisa hanya bisa menahan amarahnya dan pasrah melakukan permintaan Reihan. Dia mengulangi berkali-kali untuk terlihat seimut mungkin, dan hal itu semakin membuatnya semakin marah. Apalagi saat Keyran dan Dimas yang juga ikut menertawakannya. Setelah percobaan yang ke sekian kalinya, Reihan akhirnya berhasil mendapatkan video yang diinginkan.


"Hehe, perfect! Aku suruh apa lagi ya ...?" Reihan tersenyum lalu menatap Dimas. "Bersihkan kandang Paduka Michael!"


"W-what?! Bersihkan saja sendiri, itu bukan peliharaanku!" bantah Dimas.


"Pokoknya harus mau! Kau itu kan babu!"


"Siapa Michael?" tanya Keyran.


"Michael itu hamster roborovski peliharaannya Reihan. Reihan itu memang aneh, sanggup punya bayak cewek tapi pelihara hamster cuma sanggup satu." sahut Nisa yang menatap remeh Reihan.


"Apa sih? Mending punya banyak cewek, toh mereka semua penurut. Daripada satu tapi sulit diatur sama seperti kakak! Ckck, aku kasihan pada kakak ipar ..." balas Reihan tak mau kalah.


"Kau! Kau mau sparring berapa ronde hah?! Kalau ngajak berantem sini aku ladeni!"


"Ogah! Blewwkkk ..." ejek Reihan sambil menjulurkan lidahnya yang kemudian berpaling menatap Keyran. "Kakak ipar, tolong istrinya dikondisikan. Dia setiap kali selalu mencari gara-gara denganku!"


"..." Keyran tertegun.


Padahal kau sendiri yang mencari gara-gara.


"Kenapa malah diam? Ingat kalau sekarang dia babu kakak, jadi amankan dia. Bawa ke kamar lalu ikat atau terserah mau apa saja boleh!"


"Benar juga!" Keyran antusias dan seketika beranjak dari sofa lalu mendekat ke arah Nisa.


"A-apa?! Tunggu dulu!" Nisa berjalan mundur, namun reaksi Keyran lebih cepat darinya. Keyran berhasil menangkap Nisa lalu dengan paksa menggendongnya di atas di bahunya.


"Nah, ayo pergi ke kamar!" Keyran berjalan cepat menuju ke kamar dengan riang hati.


"Turunkan aku! Dan kenapa harus ke kamar?!" Nisa meronta namun tetap saja kalah tenaga dari Keyran.


"Karena kau nakal, suka membuat keributan, makanya kau harus diamankan di kamar! Diam saja dan jadilah penurut!"


"Aku janji akan jadi anak baik! Dimas tolong aku, kita ini sesama babu!"


"Nggak mau, nggak suka gelay!" Dimas terkekeh.


"Dasar pengkhianat! Tapi kabari aku kalau ice cream ku sudah datang!"


"Lupakan ice cream! Katanya mau diet," sindir Keyran sambil menepuk pantatnya Nisa.


"Diet juga perlu tenaga, jadi biarkan aku isi tenagaku dulu! Huuaaa ... kalian semua jahat!"


***


Malam harinya, ketika akan tiba waktunya makan malam, Nisa di dapur bersama dengan ibunya tengah memasak hidangan untuk makan malam. Keduanya tampak sibuk dengan bagiannya masing-masing, namun ada sesuatu yang tampak samar di wajah Bu Rika, yaitu kekhawatiran.


"Hah ..." menghela napas.


"Ibu ada masalah apa? Ini sudah yang ke-15 ibu menghela napas." tanya Nisa yang masih fokus membaluri sesuatu dengan tepung.


"Haha, ternyata kau menghitungnya. Tapi bukan hal yang penting, yaa ... setidaknya untuk sekarang itu tak terlalu penting. Ngomong-ngomong di mana suamimu? Tadi dia tak terlihat bersama adik-adikmu ataupun ayahmu."


"Dia di kamar, tiba-tiba dia mendapat telepon dari rekan bisnisnya. Yah ... mau bagaimana lagi, suamiku itu orang yang sibuk, bahkan di hari libur masih dipusingkan oleh pekerjaan."


"Sudah tahu pusing karena pekerjaan, jadi kau jangan membuatnya bertambah pusing dengan kelakuanmu."


Seketika Nisa berhenti melakukan tindakannya lalu menatap tegas pada ibunya. "Cukup, berhenti berputar-putar! Apa yang sebenarnya ibu mau bicarakan?"


"Hah ... Kalau begitu langsung saja, mau sampai kapan kau merahasiakan tentang identitasmu? Ibu bukannya mengatakan ini tanpa sebab, tapi tadi siang saat dia membantu ibu di halaman, ibu berbincang dengannya lalu ibu menyinggung tentang dirimu. Tapi saat melihat responsnya, bisa dilihat dengan jelas kalau kau belum menceritakan tentang segalanya. Kau terhitung sudah banyak melalui macam-macam hal bersamanya, setidaknya cobalah untuk berhenti merahasiakan identitasmu kalau kau itu seorang gangster!"

__ADS_1


__ADS_2