
Keyran yang telah mengetahui dimana Nisa berada langsung bergegas menuju ke tempat tersebut. Bahkan selama di perjalanan dia tak henti-hentinya memaki istrinya yang nakal itu. Dia sangat kesal karena sudah rapi dan tinggal berangkat bulan madu tapi Nisa malah kabur tidak jelas.
Sesampainya di tempat yang Keyran tuju, yaitu tidak lain adalah rumah mertuanya sendiri, Keyran langsung masuk ke rumah begitu saja tanpa permisi.
"Nisa! Sembunyi di sini kau ternyata ... Eh?!" Keyran mematung, dia sedikit canggung setelah melihat keadaan yang sebenarnya.
Yang dilihat oleh Keyran adalah Nisa yang tertidur pulas di sofa ruang tamu, sedangkan semua keluarga Nisa yang lain juga duduk di sana dan tatapan mereka tertuju pada Keyran. Keyran juga sedikit bingung karena melihat ada beberapa koper di samping sofa.
"Jadi ... Nisa ke sini karena ingin mengambil barang-barang?" Tanya Keyran sambil menunjuk ke arah koper.
"Bukan, itu barang-barang kami, kami juga mau liburan. Kak Nisa memang mau kabur." jawab Reihan.
"Tapi kenapa sekarang dia malah tidur?"
"Lihat jus itu," Reihan menunjuk ke segelas jus yang berada di atas meja. "Jus itu aku campur obat tidur, makanya dia bisa ketiduran."
"Apa??"
"Ck, aku malas cerita. Biar Dimas si pendongeng handal yang jelaskan." ucap Reihan sambil melirik Dimas.
"Hah ... sebenarnya tadi itu ..."
...3 jam sebelumnya...
...••••••...
Sekitar pukul 4 pagi lebih, Nisa yang berpenampilan tertutup langsung memasuki rumah orang tuanya. Namun Nisa terkejut karena dia melihat seluruh keluarganya sedang membawa koper, begitu pula sebaliknya dengan mereka, mereka terkejut karena Nisa datang pagi-pagi buta dengan penampilan yang sangat tertutup.
"Loh? Kalian mau ke mana? Kok bawa-bawa koper?" tanya Nisa sambil menurunkan masker ke dagu.
"Baru datang langsung tanya begitu. Kenapa juga kakak pagi-pagi kesini, dan apa pula penampilan kakak itu? Mirip buronan tahu." tanya Dimas.
"Dia kan sebenarnya memang buronan." sahut Reihan. "Kakak ada apa sih?"
"Jawab dulu kalian semua mau ke mana!"
"Kemarin malam kakek mengabari ayah, katanya dia merindukan cucu-cucunya. Karena sekarang masa liburan semester, jadi ayah rasa ada baiknya juga mengunjungi kakek di desa. Ini mau berangkat pagi-pagi agar terhindar kemacetan."
"Aku ikut! Aku ambil barangku dulu," Nisa hendak berlari menaiki tangga namun tangannya ditahan oleh ayahnya.
"Hei bocah nakal, barusan kau bilang apa? Bukannya pagi ini kau juga berangkat bulan madu?"
"Pokoknya aku mau ikut kalian liburan ke rumah kakek!" Nisa meronta tapi tetap tidak bisa melepas cengkeraman ayahnya. "Lepas ayah! Aku juga rindu kakek!"
"Percuma kau ikut, kakekmu bahkan sudah lupa wajahmu seperti apa!"
"Dasar ayah dan anak sama-sama bermulut pedas!"
"Kau bocah kemarin sore kurang ajar!"
"Tapi aku juga rindu Dadang! Aku mau main sama kudaku!"
"Kau bisa main kuda-kudaan dengan suamimu! Jadi pergilah bulan madu! Berhenti merengek seperti ini!"
"Huaaa ... lepas ayah! Kalau aku bulan madu maka semua waktuku akan terbuang di kamar, aku cuma mau jadi pengangguran bebas yang bahagia!"
"Di kamar pun kau akan bahagia! Padahal bulan madu itu enak, kenapa kau malah jadi orang bodoh?!"
"Ayah saja yang bulan madu untuk ke sekian kalinya! Biar aku yang mengasuh adik-adik selama ayah dan ibu pergi! Aku janji saat kalian pulang nanti mereka masih utuh!"
"Ogah! Cuma orang gila yang mau diasuh kakak!" ucap Reihan dan Dimas bersamaan.
"Huuaaa ... pokoknya jangan paksa aku bulan madu!!" Nisa masih terus meronta sambil berpegangan pada tiang tangga, namun ayahnya juga masih belum menyerah untuk menyeret Nisa.
"Kalian berdua hentikan! Ayah, tolong lepaskan Nisa. Dan Nisa, baru kemarin kau berulang tahun, harusnya di umurmu ini bertingkahlah dewasa sewajarnya, jangan buat keributan seperti ini!"
"Ibu sendiri masih ingat kalau kemarin hari ulang tahunku, merayakannya saja sudah sangat capek ... apalagi bulan madu. Aku lebih memilih ikut kalian ke desa, aku rela meskipun harus bangun lebih awal dari ayam, tidur lebih malam dari anjing, makan lebih buruk dari babi, bekerja lebih banyak dari sapi."
"Cih, padahal kalau bulan madu tinggal main kuda-kudaan." celetuk Dimas.
"Kalian dari tadi suka sekali menyebut nama hewan ya," sahut Reihan.
"Diam kalian berdua!" teriak Nisa yang masih berpegangan erat pada tiang tangga.
"Haiss ... Nisa, jika kau memang tidak ingin bulan madu, harusnya kau bicarakan dengan suamimu, bilang alasanmu dengan jelas, bukan malah kabur seperti ini! Kemarin ibu lihat suamimu sangat bahagia saat membicarakan tentang bulan madu, dia akan kecewa saat mengetahui hal ini. Lama-lama ibu bisa darah tinggi melihat kelakuanmu."
"Ya terus, sekarang bagaimana? Masa aku harus pulang? Ini kan masih pagi buta, dia masih tidur dan biasanya jam 6 baru bangun."
"Kau di sini saja dulu, nanti kabari dia agar kemari, kalian dibicarakan baik-baik."
Dasar bocah bodoh! Bulan madu itu sangat menyenangkan, tapi kau malah mendustakan nikmat ini.
Akhirnya Nisa menuruti nasihat ibunya, mereka semua sepakat untuk duduk menanti di ruang tamu. Namun mengingat waktu yang ditunggu-tunggu masih lama, akhirnya Reihan berinisiatif menyiapkan jus untuk Nisa, tapi jus itu telah dicampur dengan obat tidur oleh Reihan tanpa sepengetahuan siapa pun.
Nisa meminum jus itu tanpa menaruh curiga, awalnya dia biasa saja namun beberapa menit kemudian efeknya terasa. Matanya terasa berat, akhirnya pun dia tertidur pulas di sofa. Keluarga Nisa yang lain ikut heran karena tiba-tiba Nisa tertidur, dan saat Reihan menjelaskan yang sebenarnya, semua orang setuju dengan perbuatan Reihan.
...Kembali ke saat ini...
...••••••...
"Begitu ceritanya, kakak ipar cepat bawa pergi kebo yang satu itu!" pinta Dimas sambil menunjuk ke arah Nisa.
Tanpa berkata apa pun Keyran langsung menghampiri Nisa lalu membopongnya sambil bergumam, "Bodoh!"
"Oh iya, aku mau bilang kalau dosis obat yang aku kasih 3 kali lipat. Mungkin dia bangun agak nanti, hehe ..." ucap Reihan sambil memegang tengkuknya.
"Hah ... ibu heran kenapa semua anak-anak ibu seperti ini, untung saja kakakmu tidak sampai overdosis, lain kali jangan diulangi lagi!"
"Iya ... maaf," Reihan membuang muka.
__ADS_1
Cih, mau berangkat ke desa jadi tertunda gara-gara kakak! Padahal aku mau ketemu Neng Dewi yang meni geulis pisan bak dewi kayangan.
Sebelum Keyran pergi, karena penjelasan Dimas sebelumnya, dia menjelaskan kepada orang tua Nisa bahwa mereka tidak perlu khawatir dan percaya sepenuhnya kepadanya. Tentu saja orang tua Nisa percaya Keyran, karena sedari awal mereka tahu bahwa Nisa yang konyol dan bodoh.
***
Beberapa jam kemudian, di sebuah tempat yang masih belum diketahui. Nisa yang saat ini terbaring di kasur yang nyaman masih tertidur. Sedangkan Keyran, dia terlihat sudah cukup siap, hanya memakai handuk kimono warna putih, duduk di sofa dan meminum segelas wine sambil membaca buku catatan kecil.
"Uuhhh ..." Nisa perlahan membuka mata, pandangannya sedikit buram saat melihat langit-langit yang tampak asing. Dia mengusap kepalanya yang terasa pusing karena efek obat.
"Tuan putri sudah bangun, apakah mimpimu indah?" tanya Keyran dengan nada menyindir. Dia meletakkan buku catatan di meja samping lalu menggoyangkan gelas wine sambil tersenyum sinis.
Sejenak Nisa masih berdiam diri, lalu dia duduk dan menatap sekeliling dengan tatapan linglung. Begitu dia melihat penampilan Keyran, dia langsung kikuk karena teringat rencana pelariannya dari bulan madu yang gagal.
Nisa membuang muka, dia melihat ke arah pintu kaca penghubung balkon yang menampakkan sinar cahaya oranye matahari hampir terbenam.
Sialan! Perasaan tadi masih pagi dan aku masih di rumah, tapi apa-apaan situasi ini? Dan bagaimana bisa aku ketiduran?
"Ehmm ... apa kita di hotel?" tanya Nisa dengan nada bersalah.
"Bukan hotel, tapi mansion."
"Hah?! Di Jepang ada jasa sewa mansion?"
"Mansion ini buka sewaan, tapi milikku. Dan kita bukan berada di Jepang, tapi pulau pribadiku yang ada di Australia."
"Apa?!"
Nisa langsung turun dari ranjang dan berlari secepat mungkin ke balkon. Yang terlihat adalah pemandangan pantai berpasir putih, air jernih, pohon-pohon kelapa yang diterpa angin, beberapa bangunan paviliun, hutan hujan di sisi lain serta matahari yang hampir terbenam. Nisa kembali masuk lalu menggeser pintu dan tak lupa menutup gorden.
"K-kau punya mansion di tengah-tengah pulau terpencil ini? Bagaimana caranya kita pulang?"
"Terpencil katamu? Dengar ya, pulau ini luasnya lebih dari 300 hektar, terlebih lagi mudah dijangkau, 30 menit dari bandara dengan pesawat amfibi atau 2 jam dengan speed boat."
"Tapi bukannya rencana awal kita adalah pergi ke Jepang?"
"Kemarilah!" pinta Keyran sambil menepuk bantalan sofa.
Sejenak Nisa terdiam, dia sedikit ragu bahwa Keyran akan langsung menyerangnya mengingat penampilan Keyran sekarang. Akhirnya Nisa menurut, namun dia sedikit menjaga jarak.
"Apa kau gugup?" tanya Keyran yang kemudian bergeser mendekat, sebelah tangannya lalu melingkar di pinggang Nisa. Belum sempat Nisa menjawab, tiba-tiba Keyran meminum seteguk wine kemudian berkata, "Menurutmu kenapa aku membawamu ke pulau?"
"Ehmm ... kau mau pamer hartamu?"
"Salah! Jawabannya adalah karena hobi anehmu itu yang suka kabur tidak jelas. Jika aku membawamu ke Jepang, kau masih bisa keluyuran dan kabur. Tapi jika di sini, pulau ini dikelilingi lautan, mau kabur harus menyeberang dulu. Kau bahkan tidak bisa berenang, bahkan kalaupun bisa pasti tanganmu akan patah. Sekarang katakan, kenapa tadi pagi kau kabur?!"
"Mana ada aku kabur? Aku cuma ingin mengucapkan salam pada orang tuaku," jawab Nisa sambil menghindari kontak mata dengan Keyran. Namun setelahnya Keyran membisu dan menatap sinis, Nisa yang tak tahan akhirnya berkata, "Iya-iya aku mengaku! Maaf ..."
"Yang aku minta penjelasanmu, bukan permintaan maaf."
"A-aku kabur karena ... Yang terlintas di pikiranku saat bulan madu itu adalah sibuk melakukan itu ... Kau paham, kan?"
"Key! Jangan pura-pura bodoh!" tiba-tiba Nisa mendekap erat Keyran, lalu dia mendongak dan wajahnya memerah.
"Hati-hati, hampir saja wine-ku tumpah. Tapi alasanmu itu kurang meyakinkan, bulan madu memang seperti itu."
"Tapi jika pagi, siang, sore, malam begituan terus ... bisa-bisa pinggangku sakit. Kau juga selalu ingin lebih, apa kau tak peduli jika aku kelelahan asal kau sendiri puas?"
"Haha, ternyata alasanmu itu. Dengar ya, tujuanku bulan madu itu karena bersantai, bersenang-senang dan menikmati waktu bersamamu. Bulan madu bukan cuma soal berhubungan badan seperti yang kau pikirkan, tapi ... jika kau sanggup seperti yang kau bayangkan itu jauh lebih bagus~"
"Humph! Tapi ada satu hal lagi," Nisa melepas dekapannya lalu menaikkan kaus, dia memperlihatkan perutnya dan menunjuk ke bekas luka operasinya. "Lihatlah, ini menjijikkan. Setidaknya tunggu satu minggu lagi, baru sepenuhnya pudar."
Nisa menurunkan kausnya lalu membuang muka, "Bulan madu itu harusnya diisi kenangan yang indah yang tak terlupakan. Aku ingin kau puas denganku, aku juga ingin tampil cantik untukmu, tapi bekas luka ini membuatku kurang percaya diri. Aku malu."
"Justru aku yang harusnya malu."
"Eh?" Nisa menatap Keyran dengan bingung.
"Aku tetap suka. Kau mendapat bekas luka itu karena aku, jika aku tak puas karena itu berarti aku benar-benar pria brengsek."
"Ya, kau brengsek!" Nisa kembali mendekap erat Keyran. "Suami brengsek yang membawa istrinya bulan madu ke pulau terpencil. Tapi aku suka pria brengsek sepertimu."
"Haha, kau suka sekali memelukku~"
"Tubuhmu wangi, aku suka!" Nisa lalu meraih tangan Keyran yang memegang gelas wine. "Aku juga suka wine, boleh aku minta sedikit?"
"Tidak."
"Seteguk?"
"Tidak!"
"Setetes?"
"Pokoknya tidak!"
"Tapi kenapa?"
Keyran mendekat lalu berbisik, "Aku ingin Nisa Junior, mulai sekarang kau dilarang minum minuman beralkohol."
Nisa tersentak, tapi Keyran malah tersenyum lalu menghabiskan wine yang tersisa. Keyran meletakkan gelas kosong itu di meja lalu beranjak dari sofa, dia berjalan ke arah lemari, mengambil 3 buah kotak yang bertumpuk lalu meletakkannya di sebelah Nisa.
"Ayo buka, itu hadiah untukmu."
Nisa lalu membuka kotak pertama yang berukuran sedang, hadiah itu adalah kotak perhiasan, dan ketika Nisa membukanya tampaklah 1 set perhiasan berlian dan selembar cek kosong.
"Apa maksudnya ini?" tanya Nisa kebingungan.
"Ayahku yang memberikannya, tadinya dia hanya memberimu 1 set perhiasan, tapi setelah aku beritahu kalau kita akan bulan madu, tiba-tiba dia juga memberi selembar cek kosong yang nominalnya bisa kau isi sendiri. Aku bilang padanya kalau kau tak begitu suka perhiasan, tapi dia masih nekat ingin memberikannya. Bahkan aku dianggap kurang royal padamu, makanya setelah ini jika kau menghadiri acara apa pun pakailah perhiasan yang lengkap! Agar kau terlihat lebih glamor dan elegan."
__ADS_1
"Iyaa ..."
Andai saja aku lahir tanggal 29 Februari, setidaknya ulang tahunku hanya akan dirayakan 4 tahun sekali.
Nisa kemudian membuka kotak selanjutnya, dia terkejut begitu melihat isinya. Kotak yang setelahnya pun isinya sejenis dan hanya berbeda model, yaitu lingerie.
Nisa menatap Keyran, namun Keyran malah memalingkan wajahnya yang memerah. "Ehem! Itu dariku, aku ingin kau memakai salah satu di antaranya!"
Nisa mengambil salah satu lingerie lalu membentangkannya. "I-ini bagian bawahnya bolong ..." Nisa lalu mengambil yang satunya, "Yang ini bagian atasnya yang bolong ... Key! Apa-apaan ini?!" teriak Nisa yang wajahnya memerah.
"Kalau kau tidak suka tak apa, aku ambilkan model lain, di lemari masih ada."
"Bukan begitu! Tapi jika begini bukannya lebih baik aku telanjang sekalian?"
"Itu berbeda, kau cantik jika telanjang, tapi lebih cantik lagi jika pakai lingerie. Misalnya saat kita makan steak, steak itu yang pokok adalah daging, tapi jika diberi tambahan garnis akan lebih menggugah selera."
"Kau menyamakan aku dengan steak?"
"Bukan begitu darling! Intinya pakai saja, ini permintaanku ... Kau tidak mau mengecewakan suamimu ini, kan?"
"Huft ... baiklah, tapi beri aku waktu untuk berhias. Kau keluar dulu, jangan masuk sampai aku perbolehkan masuk!"
"Hehe, cepat selesai ya!" Keyran langsung melesat keluar dari kamar dan menutup pintu dengan keras.
BRAKK!!
"Hah ... Aku harus cari model lain."
Waktu 30 menit telah berlalu, Keyran yang mulai hilang kesabaran akhirnya menggedor pintu.
"Nisa! Aku boleh masuk?!"
"Belum! Carilah kegiatan lain dulu!"
45 menit berlalu, Keyran kembali menggedor pintu.
"Nisaaa!!"
"Sebentar, 5 menit lagi!"
Sekitar 5 menit kemudian, tanpa mengetuk pintu dan berkata apa pun Keyran langsung masuk ke kamar. Namun dia terkejut karena Nisa sudah mencegatnya tepat di depan pintu.
"Tadaaaa!" Nisa tersenyum dan berputar, dia mencondongkan badan lalu mengedipkan matanya. "Bagaimana menurutmu?"
Keyran menelan ludah, dia sangat puas karena Nisa tampak begitu menggemaskan dengan kostum lingerie berwarna putih yang dikenakan. Bawahan g-string dengan rok tutu mini, atasan bralette yang cukup terbuka dan bertali pita di bagian belahan dada. Dengan berbahan lace yang cukup transparan memperlihatkan bentuk tubuh.
Menyadari Keyran yang masih terdiam, Nisa lalu berjalan melewatinya untuk menutup pintu. Keyran melihat bagian belakang tubuh Nisa lebih terbuka, dia tak tahan lagi memeluk Nisa dari belakang. Perlahan menyibakkan rambut Nisa ke samping lalu berbisik, "Hampir 1 jam aku menunggumu~"
Nisa berbalik, merangkul leher Keyran serta menempelkan tubuhnya. Sekarang Keyran dapat melihat jelas apa yang Nisa pamerkan, dada yang lembut, bibir mungil dengan lipstik merah muda, bulu mata yang lentik alami, dan pipi chubby yang merona.
"Aku lama karena mandi dulu, memakai lingerie juga butuh waktu, ini semua kan untukmu."
"Hmm ... ada sedikit yang berbeda, tumben pakai parfum musk, biasanya vanilla." ucap Keyran sambil menggosokkan ujung hidung mancungnya ke leher Nisa.
"Aroma musk terkesan lebih sensual, jadi aku pikir sangat cocok dengan situasi sekarang."
Kedua tangan Keyran lalu membelai wajah Nisa. "Dengar baik-baik! Mulai sekarang ini adalah seragam dinas mu."
"Hehe, baiklah ..."
Keyran tersenyum, dia memainkan rambut Nisa yang tergerai panjang dan lembut. "Nisa, aku menginginkanmu."
Ucapan itu langsung dibalas ciuman oleh Nisa. Bibir mereka saling bertaut, hembusan napas yang dirasakan kian panas. Perlahan Keyran mulai mengusap punggung Nisa dengan lembut, semakin lama semakin ke bawah dan terus merasai apa pun yang ditemukan.
Keyran lalu mengangkat tubuh Nisa, kaki Nisa melingkar di pinggangnya. Ciuman mereka masih berlanjut, Keyran berjalan perlahan menuju ranjang sambil menggendong Nisa. Diam-diam Nisa melepas ikatan handuk Keyran, alhasil terlihat tubuh atletis itu saat Keyran memangkunya di atas ranjang.
Nisa mengakhiri ciuman itu, tangannya menyentuh pundak Keyran dengan lembut, perlahan turun ke dada bidangnya, kemudian dilanjutkan dengan kecupan manja di leher.
Keyran memejamkan matanya, dia menikmati setiap sentuhan lembut istrinya. Dia merasakan kehangatan yang tertinggal di setiap jejak sentuhan yang dilakukan Nisa, dan itu membuat imajinasinya bergerak liar, tanpa sadar dia langsung merebahkan Nisa, mengurung Nisa diantara kedua tangannya. Keyran melepas handuk yang masih terpasang, melemparnya ke lantai dan dengan cepat kembali ke posisi semula.
Keyran menunduk, mengecupi leher Nisa, semakin ke bawah hingga dia tergoda oleh dua benda lembut milik Nisa. Perlahan Keyran membuka simpul pita di belahan dada sehingga bralette itu terbuka.
"Ahnn ..." Nisa mendesah, merasakan miliknya dimainkan oleh Keyran selayaknya balon air.
Keyran terus bermain di area sana, menciumi dengan penuh gairah. Napas Nisa mulai tak beraturan, dia merasakan hasratnya mulai bergejolak, lalu dengan suara lirih dia berkata, "Key ... lakukan yang biasanya kau lakukan ..."
"Hmm ... tidak," jawab Keyran dengan suara parau.
"Kenapa?"
"Karena kali ini aku akan bersikap lembut."
"Uhhmmm ..." Keyran mengulum mulut Nisa untuk membungkamnya, tangannya mengusap paha mulus Nisa. Perlahan merayap naik lalu menyelip di antara kaki Nisa.
Keyran melepas tautan bibirnya, lalu dengan cepat melepaskan bawahan yang dipakai Nisa. Keyran kembali menghujani Nisa dengan ciuman, ciuman yang menjalar ke mana-mana. Dia baru berhenti di saat sudah tak tahan lagi menahan hasratnya yang mendesak minta dipuaskan.
"Nisa, ayo lakukan ..." ucap Keyran sambil menggenggam erat tangan Nisa, lalu Nisa menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Aahhh ..." Nisa mendesah ketika merasakan sesuatu memasuki dirinya.
Keyran menunduk, kembali menciumi Nisa. Kemudian mulai bergerak, menghentak dengan perlahan. Napas keduanya terasa panas, suara-suara erotis yang keluar dari mulut mereka mulai bergema di seluruh ruangan kamar.
Nisa mulai menggerakkan tubuhnya, berusaha mengimbangi gerakan pria di atasnya. Keyran tersenyum, melanjutkan hentakannya yang mulai tak terkendali.
"Akhhh ...!" Tangan Nisa yang masih digenggam oleh Keyran gemetar, napasnya juga terengah-engah. "Haa ... haahh ..." Nisa lalu tersenyum tipis, pandangan matanya meredup.
"Nisa, aku mencintaimu ..." dan sekali lagi Keyran mencium bibir Nisa.
"Uhmm ..."
__ADS_1