Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Interogasi Suami Istri


__ADS_3

"Istriku~ apa kau sudah siap?" tanya Keyran dengan senyum jahat.


"S-sebelumnya tolong menyingkir dari atasku, posisi ini sedikit... a-ambigu..."


Humph! Saat ini tanganku bisa bergerak bebas, jika nanti kau berbuat macam-macam maka akan aku pukul.


"Aku tidak mau menyingkir! Posisi ini sangat cocok untuk interogasi, dengan posisi seperti ini aku bisa menatap matamu secara langsung, dan aku akan mengetahui kalau kau berbohong atau jujur. Terlebih lagi... seperti ini jauh terasa mengintimidasi~"


"D-darling... jangan begitu, memangnya apa aku pernah berbohong padamu?"


"Ckck... darling..." jari telunjuk Keyran lalu mengusap bibir Nisa. "Mulutmu ini sudah berbohong ratusan, ribuan, bahkan jutaan kali... Dan setiap kali kau memanggilku dengan sebutan darling~ kau pasti telah melakukan kesalahan. Jadi, apa kau tahu kesalahan apa yang kali ini kau buat?"


"Emmm... aku mengaku salah, seharusnya aku membalas chat darimu dengan kata-kata, bukan hanya dengan emot batu. I-itu kan salahku?"


"Jawabanmu salah! Aku beri satu kesempatan lagi, sebutkan semua kesalahanmu yang kau lakukan hari ini! Jika kau bisa menyebutkan semua maka akan kuberi nilai A plus. Ayo darling~ cepat sebutkan!"


"O-oke, kesalahanku hari ini... tadi pagi aku memecahkan piring, aku juga keliru memasukkan garam di kopimu, setelah itu aku masih membuatmu terlambat ke kantor. Lalu saat di kampus... aku lupa mengerjakan tugas dan juga menghilangkan buku yang aku pinjam di perpustakaan. Jadi... aku dapat nilai berapa?"


"Nilaimu F!! Kau ini... padahal kesalahan tadi pagi kau masih ingat, tapi kesalahan yang baru saja kau buat malah pura-pura kau lupakan. Aku beri kesempatan terakhir, apa kau tahu kesalahanmu?"


"A-aku tahu, aku terlambat pulang, aku telah melewati jam malam yang kau berikan, i-itu karena aku bermain sampai lupa waktu."


"Heh, lupa waktu? Sepanjang malam kau hanya berputar-putar tidak tentu arah di jalanan! Seperti itu kau bisa lupa waktu!?"


"K-kau!?" Nisa langsung ternganga seakan tidak percaya.


Keyran bisa tahu kalau aku hanya berputar-putar menyusuri jalanan! Padahal aku merasa kalau nggak ada satu orang pun yang mengikutiku, terlebih lagi Jonathan sepertinya juga merasakan hal yang sama denganku. Tapi bagaimana Keyran bisa tahu? Apakah ada alat pelacak di bajuku? Tunggu sebentar... alat pelacak?


Aaahh...Β  sialan! Aku lengah! Keyran pasti mengetahuinya lewat GPS! Dia telah melacakku lewat GPS di ponsel yang dia hadiahkan kepadaku. Pantas saja dia berhenti mengirimkan orang untuk mengawasiku, dan tadinya aku pikir dia telah berhenti curiga padaku. Pokoknya mulai sekarang aku harus berhati-hati dengan barang apa pun yang dia berikan.


Nanti aku juga harus memeriksa ponsel hadiah darinya dengan teliti, dan jika ada urusan penting aku harus kembali menggunakan ponselku yang lama. Sekarang untuk menghindari kecurigaan lagi, sebaiknya aku pura-pura saja nggak sadar tentang GPS itu.


"Aku tahu semua tempat yang kau datangi loh~ Tapi kau bilang alasanmu berputar-putar adalah bermain, sebenarnya permainan apa yang kau mainkan?"


"M-main ya main! Aku cuma jalan-jalan saja kok, aku kan juga sudah bilang kalau ini malam minggu, aku ini nggak jomblo, jadi tentu saja waktu malam minggu aku main keluar..."


"Hei bodoh! Kau ini sudah menikah dan aku adalah suamimu, dan sedari tadi suamimu ini di rumah, tapi alasanmu main itu karena kau bukanlah seorang yang jomblo?" Keyran lalu mendekatkan wajahnya dan menatap Nisa dengan tatapan sinis. "Apa jangan-jangan... di luar sana kau punya pacar? Aku peringatkan, kau harus berpikir sebelum menjawab!"


"Heh!" Nisa lalu menyeringai. "Jika aku memang punya lalu kau mau apa?"


"Wah wah... tidak kenal takut rupanya..." Keyran tersenyum lalu mendekat ke telinga Nisa dan berbisik, "Istriku~ jika kau benar-benar punya pacar, maka aku akan mengadakan sebuah konferensi pers lalu menamparmu dengan buku nikah di depan para wartawan! Dan untuk pacarmu... aku akan asingkan dia ke Afrika!"


"Emmm... rencananya berapa kali kau akan menamparku?"


"Kau!! Pokoknya aku akan menamparmu sampai kau sadar! Bahkan jika pipimu sudah bengkak tapi kau belum sadar, maka aku tetap tidak akan berhenti menamparmu! Camkan ini baik-baik!"


"Haha... serius sekali... apa kau cemburu? Padahal aku sama sekali nggak punya pacar loh~"


"Hng! Kenapa kau tertawa hah!? Ini tidak lucu, sama sekali tidak lucu!"


"Yaa yaa.. terserah, interogasinya sudah selesai kan?"


"Tentu saja belum! Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa kau betah sekali jalan-jalan sampai larut malam? Memangnya hiburan macam apa yang kau dapatkan?"


"Hiburan yang aku dapatkan banyak sekali, CEO yang terus memikirkan bisnis sepertimu mana mungkin akan paham. Jadi lebih baik nggak usah aku jelaskan sekalian..."


"Kau belum mengatakannya, tentu saja aku tidak paham! Cepat katakan, sebutkan semua hiburan yang kau dapatkan!"


"Haiss... baiklah, pertama aku suka sekali dengan suasana malam karena aku bisa melihat bintang-bintang. Angin malam rasanya juga sangat nyaman, dan terlebih lagi camilan-camilan di angkringan pinggir jalan juga enak. Di alun-alun juga ramai orang yang datang. Yang paling menyenangkan adalah saat bermain dingdong, aku selalu menang loh! Nah, karena itulah aku suka sekali main. Interogasinya sudah cukup kan?"


"Belum! Dari jawaban yang kau berikan aku merasa kalau ada sesuatu yang janggal... Kau bersenang-senang begitu lama, apakah mungkin kau melakukan semua itu sendirian?"


"Aku bersama seorang teman."


"Teman? Dia seorang pria atau wanita?"


"Pria... eh!? M-maksudku wanita!!" jawab Nisa dengan ekspresi panik.


"Pria atau wanita!?" bentak Keyran dengan tatapan curiga.


"B-bukan keduanya... d-dia... waria!!"


Hiks... maaf Jonathan, aku terpaksa berbohong.


"Apa!? Kau berteman dengan seorang waria!? Siapa namanya?" tanya Keyran seakan tidak percaya.

__ADS_1


"Namanya jerapah... eh!? M-maksudku... J-Jaki, namanya Jaki!"


"Hmmm...." Keyran lalu mengerutkan dahi.


Nisa ini bisa-bisanya punya teman yang tidak lurus, pergaulan seperti ini tidaklah sehat, aku harus menyuruh Nisa untuk menjauhi waria itu! Dan kemungkinan terburuknya adalah Nisa bisa ketularan belok, jika itu sampai terjadi... maka sudah dipastikan aku tidak punya harapan lagi.


"Nisa, sebagai suamimu aku telah membuat keputusan! Mulai sekarang kau harus putus pertemanan dengan temanmu yang waria itu! Jangan lagi berhubungan apa pun dengannya! Apa kau mengerti?"


"M-mengerti..." jawab Nisa sambil tersenyum.


"Bagus, memang istri yang pintar~"


"...."


"...."


"...."


"...."


Krik krik... krik krik... πŸ¦—πŸ¦—πŸ¦—


"Cepat menyingkir! Apa kau akan terus di atasku sampai ajal menjemputmu?"


"Wah... wah... kau tidak sabar sekali menjadi seorang janda. Aku beritahu ya, kau minimal akan menjadi janda sekitar 50 tahun lagi, itu pun kalau kau hidup lebih lama dariku. Dan... aku belum menyingkir karena aku memang belum mau~"


"Kenapa belum mau? Bukankah interogasinya sudah selesai?"


"Memang sudah, tapi... masih ada satu hal lagi yang harus dilakukan. Kau paham kan darling?"


"M-memangnya apa lagi yang harus dilakukan setelah interogasi? Bukankah seharusnya aku sudah bisa bebas?"


"Yaahh... bagaimana yaa? Kau diinterogasi karena membuat kesalahan, jadi setelah membuat kesalahan tentu saja kau harus meminta maaf, dan aku juga ingin kau bersumpah tidak akan mengulangi lagi! Kau bisa kan darling?"


"Aku minta maaf, dan aku bersumpah nggak akan keluyuran sampai larut malam lagi." ucap Nisa dengan nada malas.


"Permintaan maaf macam apa ini? Ekspresimu saja tidak terlihat seperti menyesal, aku ingin kau mengulanginya lagi! Terus ulangi sampai aku merasa puas!"


"Huft..." Nisa langsung mengubah ekspresinya menjadi memelas dan matanya terlihat seolah-olah ingin menangis. "Key... aku minta maaf... aku bersumpah akan mematuhimu... maafkan aku yaa?"


"...." Keyran terdiam tidak memberi respons apa pun.


"Key, aku sudah minta maaf dan membuat sumpah, jadi tolong cepatlah menyingkir!"


"Aku masih belum mau, dan kau juga harus buktikan sumpahmu!"


"Membuktikan sumpah? Apa kau ingin aku dikafani untuk sumpah pocong?"


"Tidak perlu sampai segitunya, kau telah mengatakan sumpah dengan mulutmu, jadi kau bisa membuktikannya dengan mulutmu." ucap Keyran sambil tersenyum.


"Dengan mulut? Caran... um-mmm!!?"


Apa-apaan? Kenapa tiba-tiba menciumku? Tapi ciuman ini... dilakukan untuk membuktikan sumpahku, jadi sebaiknya aku terima saja.


"M-mmm..." Keyran lalu menahan wajah Nisa agar ciumannya tidak lepas.


Ini diluar dugaan, ternyata Nisa sama sekali tidak melawan. Mungkin saja sekarang dia sudah terbiasa dengan ciuman dariku. Tapi sekarang... aku menginginkan lebih, lebih dari sekedar ciuman.


Lama-kelamaan pandangan mata Nisa mulai meredup dan akhirnya dia menutup kedua matanya. Di sisi lain Keyran juga sangat menikmati ciuman itu, dan kemudian dia juga menutup mata. Pada akhirnya mereka berdua terus berciuman cukup lama.


Semakin lama Keyran semakin terhanyut dalam suasana, dia mulai merasakan gairah yang bergejolak dari dalam dirinya. Saat ini dengan posisi yang begitu pas dan terlebih lagi tanpa perlawanan, dan suara yang terdengar hanyalah suara detak jantung yang semakin cepat seakan sudah di luar batas. Semua hal itu membuat Keyran sudah tidak bisa menahan diri lagi.


Tanpa melepaskan ciumannya terlebih dulu, sekarang tangan kirinya mulai mengambil tindakan. Tangan itu diam-diam menyelinap masuk pada rok dan mulai meraba paha, bahkan juga mulai merayap ke atas secara perlahan.


"Kyaaa!!" Seketika Nisa langsung mendorong Keyran untuk menyingkir dari atasnya. Nisa kemudian bangun lalu menatap Keyran dengan tatapan kemarahan. "Kau bilang hanya buktikan dengan mulut, dan aku juga sudah menerimanya. Tapi tadi di bagian mana kau menyentuh hah!?"


"Hehe..." Keyran mendekat lalu menahan dagu Nisa dengan tangan kanannya. "Di bagian itu juga ada bibir kok, jadi itu juga merupakan mulut, mulut wanita yang lainnya. Aku tidak membohongimu istriku~"


"M-mesum, dasar mesum!" Nisa lalu menepis tangan Keyran yang memegang dagunya. "Kau manusia paling mesum!!"


"Terus kenapa? Apa aku salah bersikap mesum kepada istriku sendiri?" tanya Keyran sambil tersenyum.


"Y-ya nggak juga sih, tapi kan... a-aku..."


"Haiss... sudahlah, interogasinya sudah selesai. Kalau kau mau mandi, kau bisa mandi sekarang."

__ADS_1


"O-oke, aku akan mandi sekarang." Nisa lalu turun dari ranjang dan bersiap ingin pergi ke kamar mandi. Saat Nisa mengambil langkah pertama, tiba-tiba saja tangannya ditahan oleh Keyran. "Apa lagi?"


"Aku berubah pikiran, interogasinya kita lanjut lagi! Lihatlah ini! Di lengan bajumu ada darah!" bentak Keyran.


"I-itu..." ucap Nisa dengan tampang panik.


Ternyata aku kecipratan darah preman itu. Pantas saja aku merasa kalau bau anyir nya nggak hilang-hilang.


Keyran lalu beranjak dari ranjang dan mencengkeram pundak Nisa. "Katakan, kau terluka di bagian mana? Siapa yang melukaimu!? Aku pasti tidak akan melepaskan orang itu!"


"A-aku gapapa kok, ini bukan darah karena aku terluka. Cuma... cuma karena mimisan."


"Apa kau sakit? Kalau begitu ayo sekarang juga ke dokter!"


"Nggak usah! Ini bukan karena penyakit kok, cuma... gara-gara aku terlalu sering mengorek hidung untuk mengupil." ucap Nisa dengan senyum canggung.


"Benarkah?"


"Benar kok, kalau nggak percaya tanya saja pada temanku yang waria itu, dia itu saksinya."


"Hng! Baiklah, aku percaya padamu. Tapi lain kali kau hilangkan kebiasaanmu yang keseringan mengupil itu!" Keyran lalu melepaskan cengkeraman tangannya dari pundak Nisa.


"Iya iya... aku tahu, sekarang interogasinya sudah benar-benar selesai. Jadi kau tidurlah!"


"Cih, tentu saja aku harus segera tidur. Orang sibuk sepertiku memang perlu tidur yang berkualitas, tapi semenjak aku menikah denganmu waktu tidurku menjadi sangat kurang!"


"Terserah, mengeluh saja sesukamu!"


Nisa kemudian bergegas menuju ke kamar mandi. Sedangkan Keyran, dia hanya memandangi Nisa sambil tersenyum kecil. Dan begitu Nisa masuk ke kamar mandi, dia langsung berbaring di ranjang dan menutup matanya.


"Heh, dasar Nisa..."


Sekarang kau sudah tidak melawan jika aku menciummu. Tapi lihat saja nanti, sebentar lagi kau pasti akan segera takluk kepadaku dan menyerahkan seluruh dirimu tanpa paksaan. Aku sangat menanti saat itu tiba.


***


Tak lama kemudian Nisa yang telah selesai membersihkan diri keluar dari kamar mandi. Nisa juga menjumpai Keyran yang sudah tertidur lelap. Begitu Nisa selesai berganti pakaian, dia langsung berbaring di ranjang dan mematikan lampu tidur.


Dan seperti biasa sebelum tidur Nisa masih bermain ponselnya terlebih dulu. Dia tidak lupa kalau harus mematikan GPS yang dipasang oleh Keyran, bahkan Nisa juga memeriksa ponsel itu dengan sangat teliti. Setelah selesai, selaku memiliki jiwa anak muda Nisa langsung membuka laman situs internet, dia itu termasuk golongan orang yang sangat ingin mengetahui semuanya yang baru.


Dan ketika membuka situs internet, Nisa sangat dikejutkan oleh sebuah artikel berita yang menjadi trending topic.


--


...PERAYAAN BERGANTINYA KETUA ASOSIASI KEDOKTERAN...


Ardian Ricky Pamungkas, dokter jenius 23 tahun telah menjabat sebagai Ketua Asosiasi Kedokteran yang baru. Perayaan diadakan di Hotel Royal yang dilaksanakan pada hari ini jam 20:00. Perayaan tersebut dihadiri oleh Pak Walikota bersama tokoh-tokoh penting lainnya, diantaranya...


--


"Haha... lihat ini..." Nisa tersenyum dingin, dia lalu memperbesar gambar yang terlampir di artikel tersebut.


Ricky, selamat untukmu. Sekarang kamu telah menjadi ketua dari Asosiasi Kedokteran, sekarang kamu sudah sangat mapan dan disegani oleh banyak orang. Tapi, kenapa kamu memperlihatkan senyum seperti ini? Bukankah ini sangat membahagiakan untukmu?


Kamu telah membuat dua pencapaian besar sekaligus. Kamu sebentar lagi juga akan menjadi seorang ayah, hidupmu terkesan begitu sempurna, semakin sempurna karena tanpa adanya diriku.


"Tsk! Sial..."


Suasana hatiku kembali memburuk, padahal aku telah berusaha memperbaikinya bersama Jonathan. Sebaiknya aku berhenti memikirkan ini, aku harus melupakan Ricky secepat mungkin, apa pun caranya! Sekarang lebih baik aku segera tidur.


Nisa langsung meletakkan ponselnya di meja yang berada di samping ranjang. Dia kemudian merubah posisinya menjadi miring menghadap ke arah Keyran. Dan ketika memandangi wajah Keyran yang tertidur lelap, Nisa mulai memikirkan hal yang bermacam-macam.


"Hmmm...."


Memangnya kenapa kalau Ricky akan jadi ayah? Aku juga bisa menjadi seorang ibu, aku hanya tinggal membuat anak dengan Keyran! Bahkan yang akan aku dapatkan adalah anak yang sah. Tapi... bagaimana caraku menjelaskan hal ini pada Keyran?


Menurutku sikapnya Keyran mulai berubah semenjak dia berhubungan intim denganku. Sejak saat itu kalau ada kesempatan, dia selalu memanfaatkan kesempatan itu untuk menyentuhku. Keyran itu seperti binatang, binatang yang selalu mengawasiku sebagai mangsanya. Jadi menurutku, jika aku mau aku bisa memintanya untuk bercinta denganku kapan saja. Tapi... bagaimana caraku mengatakan ini?


"Key..." ucap Nisa dengan suara lirih.


Yes! Nggak ada jawaban, mungkin aku bisa manfaatkan kesempatan ini. Iseng aahh...!! Kalau mau punya anak kan tinggal buat saja, memang apa susahnya? Ayolah Nisa, tunjukkan sikapmu yang barbar! Toh Keyran juga nggak mungkin mendengarnya, dia itu sedang tidur seperti orang mati.


"Ehem ehem... tes tes... cek sound... 1,2,3... Key, ayo buat anak!"


"Kau bilang apa!?" Keyran langsung membuka matanya.

__ADS_1


"K-kau belum tidur!!?"


Mampuuuss aku....


__ADS_2